
Setelah dekat dengan riak pintu Gate, Shiro baru menurunkan Ume yang terlihat malu.
"Maaf, aku tidak bilang-bilang sebelumnya."
Shiro meminta maaf, ia tahu ia agak berlebihan dan tidak sabaran. Seharusnya ia meminta izin Ume terlebih dahulu sebelum membawanya terbang ke angkasa.
"Eh.. Ti...tidak apa-apa kok."
Kemudian Ume berlari terlebih dahulu keluar dari Gate dengan wajah memerah. Shiro hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ini, ada sedikit rasa bersalah di hatinya.
Kemudian Shiro juga berjalan keluar. Saat keluar, ia melihat Ume terdiam di luar, beberapa Pasukan mengarahkan senjata pada mereka.
"Ume, kau tidak apa-apa?" tanya seorang Ranger bernama Rey. Ia adalah rekan satu timnya ketika berada di dalam Gate.
Ume mengagguk, matanya sedikit berair.
Kemudian Rey ditarik mundur oleh Anastasya yang berada tidak jauh disana.
"Siapa kamu?" tanya Anastasya dengan waspada.
"Dia aman, santai saja. Dia Bukan apa yang kau khawatirkan, Anastasya."
Sebuah suara terdengar di balik Gate, Anastasya mengalihkan perhatiannya dan melihat Shiro yang ikut keluar dari Gate.
Setelah melihat Shiro, Anastasya mengendurkan kewaspadaannya. Ia pun menyuruh Pasukan di belakangnya untuk menurunkan senjata mereka.
"Apa yang kau katakan benar?" tanya Anastasya.
"Iya, percaya saja padaku."
Mendengar kata-kata Shiro, Anastasya mengagguk. Semenjak ada berita tentang Ras Iblis, Anastasya dan beberapa Pasukan besar sudah mulai berhati-hati.
Lalu Anastasya memandangi Shiro, "Apakah yang di dalam sudah kau selesaikan?"
"Sudah."
Kemudian Shiro mendekati Anastasya dan memberikan Orb secara diam-diam kepada Anastasya.
Melihat Orb yang diberikan Shiro, Anastasya awalnya terkejut, kemudian Ia mengangguk. Ia semakin mengagumi Shiro yang bisa menyelesaikan Gate yang bisa membunuh 40an pahlawan dengan mudah.
"Oh ya, Aku ada yang ingin dibicarakan kepadamu Ketua Asosiasi, bisakah kau memanggilnya sebentar lagi?" bisik Shiro.
Anastasya mengangguk, kemudian Ia berbalik menghadap Pasukan yang ada di belakangnya.
"Semuanya, Gate telah diselesaikan. Semuanya bisa kembali. Terimakasih karena telah meluangkan waktu."
Mendengar perintah Anastasya, semua pahlawan yang bersiap untuk memasuki Gate, menjadi bingung. Kapan Gate ini diselesaikan?
__ADS_1
Semuanya membuat keributan ditempat, namun mereka hanya bisa pergi setelah mendengar perintah Anastasya.
"Nona, bagaimana dengan janji yang Asosiasi Pahlawan berikan?" tanya seseorang.
"Tenang, semuanya dapat kembali dengan tenang. Kami akan tetap membayar waktu kalian, janji yang kami berikan akan kami tepati."
Mendengar janji Anastasya, mereka bernapas lega. Mereka akhirnya bisa kembali dengan tenang.
Kemudian sekarang tinggal Shiro dan Anastasya di depan Gate. Tidak, masih ada Ume di belakang Shiro.
"Kenapa kita tidak kembali saja, kau akan lebih mudah berbicara dengan Ketua jika kembali," ucap Anastasya.
Shiro menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sudah pamit. Dan sekarang aku dalam perjalanan untuk berpetualang, jadi aku tidak bisa kembali sekarang."
"Oke, aku akan menghubunginya sekarang."
Kemudian Anastasya mulai menghubungi Ketua Asosiasi. Kali ini, Anastasya menggunakan Kristal Komunikasi yang bisa video call.
"Iya Anastasya, ada apa? Apakah ada Masalah?"
Panggilan dengan cepat diangkat oleh Ketua Asosiasi.
"Tidak ada masalah, semuanya telah terselesaikan."
"Oh, bagus. Eh, apa kau bilang? Semuanya telah selesai ? Gatenya telah selesai?"
"Iya Ketua, Zero yang menyelesaikannya seorang diri."
"Jadi, ada apa kau memanggilku Anastasya?"
"Zero ingin bicara denganmu."
Kemudian Anastasya mundur, ia mendekati Ume yang ada di belakang Shiro.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Zero."
Shiro mengangguk, "Bisakah kau memberitahuku tentang Skill Book?"
Kemudian Ketua Asosiasi menjawab dengan singkat, "Skill Book adalah sebuah gulungan yang berisi skill-skill."
"Bukan itu yang ingin ku tanya, tapi asalnya."
Mendengar nada Shiro yang agak meninggi, Ketua Asosiasi terdiam sejenak. Kemudian Ia mendesah pelan dan mulai menjawab dengan serius.
"Semuanya seperti yang kau tebak. Skill Book berasal dari Skill yang dimiliki pahlawan yang telah meninggalkan. Kematian pahlawan mewariskan salah satu skillnya melalui Skill Book."
Setelah mendengar penjelasan Ketua Asosiasi, ternyata tebakan Shiro benar. Pahlawan yang mati layaknya sebuah Game, pasti akan menjatuhkan sesuatu.
__ADS_1
"Berbeda dengan manusia yang menjatuhkan Skill Book, monster tidak. Untuk menjadi lebih kuat, manusia perlu Skill yang didapatkan dari Orb. Namun tidak banyak Skill bagus yang diperoleh dari Orb. Skill Book telah membantu manusia dalam mewariskan kemampuan dari generasi ke generasi selanjutnya."
"Jadi, semua Skill Book yang beredar di Asosiasi Pahlawan, Akademi, dan Guild-guild besar berasal dari pahlawan mereka yang telah mati?" tanya Shiro.
Ketua Asosiasi mengangguk, "Benar."
"Sial." Shiro mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. "Lalu kenapa kalian tidak memberitahuku selama ini?"
Ketua Asosiasi terlihat mendesah pelan. "Sebenarnya ini semua dijaga ketat sebagai suatu rahasia. Makanya kami belum memberitahumu. Kau tahukan jika berita ini tersebar luas, manusia akan saling membunuh demi keegoisan dan keserahakan mereka akan kekuatan."
Mendengar ucapan Ketua Asosiasi, Shiro terdiam. Kemudian Ia mengangguk, apa yang dikatakan Ketua Asosiasi benar adanya. Shiro lalu mendengarkan lanjutkan penjelasan Ketua Asosiasi.
"Kau masih terlalu muda dan kau belum pernah melihat kematian rekan setimmu, sehingga kami belum memberitahumu. Selain itu, kau memiliki skill yang unik, makanya aku tidak pernah mengizinkanmu untuk ikut Raid selama ini."
Mendengar penjelasan Ketua Asosiasi, Shiro terdiam. "Lalu bagaimana dengan kematian kedua temanku Brendy dan Denshu? Keduanya mati di depan mataku, kenapa mereka tidak memiliki Skill Book ketika kematian mereka?"
"Karena mereka belum cukup umur. Hanya pahlawan yang berada diatas 17 tahun yang akan mewariskan Skill Book setelah kematiannya."
"Tapi kenapa?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin itu aturan dunia ini. Sebenarnya dibawah usia 17 tahun, persentase untuk mewariskan Skill Book sangatlah kecil, lebih kecil dari 1%. Sedangkan pahlawan yang berusia diatas 17 tahun, 100% akan mewariskan satu Skill Book secara acak."
Mendengar ini, Shiro mengangguk. Ia akhirnya paham akan semua ini. Ia juga mungkin bisa menebak kenapa Yuki Family dulu suka sekali mengorbankan anak-anak dibawah umur 17 tahun.
Mereka juga takut rugi jika mengorbankan pahlawan dewasa. Pahlawan dewasa akan menjatuhkan Skill Book saat kematian, jadi itu sangat rugi.
Namun kalau mengorbankan Anak dibawah umur 17 tahun, mereka tidak takut rugi kehilangan Skill Book. Meskipun Skilk Book jatuh saat anak tersebut mati dikorbankan, mungkin mereka hanya akan berpendapat kalau Ras Ice Elf saat itu sedang beruntung saja.
"Apakah itu menjawab pertanyaanmu?" tanya Ketua Asosiasi.
Shiro mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menutup panggilan..."
"Tunggu dulu."
Sebelum sempat menutup panggilan, sebuah suara datang.
Ketua Asosiasi, Shiro dan Anastasya terkejut dengan suara itu. Karena suara itu adalah Suara Ume.
"Siapa itu Anastasya?" tanya Ketua Asosiasi.
"Itu adalah salah satu orang yang selamat dari Gate ini. Ia diselamatkan oleh Zero."
"Jadi, Nona, ada apa ? Mau tanda tanganku?" tanya Ketua Asosiasi dengan nada bercanda.
Ume lalu menunjuk Shiro, "Zero yang kalian bicarakan menyebutkan nama kedua temanku juga, Brendy dan Denshu. Jadi aku ingin bertanya."
__ADS_1
Mendengar ini, Shiro keringat dingin. Ia lupa kalau Ume masih ada didekatnya.
"Aku mohon kepada Ketua Asosiasi untuk menjawab sejujur-jujurnya, apakah dia Shiro?"