Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
118. Benar-benar Lich


__ADS_3

Melihat penampilan sosok tersebut, Shiro dapat yakin bahwa sosok di depannya benar-benar adalah Lich.


Masih di dalam kondisi tak terlihat, Shiro bejalan mengendap-endap menuju lokasi Lich tersebut. Ia ingin melakukan serangan diam-diam untuk membunuh Lich tersebut.


Namun ketika jarak antara Shiro dan Lich tersebut berjarak kurang dari 5 meter. Shiro melihat bahwa Lich tersebut langsung menoleh dan menatap lurus ke arahnya.


Shiro tahu bahwa Ia sudah ketahuan, kemudian Shiro langsung sprint dan mengeluarkan Twin White Tiger untuk langsung menebas lehernya.


Swuung~


Lehernya Lich tersebut patah, membuat kepalanya jatuh dari tubuhnya. Namun anehnya, meskipun kepalanya telah jatuh, Lich tersebut masih tetap berdiri.


Tubuh Lich tanpa kepala itupun menodongkan tongkat di pegangnya ke arah Shiro.


Sebuah tangan Kerangka muncul dari bawah tanah dan hendak menangkap Shiro, namun Shiro dapat dengan mudah menghindarinya.


Terlihat tubuh Lich tersebut ingin memasangkan kembali kepalanya yang terlepas. Namun Shiro tidak membiarkan Lich tersebut berhasil.


Slasshhh~


Bukk~


Shiro lalu bergegas memotong kedua tangan Lich yang sedang memegang kepalanya yang terlepas. Kedua tangan Lich ikutan terlepas, tak sampai disitu, Shiro lalu menginjak tubuh Lich tersebut agar tidak bisa bergerak.


Tongkatnya pun Shiro buang. Kini Lich tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.


Bang~ Bang~


Krak~ Krak~


Shiro memukul tubuh Lich tersebut hingga tulang-tulangnya patah.


Setelah menghancurkan tubuh dan kepala Lich, terlihat tangan Lich tersebut masih bergerak-gerak seakan masih hidup.


Shiro mengerutkan kening, Ia pun mencari lokasi Inti Kristal pada tubuh dan Kepala Lich yang telah hancurkan. Namun Ia tetap tidak menemukannya.


"Apa tebakanku salah, ya?" gumam Shiro.


Jika makhluk yang Ia anggap Lich barusan juga merupakan makhluk panggilan seseorang, berarti semuanya akan menjadi merepotkan.


Pandangan Shiro lalu terlalihkan pada liontin berwarna merah darah yang melekat pada leher Lich tersebut.


Dengan iseng, Shiro menarik liontin tersebut. Ia tertarik untuk mengoleksinya. Namun tiba-tiba pemandangan yang tidak ia duga terjadi di depan matanya.


Tangan dan Kaki Lich yang masih bisa bergerak walaupun tubuh dan kepalanya dihancurkan, kini diam tak bergerak sedikitpun. Kemudian perlahan tubuh Lich tersebut berubah menjadi Abu.


Melihat ini, Shiro tersenyum penuh kemenangan.


"Haha~ Tebakanku benar."


"Setelah target telah dikonfirmasi, sekarang masuk ke rencana selanjutnya," pikir Shiro.


Shiro lalu melirik Unseen yang sedang memegang kamera, sepertinya Unseen merekam semua pertempuran Shiro barusan.

__ADS_1


Kemudian Shiro memanggilnya, "Unseen, kemari!"


Mendengar panggilan Shiro, Unseen langsung mematikan kameranya lalu menyimpannya. Ia pun mendekati Shiro, "Ada apa Shiro?"


Kemudian terlihat Shiro mengeluarkan selembar kertas dan sebuah pulpen dari ruang penyimpanannya. Shiro terlihat sedang menulis sesuatu.


Unseen hanya menunggu didekat Shiro tanpa bicara sedikitpun.


Setelah menulis sesuatu, Shiro memberikan selembar kertas yang Ia tulis kepada Unseen.


"Berikan ini kepada Manusia yang ada di lembah sana."


Unseen mengambil kertas tersebut dan mengangguk, "Oke."


Kemudian Unseen langsung menuju ke bawah lembah sambil membawa kertas yang berisi pesan yang ingin disampaikan Shiro kepada Tim Raid yang ada di dasar lembah.


Pesan yang Shiro berikan kepada Unseen untuk Tim Raid adalah kebenaran tentang musuh utama yang ada di dalam Gate ini.


Di dalam pesan tersebut, Shiro memberitahukan kepada mereka untuk tidak berfokus kepada monster kerangka, melainkan fokus mencari pengendali dan pemanggil mereka.


Shiro juga memberitahukan spesifikasi makhluk yang mengendalikan Kerangka tersebut. Lengkap dengan cara mengalahkannya yaitu dengan mencabut liontin yang melingkar di lehernya.


Masalah mengenai cara mencari makhluk pengendali atau Lich, itu urusan para pahlawan Raid. Setidaknya Ia sudah memberitahukan apa yang ia ketahui.


Kemudian Shiro mengeluarkan Kristal Komunikasinya dan memanggil seseorang.


"Anastasya, ini aku, Zero. Bisa kau sambungkan dengan Brewthern?"


Shiro menunggu panggilannya dialihkan Anastasya kepada Brewthern. Kemudian suara pun terdengar.


"Halo Zero, ini aku Brewthern. Apakah ada masalah tentang Gate tersebut?"


"Tidak, semuanya sesuai dengan tebakanku sebelumnya. Namun para pahlawan Raid terlihat kewalahan."


"Baiklah, kami sedang dalam perjalanan, dimana lokasi kalian saat ini?"


"Ikuti saja petunjuk yang aku berikan sepanjang jalan, kalian akan menemukan kami."


"Baiklah, terimakasih atas informasinya."


Setelah itu, Shiro memutuskan komunikasi. Selain menemukan Lich, tujuan Shiro selanjutnya yaitu menemukan Boss monster yang kemungkinan besar adalah Lich King.


Shiro kemudian menyimpan Liontin dan Jubah hitam yang dipakai Lich, karena tidak ada apa-apa lagi yang bisa Shiro ambil. Bahkan tongkatnya pun ikutan hancur lebur.


Ketika memeriksa kedua item tersebut, Shiro terkejut.


"Inikan..."


...****************...


Beralih ke sisi para Pahlawan Raid.


Mereka semua terpojok oleh gelombang kerangka yang sangat banyak. Kelompok yang beranggotakan sekitar 20 orang, kini semuanya tampak kelelahan.

__ADS_1


Mereka tampak meremehkan Gate ini pada awalnya, dan mereka tidak mengharapkan sesuatu seperti ini terjadi.


"Kapten, apa yang perlu kita lakukan selanjutnya ? Anggota Party yang lain sudah kelelahan."


Mendengar ucapan dari salah satu bawahannya, Kapten dari Raid ini mengerutkan kening, "Coba bertahan sebentar lagi, aku sudah menghubungi bala bantuan, mungkin akan perlu waktu untuk sampai kemari."


Mendengar perintah dari Kapten yang bertubuh kekar tersebut, membuat anggota yang lainnya mendesah pelan. Sudah berapa kali Kapten mereka menyebutkan hal tersebut, namun bala bantuan belum juga datang.


Walaupun mereka kurang puas dengan jawaban sang Kapten, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mematuhinya.


Pahlawan wanita kekar dengan kipas besar mendekat ke arah Kapten, "Kakak, apakah bala bantuan benar-benar akan datang ?"


Keduanya sebenarnya adalah saudara kembar, walaupun berbeda jenis kelamin.


Kakak Laki-laki bernama Ron Brown, dan Sang adik perempuan bernama Rin Brown. Keduanya berasal dari keluarga Brown.


Sebenarnya keluarga Brown bukanlah keluarga tipe tempur, tapi keluarga penempa senjata. Namun entah kenapa, Ron dan Rin tidak berminat untuk menjadi penempa.


Sehingga keduanya menjadi pahlawan dan berada di bawah naungan Asosiasi Pahlawan.


Sang Kakak, Ron lalu memandangi Adiknya, "Rin, percayalah padaku. Bala bantuan akan segera datang, kita harus bertahan sebentar lagi."


"Baiklah kak."


Setelah Rin kembali ke posisinya, seseorang anggota Raid tiba-tiba berteriak.


"Kapten, lihat. Kerangka disana tiba-tiba berhenti bergerak dan ambruk," tunjuk salah satu anggota Raid.


Semua anggota Raid melirik arah yang tersebut, dan benar saja, banyak dari Kerangka tersebut tidak lagi bergerak dan tergeletak begitu saja di tanah.


Kapten melihat kesempatan ini untuk memobilisasi semangat anggota Raid yang lain.


"Semuanya, musuh sudah diambang kelelahan dan ada kemungkinan bala bantuan telah tiba. Mari bakar semangat juang kita."


"IYAAA."


Benar saja, kelompok Raid itu kembali bersemangat, mereka seperti tengah melihat kemenangan di depan mata.


Ron sebagai Kapten Tim ini tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil menbangkitkan semangat juang Anggotanya.


Di bawah kakinya, sesosok Shadow Mantis keluar dari bayangannya.


Ron kemudian menjadi waspada, namun ketika melihat Shadow Mantis itu memberikan sepucuk surat, Ron dengan ragu-ragu mengambilnya.


Kemudian Ron melihat Shadow Mantis itu telah menghilang, ia pun menatap surat yang ia pegang saat ini.


Tanpa ragu sedikitpun, Ron lalu membacanya dengan seksama. Kemudian senyum cerah di wajah Ron.


Rin yang tak jauh dari sana, melihat perubahan ekspresi kakaknya, Ia pun bertanya kepada kakaknya, "Kakak, apa isi surat itu, surat cinta kah?"


Ron tersenyum memandang Adiknya tersebut, ia pun menunjukkan surat tersebut kepada Adiknya Rin dan berkata:


"Ini adalah kemenangan kita."

__ADS_1


__ADS_2