
Shiro memandang keduanya dengan senyum diwajahnya. Melihat moment ini, ia juga bernostalgia, ia mengingat tentang berbagai moment-moment romantis ketika ia bersama istrinya di kehidupannya sebelumnya.
Rasa iri melintas di pikirannya, namun segera ia menenangkan pikirannya.
Ia tersenyum memandangi keduanya yang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Ia juga mengagumi keberanian sang Healer wanita untuk menyatakan perasaannya.
Sang Tanker juga cukup bagus, ia melindungi sang Helaer dengan mendekapnya, dan membiarkan punggungnya menjadi sasaran dari Thunder Bird.
'Sepasang kekasih yang sangat cocok, semoga saja mereka bisa hidup bersama.' pikir Shiro.
Shiro mengeluarkan Katananya, ia mencuntikkan Aura dan mengaktifkan Skill Dream kepada Thunder Bird yang mendekati kedua orang tersebut.
Thunder Bird yang mendekati kedua pahlawan tersebut lansung tertidur. Namun karena ia masih dalam kondisi terbang, Thunder Bird tersebut terus berakselesari secara acak di udara. Hingga akhirnya ia mendarat jauh dari kedua pahlawan tersebut.
Shiro tidak tinggal diam, ia menyimpan kembali Katana miliknya dan mulai melawan Thunder Bird.
Agar tidak mengganggu pasangan tersebut, Shiro terbang menghampiri para Thunder Bird dan menyerang mereka di udara.
Dengan kombinasi Frost Wing dan sepasang Kerambit Twin White Tiger, Shiro dapat menyerang kawanan Thunder Bird dengan mudah.
` slashh~`
` slasshhh~`
Shiro menggores Thunder Bird yang mendekat satu-persatu. Waalupun serangannya tidak dalam, namun karena Kerambit miliknya mengandung racun. Para Thunder Bird yang terkena goresan Twin White Tiger, mulai lumpuh secara perlahan.
Racun dari Twin White Tiger mulai menyebar di tubuh Thunder Bird, membuatnya kaku dan terbang tak beraturan.
Shiro membiarkan para Thunder Bird yang terkena racun, ia lebih berfokus pada Thunder Bird lainnya yang masih dalam kondisi bugar.
Toh, dengan racun di Twin White Tiger, Shiro tidak usah repot-repot menghabisi musuh satu-persatu. Ia tinggal menunggu efek racunnya menyebar, dan musuh akan mati dengan sendirinya.
` slasshhh~`
` slasshhh~`
Satu-persatu, Shiro menyerang Thunder Bird terdekat. Satu-persatu juga Thunder Bird tersebut berjatuhan.
` kiek~`
__ADS_1
` kiek~`
Melihat rekan mereka yang satu-persatu berjatuhan, Thunder Bird yang lain berteriak. Namun teriakan mereka buka bermaksud menyerang, melainkan untuk melarikan diri.
Mereka pun pergi berhamburan ke berbagai arah, meninggalkan kawanan lainnya yang telah dikalahkan oleh Shiro.
Melihat kepergian Thunder Bird, Shiro tidak berniat mengejar. Sudah ada beberapa Mayat Thunder Bird yang bisa ia ambil material di tubuh mayat tersebut. Ia kembali ke tempat duo bucin tersebut.
Ketika Shiro terbang mendekat, sang Tanker membuka matanya dan melihat kedatangan Shiro. Ia bergumam pelan, "Malaikat.."
Shiro tersenyum lalu berkata, "Apa kalian sudah selesai? Selamat datang di Paradise, sebuah kerajaan yang dibuat untuk kalian para makhluk Fana yang telah meninggal."
Mereka berdua bingung mendengar ucapan dari Pria berjubah dan bersayap putih. 'Apakah kita benar-benar sudah mati.' pikir mereka berdua.
Melihat ekspresi keduanya, Shiro tertawa terbahak-bahak, "Pfft~ Hahahaha~ Maaf, maaf. Aku cuma bercanda hahaha~"
Keduanya tertawa kecut menanggapi candaan Shiro. Mereka berdua merasa lega karena mereka masih hidup dan belum mati.
"Etto.... Tuan, namaku Otto, dan ini adalah Mira. Terimakasih telah menyelamatkan kami."Tanker memperkenalkan diri dan berterima kasih kepada Shiro.
Shiro mengangguk lalu menjawab, "Tidak apa-apa, aku hanya kebetulan lewat dan melihat Suar yang kalian nyalakan."
Shiro memandang keduanya yang masih berpelukan, tiba-tiba memikirkan sesuatu untuk menggoda keduanya.
"Aduh~ aduh~ Sakit." keluh Shiro sambil memegang dadanya.
"Tuan, apa kau tidak apa-apa ? Bagian mana yang terluka." keduanya khawatir melihat Shiro merintih kesakitan.
"Itu, Dadaku sakit. Dadaku sakit melihat kalian berpelukan dengan mesra. Hati ku iri melihat keromantisan pasangan di depanku. Aku iri, karena sampai saat ini belum punya pasangan yang bisa menemani hidupku."
Mendengar keluhan Shiro, keduanya menjadi malu. Mereka sadar, bahwa Shiro sedang bercanda dan menggoda mereka.
Keduanya menunduk, rona merah muncul di kedua pipi mereka. Terutama sang Healer, mengingat ia mengungkapkan perasaannya dan berani memeluk sang doi. Pipinya tambah merona, bagaikan sebuah apel yang sudah matang.
"Pfft~ Maaf, maaf, cuma bercanda." Shiro berusaha menahan tawa, ia mengusap air matanya yang jatuh karena menahan tawa.
Shiro lalu memandang keduanya dengan serius, "Kalian tidak apa-apa ? Semuanya baik-baik saja kan ? "
"Ya kami tidak apa-apa, Kami hanya terluka sedikit dan cuma sedikit kelelahan karena kehabisan Aura. Kedua teman kami juga akan segera sadar sebentar lagi." ucap Otto kepada Shiro.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari mereka, Shiro menoleh melihat dua orang anggota tim mereka yang lain lalu mengangguk, "Baguslah kalo begitu, lain kali hati-hati."
keduanya mengangguk, Mira sang Healer minat sekeliling memberanikan diri untuk bertanya. "Etto, Tuan, kemana para kawanan Thunder Bird itu pergi? Apakah kau mengalahkan mereka semua ?"
"Oh, Aku tidak mengalahkan mereka, aku hanya mengusir mereka pergi dari sini. Kalian tidak usaha Khawatir. Dalam waktu dekat, mereka tidak akan kemari. Namun, Kalian juga harus cepat memulihkan kondisi kalian dan pergi dari sini. Jumlah Thunder Bird di pulau apung ini cukup banyak daripada tempat lainnya." jawab Shiro sambil memberi mereka peringatan.
"Terimakasih Tuan atas pengingatnya."keduanya membungkuk hormat.
"Baiklah, kalo begitu, aku pergi dulu." ucap Shiro membentangkan sayapnya dan hendak pergi.
"Tunggu Tuan, bolehkah kami tahu nama Tuan ?"
Shiro berhenti dan menatap keduanya. Ia berpikir sejenak. "Hm... Aku Zero, namun kalian lebih mengenalku sebagai.... Shadow."
Setelah itu Shiro pergi dan meninggalkan mereka dengan segudang tanda tanya.
Keduanya terpana melihat kepergian Shiroz lalu keduanya saling memandang. "Shadow ? Shadow yang itu kah ?"
"Mungkin saja, tapi bukannya ia berpakaian serba hitam dan dari rumor ia adalah Assasin yang kasar, berdarah dingin dan haus darah. Kok berbeda dari yang dirumorkan? " ucap Mira.
Otto hanya menggeleng, "Ntahlah, aku juga tidak tahu. Tapi ia sudah menyelamatkan kita. Kita harus membalas budi kepadanya di kemudian hari."
Mira mengangguk, "Mari kita cepat berkemas dan menyadarkan kedua teman kita. Kita harus pergi dari pulau ini."
......................
Di sisi Shiro.
Shiro pergi dan menghampiri lokasi para Thunder Bird yang kehilangan kesadaran.
Ia membedah mayat-mayat Thunder Bird tersebut dna mulai mengambil setiap material yang sekiranya berguna dan berharga.
Setelah itu, ia pergi dari pulau itu dan terbang kembali mencari pulau-pulau lainnya disekitar sana.
Saat ia sedang terbang, komunikatornya tampak bergetar. Shiro langsung mengeluarkan alat komunikasinya.
"Halo, dengan Zero disini. Ada apa ?"
Suara Leon terdengar dari alat komunikasi tersebut. "Halo, ini aku Leon. Kami punya berita terbaru mengenai apa yang kita bicarakan sebelumnya."
__ADS_1