Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
82. Berakhir


__ADS_3

Merasakan Aura yang terus berkumpul diatas kepala Thunder Bird King, para pahlawan merasakan ketakutan dan perasaan putus asa menyelimuti mereka.


Mereka semua bisa melihat Awan yang menghitam disertai kilatan petir yang siap menyambar kapan saja.


"Sial, apa yang perlu kita lakukan ?"


"Apakah kita akan berakhir begitu saja seperti ini ?"


Berbagai pertanyaan dan keputusasaan menyelimuti para Pahlawan.


Leon yang tubuhnya dipenuhi luka, ia bangkit paling depan. "Tenang saja, aku punya satu alat pertahanan yang cukup kuat yang kemungkinan bisa menahan serangan tersebut."


"Benarkah ?"


Sebuah kalimat dari Leon, menjadi secercah harapan bagi mereka semua.


Karena ini pertahanan, mereka yakin, jika bisa menahan serangan dari Thunder Bird King, mereka akan bisa merapalkan mantra yang cukup kuat untuk melawan.


Namun, pernyataan tambahan dari Leon, membuat mereka skepris.


"Namun alat ini hanya bisa bertahan selama beberapa menit. Dan ketika menggunakannya, tidak ada yang bisa menyerang ke luar area pertahanan."


Mendengar pernyataan tersebut, senyum mereka memudar, "Lalu apa yang katua kita lakukan ? Bagaimana kita bisa mengalahkannya ?"


Leon menggeleng, "Aku tidak tahu, aku tidak punya Kartu As lagi. Mungkin kita bisa mencoba memulihkan luka dan Aura kita, lalu bersiap untuk melancarkan serangan dadakan ketika waktu penggunaan alat ini hampir habis."


Mereka semua mengangguk, hanya itu satu-satunya cara.


"Baiklah, karena kalian semua setuju, mari kita lakukan."


Leon lalu mengeluarkan sebuah bola besi hitam seukuran bola sepak dari cincin ruang miliknya. Lalu Ia memberi isyarat untuk membiarkan mereka semua mendekatinya.


Ketika merasa semua orang berada dalam jangkauan item tersebut. Leon lalu melemparkan bola tersebut ke atas. "Aktifkan! "


Bersamaan dengan diamtifkannya bola tersebut, petir mulai menyambar ke tempat mereka berada saat ini.


Mereka hanya bisa melihat cahaya putih saat ini, mereka takut, mereka merasa bahwa alat pertahanan tersebut belum berhasil diaktifkan dan mereka semua terkena serangan dari Thunder Bird King.


Namun mereka salah, ternyata cahaya putih yang dilihat mereka bukanlah petir. Melainkan aktivasi bola pertahanan tersebut.


"Jangan khawatir semua. Ini semua mekanisme pertahanannya. Kita tidak bisa melihat keluar, begitupun pihak luar tidak bisa melihat ke dalam. Kita seakan beda dimensi dengan dunia luar." jelas Leon.


Mereka semua duduk lega ketika mendengar penjelasan dari Leon. Setidaknya mereka aman dan selamat dari serangan Thunder Bird King barusan.


"Semuanya silahkan istirahat. Pulihkan fisik dan Aura kalian. Ini hanya akan bertahan selama 10 menit. Jadi gunakan waktu sebaik mungkin." Leon mulai mengingatkan.


"Ya, Kapten."


Mereka mulai mencoba memulihkan diri.Para Support terutama Healer sibuk mengobati pahlawan yang terluka.


Karena keterbatasan tenaga dan waktu, beberapa Pahlawan lainnya yang tidak memiliki luka yang cukup serius, mereka terpaksa harus menggunakan obat dan ramuan penyembuhan milik mereka sendiri.

__ADS_1


Beberapa diantara mereka, ada yang memasak, mereka lapar dan penat akibat bertarung dari pagi tadi.


Berbagai kegiatan mereka lakukan masing-masing. Ada yang sibuk berlatih, tidur, make-up, dan semacamnya.


Tanpa mereka sadari, 10 menit hampir berlalu.


"Semuanya, berkumpul. Sebentar lagi waktu bola pertahanan akan habis. Semuanya bersiap pada posisi masing-masing." Leon mulai mengingatkan mereka semua.


"Ya, Kapten."


Semua pahlawan mulai bersiap, mereka memasang perlengkapan terbaik mereka, membangunkan teman-teman mereka. Dan masuk ke dalam barisan formasi.


"Cahaya Bola pertahanan sudah mulai memudar, itu berarti sebentar lagi waktunya hampir habis. Damage Dealer terutama Mage, siapkan mantra yang cukup besar. Kita akan menyiapkan serangan kejutan. Tanker juga bersiap menghadapi serangan."


"Ya Kapten."


Mereka semua mulai menjalankan perintah dari Leon. Para Damage Dealer mulai merapalkan mantra. Dan para Tanker berada di depan mereka, mengelilingi para Damage Dealer yang berada di tengah formasi.


"Waktunya hampir habis."


Leon mulai menghitung.


" 3 "


" 2 "


" 1 "


"Ya.."


Pemandangan putih didepan mereka berubah menajdi pemandangan di dalam Ruangan Boss sebelumnya.


Namun mereka terkejut, karena pemandangan di depan mereka sungguh tragis.


Lubang, retakan dan gosong pada tanah dimana-mana. Seakan-akan ada badai dahsyat yang baru saja terjadi disini.


Namun mengingat serangan kuat yang hampir diluncurkan oleh Thunder Bird King, mereka merasa, ini semua cukup wajar.


Pengingat Leon kembali terdengar, membuyarkan lamunan mereka. "Semuanya, cari Thunder Bird King secepatnya."


"Ya, Kapten."


Mereka celingak-celinguk mencari keberadaan Thunder Bird King disekeliling dan diangkasa. Namun mereka tidak dapat menemukan petunjuk keberadaan Thunder Bird King sedikitpun.


Tiba-tiba teriakan seseorang mengagetkan mereka.


"Kapten coba lihat ini." ucap salah satu pahlawan sembari menunjuk ke lereng gunung, di dekat hutan.


Leon dan para pahlawan lainnya tertarik mendengar ucapan pria itu, mereka mendekat dan melihat apa yang ditemukan pria itu.


Ketika melihat ke arah lereng gunung yang ditunjuk pria itu, mereka semua terkejut.

__ADS_1


Mereka melihat sebuah mayat Burung yang habis gosong terbakar. Masih ada busur-busur listrik di tubuhnya.


Sekilas, mereka tampak asing dengan penampilan mayat tersebut. Namun setelah diperhatikan dengan seksama, mereka bafu menyadari, bahwa mayat tersebut adalah mayat dari Thunder Bird King.


"Apakah ia terkena dampak dari seranganny sendiri ? " tanya Seseorang.


"Ntahlah, tapi mari kita periksa terlebih dahulu."


Beberapa pahlawan memberanikan diri untuk turun, melihat kondisi mayat dari Thunder Bird King tersebut, termasuk Leon.


Mereka semua masih waspada, jika Thunder Bird King masih hidup, atau ada musuh lain yang mengintai mereka. Makanya, tidak semua pahlawan ikut turun.


Beberapa menit berlalu, mereka tidak dapat menemukan hasil ataupun kesimpulan apapun. Kecuali Thunder Bird King mati dengan sendirinya karena efek skill atau karena Kristal di dahinya yang meledak.


Ya, mereka menemukan bahwa Kristal kuning keemasan di dahi Thunder Bird King sudah tidak ada lagi. Ntah itu menghilang, hancur atau diambil orang, mereka tidak tahu kebenaran yang terjadi sebenarnya.


Setelah membuktikan bahwa ini benar-benar mayat Thunder Bird King, mereka semua bergembira.


Kesenangan dan kebahagiaan tergambar diwajah mereka.


"Kapten, kita berhasil."


"Yeay, kita menang."


Sorak-sorai gembira terdengar luar di ruangan Boss. Namun masih ada 1 masalah tersisa. Yaitu mantra yang telah disiapkan para Damage Dealer.


"Kapten, apa yang harus kami lakukan terhadap mantra-mantra yang telah kami siapkan."


Leon tersenyum, lalu menujuk keatas.


Mereka semua mengangguk mengerti tentang apa yang dimaksud Leon.


Dengan penuh senyuman, mereka melepaskan mantra-mantra tersebut ke angkasa.


` Bang~`


` Bang~`


` Bang~`


Ledakan mantra tersebut terdengar. Namun ada perasaan melegakan ketika melihat mantra- mantra tersebut dilepaskan.


Seakan sedang melepaskan apa yang telah membelenggu hati dan jiwa mereka.


Ledakan mantra tersebut diangkasa membuat sebuah kembang api yang cukup meriah walaupun ditengah siang hari yang terik.


Mantra-mantra serangan tersebut, menjadi sebuah kembang api perayaan atas keberhasilan mereka menyelesaikan Gate.


Melepas belenggu mereka.


Mendapatkan Kemenangan.

__ADS_1


Memperoleh Kebahagiaan.


__ADS_2