
` bang~`
Armor yang ada ditubuh Shiryuu-senpai langsung retak oleh satu pukulan Shiro. Shiryuu-senpai memuntahkan seteguk darah akibat kena dampak dari pukulan Shiro.
` bang~`
Sekali lagi Shiro memukul Shiryuu-senpai, kali ini Armor yang dipakainya langsung hancur berkeping-keping tak bersisa.
" ARRRGHH~" Teriak Shiryuu-senpai kesakitan. Banyak sekali darah yang ia muntahkan.
"Cu.. cu... cukup, maafkan aku. Aku salah ! A...aku berjanji tidak akan melakukan apapun kepada kalian." Shiryuu-senpai memohon belas kasihan.
` bang~` Shiro memukulnya lagi. Kali ini ia menargetkan kepalanya.
"AAARRGGHH~" Teriak Shiryuu-senpai. Darah mulai bocor dari hidungnya.
"Emangnya aku orang yang bodoh, yang bisa kau bohongi dengan mudah. Apa menurutmu para Ice Elf akan membiarkan kami pergi ?" ucap Shiro dengan penuh amarah.
"A..a.. Ampuni nyawaku, a... aku bisa memberimu segala yang kau inginkan." Shiryuu-senpai kembali memohon.
"Aku tidak peduli, sekarang, matilah kau."
Tinju Shiro dibalut dengan Aura yang lebih ganas dan lebih besar dari sebelumnya. Ia bersiap untuk membunuh Shiryuu-senpai.
"Tidak.. tidak... jangan lakukan itu." pinta Shiryuu-senpai ketakutan.
Shiro tidak menghiraukan permintaan Shiryuu-senpai, ia melayangkan pukulannya kepada Shiryuu-senpai.
"Lepaskan dia, atau akan ku hancurkan tubuh bocah ini."
Sebelum pukulan Shiro mengenai Shiryuu-senpai, terdengar suara Panatua Ice Elf ditelinganya. Shiro menghentikan pukulannya.
Karena Ia melihat Panatua Ice Elf sedang memegang Denshu dan mengangkatnya.
Shiro terkejut, karena ia tidak menyadari kalau Panatua Ice Elf sudah bergerak kearah Denshu. Dari persepsinya, Panatua Ice Elf tidak bergerak dari tempatnya semula.
Shiro melirik ketempat Aura yang cukup besar yang ia kira adalah Panatua Ice Elf. Aura tersebut berada di dekat pintu masuk ruangan dan tidak bergerak dari tadi.
Shiro terkejut, karena yang ia lihat di pintu masuk ruangan hanyalah sebuah Patung Es.
"Shiro, tak usah mengkhawatirkan aku, bunuh aja si bajingan Shiryuu itu." ucap Denshu dengan marah walaupun ia lagi dipegang oleh Panatua Ice Elf.
"Sial." kutuk Shiro. Ia mengakui kalo ia sangat ceroboh dan kurang pengalaman.
"Apa yang kau inginkan ?" tanya Shiro kepada Panatua Ice Elf.
Panatua Ice Elf tersenyum. "Lepaskan pemuda itu, akan ku Lepaskan bocah ini."
"Apa alasanku untuk percaya padamu?" Shiro tidak mempercayai Panatua Ice Elf.
__ADS_1
Panatua Ice Elf tidak menjawab, tapi senyumannya semakin lebar. Senyum yang sangat mengerikan.
"Hahaha.. kau bocah yang menarik. Mari ganti pilihan. Mau kah kau menjadi anak buahku, sebagai gantinya, kau bisa membunuh pemuda tersebut dan kau akan ku berikan kekuatan." ucap Panatua Ice Elf.
Pilihan yang diberikan Panatua Ice Elf sangatlah menarik, namun Shiro tidak bisa mempercayainya dengan mudah. Dan Panatua Ice Elf juga tidak menyebutkan bahwa ia akan membebaskan dirinya ataupun teman-temannya.
"Apakah kalo aku setuju, kau akan membebaskan teman-temanku?" tanya Shiro.
Namun Panatua Ice Elf tidak menjawab, ia hanya bungkam.
Diamnya Panatua Ice Elf sudah memberikan jawaban untuk Shiro.
` bang~`
Shiro memukul kepala Shiryuu-senpai membuat kepala Shiryuu-senpai hancur berkeping-keping. Darah memuncrat kemana-mana.
"Sepertinya itu adalah pilihanmu. Kalo begitu, ucapkanlah selamat tinggal untuk teman-temanmu." ucap Panatua Ice Elf.
Tangan Panatua Ice Elf berubah menjadi Pedang Es yang runcing. Ia mulai menusuk perut Denshu.
"Selamat tinggal Shiro, Brendy. Senang mengenal kalian semua." ucap Denshu dengan nada pasrah.
Denshu memejamkan matanya, ia siap menerima rasa sakit dan kematian yang akan datang.
Agak lama memejam, namun rasa sakit yang ia harapkan tidak datang juga. Denshu membuka matanya.
Ia terkejut karena ia melihat Panatua Ice Elf menusuk anak buahnya. Dan ia berada cukup jauh dari lokasi itu.
Tak hanya Denshu, bahkan Panatua Ice Elf ikutan bingung. Ia nengerutkan kening, tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa Anak buahnya yang ia bunuh, bukannya Denshu.
Panatua Ice Elf mencabut tangannya yang berlumuran darah dari tubuh Ice Elf yang mati ditangannya. Panatua Ice Elf menjadi marah, "Sial, kemampuan siapa itu ?"
Panatua Ice Elf memandang sekeliling dengan mata merah. Ia memperhatikan setiap Ekspresi dari setiap orang yang ada disana. Namun ia tidak mendapatkan petunjuk siapa yang mengacaukannya.
Semuanya tidak tahu apa yang terjadi, kecuali Shiro. Setelah Ia membunuh Shiryuu-senpai. Ia memperhatikan Serangan Panatua Ice Elf kepada Denshu.
Sebelum serangan Panatua Ice Elf tersebut mengenai Denshu, Shiro menjentikkan jarinya untuk menggunakan Skill Switch.
Shiro memindahkan Denshu dan menukarnya dengan salah satu Ice Elf yang berada tidak jauh disana.
Skill Switch sangatlah berguna saat ini, namun itu bukan berarti Shiro dapat dengan bebas menggunakannya sesuka hati.
Menggunakan Skill Switch terhadap dua target makhluk hidup selain dirinya, menguras banyak sekali Aura. Ditambah dengan jaraknya yang cukup jauh dan pertarungan yang telah terjadi cukup lama, membuat pasokan Aura Shiro berkurang cukup banyak.
Ini baru pertama kalinya bagi Shiro memiliki Pasokan Aura yang kurang dari setengahnya. Semenjak ia memiliki Breathing, Aura yang ia miliki selalu diatas 80%.
Ketika Panatua Ice Elf masih linglung dan marah, Shiro memanfaatkan ini untuk membuat Ice Elf lainnya.
Shiro bergegas berlari menuju Dua Ice Elf Mage yang berada tidak jauh dari sana.
__ADS_1
Para Ice Elf Mage yang dapat merasakan perubahan Aura di sekitar, menyadari kedatangan Shiro.
Mereka menyerang Shiro dengan beberapa serangan kecil dan memasang Ice Wall di sekeliling mereka.
Namun yang dihadapi mereka adalah Shiro. Ia dapat dengan mudah menghindari serangan-serangan kecil tersebut.
` bang~`
Ice Wall yang memisahkan kedua belah pihak hancur berkeping-keping oleh satu pukulan Shiro.
` Slash~`
` Slash~`
Setelah berhasil menghancurkan Ice Wall, Shiro mengeluarkan Katananya dan menebas leher kedua Ice Elf Mage.
Kepala kedua Ice Elf tersebut terjatuh tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Darah mengalir deras layaknya sebuah air pancuran.
Panatua Ice Elf yang melihat hal ini langsung tersadar, ia menjadi sangat marah, semua pupil matanya menjadi merah darah. Ia dipenuhi oleh emosi.
"Kalian tidak memberikanku pilihan lain."
Panatua Ice Elf mulai melantunkan mantra. Aura yang padat mulai bergerak disekitar Panatua Ice Elf.
Shiro dan yang lainnya merasakan perubahan yang terjadi disini. Mereka memandang Panatua Ice Elf dengan ngeri. Mereka merasakan firasat buruk yang akan terjadi pada mereka.
Dari kejauhan, Shiro ingin memindahkan Panatua Ice Elf menggunakan Skill Switch. Namun banyaknya Aura kacau disekitarnya malah akan menimbulkan ledakan besar jika Shiro menggunakan Switch kepada Panatua Ice Elf. Sebuah ledakan yang bisa menghancurkan Gua tempat Shiro dan yang lainnya berada saat ini.
Meskipun Shiro masih bisa keluar dengan selamat, namun Brendy dan Denshu yang sudah lemah tidak akan bisa kabur dengan selamat.
Satu-satunya cara menghentikan panatua Ice Elf yaitu dengan membunuhnya atau memaksa dirinya membatalkan Mantra tersebut.
Pilihan kedua adalah yang paling mustahil, hanya pilihan pertama yang bisa Shiro lakukan.
"Hentikan dia." Teriak Shiro sambil mencoba mendekat.
Brendy dan Denshu kembali sadar, ia mencoba mendekat namun dihadang oleh Ice Elf yang masih bersisa.
Para Ice Elf mengelilingi Panatua Ice Elf yang sedang melantunkan mantra. Mereka siap melindungi Panatua Ice Elf apapun yang terjadi dengan nyawa mereka.
"Sial." Melihat hal ini, Shiro tidak bisa tidak mengutuk.
Ia mencoba berpindah tempat menggunakan Switch kepada beberapa benda yang memiliki Aura.
Walaupun Shiro sudah mencoba mendekat, namun ia masih terlambat.
Aura di dalam ruangan tersebut menjadi semakin Gila, Panatua Ice Elf tersenyum seakan telah selesai melantunkan mantra.
Lalu Panatua Ice Elf melepaskan mantranya.
__ADS_1
"KALIAN SEMUA... MATI."