
Setelah menberi Buff kepada keempat rekan setimnya, Ume bersiap untuk mengirbankan dirinya, mencoba menahan Giant Cyclops yang mengejar mereka, walaupun cuma sebentar.
"Maju kau raksasa botak bermata satu."
Ume menyerang Giant Cyclops dengan menggunakan Magic Missile, sebuah skill dasar yang dipelajari oleh Mage dan Support.
Ume hanya bisa menggunakan serangan dasar, sebab Ia sudah kelelahan terus-terusan berlari, dan juga, Aura yang dimilikinya hampir kosong setelah memberi Buff kepada keempat rekan setimnya yang telah melarikan diri.
Magic Missile yang dikeluarkan Ume tidak berefek sedikitpun terhadap Giant Cyclops.
Senyum mengerikan muncul di wajah Giant Cyclops, seakan-akan telah mendapatkan mangsa, ia berniat untuk mempermainkan mangsanya terlebih dahulu.
Tangan Giant Cyclops terulur ke arah Ume. Namun Ume tidak tinggal diam, ia mencoba berlari dan mengeluarkan berbagai macam bom peledak untuk diarahkan kepada tangan Giant Cyclops.
BOOM~
Bahan peledak tersebut berhasil mengenai tangan dari Giant Cyclops. Terlihat tangan Giant Cyclops sedikit ruam akibat terkena ledakan tersebut.
Giant Cyclops menjadi marah, ia berlari dan hendak menusuk tubuh Ume menggunakan kuku-kuku tangannya yang tajam.
Melihat ini, Ume pasrah. Ia memejamkan matanya sambil terus berlari.
"Mati aku. Semoga mereka bisa kembali dengan selamat." Ume berdoa di dalam hatinya.
Slasshhh~
Namun ia tidak merasakan rasa sakit yang ia bayangkan. Ia malah mendengar suara memotong, seperti seorang yang sedang mengiris tahu.
BUKK~
Sesuatu sepertinya jatuh dibelakangnya, Ume pun berbalik dan melihat pergelangan tangan dari Giant Cyclops terpotong rapih dan tergeletak begitu saja di tanah.
Darah masih menetes dari tangan Giant Cyclops yang terpotong, Giant Cyclops meraung keras: "AAAAUUUMMM~"
Raungan tersebut memekakkan telinga Ume, ia pun reflek langsung menutup kedua telinganya. Kakinya bergetar, Ume merasa kakinya mulai melemah dan ingin jatuh.
Tiba-tiba Ume merasakan sebuah tangan terulur di pahanya, Ume terkejut. "Siapa yang berani mengambil keuntungan disaat seperti ini?" pikirnya.
Tubuh Ume diangkat, ia terasa di gendong seperti seorang puteri. Ume melirik orang yang menggendongnya, sosok berjubah putih yang menggendongnya membuatnya merasa cukup aman.
Ia berpikir kalau ia akan mati, tapi ternyata ia masih bisa selamat.
Ume memandang sosok berjubah putih itu dan bergumam pelan, "Terimakasih."
"Hah ? Apa yang kau katakan, aku tidak bisa mendengarmu."
Ume terkejut, ternyata orang yang menggendong dan menyelamatkannya adalah seorang pria. Ia menjadi tersipu malu.
"Tidak, bukan apa-apa," jawab Ume.
__ADS_1
Sosok berjubah putih itu tentunya adalah Shiro. Ia terkejut ketika melihat kenalannya di Akademi berada di dalam Gate juga. Apalagi keadaannya sedang dalam kondisi berbahaya.
Shiro pun langsung menyelamatkan nyawanya.
Awalnya Shiro tidak ingin muncul begitu saja, ia berniat membiarkan Ume kabur dan melawan Giant Cyclops seorang diri. Namun ketika melihat Ume terduduk lemah, ia langsung membawa kabur Ume.
Shiro tidak yakin musuh hanya seorang diri, jika ia membiarkannya sendirian begitu, bisa-bisa Ume mati oleh monster dan serangga yang ada di hutan raksasa ini.
Merasa sudah aman dan cukup jauh dari jarak mereka dengan Giant Cyclops, Shiro berhenti dan menurunkan Ume.
"Hum, sepertinya aku datang tepat waktu. Bagaimana kabarmu? Apakah baik-baik saja?" tanya Shiro.
Ume terkejut ketika ia diturunkan oleh Shiro, namun ia langsung menjawab pertanyaan Shiro dengan canggung.
"Etto, tidak apa-apa. A... aku cuma terlalu kelelahan."
Mendengar itu, Shiro mengeluarkan ramuan pemulihan Aura dan ramuan penambah stamina dari ruang penyimpanannya, lalu Shiro memberikannya kepada Ume. "Nah, ambil."
Dengan malu-malu, Ume mengambilnya, "Terimakasih."
Ume langsung mengkonsumsi kedua ramuan tersebut, ia sudah tidak memiliki ramuan lagi di ruang penyimpanannya. Semuanya sudah ia gunakan selama pertarungan sebelumnya dan dihabiskan saat ia melarikan diri.
"Sama-sama, beristirahat."
Kemudian Shiro berbalik, sebab Giant Cyclops sudah mendekati mereka dengan marah.
Melirik kondisi Ume yang tidak memungkinkan untuk bertarung, Shiro memerintahkan Unseen untuk melindungi Ume.
Mendengar perintah Shiro, Unseen langsung keluar dari bayangan Shiro dan memberikan hormat militer, "Siap, laksanakan."
Shiro nengangguk, ia lalu mengeluarkan Twin White Tiger dan melemparkannya. Twin White Tiger bertransformasi menjadi Harimau Putih.
"Twin White Tiger, kau jelajahi sekitar, bunuh monster yang mendekat."
"Aumm~"
"Tidak, biarkan aku saja."
Unseen mencoba memprotes. Namun Shiro menggelengkan kepalanya, "Tidak, kau jaga dia dan jangan lupa merekam pertempuranku."
"Hum, baiklah." Unseen menjawab dengan nada terpaksa.
Shiro mengeluarkan Katananya dan bersiap menghadapi Giant Cyclops. Unseen juga sudah menyiapkan kameranya, sedangkan Twin White Tiger sudah pergi menuju hutan, membelakangi arah pertempuran mereka.
Shiro berlari menghampiri Giant Cyclops.
"AAAAUUUMMMMM~"
Giant Cyclops tampak marah melihat Shiro, ia meraung keras dan menghentakkan kakinya ke tanah dengan sangat kuat.
__ADS_1
Shiro merasakan getaran seperti sedang berada di tengah-tengah gempa, dan terlihat samar satu-satunya mata Giant Cyclops memancarkan Aura kuning kecokelatan.
Batu-batu dan tanah mulai terangkat dan melayang ke arah Shiro.
Shiropun tahu, ini semua skill milik Giant Cyclops yang ada didepan matanya. Ia dengan mudah menghindari serangan tersebut.
Setelah berhasil mendekat, Shiro melompat dan mengeluarkan belati lalu melemparkannya ke arah mata Giant Cyclops.
Shiro berprasangka bahwa kelemahan Giant Cyclops berada di mata satu-satunya yang ia miliki.
Batu-batuan besar masih beterbangan ke arah Shiro, serangan yang Shiro lancarkan berhasil ditepis dengan mudah oleh Giant Cyclops.
Kemudian Giant Cyclops tampak kebingungan karena tidak melihat lokasi dari Shiro. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun masih tidak menemukan keberadaan Shiro.
Giant Cyclops tampak menggaruk kepalanya yang botak dengan menggunakan satu-satunya tangan yang ia miliki saat ini.
"Apakah kau mencariku?"
Sebuah suara datang di atas kepala Giant Cyclops, yang membuatnya terkejut.
Ketika penglihatan Giant Cyclops terhalang, Shiro menghindari serangan Giant Cyclops lalu menghilang.
Dan ketika Giant Cyclops menggaruk kepalanya dengan penuh kebingungan, Shiro menggunakan skill Switch untuk berpindah tempat dengan belati yang masih tertancap di tangan Giant Cyclops.
Slasshhh~
Menyikapi keterkejutan Giant Cyclops, Shiro langsung menusuk dan memotong mata Giant Cyclops secara vertikal.
"Aaauummm~"
Giant Cyclops meraung kesakitan dan berusaha menutupi matanya. Batu dan tanah yang terangkat juga mulai berjatuhan.
"Oh, sepertinya tebakanku benar."
Shiro yang jatuh bebas bergumam pelan. Lalu ia mengeluarkan Frost Wing dan berakselerasi ke arah Giant Cyclops.
"MATI."
Slasshhh~
Shiro memotong leher Giant Cyclops dengan mudahnya.
Kepala dan badan dari Giant Cyclops tumbang bersamaan. Tubuh besarnya yang jatuh membuat tanah cukup bergetar.
Masih menunggu selama beberapa detik, setelah memastikan bahwa Giant Cyclops sudah benar-benar mati. Shiro meninggalkan tubuh Giant Cyclops dan langsung menghampiri Ume yang tampak tercengang di kejauhan.
"Gila, dia benar-benar bisa membunuh monster jelek itu dengan mudah. Jika aku memiliki kemampuan seperti itu, rekan-rekanku tidak akan mati."
Di kejauhan, Ume bergumam pelan. Lalu ia memfokuskan matanya di Katana yang dibawa Shiro.
__ADS_1
"Sepertinya aku pernah melihat Katana itu..."