
Setelah menghubungi Anastasya, sambil menyeruput kopinya, Ia menunggu kedatangan tim penjemput dari Asosiasi Pahlawan.
Saat ini, Shiro juga sedang membiasakan diri menggunakan 60-70% kekuatan tubuhnya untuk aktivitas sehari-hari.
Shiro menyadari bahwa kekuatan lawan masih tidak diketahui, mungkin ada yang lemah, dan mungkin juga ada yang sangat kuat.
Menghadapi lawan yang lemah, dia mungkin tidak membutuhkan kekuatan sebegitu besar untuk mengalahkan musuh. Namun ketika menghadapi musuh yang lebih kuat, Shiro sangat membutuhkan kekuatan yang sanggup membereskan musuh dengan cepat.
Saat bertarung dengan lawan yang kuat, Shiro tidak bisa menunggu peningkatan kekuatannya secara berkala. Ia harus bisa menampilkan kekuatannya secara optimal ketika berhadapan dengan musuh yang kuat.
Lagipula, tidak selamanya Shiro bertarung sendiri. Ia menyadari hal ini, semuanya dipertaruhkan. Hasilnya tidak hanya berdampak pada dirinya, melainkan seluruh dunia.
Kesalahan sekecil apapun, keterlambatan yang cuma sepersekian detik, mungkin bisa merubah hasil pertempuran.
Maka dari itu, Shiro menetapkan kekuatannya di titik optimalnya sebagai kekuatan default. Hal in ia lakukan agar mudah untuk dikerahkan saat bertarung melawan musuh.
5 menit berlalu.
Sebuah pesawat jet dengan 4 sayap berbentuk X mulai berputar-putar di atas kepalanya.
Shiro tahu kalau pesawat jet tersebut adalah sarana yang diberikan Asosiasi Pahlawan dalam penjemputan dirinya.
Kemudian Shiro mengeluarkan suar singkat untuk memberitahu lokasi pastinya kepada tim penjemput. Setelah menghidupkan Suar, Shiro lalu terbang menuju lokasi pesawat jet.
Sebuah suara yang keluar dari speaker pesawat terdengar di telinga Shiro, "Periksa identitas."
Mendengar itu, Shiro langsung tahu maksudnya. Ia lalu mengeluarkan kartu identitas kepahlawanannya dan menunjukkan kartu tersebut kepada tim penjemput.
"Verifikasi berhasil, identitas diterima. Membuka kabin pesawat."
Di udara, pesawat jet berhenti bergerak dan mulai membuka kabin pesawat yang berada di bagian bawah pesawat.
Shiro lalu memasuki pesawat jet tersebut, dan disambut oleh seorang pramugari dan 2 orang pria berpakaian dengan armor lengkap layaknya akan pergi bertempur.
Pramugari itu lalu berkata kepada Shiro: "Selamat datang, silahkan duduk. Semoga perjalananmu menyenangkan."
Shiro mengangguk kepada pramugari dan kedua pahlawan tersebut, lalu Ia perlahan duduk di tempat yang telah disediakan.
Tanpa diberitahu, Shiro tahu apa yang terjadi. Walau ia tidak meminta bala bantuan, namun dalam pengoperasian pesawat jet, mungkin saja ada kecelakaan.
Dan kedua pahlawan ini sangat dibutuhkan dalam mengatasi keadaan darurat tersebut. Keduanya melihat Shiro dengan heran, mereka seakan mencoba mencari identitas Shiro di benak mereka. Namun mereka tidak mengingatnya sedikitpun.
Keduanya tidak kenal dan tidak pernah mendengar informasi tentang pemuda berambut putih dengan kimono pria tersebut.
__ADS_1
Di dalam pesawat jet tersebut, Mereka tidak ada yang berbicara sedikitpu.
Shiropun tidak peduli, Sudah lama sekali Shiro tidak naik pesawat, tanpa sadar Shiro sudah tertidur di dalam pesawat jet tersebut. Mungkin karena aktivitasnya belakangan ini membuatnya agak lelah.
Sadar-sadar, Shiro dibangunkan oleh Pramugari pesawat jet tersebut karena telah sampai tujuan. Dengan perasaan sedikit mengantuk, Shiro memandang sekeliling yang terasa sepi.
Kedua pahlawan telah turun dari tadi, Shiro lalu mengecek waktu dan ternyata baru 5 menit berlalu.
Dua kata di benak Shiro, "Sungguh singkat."
Entah memang jaraknya terlalu dekat, atau teknologinya yang sudah maju yang membuat perjalanan tersebut terasa singkat.
Jika memang teknologi yang sudah maju yang membuat pesawat jet tersebut dapat bergerak secepat itu, Shiro ingin mengusulkan untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa.
Mungkin saja mereka bisa bertemu dengan peradaban lain.
Shiro lalu berterimakasih kepada Pramugari tersebut lalu keluar dari pesawat jet tersebut.
Memandangi gedung Asosiasi Pahlawan yang terlihat megah di depannya, Shiro merasa sedikit nostalgia.
Sudah lama ia berkelana, dan akhirnya pulang bagaikan bang toyib.
"Aku kembali."
Shiro lalu berjalan menuju gedung Asosiasi Pahlawan. Ia juga mengeluarkan Kristal Komunikasi dan menghubungi Anastasya, "Aku sudah sampai, kau dimana ?"
"Hei tunggu, apakah kau tidak menyuruhku untuk makan terlebih dahulu ? Aku sangat lapar."
Anastasya terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Shiro.
"Hahaha~ Aku hanya bercanda. Aku sudah melihatmu. Ayo menuju ruang Ketua."
Shiro kemudian mematikan Kristal Komunikasi dan berjalan menghampiri Anastasya.
Melihat Shiro, Anastasya tersenyum, "Tapi aku sudah memesankan makanan untukmu."
Mendengar ini, Shiro tercengang, "Benarkah?"
Anastasya mengangguk, "Makanan akan diantar ke Kantor Ketua. lagipula, Ketua belum makan. Kalian bisa mengobrol sambil makan bersama."
"Baiklah."
Shiro hanya bisa setuju dengan ucapan Anastasya. Nasi sudah menjadi bubur. Lagian, tidak baik menolak rezeki.
__ADS_1
"Ikuti Aku!"
Shiro lalu mengikuti Anastasya menuju Ruangan Ketua Asosiasi.
Sesampainya di depan Ruang Ketua Asosiasi Pahlawan, Anastasya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya. Kemudian Shiro dipersilahkan masuk.
Di dalam ruangan, Shiro melihat kembali penampilan Ketua Asosiasi, Thomas Schven yang telah lama tidak Ia lihat. Shiro lalu membungkuk hormat.
"Silahkan duduk!" ucap Ketua Asosiasi Pahlawan, Thomas Schven.
Shiro lalu langsung duduk, kemudian Ia langsung masuk ke pembahasan utama.
"Ketua, aku punya informasi yang sangat penting. Ini sangat penting menyangkut kehidupan manusia, dan mungkin perlu rapat dengan berbagai pihak eksternal untuk membahas hal ini."
Mendengar Shiro yang blak-blakan, Ketua Asosiasi tersenyum, "Seperti biasa ya, tanpa basa-basi. Tapi nanti dulu, kita bahas masalan ini saat makan saja."
Tok~ tok~ tok~
Kemudian pintu diketuk, Anastasya yang masuk membawa dua hidangan Steak. Hidangan tersebut untuk Shiro dan Ketua Asosiasi.
Melihat steak didepannya, Shiro mengerutkan kening, "Daging lagi, Daging lagi," pikirnya.
Namun Shiro tidak menolaknya, Ia makan steak bersama dengan Ketua Asosiasi Pahlawan.
"Jadi nak, informasi apa yang ingin kau berikan ?" tanya Ketua Asosiasi.
"Silahkan lihat ini."
Shiro lalu mengerutkan alat perekam yang direkam Unseen dalam merekam percakapan antara Iblis Agasura dan Ratu Elfie.
Awalnya Ketua Asosiasi tidak terlalu serius menanggapinya, namun ekspresinya tiba-tiba berubah saat kemunculan Sang Iblis Agasura. Apalagi ketika Iblis Agasura menyebutkan rencananya, hal ini membuat Ketua Asosiasi mengerutkan kening.
Setelah video selesai, Ketua Asosiasi memandang Shiro dengan serius, "Apakah ini benar ?"
Shiro mengangguk, "Tentu saja. Selain itu, Ras Iblis bisa mengkonsumsi Orb secara langsung untuk memperoleh kekuatan berkali-kali lipat. Aku tidak tahu ada batasan atau tidak untuk Ras lainnya."
Setelah itu, Shiro mengeluarkan tanduk Iblis Agasura yang telah Ia potong, lalu menunjukkannya kepada Ketua Asosiasi.
Melihat tanduk yang dikeluarkan Shiro, Ketua Asosiasi tahu kalau Shrio tidak berbohong. Walaupun penampilannya berbeda dengan yang ada di video, namun Aura Jahat yang tersisa dari material tersebut, mampu membuat bulu kuduk merinding.
"Jika apa yang kau katakan benar, ini memang informasi yang sangat penting. Kita akan melaksanakan rapat dengan organisasi dan Family untuk membahas hal ini...."
Sebelum Ketua Asosiasi menyelesaikan kalimatnya, Kristal Komunikasi disebelahnya berkedip dan berdering.
__ADS_1
Ketua Asosiasi langsung mengangkatnya, "Ada apa Brewthern?"
"Ketua, Lapor. Ada kecelakaan yang terjadi."