Shiro : The Secret Hero

Shiro : The Secret Hero
40. Istirahat


__ADS_3

Mereka bertiga berjalan menuju tempat mereka berkumpul sebelumnya.


Shiro memimpin di depan, karena hanya Shiro yang masih tenaga ekstra untuk membuka jalan bagi mereka.


Denshu berada dibelakang, ia menaiki Serigala Angin miliknya, ia bermeditasi di atas Serigala Angin, sambil mengisi ulang Aura yang telah banyak ia konsumsi.


Sedangkan Brendy, ia dilindungi di tengah formasi, ia digendong oleh Gorilla Salju atau Kera Putih miliknya, walaupun fisiknya sudah mulai pulih, namun ia masih perlu istirahat dan tidak boleh melakukan beberapa kegiatan fisik.


Brendy menoleh kepada Shiro, "Shiro, mana lagi madu yang kau ambil?"


"Eh, bukannya tadi udah ya ?" saut Shiro dari depan.


"Kau cuma kasih dikit, tidak seimbang dengan pengorbananku. Lagi pula, Madu bisa mempercepat pemulihan, jadi beri aku Madu lagi.!" Brendy memohon.


"Iya iya, nih ambil." Shiro memberikan bongkahan kecil Madu kepada Brendy.


"Terimakasih Shiro!" Brendy dengan semangat menerima bongkahan Madu tersebut lalu menyesapnya.


"Eh, apa sih yang kalian bicarakan?" Denshu tiba-tiba mendekati mereka dan bertanya.


"Cuma Madu kok." balas Shiro.


"Shiro punya banyak, minta aja Denshu. Kalo bukan karena pengorbananku yang disengat banyak Lebah, aku mungkin bisa bereaksi waktu diserang ular tadi." Brendy mencoba memberi alasan.


"Alasan." ucap Shiro dan Denshu bersamaan.


Lalu Shiro mengambil bongkahan kecil Madu kepada Denshu, "Nih, Ambil !"


Denshu menangkap Madu tersebut dan tersenyum kepada Shiro, "Terimakasih."


Mereka melanjutkan perjalanan.


Karena mereka berjalan cukup lambat, mereka pun sampai nya cukup lama di tempat tujuan mereka.


Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan, tidak terlalu banyak bahaya yang mereka hadapi di jalan.


Hanya beberapa monster kecil yang dihadapi Shiro dengan mudah.


"Kita sudah sampai, mari kita istirahat." ucap Shiro.


"Ya"


"Huh, cukup melelahkan." ucap Brendy.


"Melelahkan matamu, kau enak digendong sama Kera Putihmu." nyinyir Denshu.


"Bukannya kau sama ya, kau juga naik Serigala Anginmu."


"Sudah-sudah, mumpung kita sedang beristirahat, kita evaluasi pertarungan kita tadi." Shiro menengahi pertengkaran mulut keduanya.


"Dari apa yang ku ketahui, monster yang hidup di area es atau kawasan bersalju, mempunyai resistensi yang kuat terhadap suhu. Selain itu, daya tahan mereka cukup kuat, sehingga serangan biasa tidak bisa melukai mereka dengan mudah." analisis Shiro.

__ADS_1


Denshu dan Brendy mengangguk, mereka setuju dengan analisis Shiro.


"Sepertinya aku perlu pisau atau serangan yang memiliki efek penetrasi." Gumam Brendy.


"Oh ya Shiro, bagaimana kau bisa selamat dari ular tersebut ?" tanya Denshu penasaran.


"Mudah saja, aku menangkis serangan ular tersebut lalu memutar-mutarkannya di udara sehingga ular tersebut pusing dan pingsan." jawab Shiro.


"Gitu aja ? Berarti ular tersebut masih hidup dong ?" ucap Denshu.


Shiro berpikir sejenak dan menjawab." Tidak, itu sudah mati."


"Bagaimana kau membunuhnya Shiro ?" Kali ini Brendy yang bertanya.


"Ketika ular tersebut pingsan, aku memasukkan banyak racun ke mulutnya, membuat ular tersebut meninggal."


Keduanya mengangguk mendengar jawaban Shiro. Mereka juga tahu, selama di Akademi, Selain membeli berbagai macam pil dan obat-obatan, Shiro juga banyak membeli berbagai jenis racun dan penawarnya.


"Aku jadi iri dengan bakat tipe Fisik seperti dirimu. Kau tidak perlu menggunakan banyak Uara, sehingga tidak akan mengalami kelelahan seperti diriku." ucap Denshu.


"Tapi Shiro, kau sepertinya bertindak layaknya seorang Assasin, apakah kau ingin berganti Job seperti diriku?" ucap Brendy.


Shiro menggeleng, "Tidak perlu, penggunaan racun juga ku gunakan ketika terdesak saja. Racun yang ku punya hanya digunakan sebagai Kartu Truff, jadi tolong rahasiakan ya ! "


Mereka nengangguk, ketiganya beristirahat dan memanggang beberapa daging buruan mereka selama di perjalanan.


Hari sudah semakin sore.


"Jangan-jangan, terjadi apa-apa dengan Shiryuu-senpai?" timpal Denshu.


Brendy dan Shiro tertegun mendengar ucapan Denshu. Ada terbesit di pikiran mereka mengenai hal tersebut.


Namun keduanya langsung menepis pemikiran tersebut, tidak mungkin Shiryuu-senpai bisa kalah dengan Monster yang ada disini, lagi pula, mana ada yang berani macam-macam dengan Keluarga Yuki, apalagi melakukannya di situs kepemilikan Keluarga Yuki.


` sresekk~ sresekk~`


Tiba-tiba suara gemerisik terdengar oleh Shiro dan yang lainnya.


Mereka bertiga langsung bersiap-siap memasuki mode pertarungan.


Mereka melihat sesosok Bayangan yang muncul dibalik semak-semak. Bayangan tersebut semakin dekat dan makin mendekat.


"Yo, ini aku, apakah kalian baik-baik saja?"


Suara tersebut datang dari Bayangan tersebut, dna akhirnya wajah dari Bayangan tersebut terlihat.


Mereka lega, karena sosok Bayangan tersebut adalah Shiryuu-senpai.


Shiryuu-senpai melihat kondisi Brendy dan lainnya, "Sepertinya kalian mengalami pertarungan yang mengasyikkan?"


Melihat senyum Shiryuu-senpai, Brendy dan Denshu tersenyum kecut, 'Asik pala bapakmu!' ingin sekali keduanya bilang begitu. Namun mereka tidak berani.

__ADS_1


"Iya senpai, pertarungannya sangat mengasyikkan, sayanh sekali senpai tidak ada disana." ucap Brendy mencoba mensarkas.


"Sayang sekali kalau begitu." Shiryuu-senpai menunduk dan tersenyum kecut.


"Oh iya Senpai, kau dari mana saja ? Kok bisa terlambat" tanya Denshu mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh, Senpai pergi ke atas gunung disana, mencari tanaman obat disana sembari mencari Medan yang cukup untuk bermalam. Waktu kembali, Senpai agak tersesat, untung aja hari belum malam dan senpai melihat asap kalian memasak." jelas Shiryuu-senpai.


Shiro dan yang lainnya mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan panen kalian ?" tanya Shiryuu-senpai.


"Banyak dong." ucap Denshu dengan nada bangga.


"Baguslah kalo begitu, sekarang kalian bereskan perlengkapan kalian, kita akan pergi."


"Eh, pergi kemana Senpai ?" Shiro dan yang lainnya terkejut.


"Bukannya senpai sudah bilang, kalo senpai mencari medan yang tepat untuk bermalam. Kita akan bergegas kesana, mumpung belum gelap."


Shiro dan yang lainnya mengangguk, mereka ingat kalo Shiryuu-senpai pernah berkata begitu. Mereka pun membereskan segala macam perlengkapan mereka dengan cepat.


"Senpai, kami sudah siap"


"Bagus, tidak ada yang ketinggalankan ?"


"Tidak, Senpai."


"Oke, mari kita berangkat."


Mereka berempat akhirnya berangkat. Shiryuu-senpai memimpin jalan didepan. Lokasi yang dipimpin Shiryuu-senpai agak naik ke puncak gunung.


Mereka bergegas bergerak dengan cukup cepat, mereka tidak mau mencapai lokasi terlalu malam. Karena malam di kawasan pegunungan area bersalju, sangatlah dingin. Mereka tidak mau bermalam ditempat acak ataupun kedinginan ketika mencari tempat.


Hari semakin gelap, kabut dingin sudah mulai muncul dan mengurangi pandangan mereka.


"Masih jauh kah senpai ?" ucap Denshu khawatir.


"Tenang, tidak jauh lagi." Shiryuu-senpai tersenyum, mencoba menenangkan Denshu dan yang lainnya.


Walau hari mulai gelap, Mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya mereka tiba di lokasi yang ditunjuk Shiryuu-senpai.


Mereka tiba disebuah Gua yang cukup besar, tidak ada bekas cakaran di gua tersebut, dan masih banyak dedaunan dan ranting yang tersebar di sekitar gua.


Melihat banyaknya dedaunan dan masih ada Sarang Laba-laba kecil di mulut gua, mereka berpikir 'Sepertinya gua ini sudah lama tidak ditempati.'


"Ayo masuk ! " ajak Shiryuu-senpai.


Mereka agak ragu-ragu untuk masuk, tapi melihat Shiryuu-senpai memimpin masuk duluan, Merekapun ikutan masuk.


Ketika mereka masuk, Shiro mendapat pesan dari Unseen yang membuatnya tertegun.

__ADS_1


"Shiro, di depan sangat berbahaya..."


__ADS_2