
" Sayang, wajah cantik mu mengalihkan segala Rasaku. maafkan Aku yang tidak bisa melindungimu. Ido janji Hari ini dan selamanya ido akan selalu ada disampingmu " Gumam Rido sembari menatap Wajahku yang sedang tertidur.
Di dalam kamar milik ku Rido tak lepas menatap Wajah ku yang sebagai calon istrinya itu dan tak lama kemudian Rido yang merasa sedang kelelahan tertidur di sofa yang berada didalam kamar milik ku.
" Ridooo " Panggilku pelan. Aku mencoba membiaskan cahaya kecil di sudut mataku, melirik kekiri kekanan mencari Rido yang sedari tadi menggenggam tanganku.
" Nak Ido sedang tidur, karena baru saja ia tertidur. kamu ingin sesuatu? biar ibu yang ambilkan. " Ucap Ibu.
" Tidak bu hanya saja, Tadi tanganku seperti sedang ia genggam " Ucapku.
" Rido bangun kok, kamu ingin sesuatu? " Tanya Rido yang beranjak dari sofa tempat ia tertidur.
" Aku hanya ingin bersandar dibahumu " Rido menghampiriku dan duduk disampingku, ia membantu aku membangunkan badanku dan duduk disamping Rido. mata sembabku menunjukan bahwa Aku sudah selesai mengeluarkan rasa marah, sedih dan kecewaku terhadap Om ku itu, Akupun bersandar di bahu kekarnya Rido dan Ia tersenyum saat melirik kearahku.
"sayang , besok kita akad saja dulu. biar aku bisa selalu dekat dengan mu" Pinta Rido, Rido pun mencoba meminta Ijin kepada Ayah dan Ibu.
" Apakah Ayah dan Ibu mengizinkan kami ? " Tanya Rido sembari menatap Ayah dan Ibu, mereka tersenyum sebagai isyarat bahagianya.
" Kalau Ibu sih gimana kalian aja, tapi sebelum akad dimulai, Ibu minta tolong kepadamu untuk menceritakan kejadian ini kepada Papa juga mamamu Nak! " Seru ibu.
" Betul Apa kata ibumu, Kami tidak mau Jika Papa dan Mama mu tidak mengetahui ini, dan kejujuran juga keterbukaan dalam sebuah keluarga sangatlah penting. bukankah kami dan orang tua mu sudah menjadi satu keluarga " Ucap Ayah.
" Aku sangat senang dengan apa yang ibu dan Ayah katakan, Dan jangan khawatir Ayah, malam ini setelah mereka pulang. Ido akan segera menceritakan semuanya yah, " Terangnya membuat Ayah dan ibuku merasa tenang.
" bagaimana kalo Tante neni dan om Gusti balik tidak menyetujui pernikahan ini yah ? " Tanya ku, RFido menggenggam tanganku dan mengecup punggung tanganku.
" orang tua ku sangat menyayangi mu sayang, aku yakin mereka adalah orang yang akan mengerti perasaan mu juga." Ungkap Rido sembari tersenyum kepadaku.
" Pernikahan kita tinggal seminggu lagi, Aku mau menikah di tanggal yang sudah ditentukan." jawabku dengan tegas seraya mengelilingi pandanganku kearah meraka, Mereka sangat mengerti dengan keadaanku. mereka menganggukan kepalanya tanda menyetujui keinginanku.
__ADS_1
"baiklah sayang, saat itu terjadi aku menginginkan kau tidak pernah jauh dari sisiku " Pinta Rido sembari menatap lekat kearahku, Aku melihat Air mata yang akan keluar dari sudut matanya.
Saat kami sedang berbincang melanjutkan semua rencana pernikahan yang sduah disusun rapi oleh Rido, kami mendengar suara Tante intan yang datang dan langsung memeluk ku, Tante intan menangis begitupun dengan om Joe. mereka sangat marah atas perlakuan Danu kepadaku. mereka mengutuk keras tidak akan memaafkan dan mengampuni Danu.
om Joe memang belum memiliki Anak perempuan. dan sedari kecil om Joe sangat menyayangiku dan juga Rani.
om Joe selalu meminta ayah menjaga kami apabila om Joe dan Tante intan sedang tinggal di luar negri untuk pekerjaan nya, om Joe dan Tante intan sering membelikan kami banyak hadiah walaupun mereka jauh dan om Joe selalu menyempatkan mengirimkan hadiah tersebut untuk kami. wajar saja kalo om dan Tante sangat marah dengan apa yang telah kami terima dari Danu.
Saat ini suasana masih hening menyelimuti kamarku, Isak tangis kecil yang masih terdengar dari bibir Ibu dan Tante intan terdengar pelan meskipun begitu aku masih bisa mendengarnya dan sesekali aku yang merasa trauma masih saja melamunkan kala ia datang dan dengan ganasnya ingin menjadikanku mangsanya.
" TIDAAAAAAAAAAAAK " Teriak ku kencang, membuat semua merasa khawatir kepadaku.
" Sayang, " Panggil Rido menyadarkanku. Nafasku masih tersengal kala itu. Aku memeluknya erat dan Rido mencoba menenangkanku.
" Aku boleh meminta sesuatu kepadamu dan Jika menyinggung mu ataupun Ayah, Aku meminta Maaf terlebih dahulu. sebab ini memang harus aku ucapkan dengan niat yang sangat tulus. " Tanya Rido, Aku menganggukan kepalaku, dan Rido menatap kesekelilingnya untuk meminta Ijin kepada Ayah ataupun yang lainnya.
" Maafkan aku ayah, bukan maksudku mendahului ayah. aku baru saja menjadi tunangan nya Tapi sudah berani lancang seperti ini. Maafkan Rido Ayah" Ucapnya sembari menatap Ayah lekat.
" Katakanlah nak, Apa yang akan kau katakan dan tenanglah Ayah akan selalu mencoba memahami mu " Jawab Ayah sangat menenangkan hatinya.
" seminggu lagi Rido akan resmi jadi suami May, Rido ingin Sekali May mulai menutup aurat nya. Rido ingin May menjadi istri yang shalihah untuk Rido " air matanya mulai keluar dari sudut mata indahnya, terlihat wajah yang penuh harap saat mengatakan kalimat itu.
__ADS_1
" Maafkan Rido! " Ucap Rido sembari mengatupkan kedua tangannya.
" Jika kamu tidak bisa dan menolaknya. Rido harus bisa membujuk kamu, Rido ingin pernikahan Kita mendapat Ridho Allah SWT, dan mungkin kamu pun sudah mengetahuinya bahwa sehelai rambut yang mereka lihat itu tercatat dosa untuk Aku dan juga Ayah " Terang Rido seraya menjelaskan kepadaku.
" Aku mohon mengertilah, Aku ingin membangun rumah di surga bersama mu May. Aku juga ingin kamu lebih taat kepada Allah, Aku ingin kamu mencintaiku bukan karena aku baik tapi semata-mata karena Allah SWT."
('mamah Neni dan Risa juga berkerudung, mereka sangat cantik dan terlihat bersahaja dan aku juga tau itu' gumamkudalam hati, Entahlah aku merasa melayang mendengar Rido menjelaskan itu. Aku senang dan Aku bangga dengannya. dia memang lelaki yang baik untuk ku)
" Maafkan aku yang sudah lancang menggurui mu May, aku ingin kita menikah jauh lebih baik lagi " Ungkap Rido, air matanya turun dengan deras mengingat tiga tahun lalu dia mengucapkan ini kepada mamah dan adiknya,
Rido memegang tangan Ayah dan memeluk Ayah, Rido meminta maaf karena sudah berbicara lantang kepadaku didepan Ayah.
Ayah terlihat sangat kagum dengan sosok Rido, Aku mendengar cerita Ayah dan ibu yang memberitahuku jika Rido juga sudah pernah beribadah di tanah suci, Rido juga pernah mengajak Semua karyawan teladan nya untuk berangkat umroh setiap tahunnya bersama dengannya. Rido memang sosok lelaki yang cukup religius.
" Nak ido, Ayah sama sekali tidak marah. inilah jawaban tuk ayah, kenapa hati ini selalu ingin menikahkan mu dengan anak Ayah. semoga selamanya Nak Ido mencintai dan menyayangi Anak Ayah " Ungkap Ayah
" Benarkah ayah tidak marah? " Tanya Rido kepada Ayah.
" Tidak nak, Ayah justru malu dengan posisi ayah sebagai orang tua yang membiarkan anak gadis nya berjalan tanpa menggunakan hijab" Ucap Ayah.
" sudahlah ayah, jangan membuat Rido malu Sama ayah seperti ini" tandas Rido sembari tersenyum kepada Ayah.
Aku hanya terdiam sesekali Aku mencoba mengusap air mataku, begitu sangat mengagumkan akan sosok Rido yang sudah mengubah jalan hidup dan pemikiran ku tentang orang-orang sekitarku dan cerita cintaku. Rido pun mengubah sikapku yang tadinya cuek sekarang Akupun sudah tau artinya keluarga seperti apa.
Tak lama kemudian Rido berpamitan untuk pulang, Dan tak lupa Rido pun meminta agar Aku mau diantarnya pergi ke dokter untuk meminta dokter memeriksakan kondisi trauma ku, Namun Aku menolak dengan alasan aku akan baik-baik saja.
Rido dan ayah saling berpelukan, Rido juga memeluk ibu. Rido mencium kening ayah dan ibu. tak lupa Rido menitipkan Aku kepada ibu dan Ayah.
ibu sangat bahagia memiliki calon menantu yang nyaris sempurna, ibu sangat tidak sabar dan ingin sekali menikahkan kami segera.
__ADS_1
persiapan demi persiapan dilakukan, ya memang sangat singkat persiapan pernikahan kami hanya satu bulan setelah pertemuan itu. Nene juga sudah pulang dan sehat tentu saja Nene belum tau apa yang sudah terjadi walaupun Nene sempat bertanya keberadaan Danu kami dengan kompak berbicara bahwa Danu ada urusan yang tidak bisa di nantikan.
oh iya semenjak kejadian itu Aku lebih sering dikamar tentunya di temani oleh adik kesayangan ku Rani. dan setiap hari Rido mengirimkan bunga Lily putih dan mawar kepadaku dengan ucapan selamat pagi sayang , semoga hari mu menyenangkan, tak sabar ingin segera menjadi belahan jiwamu Tak pernah sekalipun Rido menggantikan kalimat-kalimat itu untuk ku dan aku tersipu malu dengan Apa yang dilakukan oleh Rido.