
Dua bulan kemudian...
Hari demi hari kami lalui bersama, Zain masih belum bisa menemui Anaknya karena banyaknya pekerjaan Namun aku dan Rido tidak pernah membuatnya merasa gusar walaupun berjauhan dengan Ayana. dan hari demi hari Aku belajar melancarkan bahasa turkey ku bersama Rido dan kadang bersama Fahriye, dan sebaliknya Fahriye juga belajar berbahasa Indonesia dengan sangat baik. bagi Rido Aku dan Fahriye memiliki banyak kesamaan, dan Salah satunya sama-sama pintar.
Malam itu, Aku dan Fahriye sedang menghabiskan waktu dengan bersantai bersama diruang tengah Rumah ku. sembari menunggu kepulangan Suamiku dan Dhan dari kantor, Aku dan Fahriye banyak sekali bertukar cerita. Aku dan dia memang sudah sangat dekat bahkan Fahriye lebih memilih untuk membantu ku mengurus Anak-anak ku bersama Carry dan Mbak Ci apalagi aku belum mendapatkan pengasuh yang cocok untuk mengasuh Ayana.
Fahriye memang sosok wanita penyanyang, Ayana begitu sangat senang jika mendapat pelukan Fahriye, Alea juga sangat menyukai Fahriye. bahkan jika Fahriye sedang fokus menggendong atau mengurus Ayana sering sekali Alea merasa cemburu dan berusaha merebut perhatiannya. Aku juga melihat Aura keibuan sudah sangat melekat diwajahnya itu.
"Kaka May, Aku sudah telat menstruasi" ungkapnya saat itu.
"benarkah?" Tanyaku, wajahku terlihat sangat terkejut. "sudah berapa lama?" Tanyaku kembali.
"Sudah mau 2 bulan, tapi aku gak heran Kak/." Jawabnya.
"Nah, loh kok gak heran gimana sih?'
"Iya, dulu sewaktu aku belum menikah. sering sekali Aku tidak mendapat menstruasi." Jawabnya.
"coba aja test dulu, siapa tahu memang kamu hamil" Ucapku.
"tidak Kak, sepertinya tidak hamil." jawabnya kekeuh kala itu.
"Tapi pusing, Mual dan merasa ada yang tadinya kamu sukai lalu jadi tercium tidak suka ataupun melihat nya tidak suka?" Tanyaku detail kepadanya. dia menggelengkan kepalanya.
"Ayolah, Fahriye. mengapa gak tes dulu saja" Pintaku kepadanya seraya memaksa.
"Tidak kak, Aku juga belum beli alat test itu." Jawabnya kembali, ia terkekeuh tertawa sembari menatap keaarahku.
"kenapa kamu tertawa?"
"karena lucu Aja, kalau benar Aku hamil" jawabnya sembari tetap tertawa geli.
"Yaudah cek aja dulu, Aku punya kok Alat test kehamilannya" Jawabku.
"Punya?"
"Iya punya, Kemarin aku juga telat menstruasi. dan itu menjadi perasaan yang tabu mengingat Maliq masih sangat kecil." jawabku.
"Apa kaka sudah mengeceknya?" Aku tersenyum, wajahku pun sepertinya merah merona.
"kenapa?, Apa kaka hamil?" Tanya nya kembali.
"Tidak, Aku yakin aku tidak hamil lagi Fahriye. Ayolah kamu saja yang check duluan" Aku terus memaksanya, ia pun terlihat sangat takut. beberapa menit kemudian Aku berhasil membujuknya dan Fahriye mau melakukan tes kehamilan nya.
Tlak..Tuk..tlak tuk..... suara bunyi jam dinding semakin membuatnya cemas.
"Kaka May" Teriak nya dengan keras sembari keluar dari kamar mandi, Aku pun terkejut mendengar teriakannya.
"kenapa sayang?" Tanyaku kepadanya.
__ADS_1
"Apa ini kak?" dia memberikan hasil test kehamilannya itu.
"waw...."
"Apa Kak?" Tanyanya lagi.
"kamu Hamil Fahriye, ini sudah sangat jelas sekali."
"Yang benar Kak?" Tanyanya kembali.
"Iya, ini garisnya dua Fahriye sayang" Ucapku kembali meyakinkannya.
"Subhanallah Kak, benarkah ini?" Dia masih saja tidak percaya dengan hasil test tersebut.
"Kaka, benarkah Aku hamil" Tanya kembali.
"Tapi Kak, kata teman ku, Aku akan susah mendapatkan Anak. tetapi Aku selalu berdoa dan menanamkan pemikiran yang Baik." Jawabnya.
"penentu Hamil tidaknya itu adalah Tuhan, jadi kamu tidak usah mendengar pembicaraan orang-orang yang membuatmu gusar. pasrahkan saja sama Tuhan. Tuhan yang menentukan segalanya." Aku menepuk bahunya, memberikannya senyuman.
"Tuhan selalu mengabulkan doa hambanya, bisa jadi sesuai dengan Apa yang di minta atau bahkan lebih dari yang kita minta. itu hanya soal waktu, dan seberapa sabar kita menunggu sampai saatnya tiba" Ucapku.
"Dan Percayalah kamu akan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak mu kelak." Ucapku kembali.
"Terimakasih Kak, sudah memberikan semangat untuk ku". Jawabnya.
"Ayo cepat kabari suamimu setelah ia pulang, Dhan pasti akan sangat senang"
"Aku akan segera mengabarinya Kak." dia mengusap perutnya dengan sangat lembut.
Tak lama kemudian Rido dan Dhan pulang dan membawakan kami makanan Khas Turki, Aku dan Fahriye pun segera menyantap makanan yang dibawakan oleh Mereka,.
"Assallamualaikum" Ucap Rido dan Dhan yang masuk kedalam rumah bersamaan.
"Waalaikum salam" Balas kami dari dalam, Aku segera menghampiri Rido dan segera mencium punggung tangannya.
"Aku bawain makanan ini, kalian makan iya"
"Terimakasih sayang" Aku segera membuka bungkusan yang dibawa dari tangan Dhan.
"Waaw, enak sekali sepertinya." Ucap Fahriye.
"Iya, Ayo makan yang banyak Fahriye" ucapku, Aku segera melangkahkan kaki kebelakang.
"sayang kamu mau kemana?" Tanya Rido. Aku melirik kearahnya.
"Aku mau memanggil Carry dan Mbak Ci" jawabku. Rido duduk sembari menggendong Maliq.
Aku kembali bersama Kedua teman Asuh anak ku, Aku dan mereka makan bersama. saat kami sedang makan bersama, aku melihat pemandangan yang sangat menyenangkan untuk ku. Fahriye terlihat menatap suaminya dan mungkin sudah berniat ingin memberikan kabar Bahagia ini.
"Kamu kenapa?" Tanya Dhan, Fahriye menarik tangannya dan menyimpannya di atas perutnya.
__ADS_1
"Fahriye, kamu kenapa? lihatlah Nona muda melihatnya. Aku malu" bisiknya ditelinga Fahriye dan sempat aku dengar.
"Kamu gak Asyik!!" Fahriye marah dan mengibaskan tangan Dhan yang sudah ia simpan diatas perutnya.
"Fahriye, ku mohon!!" Dhan menatapnya lekat.
"Ada apa ini?" Tanya Rido.
"Enggak Kak, Aku hanya sedikit canggung saja" Jawab Dhan. Fahriye terlihat sangat kesal dengan jawaban yang keluar dari mulut suaminya.dia duduk menjauh dari tempat duduk suaminya.
"kenapa mesti malu? lagian kan kalian gak ngapa-ngapain!" Seru Rido.
"Iya, soalnya gak biasa di depan Kak Rido dan Kak May kita begiini" Jawab Dhan kembali.
"Dhan salah satu Kewajiban nya suami Istri adalah saling memberikan perhatian, dan gak usah malu jika istri ataupun kita sendiri memberikan perhatian didepan orang atau saudara." Ucap Rido.
"Lagipula itu masih Hal yang wajar, kebahagiaan istri untuk ku adalah segalanya Dhan" ucap Rido kembali.
"Istri mu mungkin Akan menyampaikan sesuatu tadi dan kau malah menghancurkan perasaannya" gumamku menimpali ucapan Rido.
"memangnya Apa yang akan kau sampaikan?" tanya Dhan sembari menatap wajah istrinya.
"Lihat saja ini" cemberut di wajahnya terlihat sangat jelas, bagiku ini sangatlah lucu karena Aku dan Rido baru saja melihat kisah cinta Dhan yang terpampang dengan nyata.
"Apa ini?" Tanya Dhan sembari menatap lekat wajah istrinya, "Sayang, Apa kau hamil?" Tanyanya kembali.
"Apa kau tahu jika ini tanda nya Hamil, emangnya kamu pernah lihat hasil tes kehamilan siapa?" Tanya Fahriye dengan Raut wajah kesal.
"Test kehamilan Kak May saat hamil si kembar" Jawab Dhan dengan Polos.
"Benar?" Tanya Fahriye sembari melirikan sebelah matanya kearah ku. Aku menganggukan kepalaku.
"Aku akan punya Anak se lucu dan setampan dan secantik mereka?" Tanya Dhan dengan Antusias, Dhan memeluk Rido dan lagi-lagi mengucapkan rasa syukurnya.
"Dhan hentikan, mengapa kau memeluk ku" Aku dan yang laiinya, yang menyaksikan momen itu tertawa dengan sangat keras.
"Alhamdulilah, ya tuhan.. Aku akan menjadi seorang Ayah" Gumam Dhan kembali sembari memeluk erat tubuh Rido yang sedang memangku Maliq.
"Dhan lepaskanlah, seharusnya kau memeluk istrimu" Ucap Rido kembali.
"Suamiku" Panggilnya dengan berteriak.
"Iya, " jawab Dhan sembari menoleh kearah Fahriye.
"IYa?" wajahnya melongo saat mengucap kata Iya, "seharusnya kau memeluk ku bukan Malah memeluk Kak Rido terus menerus" Ucapnya kesal, Dhan tersenyum lalu memeluk Fahriye.
"sayang, Kapan tes ini dilakukan?" Tanya dhan.
"Tadi, Dan kak May yang mengajak ku untuk mengetes kehamilan itu" Jawab Fahriye, Rido melirikan Matanya kearahku.
"Apa kamu juga Hamil?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tidak!!!!" jawabku dengan semangat, Rido tertawa menggelitik sembari menatap wajahku.
"berhentilah menanyakan Hal itu Rido, Anak kita masih sangat kecil." Aku mengatupkan kedua tanganku, "Ku mohon" ucapku kembali.