
"Aidil..... " Panggil Aliq, Aidil menoleh dan tak menyangka Aliq memanggilnya. tangan Aidil diapit oleh kedua petugas. Ia pun terlihat tertunduk malu dan menatap wajah Aliq dengan sangat segan, Ia lupa akan kekuasan Aliq dan Faaz dan Ia baru menyadari akan kekalahannya.
"Aidil, Maaf jika aku mempermainkan permainan mu. Tenang saja, Aku akan memperlakukan Fizzy dengan sangat baik sebagai Istriku." Aliq menepuk pelan bahu kanan milik Aidil, "Aku akan mencoba mencintai nya, Terima kasih sudah menyadarkan ku. menyadarkan ku bahwa Fizzy adalah wanita yang baik untuk ku." Ungkap Aliq, Ia memeluk Aidil dan mengusap pelan punggung milik Aidil. Aidil seperti pasrah mendengar apa yang Aliq katakan.
"Aku Kalah, Oke Aku Kalah" Dalam batin Aidil bergumam, Ia sudah tidak memikirkan bagaiman kekalahan yang ia dapatkan. Malah ia sangat berpikir keras mengenai kekecewaan Faaz terhadapnya, dan permasalahan pekerjaan nya. sudah 7 tahun lamanya Aidil bekerja sama dengan Faaz dan Fizzy, dan kini Ia sudah mengecewakan orang yang sudah baik dalam memperlakukannya.
"Aku mengecewakan Faaz, Aku sudah membuatnya marah." Ia menggerutu kesal akan dirinya sendiri, "Faaz maafkan Aku, Maafkan Aku Faaz!!!!!" gerutunya dalam hati penuh dengan penyesalan, penyesalan akan apa yang sudah ia lakui.
"Apa kau masih akan menerima ku. Apa Aku masih pantas menjadi saudara mu Faaz." Ucap Aidil dalam hati kembali, rasanya beribu kali ia ucapkan kata penyesalan itu tak akan mampu membuat Faaz, Fizzy dan yang lainnya menerima nya kembali.
"Tuan, Maaf. Apa Tuan Faaz akan menemui saya di kantor?" Tanya Aidil kepada petugas yang membawa nya di dalam mobil.
"Iya, selesai Acara mereka akan menemui mu disana. Namun, sepertinya kau akan kami periksa terlebih dahulu." Ucap Seorang petugas, "Kau telah mengecewakan Tuan Rido dan Tuan Faaz juga Tuan Aliq." Ucap petugas lainnya.
"Mengapa kau melakukan itu Anak muda?" Tanya kembali seorang petugas, "Tenanglah, mereka orang-orang yang baik. Aku melihat adanya rasa penyesalan di raut wajah mu." Timpalnya kembali menimpali pertanyaan nya terlebih dahulu.
"Iya Tuan, saya sangat menyesal. saya sudah mengecewakan mereka" Ungkap Aidil penuh dengan penyesalan di dasar raut wajahnya, ia mengerutkan dahi dan mengerucutkan setengah bibirnya rasanya ia tak mampu lagi berkata-kata.
.
.
.
.
******
Pesta pernikahan pun berlanjut dengan sangat meriah, Faaz duduk disamping Rayna yang duduk di atas kursi roda. Faaz terlihat seperti tidak bersemangat, pandangan Faaz tertuju kepada Natasha yang sedang duduk dan bercengkramah bersama Ayahnya "Jimmy". Faaz tak henti memandanginya, hingga membuat Rayna menunjukan rasa kesalnya terhadap Faaz.
"Faaz." Panggil Rayna dengan sangat jelas, "Aaleysa kemana?" Tanya nya, Faaz sangat terkejut saat mendengar kalimat yang Rayna ucap begitu sangat jelas terdengar.
"Kau sudah dapat berbicara?" Tanya Faaz, Ia seperti aneh menatap Rayna.
"Iya. Aku ingin beristirahat. Aku lelah." Ucap nya kembali, "Antarkan Aku menemui Aaleesya." pintanya kembali kepada Faaz, Faaz merasa senang saat mendengarnya dengan begitu Faaz dapat leluasa bercengkramah dengan Natasha.
"Baiklah Aku antarkan," belum sempat mendorong kursi roda yang di duduki oleh Rayna, Anak semata wayangnya memanggil Natasha dengan sangat keras. Wajahnya terlihat pucat, ia pun terlihat sedang digendong oleh Rani.
"Mama peri..." Panggil Aleesya dengan sangat lantang, "Mama peri...." Natasha menoleh kearah suara Anak kesayangannya itu dan itu membuat Rayna sangat geram, Ia mengepalkan tangannya, wajahnya pun terlihat mengkerut. Rani yang sedang menggendongnya pun tak kuasa menahan keingin Aaleesya untuk mencari Mama peri yang sangat ia sayangi itu. Aalesya memaksa untuk lepas dari gendongan Rani, Aaleesya berlari dan memeluk Natasha. Rayna yang melihat pemandangan itu semakin kesal dibuatnya.
"Faaz, Antarkan Aku ke kamar!!!!" Pinta Rayna penuh dengan penekanan, "Faaz!!!!!!!" bentaknya kembali, Faaz tersadar dan segera mengantarkan Rayna untuk beristirahat di kamar miliknya. dan sepertinya Rayna sudah mengetahui perihal pernikahan Faaz dengan Natasha.
"Sayang, kau seharusnya beristirahat." Ucap Natasha kepada Aalesya, "Sini Ibu peluk, " Ia memeluk Aaleesya.
__ADS_1
"Bagaimana ini?, Kak Rayna pasti sadar dengan panggilan Esya kepadaku." Ucap Natasha dalam Hati penuh dengan perasaan frustasinya, "Tuhan, Aku benar-benar tidak ingin menyakitinya." Gumamnya kembali dalam hati.
"Apa yang harus aku katakan jika Ia bertanya kepadaku?"
"Ya Tuhan, Aku harus apa dan bagaimana?", Ia melamun dengan sangat lama, "Rasanya wajahku sudah malu jika berhadapan dengan Kak Rayna." Gumamnya kembali dalam hati, Ia merasa bersalah dengan keadaan yang sedang ia lalui. Mungkin di satu sisi Ia pun merasakan bagaimana perasaan Rayna saat ini, dan di sisi lain, Ia pun tak sengaja menyakiti Hati Rayna, Apalagi anak yang di dalam kandungannya sangat membutuhkan pengakuan dari seorang Faaz yang notabene adalah Ayah kandung Bayi tak berdosa itu.
"Mama....." ucap Aaleesya dengan nada yang sangat manja, "Mama peri." Panggilnya sembari melambaikan tangan nya di hadapan mata indah milik Natasha, Ia tersadar akan lamunan panjangnya.
"Iya Sayang, Maaf mata Ibu kelilipan" Ucap Natasha seraya mengusap air mata yang menetes karena bersedih mengingat nasib nya yang kini Ia rasakan.
"Ibu lagi Ibu lagi," Aleesya seakan tak ingin Ia memanggil Natasha dengan panggilan Ibu, "Mama peri bohong, Mama peri itu menangis bukan kelilipan." Tukas Anak manis itu membuat Natasha tertawa melihat tingkahnya.
"Anak pintar, Mama peri menangis itu karena bahagia melihat Aleesya yang sudah jago berbicara dengan Mama peri." Ia memeluk Aalesya dengan pelukan yang sangat lembut, "Apalagi kalau Aalesya mau dengar permintaan Mama peri." Sembari mencubit hidung Aaleesya, Natasha terlihat seperti ingin membujuknya perihal sesuatu.
"Apa itu Mama?" Tanya nya dengan ucapan yang terdengar Cadel.
"Kamu tahu kan, wanita yang duduk diatas kursi roda tadi?" Tanya Natasha, Aleesya mengangguk pelan seakan ia tahu jika siapa Rayna sebenarnya.
"Ia wanita yang sangat sempurna, yang sudah melahirkan Esya ke dunia. makadari itu Esya harus memanggilnya dengan sebutan Mama/" Ucap Natasha, "Dia yang selalu Esya pinta saat Esya berdoa kepada Tuhan," Ucap Natasha kembali.
"bukankah Mama Esya sudah bersama Nenek dan Tuhan?" Tanya Anak berusia 4 tahun itu.
"Karena Esya meminta nya dengan sangat tulus, maka Tuhan memberikan kembali Mama Cantik itu." Tutur Natasha membuat Aalesya tak ingin mencerna dengan baik, bagi Anak itu Natasha lah yang Tuhan kirimkan untuk menjadi Ibu dari nya. Aleesya terlihat tak ingin menerima Rayna. Natasha pun menyerah terlebih dahulu dengan harapan di waktu lain ia dapat memberikan kembali pengertian kepada Anak mungil nan menggemaskan itu.
mereka menikmati alunan musik bersama, bahkan terlihat Fizzy dan Aliq sedang berdansa sembari menatap wajah masing-masing, Natasha dan yang lainnya ikut menyaksikan pemandangan yang sangat membuatnya bahagia.
berbeda dengan Faaz, Ia sedang beradu Argumen bersama Rayna. rasanya banyak sekali pertanyaan yang ingin Rayna Tanyakan kepada Faaz. Rayna seperti menahan Faaz untuk pergi menikmati pesta bersama keluarga nya itu. Faaz pun terpaksa mengikuti keinginan Istri pertamanya., walaupun kenyataan nya wajah Natasha dan pesta yang mewah itu berlarian diatas kepala Faaz.
"Jelaskanlah Faaz, Ku mohon!" Rayna meminta Faaz untuk menjelaskan apa yang terjadi, saat terjadinya Rayna koma selama bertahun-tahun. Rayna merasa heran dengan keberadaan Natasha, apalagi anak yang sangat ia cintai lebih menganggap Natasha sebagai ibunya.
"Aku belum ingin menjelaskan apa-apa dan ini bukan waktunya Ray!" Ucap Faaz penuh dengan penekanan, wajah Natasha selalu terlintas di dalam pikirannya.
"Kau sudah berubah Faaz, " Ucap Rayna, Tangannya seakan menutupi matanya yang terlihat ingin menumpahkan air mata yang sudah ia bendung saat Maliq memberitahu kabar mengenai pernikahannya bersama Natasha.
"Ray, Aku janji setelah acara ini selesai. Aku akan menjelaskannya." Ujar Faaz, Faaz terlihat seperti tak ingin melanjutkan percakapan nya bersama Rayna, "Istirahatlah, esok akan aku jelaskan." Ucap Faaz.
"dan kau akan pergi meninggalkan ku, dan lebih memilih untuk bersama nya ditengah keramaian itu." Ucap Rayna, Tangannya sudah mampu menggerakan tombol yang berada diatas kursi roda dengan sangat baik, "Kau akan meninggalkan ku disini dalam kondisi Aku sedang merasa frustasi Faaz?" tanya Rayna penuh dengan penekanan dan membuat Faaz terdiam tanpa berkata apapun.
"Pergilah Faaz, kau memang bukan Faaz ku yang dulu. faaz yang sangat menghormatiku dan mencintai ku"
"Apa karena wanita itu kau berubah seperti ini Faaz?" Ia menangis tersedu-sedu, "Apa karena kondisi ku yang lemah seperti ini Faaz," Faaz masih terdiam dan tak mampu menoleh serta menatap wajah Rayna yang sedang menangis.
"Dulu Aku pernah merasa ketakutan kehilangan mu, mungkin Ketakutan adalah hal sementara. Namun Penyesalan itu selamanya Akan aku rasakan."
"AKU MENYESAL PERNAH MELAHIRKAN AALEESYA DAN MEMBUATMU JAUH DARI KU" Keluh Rayna,
"Hentikan Ray, Sudahlah Aku akan menjelaskannya kepadamu," Ucap Faaz
__ADS_1
"Kau akan menjelaskan nya?, Kenapa tidak sekarang Faaz?" Tandasnya membuat Faaz semakin susah untuk membujuknya, Faaz hanya ingin menjelaskan nya bersama-sama dengan Rido dan juga Natasha. Namu sepertinya Rayna sudah merasa sangat kecewa.
"Aku dulu begitu mempercayaimu dan itu adalah kesalahan terbesarku saat ini, Faaz!" Ia menangis dan mencoba mengatur Nafasnya, "Dengar Faaz, Dulu Aku Mempunyai seseorang yang bisa diandalkan dan dipercaya. dan itu adalah sesuatu hal yang harus disyukuri. Karena menemukan orang yang seperti itu bagai mencari jarum di tumpukan jerami, susah sekali. Namun Sayangnya, mempercayai seseorang terkadang hanya berujung kekecewaan bahkan pengkhianatan."
"Kau sudah bukan lelaki ku Faaz, Kau sekarang menjadi lelaki pecundang." Ucap Rayna kembali, "Pergilah, Aku memang sudah tidak ada artinya lagi untuk mu. Mungkin semua menginginkan kematianku."
"Lalu, mengapa kau dan Aliq membuat ku tetap hidup jika ingin memperlakukan ku seperti ini"
"Kau baji**** Faaz\, Kau bukan Faaz yang penuh rasa kasih sayang\, kau Faaz yang sudah berubah. AKu membenci mu dengan seluruh hidupku Faaz." Umpatnya penuh dengan penekanan\, Ia seakan merasakan frustasi. jiwa nya tergoncang\, Nafasnya pun terlihat susah sekali diatur dengan baik. Nafasnya tersengal hingga membuatnya semakin kesulitan bernafas.
"Ray... kau kenapa?" Faaz mencoba memberikan nafas buatan untuk Rayna, Ia juga mengangkat tubuh Rayna dan merebahkannya diatas ranjang milik nya.
"Ray, Kumohon Maafkan Aku, Maafkan Aku Ray...." Rayna Tak sadarkan diri, Faaz segera menghubungi Uncle nya yaitu Richard untuk segera memeriksa keadaan Rayna. Ia memondar-mandirkan langkahnya sembari menunggu kedatangan Richard.
"Ya TUHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN," Faaz mengucek wajahnya dengan sangat frustasi, Ia merasa sangat bersalah atas kejadian ini. bagi nya jika saja ia berbicara mengenai keadaan Rayna saat itu, mungkin Rido tidak akan memaksanya untuk menikahi Natasha. Namun kini perasaan cinta nya sangat besar terhadap Natasha, apalagi sudah tertanam benih cinta itu, benih cinta diantara mereka dan mau tidak mau Faaz harusa lebih bertanggung jawab kepada Natasha dan Juga Rayna. walaupun kini perasaan nya kepada Rayna tidak besar seperti perasaan nya kepada Natasha.
Flashback bersama Dokter Ambar
”Faaz yang aku takutkan adalah Rayna mengalami tingkat kesepian hingga membuatnya depresi” Ucap Dokter Ambar, Dokter yang bertahun-tahun menangani Rayna.
”Bagaimana itu bisa terjadi dok?” Tanya Faaz
”Bisa saja, Rayna akan mengalami Fase dimana rasa percaya terhadap mu atau terhadap orang lain menghilang. Lalu ia mengalami rasa kesepian akut.” Faaz mencoba mendengarkan apa yang dokter ucapkan.
”Begini penjelasannya,” Ucap dokter.
”Kesepian terkadang berdiri sendiri, tetapi tidak jarang menjadi salah satu tanda masalah kesehatan jiwa tertentu. Kesepian normal umumnya bukan masalah yang harus ditangani secara khusus. Sedangkan kesepian yang mengarah pada depresi membutuhkan penanganan segera agar tidak mengarah pada kondisi yang lebih parah. Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan mendasar terkait kesepian yang wajar dan kesepian yang dikaitkan dengan depresi.” Wajah Rayna terlintas saat Dokter Ambar menjelaskan kondisi terakhir Rayna.
“Kesepian yang masih wajar biasanya bersifat subjektif dan tidak memiliki indikator tertentu untuk dikategorikan sebagai kesepian. Hal ini dikarenakan penyebab dan gejalanya bisa berbeda di setiap orang. Sedangkan kesepian karena depresi biasanya lebih rumit karena tak hanya merasa sendiri, kesepian ini biasanya disertai dengan gejala depresi secara umum. Untuk dapat melihat perbedaan kesepian di antara dua kasus tersebut, berikut beberapa gejala umum dari Kesepian Tingkat depresi ; Merasa tidak berharga dan tidak dipedulikan oleh siapa pun, putus Asa, gelisah berlebihan. Dan masih banyak lagi Faaz.” Jelas Dokter Ambar.
”Aku harap Rayna tidak mengetahui pernikahan mu bersama Natasha.” Ucap Dokter Ambar kembali.
”Aku juga berpikir seperti itu dok,” Tukas Natasha, “Aku harap Kak Rayna baik-baik saja.” Timpal Natasha kembali.
Flashback Off
Saat itu Natasha meminta Faaz untuk menemui Dokter Ambar, dan Natasha ingin sekali mendengar penjelasan Dokter Ambar mengenai Rayna. Natasha bertekad ingin merawat Rayna oleh tangannya sendiri Namun, Dokter Ambar tidak mengizinkannya.
__ADS_1