
Tok..
Tok..
Tok..
Fizzy mengetuk pintu kamar milik Kakak iparnya itu, "Rayna!" Panggil Fizzy sembari mengetuk pelan kembali, tak lama kemudian Rayna pun membuka pinti kamar tersebut.
Fizzy merasa terkejut saat melihat Rayna berdiri dengan tegap, bahkan ia terlihat sama sekali merasa tidak kesulitan dalam berjalan.
"Kursi Roda mu kemana? " Tanya Fizzy.
"Inilah Aku!, " Ucap Fizzy.
"Kau? " Fizzy masih merasa terkejut, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak...." Fizzy kembali menggelengkan kepalanya itu, "Jadi, selama ini kau sudah dapat berjalan?" Tanya Fizzy dengan nada yang keheranan.
"Iya, lebih tepatnya aku berbohong dengan keadaan ku!" Ungkap Rayna, Fizzy menghela nafasnya dengan berat seolah tak percaya dengan sebuah kenyataan kembali.
Rayna berjalan melewati Fizzy, "Bahkan kau tak tahu mengenai beberapa kebohongan yang pernah aku lakukan kepada saudara kembar mu! " Ungkap nya kembali.
"Kau! " Tunjuk Fizzy dengan geram, "Mengapa kau melakukan itu? "
"Ada banyak alasan Fizzy! banyak sekali! dan mungkin kau akan membenci ku setelah kau tahu mengenai semua!" Jawab Rayna, "Bahkan kau ingin meludahi ku jika mungkin kau tahu semuanya!" Jawab nya kembali.
"Lalu? mengapa kau tak menjelaskan nya padaku Rayna? " Sergah Fizzy, matanya mendongkrak tajam.
"Ayo jelaskan! " Pinta Fizzy, sembari mencoba menahan emosi nya.
"Aku ingin menjelaskan nya jika Faaz mau menemui ku, memeluk ku untuk terakhir kalinya hingga memaafkan ku dan tetap menyayangi Aaleesya sebagai mana mestinya"
"Apa kau gila? setelah apa yang telah kau lakukan kemarin kau masih ingin meminta pelukan terhadap Faaz? " Tanya Fizzy, "dan mengenai Aaleesya, mengapa kau berucap seperti itu. jelas bagi Faaz untuk tetap mencintai dan menyayangi Aaleesya karena esya adalah anaknya walaupun kau dan dia telah berpisah! " Ujar Fizzy.
Pandangan Rayna kosong, ia tak mampu mengatakan bahwa Aaleesya bukanlah anak biologis Faaz melainkan anak dari Aidil. karena setahu Rayna Faaz belum memberitahu siapapun walaupun pada sebenarnya Maliq, Ayana dan Rido juga Zain sudah mengetahui keadaan nya.
"Mengapa kau terdiam Rayna?, apa saja yang selama ini kau tutupi? " Tanya Fizzy, "Mengapa kau membenci Natasha atas kesalahan Faaz? dan apakah kesalahan seorang suami saat istrinya tak mampu untuk hidup dengan segala usaha yang telah ia lakukan untuk membuat mu hidup dan ternyata keadaan kau malah memburuk, maka dia memutuskan menikah kembali?"
"Dan mengapa kau malah membenci Natasha, andai kau tahu jika kami dan juga Natasha tak tahu menahu keadaan mu! " Ujar nya.
"Bahkan saat Natasha harus mengetahui keadaan mu, dia ingin merawat mu dan hidup berdamai dengan mu! " luapan emosi dari diri Fizzy membuat Rayna terdiam.
"Dan Rayna, jika saja kau hidup dan berprilaku baik, Faaz tidak akan semudah itu berpaling, bahkan saat Faaz menikahi Natasha. Faaz hanya menikah lagi karena anak mu yang selalu meminta seorang ibu! dan jika kau menganggap pada awalnya Faaz menikahi Natasha karena cinta, kau sama sekali salah! " Cetus Fizzy saat itu membuat Rayna sangat merasa sakit.
"Mereka hidup beberapa bulan tanpa cinta, namun Natasha bersikap sangat tulus hingga Aaleesya anak mu itu sembuh dari sakitnya. dan saat itu Faaz mencoba membuka hatinya karena mungkin tidak ada harapan kau untuk sembuh! walaupun keadaan saat dia menutupi keadaan mu itu sebuah kesalahan, namun kami merasa bersyukur karena hadirnya Natasha yang mengubah kehidupan Aaleesya."
"Jadi, saat kau mencoba menyalahkan Natasha, jelas saja hal itu membuat kami marah! bahkan sangat marah!" Gumam nya.
"Kau sudah salah besar jika membuat Natasha menderita, kau membuat anak mu sendiri menderita! karena batin diantara nya telah menyatu." Ucapnya, Fizzy sengaja meluapkan emosi yang sudah sangat lama ia pendam.
"Terkadang aku bertanya, Ibu macam apa kau ini? kau menyesali karena telah melahirkan Aaleesya dan tahukah saat itu Natasha memeluk dan mencoba tak menggubris pernyataan mu! "
"Bahkan dia merasa sakit atas kenyataan yang kau ucapkan! dia menangisi anak mu! " Nafas Fizzy tersengal, "Dan kau malah menyalahkan Natasha hingga membuatnya terluka! "
"Jika dia hanya ibu sambung bagi Aaleesya haruskah dia berbuat buruk pada anak sambungnya? namun dia tak seperti itu, dia menyayangi anak mu dengan tulus!" Ungkap Fizzy kembali, Rayna terdiam seakan sedang meratapi segala kesalahan nya.
"Dan kini Aku mendengar jika kau terlibat dengan permasalahan kemarin, tepatnya Kau dan Aidil" Ujar Fizzy.
"Aku.. " bibir Rayna terlihat tak mampu menjawab, bahkan Aliq yang saat itu mendengar kalimat-kalimat yang Fizzy ucapkan hanya terdiam dan hanya mampu mendengarkan apa yang istri nya umpat kan.
Bagi Aliq, untuk mendewasakan Rayna dengan membuatnya jera. karena selama ini segala rupa, segala hal pernah Aliq lakukan bersama Ayah nya untuk mengubah sikap Rayna dan itu sama sekali tak berhasil.
"Cobalah berhenti menyalahkan orang lain, akuilah apapun kesalahan mu! " Sela Fizzy kembali, "Mengapa kau melakukan hal itu Rayna?, ada hubungan apa kau dengan Aidil? " Tanya Fizzy kembali.
"Aku!!! " Rayna menggelengkan kepalanya dan berlari masuk kedalam kamar miliknya.
Terdengar teriakan Rayna, "Arrrrrrrrggggghhhh" Fizzy hanya menggelengkan kepalanya, Fizzy merasa penasaran hingga merasa tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Rayna.
__ADS_1
"Sayang, Maafkan ulah kakak ku! " Ucap Aliq yang datang menghampiri Fizzy, Fizzy memeluk Aliq.
"Apa Aku terlalu keras terhadap kakak mu? maafkan aku! " Ucap Fizzy.
"Tidak!, Dia sangat pantas mendapatkan itu. untuk membuat nya menjadi dewasa sekali-kali kita harus sedikit berbuat sarkas! " Tutur Aliq, Fizzy mengangguk pelan.
"Sayang, tahukah kamu? Aku merasa sangat memikirkan Alea" Ucap Fizzy, "Entahlah mengapa aku sangat ingat dengan nya."
"Apa kau sudah menghubungi Noni?" Tanya Aliq
"Sudah, Noni bilang hari ini ia akan melakukan Psikoterapi." Ujar Fizzy.
"Kau mau kesana?, " Tanya Aliq, "karena hari ini aku memutuskan untuk tidak pergi ke kantor" Sambung Aliq.
"Iya Aku juga memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, " Jawab Fizzy,
"Lalu? sekarang kita mau kemana dulu? " Tanya Aliq.
"Kita menjenguk Natasha dulu, aku juga ingin melihat keadaan Qabil dan keponakan ku!" Jawab Fizzy kembali,
Aliq menganggukkan kepala nya dengan pelan, "Baiklah, tapi sebelum itu.. aku ingin... " Tangan Aliq sudah sangat nakal saat itu, Fizzy mengerti apa yang Aliq inginkan.
"Baiklah Tuan suami, bawa aku ke dalam bahtera cinta mu" Celetuk Fizzy, Aliq pun segera menggendong Fizzy dan membawa nya untuk bercumbu di kamar.
"Aku tahu aku salah Aliq, bahkan kau tak membela kakak mu ini!" Gumam Rayna di dalam hati saat mendengar kalimat yang Aliq ucapkan untuk dirinya.
.
.
.
**
Alea masih berada di dalam pelukan Maliq yang sangat erat, Noni beberapa kali menyeka air mata yang sedari tadi sudah membasahi pelupuk matanya.
"*Tuhan, Aku ingin keluarga seperti ini. keluarga yang selalu saling mendukung, keluarga yang saling mencintai serta menyayangi." Tutur Noni di dalam hatinya, "Aku ingin bersama Mama dan kakek, Mama dan kakek yang sedari dulu menyayangiku. apa masih bisa aku memiliki keluarga seperti ini! " Gumam Noni kembali di dalam hatinya, Maliq menatap wajah Noni seakan kalimat terimakasih itu ingin sekali ia sampaikan.
"Aku bahagia Maliq.. entahlah rasanya aneh sekali" Gumam Noni kembali*.
Terlihat sepasang mata yang lain sedang berkaca-kaca, mata indah itu sedang menatap pemandangan penuh dengan perasaan haru, ia merasa jika perasaan bersalah serta rasa iba menyatu di dalam dirinya.
Batinnya bergejolak, kepalanya menunduk segan.
dalam batin nya, "Maafkan Aku!, Akulah penyebab kau menderita! " Rido sadar akan kehadirannya, ia melihatnya sedang berdiri memperhatikan keadaan penuh haru.
Rido tersenyum, ia mengayunkan tangan nya tanda ia meminta untuk Ayana menghampirinya.
Ayana melangkahkan kaki setengah berlari, saat ia sampai di dekat tubuh Alea dan Maliq yang sedang berpelukan. ia pun memeluk mereka dari belakang, "Maafkan Ayana Kaka!" Ucapnya.
"Ayana lah penyebab semuanya!, maafkan Ayana!." Ucapnya kembali membuat Alea tak menyangka jika Ayana menangis kala memeluknya.
Alea melepaskan pelukan Ayana, mereka saling berhadapan. Ayana menundukkan kepalanya, air mata nya terus mengalir tak beraturan. nada tangisan terdengar sangat terisak, sepertinya ada sesuatu yang selama ini Ayana tutupi.
"Ayana, mengapa kau menangis?." Tanya Alea.
"Kau tak perlu berpura-pura tidak tahu kak Alea! kau tahu apa yang selalu aku lakukan padamu saat kecil, hingga mereka menganggap mu seperti itu!" Ayana menangis terus menerus, "Maka maafkan Aku kak, aku janji akan menjadi adik yang baik untuk mu! " Alea terdiam mendengar pengakuan Ayana, walaupun selama ini Alea mengetahuinya.
"Kau menutupi kesalahan ku, aku tahu itu kak! " Gumam Ayana, "Sekarang, kau harus katakan dan marahi aku, kak Lea!" Pungkasnya lagi.
"Maliq kau boleh memarahi ku juga, Aku selalu membuat Kak Alea merasa tidak berguna!" Ujarnya, "Bahkan Aku juga yang menyangka bahwa Kak Alea gila, Maliq kau boleh menghukum aku! " Ujar nya kembali.
"Aku membuat Kak Alea di marahi oleh mu dan juga kak Fizzy, Aku banyak mengadu."
"Aku selalu mengadu kepada kalian dan membuat kalian membenci Kak Lea! aku bersalah, maafkan Aku." sembari menunduk ia menangis, Maliq pun hanya terdiam menyesali apa yang telah ia lakukan dahulu. Maliq menyadari bahwa ia selalu mendengar keluhan Ayana dibandingkan Alea, Rido pun tak mampu berkata apa-apa.
"Aku bersalah, maafkan Aku!! itu aku lakukan karena takut kehilangan kasih sayang dari kalian!, maafkan Aku... sungguh aku meminta maaf kepada mu Kak! " Lirih Ayana kembali, ia menangis terisak.
__ADS_1
Alea terdiam, ia seakan tak ingin menanggapi apa yang Ayana ucapkan. Alea memilih untuk meninggal Ayana dan yang lainnya namun saat Alea ingin melangkahkan kaki nya, Ayana menariknya.
Mereka pun saling bertatapan, "Katakan saja kak, Ayana ingin menebus semua yang pernah Kakak terima atas kesalahan Ayana." Ungkap nya lagi, Alea berbalik dan memeluk adik sepupunya.
"Kakak sudah memaafkan kamu, Kakak pun memiliki kesalahan kepadamu! kakak tidak pernah mau menerima mu, menerima mu menjadi adik kakak. tanpa Kakak tidak sadari Kakak sudah menjadi orang yang jahat untuk mu, Maafkan kakak Ayana!," Sahut Alea seraya memeluknya. Noni, Maliq serta Rido menangis melihat pemandangan itu.
Mael dan Zain datang dan sempat melihat pengakuan Ayana, Mael semakin merasa bangga karena Ayana telah berjiwa besar untuk mengakui kesalahan nya.
"Daddy, Mael sangat mencintai Ayana. Mael sangat menyayanginya, dahulu Mael selalu ingin hal ini terjadi." Tutur Mael, Mael memang memiliki jiwa netral untuk mereka. bahkan Mael tak segan selalu mengingatkan ketiga nya dan Mael juga selalu meminta Fizzy bersikap adil kepada mereka.
Zain bertepuk tangan, matanya mengeluarkan air mata.
"Tahukan Aku bangga terhadap kalian semua, terutama kepada mu Noni!!,"
"Terimakasih Tuan, maaf saya baru bisa melakukan hal seperti ini. semoga kedepannya kita semakin membaik lagi dan lagi" Ucap Noni.
"Bahkan kau melakukan hal yang sangat luar biasa, Noni terimakasih dan panggil saya Uncle saja. anggap saya juga om kamu! " Ujar Zain, "Kakak, apa kau tak ingin memeluk ku? " Tanya Zain kepada Rido, Rido pun melebarkan tangan nya. Ia seolah menyambut hangat permintaan adik kesayangan nya.
"Aku bahagia Zain, jantung milik ku kembali sehat" Ungkap Rido seraya memeluk lekat tubuh adiknya.
"Syukurlah, Aku ikut senang kak! " Ungkap Zain.
"Alea, " Panggil Noni, Alea menoleh.
"Terimakasih Noni, " Ucap Alea, Alea memeluk Noni. mereka saling berpelukan kembali, "Apa masih ada yang kau rasakan? apa masih ada perasaan mengganjal di hati mu? " Tanya Noni kepada Alea, Alea mengangguk pelan.
"Apa?, katakanlah! " Alea masih terdiam, "mulai sekarang biasakan dirimu cerita mengenai keluh kesah mu!, ingat Alea kau tidak sendiri." Alea mengangguk pelan, Noni tersenyum.
"Apa?, Ayo katakanlah." Pinta Noni..
"Aku ingin sembahyang, aku ingin meminta tolong kepada Tuhan! aku ingin Tuhan menyelamatkan cintaku, namun jika tidak... " Alea menghentikan pembicaraan nya, Ia menangis terisak kembali dan berjalan memeluk Papanya.
"Katakanlah sayang!, " Ucap Rido.
"Papa, apa aku harus setegar dan sekuat Papa saat mama meninggalkan Papa? " Tanya Alea dengan polos.
"Tentu sayang, kau harus belajar menerima. mengapa kau mengatakan itu?, " Tanya Rido, semua merasa tercengang mendengar pertanyaan Alea.
"Alea, ingat apa yang pernah kita bicarakan. kau tidak boleh merasa terbebani dengan masalah ini, kau harus memikirkan hal yang Positif dan saat kau merasa hati mu gusar! tarik nafas, bayangkan jika kau sedang merasa bahagia" Tutur Noni kembali, Alea mengangguk pelan.
"Noni apakah sebuah mimpi itu akan menjadi kenyataan?" Tanya Alea,
"Tergantung bagaimana kau menyikapinya serta bagaimana kamu memandang sebuah mimpi itu, namun bagiku mimpi itu hanyalah bunga tidur. namun beberapa orang pernah merasakan jika mimpi itu menjadi kenyataan" Jawab Noni.
Alea terlihat berpikir, "Tapi selama ini mimpi ku selalu menjadi kenyataan dan kemarin sebelum terjadinya peristiwa naas itu aku bermimpi bahwa Mama dan Mama Fahriye ingin sekali bertemu dengan Qabil dan ternyata benar Qabil lah yang mengalami hal itu"
"Lalu, semalam aku bermimpi. Qabil mengatakan sesuatu, ia berucap agar aku mencoba mengikhlaskan nya. Qabil bilang kalau aku harus berusaha menjadi Alea yang kuat" Tutur Alea kembali, Noni dan yang lainnya hanya terdiam membisu.
"Papa, pada saat sebelum Mama meninggalkan kita. apakah Papa memiliki firasat yang sama? " Tanya Alea.
"Tidak, Mama mu benar-benar tidak memberikan firasat apapun. bahkan pada malam hari nya mama dan papa tidak berbincang apapun mengenai kematian" Ucap Rido.
"Dengarkan sayang, percayalah dengan sebuah ketentuan Tuhan. jika memang Qabil jodoh mu dan kau menikah, maka Tuhan memberikan waktu yang baik dalam keadaan baik dan jika tidak, Tuhan pasti memiliki alasan lain" Alea mencoba mencerna nasihat yang Rido berikan.
"Kau hanya perlu berdoa dan meminta yang terbaik, di waktu yang baik serta di jalan yang Tuhan ridhoi" Gumam Rido kembali.
"Hanya Tuhan yang tahu mengenai nasib umatnya, tanamkan asma Tuhan di dalam dirimu, Insha Allah hati mu akan tenang" Tutur Rido kembali, Alea memeluk Rido. Rido pun memeluk Alea, mereka semua merasa sangat tersentuh dengan apa yang Rido ucapkan.
"Entahlah Papa rasanya, otak dan perasaan ku sedang merasa tidak berjalan beriringan. di satu sisi aku mampu menerima dan di sisi lain, seakan aku tak ingin merasakan sakit saat mengetahui kepergiaan Qabil! " Ungkap Alea.
Rido tak tahu harus menjawab apa lagi, ia menghampiri Alea dan memeluk anak nya itu. air mata Alea menetes, ia menatap wajah sang ayah penuh harap. Rido pun menatap wajah putri kesayangannya itu, dan segera menyeka air matanya.
"Selama Papa hidup, Papa tidak akan membiarkan mu kesepian Nak dan Papa janji, sebisa mungkin Papa akan membuat mu bahagia. Papa akan menjalankan setiap amanah yang diberikan oleh Mama mu kepada Papa" Ungkap Rido, semua merasa tersentuh kala Rido mengucapkan kalimat yang menyentuh hati semua orang yang berada di sana.
Rido memang lah sosok Ayah yang sangat bijaksana, tak hanya itu Rido pun selalu ingin membuat anak-anak nya tumbuh dengan perasaan iba. mencintai serta menyayangi satu sama lain, memberikan kehidupan yang besar melalui rasa cinta yang ditanam nya.
Alea memeluk erat tubuh sang Ayah, di dalam dekapan Rido. Alea memikirkan bagaimana kisah cinta nya kelak bersama Qabil, dalam pikirnya itu terlintas perasaan takut akan kehilangan sosok lelaki yang ia nilai memiliki sifat seperti sang Ayah.
__ADS_1
Iya Qabil memanglah memiliki sikap penyayang serta bijaksana seperti Rido, Qabil sosok lelaki setia dan penuh rasa tanggung jawab. selama hidup nya bersama Alea berlangsung, Qabil selalu menghormati Alea dan menjadikan Alea seorang Ratu. cinta Qabil pada Alea sangatlah besar dan sebuah pernikahan mereka adalah impian besar dari keduanya, namun akan kah pernikahan mereka berlangsung dengan kondisi Qabil yang semakin menunjukan situasi yang sangat parah.
dalam benak Alea, "Papa haruskah Alea menahan pahit kehidupan ini, kapan Alea merasa bahagia. mengapa semua kenyataan ini harus selalu Alea hadapi, sedari dulu Papa dan Mama selalu menguatkan Alea. tapi nyatanya Alea sangat rapuh" Terdengar suara sesenggukan dari bibir Alea, ia menangis meratapi sebuah nasib sial yang selalu menimpa dirinya itu.