
RIDO POV.
“Sayang, bolehkah aku keluar sebentar?, Aku ingin mencari udara segar.” Tanyaku pada istriku yang sangat aku cintai.
“Iya sayang, tapi pakai jaket. Karena udara malam sangat dingin disini. Anginnya juga sangat kencang, aku tidak mau kamu sakit” jawab May, dia wanita tangguh yang selalu mengkhawatirkan ku. Aku mengecup keningnya dan segera pergi untuk mencari udara segar.
Aku menyeret pelan Langkah kakiku, Aku mendengar suara isak tangis didalam kamar Shaloom dan Yofie. Walaupun tidak terdengar keras namun Aku tahu jika itu adalah suara Shaloom, Aku lebih memutuskan untuk tetap pergi mencari udara di luar.
“Malam yang sangat indah, Tuhan menciptakan Gelap dan terang, lelaki dan perempuan, semua selalu menjadi dua pilihan.”
“Aaaah, Aku selalu ingin menikmati keadaan apapun bersamamu, pilihanku selalu ada padamu May” gumamku, sembari melebarkan lenganku dan menikmati desiran angin Malam. Wajah istriku selalu terlintas didalam benak ku.
“Tuan Muda, “ panggil Dhan.
“Hay, Dhan. Kemarilah” pintaku padanya, Dhan mendekat dan berdiri di sampingku.
“Dhan lihatlah” tunjuk ku pada satu Rasi bintang.
“Indah sekali tuan muda, Aku ingat betapa senangnya Tuan dan Nona Risa jika menatap Rasi bintang diata Rooftop Rumah.” Ucap Dhan.
“Iya, dan kau selalu menjadi orang pertama yang kami ajak untuk melihat Rasi itu” seru ku.
“Tuan muda, Terima kasih selalu menganggap ku saudaramu. Hingga aku tak bernyawa pun aku akan selalu mengingatnya”
“Dhan, kau saudara lelaki ku sama dengan Richard. Kalian sama-sama sangat berharga untuk ku. Aku senang memiliki kalian dan sekarang Aku sangat bahagia karena Yofie dan Zain bersama ku.” Ungkap ku saat itu.
“Terimakasih Dhan kau sudah mau menemaniku, menjulurkan sikapmu, menjadi bagian hidupku di saat apapun, doamu untuk ku selalu saja ku dengar dan kau adalah partner yang baik untuk ku” ungkap ku kembali.
“Tuan muda, kau sangat berlebihan memuji ku”
“Pujian itu sangatlah pantas untuk mu” kami menoleh ke arah suara itu, Aku tersenyum dengan senyuman bahagia. Papa yang menjadi orang tua Asuh ada dihadapan Dhan. Tersenyum sangat manis menatap ke arahnya.
“Dhan, Ayo Peluklah Aku” ucap Papaku.
“Tuan, Apa pantas aku memeluk mu” seru Dhan, Saat kehilangan Ayahnya Dhan pertama kalinya memeluk Papa, Dan saat pernikahan lira yang pertama Dhan memeluk kembali Papa. Namun karena Dhan merasa malu kepada Kami sejak saat itu Dhan sudah tidak mau meminta pelukan dari Papa. Dhan merasa malu jika memeluk Papa, karena merasa sudah sangat mengecewakan hati Papa namun, sebenarnya Papa sangatlah menyayanginya.
“Pantas, karena kau sudah ku anggap anak ku sendiri. Kau memiliki tempat di hatiku dan hati istriku. Begitupun dengan Lira.”
“Tuan, Maafkan semua kesalahan kami”
“Tidak kau tidak bersalah, lira pun tidak memiliki salah kepada ku namun dia memiliki kesalahan kepada Tuhan. sama dengan kita. Manusia tidak luput dari kesalahan dan kau harus mengampuninya.”
“Dhan, Peluklah Papa, mintalah restunya. Esok kau akan menikah!” Seru ku, Dhan mendekat dan segera memeluk Papa dengan erat. Air mataku mengalir walaupun tidak sederas saat aku mendapat kabar dia akan menikah Namun, hatiku tak bisa berbohong jika pemandangan ini sangatlah berharga untuk ku.
“Tuan, maafkan Aku. Terimakasih sudah menjadi orang tua untuk kami. saya tidak bisa membalas apapun yang tuan sudah berikan.”
“Dhan, hanya satu yang aku pinta. Pertahankan lah nilai kejujuran didalam hidupmu, jadilah manusia yang taat dan saling menyayangi. Bantulah orang lain yang sangat membutuhkan bantuanmu. Dan ingat maafkanlah kesalahan adik mu”
“Baik tuan, Aku akan selalu ingat apa yang tuan ucapkan kepadaku. Aku berdoa agar tuan selalu didalam lindungan Tuhan.”
“Mulai sekarang, panggil Aku Papa. Dan panggil Rido Kaka.”
“Apa itu pantas untuk ku Tuan?” Tanya Dhan.
“Itu sangat pantas, kau sudah aku anggap sebagai adik ku.” Jawabku.
“Jadi panggil Aku Kaka, panggil Mama ku Mama, dan Papaku Papa”
__ADS_1
“Panggil Aku Ayah, “ sahut Ayah yang datang menghampiri kami.
“Walaupun kau tidak jadi menjadi menantuku, aku sudah menganggap mu Anak ku” ucap Ayah, Dhan terlihat sangat bahagia. Dhan menghampiri Ayah dan segera memeluk Ayah, Aku dan Papa takjub melihat kedekatan diantara mereka.
“Kaka, lihatlah apa kata Papa. Jika kita menuai kebaikan, kita akan selalu mendapatkan kebaikan.” Ujar Papa sembari mengajak ku berbicara.
“Iya Pap, kata Alm, Nenek Sally perbuatan baik akan mendapat balasan Baik. Itu yang disebut karma baik yang kita tuai” ucap ku.
“Papa bangga kepadamu, Papa sangat bangga memiliki anak lelaki sepertimu” ungkap Papa, Aku memeluk Papa dengan erat. Malam ini suasana tercipta dengan hangat walaupun udaranya sangat lah dingin. Kami melanjutkan dengan duduk santai dan berbincang bersama. aku mendengar jika Rani dan Richard sudah berada di Istanbul namun, Rani belum bisa datang dan menginap di rumah kami. Karena Rani sangatlah lelah dan sangat membutuhkan mata yang terpejam untuk beberapa jam ke depan.
“Aku, akan selalu mengingat ini. Kalian keluarga yang sangat baik untuk ku” gumam Dhan dalam hatinya.
******
MAY POV.
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Dhan. Kami sudah bersiap dengan Rapih untuk menghadiri dan menyaksikan upacara pernikahan Dhan, Dhan terlihat sangat gugup namun Rido dan papah mencoba menenangkannya.
“Dhan, pakai ini!” Seru Papa, beberapa kali Dhan terlihat menggerakkan kakinya. “Dhan, Apakah kau gugup?” Tanya Papa kembali, Aku melihat raut wajah yang terlihat gusar ada pada wajah Dhan.
”Papa, jelaslah Dhan sangat gugup” ucap Rido.
”Kau tampan, istrimu cantik. Kalian akan memiliki banyak Anak Dhan. Seperti kami” doaku padanya di balas oleh senyuman yang terlihat sangat lekat.
“Tuan, Nona. Maaf jika saya selalu merepotkan.” Ucap Dhan.
”Tidak, kau sama sekali tidak merepotkan kami” Jawab Mama, Rido menarik tangan Dhan.
”Sayang, Aku pergi untuk mengecek Anak-anak dulu” aku meminta ijin kepada Rido, dan Rido mengiyakan keinginanku.
Saat Aku pergi untuk melihat semua Anak-anak ku termasuk Ayana. Aku melihat mereka sudah berdandan dengan Rapih, Faaz dan Fizzy Terlihat sangat menawan begitupun dengan Alea yang memakai gaun Mini seukuran lututnya, Maliq yang memakai kemeja mini dan dasi bebentuk pita menambah kesan anak yang imut.
"Ya, Tuhan." Aku menghela nafasku, "Aku tidak menyangka jika Aku memiliki empat orang malaikat kecil yang membuatku bahagia, Umm lima maksudku dengan Ayana" Aku tersenyum menatap mereka semua, saat Aku melihat Ayana sedang menangis, Aku segera menggendongnya.
"Ayana Sayang, Anak Mama... " Aku mendekapnya, memeluknya dan mengusap lembut punggungnya.
"Astagfirullah, Astagfirullah" Aku bacakan juga salawat didekat telinganya.
"Ayana, Mama mohon jangan menangis iya sayang. lihatlah saudar-saudaramu sudah berdandan dengan Rapih" Ayana tersenyum melihat ku.
"Ya Tuhan, Bayi kecil nan mungil ini sudah mengerti apa yang aku ucapkan" Ucapku dalam batin sembari membalas senyumannya.
"Nyonya May, biarkan saja Saya yang menggendong Nona Ayana" Ucap Mbak Ci.
"baik Mbvak, Terimakasih" Ucapku, aku kembali menggendong Maliq, Namun Carry sudah berada dihadapanku untuk bersiap menggendong Maliq.
"Gak Apa-apa Carry yang gendong saja Nona!" Ucap Carry, Aku mengangguk sembari tersenyum. Aku bersyukur sekali dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangiku.
"Terima kasih Tuhan" Gumamku sembari tersenyum.
.
.
__ADS_1
.
RIDO POV.
Aku mengajak Dhan ke suatu tempat, Aku berniat menghilangkan keadaan nya yang terlihat sangat Gugup. Aku yakin dia sangat gugup karena, Aku tahu baru saja Dhan sedekat dan seserius ini bersama Wanita. dia juga bercerita tidak ingin mengecewakan siapapun. Aku bangga sekali dengannya.
”berwudhu lah Dhan, minta lah kepada Tuhan agar acara pernikahan mu dilancarkan” Ucapku, Dhan mengangguk dan aku menemaninya bersembahyang.
beberapa menit kemudian, kami sudah selesai melakukan sembahyang bersama. aku mendengar setiap doa yang ia ucapkan, kalimat-kalimat penyejuk pun ia utarakan dengan sangat ikhlas. aku bangga dengannya, dia memang orang baik untuk kami.
“Tuan, Saya sudah tidak merasa Gugup” serunya.
”Aku senang Dhan.” Ucapku.
"Lihatlah Dhan, langit begitu cerah. lagit begitu mendukung kisah ini" Ucapku kembali, Dhan tersenyum sembari menatap langit.
"Tuan, terima kasih selalu memberiku motivasi" Seru Dhan.
"Aku juga sangat berterima kasih karena kamu selalu ada untuk ku Dhan" Balasku seraya memeluknya dengan erat.
”Ayo, kita temui mereka semua, mereka pasti sudah menunggu.” Ucapku kembali. seraya melepaskan pelukanku dan menepuk bahunya, Dhan tersenyum dengan sangat sempurna. Aku suka dengan senyuman yang ia tunjukan untuk ku.
”Dan kita harus segera pergi ke tempat kalian menikah” Seruku kembali sembari mengedipkan sebelah mata ku, kami berjalan melangkah beriringan, Dhan tak ingin melepaskan rangkulanku. Aku melihat Mereka semua sudah menunggu kami di tengah rumah.
”dari mana sih sayang?” Tanya May, Aku tersenyum.
”Urusan lelaki” jawabku singkat. aku kembali tersenyum mereka semua terlihat tersenyum kepadaku. Kami segera pergi dengan mobil masing-masing, dan Dhan pergi memakai mobil pengantin ditemani Papa dan Mamaku.
Didalam Mobil, Aku dan May berbincang bersama. Syukurlah ke empat anak ku, eh kelima anak ku dengan Ayana tentunya, sangatlah baik. mereka semua sama sekali tidak merepotkan kami.
”sayang, kau sepertinya terlihat sangat bahagia sekali!” May menatapku sembari bertanya, Aku memfokuskan diriku mengemudi. Aku memang sengaja tidak memakai jasa supir karena, Aku merasa ingin mengemudi di tempat yang sangat aman bagiku.
”jelas sayang, Aku bahagia melihat Dhan bahagia” ucapku singkat.
”biasanya, di depan sini Dhan yang duduk” ucap Istriku sembari menepuk kursi yang ia duduki, Aku tersenyum dan menatap lurus ke arah mobil yang Dhan tumpangi, Sesekali aku menatap istriku yang sudah berdandan sangat cantik.
”kau sangat cantik, Aku semakin mencintaimu May” ungkap ku, Carry dan mbak Sri tersenyum melihat dan mendengaR kalimat pujianku untuk May.
”Rido, bersikaplah dengan baik, aku malu ada mereka” seru May.
"kenapa mesti Malu, Aku ini suamimu dan kau istri ku sayang" Gumamku sembari mencubit hidungnya dengan gemas.
"Rido" Pekik May, wajahnya memerah bak buah tomat.
”Tidak apa nyonya, Carry sudah terbiasa mendengar pujian Tuan Rido kepada nyonya” ucap Carry membuat May semakin malu.
"Mbak juga suydah biasa kok nyonya" Ungkap mbak Ci, Dia semakin tersipu malu saat mendengar para sahabat kami yang baik hati ini mengungkapkan kejujurannya.
('Kamu cantik sangat canti istriku - batinku saat itu)
”dengarlah sayang, kau tak perlu malu. Mereka saja sudah terbiasa mengapa kau masih saja malu” ujarku.
”iya deh iya, Bapak ini selalu saja menang!” Sahut May membuat ku tertawa, Aku senang jika May sudah menyahut candaan ku.
"Hahahaha " ketawaku dengan keras, ia mencubit lembut pinggangku.
"Awwwrgh sakit sayang, jangan sekarang dong" Ringisku membuatnya semakin terlihat menahan rasa malu.
"Kamu cantik banget senyum kaya gitu" Godaku lagi.
__ADS_1
"Udah dong Rido, kalau masih bikin Aku malu!!! Aku pindah ya duduknya dibelakang" gerutunya kesal membuatn ku tersenyum dengan lebar.
"Yaudah Maaf iya NONA May" Ucapku kembali.