TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Tuhanlah yang membolak balikan hati Manusia.


__ADS_3

Ayana keluar dari dalam kamar mandi, Ia menggulung rambut panjangnya terlihat jengjang leher miliknya. Aidil menatap nya lekat, "Kamu habis mandi?" Tanya Aidil, "Iya." Jawab Ayana singkat tanpa menatap mata Aidil.


"Tuh kosong, malah bengong. Kak Aidil emang hobi nya bengong iya." Ujar Ayana sembari tertawa menggelitik.


"Anak kecil!!!" Ledek Aidil sembari masuk kedalam kamar mandi. Ayana segera mengambil ponsel miliknya, Sebelum Ayana meraih ponsel miliknya itu, Ayana melihat kearah kamar luas milik Aidil. Tubuh Rayna dan Aaleesya tertidur pulas disana, Ayana meneteskan air matanya. Mengingat setiap detik kejahatan yang telah ia lakukan, "Papa, Daddy, Kaka, Maafkan Ayana." Gumamnya. Ia tersadar bahwa ia Akan mencoba menghubungi Daddynya. Namun saat ia akan mengambil ponsel yang sedang ia Charge, rasa sakit hati itu muncul kembali.


"Aaarrrghhhhh, mereka saja tidak menganggap keberadaan ku. Kak Fizzy, Kak Faaz semua mendukung Hubungan Alea dan Qabil." Gerutunya kesal, "Apalagi Kak Fizzy sudah mengingkari janjinya kepadaku." Gumam nya kembali.


"Aku kesel, kesel, kesel!!!!" Ucap Ayana penuh dengan penekanan.


"Kesel kan?." Tanya Aidil, "kalau kesel Ayo kita balas mereka bersama-sama." Ucap Aidil yang datang menghampiri Ayana, Aidil memegang kembali kedua bahu Ayana. Ia menatap lurus mata Ayana, Kini pandangan mereka saling tertuju satu sama lain.


"Kita akan menggagalkan pernikahan mereka, dan Nanti kita Akan menggagalkan pernikahan Qabil juga Alea."


"Kau Akan hidup bahagia bersama Qabil, dan Aku bersama Fizzy." Hasutnya itu, Ayana mengangguk pelan, matanya seakan terhipnotis saat mendengar ucapan Aidil.


"Jangan Khawatir, mereka terlalu baik hingga sangat gampang sekali dibodohi orang." Ucapnya kembali, "Kau Akan Aman." Ayana memberanikan diri memeluk Aidil, "Terimakasih Kak Aidil, Kau sudah menyemangatiku." Ucap Ayana dengan Manja. Ia memeluk Aidil dengan pelukan yang erat, Bahkah wajah cantiknya tenggelam di dalam pelukan Dada bidangnya.


"Mengapa dengan Batin ku ini, mengapa bergejolak kala Ayana memeluk ku. Rasanya dia membangunkan Nafsu birahiku, Ayana.. Kau gadis Manis, Namun kau bukan seleraku." Batin Aidil, "Arghhhhh, Tidak Aku tidak boleh melakukan itu dengan Gadis sepolos Ayana. Aku tak ingin mengorbankan Ayana terlalu jauh." Gumam Aidil kembali di dalam batinnya.


"Lepaskan Ayana!." Ucap Aidil, "Lepaskan" Namun Ayana dengan Nyamannya memeluk dan mendekap Aidil.


"Lepaskan Ayana, " Sembari mendorong tubuh Ayana, Aidil sedikit membentak Ayana.


"Kak Aidil, Mengapa kau sekasar ini." Ucapnya.


"Maaf, Kau membuatku sesak. Lain kali bersikaplah dewasa, memeluk itu bukan seperti itu." Ujar Aidil membuat Ayana terdiam, "BEGINI." Aidil mencoba memperagakan cara memeluk yang benar, Ayana menatap wajah Aidil.


"Ternyata Kak Aidil ganteng juga." Gumam Ayana di dalam hati. Ayana merasa nyaman saat Aidil memeluknya, "Hmmm wanginya seperti Qabil." Gumam nya kembali.


"Sudah, Sekarang kau pulanglah. Biar aku pesan kan Taxi. Ingat Ayana kau tak boleh berbicara mengenai ini kepada siapapun." Ucap Aidil, Ayana tersenyum dan memasang wajah manjanya, "Baiklah,"


Aidil segera memesan taxi untuk Ayana, sebelum nya Aidil memberitahu Rencana kedepannya untul menggagalkan pernikahan Aliq dan Fizzy. Ayana merasa kaku dan merasakan perasaan tidak berselera saat mendengar Rencana Aidil, apalagi Ayana memikirkan mengenai mimpinya semalam.


******


Di dalam Ruang kerja milik Faaz, mereka semua sudah berbicara dan mengeluarkan pendapat masing-masing. Ada beberapa rencana yang mereka Akan gunakan, salah satunya Faaz dan yang lainnya tetap berpura-pura tidak tahu mengenai Ayana yang membawa pergi Rayna juga Aaleesya, yang kedua mereka juga akan tetap melangsungkan pernikahan. Dan ke tiga Faaz dan yang lainnya akan tetap berpura-pura mencari Rayna dan Anaknya, dan pastinya mereka akan membuntuti kemanapun Ayana pergi.


"Ya sudah kita sudahi saja pembicaraan ini." Ucap Zain, "entah bagaimana Uncle nanti jika bertemu Ayana." Ucap Zain kembali


"uncle, Kau akan tetap seperti Daddy Ayana yang sangat Ayana banggakan. Percayalah Ayana tidak mungkin berbuat seperti itu jika Tidak merasa iba kepada Rayna." Ujar Natasha.


"Tidak Natasha, Uncle yakin ada satu masalah yang membuat Ayana melakukan hal itu."


"Uncle tau Ayana sedang merasakan tekanan, Uncle tahu Ayana seperti apa." Tukas Zain.


"Iya Aku juga berpikir seperti itu." Ucap Rido, Richard datang dan segera menghampiri mereka yang sedang berbincang.


"Ada Apa?, mengapa kalian terlihat gusar."


"Tadi Qabil menyuruhku kesini." Seru Richard.


"Duduklah dulu Uncle, " Pinta Faaz, "Biar Aku ceritakan." Ucap Faaz kembali, Richard duduk di samping Rido. Terlihat wajah nya menyimpan banyak pertanyaan.


"Aunty Rani dan Mael apakah bersama Uncle." Tanya Faaz,


"Mael sedang bersama Qabil, Uncle dan Aunty menginap di hotel semalam. Begitupun dengan Mael." Ucap Richard.


"Apa kita menunggu saja Mael Pah?." Tanya Faaz kepada Rido, Rido mengangguk pelan. Dan tak lama kemudian Mael dan Rani datang menyusul Richard. Mereka duduk, dan terlihat wajah santainya.


"Tidak mungkin jika Ayana, menghubungi Mael." Ucap Faaz dalam hati.

__ADS_1


"Ada Apa Faaz?." Tanya Mael, "Apa terjadi sesuatu?." Tanya Mael kembali, pertanyaan Mael mewakili Pertanyaan Richard dan Rani. Richard memang terkenal sebagai orang yang panikan jika terjadi sesuatu kepada Anggota keluarga Rido.


"Aku Akan memulai cerita tetapi sebelumnya Aku ingin bertanya kepadamu." Ucap Faaz, "Khusus nya kepadamu." Ucap Faaz kembali.


"Baiklah, Aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan Faaz." Ujar Mael.


"Saat Aidil dan Aliq selesai bertengkar, kau pergi kemana dengan Ayana?." Tanya Faaz, "Maksudku apakah kau mengantar nya ke sesuatu tempat." Tanya Faaz kembali.


"Iya, Aku pergi bersamanya. Ia sedang kacau dan Aku mengajaknya ke tepi pantai." Jawab Mael dengan santai, "disana dia lumayan bisa tertawa dan bernyanyi." Jawab Mael kembali.


"Ada Apa Faaz?." Mael berbalik bertanya kepada Faaz, Wajahnya terlihat sangat penasaran.


"Lalu kau pulang jam berapa?." Tanya Faaz.


"Jam 10 malam, dan awalnya dia tidak ingin pulang. Lalu ada yang menelponnya dan dia menjauh dariku, Aku bertanya kepada nya..."


"Lalu?" Tanya Faaz menyela kalimat Mael, "Lalu, dia menjawab bahwa kau menyuruhnya pulang. Dan saat itu Aku mengantarnya, namun Mama Rani menghubungiku untuk membawakan gaun ke tempat Kak Azri dan Aku tidak jadi mampir ke rumah Papa,"


"Aku tidur bersama Mama dan Papa di hotel." Ucap Mael, "kenapa Faaz?." Tanya Mael, dia semakin penasaran dengan perbincangan yang sedang terjadi.


"Mael, Apakah kau tau?." Mael menggelengkan kepalanya, "Rayna hilang dan CCTV menunjukan Ayana yang membawa Rayna dan putriku." Tutur Faaz, Mael melohok terkejut, wajahnya terlihat seolah tak percaya.


"Untuk apa Ia melakukannya?." Tanya Mael,


"Faaz, Tidak mungkin Ayana melakukan itu." Tukas Rani, "Ia Ayana, Pasti melakukan ity atas permintaan seseorang." Timpal Richard.


"Aku Malu Ran, Aku Malu" Ucap Zain, kepala nya tertunduk lemas.


"Tenanglah Uncle, Ayana pasti mengikuti rencana Maliq." Ucap Mael, "Karena tadi Aku bertemu Maliq didepan rumah, ia menanyakan keberadaan Ayana." Ucap Mael kembali.


"Apa?, Maliq bertanya dimana Ayana?" Tanya Faaz, "Apa Maliq masih dibawah?." Tanya Faaz kembali.


"Itu Artinya Maliq memang tidak mengetahui permasalahan ini Mael." Ucap Qabil, "Iya benar." Timpal Natasha, Mael seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Mengapa kau seperti sedang memikirkan sesuatu Mael?." Tanya Richard kepada Anaknya.


"Semalam saat Aku pulang mengantarkan Ayana, Aku bertemu Aidil." Ucap Mael, "Bahkan Aidil terlihat sedang diam di dalam mobilnya, tepat di luar pagar rumah Papa." Ucap Mael Kembali membuka teka teki dugaan Qabil dan Aliq.


"Benarkan Kaka, Aku dan Kak Aliq mencurigainya." Tukas Qabil, "Semalam Abrar juga bilang seperti itu." Ujar Qabil kembali.


"Lalu untuk Apa Aidil melakukan itu, Aidil itu sangat menyayangi ku." Tutur Faaz, "Aku juga sudah menganggapnya sebagai adik ku." Tutur Faaz kembali.


"Untuk Menggagalkan pernikahan Kak Fizzy dan Kak Aliq." Jawab Ayana yang datang menghampiri Semua orang yang berada di dalam ruang kerja Faaz, Ayana dan Maliq sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Dan Mereka lupa jika pintu nya tidak di kunci kembali.


"Ayana, anak ku." Panggil Rido, Zain juga menatap lurus kearah anak semata wayang nya.


"Maafkan Ayana Papa, Maafkan Ayana Daddy."


"Karena cinta Ayana kepada Qabil yang membuat Ayana mau membantu Kak Aidil." Ujarnya, raut wajah sedih terlihat didasar wajahnya.


"Sedari tadi Maliq sudah mendengar kan kalian." Ucap Maliq, "Maafkan Maliq Kak, selama ini Maliq lah biang keladi dari semua kericuhan di rumah ini."


"Maafkan Maliq Papa, Karena Maliq Papa merasakan Anfal kembali. Dan Karena keegoisan Maliq, Kak Alea mengingat kembali kematian Mama." Tutur Maliq, ia meneteskan Air mata penyesalannya. Faaz tersenyum dan menyambutnya dengan kalimat yang sangat hangat.


"Aku tahu seburuk apapun kita bertengkar kau tak akan melakukan hal konyol Maliq." Tutur Faaz, "kembalilah Maliq, Kaka merindukan mu." Ucap Faaz, Maliq mendekat dan memeluk kakanya.


"Maafkan Aku kak, Maafkan Maliq." Ia memeluk dengan erat tubuh Faaz, Faaz juga menepuk pelan pungguk adiknya. Faaz juga tak lupa meminta maaf atas semua kesalahannya kepada Adiknya itu.


"Ayana." Panggil Zain kepada Anaknya, Ayana Masih berdiri mematung. Tubuhnya terasa bergetar, Jantungnya pun berdegup lebih kencang. Ia tahu jika tatapan Daddy nya adalah Tatapan marahnya.


"Ceritakanlah Ayana, Mengapa Aidil berbuat seperti itu." Zain meminta Ayana menceritakannya, Ayana menunduk malu dan tak berani menatap mata Daddy nya.

__ADS_1


"Apa kau tidak Ingat Nak, siapa yang memberikan cinta dan kasih sayangnya saat Daddy tak mampu menjaga dan memberikannya."


"Apa kau Lupa, Jika Papa mu sangat kamu cinta dan Sayang melebihi cintamu kepada Daddy mu ini."


"Daddy kecewa saat tau kau yang melakukan ini."


"Uncle, berikanlah Ayana kesempatan untuk menjelaskan semuannya. Kasihan Ayana, dia sedang merasa tertekan dengan perbuatannya." Tutur Natasha, "kita harus menghargai kejujuran Ayana, Dia anak yang polos juga Anak yang baik. Jelaskanlah Ayana." Tutur Natasha kembali.


Semua terdiam saat Ayana mulai menangis, Aliq, Fizzy dan Alea juga datang menghampiri Ayana. Mereka mendengarkan setiap kalimat yang Ayana ceritakan.


***Ayana mulai bercerita***


"Malam itu Aku sedang meluapkan emosiku di pantai bersama Mael, Aku menangis dan merasa kesal dengan Nasibku."


"Aku mengingat setiap perkataan Kak Alea kepadaku mengenai Qabil, Aku mengingat semua janji Kak Fizzy yang akan mendekatkan ku dengan Qabil."


"Setiap Aku mengingatnya, Hatiku sakit."


"Dan Malam itu, Kak Aidil menghubungiku karena sebelumnya Kak Aidil sudah berbincang bersama ku ditaman. Kak bercerita jika Ia merasa sakit Hati karena Kak Fizzy lebih membela Kak Aliq dibandingkan dia."


"Dan Aku merasa jika Nasib kami sama, Kak Aidil sengaja mengajak Kak Aliq bertengkar dan Aku yang memanggil kak Fizzy dengan berharap Kak Fizzy membela KaK Aidil, Namun hasilnya Kak Fizzy tetap membela Kak Aliq."


"Kak Aidil geram dan merasa gagal saat rencana itu, Akupun merasa kan hal yang sama."


"Lalu, Mael mengajak ku pergi karena Aku merasa sakit saat melihat kemesraan Qabil dan Kak Alea."


"Saat aku sedang bersama Mael, Kak Aidil menghubungiku kembali. Ia memintaku untuk menemuinya di depan rumah, dan Aku mengiayakannya."


"Kak Aidil memberikan Rencana Kedua yaitu menculik Kak Fizzy agar pernikahan kalian benar-benar Gagal." Ucap Ayana, Ayana bercerita sembari menangis tersedu-sedu.


"Lalu?." Tanya Zain.


"Kak Aidil malah menyuntikan cairan itu kepada kak Rayna dan Aaleesya dengan alasan klasik agar kalian membatalkan Acara ini dan tetap mencari Kak Ray dan juga Esya. Karena Kak Aidil tahu kelemahan keluarga ini ada pada Esya."


"Jika kita menculik Rayna saja, Kak Faaz pasti tidak akan terlalu memperdulikannya."


"Semalaman ini, Nafsu ku meronta-ronta Namun suara Mama May membisik ditelingaku."


"Mama berucap Agar Aku berkata jujur dan menghentikan ini, Aku tahu itu hati kecilku."


"Dimana mereka sekarang?." Tanya Zain sembari melototkan matanya, kedua bola mata itu seakan ingin keluar dari tempat bersemayam nya. Ayana pun terlihat ketakutan.


"Aku akan memberitahunya, tapi bagaimana jika Kak Aidil malah menyerangku." Ujar Ayana, "Aku takut Daddy." Ujar Ayana kembali.


"Acara ini Akan tetap berlangsung, Dan aku pastikan Kaka ku dan keponakan ku akan baik-baik saja. aku juga pastikan Aidil tidak akan menyerangmu Ayana." Ucap Aliq, Fizzy menatapnya heran. Fizzy tak menyangka Aliq akan tetap mempertahankan Acara pernikahannya.


"Baiklah Kak Aliq, Aku akan memberikan Alamat nya kepadamu." Ucap Ayana, Ayana menatap wajah Rido yang terlihat sayu. Tatapan nya silih berganti dan kini Ayana menatap wajah Sarkas daddy nya. Ayana tahu jika Zain sedang menahan Amarahnya.


"Daddy Maafkan Ayana, Ayana Mohon."


"Lupakanlah rasa sayangmu terhadap Daddy dan Papa mu ini, sampai kau menyadari betapa besar kesalahanmu." Ucap Zain dengan Tegas, Ia meninggalkan semuanya yang berdiam mematung saat mendengar ucapan Sarkas dari mulut Zain yang terkenal dengan kebaikan dan kedewasaannya.


"Da..Ddy... Maafkan Ayana." Tubuhnya Ambruk dan terlihat menangis, Rido juga diam membisu. Mael yang merasa tak tega segera membangkitkan tubuh Ayana dan memeluk nya dengan erat.


"Sabarlah Ayana, Hari ini daddy mu sedang Marah. Esok dia Akan kembali seperti daddy mu dahulu." Ucap Mael.


"Ayana, kemarilah. Peluklah Papa." Rido meminta Ayana untuk mendekat dan memeluk tubuhnya, "Ayana, Minta Maaf Pah."


"Minta Maaflah pada Tuhan, Biarkan Tuhan yang melunakan Hati Daddy mu." Ucap Rido.


("Seperti Semalam ini Aku meminta, bersimpuh tanpa memejamkan mataku. Aku meminta kepada Allah swt untuk melunakan Hati kedua Anak lelaki ku. Dan Qadarullah Allah memberikan jawaban pagi ini. Sungguh hebat kuasa mu, Aku yakin dan Akan selamanya yakin. Engkaulah yang maha membolak balikan hati Manusia, Terimakasi Ya Allah. May, Aku berharap Faaz dan Maliq akan kembali saling menyayangi." Ucap Rido didalam hatinya.)

__ADS_1


__ADS_2