
"Papa mengapa kau menangis ?." tanya Natasha seraya mengkhawatirkan Rido.
"Papa apakah kau baik-baik saja ?" tanya Faaz sembari menghapus air mata Rido.
"Natasha, peluk Papa nak." Pinta Papa kepada Natasha, Natasha merasa kebingungan dengan permintaan Rido. Natasha pun memeluk Rido dan Rido mengeratkan pelukannya itu dan tak lama kemudian melepaskan pelukan nya itu.
"Natasha, Siapa nama Papa mu?" Tanya Rido.
"Jimmy " Jawab Natasha dengan polos.
"Papa Mu Jimmy surya bahrudin dan ibu mu bernama Lira arkana" Selah Papa seraya menyelah Jawaban Natasha.
"Mengapa papa tahu nama ayahku dan ibuku?." tanya Natasha kepada Rido , sembari berdecak tak percaya jika RIdo yang selalu diceritakan oleh Papanya adalah mertua nya saat ini. "Apa Malaikat berwujud Manusia itu Papa dan Mama May?" Tanya Natasha kembali, Ia tak menyangka jika rido Allah adalah Rido.
"Dia Jimmy sahabat ku dan Mama May, Aku ingat betul saat aku dan May berbicara kepada mereka." Rido sangat antusias mendengar Nama Jinmy dan Lira, Karena selama ini Rido dan May selalu mencari tahu keberadaan Lira dan Jimmy.
"Dan tahukah kau Natasha Qabil adalah saudara sepupumu dan Aunty Rani adalah sepupumu juga." jelas Rido seolah ingin menjelaskan semuanya kepada Natasha.
"Aku tidak mengerti Papa karena selama aku hidup, aku hanya mengenal Papa dan mama ku saja. Mama ku memang sempat memberitahu banyak nama kepada ku dan yang aku ingat sekali adalah nama Dhan" seru Natasha.
"Papa mu memiliki Kaka kandung bernama sammy dan itu adalah ayah dari Aunty Rani, Aunty Rani dan mama May hanya saudara angkat saja dan mengapa Papa berucap jika Qabil adalah sepupumu karena ayah dari Qabil yaitu Dhan adalah Kaka tiri dari Lira, Papa dan lira juga Dhan adalah teman kecil mereka anak asuh Kakek nya Faaz dan Papamu juga diangkat menjadi anak asuh kakek wan yaitu kakek nya Faaz ayah dari mama May." Terang Rido. Natasha terlihat sangat kebingungan.
"Ini memamg rumit namun papa yakin kau pasti mengerti " Terang Rido Kembali seraya menjelaskan dengan detail kepada Natasha, Natasha menangis karena mendengar penjelasan Rido memang seperti apa yang dijelaskan Lira semasa hidupnya jika menceritakan keluarga yang sudah membesarkannya. Faaz terdiam mencoba memahami saat mendengar percakapan Papa nya dengan Natasha.
"Papa tidak mengerti mengapa papa mu menjauh dari kami, karena kami merasa tidak memiliki kesalahan apapun kepada mereka pada saat mereka menikah pun papa sudah menghadirinya bahkan Ayana lahir saat kami sedang berbincang santai seusai acara pernikahan mereka." Terang papa kembali, Natasha memeluk Rido lalu menyeka air matanya.
"Jujur Natasha sangat ingin bertemu dengan papa dan mama May, karena sebelum Mamaku meninggal Mama selalu ingin bertemu dengan Papa juga mama May, tetapi aku tak tau wajah kalian sama sekali" seru Natasha berbicara sembari menangis terisak.
"Tuhanlah yang membawamu kemari Natasha, lalu bagaimana kabar Papa mu. Aku sangat ingin menemuinya" seru Rido sembari membawa sebuah foto yang ada di laci tepat disamping ranjangnya, foto itu adalah foto semasa muda nya sebelum Letycia melahirkan tepatnya seusai acara pernikahan Jimmy dan Lira selesai. Faaz menjelaskan apa yang Natasha ceritakan kemarin kepadanya dan Rido menangis kembali mendengar kabar itu.
"Iya papa ini mama dan Papa ku, kau benar yang disebut Rido dari Allah oleh Papaku. kau dan mama May bak malaikat untuk Papa ku" jelas Natasha sembari memeluk kembali Papa mertua nya.
"Aku ingat betul kau juga mengingatkanku kepada mama ku karena mama ku dan mama mu cukup dekat dimasa muda." ucap Faaz.
"Maksudmu Lemon tea hangat dan beberapa biskuit ? " Tanya Rido
"Iya Pah, dan Natasha bilang jika Mama nya sering membuat itu dan memberikannya jika Natasha sedang merasa lelah ataupun sedang merasa sedih dan mama juga melakukannya kan." seru Faaz.
Rido menganggukkan kepalanya dan memeluk keduanya, Rido melanjutkan ceritanya kembali dan segera menghubungi Rani untuk memberitahu kabar ini. Rani menangis saat mengetahui hal ini dan sempat berbincang dengan Natasha. Rido juga memanggil Qabil dan menceritakan semuanya lalu Natasha memberikan Foto-foto yang ia simpan dan rahasiakan karena takut dibakar oleh ibu tirinya. Natasha menunjukan beberapa foto yang berada dalam kotak miliknya dan didalam nya terdapat foto Dhan (ayah dari Qabil).
Qabil memeluk Natasha dan berbicara seakan rindu kepada saudarannya walaupun sebenarnya Qabil tak mengetahui jika ia memiliki saudara sepupu karena Dhan tak pernah bercerita apapun tentang keluarga nya itu. dan Itu yang membuat Qabil hanya tau tentang keluarga papa Rido dan mama May.
Malam harinya Faaz terlihat sudah selesai memakai Pakaian untuk tidur diruang terpisah yang berada didalam kamarnya. Natasha tak sengaja keluar dari dalam kamar mandi karena telah selesai membersihkan badannya namun, Natasha tak mengetahui jika Faaz masih berada didalam kamar ganti yang dekat dengan kamar mandi pribadinya
__ADS_1
lantai yang sedikit licin membuat Natasha tak bisa menyeimbangkan dirinya dan membuatnya terjatuh dengan kain handuk yang terlepas di tubuhnya sehingga membuat tubuh Natasha terlihat oleh kedua mata Faaz.
" awrhh " Teriak Natasha yang merasa kesakitan, sembari menahan malu saat Faaz melihat kearahnya. Faaz dengan sigap membantu Natasha dengan membangunkan badannya dan melilitkan handuk di tubuh mulusnya.
"Maaf Nat, aku berusaha menutup mata kok" seru Faaz sembari sedikit memejamkan matanya.
"Gak apa-apa Faaz, aku emang ceroboh." ucap Natasha, Kini wajahnya mulai merona membuat Faaz pun salah tingkah.
"Kamu gak apa-apa kan ?" Tanya Faaz, Natasha menggelengkan kepalanya. Faaz mengerti jika Natasha akan memakai pakaian nya dan Faaz memilih menunggu Natasha di luar ruangan pakaian dan duduk dengan perasaan was-was.
didalam kamar pakaian, Natasha terdiam membisu sembari mematungkan tubuhnya. wajah Natasha sudah sangat merah merona karena malu terhadap Faaz.
"Apa dia melihat tubuhku?, aduhh mengapa aku tidak hati-hati sih!" pekik natasha, Dia mendecih kesal karena kecerobohan nya itu, dia juga terlihat Frustasi dan terus menggerutu kesal akan dirinya itu.
"Mengapa aku sangat sial, terjatuh dihadapan tuan Faaz. aku malu sekali " keluhnya kembali. Ia segera memakai pakaian yang akan ia kenakan, Natasha terlihat sedang menguping keberadaan Faaz. Namun Faaz tak terdengar berada diluar.
"kemana dia iya?" Tanya Natasha didalam hati, Natasha segera membuka pintu ruangan pakaian yang terpisah dengan kamarnya itu. Faaz memang sudah tidak ada disana.
"Hah, Alhamdulilah. aku Malu banget ya Tuhan!" Ucapnya, Ia merebahkan dirinya diatas Sofa setelah itu ia mengambil ponsel miliknya dan menyentuh layar untuk membuka layar kunci ponsel miliknya. satu pesan dari Faaz yang belum sempat ia baca.
Ada Aidil dibawah, Aku harus menemuinya dulu.
Kamu tidur saja duluan, Ini mungkin akan sangat lama sekali. ~ Faaz
Natasha memilih untuk melakukan sembahyang karena dia baru saja bisa melakukan sembahyang setelah satu minggu mendapatkan Tamu bulanannya, Ia sembahyang dengan sangat khusyuk dan khidmat. beberapa menit kemudian Natasha selesai melakukan sembahyang, ia Menengadah kedua tangannya ia bersimpuh berdoa kepada yang maha kuasa. dia menangis mengeluarkan beban dihidupnya dan sepertinya Natasha merasa lega karena telah bertemu dengan sosok malaikat bagi orang tuanya.
"Ya Allah, terimakasih engkau telah mendengar semua doaku. Ampuni segala dosa-dosaku Ya Allah dan berilah Papa kekuatan untuk menghadapi ibu tiriku" Natasha menangis saat mencurahkan segala doanya, "Ya Allah, salamkan rinduku pada Mama. berilah cahaya terang didalam kuburnya dan kumohon berilah kesembuhan untuk gadis kecilku juga papa mertuaku (natasha menangis tersedu-sedu )"
"Amin ya Allah, semoga engkau mengabulkan segela doa yang Aku panjatkan!" Ucapnya kembali.
"MAMA.... (memanggil lirih), Mama benar keluarga Papa Rido memang sangat bijaksana dan berhati mulia. Mama andai saja Mama ada bersama ku hari ini, Mama akan Lihat betapa senangnya wajah Papa mertuaku mendengar aku adalah anak dari mu dan juga Papa. Mama kuharap Mama tersenyum melihatku dan kuharap Mama bisa bertemu dengan sahabat Jannah mama yaitu Mama May." Natasha menyeka air matanya, dia mendengar suara langkah yang semakin dekat menuju kamarnya.
Faaz sebenarnya sudah didepan kamar, Faaz tidak sendiri karena Alea sedang menguping dibalik pintu mendengar semua doa-doa Natasha yang sedang ia panjatkan. Alea menangis mendengar doa tulus dari bibir kaka ipar yang sangat ia benci namun Faaz menyadarkannya dan memeluknya.
Faaz masuk kedalam untuk tidur karena Aidil sudah berpamitan terlebih dahulu dan sebelum Faaz masuk ke kamar Faaz terlebih dahulu meminta Alea untuk pergi ke kamarnya dan berbicara di esok hari dengan Natasha.
natasha terlihat cantik dengan balutan kain mukena yang menutupi seluruh tubuhnya dan wajahnya yang bercahaya membuat Faaz berdecak kagum bahkan ada yang lebih mengagumkan dari diri Natasha, Natasha menghampiri Faaz dan mencium punggung tangannya. Natasha tersenyum melihat Faaz yang sedang menatap nya lekat.
(' mengapa dia sama sekali tak pernah menuntut kepadaku, sudah 10 hari kami menikah dan aku belum pernah memberi nafkah batin kepadanya. apakah aku berdosa Tuhan, namun bagaimana aku menjelaskan akan posisiku yang sangat bimbang ini ,, Natasha maafkan aku!!, aku tak berniat untuk menyakiti hatimu namun setiap aku melihatmu aku merasakan ada hal beda, apa aku mulai menyukaimu atau bagaimana?, aku memikirkan perasaan mu tetapi aku juga memikirkan Rayna. Ya Tuhan kumohon jangan membuatku bimbang seperti ini - gumam Faaz dalam hatinya seraya menatap lembut Natasha )
"Tuan, Tuan Faaz " lambaian tangan Natasha menyadarkan lamunannya.
"Iya Nat, maaf aku tadi melamun " ucap Faaz kepada istrinya.
__ADS_1
"Apa tuan sedang memikirkan sesuatu ?" Tanya Natasha sembari membuka kain mukena yang dipakainya.
"Mulai deh, Tuan lagi! Tuan lagi kan. " Tandasnya sembari melangkahkan kaki kearah sofa dan duduk menyandarkan kepalanya lalu ia menghela nafas, Natasha melirik kearah suaminya jantung nya mulai berdebar kembali. kali ini jantungnya mulai memompa lebih keras dari biasanya.
"Natasha, sini duduk di sampingkum" pinta Faaz menepuk ruang kosong disampingnya.
"Eemmh....Faaz waktu itu mau cerita sesuatu kepadaku, jika membuat mu gusar maka ceritakanlah." Natasha menopang dagunya dan memberikan senyuman manisnya kepada Faaz, Faaz lagi dan lagi berdecak kagum melihat kecantikan istrinya.
"Gini nat , kamu dan aku kan sudah menjadi suami istri ..." - ucap Faaz pelan, Natasha mulai tak nyaman mendengar kalimat Faaz yang sudah menjurus kearah hubungan itu.
"Gini Nat, gimana iya kalimat yang pantas aku ucapinnya. Aku bingung dan merasa takut jika kamu tidak nyaman " seru Faaz kembali, Natasha seperti gugup mendengar nada bicara Faaz yang sama terlihat gugup dengannya. Natasha hanya mampu terdiam sembari menaikan kedua alisnya, Natasha mengigit bibir bawahnya tanda ia memang sedang merasa gugup.
"Gini Nar," Faaz mendekatkan wajahnya ke arah wajah Natasha lalu, Ia mencium bibir Natasha dengan kilas dan segera melepaskan ciuman yang sempat mendarat di bibir Natasha itu membuat wajah Natasha merah merona kembali.
"Maaf Nat , maksud aku."
(' mengapa aku segugup ini, saat dulu dengan Rayna aku tak seperti ini - batin Faaz ')
( "yatuhan , apa aku mimpi mendapat ciuman dari suamiku , aku tak pernah memikirkan hal ini . apakah tuan Faaz ingin memberikan Hak ku sebagai istri dan membiarkanku dengannya melakukan kewajiban dalam rumah tangga ini - batin Natasha sembari menundukan kepalanya karena malu dengan suaminya itu ')
"Tidak mengapa suamiku, apakah memang aku tak berhak mendapatkan nafkah itu darimu ?" tanya Natasha dengan polos, Natasha memberanikan diri memanggilnya dengan sebutan suamiku.
"Apa bisa kau ulangi memanggilku apa? " pinta Faaz dengan mengerutkan dahinya.
"Suami ku, maaf jika kamu merasa keberatan aku memanggilmu dengan sebutan itu " Ucap Natasha sembari menundukan kepalanya.
"Tidak Natasha, aku sama sekali tidak keberatan dan kau berhak mendapatkan apapun yang aku miliki " jawab Faaz membuat senyuman yang indah di wajah Natasha.
"Natasha, apa kau mau beribadah denganku malam ini " Tanya Faaz sembari mendekatkan wajahnya ke arah wajah Natasha.
"Aku akan melakukannya suamiku." jawab Natasha dengan sangat pelan sembari menatap mata Faaz yang kini hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
Faaz kembali mencium bibir Natasha, kali ini ritme ciuman diantara mereka sangat lah fulgar. Faaz mencium Natasha dengan waktu yang lama dan Natasha pun membalas ciuman di bibir Faaz dengan sangat lembut.
beberapa menit kemudian Faaz melepaskan bibirnya yang berada didalam bibir natasha , ia menatap Natasha dengan tatapan yang sangat lembut matanya kini saling berpandangan dengan mata istrinya. Natasha pun seperti nyaman melakukan ciuman itu dengan Faaz .
"Apakah kau pernah melakukannya sebelum denganku ? " tanya Faaz sembari menatap istrinya.
"Tidak Faaz , apa aku terlihat kaku ?" tanya nya kembali dengan wajah yang kikuk.
"iya sedikit kaku, namun kau sedang memposisikan diri senyaman mungkin. jika kau tidak merasa nyaman kita akan melakukannya dilain hari " seru Faaz .
"Tidak Faaz, aku sangat nyaman didekatmu. maafkan aku yang sudah terlalu berani " jawabnya sembari memegang tangan Faaz dengan lembut .
__ADS_1
"kau memang harus berani dan tak perlu malu, maafkan aku sudah terlalu cuek kepadamu " ungkapnya.