
Malam itu Ayana dan Mael berpamitan segera, mereka juga membawa Aaleesya untuk pulang bersama. Natasha memeluk erat tubuh anaknya itu seakan ia tak ingin berpisah dengan nya, “Esya sama Oma Rani dulu, ingat jangan nakal iya. Doakan agar Mama dan adik cepat pulang” Ucap Natasha, Aaleesya mengangguk pelan. Ia pun mengecup lembut pipi dan kening ibu sambungnya itu.
“Ayana, Titip Aaleesya ia. Kasih susu hangat, ingat jangan terlalu panas setelah itu Esya kalau tidur harus di olesi minyak hangat dari perut, punggung, sampai telapak kaki terus selimutnya jangan tebal nanti dia malah gak mau tidur.” Cerocos Natasha malah membuat Ayana, mael dan Faaz tersenyum nakal.
“Aduh aku lupa Ayana, kalau minimarket atau apotik masih buka. Tolong belikan vitamin untuknya terakhir kali, vitamin nya habis” ujar Natasha kembali, Ayana masih mendengarkan setiap detail yang di titipkan oleh Natasha.
"Oh iya jangan lupa juga, kalau malem nanti Aaleesya terbangun. kasih dia salep gatal dan balurkan di punggung nya, soalnya Aleesya selalu meminta di garuk-garuk pada punggung nya jika terbangun dan jika memakai salep itu, Esya akan tidur terlelap kembali" celoteh Natasha membuat Ayana tertawa kecil, "Maaf Aku bawel Ayana" Ucapnya kembali.
Ia menoleh dan memandang anaknya itu, “Sayang, pulang dari sini minta Aunty Ayana mengganti pakaian mu dan jangan lupa membersihkan gigi mu. Oh iya Mama juga minta Esya sebelum tidur kecup tangan ini iya, agar Esya ingat Mama terus” Gumam nya kembali, Ia menatap kembali wajah Esya. Esya tetap tersenyum saat melihat Natasha memandangnya, "Sini peluk mama lagi" Pinta nya.
“Sudah sayang, kau tak perlu khawatir Ayana atau Aunty Rani pasti mengerti.” Sargah Faaz, Natasha menghela nafasnya dengan ringan.
“Maaf aku hanya mengkhawatirkan Aaleesya saja” Ucap Natasha pelan, “Ayana, maaf jika Aku merepotkan mu” Ucapnya kembali.
“Tidak sama sekali kakak, Kami pulang iya!” Seru Ayana, Ia juga memeluk dan mencium kening Natasha. “Kaka harus cepat pulang dan berkumpul bersama kami!!,” Ucap Ayana kembali, Natasha mengangguk pelan.
“Ayo sayang, Uncle Mael gendong” Ajak Mael sembari menggendong Aaleesya, Aaleesya tak melepaskan pandangannya ke arah Natasha. Natasha pun merasa sedih saat berpisah dengan Aaleesya, Aleesya melambaikan tangan serta mengecup tangannya dan memberikan kecupan itu kearah Natasha.
“Sungguh aku merasa ingin sekali tidur bersamanya dan memeluknya dengan pelukan hangat, sabat iya nak.. sebentar lagi kita akan bersama-sama” ucapnya dalam hati, tak terasa air matanya pun menetes.
“Sayang!” Suara Faaz yang memanggilkan membuyarkan lamunan nya, “Aaleesya akan baik-baik saja, kau tak perlu mengkhawatirkannya.” Tutur Faaz.
“Lagi pula, Aunty Rani sangat mengurusnya dengan baik.” Sambungnya kembali, Natasha terlihat tersenyum.
“Peluk Aku!,” pintanya dengan tidak malu-malu, “Mungkin dengan kau memeluk ku perasaan ku akan lebih tenang!” Ujar Natasha, Faaz tersenyum saat mendengar permintaan istrinya itu.
Faaz memeluknya dan mendekapnya dengan dekapan yang sangat hangat, “Sayang.. Aku ingin bercerita, tapi kau janji tidak akan membuat kondisi mu drop! Semua akan baik-baik saja, kau hanya perlu banyak berdoa dan lebih tegar!!” Tutur Faaz, Natasha yang sedang di dalam pelukan suaminya tak lantas diam begitu saja, ia segera melihat wajah sendu suaminya.
“Sayang, apa hal buruk telah terjadi?” Tanya Natasha.
“Lebih tepatnya hampir terjadi, Aku tak tahu jika saat itu kehilangan kau dan Damar. Mungkin aku akan berubah menjadi gila” Ungkap Faaz.
“Lalu hal buruk apa yang telah terjadi?” Tanya Natasha, “Apakah Qabil meninggal?” Tanya Natasha kembali. belum banyak kalimat yang Faaz sampaikan, air mata nya sudah turun menyeluruh.
Faaz menghela nafasnya dengan berat, “Qabil masih berjuang untuk sadar, Otak belakang Qabil serta batang kepalanya mengalami kerusakan yang sangat parah.” Tuturnya kembali,
“Dimana dia sekarang?” Tanya Natasha.
“Di Ruang ICCU, Aku meminta ruangan isolasi hanya untuk nya dan Aku meminta 5 dokter untuk menanganinya. Aku tidak bisa mengikhlaskannya Nat, dia pasti sembuh dan Aku yakin itu!” Ucap Faaz, raut wajahnya tidak bisa menutupi rasa sedih yang amat dalam, “Esok operasi pengangkatan batang otak nya akan dilakukan, tempurung nya mengalami kerusakan. Dan esok adalah operasi keduanya. Aku harap kita bersama-sama berdoa dan saling menguatkan” Ucap Faaz kembali.
“Bagaimana keadaan Alea?” Tanya Natasha, “Dia pasti sangat drop Faaz, Aku ingin menemuinya” Ucapnya sembari menangis.
“Sayang Aku mohon, kuatkan lah dan tabahkan lah hari mu. Mereka membutuhkan Doa dan support kita, Kamu dan Alea akan segera bertemu dan itu saat kamu sudah merasa pulih” Ucap Faaz seraya menenangkan hati istrinya, “Aku mohon, jangan mempersulit dirimu sendiri” Ucap Faaz kembali.
Keluarga Rido memang selalu di uji dengan hal-hal seperti ini, karena memang tidak bisa di pungkiri. Ujian setiap manusia berbeda-beda, dan terlihat Ujian yang mereka hadapi bukan perihal materi, mereka mampu dalam mendapatkan materi yang berlimpah namun Ujian tetap ujian. Dan Mereka selalu yakin bahwa setiap Ujian yang Tuhan beri, akan membuat mereka lebih dekat dengan Tuhan.
“Tapi Alea bagaimana sekarang?” Tanya Natasha yang terlihat sangat penasaran dengan kondisi adik iparnya itu.
“Alea mengalami penyakit Skizofrenia!” Ungkap Faaz, Natasha sama sekali tak mengerti apa itu Skizofrenia.
“Apa itu?, Apa itu juga termasuk gangguan kejiwaan?” Tanya Natasha kembali.
“Iya semacam penyakit kambuhan, dan Dokter Hans baru dapat mendiagnosisnya karena Alea menunjukan gejala baru” Jelasnya kembali, “Ia memiliki halusinasi yang sangat tinggi, dan aku belum sempat melihatnya, aku merasa tidak tega!” Ucap Faaz seraya bersedih.
“Apa ada obatnya?,” Tanya Natasha, “Berusahalah lebih giat dalam mengobatinya, kegagalan pernikahan dan mengetahui calon suaminya terbaring lemah memang sungguh menyakitkan Faaz, aku tak bisa membohongi perasaan sedih ku jika itu terjadi pada ku” Ungkap Natasha.
“Wajar sekali jika Alea merasa Drop dan menjadi seperti itu, permasalahan yang selalu ia dapatu terbilang sangat rumit!” Sambungnya kembali.
“Iya sayang, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa jika hal itu terjadi padaku. Terutama kesehatan kejiwaan Alea memang sangat buruk!, Alea memang sudah mengalami itu sedari kecil, dia menjadi anak yang tantrum dan selalu memiliki kecemasan yang tinggi” Terang Faaz, Natasha menangis memeluk Faaz.
“Aku mohon sembuhkan Alea Faaz, Aku mohon” Pinta Natasha seraya menangis di dalam pelukan Faaz, “lalu dengan siapa dia sekarang?, Aku ingin pulang, Aku ingin menemaninya Faaz” Pinta Natasha kembali, Ia meronta menginginkan kepulangan nya segera. Karena Natasha tahu selama ini Alea selalu mencari nya dan berucap jika bersama Natasha, permasalahan kehidupannya selalu ia lupakan.
“Tenanglah, dia ditemani oleh Noni” ucap Faaz.
“Noni siapa?” Tanya Natasha, “Siapa dia?” Tanya Natasha kembali.
“Awalnya dia adalah orang yang mau mendonorkan darahnya untuk Qabil, karena Qabil memiliki golongan darah yang sangat langka di dunia dan mencari darah jenis darah Qabil membutuhkan waktu yang lama karena kelangkaannya”
__ADS_1
“Lalu?”
“Lalu, Noni itu datang secara tiba-tiba. Ia mendengar percakapan kami bersama dokter, dan ternyata ia juga memiliki Golden blood dan ia mau memberikan darahnya untuk Qabil” Jelas Faaz, Natasha mendengarkan apa yang sedang Suaminya ceritakan.
“Singkat cerita, ternyata Noni dan Maliq saling mengenal. Entahlah dimana dan kapan, yang jelas mereka selalu saja bertengkar. aku dan Papa berharap mereka bisa menjadi sepasang kekasih, karena Noni wanita cerdas dan baik seperti mu.”
“Dan saat itu, kami mengajaknya kerumah dan berniat mengucapkan rasa terimakasih kami dengan mengajaknya makan malam bersama.”
“Namun saat itu Fizzy menjelaskan keadaan Alea, dan Noni yang cerdas itu menjelaskan detail penyakit yang di derita Alea”
“Ternyata Noni adalah seorang psikolog muda, ia juga sempat merawat ibunya yang juga memiliki penyakit seperti Alea, lalu saat Noni bertanya siapa dokter yang menangani Alea..”
“Noni pasti cantik dan baik banget, jika nanti bertemu aku akan mengucapkn rasa terimakasih ku juga” sela Natasha.
“Sebentar, dan kau pasti tak menyangaka?” Sargah Faaz membuat Natasha merasa penasaran.
“Dia putri dari Dokter Hans, namun saat itu Dokter Hans dan ibunya berpisah dan dia memilih untuk hidup bersama ibunya”
“Ya Tuhan, sungguh Allah permudah kita bertemu dengan orang-orang yang mulia hatinya. Aku bahagia jika Noni bisa membuat Alea sembuh dan Aku berharap Maliq bisa berjodoh dengan wanita yang baik dan pintar sepertinya juga” gumam Natasha, Faaz juga tersenyum mendengar kalimat apa yang Natasha bicarakan.
“Syukurlah, Aku merasa tenang sayang” Ujar nya kembali,
“Aku akan lebih bersyukur jika setiap hari kau memberikan senyuman ini sayang” Timpal Faaz, Faaz mengecup lembut bibir istrinya. Tak lama kemudian Faaz meminta Natasha untuk segera beristirahat, dan Faaz juga tertidur di atas sofa karena Faaz memilih kamar yang sangat luas agar dirinya dapat menemani Natasha di dalam kamar.
“Aku memikirkan Kak Rayna, bagaimana dia sekarang? Alea pasti sangat dendam kepada nya. karena sebelum kejadian itu, mereka berdua saling berdebat dan Kak Ray mengancam akan membatalkan pernikahan Alea” Ucap Natasha di dalam hatinya,
Natasha bergumam kembali, “Ya Tuhan, lindungilah Alea dan yang lainnya termasuk Kak Ray, jika memang Pernikahan ku adalah kesalahan!! Aku mohon ampuni Aku Tuhan!”
Sebelum ia tertidur, Faaz sudah terlebih dahulu tertidur. “Suami ku sayang, semoga setiap apa yang kau lakukan bernilai ibadah dan Allah akan gantikan dengan Pahala yang berlipat” Doanya untuk Faaz terdengar sangat lembut, Ia juga meneteskan air matanya. Natasha pun memejamkan matanya, matanya sangat lelah sekali hingga ia ingin segera tertidur dengan pulas.
Faaz berpura-pura tertidur namun nyatanya, Faaz sedang berpikir keras mengenai permasalahan hidupnya.
Sekilas wajah May terlintas dalam bayangan nya itu, "Mama, Mama pernah berucap. Faaz harus memiliki pundak yang kuat sekuat baja, bahkan Faaz harus tau bagaimana memperlakukan adik-adik Faaz, Faaz harus dapat memberikan ketenangan untuk semua orang dan Faaz harus bersikap layaknya Raja yang bijaksana. maka dari itu Mama dan Papa menjuluki Faaz adalah King Faaz, namun tahukah Mama.. kini pundak Faaz merasa sangat berat, Bahkan Faaz tak mampu membuat adik-adik Faaz merasa bahagia, hidup tenang layaknya harapan mama" Ia menghela nafasnya.
"Mama, Tolong mintalah kepada Tuhan hati dan bahu yang kuat untuk Faaz. tanpa Mama Faaz tidaklah menjadi apa-apa, bahkan kini jika Faaz harus memilih untuk menjadi Raja dan harus ditinggalkan oleh Mama dan Papa, Faaz lebih baik tidak menjadi Raja yang Mama dan Papa mau. Faaz membutuhkan pelukan Mama"
Ia menoleh serta melihat wajah sang Istri yang sudah tertidur dengan pulas, "Istri ku, belahan jiwaku. cinta ku terimakasih aku ucapkan karena kau selalu sabar menghadapi permasalahan di rumah ku, Aku berharap kau akan terus menerus memiliki hati yang besar" Ucap Faaz seraya menatap lekat wajah Natasha.
**
Berbeda dengan Rayna, Malam ini menjadi malam yang sunyi. Terdiam sepi di dalam kegalauan, Ia memikirkan Ucapan yang Faaz lontarkan kepadanya. Rayna tahu jika saat ini Faaz sedang emosi kepadanya, namun itu tak menjadikannya semakin liar. Ia sedikit berpikir jika apa yang telah di lakukannya adalah keburukan.
Rayna memondar mandirkan langkahnya, “Maafkan Aku Faaz, aku tahu aku bersalah!” Gumam Rayna di dalam setiap langkah gundah nya.
Ucapan Faaz terngiang dengan sangat keras ditelinganya, “Kau selalu membuat masalah kepada keluarga ku, dulu Aku selalu membela mu. Bahkan membuat adik ku tak berharga di mataku, karena aku menganggap kau mampu menjadi pengganti mama ku di rumah!! Lalu apa yang kau lakukan Rayna!” Rayna merasa frustasi, perasaan bersalah itu muncul.
"Kau, bisakah kau tidak membuat masalah" Tunjuk Faaz dengan geram itu terlintas di benak Rayna.
“Apa salahku!! Apa salah adik ku!! Apa salah keluarga ku terhadap mu!!, kau merasa keluarga mu hancur, lalu kau ingin menghancurkan keluarga yang lainnya!!” Bentak Faaz saat itu,
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mu menghancurkan apa yang aku punya, cukup hati ku yang kau hancurkan! " Ucap Faaz kembali, kalimat-kalimat yang Faaz lontarkan membayang jelas di dalam pikiran nya itu.
“Tidak Faaz!!! Tidaakkk” Tandas Rayna yang mengingat setiap kalimat kekesalan yang Faaz berikan, “Mengapa aku sebodoh ini!!, mengapa Faaz!!” Gumam nya seorang diri.
“Aku sudah membuat kesalahan yang sangat fatal!!” Gumamnya kembali, "Aku menyadari nya banyak sekali kesalahan yang telah aku lakukan kepada mu Faaz dan Aku akan memperbaiki nya Faaz." Gumam Rayna sembari terus menangis,
Fizzy dan Aliq mendengarkan dari luar kamar Rayna, karena kini Rayna ikut tinggal bersama dengan Aliq dan Fizzy.
“Suamiku, ada apa dengan Rayna?” Tanya Fizzy seraya mengkhawatirkan kakak iparnya itu.
“Sudahlah sayang, biarkan dia merasakan penyesalan seorang diri. Biar dia tau apa yang dia lakukan itu adalah salah, ayo kita kembali” ajak Aliq, Fizzy mengangguk pelan dan kembali kedalam kamar nya.
****
Alea tertidur dengan pulas, Noni memutuskan untuk sementara mengurus Alea dan tinggal bersama nya. Noni melihat buku diary Alea, dengan perasaan yang tidak enak, Noni terpaksa membuka nya.
Terdapat banyak ungkapan hati seorang Alea disana, Noni membaca nya dengan perasaan bersedih ia masuk kedalam tulisan itu.
__ADS_1
“Sebuah rasa yang tidak ku mengerti
Mengapa seakan silih berganti Menyisakan kenangan-kenangan yang sulit tuk di lupakan karena terlalu lama Bersemayam di dalam dada, hingga rasa itu Menjalar menuju otak yang tak berdaya Seakan mengalahkan logika Meracuni kebenaran dengan keindahan yang semu seperti tak tahu kedatangan dan kepergian mu..
"Aku tak berdaya atas kendali yang kau lakukan Ku terima setiap rasa yang kau berikan Sedikit kebaikan yang kau tanamkan Kadang ku mencoba memegang kendali. Tapi sayang, Semua itu tak berarti Salahkah jika aku menjadi bagian darimu hingga Melekat erat seperti mawar dengan merah nya Hidup dalam satu jiwa."
"Berjalan melewati masa yang semu menunggu sebuah akhir dari cerita dan menyambut kekal nya masa Serta berpijak pada takdir yang tak terduga.”
“Ya Tuhan, kalimat indah ini tercipta dari seorang penderita Skizofrenia. Alea, kau sungguh cerdas sayang” Ungkapnya, ia membuka kembali lembaran baru, Ia membaca kembali isi buku diary itu...
“Jika aku meratapi kepergianmu, apa yang akan kamu katakan?
Jika aku merana karena cinta, kemana jalannya?
Jika mengutus seseorang untuk menceritakan kesedihanku
Sang kekasih mengeluh tak seorang pun mau menyampaikan.
"Jika aku dengan penuh kesabaran berusaha menahan semua deritaku
Setelah hilangnya cinta, aku tak mampu menahan hempasannya
Tiada yang tinggal kecuali kesedihan dan penyesalan
Dan air mata yang terus mengalir di pipi."
"Engkau yang telah lama hilang dari pandanganku
Maukah engkau tinggal selamanya demi hatiku yang mencinta
Engkaulah yang telah mengjariku bagaimana mencintai
Dan tidak akan menyimpang dari ikrar cinta...”
(Aku mencintai mu Qabil)
“di buat tanggal 26, itu artinya sebelum kejadian yang menimpa Qabil. Dan Qabil adalah kekasih Alea, lalu untuk apa ia membuat ini” Tanya Noni dalam hati, Noni ingin sekali memecahkan mysteri kehidupan Alea karena bagi Noni kegilaan nya bukan hanya karena masalah yang menimpanya namun Ia memiliki hal lain.
Terselip foto keluarga di tengah lembar itu, Ia melingkari foto Maliq, Ayana dan juga Fizzy.
“Hanya Kak Faaz dan Om Rido yang tidak ia lingkari, kenapa dengan mu Alea?”
“Suara itu meminta ku untuk pergi meninggalkan kalian, namun terkadang Mereka meminta ku untuk mengajak kalian... aku bingung, aku tak ingin menyakiti kalian” Tulisan terakhir yang Alea tulis sangatlah menjadi point utama bagi Noni, Noni sangat iba kepada Alea.
Noni menatap wajah Alea, “Malang sekali kamu Alea, Aku harap kau sembuh dan tidak seperti Mama ku.” Gumam Noni di dalam hatinya.
Maliq datang ia mendengar setiap kalimat yang diberikan oleh Noni, noni memang sosok wanita yang baik. Maliq terdiam saat melihat Noni menderaikan air matanya, seakan Noni pun sedang di dalam kegundahan. Ia berulang kali memeluk diary itu, pandangan kosong memanggil nama “Mama” Maliq yakin ia sangat merindukan sosok ibunya, dan Maliq ingat jika dia pernah beruca, ibunya memiliki penyakit yang sama dengan Alea.
"Mama, mulai saat ini Noni akan menjaga Alea dengan baik. Noni merasa bersalah saat Noni meninggalkan mama dulu, dan kini Noni akan berusaha menyembuhkan penyakit yang seperti mama dulu dan saat itu tiba Noni yakin Mama akan merasa bahagia. Maafkan Noni mah, maaf karena keteledoran Noni. mama pergi meninggalkan Noni"
Maliq menatap keadaan Noni, Noni menangis hingga menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya "Ternyata Dia terlihat kuat, namun kenyataanya dia orang yang sangat Rapuh. Dia terlihat ingin menolong, namun nyatanya dirinya pun harus di tolong.. mmmmph Cewe aneh, tapi baik juga” Gumam Maliq dalam hati.
"Aku penasaran dengan apa yang sedang kau rasakan, mengapa tangis mu seperti itu. sepertinya kau merasa sangat tertekan" Ucap Maliq kembali, Maliq masih memperhatikan Noni yang terlihat masih menangis terisak itu.
"Noni, ada apa dengan masa lalu mu. kau pasti merindukan sosok ibu mu!" Gumam Maliq kembali.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1