
May POV.
aku merasa ada hal yang sedang Rido sembunyikan. Setelah aku berbincang bersama mama, ibu dan juga Rani. aku memutuskan untuk menemui Kak Shaloom yang sedang ingin menyendiri itu di luar Rumah.
”Kak Shaloom.” Panggulku, Shaloom menoleh ke arah suaraku dan berlari menghampiriku.
”May, Aku selalu memikirkan Daddyku.” Dia menangis didalam pelukanku, apalagi dia sedang merasakan kegundahan karena kami belum dapat membawa Sahila untuk bertemu dengannya.
”May, ini semua salahku. aku lah penyebabnya.” Gumamnya kembali.
”Akulah yang membuatnya semakin tertekan hingga saat ini” kesedihan menyelimuti raut wajahnya, ia menangis tersedu-sedu.
”Jika saja saat itu Aku tidak berurusan dengan mereka, mungkin Daddy ku tidak akan menanggung semuanya.”
”Apa yang kau lakukan bersama mereka?” Tanyaku heran.
”Aku ingin popularitas, uang, dan hidup mewah. Kala itu usaha daddyku terlihat sudah kacau. Gesa pun sempat tidak bisa melanjutkan studinya. Namun aku memiliki siasat dengan berteman dan dekat dengan salah satu dari mereka.”
”Akhirnya aku dekat dengan mereka, dan tuan besar nya ingin aku mempnikah dengannya. Awalnya aku menyanggupi permintaan mereka. Mereka membantu kami untuk membangun kembali perusahaan Daddy ku. “
”saat itu perasaanku sedang mencintai suamimu, aku ingin mengejarnya dan aku menolak dengan mentah-mentah lamaran dari orang besar itu”
”mereka marah, dan saat itu mereka melakukan perjanjian bersama Daddy ku. Daddy harus melunasi uang yang pernah mereka berikan untuk membantu kami. Bahkan saat mereka tau aku hamil, mereka ingin mencelakai ku.”
“Akulah yang bersalah, mereka inginkan nyawa ku May”
“mereka inginkan Aku mati”
“Dan ku mohon bawa Sahila bersama mu, aku takut jika terjadi sesuatu dengan Sahila!” Ucapnya penuh dengan tekanan di hidupnya, aku melihat raut wajah yang tertekan. Raut wajah yang penuh dengan kebingungan.
”Kak Shaloom, maafkan aku. Aku belum bisa membawa Sahila kesini. Dan Aku juga belum bisa membantu apa-apa mengenai om Jose. Namun, Aku yakin Papa dan yang lainnya sedang mencari cara.” ucapku, aku membuat kalimat yang membuat hatinya merasa tenang.
”Aku butuh pundakmu May, Aku butuh kau mendengarkan keluhan ku. Aku merasa Tuhan memang sedang menegur diriku. Aku merasa Tuhan sedang membuktikan kekuatan cinta kalian yang sewaktu itu aku mainkan. Aku minta maaf May, maafkan kesalahan ku padamu dan Rido.” Serunya kembali.
”setiap orang pernah melakukan kesalahan, setiap orang pernah ingin berbuat khilaf. Dengan Kaka sadar dan mengakui kesalahan Kaka, aku sudah merasa senang dan bahagia.” Aku mengusap air matanya, air matanya yang terlihat mengalir. Menandakan kehancuran didalam hatinya.
”kak Shaloom, menangis lah hingga air matamu berganti menjadi kebahagiaan untuk mu, Ceritakan lah kegundahan mu. Jangan buat hatimu menyimpan luka terlalu lama, Kami semua sangat Menyayangimu” ucapku.
”Aku malu dengan mu May, kau sama sekali tidak memiliki dendam kepadaku, dulu aku ingin sekali menghancurkan mu. Aku ingin sekali membuat Rido meninggalkan mu. maafkan Aku May!!”
“Aku janji May, tidak akan membuatmu susah lagi. Aku janji akan melindungi mu dan selalu menjadikanmu saudaraku.” Dia mendekap kembali tubuhku, dan menangis tersedu-sedu.
”Maaf mengganggu kalian, “ ucap Rani, Rani melihat Shaloom sedang menangis didalam pelukanku, Shaloom yang sadar akan kehadiran Rani segera menyeka sisa air matanya. “kak May, apa bisa membantuku?” Tanya Rani. Aku segera menganggukan kepala ku.
__ADS_1
”Perutku sakit, mulas dan saat aku sedang ke kamar mandi. Aku terpeleset.”
“Lalu, apa ada sesuatu yang keluar dari ****** mu?”
“Banyak sekali flek yang keluar, aku sudah menghubungi Richard. Namun Richard dan Ayah masih dalam perjalanan pulang.”
”ya ampun, Rani Ayo aku antar ke rumah sakit. May kalian jika harus meninggalkan anak-anaknya” ucap Shaloom.
”Apa ibu dan Mama tahu?” Tanyaku.
”tidak,” jawab Rani sembari menggelengkan kepala.
”ibu dan Mama pergi membawa Fizzy, Faaz, Mael dan Alea untuk bermain di Mall”
“ya sudah kamu pergi dulu sama Kak Shaloom ya. Nanti aku Nyusul” aku tidak bisa meninggalkan Ayana dan MaliQ, namun aku pun tidak bisa melepas Rani yang hanya pergi dengan Shaloom.
”Aku gak mau Kak, Aku maunya sama Kaka juga” rengek manja Rani semakin membuatku gusar.
”ya sudah, kamu tunggu disini iya, Aku akan memberi tahu Carry dan mbak. dan aku harus membawa tas ku serta ponselku terlebih dahulu" Ucapku sembari pergi meninggalkan Rani.
Rani dan Shaloom menungguku, Shaloom pun berinisiatif menghubungi Mama dan Ibu agar segera pulang. Shaloom merasa akan ada hal buruk yang menimpa Rani.
"Ran, masih mules gak?" tanya ku, Aku berjalan menghampiri Rani yang sedang duduk di kursi.
"yaudah kita tetep pergi Aja iya" jawabku, Aku segera mengajak Rani untuk pergi menemui dokter. Kak Shaloom mengambil alih kemudinya, didalam perjalanan Rani tak hentinya bertanya mengenai kondisinya karena Rani baru saja mengalami kehamilan seperti itu.
"Rani, Memangnya kamu baru mengalami kehamilan seperti itu?"
"iya kak Shaloom, Sewaktu aku mengandung Mael. kondisiku tidak seperti ini"
"Aku berdoa semoga tidak terjadi Apa-apa ya Ran" ucap Shaloom sembari tersenyum.
('Kak Shaloom sudah terlihat menjadi pribadi yang menyenangkan, Kak shaloom aku doakan semoga secepatnya Om jose ditemukan dan Semoga Om jose dalam keadaan sehat - batinku)
******
RIDO POV.
Kami sedang menunggu Kedatangan Tuang Huangyun, Tuan Huangyun memang sudah menetap lama di Negara Turki. Apalagi dia memiliki keluarga baru yang baru saja ia nikahi, dan gadis itu berasal dari Turki.
"Selamat siang Tuan Huangyun, perkenalkan ini Gusti dan ini Anaknya Rido." Ucap Papa hendra memperkenalkan kami.
"Selamat siang, silahkan duduk Tuan Gusti, Tuan Rido dan Tuan Hendra" Ucap Tuan huangyun sembari Tersenyum, Assisten pribadi Tuan huangyung menarik Kursi milik Tuan huangyun dan beliau terlihat duduk dengan sangat nyaman.
__ADS_1
('Beliau terlihat sangat Ramah, Aku merasa jika Tuan huangyun akan membantu kami untuk menemukan Om jose - batin ku bergumam)
"Bagaimana Tuan Hendra, Apa yang bisa saya bantu untuk Anda?." Tanya Tuan huangyun.
"Biar saudara saya yang menceritakan semuannya, dan sepertinya kemarin saya masih kurang jelas memberikan Informasi untuk Anda."
"Baiklah, ceritakanlah. Biar saya tahu detail permasalahannya" Ucap tuan huangyun.
Papa mulai menceritakan permasalahan yang sedang terjadi, beliau tidak menyela sedikitpun yang sedang Papa jelaskan dan terlihat sangat serius saat mendengarkan penjelasan yang Papa berikan.
"Baiklah jika permasalahan nya seperti itu aku pun mengerti, Namun permasalahan seperti ini tidak dapat saya selesaikan secara langsung. Karena, sudah sangat lama sekali saya tidak mengetahui siapa saja yang menjadi sandera Anak angkat saya."
"Dan bukankah Anda rekan Bisnis Hang, Saya yakin jika Anda mengajaknya bertemu itu akan lebih baik." Aku menghela nafas dengan panjang, proses ini sudah sangat lama bagi kami. Dan Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar.
"Tuan, maaf sebelumnya sudah sangat menyita waktu anda." Ucap ku. Tuan huangyun menganggukan kepalanya, Aku melihat sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Apa Tuan bisa membantu kami, mengakses tempat-tempat yang sering Tuan hang kunjungi. Kami hanya ingin mengetahui itu dan masalah permintaan saya ini tidak bermaksud untuk memata-matai Tuan Hang."
"Baiklah Tuan Rido, Saya akan mencoba mencari cara. saya juga tidak ingin Anak saya melakulan serangkaian kejahatan dan lagi, dan lagi Nyawa orang tak bersalah lah yang menjadi taruhannya." Ucap Tuan huangyun, matanya seperti sedang membendung air mata yang ingin keluar itu.
"Terimakasih Tuan, Terimakasih sudah mau membantu kami"
Tuan Huangyun berpamitan kepada kami. Karena sesuatu pekerjaan yang tidak bisa ia lalui membuatnya terburu-buru untuk segera pergi. Saat ini Kami bertiga sedang menyusun rencana ke tiga, kami yakin jika Om jose memang masih Hidup.
"Papa, Aku sudah meminta Yofie dan Zain untuk pulang. Dan aku sudah meminta Shabiq dan surya untuk menggantikan posisi Yofie dan Zain." Papa hendra terlihat sedang berpikir begitupun dengan Papa Gusti, kaki mereka sama-sama tak henti bergerak.
"Wan dan Richard bagaimana?" Tanya Papa hendra.
"Mereka memiliki informasi mengenai tempat terakhir Om jose disembunyikan" Jawabku.
"Aku yakin bukan hanya masalah bisnis, pasti ada masalah lainnya diantara mereka. Dan aku yakin jika Jose memang sudah tidak bernyawa" Seru Papa hendra, aku terkejut mendengar pernyataan yang diberikan olehnya. Papa Gusti pun terlihat seperti setuju dengan pernyataan yang diberikan Papa hen.
"Papa, Apa Tuan Hang sekejam itu?" Tanyaku.
"Iya, yang Papa tahu seperti itu. Papa sempat berteman dengannya." Jawab Papa hendra.
"Tapi Papa yakin jika papa mu yang Ini mencoba menghubungi Hang, dia akan senang hati menemuinya. Karena dunia bisnis Papamu sangatlah berharga untuknya' gumam Papa.
"Yang aku bingungkan, aku masih berpikir bagaimana aku memulai pembicaraan ini" Ucap Papa Gusti.
"Aku yang akan memulainya dan menemuinya" Seru ku.
'Aku yakin, dia tidak sekejam itu kepadaku. Baginya Aku dan May adalah rekan kerja yang baik dan kontrak kerja sama kami masih ada 5 tahun lagi' gumamku dalam hati.
__ADS_1