TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
Nasihat-nasihat Indah.


__ADS_3

MAY POV back.


Aku dan Shaloom sedang menunggu Rani yang sedang dalam pemeriksaan, Saat itu Aku sangat cemas Namun, Dokter yang menangani Rani tidak memperbolehkan Aku masuk untuk menemani Rani.


"May, duduklah tenangkan dirimu" Ucap Shaloom, Aku mendecih kesal karena lama nya pemeriksaan tersebut. Dan tak lama kemudian, seorang perawat memanggilku. untung saja saat ini shaloom ikut dengan kami karena, keterbatasan mengerti bahasa Turki membuatku sedikit susah melakukan percakapan


"Keluarga Ny,Rani" Panggilnya,


"Kami sus" Jawab Shaloom.


"Silahkan masuk, dokter sedang menunggu kalian" Serunya. Seperti itulah kurang lebih jika diartikan.


"Kak Shaloom, jika dokter berbicara nanti beritahukan Aku"


"Tenang saja, dokter pasti bisa berbahasa inggris. Kamu minta aja dia berbicara sesuai yang kamu bisa" Sahutnya, Aku pun bernafas dengan sangat lega. Kami duduk di hadapan dokter wanita yang sangat cantik dan Ramah.


"Sorry doctor, can you speak in English? I am originally from Indonesia and I don't speak Turkish." Ucapku dengan tersenyum manis kepadanya, Diapun tersenyum melihat kearahku.


"Orang Indonesia toh, Aku juga sama orang sana. Papa ku asli Turki, mama ku orang indonesia. Kalau begitu pakai saja bahasa indonesia" Jawabnya dengan sangat ramah, dia tersenyum kepadaku.


"Alhamdulilah, bagaimana keadaan Adik saya dok?" Tanyaku.


"Janin nya tidak berkembang nona, Saya rasa Harus segera melakukan Kuretase" Terangnya padaku, Aku menangis membayangkan wajahnya yang terlihat kecewa.


"Ini saya sudah siapkan surat persetujuannya, Nona Rani juga sudah mengetahuinya." Ucap nya kembali.


"Kak Shaloom bagaimana ini?" Tanyaku.


"Kamu hubungi saja Richard, atau biar aku saja yang menghubunginya" Sahut shaloom, dia meminta ijin untuk menghubungi Richard sebentar. Beberapa menit kemudian, Shaloom pun kembali dengan kabar yang ia dapatkan dari Richard.


"Gimana Kak?" Tanyaku kembali.


"Dia bilang, dia percayain aja kekamu. Maksudnya kamu sementara yang tanda tangan surat persetujuan kuretase, Richard lagi menuji kesini tapi kayanya masih ada satu jam lagi nyampenya" Ucap Shaloom, aku pun segera mengambil Alih pena yang tergeletak dihadapanku. Tangan ku bergetar dengan sangat hebat, keringatku pun mengucur deras. Aku tak kuasa melihat wajah Rani yang mungkin sekali akan terlihat kecewa, Rani sangat ingin sekali memiliki adik untuk Mael. Saat dia tahu jika dia sedang mengandung, Akulah orang pertama yang ia hubungi.


"Sudah Dok,"


"Baiklah, anda bisa menunggu di depan kembali" Seru Dokter, kami segera melangkahkan kaki keluar ruangan dan duduk kembali di tempat kami menunggu.


"Kak," Panggilku.


"Kenapa May?" Jawab Kak shaloom.


"Aku gak tega sama Rani" Ungkapku.


"Itu sudah Takdir, dia juga harus bisa menerimanya lagipula, Rani kan masih muda" Jawab Shaloom.


"Tapi dia ingin sekali memberikan Mael seorang Adik" Seruku, tatapan mataku kosong, Aku pun menatap ke sembarang Arah.


"May, lebih baik kamu pulang ya. Biar aku antar lagipula, Ayahmu dan Richard sedang didalam perjalan kesini"


"Tidak Kak, aku akan menemaninya disini sampai aku bisa bertemu dengannya kembali" Tukasku, Shaloom pun enggan memaksaku. Shaloom mengerti dengan kekhawatiranku kepada Rani.

__ADS_1


"Baiklah, tapi minum dulu ini" Pinta shaloom, aku pun meneguk air mineral yang diberikan Shaloom.


"Aku tidak tega dengan keadaan Rani. Kak Shaloom, aku hanya berdoa agar kata Ikhlas menghampirinya"


"Aamiin, Aku juga berdoa seperti itu May" ucao Shaloom.


kami masih menunggu Rani, Kami juga banyak sekali bertukar pikiran. bagi Ku Kak sHaloom orang yang sangat enak diajak bicara, dia juga memiliki wawasan yang sangat luas.


Drrrtttt (ponselku bergetar, Satu pesan dari Rido segera ku baca)


~ *sayang, bagaimana keadaan Rani? (Suamiku Rido)


~ Rani harus di kurey, Janin nya tidak berkembang sayang. Kamu dimana? (Me)


~Aku sedang dalam perjalanan pulang, apa perlu aku datang ke Rumah sakit. (Suamiku Rido)


~ Tidak usah, maaf jika aku pulang terlambat. Aku sangat merindukanmu Suamiku. (Me)


~ Aku juga, Love you (Suamiku Rido*)


20 menit kemudian, perawat sudah memberitahukan kami bahwa Rani sudah selesai melakukan Kuretase. Bahkan sebentar lagi Rani akan di pindahkan ke ruang Rawat inap untuk memulihkan kondisinya.


"Kak Shaloom, aku ke kamar mandi sebentar, dan sepertinya Adzan sudah berkumandang" Ucapku.


"kalau begitu Ayo, bareng Aja May"


"baiklah jika begitu, Ayo kita barengan pergi ke mushola" ajak ku padanya.


RIDO POV.


Didalam perjalanan pulang, Papa memberikanku banyak sekali nasihat. Papa Gusti memang panutanku dalam segala Hal, Namun aku tak bisa memungkiri jika Papa Hendra pun sama dengannya hanya saja Papa Hendra terkesan sangat keras.


"Terimakasih Pap, selalu bimbing Kaka hingga saat ini" ucapku, Papa menepuk bahu ku.


"Papa hanya meminta hingga kapanpun menjadilah pribadi yang sangat baik, jadilah orang tua yang Adil." Nasihat Papa gusti selalu saja ku ingat, bagiku Nasihat itu selalu ku rangkum dan aku tanamkan didalam benak dan pikirku.


"Aku melihat semangat Hendra ada padamu Anak ku, dan Aku melihat sisi baik Hendra sekarang ternyata seperti dirimu" Ungkap Papa, Aku tersenyum dan menatap nya lekat.


"Yang jelas sifatku dan sikapku seperti Kalian, kalian yang paling Hebat yang selalu aku punya. Papa kau segalanya dihidupku, kau yang membuat aku bisa seperti ini dan Aku bersyukur dengan Adanya Papa hendra sekarang menyempurnakan diriku. Tentunya aku beruntung memiliki kalian berdua." Ungkapku balik pada Papa, papa tersenyum dan terlihat sangat bahagia mendengar pujian yang keluar dari bibirku.


"Kamu sudah menghubungi istrimu?, entah mengapa wajah menantu Papa itu selalu saja terlihat dimata Papa." Tanya Papa, Papa memang sangat menyayangi May. bahkan terkadang Papa dan Mama menanyakan May dahulu sebelum bertanya mengenai aku.


"Sudah, tapi tadi aku lupa belum menanyakan hal tentang Rani." Jawabku.


"Kenapa dengan Rani?" Tanya Papa dengan sangat penasaran.


"Sebentar Aku akan mengirim pesan singkat kepada May."


~ *sayang, bagaimana keadaan Rani? (Me)


~ Rani harus di kuret, Janin nya tidak berkembang sayang. Kamu dimana? (Istriku tersayang)

__ADS_1


~Aku sedang dalam perjalanan pulang, apa perlu aku datang ke Rumah sakit. (Me)


~ Tidak usah, maaf jika aku pulang terlambat. Aku sangat merindukanmu Suamiku. (Istriku tersayang)


~ Aku juga, Love you (Me*)


"Apa katanya?, Apa Rani baik-baik saja." Tanya Papa, Terlihat dengan jelas Papa mengkhawatirkan Rani yang Papa anggap menantunya juga.


"Janinnya tidak berkembang, jadi Rani harus melakukan Kuretase" jawabku, Papa menghela nafasnya. papa terlihat bersedih mendengar kabar duka yang aku beritahukan.


"Ya Tuhan, tolong kuatkan menantu dan Anak ku."


"siapa yang tahu mengenai Takdir Tuhan, jika memang Tuhan belum menghendaki kita sebagai manusia hanya harus mencoba mampu mengikhlaskannya" Seru Papa.


"Aku juga berdoa agar Rani dan Richard diberikan ketabahan" Gumamku.


"Saat Richard memberitahukan Papa kabar itu, Ia memeluk Papa dan Papa mencium keningnya. Dia terlihat sangat senang saat menceritakan keadaan Rani, Apalagi Mael yang sudah terlihat ingin memiliki adik." Raut wajah sedih menggelayut di wajah Papa, Aku segera menghubungi Richard untuk sekedar menyemangatinya.


Tut..tut..


"*Haloo, Assalamualaikum" Sapa ku dibalik ponsel milik ku.


"Waalaikum salam Do, baru sampai mana" Balas Richard seraya bertanya kepadaku.


"Masih di perbatasan Istanbul, sebentar lagi sampai Rumah. maafkan aku, aku malah meminta tolong kepadamu untuk mengurus clientku bersama Ayah" Ucapku.


"Ah sudah lupakan, Minta doanya aja semoga Rani nya kuat. Oh iya kamu minta May pulang aja, aku bentar lagi sampai Rumah sakit kok" Jawab Richard, aku pun mengiyakan permintaan Richard.


"Baiklah, salam untuk Rani iya" Seru ku, kami pun segera mengakhiri percakapan kami*.


"Papa dan Mama mu pernah juga mengalami Hal itu, apa kau ingat?" Tanya Papa.


"Iya, Aku ingat. Risa menangis dengan sangat kencang." Jawabku.


"Saat itu, aku dan Risa berdoa pagi, siang, malam hingga saat kami terbangun dari Tidur . Doa untuk memiliki adik lah yang selalu kami panjatkan"


"Lalu, Mama jatuh dan dinyatakan harus melalui proses Kuretase. Dan jujur saja hati kaka dan Risa sangatlah hancur"


"Dan Kaka, ingat sekali apa yang Papa bicarakan kepada kami"


"Apa?, benar Kaka masih Ingat" Tanya Papa seakan tak mempercayai ingatanku.


"Tuhan, tidak memberikan apa yang kita Mau, Tapi Tuhan memberikan Apa yang kita butuhkan. Tuhan menyayangi orang-orang yang sabar, bahkan Tuhan Akan memberikab pahala yang sangat besar jika kita bebuat Ikhlas" Ucapku, Papa terkejut dengan apa yang aku ucapkan.


"Papa masih ingat, saat itu Papa mengajak kalian bicara saat kamu berumur 10tahun dan Risa berumur 6tahun. Papa bangga denganmu Kak!" Ungkap Papa kembali sembaru tersenyum manis kepadaku.


"Aku sudah bilang, jika Papa itu adalah panutanku, dan Apapun yang Papa ucapkan Aku akan selalu mengingatnya"


"Aku juga sangat Bangga kepada Papa, dan Mama"


(*Entahlah, bagiku aku masih saja merasa menjadi bayi nya Papa dan Mama. Hingga kapanpun kasih sayang mereka akan selalu aku ingat, Aku hanya meminta kepada Tuhan, sayangilah Dan Cintailah mereka seperti Aku menyayangi mereka, Aku meminta kepada tuhan berikanlah surga untuk semua Orang tuaku. - gumamku dalam batin.)

__ADS_1


(Papa, bangga dengan Mu nak, cinta dan Restu Papa selalu ada untuk mu - batin Papa saat itu*)


__ADS_2