TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
Keikhlasan Hati


__ADS_3

“Kak Rido, Kak May” teriak Zain seraya memanggil kami.


”kenapa Zain?” Tanya Rido, Aku pun segera ikut Rido untuk menghampiri Zain.


”Kenapa ?” Tanyaku Menimpali pertanyaan Rido.


”Lihat lah siapa Adeeva itu!” Seru Zain sembari menunjukan wajah Adeeva.


”Hah” aku melongo terkejut saat menatap layar Tablet yang Zain tunjukan.


”Maksud kamu Apa?” Tanya Rido, Zain menatap wajah Rido dengan tatapan lesu. Aku dan Rido melihat sebuah Foto. Foto tersebut terlihat Papa Hendra diserang mencium Pipi Adeeva.


”maksud kamu dia adik aku juga”


“bukan” jawab Zain singkat.


”Lalu?, kenapa denganmu?, mengapa kau terlihat tidak bersemangat Zain?” Tanya Rido.


”Dia bekas simpanan Papa” ungkap Zain, dia merunduk tanda menyesali apa yang telah ia katakan kepada Rido.


”Maksudmu?, Coba jelaskan!”


”setahu Aku Ibu dan Bapa yang mengurusnya juga bukanlah orang tua kandungnya” ucap Rido kembali.


”tiga tahun Yang lalu saat Aku belum mengenalmu sebagai Kaka ku, Aku pernah melihat Mama Sherly sedang menangis meratapi kesedihannya. Awalnya Aku tak tahu, mengenai Apa itu!” Rido mendengarkan apa yang sedang diceritakan Zain.


”setiap Hari aku ingin mencari tahu apa yang sedang Mama sembunyikan, karena setahu kami Papa sangat lah mencintai Mama” Zain menuturkan keadaan Papa dan Mama nya, Saat ia berbicara seperti itu hatiku merasa takut, takut jika Rido berpaling dariku.


”Lalu, Apakah kamu mencari tahu?” Tanya ku.


”Kak Yofie lah yang mengetahuinya, Lalu Kak Yofie menceritakan kepada ku. Saat itu Kak Yofie mengikuti Papa.”


“Karena sebelumnya Kak Yofie sudah mengantongi Nama wanita itu.”


“Adiva, Namanya. Kak Yofie tidak tahu jika Adiva adalah mantan kekasihnya itu”


”sebentar Mantan kekasihnya?” Tanya Rido.


”iya Adeeva Alias Adiva pernah menjalin hubungan dengan Kak Yofie.”


“jadi gosip itu benar!” Ucap Rido.


”Iya, Kak Yofie memutuskan hubungan nya karena Saat itu Shaloom menerima dan mulai mau didekati Kak Yofie” seru Zain.


”Ya ampun, Aku kira bohong dia.” Rido menghela nafasnya dan melirik ke arahku, “lalu bagaimana dia bisa menjalin hubungan dengan Papa Hendra?.” Tanya Rido, Rido merasa heran dengan pemberitaan secepat ini.


”Aku lupa mengenai itu Kak, Yang jelas tadi Kak Yofie yang memberikan ini”


“dan Aku mengingatnya kembali, wajahnya sangat Asing mungkin karena sekarang dia memakai hijab” gumam Zain kembali.


”Aku tak mengerti mengapa selalu saja ada yang terjadi di kehidupan kita” Ucap ku.


”Namanya juga kehidupan, Tuhan sangatlah menyayangi kita” Ucap Rido.


”Zain, Apa saat itu Papa dan Adeeva memiliki Anak?” Tanya Rido.


”iya, Sempat namun saat itu ia ketahuan berbohong dan anak itu hanya untuk ladang pemerasan saja”


”Apa dulu kamu pernah bertemu dengannya?” Tanyaku, Zain Menggelengkan kepalanya.


”Kak May, Kak Rido. Aku harap kalian tidak membenci Papa Hendra. Tapi percayalah Papa sudah bukan apa-apa yang dulu. Sekarang Papa sangatlah mencintai kami, Papa selalu berbuat Baik.” Ucap Zain.


“Tidak mungkin, semua orang memiliki masa lalu dan Aku berharap Papa sudah mengubur masa kelam nya itu” ungkap Rido.


”Aminnn ya Allah, Aku berharap Papa semakin menjadi pribadi yang baik. Karena kita juga kan belajar dari setiap orang tua. Kamu harus merasa beruntung Zain, Papa masih menyayangi mama Sher dan juga kalian” gumamku.


”Iya Kak, Aku sangat bersyukur. apalagi karena kehadiran Kaka dan Kak Rido. Sangat mengubah kehidupan kami”


”Zain, Maafkan Aku. Karena ku kau membuka luka lama kembali.” Tutur Rido sembari mengusap ujung kepala Adiknya.


”Tidak Kak, Masih banyak yang Kaka tidak tahu!” Gumam Zain.


”Sudahlah cukup Zain, Aku tidak mau bertanya mengenai Aib papa ataupun siapapun. aku akan lebih hati-hati dengan Adeeva.”


”alangkah lebih baiknya Kaka menghindar dan membatalkan kontrak” ucap Zain.


”Jika seperti itu, Aku akan merugikan Rudolf, dan Aku tidak ingin seperti itu Zain”


“Kamu bicara saja dengan Rudolf, mengenai tender itu apa bisa dialihkan keuangan Lain. Maksudku jangan melalui Adeeva”


”Dia wanita yang sangat licik Kak” Ucap Zain.

__ADS_1


”Aku sudah menduga, Baiklah aku akan urus semuanya,” ucap Rido, Aku dan Zain tersenyum menanggapi ucapan Rido.


”semoga Kaka selalu dalam lindungan Tuhan”


“iya, Semoga kamu selalu ingat Aku sayang” ucapku.


”kamu takut Aku kepincut?” goda Rido membuat Zain tertawa menggelitik.


”Apasih, enggak!” Ketuaku padanya, mereka tertawa dengan sangat lebar sangat melihat wajah ketus ku.


”Kaka Adik sama Aja!!!” Gerutuku penuh dengan penekanan.


”jangan Marah dong, Nanti cantik nya hilang loh” bujuk Rido.


”itu Apa?.” Rido menunjukan jarinya ke atap Rumah, Aku mengikuti petunjuknya dan saat aku melihat dan menyadari tidak ada apapun di sana. aku pun melirik ke arahnya Namun, saat Aku akan menatap ke arah ya Ia malah mengecup pipiku dengan kilas, “ Nakal” Ucapku sembari tersenyum manis.


”gitu dong senyum, Kan cantik” Godanya kembali.


”Ahh, Jomblo kaya Ak bisa Apa coba!” Keluh Zain membuat kami tertawa dengan sangat keras.


”Kalian Jahat!” Zain meninggalkan kami dengan bokong yang di tungging kan.


”hahaha” ketawa Rido sungguh sangat lepas, “lihatlah tingkah Lucunya si Zain”.


”Sayang, Sudahlah. Temani Aku dikamar”


”Ayo” Ajak ku sembari menarik tangannya, Rido berjalan beriringan bersama ku.


”bentar!” Ucap Rido seraya menghentikan langkahnya.


”Apa?” Tanyaku, aku menarik sebelah Alisku.


”mengenai Fakta itu”


”Apa sih gak jelas deh kamu”


”mengenai Fakta itu!” Ucapnya kembali.


”Fakta Apa sih?, Adeeva?, masih mau lanjut bicarakan dia” tanyaku dengan mata yang membelalak.


”enggak, Lupain Aja. aku berhenti ingin gendong kamu”


“Enggak, “ Rido menggelengkan kepalanya, tanda ia meyakinkan ku bahwa ia tidak berbohong kepadaku, “Siap ya” ucap nya kembali.


”Siap Apa?, tunggu dulu”


“Siap kamu aku gendong” Seru nya sembari menggendong tubuhku.


“Rido turunkan Aku!” Aku berkali-kali memintanya untuk menurunkan tubuhku yang digendong nya. “ku mohon, Aku malu. Nanti mereka lihat” Ucapku kembali.


”Biarin aja!!.” serunya.


”Aih Tuan Rido sama Nyonya masih saja Romantis, senang deh Mbak Ci lihatnya” ucap Mbak Ci membuatku merasa malu, Rido hanya tersenyum sembari melewati Mbak Ci yang berdiri menatap kami.


”Swit swit” sorak Carry yang terlihat ikut menggoda kami.


”hem, kalian ngapain?, biarkan mereka membuat member baru untuk kalian Asuh kembali” Goda Zain membuatku semakin ingin tertawa.


”buggg” Pintu kamar tertutup.


”Rido lihatlah kau membuatku malu” Gerutuku sembari menatap mata Rido.


”kenapa?, Aku mencintaimu!” Ucapnya penuh dengan penekanan.


”turunkan Aku, dengar itu MaliQ Nangis” Aku mencoba mencari Alasan saat itu.


”Aku udah terlebih dahulu menitipkan MaliQ kepada Zain dan para sahabatnya (pengasuhnya)” Rido menatap ku dengan Tatapan Nakal.


”Kamu Mau Apa?” Tanya Ku, Rido tersenyum dengan sangat lekat.


”Mau bikin kamu gerah” ucapnya.


”Udah Ah, yang pasti-pasti aja” ucapku.


”Ngerti gak?, Ngerti dong!” Matanya mengedip-ngedip ke arah mataku, Aku malah merasakan kegelian yang sangat mendalam.


”oh Pangeranku, jangan berbuat seperti itu. Mataku merasa seperti ada yang menganjal” ucapku dengan menahan tawa di bibirku.


”Kamu kelilipan sayang?” Tanyanya.


”Iya karena lihat mata kamu kedip-kedip gitu”

__ADS_1


“Dasar, Mau Romantis ini”


”kamu udah Romantis kok, hanya saja aku geli liat mata kamu kaya gitu” gumamku.


”Iya udah deh gak akan kedip-kedip lagi!” Ucap Rido sembari menurunkan ku dari gendongannya.


”Gagal Romantis deh” gerutunya, Aku tertawa menggelitik dan merasa puas saat melihat Raut wajahnya itu.


******


Di dalam kamar yang sedikit gelap, kamar tersebut hanya disinari oleh rembulan yang terang diatas langit yang sudah gelap.


"Cia, Aku merindukanmu." Ucap Zain sembari menatap langit-langit kamar yang kosong.


"Batinku kosong, Hampa, Aku tidak bisa melupakan mu Letycia" gumamnya kembali.


"Aku harap Kau selalu melihatku disana, dan menantiku juga Ayana!"


"Cia, Kau tak perlu khawatir."


"mereka sangat mencintai dan Menyayangi Ayana seperti mereka menyayangi Anak-anak mereka"


"Kau Ingat bagaimana kita memulai Cinta kita?, kau wanita yang mampu mengubah hidupku" Ucap Zain, Zain menyeka air matanya. ia berjalan beranjak dari atas ranjangnya, membuka jendela kamar dan menatap bintang-bintang yang sedang mengedipkan sinarnya.


"kau Mampu membuatku melupakan May, Kau mampu membuatku meredam semua dendamku, Kau Mampu membuatku menjadi lelaki yang baik"


"Letycia, Aku sangat mencintaimu"


"Aku mau hidup denganmu disana, membangun Rumah di Surga, Membesarkan Anak-anak kita di keabadian" dadanya kini sesak mengingat betul masa-masa indah bersama istri tercintanya.


"Aku tak menyangka kau pergi meninggalkanku secepat ini Cia, Kau dan Aku saling mengikat janji. kau dan Aku berjanji akan menjaga dan merawat putri kecil kita"


"tapi Takdir berkata lain Cia, Tuhan lebih senang kau berada disana. dan Aku berjanji akan selalu menjaga Ayana hingga akhir usia ku!" air matanya begitu sangat menyeluruh, pipinya sudah basah sedari tadi. Wajah Letycia membayang dibenaknya, Ia tersenyum kala melihat senyuman cantuk dari istrinya itu.


"Hay Zain, Aku sangat mencintaimu. terima kasih sudah setia mendoakanku, Kuharap kau selalu bahagia. Aku titip Ayana iya. Aku sangat Yakin kau adalah ayah Yang baik untuk nya, Ucapkan rasa terima kasih ku untuk Kak May dan Kak Rido. terima kasih sudah menjaga dan menyayangi Ayana. Aku merindukan mu!!!" Bisik Letycia terdengar jelas di telinga Zain.


"Cia, Kau kah Itu"


"Cia, Peluk aku, Aku ingin kau memeluk ku"


"Cia, Aku mencintaimu. Kumohon jangan pergi lagi" Gumam Zain.


"Zain, Zain" Rido mencoba membangunkan Zain yang sedang tertidur dan terlihat mengigau.


"Zain, Istighfar!" Ucap Rido kembali.


"Cia, Aku disini!."


"Peluk Aku, Ku mohon" Ungkapnya kembali.


"Zain, Bangunlah" Rido menggoyangkan seluruh badan Zain, Zain Masih tetap di alam bawah sadarnya.


"Zain, Allahuakbar!" Bisiknya ditelinga Zain.


"Kak Rido" Ucap Zain sembari menatap Wajah Rido, Zain baru saja tersadar dari mimpinya.


"Istighfar Zain" Zain masih melongo, ia mencoba mengusap keringatnya yang sedang mengucur bebas.


"Ambil air bersih lalu sembahyang, Aku tunggu ia?" Zain menganggukan Kepalanya, Zain segera beranjak dan Membersihkan dirinya lalu mereka berdua Sembahyang bersama-sama.


"Teguhkan Hatimu, Berdoalah untuk ketenangan dirimunm juga Almarhum istrimu"


"Ikhlaskan lah dia, Yakinlah kalian akan kembali bersama disana"


"Kak, Aku merindukannya" lirih Zain berucap.


"Hanya Doa yang mampu membungkam perasaan Rindumu" Tutur Rido.


"Ikhlaskan dia, Inshallah Kau pun akan merasa tenang."


"Terima kasih Kak, Terima kasih sudah memberi ku nasihat. dan kau salah satu penyemangat ku" Ucap Zain, Rido merangkulnya dan memeluk nya dengan hangat. Zain menyeka air matanya di dalam dekapan Rido.


.


.


.


.


Keikhlasan adalah Yang paling Utama menggapai Rido allah swt, Yakinlah Allah bersama Kita..

__ADS_1


__ADS_2