
RIDO POV
5 hari sudah paska kejadian yang membuatNya merasakan trauma, Aku sebenarnya gak tega liat May saat itu. bagaikan jantung dan Hatiku tersayat saat melihat Raut wajahnya yang sendu.
"Sayang, Aku akan selalu mencoba membuatmu sempurna dimataku, hingga kita sama-sama menutup Mata. dan saling berpegangan tangan hingga menuju surga nya Allah SWT." dalam batinku kala itu.
Jujur saja aku sangat merindukan senyumannya, merindukan tatapan polosnya. walaupun dua hari yang akan datang adalah hari bahagia ku bersamanya. Entah mengapa, aku tetap ingin mengunjunginya dengan membawakan sebuket bunga Lily dan juga coklat alasan aku untuk menemuinya. walaupun yang sebenernya kepentinganku adalah murni untuk menemuinya. Mungkin, karena merasa rindu dengan senyumannya itu. iya senyuman May sangat membuatku tergila-gila.
kebetulan Hari ini adalah Hari dimana Mama Neni akan menjalankan Fitting untuk dikenakan di Acara pernikahan kami. mama Neni yang baru selesai fitting terkejut dengan kedatanganku.
Aku datang dengan wajah yang sangat gembira dan tentunya itu membuat mama Neni pun sangat bahagia saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahku.
"Kakak kok gak bilang sama mama, Kalau Kaka mau datang ?" Tanya mama sembari memegang wajahku menggunakan kedua tangannya.
"Kakak mau minta Mama antarkan Kakak"
"Loh, memangnya mau minta antar kemana sayang?." Tanya Mama penuh penasaran.
"Tapi Mama Janji dulu, Kakak Mohon' Ucapku seraya memohon.
"Baiklah, Mama Promise!!" Serunya sembari tersenyum. aku sangat suka jika mama tersenyum kepadaku, aku melihat kedamaian ada pada senyumannya begitupun saat aku melihat senyuman May. Calon istriku..
"kerumah May mah, tapi alesannya apa ya mah?" Tanyaku setengah kebingungan.
"Tenanglah sayang, Mama punya ide" Jawab Mama.
Mama segera menghubungi Ibu untuk bertanya apakah sedang sibuk atau tidak, Alasan Mama untuk menemui May kerumahnya adalah dengan menanyakan perihal mas kawin yang akan diberikan Mama kepadanya. tentunya May sama sekali belum tahu bentuk dan ukuran yang Mama belikan. dan memang sejatinya mas kawin adalah permintaan seorang mempelai wanita Namun May adalah sosok wanita yang sangat sederhana, ia mepercayakan semuanya kepada Mama dan Aku.
('Sungguh beruntung aku memilikinya, aku rasa aku tak pernah salah jika mencintai sosok wanita sepertinya - Batinku sembari tersenyum)
Tut.. Tut.(telepon terhubung)
"Hallo jeng Ez" Sapa Mama kepada Ibu. Mama segera mengaktifkan tombol speaker pada ponselnya.
"Hallo jeng Neni, gimana say udah selesai Fittingnya?" Tanya ibu dibalik ponsel miliknya.
"Sudah bebsay, gini Loh aku sama Rido mau kerumah. Apa Menantu kesayanganku sedang tidak sibuk? soalnya aku mau menunjukan Mas kawin yanh akan diberikan kepadanya" Tanya Mama yang tak berhenti mengutarakan niatnya.
"Alhamdulilaah Kalau sudah, Tidak sibuk. ini baru saja mendengar May mencurahkan isi hatinya. katanya Rindu sama Mama mertua" Jawab ibu.
"Aduh, Hati kita samaan iya. Tapi ada yang lebih kangen katanya." Ucap Mama membuatku Malu.
"Iya pastinya Bebsay, kita-kita juga merasakan bagaimana hati berdegup kencang dan ditambah dengan bumbu Rindu kala melaksanakan prosesi pingitan itu" Seru Ibu sembari tertawa kecil.
"iya say maaf ya kalau mengganggu besok saya sudah tidak bisa kemana-mana. karena, Acara pengajian kan besok digelar. saya kurang percaya menyuruh orang untuk membawakan mas kawinnya. Makanya saya sendiri yang akan memperlihatkannya." Seru Mama, Mama mengedipkan sebelah matanya. Aku tersipu malu kala melihat adegan itu.
"baiklah Kami tunggu ya bebsay " Ucap Ibu.
"kalau bisa Jangan bilang-bilang sama May kita mau datang. biarkan ini menjadi kejutan untuk nya" pinta Mama, Ibu tertawa saat mendengar permintaan mama. dan tak lama kemudian mereka mengakhiri pembicaraannya.
"Makasih Mama " Ucapku.
30 menit kemudian, Aku dan Mama sudah sampai tepat di depan pintu Utama rumah Ayah dan ibu. Ayah dan ibu menyambutku dengan Hangat. dekor serba putih sudah dipasangkan ditiap dinding rumah megah milik Ayah, Bunga pun sudah tertata rapi. Besok memang acara pengajian pranikah kami.
"Nak ido, Anak ibu yang sangat Tampan" Sambut Ibu sembari memeluk ku.
"Ibu aku ingin bertemu dengan May, apa boleh ? disini aja Bu, gak usah saya ke atas." Pintaku seraya memohon kepada ibu.
"Baiklah, ayo duduk dulu biar ibu panggilkan Calon istrimu" Ucap ibu, Aku dan ayah juga Mamaku berbincang bersama. Tak lama kemudian Ayah pamit kepada kami karena harus menemui Nene din dikamarnya.
__ADS_1
"Dasar anak bandelnya Mama nih bisa ajaa deh" Goda mama kepadaku, aku tersenyum manis dan tersipu malu.
Saat aku sedang menunggunya untuk menemuiku. Aku tersadar melihat kecantikannya, May turun dengan gaun tidur panjang miliknya. dia tersenyum kepadaku dan kepada mama. pesona mengalihkan duniaku. ada hal yang sangat membuatku semakin mencintainnya, May memakai kerudung selendang yang dililitkan ke leher nya. kerudung yang membuatnya semakin Cantik.
Aku begitu sangat tercengang melihat perubahan pada dirinya. apalagi sudah 5 hari sejak kejadian itu Aku tidak bertemu dengan May.
"MasyaALLAH ini kah calon istriku?" Ucapku terharu akan keindahan wajahnya, mataku yang masih tertuju kearah May berdiri. Tak bisa melepaskannya begitu saja.
"Mama.." Panggil May sembari berlari menghampiri Mama, dan memeluknya dengan erat. May menangis didalam pelukan Mamaku.
"Sayang, Mama mohon jangan menangis lagi. mama tidak ingin melihat mu bersedih, mama mohon Sayang, jangan buat mama bersedih anak ku " Ungkap Mama, Mama menyeka air matanya dan segera menghapus air mata yang berjatuhan di pelupuk mata May.
"Aku malu mah" Ucapnya sembari menangis kembali, May tak segan membenamkan wajahnya di dada mama.
"sayang sudahlah, Mama dan Papa sangat mengerti perasaanmu. Mama ingin kamu dan Rido bahagia." Mama memeluk dan mencium kening may.
"udah dong drama nya sayang, kok aku jadi kaya kambing gini, heheheh" Ucapku sembari tertawa menggelitik, May tersenyum saat melirik kearahku.
"ini untuk kamu.." sembari memberikan apa yang sudah dibawa untuknya.
"Ma..makasih Do" Ucap May seraya terbata-bata.
"Mulai deh kamu, sini duduk disampingku." Ucapku sembari menepuk sofa kosong disampingku.
Kami sedang berbicara serius berdua, Tentunya mama dan ibu pun juga sedang berbicara bersama Namun berbeda tempat denganku. Mungkin, Mereka ingin memberikan ruang untuk kami berbincang bersama.
tok...
tok...
tok...
"permisi... " ucap pria tersebut, may pun menoleh kearahnya.
"Zain, kapan kamu pulang ke indo ?" Tanya May, dia terlihat sangat terganggu dengan kedatangan lelaki tersebut.
"Kemarin May?, Ada acara apa ini?" Tanya Zain dengan heran. May terlihat menatap.nya dengan sinis
"duduk dulu Zain, silahkan! nanti aku panggilkan ibu" Dialog antara mereka terlihat sangat kaku begitupun dengan Tatapan May kepada lelaki itu.
"May ada acara apa ini ?" Tangannya mencegah May yang akan memanggil ibu, May menepisnya dan segera bergegas memanggil ibu dan ayah kedalam. Aku berdiri dan mencoba tersenyum kepadanya namun, Ia sama sekali tak membalas senyumanku.
(Zain adalah orang yang sangat mencintai may, tapi may selalu bersikap dingin pada Zain sehingga pada saat itu Zain pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada May. dan saat itu May mendapat kabar jika Zain sudah memiliki kekasih selain May. Pada saat itu May sudah mau membuka hatinya untuk Zain. May dan zain memang berbeda keyakinan, syarat dari May lah yang membuat Zain memilih untul pergi dan ingin melupakan May. Namun Zain tetap saja tidak bisa melupakan May. ibu dan ayah yang kurang setuju dengan hubungan mereka membuat May semakin mundur untuk memperjuangkan cintanya. dan mungkin karena Zain terlihat kasar kepada may ,Zain sangat overprotektif sehingga ibu tidak menyukainya - begitulah cerita yanh kudapat dari Ayah)
Aku terdiam melihat Zain yang sedari tadi duduk di depanku. tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku maupun Zain. Hingga ibu keluar dan segera menyapa Zain, Mama dan ayah pun mengikuti langkah ibu yang ingin menghampiri Zain.
"Nak Zain, ada apa nak malam-malam kesini? " Tanya Ibu dengan sangat ketus. May duduk kembali dengan santainya disebelahku dan May mulai menggenggam tanganku.
"Saya ingin bertemu ibu dan juga ayah, saya ingin meminta maaf" Ucap Nya sembari mencium punggung tangan Ayah dan Ibu.
"Ada acara apa ini Bu kenapa sangat ramai sekali?" Tanyanya dengan wajah yang penuh penasaran.
"Begini Nak?" belum selesai ayah berbicara ibu dengan sigap memotong Ayah yang ingin berbicara.
"Begini Nak Zain, kenalkan nak Rido ini mantu ibu yang sebentar lagi akan menjadi suaminya May. lebih tepatnya dua hari kedepan akan melangsungkan pernikahan, ibu harap kamu mengerti maksud ibu." Ucap Ibu dengan Tegas.
"Maksud ibu? "
"Ini yang membuat kamu tak ingin membalas setiap pesanku?" Tanyanya kepada May, May hanya terdiam dan sepertinya tak ingin menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Tolong Nak, Mengertilah! " Seru Ibu.
"May jawab pertanyaanku, Inikah yang membuat kamu menjauhiku? " Tanya nya kembali, May memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya itu.
"Dengar Zain, Aku bukan wanita bodoh. aku tahu kau tidak serius dengan keinginanmu untuk menjadikanku satu-satunya. aku tahu kamu memiliki wanita selain aku" Ungkapnya sembari menangis.
"Aku sudah tidak ingin melihatmu, pergilah zain lupakan aku. Kumohon!" Serunya sembari membalikan badannya dan mendekap tubuhku.
"Nak zain, tolong mengertilah. kau sudah tahu apa yang Anak ayah inginkan" Ucap Ayah.
"Tapi Ayah, Zain pergi bukan untuk melupakan may, Zain pergi untuk mencapai cita-cita zain" Ucapnya.
"dengan tiga tahun tanpa kabar ?" Tanya Ibu.
"kuliah Zain disana akan terbengkalai Bu ,karena Zain selalu memikirkan May, jika Zain tetap bersama May disini"
"Jadi maksud kamu anak ibu penganggu?"
"maafkan saya bukan maksud saya begitu."
"Sudah nak pulanglah, jangan ganggu anak ibu lagi. sudah cukup kamu menyakiti nya dengan berbuat kasar padanya." Ujar Ibu.
"Bu saya minta maaf, saya seperti itu karena ingin menikahi may. Tapi may selalu saja menolak." Jawabnya.
"aku menolak karena aku masih sekolah Zain, aku masih sekolah menengah atas saat itu dan kau selalu memaksaku untuk pergi meninggalkan Ibu dan Ayah" Jawab May seraya tertekan, Zain terlihat kesal dengan pengakuan yang May berikan
didepan mereka. Zain menarik tangan May yang sedang dalam dekapanku.
"Maaf mas tolong sopan sama calon istri saya" Ucapku dengan sangat sopan kepadanya.
"saya gak punya urusan dengan kamu, Saya mau ngomong Hal penting dengan May" Seru Zain sembari meluruskan jari telunjuknya dan menatap kasar kepadaku.
"Tetapi saya kurang suka dengan perlakuan anda terhadap calon istri saya" Seruku kembali, kami berdebat dengan sangat lama. aku mencoba menenangkan diriku agar tak berbuat kasar Namun Zain tetap saja memancingku. Ayah yang saat itu mencoba melerai kami, mencoba untuk tak berbuat kasar kepadanya. Dhan yang memdengar keributan didalam rumah, segera menghampiriku kedalam rumah.
"ada apa ini tuan muda ? apa dia menyakiti nona muda?" Tanyanya dengan muka yang sangat kesal.
"Tetap di tempat kau berdiri Dhan tak perlu mengotori tangan Mu untuk hal seperti ini." Ucapku mencoba menahan amarahku.
"Rupanya kau dan ibu mu sama-sama matre, sama-sama melihat harta dan jabatan" Ucapnya sembari menunjuk kearah wajah polos may.
sontak Aku tak bisa menerima perlakuan Zain terhadap May, Akupun melayangkan pukulan ke arah wajah Zain.
"BUG.. BUG, Zain jatuh tersungkur saat mendapat pukulan dariku.
"aku minta kau pergi dan jangan perna kau ganggu calon istriku, jika kau masih menunjukan batang hidungmu dihadapan ku. kau akan tau akibatnya" Ucapku sembari kembali memeluk May yang sedari tadi menangis.
"Dhan, Tolong usir kau orang ini dan pastikan dia tidak menggangu istriku " Pintaku kepada Zain.
"akan ku balas kau May, Tak akan aku biarkan kau bahagia" Dhan memboyong dan melemparkan tubuhnya keluar pagar.
.
.
.
.
"hei baj**** sekali kau menyentuh tuanku dan nona ku, akan kupastikan kau tidak akan hidup dengan tangan-tanganmu" Ancam Dhan, Zain terlihat kesal namun tak ingin melanjutkan perseteruannya.
__ADS_1
Mama sangat berhati mulia, Aku dan Mama memang sungguh tidak tersinggung dengan kejadian tersebut, Mama sangat bangga dengan sikap yang ditunjukan olehku. Bagi mama, Aku mampu melindungi Calon istriku dengan baik.