TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Cobaan tanpa batas!


__ADS_3

"Abrar!!!!!!!" Panggil Alea seraya berteriak dengan keras, "Abrar... Abrar Buka pintunya! " Teriak nya lagi dan lagi.


Ceklek...


Suara pintu kunci yang sedang berusaha dibuka.


"Kak Fizzy" Alea memeluk Fizzy, Fizzy membalas pelukannya serta mencium kening nya. Alea menangis di dalam pelukan nya, Aliq pun melihat pemandangan itu dengan perasaan sedih.


"Uncle Zain dan Papa mengurung ku!!, " Adu nya kepada kakak perempuan nya itu, "Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada Rayna!!, Ia telah menghancurkan ku!!, " Sarkas nya bicara Alea menunjukan kemarahan yang amat besar, Fizzy pun menarik tangan Nya, mendudukkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.


"Alea, tidak baik melawan kekecewaan dengan kekerasan. apakah Papa dan Mama mengajar kan kita seperti itu?, " Tanya Fizzy dengan nada yang sangat lembut, Alea berdiam diri seolah tak mau mendengar kalimat yang Fizzy ucapkan.


Tangan Fizzy mengusap lembut tangan Alea, "Sayang, lihat Kaka!, " pinta Fizzy, "Apa hati mu terus menerus berkata Rayna pelaku nya hingga kau begitu sangat kesal kepadanya!, " Tanya Fizzy.


"Iya!!, " Matanya mendelik kesal, "Kau tak mengerti betapa sarkas nya Rayna mengucapkan kalimat bahwa pernikahan ku dan Qabil tidak akan pernah terjadi!!," Gumam Alea.


"Mengapa kalian tidak percaya padaku!! " Seru nya penuh penekanan wajahnya terlihat sangat frustasi, "Apa kau harus merasakan kehilangan dulu dan baru menyadari betapa sakitnya rasa kehilangan!!, " Gumamnya kembali.


"Alea kami sangat mengerti keadaan mu tapi.. " Aliq mencoba berbicara namun saat Aliq berbicara mata Alea menatap tajam wajah Aliq, Ia pun mencoba mencurahkan kekesalannya kepada Aliq.


"Kau tak perlu berbicara satu kata pun kepada ku sebelum kau dapat membuat Kakak tercinta mu berhenti membuat keluarga ku sengsara!! "


"Aliq tahukah kamu!! siapa yang membuat Aku membenci Kaka perempuan ku, dan apakah kau tahu siapa yang selalu mengingatkan ku akan kejadian meninggalnya Mama!!! dia adalah Kakak mu!!! " Nafasnya tersengal hebat, wajah merahnya terkuras hingga lehernya menenggang. Ia tahu jika memarahi Aliq pun tak akan mengubah keadaan nya, Rayna dan Aliq berbeda.


"Maaf, bukan maksud ku menyalahkan mu!! " tangisan Alea pecah, Ia terlihat tidak bisa mengontrol emosi di dalam jiwanya bahkan Alea membubuhkan tubuhnya di atas lantai seolah tak kuat menahan beban tubuhnya itu, Aliq dan Fizzy merasa sangat khawatir.


saat tangisan itu masih terlihat dengan jelas, tubuh Alea yang terkulai lemas pun meronta kuat.


Ia memanggil-manggil kembali nama Rayna, "Rayna, kepar*t kau!!!, Kau membuat semua hancur dan Aku akan menghancurkan mu!!, " Ia berteriak dengan kencang, Fizzy tak kuasa melihat nya, Ia segera mendekap tubuh adiknya. menangis meratapi nasib malang Alea, "Lea sayang, sadar Nak!! Istighfar!! maafin Kaka sayang.. Maaf!!, " Ucapnya kembali.


Ahhhhhhhhhhhhhrrrrrrrrrrgggggg


Teriak Alea dengan kencang, Ia mencoba melepaskan dekapan yang Fizzy berikan hingga Fizzy pun terpental dari dekapannya.


"Awrg" teriak Fizzy kesakitan,


Aliq pun tak kuasa mencegah emosi yang Alea keluarkan, "Alea Aku mohon jangan menyakiti kakak mu, balas lah padaku!! " Gumam Aliq.


"Aliq, Cepat hubungi Dokter Hans. Aku mohon, Lihat lah Alea sangat depresi!, " Ucap Fizzy,


"Aku tidak bisa meninggalkan mu sendirian bersama nya, " Ujar Aliq,


"Tidak apa-apa aku akan baik-baik saja" Ucap Fizzy.


Saat Fizzy mencoba meminta Aliq menghubungi Dokter Hans, Alea masih dalam keadaan menangis dan berteriak. mencoba menarik-narik rambutnya dengan sangat sarkas, bahkan Ia pun terlihat mengacak-acak rambut indahnya dan menggesek-gesekkan kaki nya ke lantai.


Fizzy menangis melihatnya, "Lea sayang" Fizzy memanggilnya dan mencoba mendekatinya.


"Jangan dekati Aku!!, "


"Mama, Fizzy mohon Mah!!, bagaimana ini?, " Gumam Fizzy di dalam hatinya.


"Jangan dekati Aku!!! " Tolak Alea kembali, Ia menatap wajah Fizzy seraya menyimpan dendam, matanya terlihat membelalak tajam.


"Iya, Kakak hanya minta Alea tenang. tarik nafas, Istighfar di dalam hati. Kasihan Nak, Papa, Kak Faaz dan semua" Ucap Fizzy dengan lembut, "Alea yakin kan Qabil akan sembuh dengan sediakala, kalau Alea seperti ini... "


"Shut'Up!!! " Sela Alea, "Persetan dengan kesembuhan Qabil, Dia tidak akan sembuh!!" Ucap nya.


"Rayna yang akan menggantikannya dulu!!." Gumamnya kembali, tak lama kemudian Alea tertawa dan merasa riang gembira. Fizzy menangis melihat kondisi adiknya itu, tak hanya itu Fizzy juga terlihat frustasi melihat kegilaan yang Alea tunjukan di hadapan nya.


Alea berdiri tanpa merasa lemah, Ia menari seakan bahagia!, tak hanya itu Alea juga menyanyi lagu masa-masa kecil nya bersama May.


"Mama.. " Ucap Alea seraya senang melihat wajah sang Mama, "Ayo bernyanyi bersama Alea" Mungkin saat ini dalam bayangannya, Ia sedang menikmati masa-masa kecilnya.


Fizzy membekap mulutnya seraya tak percaya dengan apa yang di lihatnya, keadaan 6 tahun silam dimana saat Alea merasa kehilangan sosok Kakek, dan juga Mama nya disaat ulang tahunnya.


Dan tepat dua hari lagi adalah hari ulang tahun serta hari pernikahannya, Ia kembali menelan pahitnya kehilangan, "Alea.. " Fizzy menangis melihat kegilaan ini.


"Twinkle, twinkle, little star,


How I wonder what you are!


Up above the world so high,


Like a diamond in the sky." sembari bertingkah dengan riang, Alea bernyanyi seperti sedang bermain.


"Lea" Fizzy menarik lengan Alea dengan pelan, mencoba menyadarkan nya.


"Stop!!" Ucapnya seraya menghentikan tangan Fizzy yang sedang menarik tangannya.


Ia pun melanjutkan kembali lagu yang Ia nyanyi kan sedari tadi "When the blazing sun is gone,


When he nothing shines upon,


Then you show your little light,


Twinkle, twinkle, all the night."


Fizzy sengaja membiarkannya, Fizzy tahu jika Ia memaksa Alea akibatnya akan semakin fatal.


"Then the traveller in the dark


Thanks you for your tiny sparks;


He could not see which way to go,


If you did not twinkle so."


"In the dark blue sky you keep,


And often through my curtains peep,

__ADS_1


For you never shut your eye


'Till the sun is in the sky."


"Mama, bernyanyi Kak Fizzy" Ucapnya melemah,


"As your bright and tiny spark


Lights the traveller in the dark,


Though I know not what you are,


Twinkle, twinkle, little star." Tak lama kemudian, Ia menangis kembali dan kali ini Ia memeluk Kakaknya, mendekapnya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya.


"Mama mati ditangan ku, Lihat ia tenggelam!!, " Ujar Alea, Fizzy mengusap keringat yang ada di dahi milik Alea sembari berucap, "Tidak, Mama pergi karena kehendak Tuhan, berhentilah berpikir hal itu sayang" sembari menangis, suasana diantaranya semakin mencekam.


"Aku anak yang sial!!, Aku pembawa sial.. " Ujar Alea kembali, "Bahkan Qabil pun sekarat di depanku, " Gumamnya...


dia berteriak, "Ahhhh darah darah Qabil sangat banyak aku takut Kaka!.... " Teriaknya dengan histeris.


"Alea ku mohon..... jangan buat aku takut, Tuhan kumohon sadarkan dia, Mama tolong Aku" Dalam batin Fizzy bergumam.


"Aku Capek, " Ucap Alea, dan ia terlihat terkulai lemas hingga tak sadarkan diri.


Fizzy tersadar jika Dokter Hans sudah datang, Ia menyuntikan sesuatu untuk membuat Alea melemas. .


"Terimakasih Dok!, " Ucap Fizzy,


Aliq menggendong Alea dan merebahkannya di atas ranjang milik Alea, Dokter Hans pun memeriksa kan kesehatan Alea.


Fizzy menggenggam tangan Alea sembari menemani nya dalam pemeriksaan Dokter Hans.


"Sudah berapa lama Alea seperti ini?," Tanya Dokter Hans,


"Pasca kejadian itu, sekitar dua hari yang lalu Dokter" Ucap Fizzy, Dokter Hans mengangguk pelan. Ia pun menatap wajah Fizzy dan meresapi area matanya yang menghitam legam.


"Apa dia tidak tidur selama dua hari ini?, " Tanya Sang Dokter.


"Entahlah Dok saya tidak tahu!, " Jawab Fizzy.


"Menurut Abrar dia selalu berteriak, bahkan Papa dan Abrar tidak tidur dan menunggunya di luar." Timpal Aliq, "Papa ingin menemaninya, namun Uncle Zain dan Aunty Rani memilih mengurungnya karena selalu berusaha menyakiti Papa" Timpal Aliq kembali.


"Dia meronta ingin berlari ke kamar Kakak ku, dan Papa menghalanginya. lalu, dia merasa jika Papa melindungi Kakak ku!, " Ujar Aliq kembali.


"Sepertinya Nyonya Rayna harus diasingkan terlebih dahulu!!. maksud saya, Nyonya Rayna tidak perlu tinggal disini terlebih dahulu" Ucap Dokter.


"Dokter apa ini sangat serius sekali?, Apa adik ku kembali Gila seperti saat kehilangan Mama?!" Tanya Fizzy serius, air matanya menetes sembari bertanya hal tersebut.


"Saya harus menunggu hingga nona muda tersadar dan nanti saya akan memasang alat perekam di sana. lalu saya, akan mencoba berinteraksi bersama Nona muda" Ucap Dokter Hans, "sembari saya berbincang, Nyonya Fizzy dan Tuan Aliq dapat melihat bagaimana jawaban saat kami berbincang, dan mungkin hal itu esok hari dapat saya lakukan" Ucap Dokter.


"Saya rasa kalian hanya perlu memperhatikannya, bukan mengurung nya. karena ini dapat mengakibatkan hal yang sangat Fatal!, " Ucap Dokter Hans penuh penekanan.


"Bukan karena saya, tapi karena Nona Natasha. saat kami berbincang 2 minggu yang lalu, Nona muda berbicara bahwa Nona Natasha lah yang memberinya rasa percaya diri." Ucap Dokter Hans, "Nona Natasha selalu membuat nya yakin, dan apa yang dilakukan Nona Natasha itu benar sekali dan mungkin jika Nona Natasha tahu mengenai pengurungan ini, dia orang yang paling menentang!, " Ujarnya kembali, Fizzy dan Aliq mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Dokter Hans.


"Dan satu lagi Nona Alea belum ke tahap Gila, hanya dia memiliki emosi berlebihan. jadi saya mohon tarik kata itu!, " Dokter Hans memang sangat menyayangi Alea, baginya Alea sangat memiliki bentuk wajah yang sama seperti ibunya.


Dokter Hans pengagum setia May, bagi Dokter Hans, May adalah wanita yang nyaris sempurna.


"Tenang Nyonya, Nona Alea sudah seperti anak gadis saya. dan saya tidak akan membiarkan Nona Alea menderita." Ucapnya,


"Baiklah dok saya sangat berharap kesembuhan adik saya, saya hanya ingin Ia bersikap normal layaknya gadis biasa." Ucap Fizzy


"Untuk sekarang saya hanya akan memberikan obat penenang untuknya, saya harap kalian tidak mengurungnya dan salah satu cara agat emosinya stabil. jangan temui dia dengan orang yang sedang di incar nya, dan lebih baik Nyonya Rayna pergi terlebih dahulu dari Rumah ini" Ujar Dokter kembali.


Dokter pun berpamitan untuk pulang, Dokter sangat yakin jika Alea akan kembali seperti sediakala. tak hanya itu, Alea akan menjadi istri yang baik seperti ibunya.


berawal dari rasa percaya diri yang berkurang, lalu ia merasa sendiri dan merasa jika dirinya selalu bersalah lah yang membuat dirinya tertekan sendirian. Alea memang memiliki nasib yang berbeda dari ketiga saudaranya, semasa kecil Alea selalu menutup apapun tentangnya dari orang tua nya sekalipun.


"Lea, Kakak janji akan selalu menjaga kamu!!, kapan pun, dimana pun, dan Sampai kapanpun!! " ~ Batin Fizzy bergumam.


"Aliq.. bisakah kita berbicara?, " Tanya Fizzy,.


"Bicaralah, tidak ada satu kalimat pun yang aku larang saat keluar dari bibir manis mu sayang! " Ucapnya berusaha romantis agar Fizzy dapat merasakan ketenangan, "Apa kau risau karena masalah ini?, " Tanya Aliq.


"Iya jelas sekali Aliq, aku merasa sangat risau. Aku merasa jika permasalahan di rumah ku tidak ada hentinya!, " Ujar Fizzy, "Apa dosa kami Aliq?, semenjak kepergiaan Mama, rumah ini hancur!!, " Gumamnya kembali.


"Ssshhhh!" Tangan Aliq menghentikan Fizzy yang sedang berbicara, "Hentikan, ini hanya masalah ujian yang sedang kita hadapi. ingat apa kata Papa, jika kita berhasil melewatinya, kebahagiaan besar akan datang!!, " Ucap Aliq.


"Aku merasa tidak berguna sebagai kakaknya Aliq, sebagai anak nya dan sebagai seorang saudara!! " Ucap Fizzy.


"Hal yang wajar saat dirimu merasa seperti itu, ketahuilah setiap orang akan menemui titik ini dan tidak hanya keluarga kita yang sedang di uji!!," semenjak menikah, Aliq mencoba mendewasakan dirinya sendiri. Aliq selalu belajar melihat Rido yang selalu bijaksana, Aliq memang lelaki yang Fizzy idamkan dan Aliq memang lelaki yang mampu menjadi Imam bagi Fizzy.


"Kau sudah menjadi putri yang baik, Kakak yang bijaksana dan saudara yang pengertian. ini hanyalah masalah waktu saja, dengarlah istriku.. Aku Rido jika waktu mu untuk ku tersita karena mengurus keluarga mu, aku hanya minta satu hal kepadamu, tetap jadilah istri yang baik untuk ku" Sembari mengusap ujung kepala istrinya, Aliq pun memeluk Fizzy dengan penuh kasih sayang.


Fizzy merasa bahagia, kehidupan Fizzy begitu berubah saat menjadi seorang istri. ia semakin dekat dengan Tuhan, iya memang sudah seharusnya seperti itu bukan, memiliki teman hidup harus membuat kita lebih dekat dengan Tuhan.


"Terimakasih Aliq, Terimakasih karena kau sudah mengijinkan aku mengurus semua permasalahan ini terutama adik ku Alea, Faaz tidak mungkin membagi waktunya untuk kamu semua." Tutur Fizzy, "Kami sudah lama selalu saja merepotkan Faaz, aku tak tega jika membebaninya terlalu banyak. karena bagiku, permasalahan nya juga permasalahan ku dan terimakasih karena kau sudah mengerti dengan keadaan ini." Tutur Fizzy kembali.


"Kau memang teman hidupku yang mengubah hidupku Aliq, Novel itu memang menjadi doa Mama untuk anak-anak nya!, agar anaknya memiliki teman hidup yang dapat mengubah kehidupan anaknya menjadi lebih baik. Aku sangat bahagia memiliki mu Aliq, " Fizzy memeluk erat tubuh Aliq, Aliq pun mengusap lembut punggung istrinya itu.


**


Di dalam Rumah sakit, Faaz dan yang lainnya masih menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Tanpa terkecuali sang Ayah mertua yang selalu meneteskan air mata, berbeda dengan Rido walaupun batinnya saat ini sangat khawatir. lantunan ayat-ayat suci terdengar pelan namun jelas keluar dari bibirnya, sembari memejamkan mata Rido fokus dalam doanya.


"Nat, Aku mohon Sembuh lah demi Damar!! " Ucap Faaz di dalam hatinya,


Faaz tak henti memeluk dan menggenggam tangan Ayah mertuanya, begitupun dengan tangan sebelahnya yang menggenggam erat tangan Ayahnya.


"Papa, menangis lah. aku yakin setelah ini Papa akan tersenyum karena kembali melihat senyuman indah di bibir Natasha." Gumam Faaz.


"Papa sangat mengkhawatirkan nya Nak! " Seru Jimmy.

__ADS_1


"Jelas sekali Papa, kami pun sama sangat mengkhawatirkan Natasha. tapi kini keyakinan ku sangat kuat, Ia wanita kuat, ia memiliki tekad untuk mengurus Aaleesya dan Damar dengan tangannya sendiri dan itu keinginan nya yang sangat mulia." Ujar Faaz, " Dan Aku yakin, tekad itulah yang akan membuat nya bangkit!, " Ujar Faaz kembali.


Jimmy semakin menggenggam erat tangan menantu kesayangannya itu, "Kau memang suami yang bijaksana, terimakasih sudah mencintai Natasha dengan apa adanya dan penuh cinta" Ucapnya.


"Sudah seharusnya Papa, " Ucap Faaz,


Sebenarnya Rido sedari tadi mencoba menguatkan dirinya sendiri karena, sebenarnya Dadanya terasa sesak namun Ia menutupi rasa sakitnya di hadapan anak serta yang lainnya dengan bermaksud tak ingin semakin memperkeruh kondisi kekhawatiran anaknya itu


"Papa, Maliq sudah bawakan teh hangat. ayo minumlah, Abrar juga tadi pulang dan segera membawakan ini" Ucap Maliq membawa obat-obatan milik Rido, Rido pun tersenyum.


"Sungguh perhatian Abrar ini, " Ucap Mael, "Ayo Pah, minum obatnya setelah itu Papa makan dan minum obat kembali." Ucap Mael kembali.


"Papa dan Papa Jimmy sebentar lagi pulang saja iya" Ucap Faaz, Rido dan Jimmy menggelengkan kepalanya bersamaan.


"Faaz gak mau kesehatan Papa dan Papa Jimmy malah yang terganggu!, " Ucapnya.


"Tidak!, kami baik-baik saja kan Iya, Do?" Sembari melirik kearah Rido, Jimmy pun bertanya.


"emmhh.. I.. Iya" jawab Rido sembari tersenyum.


"Baiklah, kalau sudah ada kabar mengenai Natasha Papa dan Papa Jimmy pulang iya" Ucap Faaz, Jimmy dan Rido pun mengiyakan.


"Kenapa kau tak menyewa ruangan VVIP saja Faaz untuk Papa dan Om Jimmy beristirahat" Saran Mael untuk Faaz membuat Maliq tertawa kecil, "Mengapa dengan mu Maliq, kau malah mentertawakan ku!, " Gerutunya saat melihat Maliq mentertawakan nya.


"Tidak Mael, masih banyak orang yang membutuhkan ruangan untuk melakukan perawatan. kedua Papa ku baik-baik saja, mereka kuat dan tak membutuhkan kamar perawatan itu" Ucap Faaz, Mael pun mengerti dengan Apa yang di ucapkan oleh Faaz.


Dokter keluar dari dalam ruangan Natasha, "Itu Kak Dokter Ashley sudah keluar" Ucap Maliq memberitahu Faaz.


Faaz segera menghampiri Dokter, begitupun dengan Rido dan Jimmy.


"Bagaimana Dok keadaan Istri saya?, " Tanya Faaz, Dokter menundukkan kepala nya.


"Apa terjadi sesuatu yang buruk Dok?, " Timpal Rido bertanya kepada Dokter Ashley.


"Dok?, " Tanya Faaz.


"Nyonya Natasha sedang menunggu anda di dalam, dia sudah berhasil melewati masa-masa kritisnya! " Tutur Dokter diselipi senyuman indah di wajahnya.


"Alhamdulillaah Dok!, " Faaz mengusap wajahnya dan sujud di atas lantai rumah sakit, "Terimakasih Tuhan!!! " Ucapnya kembali.


Begitupun dengan Rido dan Jimmy, "Ini semua berkat doa yang sedari tadi kau panjatkan Do, aku berhutang kembali kepada mu!! " Ungkap Jimmy.


Maliq tersenyum dan saling berpelukan dengan Mael, Faaz bangun dan kembali memeluk kedua Papanya.


"Tuan Faaz namun saya minta Nyonya Natasha tidak perlu mengetahui keadaan Tuan Qabil yang saat ini sedang mengalami masa Koma!!, " Ucap Dokter memberitahu, "Saya takut Nyonya Natasha belum bisa menerima rasa terkejut di dalam dirinya," Ucap Dokter ...


"Baik Dok, Saya akan menutupi nya terlebih dahulu dan apakah saya dapat menemui nya?," Tanya Faaz yang tidak sabar ingin bertemu dengan Natasha.


"Nyonya Natasha masih tahap observasi, bisa menemui Nyonya Natasha namun hanya satu orang dan setelah itu kami akan mengantarkan nya ke dalam kamar inap untuk dapat bertemu dengan yang lainnya"


"Baiklah Dok, terimakasih" Ucap Faaz,


"Sama-sama Tuan, namun tadi Nyonya mencari anda. ia menanyakan keberadaan anda. " Ucapnya kembali, Faaz pun segera pergi untuk menemui Natasha.


***


Faaz masuk di sambut dengan senyuman yang indah dari wajah sang Istri tercinta, "Suami ku!?, " Panggil nya, Faaz mendekat dan segera mencium kening nya.


"Sayang, Terimakasih!!, " Ucap Faaz.


"Untuk apa?, " Tanya Natasha, "Dimana bayi kita?, " Tanya Natasha kembali.


"Karena kau telah memberiku anak yang sangat kuat," Jawab Faaz.


.


"Apakah dia selamat?, " Suara Natasha begitu sangat pelan terdengar di telinga Faaz, mungkin karena oksigen yang masih ia kenakan di area mulutnya.


"Kau tak perlu banyak bicara, Aku akan menceritakannya" Ucap Faaz di telinga Natasha, Ia mengangguk pelan bertanda menyetujui ucapan Faaz.


"Aku menamainya Athalla Damar Ridolohi. kau kan yang ingin menamainya nama Papa?, " Natasha mengangguk pelan kembali.


"Athalla nama dari Papa, artinya anak yang mudah diberkahi Allah swt, Damar dari Papa Jimmy yang artinya menerangi langkah semua orang di sekitarnya dan Aku menambahinya Ridolohi, ada nama Papa yang berartikan Rido dari Allah." Jelas Faaz membuat wajah Natasha tersenyum bercahaya, "Apakah kau senang?, " Natasha mengangguk-anggukkan pelan kepalanya sembari tersenyum.


"Dimana dia sekarang?," Tanya Natasha,


"Dia sama seperti mu, dia harus melakukan perawatan. dan apakah kau tahu dia suka dengan lantunan Adzan dari ku, dia anak yang kuat. nanti setelah dokter mengizinkan mu untuk menemui nya aku akan mengajak mu ke sana untuk menemui Damar" Ucap Faaz, Natasha meneteskan air matanya.


"No!!, tidak boleh menangis, Dia bahagia telah lahir ke dunia. apalagi lahir dari rahim perempuan hebat dan cerdas seperti mu!, " Ungkap Faaz.


"Terimakasih sayang," Ucap Natasha, Faaz pun segera mengecup keningnya, Natasha senang mendapat perlakuan hangat dari seorang suami seperti Faaz.


"Oh iya, Apakah kau ingin tahu siapa saja yang sedang menunggu mu di luar sana? " Tanya Faaz, Natasha menggelengkan kepalanya.


"Kedua Papa kita, Mael dan Maliq. mereka setia menemani ku dan setiap saat doa-doa dilantunkan untuk kesembuhan kalian" Ucap Faaz.


"Papa?... " Tanya Natasha seolah tak percaya.


"Iya, Papa kita.. mereka orang yang sangat mengkhawatirkan mu!!, Kau harus segera pulih. dengar kebahagiaan keduanya kini sempurna!!, " Ucap Faaz kembali, Natasha tersenyum dengan sangat manis.


"Faaz... Aku bahagia sekali.. " Ucap Natasha sembari tersenyum, "Dan dimana Qabil?, Apa dia baik-baik saja?!, " Namun kini pertanyaan Natasha membuat Faaz kebingungan.


.


.


.


.


~ChumeyOks.....

__ADS_1


__ADS_2