TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Mencoba menerima


__ADS_3

"Kakak pulang Iya?" Sembari berpamitan ia tak lupa mengecup kening adikn ya, "Ingat, harus kuat!!!" Alea mengangguk sembari tersenyum.


Faaz memilih untuk pulang karena harus menceritakan mengenai kondisi Alea, Faaz pun segera pergi. Faaz memberikan kode agar Maliq ikut sebentar bersama nya. Tepat di hadapan pintu ruangan Alea Faaz berdiri menunggu Maliq, "Ada apa Kak?" Tanya Maliq,


"Maliq, aku akan menceritakan semuanya kepada Papa dan Maliq tolong jangan pernah lengah memperhatikan Alea dan Kakak minta ajak dia untuk tidak selalu memikirkan permasalahan nya"


"Baik kak, Aku akan mengingat apapun permintaan kakak ini" Balas Maliq, Faaz menepuk bahunya. Ia pun segera melangkahkan kaki bersama dengan Aliq dan saat Faaz berada di depan Lobby rumah sakit, ia melihat Aidil yang duduk termenung sendiri.


Aidil menyadari kedatangan Faaz dan Aliq, ia segera beranjak dari duduknya.


"Bagaimana keadaan Alea? " Tanya Aidil.


"Dia sudah baik-baik saja, " Jawab Faaz singkat, Aidil menunduk malu saat melihat tatapan Faaz.


Faaz menepuk bahu Aidil dengan pelan, "Aidil, Aku sudah memaafkan mu. namun, Aku minta jangan pernah kau ulangi kejahatan apapun, kepada siapapun dan karena apapun." Tutur Faaz.


"Dan, dua hari lagi sidang perceraian aku bersama Rayna akan di mulai. aku tidak akan mengungkit masalah perselingkuhan mu, tapi aku minta kamu beri penjelasan kepada Rayna. Aku menceraikannya, tapi tidak untuk menjadi musuhnya" Tutur Faaz kembali.


"Aku berharap kau bisa membahagiakan Rayna, seperti mimpi-mimpi Rayna saat dulu bersama mu" Faaz berpamitan dengan menganggukkan kepalanya, Ia tak lupa merangkul bahu Aliq untuk segera pulang bersama nya.


Aidil tak mampu berkata apa-apa, Ia benar-benar merasa malu dengan apa yang dikatakan dan di lakukan oleh Faaz.


Aidil mendudukkan kembali tubuhnya, Ia menunduk sembari menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya itu.


"Aku benar-benar menyesal, maafkan aku Faaz. jika saja dulu aku benar-benar jujur atau benar-benar meninggalkan Rayna demi dirimu dan menutup kisah cinta ku, mungkin aku tidak akan kehilangan sahabat, saudara seperti dirimu" Ucap Aidil, Aidil benar-benar merasa sangat menyesal.


Ting Nung.. Suara pesan masuk kedalam ponsel Aidil, Aidil segera merogoh saku kanan nya dan segera menata layar ponsel nya..


"Kau tak perlu menyerahkan dirimu, aku sudah menutup kasus itu dan mencabut perkara semuanya. aku hanya minta doakan Adik ku agar mendapatkan kebahagiaan nya, hiduplah dengan Damai Aidil. dan terimakasih sudah merelakan Aaleesya agar tetap bersama ku, kau orang baik dan Aku tahu itu. Maaf jika aku sempat memukul mu, maaf jika aku telat mengetahui kisah cinta mu dan menjadi penghalang kebahagiaan mu" ~ KingFaaz ...


Faaz memberikan sebuah pesan kepada Aidil, Aidil kembali meneteskan air matanya. Aidil pernah kehilangan sosok cintanya tapi rasanya Aidil begitu sangat sedih saat merasa kehilangan Faaz, Aidil benar-benar sudah kehilangan sahabat yang sangat menyayangi nya itu.


"Sebuah penyesalan memang datang terlambat, dulu sewaktu kami belajar bersama, sekolah bersama, makan bersama, hingga tidur bersama, menghabiskan setiap waktu bersama, rasanya sangatlah indah. dan Aku merasa aku benar-benar kehilangan sosok seperti mu Faaz. hatiku hancur, Aku benar-benar menyesal" Gumamnya sembari menangis.


***


Faaz sudah sampai di depan rumahnya, Faaz keluar dari dalam mobil Aliq begitupun dengan Aliq.


"Aliq, " Panggil Faaz.


"Ada apa Faaz? " Tanya Aliq.


"Aku bingung, bagaimana caranya menyampaikan berita ini? " Tanya Faaz, Ia takut sesuatu terjadi pada Rido. Apalagi Faaz tau jika Rido sedang Kolaps, Richard melihat kedatangan Faaz dan Aliq. Ia pun segera menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan Alea? " Tanya Richard,


"Sudah sedikit membaik Uncle dan bagaimana keadaan Papa Rido, Uncle? " Tanya Faaz balik


"Papa mu baik-baik saja, dia baru saja meminta makan dan dia minta dibuatkan bubur oleh Aunty mu" Jawab Richard, Faaz terlihat menyimpan sesuatu di wajahnya dan Richard terlihat memperhatikannya.


"Faaz apa sedang terjadi sesuatu? " Tanya Richard seraya menatap wajah Faaz, "Aliq, Apa yang sedang terjadi? " Tanya Richard kembali pada Aliq karena melihat Faaz yang terdiam dengan pandangan lurus.


"Alea hamil Uncle! " Ucap Aliq memberitahu Richard,


"Dan kami bingung, bagaimana caranya memberitahu Papa?, kami tidak ingin membuat Papa bersedih serta kecewa!, " Timpal Faaz, "Apalagi Alea akan mengandung tanpa adanya sosok suami, Alea juga hamil tanpa adanya pernikahan! " Sambungnya kembali.


"Bagaimana mungkin? Qabil dan Alea melakukan hal itu, mereka tidak mungkin sepertu itu kan? " Tanya Richard, Aliq dan Faaz menggelengkan kepalanya. Mereka juga merasa tak percaya dengan apa yang terjadi kepada Alea saat ini, "Jadi Alea melakukan upaya bunuh diri karena masalah ini? " Tanya Richard.


"Iya, dia takut kami tidak menerima anak itu Uncle." Sahut Faaz, "Bagaimana ini Uncle?, " Tanya Faaz penuh harap.


"Tenanglah, Uncle akan mencoba membantu mu berbicara dengan Papa mu." Ucap Richard.


"Apa kondisi Papa baik-baik saja?, Aku takut Papa anfal saat mendengar berita ini" keluh Faaz.


"Percayalah, Papa mu orang yang sangat bijaksana. dia tidak pernah menjadi orang yang mengusik kehidupan orang lain, dia selalu bisa menerima apapun yang menimpa dirinya. Iman Papa mu sangatlah kuat, Papa mu selalu menjadi penjejuk bagi kami" Ungkap Richard, Faaz merasa sedikit lega dengan kalimat yang di ucapkan oleh Richard.


Mereka pun masuk dan segera menghampiri Rido yang baru saja selesai makan, Fizzy terlihat sudah selesai menyuapi Rido.


Faaz duduk di samping sang Papa, Ia tersenyum lalu menarik tangan Rido dan menggenggam nya serta mengecup punggung tangan Rido.


"Bagaimana keadaan Alea, Kakak?" Tanya Rido kepada Faaz.


"Dia baik-baik saja Papa, Papa bagaimana keadaan nya? " Tanya Faaz, "Papa baik-baik saja kan?" Ucap Faaz, Ia berusaha membendung air mata nya saat melakukan kontak mata dengan Papa yang sangat ia sayangi itu.


"Baik Kak, Papa ingin melihat Alea" Ucap Rido.


"Esok Alea pulang, Alea benar-benar kuat Papa" Jawabnya sendu,


Fizzy merasa penasaran dengan wajah Faaz yang terlihat menyimpan sesuatu yang membuat wajahnya sendu, "Faaz, kau tidak sedang menutupi sesuatu kan? " Tanya Fizzy.

__ADS_1


"Ada sesuatu hal yang harus aku sampaikan, awalnya aku tidak ingin menyampaikan permasalahan ini, namun.. " Faaz menghentikan pembicaraan nya itu, Ia menghela nafasnya.


Rido terlihat menatap wajah anak tertuanya itu dengan tatapan penuh tanda tanya, ia tahu jika kabar itu sebuah kabar tidak baik.


Faaz menatap wajah Papanya itu, Faaz seakan sedang mengambil jarak saat akan menyampaikan kabar tersebut. air mata nya menetes, "Alea Hamil Pah" Ucap Faaz.


Rido terkejut namun ia hanya mengucapkan kalimat yang akan membuatnya tenang, dengan pelan ia mengucapkan "Astagfirullah" berulang-ulang sembari memegang dada nya yang mulai terasa sesak.


"Apa?" Fizzy, Rani, Ayana dan Natasha bertanya secara bersamaan, Mereka terlihat menangis tanpa bersuara.


"Bagaimana mungkin Suamiku? " Tanya Natasha.


Ayana pun terlihat lemas, "Kasihan Kak Lea, dia hamil tanpa ditemani oleh Qabil" Ayana memeluk Zain dan menangis didalam pelukan nya.


"Alea melakukan upaya bunuh diri agar kita tidak merasa kecewa, namun jauh di dalam hatinya ia menerima janin itu hanya saja ia takut kepada kita" Terang Aliq.


"Papa tidak apa-apa kan?, " Tanya Faaz.


"Tidak Nak, " Sembari menghela nafasnya dengan berat, "Papa hanya merasa kasihan dengan Alea, sedari dulu dia selalu merasa terpuruk. entah mengapa nasibnya sangat berbeda dengan kalian, Papa hanya.. " terdengar isak tangis dari bibir Rido, Rido benar-benar merasa sangat kasihan dengan anak perempuannya itu.


"Papa entah apa yang harus Faaz lakukan, Faaz tidak mau jika Alea membuang janin itu karena kita merasa malu dengan nasibnya. ku harap kalian mengerti dengan keadaan Alea, " Ucap Faaz sembari menangis.


"Tidak Nak, tidak boleh. anak itu harus hidup, Tuhan telah menitipkan nya untuk kita besarkan." Ujar Rido, "Papa akan menerima apapun yang terjadi dengan adik mu, bagi Papa dia adalah anak Papa yang baik dan Papa tidak akan membuatnya bersedih"


"Faaz, " Rani mendekat, "Biarkan Alea membesarkan kandungan nya, biarkan kami membantu Alea memberikan support untuk nya. percayalah, Alea dan janinnya akan hidup bahagia" Ujar Rani.


"Iya Aunty, Faaz sangat berharap dengan itu"


"Aku akan selalu menemani nya Faaz" Ucap Mael, begitupun dengan Ayana yang mengangguk saat menimpali ucapan Mael.


"Kita Sepakat semua iya, tidak akan membuat Alea bersedih dengan keadaannya" Ucap Natasha.


"Iya Nat, Aku pun akan membantu menjaga anak itu"


Mereka sama sekali belum mengetahui mengapa hal itu terjadi, yang jelas Alea serta Qabil tidak ingin melakukan hal yang akan membuahkan sebuah dosa.


Jika saja Faaz dan yang lainnya tahu proses anak itu hadir di dalam kandungan Alea, mungkin sudah tidak ada maaf untuk Rayna. bagi Alea, Nasi sudah menjadi bubur. Alea sama sekali tidak ingin menceritakan yang menimpanya karena ulah mantan kakak iparnya itu.


"Papa terimakasih sudah selalu bijak dalam menerima apapun!, " Ucap Faaz, Rido tersenyum.


Rido pun berucap, "Peran orang tua tak hanya menjadikan anaknya seseorang yang sukses, tapi merangkul dan membuat anak nya itu menjadi anak yang lebih berguna juga taat" Sembari menitikan air mata.


"Karena Bagi Papa, sudah bukan waktunya menyesal atau menyalahkan anak atas kondisi ini." Ucap Rido dengan air mata yang terus berderai.


Rani mengingat betul kala Ayahnya yang tidak menerima keadaan Rani, dan saat itu Rido menyampaikan kalimat yang sama.


"Tetapi, orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk menjadi tempat bernaung bagi anaknya. karena Anak sudah tahu bahwa tindakannya salah dan memberikan konsekuensi terhadap kehidupannya bahkan Perubahan cita-cita, lingkungan, serta menghadapi pertanyaan dan semacamnya tentu akan sangat berat bagi anak dan orang tuanya. Terlebih lagi ada tanggung jawab atas makhluk hidup lain yang akan segera hadir." Timpal Rido kembali sembari tersenyum dan menyeka air matanya.


"Hal semacam ini sudah Papa persiapkan sedari dulu, bukan maksud untuk berharap namun, semua orang tua harus menyadari jika hal itu akan terjadi bahkan sudah sangat terjadi."


"Papa hanya ingin menjadi Papa, sahabat, teman yang asyik untuk kalian. namun sekali Papa tekankan, hal semacam itu jangan sampai terjadi kembali kepada siapapun anak atau cucu kita"


"Papa hanya berharap ini pertama dan terakhir kalinya terjadi!! " Ungkap Rido.


"Terimakasih Papa sudah sangat bijak dalam menyikapi permasalahan Alea, " Ujar Faaz yang sudah merasa lega, karena melihat Papa nya lebih legowo dari yang ia bayangkan.


"Setiap Papa menarik nafas lalu membuangnya, Papa selalu berucap dalam hati. Insha Allah Saya menerima keadaan apapun yang Tuhan berikan, bagaimanapun ketentuannya itu yang terbaik dan percayalah Tuhan akan selalu memberikan jalan terbaik untuk kita"


"Semula yang kita anggap baik namun Tuhan tak menilai baik, Tuhan akan ganti dengan caranya sendiri dan sebagai mahluk hidup kita hanya berusaha menerima apapun ketentuan yang Tuhan kasih" Tutur Rido.


"Semua akan menjadi berkah bagi kehidupan kita, "


"Aku selalu ingat dengan apa nasihat Papa," Seru Ayana,


"Aku juga, " Acung Mael menimpali ucapan Ayana.


Rido memang selalu memiliki cara agar semua merasa tenang, tak hanya perihal apapun Rido selalu memberikan motivasi nya agar orang-orang disekitarnya merasa membaik.


Walaupun hatinya rapuh, ia benar-benar selalu memiliki cara agat menutupinya. baginya hanya Tuhan lah yang tahu baik serta buruknya dirinya itu, dan hanya kepada Tuhan Lah ia selalu berharap akan keadaan apapun yang menimpanya.


"Tuhan hanya kepada-Mu lah aku meminta dan berharap, makadari itu berilah kekuatan untuk anak dan calon cucuku. hanya engkau yang mampu menilai dosa anak ku, aku berserah padamu maka ampunilah segala dosa apapun yang telah mereka perbuat, berikanlah mereka kekuatan. " Ucap Rido di dalam hatinya.


Faaz menatap wajah Ayahnya, "Ya Tuhan, terimakasih kau telah memberikan nafas hingga saat ini kepada Papa hamba. aku hanya berharap beliau tetap sehat, hanya dirinyalah gerbang surga yang masih terbuka untuk ku. Aku tak ingin lagi membuatnya terluka dan susah, Aku ingin kebahagiaan untuknya" Ucap Faaz dalam hati, air matanya terlihat menetes.


Malam harinya Faaz sedang duduk di atas sofa yang berada di dalam kamarnya, Faaz memikirkan apa yang telah di ucapkan oleh Rayna kala itu.


"Kasihan sekali kamu Alea, kau akan hidup menderita seumur hidupmu. kau memang pantas menerimanya, Apa kau bisa hidup tanpa bayang-bayang masalalu mu"


"Aku tidak pernah merasa berdosa akan kematian Qabil, kau lah yang membuatnya mati. kau membuatnya mati Alea!!, karena kau berulah padaku dan Qabil yang menjadi korbannya"

__ADS_1


"Malang sekali nasib Qabil mu itu."


Rayna selalu mengirim pesan ke dalam ponsel Alea dan hampir semua pesannya akan membuat Alea merasa sangat tersiksa, karena semenjak Qabil meninggal, Faaz membawa ponsel milik Alea. Ia melakukan itu dengan maksud agar Alea tidak terus menerus mendapat teror dari Rayna, karena saat sebelum Qabil meninggal Faaz pernah memergoki Rayna sedang menertawakan Alea sembari memegang ponsel nya sendiri.


Tak lama kemudian Alea mengamuk dan ingin mencari keberadaan Rayna, itulah mengapa Alea sangat tertekan.


"Aku menduga jika kehamilan Alea adalah campur tangan mu, mereka tidak mungkin melakukan hal konyol yang akan mempengaruhi norma agama. Qabil selalu bilang jika dia akan menjaga dan mengawasi Alea, dia tidak akan mengecewakan ku!! " Ucap Faaz, "Jika hal itu memanglah terbukti mau tidak mau kau akan berurusan dengan ku Ray!!, aku sudah sangat sabar terhadap tingkahmu itu!! " Gumam Faaz, Ia mengepalkan tangannya.


****


Keesokan harinya, Alea sudah di ijinkan pulang oleh Dokter yang menanganinya. Janin yang berada di dalam kandungan Alea cukup kuat katanya, hanya saja Alea harus banyak istirahat di rumah agar memulihkan kondisi tubuhnya.


Di dalam perjalanan pulang, Alea tak henti memandangi jalan yang mereka lalui. Alea menghadap pemandangan dengan tatapan kesedihan, jika mengalami hal serupa dengan Alea. kita mungkin tak akan mudah menjalani nya, namun kali ini Alea akan mencoba untuk kuat demi Calon penerus Qabil dan berharap anak itu bisa memiliki paras nan jiwa seperti Qabil.


Dalam hati Alea, "Sayang, Aku akan membesarkan anak ini sepenuh Jiwaku. Aku harap Anak ini mampu menguatkan ku,.." Kalimat nya terhenti,, "Ah tidak, Aku harap dia kuat menghadapiku. Aku merasa bahagia karena memiliki dia." 


Ia mengusap lembut perutnya, "Nak terimakasih karena telah memilih Aku menjadi ibu mu" Air mata nya menetes, Ia segera menyeka nya, Noni menatap mata Alea, Ia menggenggam tangan Alea dengan erat.


"Tenanglah Alea, Aku akan selalu menjadi sahabatmu. menemanimu dan menguatkanmu, kita besarkan anak itu bersama-sama" Bisik Noni di telinga Alea, Alea tersenyum.


"Bagaimana kabar Papa?" Tanya Alea, "Apa Papa mengetahuinya?" Tanya nya kembali.


"Papa sudah mengetahui, dia tidak mareah namun wajar saja jika sedikit kecewa.:" Ucap Noni, "Aku pernah bilang, Papa Rido itu Papa yang sangat bijaksana dan kau sangat beruntung memiliki beliau" sambung Noni.


"Maliq," Panggil Noni, Maliq menoleh ke belakang seraya menyahuti panggilan dari Noni.


Noni memberikan kode di matanya, Ia dan Maliq telah mempersiapkan kejutan kecil untuk Alea.


Maliq memberikan sebuah kotak hadiah, terlihat pita itu mengikat kotak tersebut. Alea sangat senang saat Maliq memberikannya, "Apa ini Maliq? " Tanya Alea.


"Buka saja, " Ucap Maliq.


Jantungnya berdegup kencang, Alea membuka pita tersebut. lalu ia membuka penutup kotak tersebut, ia begitu takjub melihat kado yang diberikan oleh Maliq dan Noni.


"Lucu sekali Maliq! " Ucapnya, mata nya terlihat berkaca-kaca. lalu air mata itu menetes bebas, jatuh tepat diatas benda yang menjadi kado dari Maliq dan Noni.


"Anak ku pasti senang, karena dia memiliki Uncle dan Aunty yang sangat baik" Puji Alea, membuat Noni tersipu malu.


Sebuah sepatu kecil itu menjadi hadiah untuk Alea dari Maliq dan Noni, "Kak Alea tahu gak, sepatu semungil itu ada filosofinya loh" Ucap Maliq.


"Oh iya, " Alea tersenyum, "Apa itu? " Tanya Alea kembali.


"Sebuah sepatu tidak akan mengeluh walau kita memakainya dalam keadaan bersedih! " Ujar Maliq.


"Ish Maliq, " Tandas Noni, "Emang ada ya sepatu yang bisa mengeluh! " Ucap Noni seraya bertanya, Alea tertawa terbahak-bahak kala melihat tingkah adik bungsunya.


"Maliq bisanya ngarang aja deh, jadi penulis sana biar bisa menghasilkan uang" Ujar Noni yang ikut tertawa bersama Alea.


Maliq merasa senang saat mendengar gelak tawa yang di berikan kakaknya, ia merasa jika Kakaknya benar-benar akan menjadi ibu yang menyenangkan untuk calon keponakannya itu.


"Aku mau nya jadi penulis buat kamu, " Goda Maliq kepada Noni.


"Maksudnya? " Tanya Noni yang merasa heran dengan sikap Maliq.


"Nulisin nama kamu dan nama aku di buku nikah kita, " Celetuk Maliq membuat Noni semakin salah tingkah.


"Cie.. Cie... " Ucap Alea.


"Maliq, " Noni menajamkan matanya, dahinya terlihat berkeringat.


"Kayanya lucu deh kalau Maliq sama Noni nikah" Ucap Alea.


"Tuh denger Non! " Sahut Maliq.


"Iya, Iya deh gimana Alea aja. tapi kayanya gak mungkin deh, Maliq kemarin cerita kan lagi deket sama seorang gadis? Iya kan Maliq" Tanya Noni yang berusaha menutupi perasaannya.


"Mmmphh... udah ah, gak usah dibahas" Pekik Maliq, ia merasa terpekik dengan ucapan Noni.


"Tuhkan liat, Maliq itu egois Alea" Ujar Noni kembali, "Jelas-jelas kemarin dia cerita, " Ujar Noni kembali, kini wajah Maliq terlihat merah merona dan sepertinya Maliq menaha rasa malunya.


"Kalau seseorang gadis yang di maksud Maliq itu kamu gimana Non? " Tanya Alea, Noni tersipu malu namun bukan Noni jika ia tak pandai menutupi rasa malunya.


"Eng.. Enggak mungkin deh! " balas nya, "Soalnya aku bukan... " Kalimatnya tersela oleh Maliq.


"Emang kamu! " Sela Maliq dengan wajah yang polos, ia berbicara dengan pandangan yang tetap lurus memperhatikan laju mobil yang ia kendarai.


"Apa Maliq? " Tanya Alea, "Sekali lagi dong"


"Gak ada repeat!, udah ah Fokus. Papa udah nungguin kita." Jawab Maliq singkat, wajah Noni terlihat celingukan saat mendengar apa yang Maliq katakan. mungkin nanti Noni tidak akan mampu tidur dengan tenang saat mengingat apa yang Maliq katakan.

__ADS_1


"Kau bisa saja membuatku penasaran Maliq, siapa gadis itu. aku harap itu memang aku" Ucap Noni di dalam hati, Ia melihat kaca yang tertuju padanya dan benar tatapan Maliq itu tertuju padanya.


Mereka melakukan kontak mata bersamaan, "Ah tidak Noni, kau tidak boleh mengharapkannya!! " Ucap Noni kembali di dalam hatinya.


__ADS_2