
3 TAHUN KEMUDIAN .....
Dihari ini ada kebahagiaan Namun, kami juga merasakan kesedihan yang amat besar. tepatnya 10 tahun kebelakang saat aku mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkan kedua bayi mungil kembarku yang sangat penuh dengan perjuangan, dan dengan bersamaannya kebahagiaan ku terselip duka yang sangat besar. Aku dan Rido harus menelan pahit kehilangan Nene yang sangat mencintai dan menyayangi kami.
"Mama mengapa menangis ?, aku dan Fizzy sedang bahagia lalu mengapa mama dan papa menangis ?" Tanya Faaz dengan polos, Faaz mengusap air mataku. Faaz juga mencium pIpiku dan pipi Rido dengan sangat terharu, akupun membalas pelukan anak tertuaku.
"hari ini adalah hari ulang tahun mu yang ke 10 dan mama sangat bahagia, karena melihat kalian sudah besar sekali " Jawabku kepadanya, Fizzy menghampiri kami dan segera memeluk ku.
"Mama, Maafkan kami jika selalu saja merepotkan Mama dan Papa?." Ucapan Fizzy sungguh membuatku terharu kembali.
"Mama, Papa tidak menangis dan tidak merasa kalian repotkan!" tuturku sembari menciumi pipi anak-anak ku yang kini sedang terduduk didalam pangkuanku, "Sudah kewajiban Mama, dan Papa merawat, mengasuh, Menyayangi kalian".
"lalu mengapa Mama menangis, Aku dan Faaz memang tak ingin merayakannya!" Seru Fizzy.
"Iya, Apalagi kakek juga nenek akan datang terlambat menemui kami" Timpal Faaz.
"Mengapa tidak ingin merayakan, kita harus berdoa dihari ini Agar Allah Swt, selalu memberikan kesehatan dan umur yang baik untuk kalian" Ucapku kembali.
"Baiklah Papa akan menceritakannya, tetapi sebelumnya panggil Adik-adikmu iya" Pinta Rido seraya memeluk tubuh Faaz. Faaz memanggil Alea, Maliq dan Ayana. Zain memang selalu menitipkan Ayana kepada kami terlebih Ayana yang selalu merindukanku dan merindukan Rido membuat Zain memintaku dan Rido menjadi wali Asuhnya dan juga menyekolahkan Ayana di tempat kami dan kami sama sekali tidak merasa keberatan untuk itu.
"Papa ayo ceritakan, mengenai hari ulang tahun kami yang selalu membuat Papa dan mama bersedih!" Faaz dengan cerocosnya meminta kami untuk segera menceritakan semuanya.
"Baiklah, Ayo duduk dan dengarkan cerita Papamu" Ucapku, kami duduk dan mulai mendengarkan cerita Rido. sebelum Rido menceritakan nya Rido menatap kearahku, akupun menganggukan kepalaku tandaku menyetujui tentang masa-masa kesedihan kami kala itu.
"dulu ada seorang Nenek tua yang sangat menyayangi mama kalian, dia nene yang sangat baik!."
"Pada saat Mamamu mengandung kalian, dia selalu mengusap perutnya dan berbisik kalian akan seperti kami, Kami selalu tersenyum saat Nenek berucap seperti itu" Ungkap Rido, mulutnya melengkung membentuk senyuman.
"kalian akan selalu saling menyayangi, dan menghormati satu sama lain" Rido membendung Air mata yang akan turun membasahi pipinya, Ia mencoba menahan nya agar terlihat lebih tegar dariku.
"Lalu, Apa kami seperti Papa dan Mama?" Tanya Fizzy dengan tatapan penuh penasaran,
"Tentu, kamu memiliki paras yang cantik seperti mamamu, Faaz memiliki ketampanan seperti Papa" Ujar Rido, Aku terisak mengingat masa-masa itu. aku tak mampi menahan kesedihan ku kala mengingat wajah cantik Nenek sally, Nenek yang selalu menyayangi dan menganggapku seperti cucunya sendiri.
"aku ingin seperti Mama, mama yang selalu memiliki hati yang putih. dan ingin seperti Papa, seorang lelaki yang sangat baik juga sabar" Ucap Fizzy, aku heran dengan apa yang Fizzy ucapkan. seorang Anak berusia 8 tahun dengan ungkapan kalimat yang membuat kami terharu.
"Apa nene itu yang berada di lukisan itu pap?, lalu kemana ia sekarang ?" Tanya Faaz sembari menunjukan lukisan besar dengan tangannya.
"Iya betul sayang" Jawab ku, sembari tersenyum kearah mereka.
"lalu sekarang kemana nenek itu, aku ingin sekali berterimakasih kepada nenek itu karena doanya lah aku sekarang dan Faaz seperti mama juga Papa" seru fizzy yang sembari memeluk ku.
"pada saat hari kelahiranmu, beliau meninggalkan kami. beliau bernama Nene sally. Nene Sally adalah ibu dari opah gusti. beliau sangat baik, sangat mencintai kami" Ucapku, Aku tak bisa menahan air mataku.
"Nenek Sally tidak pernah membedakan kasih sayang kepada mama ataupun Papamu" air mata mengalir di pipiku, Faaz dan Fizzy menyeka air mata yang mengalir di pipiku lalu membuat ku terseyum kembali.
"Ayo Mama,Papa kita berdoa untuk eyang Sally" Ajak Faaz kepada kami.
"Iya Mama,Papa supaya eyang tersenyum bersama tuhan " ungkap Fizzy. Faaz dan Fizzy mewarisi sifat ayahnya, dia selalu saja tak lupa berdoa dalam segi apapun, aku sangat bersyukur memiliki mereka didalam hidupku.
"Baiklah Ayo Faaz yang pimpin doannya" Pintaku, Faaz segera menengadahkan kedua tangannya dan segera mengucapkan kalimat yang bersifat doa. Aku sangat mencintai Anak-anak ku demi apapun itu.
****
Selesai melakukan doa bersama, Aku dan Rido memilih untuk bermain bersama mereka ditaman belakang rumahku. Kami ingin sekali memiliki foto mereka bersama Namun Anak ku Alea dan Maliq terkesan tidak akur dan terkesan selalu saja memiliki masalah. mungkin karena usia yang terpaut dekat membuat mereka selalu bertingkah tidak akur.
"Lihatlah Faaz seperti mu, Dia tampan sekali" Ucapku, Rido mencium keningku.
"Dia memiliki hati yang sangat baik seperti mu sayang, Aku yakin Faaz akan menjadi Kakak yang baik dan memperlakukan adik-adiknya dengan baik." Ungkapku kembali.
"Kau membuatku malu" Ujar Rido, Rido meminta semua Anak-anak berbaris ria. dia ingin sekali mengambil potret kebersamaan mereka. namun, mereka selalu saja bermain.
"Ayolah, cepat MaiQ sayang." pintaku, tetapi Mereka sedang merasa seru-serunya bermain dibelakang taman rumahku.
FIzzy , Faaz dan Alea
MALIQH DAN AYANA
aku dan rido selalu berusaha mendekatkan mereka walaupun terkadang alea dan ayana selalu saja berantem lebih tepatnya alea yang selalu membuat ayana menangis tetapi maliqh selalu melindungi ayana dari kemarahan alea apalagi jika zain sudah datang kerumah kami , semua anak-anak selalu memperebutkan uncle zainnya itu.
"Nah sudah kan cantik dan tampan sekali" Ucapku yang sembari mengambil potret mereka.
"Kamu sudah tinggi melampaui kaka-kaka mu maiQ" seru rido yang mengusap lembut kepala maliQ.
"sayang aku bahagia memiliki mu, lihatlah anak-anak kita sudah sangat besar bukan aku berharap kita dapat membesarkan nya bersama hingga kita tua dan memiliki cucu yang banyak" ungkap rido yang mencium keningku .
"Papa meminta juga potret kita" Ucap ku yang sembari membaca pesan papa diponsel.
"Aku akan mengirimnya, ayo kamu memeluk ku. biar mereka secepatnya menghampiri kita"
"Mereka selalu senang melihat kemesraan kita" Timpal Rido.
__ADS_1
"sebentar Sayang" Ucapku.
#Ceklek (Suara Kamera memotret)
~ Mesra sekali, apa kalian sedang berada ditaman belakang?. (jawaban pesan papa Gusti)
"Apa kata papa sayang ?" Tanyaku
"Dia bertanya keberadaan kita sayang" Ucap rido seraya menjawab pertanyaan ku, lalu aku dan Rido menoleh ke belakang. karena mendengar suara langkah orang banyak dan...
"Selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun Faaz.. selamat ulang tahun Fizzy " nyanyian papa dan yang lainnya terdengar sangat jelas.
mereka yang memberikan kejutan untuk kami terlihat sangat bahagia dan Kami pun merasa bahagia sekali karena dapat berkumpul bersama dengan mereka. walaupun bagiku masih ada yang kurang karena Riswan tidak bisa ikut serta dengan kami, Begitupun dengan Dhan dan Fahriye yang benar-benar tidak bisa hadir disini karena ada sesuatu pekerjaan besar.
kami bercanda gurau bersama seperti dahulu setiap acara yang kami adakan pasti selalu bernyanyi bersama menikmati setiap dentuman musik , anak-anak semua bermain bersama .
"SAYANG, AKU MENCINTAIMU DAN AKU AKAN SELALU BERSAMAMU" BISIK RIDO DITELINGAKU, Aku tersenyum kala mendengar kalimat itu, Kalimat yang tidak pernah lupa ia katakan.
Aku melihat Anak-Anak sedang Asyik bermain, Aku juga melihat Rani dan yang Lainnya sedang bercanda gurau.
"Rido, May ada yang ingin Papa bicarakan dengan kalian" Ucap Papa gusti, Aku merasa bingung dengan wajah Papa yang terlihat sangat gusar.
"Apa papa?" Tanya ku.
"Nanti saja selesai Acara papa akan bicarakan dengan kalian begitupun dengan Ayahmu" Seru papa.
"Baiklah Pah, Semoga masalahnya bukanlah hal yang rumit" Ungkap Rido, Aku kembali menghampiri semua anggota keluarga, Aku melihat wajah sendu Adik ku saat itu.
"Ran, Sini" panggilku.
"Apa kak?" tanya Rani seraya menghampiriku.
"kamu kenapa?" Tanyaku kembali.
"Aku merasa mual dan pusing"
"Udah telat?"
"Udah sih seminggu, tapi terakhir aku cek hasilnya negative"
"Nanti cek lagi iya, siapa tahu bakal dapet calon Adik untuk Mael" ucapku.
"Ya allah, senengnya kalau memang begitu"
"kenapa sayang?" Tanyaku.
"Mael cuma melindungi Alea mama, Maiq mau memukul Alea karena Alea akan menjambak Ayana" Ucap MAel.
"Lalu mengapa Alea ingin menjambak Ayana, Apa itu baik jika dilakukan?" Tanya ku kepada semua Anak-anak ku.
"Ayana cari perhatian terus!" ungkap Alea, Ayana menangis saat melihat tatapan yang Alea berikan.
"Alea, selalu saja membenci Ayana mama" ucap Maiq.
"Kau harus memanggilnya Kaka Alea, maiQ!. dia itu kakamu " Ucap Mael.
"Kau diam!" teriak Maiq, Mael terdiam kala kaka kecilnya menyuruhnya untuk diam.
"sudah-sudah, Apa kata mama jika kalian marah"
"Pegang dada diri sendiri lalu ucapkan Astagfirullah" Ucap Faaz yang sembari memperagakan gerakan yang sering dilakukan oleh ku jika Aku sedang marah ataupun kecewa.
"Nah, lihatlah kakamu pintar bukan?'" Ucap Rido.
"Ayo Papa tidak ingin Ada orang yang ingin selalu benar dan selalu menyalahkan orang."
"mengakui kesalahan pada diri sendiri itu adalah kebaikan" Ucap Rido kembali.
"Maafkan Alea, Alea salah. Alea tidak suka jika Ayana selalu mendapat perhatian Mama" gumam Alea.
"Aku menyayangi mu kak Alea" Ungkap Ayana.
(Tapi aku tidak!!! - batin Alea saat itu)
"Apa Alea meminta Maaf dengan sungguh-sungguh?" Tanya Rido kepada Alea.
"Iya Pah, Alea minta maaf"
"minta maafnya kok kepada Papa sih" Ucap Rido kembali.
"Ayana, Kaka minta Maaf karena telah mengusik mu"
"Aku sudah memaafkan Kaka" ucap Ayana sembari memeluk Alea.
__ADS_1
"Aku juga minta Maaf kak" Ucap Maliq
"Nah, Mael mau minta maaf juga gak?" Tanya Ku kepada mael.
"Aku mau minta maaf sama Mama dan Papa karena aku gak bisa melerai Alea dan Maliq dengan benar."
"Maafkan Mael papa Rido, Mama May" ucapnya sembari menundukan kepalanya.
"mama sayang banget sama mael, sama kalian semua" Ungkap ku.
"Mami Rani, dan papi juga Bangga dengan mael yang mau mengakui kesalahannya"
"kak Rido, Kak May terimakasih sudah mendidik Mael seperti anakmu sendiri" Ucap Rani.
"Sudah seharusnya Ran, Mael juga Anak ku dan Anak May" Tukas Rido, semua anak-anak memeluk ku dan juga memeluk Rido. mereka semua sangat menyayangiku.
.
.
.
Selesai Acara ulang Tahun Anak kembar ku, Aku dan Ridi memutuskan untuk menemui Papa. Papa sudah menunggu kami di ruangan kerja Milik Rido.
"Bagaimana Pah?, Apa ada hal buruk yang sedang terjadi?" Tanyaku, Papa tersenyum.
"Tidak Nak, Papa hanya ingin bertukar pikiran"
"baiklah, Apa ada yang mengganggu pikiran Papa" Tanya Rido, aku menatap wajah Papa dengan lekat. tidak lama kemudian Ayah, Ibu, Mama , Rani dan Ricard datang untuk ikut bergabung bersama kami.
"semua Sudah kumpul?" Tanya Papa.
"Zain diluar mengasuh Anak-anak Pap" Jawab Rani.
"Yasudah, Kita lanjut saja iya" Ucap Papa.
"Papa akan Pensiun di kantor!" Ucap Papa, Qku terkejut.
"Papa dan Mama?" tanya Rido.
"iya, Papa ingin Kau dan May meneruskannya. dan Saham Papa masing-masing sebesar 20 persen sudah Papa berikan Untuk Richard dan Dhan" Ucap Papa.
"Namun, Itu semua kembali kepada kamu Rido. karena kamulah pemiliki saham keseluruhannya" Timpal Papa kembali.
"Aku setuju Pa, mereka juga saudara ku semuanya" tutur Rido.
"baiklah, Papa rasa sekarang Papa lebih ingin mengasuh cucu-cucu Papa" ungkap Papa, Papa menatap wajah Rido dan wajah ku, "Apa kalian setuju?" tanya Papa.
"Papa, Memang ada baiknya Papa Mama istirahat. May seneng dengernya" Ungkapku, sembari memeluk Papa.
"Papa percaya kepada kalian Semua, Kalian bisa menjaga baik perusahaan Papa." Seru Papa.
"Lagipula pembahasan ini sudah lah menjadi pembahasan Kami Pa, Namun kami belum bisa membicarakannta dengan Papa" Ucap Rido.
"Aku senang sekali, Mama dan Papa.akan lebih banyak waktu untuk kami. Aku berharap ibu dan Ayah juga sama seperti Itu" Ucapku.
"Aminkan saja dulu" Ucap Ayah. Aku memeluk Ayah dan mendekap tubuhnya.
"jadi kalian setuju iya" tanya Mama.
"iya Mama, kami sangat setuju"
"baiklah biarkan Bowo mengurus semuanya"
"Aku akan bicara dengan Richar mengenai Hak nya itu"
"Rido, Sudahlah nanti saja. Aku malu tidak bisa ikut mengelola perusahaan Papa" Seru Richard.
"Tidak Apa walaupun begitu, Disini ada Hak atas dirimu" Ucap Rido.
"Pah, Mah terimakasih atas semuanya." Richard memeluk Mama dan Papa, Lalu ia berjalan dan segera Memeluk Rido.
.
.
.
.
Notes Author :
Untuk pecinta "Are Not the same" Maaf Banget gak bisa Update disana, Aku bakal lanjutin dan Pindahin naskahnya disini sepertinya.
Dan Season Dua akan tetap Update disini... terimakasih Untuk Readers ku yang baik Hatinya Masya allah, Semoga sehat terus dan rezekinya Lancar. Aminnn... I LOve You.
__ADS_1
jangan bosan membaca iya, Tunggu Give away selanjutnya.
~Chumey Oks....