TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Semakin panas dan Takut


__ADS_3

Natasha semakin penasaran saat mengetahui isi Hati suaminya terlebih Faaz mengakui rasa cinta yang sudah tumbuh untuknya.


"Faaz, Aku mencintaimu sangat-Sangat mencintaimu. Aku harap kita akan menyelesaikan apapun masalah yang kamu dan aku hadapi. Genggamlah tanganku Faaz, Rangkulah bahuku, ringankanlah bebanmu.. agar kita dapat mencapau rido illahi." Gumam Natasha didalam hatinya, Natasha tertidur memeluk tubuh Faaz dengan Hangatnya, Air matanya mengalir membasahi kemeja piyama yang dipakai oleh Faaz.


"kenapa denganmu sayang? kenapa menangis?" Tanya Faaz saat terbangun, Faaz melebarkan tangannya sehingga Natasha dapat memeluk Faaz lebih leluasa.


"Aku merindukanmu Faaz " Jawabnya singkat.


"Aku sudah disini sayang" Jawab Faaz sembari mengecup kening istrinya.


"Tapi nanti kamu pergi lagi, dan meninggalkanku disini " Ucap Natasha dengan nada yang sangat Manja.


"Jika kau seperti ini, kau membuatku gemas sayang" Faaz mencium Natasha dengan lembut, Faaz dan Natasha saling menatap satu sama lain setelah itu mereka menghabiskan sisa malamnya dengan sangat Hangat.


Keesokan Harinya Faaz terbangun dari tidurnya semalam dan tidak mendapati Natasha yang tertidur disampingnya.


"Kemana Natasha iya?, Apa sepagi ini dia sudah berada di dapur" gumamnya.


"Ueegghh...Ueghh ..Oooo " Suara Natasha dari dalam kamar mandi. Saat Faaz mendengar suara itu, Faaz segera beranjak dari tempat tidurnya untuk menghampiri Natasha. Faaz mengetuk pelan pintu kamar mandi miliknya itu.


Tok..tok..tok (suara ketukan pintu)


"Nat, kamu tidak apa-apa kan?" Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar mandi, Hanya terdengar suara air yang keluar dari dalam kran itu dan terdengar suara Natasha yang sedang ingin memuntahkan isi perutnya.


"Sayang, Kamu denger aku kan? Buka sebentar dan sebaiknya kita pergi ke dokter!" ucapnya, Natasha membuka pintunya dan memeluk Faaz dia seakan lelah karena berjuang untuk mengeluarkan isi dalam perutnya.


"Kamu pucet, sudah berapa lama seperti ini"


"Entahlah Faaz akhir-akhir ini seperti ada yang ingin aku keluarkan dari dalam perutku, dan itupun selalu saja membuatku lelah" ucapnya, Natasha membekap mulutnya dan kembali menekan perutnya lalu pergi ke dalam kamar mandi.


"Ueghh.. uegghh... Oooo" Sembari menekan perutnya Natasha terlihat sangat kelelahan, Faaz membantu dengan memijit pungguk Natasha.


"Sudah enakan? "


"Belum Faaz ini masih sangat mual, dan kepalaku sangatlah berat." Serunya.


"Yasudah istirahat saja, biar Aaleesya aku yang mandikan dan nanti aku antar ke kamar ini setelah itu kau harus ikut denganku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu" Natasha mendengarkan detail kalimat yang diberikan suaminya, bahkan Natasha enggan sama sekali menolaknya.


"begini saja, aku akan panggilkan dokter untuk mu." Ucapnya kembali, Natasha mengangguk pelan tanda menyetujui keinginan suaminya.


Natasha yang masih sangat mual dan merasa sangat pusing memikirkan bagaimana keadaan semalam saat Faaz mengakui Rasa cintanya kepada dirinya apalagi Natasha sangat bingung dengan kebohongan yang Faaz bicarakan namun, walaupun begitu Natasha memilih untuk berpura-pura tak mengetahuinya.


"Aku mandi dulu, aku yakin akan ada bayi didalam perutmu " Serunya sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Benarkah jika begitu aku sangat senang Faaz." Seru Natasha. Faaz berjalan menuju kamar mandi dengan wajah sumringahnya, Faaz tak dapat menutupi rasa senangnya saat melihat wajah istrinya itu.


.


.


.


.


.


.


Di meja makan Rido dan anggota yang lainnya termasuk Richard, Rani dan Zain sedang menunggu Faaz dan Natasha turun dari kamarnya. namun, Saat bibi ester memberitahu jika Natasha sakit Rido meminta Bibi ester untuk mengantarkan sarapan Mereka kedalam Kamar.


"Kenapa dengan Natasha Kak?" Tanya Rani.


"Natasha dari kemarin mengeluh pusing, Lalu mual terus Aunty" seru Fizzy seraya menjawab pertanyaan Rani.


"Mungkin Kamu mau dapet cucu lagi, ah senangnya!!. lihatlah Mael Papamu sudah mau dua lah kamu masih saja jomblo" Goda Richard kepada anaknya, Mael tersenyum dan menatap Ayana.


"Mengapa kau meliriku Mael, dan mengapa tersenyum Nakal seperti itu?" Tanya Ayana, dia melengoskan pandangannya dan terlihat sangat salah tingkah saat Mael menatapnya penuh harap.


"Enggak kok, Ayana cantik Mael suka banget liat senyum Ayana" Jawab Mael sembari tersenyum penuh arti. Mereka semua tertawa kecil dibuatnya, Ayana semakin salah tingkah saat Mael memuji senyumannya itu.


"Eh, Kak natasha Hamil kayanya. Kenapa gak Uncle periksa aja?" Tanya Ayana.


"Uncle dokter Ahli bedah jantung, ahli paru masa iya periksain kandungan" Jawab Richard sembari tersenyum.


"Tapi kan kata Papa Ido, Uncle Richard bantuin Mama lahirin Aku " Sahut Alea.


"Oh kalau itu karena Urgent sayang. " Jawab Richard sembari tersenyum.


"Kenapa gak MaliQ aja yang periksa, MaliQ kan mau jadi dokter kandungan" Ceplos Rani yang saat itu sama sekali tak mengetahui keadaan MaliQ dan Natasha.


"Oh gak perlu Aunty, Faaz udah panggil Dokter matt untuk memeriksa Natasha. Lagipula kalau dokter yang masih belajar mana bisa periksa orang sungguhan kan masih jadi murid belum lulus" Seru Faaz yang datang secara tiba-tiba, MaliQ terlihat kesal saat mendengar apa yang Faaz ucapkan.


"Gak usah Aunty nanti MaliQ malah megang-megang Natasha itukan maunya MaliQ dan Kakak tertuaku takut jika MaliQ dan Natasha semakin dekat." Ungkap MaliQ, Rani dan Richard sangat bingung saat mendengar perseteruan halus antara Kaka beradik ini.


"Sudah, emm kalian becanda nya kelewatan. Udah ah Faaz ayo kita ke kantor banyak client yang ingin sekali bertemu sama kamu" ajak Fizzy Namun Faaz dan MaliQ masih saja saling menatap tajam.


"MaliQ, Ayo kita pergi sekarang lagipula aku harus ketemu dospem aku. Ayo maiQ!!" Bujuk Ayana, MaliQ beranjak dari tempat duduknya dan segera berpamitan kepada semua orang lalu Maliq melangkahkan kaki melewati Faaz. namun saat sesudah melewati Faaz MaliQ menghentikan langkahnya dan membalikan badannya dan berbicara serius ke arah kaka tertuanya.


"Dengar, Aku bisa saja berbicara sekarang tetapi ini belum saatnya dan kau masih memiliki waktu untuk bercengkramah bersama Papa dan semuanya setelah mereka tahu kebohongan itu. Aku pastikan mereka akan membencimu! " Ancam MaliQ, Faaz tak gentar mendapat ancaman itu. Faaz tersenyum dan melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah MaliQ.


"Aku ingin tahu bagaimana kau akan menghancurkan Kakak mu ini, Kakak yang selalu memberikan bahunya untuk kau bersandar, Kakak yang selalu mengusap air matamu dan memeluk mu disaat kau bersedih. Ingatlah MaliQ jika kau membenciku, Aku akan tetap menyayangimu" Seru Faaz, semua kebingungan dengan sikap yang diberikan Faaz dan MaliQ namun mereka tak bisa mendengar apapun yanh di katakan oleh Faaz ataupun MaliQ.


"OMONG KOSONG, LUPAKAN KASIH SAYANG MU UNTUK KAMI! " Ucapnya tegas seraya meninggalkan Faaz yang mematung dihadapannya, dengan raut wajah kesal MaliQ yang memilih untuk pergi tak luput dari gerutu kecil nya dan membuat Ayana merasa semakin kebingugan.


"Kaka.." Panggil Rido.


"Iya Papa " Jawabnya sembari tersenyum dan melangkahkan kaki untuk menghampiri Papa kesayangannya itu.


"Maafkan Adik mu, Lupakanlah perkataan apapun yang telah membuat hatimu terluka " Ucap Papa Rido sembari memegang wajah Faaz dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Iya Papa, Papa tak perlu memikirkan Apapun. Kami baik-baik saja"


"Papa percaya kepadamu " Ucap Rido.


"Faaz keponakan Aunty, kesayangan Aunty terimakasih yah Nak sudah menjadi kaka yang sangat dewasa untuk adik-adik mu." Seru Aunty Rani.


"Uncle juga sangat senang, Kau sangat baik memperlakukan Mael, Qabil ataupun Ayana. kau memperlakukan mereka layaknya adik kandungmu. Uncle sangat bangga kepadamu" Ucap Richard sembari memeluk tubuh Faaz.


"Kami sangat bangga kepadamu sayang" Timpal zain.


"Terimakasih, sekali Faaz minta maaf mungkin satu minggu kedepan Uncle dan Aunty akan Faaz repotkan. maafkan Faaz ya"


"Tidak usah sungkan Nak, kami juga orang tuamu " Ucap Zain.


sebelum Faaz dan Fizzy pergi meninggalkan mereka untuk pergi ke kantor, Mereka tak henti bercanda gurau dan tertawa dengan sangat lepas. Apalagi Richard yang selalu menjadikan setiap pembicaraan apapun menjadi bahan candaannya namun itulah Richard yang selalu menjadi pelawak profesional jika sedang bersama mereka.


.


.


.


.


.


.


.


ASIC GROUP COMPANY.


Di dalam ruangan luas milik KING Faaz yang menjabat sebagai Presiden Direktur Asic Group, Faaz termenung akan masalah yang sedang menimpa dirinya. Masalah yang berada didalam lingkungan kantor pun menambah kegundahan dalam hidupnya.


"Faaz, Apakah kau tahu jika edwin memakai uang sebanyak ini? " Tanya Fizzy.


"Tidak, sudahlah mungkin dia ada kepentingan dan belum bisa ia jelaskan kepada kita"


"hello, ini uang perusahaan Faaz dan ini besar sekali " Gerutu Fizzy


"jika saja Aidil tidak teliti, kita mungkin tidak akan mengetahuinya " Ucap Fizzy kembali.


"Sudahlah fiz, kita akan membicarakan ini setelah Edwin dan Aidil kembali" Tandasnya.


"Baiklah jika memang sudah keinginanmu aku mengalah, tetapi lihat saja jika memang terbukti ed memakai uang perusahaan dengan sangat cuma-cuma aku tak akan pernah memaafkannya" Ancam Fizzy sembari meninggalkan Faaz seorang diri.


('Entahlah aku merasa Aneh dengan Faaz akhir-akhir ini, Ada apa dengannya Tuhan - Gumam Fizzy dalam hatinya)


"Pernikahan ku dan AliQ akan berlangsung Tiga hari lagi, aku benar-benar harus mempersiapkan mentalku" Gumam Fizzy sembari memondar-mandirkan langkahnya, Fizzy memilih menenangkam hatinya di dalam ruangan miliknya.


Tak lama kemudian...


Tok..


Tok..


"Masuk " Teriak Fizzy pelan.


"Maaf nyonya, Tuan Najam AliQ menunggu anda diluar" Ucap staff sekretaris.


"Biarkan saja dia masuk" Pinta Fizzy sembari duduk kembali dikursi kerja miliknya, jantungnya berdegup kencang kala itu.


"Maaf sudah mengganggu mu" Seru AliQ yang masuk kedalam ruangan Fizzy.


"Ouh tidak sama sekali AliQ, silahkan duduk". Fizzy berdiri dan mempersilahkan AliQ duduk, AliQpun segera duduk di sofa yang berada di dalam ruangan milik Fizzy.


"Ada apa AliQ?, Apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Fizzy.


"Tidak, Aku hanya ingin menanyakan hal mengenai pernikahan kita. Apakah kamu benar-benar tidak ingin membatalkan pernikahan ini?" Tanya AliQ, Hati Fizzy merasa sakit mendengar pertanyaan AliQ.


Fizzy terdiam dan mencoba menghela nafas beratnya. Ia masuk kedalam lamunan yang sangat dalam, mengingat satu persatu kalimat yang keluar dari tutur lembut Papa Rido kesayangannya. air Matanya menetes saat bayangan wajah Papanya terlintas dipelupuk matanya. Fizzy sungguh tak menyangka dengan apa yang AliQ tanyakan kepadanya.


"Fizzy, mengapa kau menangis?" Tanya AliQ.


"AliQ, Apakah kau tahu? Sebesar apa harapan Papaku tentang pernikahan ini. Papa sangat ingin aku menikah dan saat itu kau yang memberi mimpi kepada Papaku." Seru Fizzy.


"Tidak AliQ, aku tidak berniat sedikitpun untuk membatalkan pernikahan kita." Ucapnya kembali.


('Aku juga terlanjur berjanji kepada Papaku untuk menikah denganmu Fizz, jika tidak Papa akan marah besar dan mengambil seluruh aset miliknya dan Faaz juga akan marah kepadaku, dia juga akan merebut aset milik Rayna sedangkan aku sudah tidak memiliki saham besar.' - gumam AliQ dalam hati)


"Aku mohon AliQ, aku tahu kau tak mencintaiku. Dan aku sadar akan itu. tetapi, ku mohon berikanlah aku tempat agar tak mengecewakan Papaku lagi" Tutur Fizzy.


"Baiklah.. Tetapi dengan 1 syarat kembali."


"Apa itu AliQ?"


"Aku ingin kau membantu perusahaanku setelah kita menikah, dan syarat sebelumnya aku akan batalkan. Kita bisa hidup layaknya suami istri walaupun tanpa cinta" Seru AliQ


"Baiklah, kau tak perlu khawatir AliQ"


"Terimakasih Fizzy, kau memang wanita yang baik"


#Dalam lamunan AliQ.


"Kau memang anak pembangkang, tidak malukah kau? Kau mengatakan akan menikahi Fizzy dan sekarang kau ingin membatalkannya."


"Dengar Najam AliQ, kau tidak bisa seperti ini jika tidak ada campur tangan Rido dan May. Aku mengalami kebangkrutan dan saat itu Rido lah yang membantuku, Ia tak pernah lelah membantuku! " Seru Ayah AliQ.


"Dia sangat menyayangi Rayna dan dia sangat menyayangi mu! "

__ADS_1


"Pikirkanlah jika memang ini membuat Orang seperti Rido kecewa, Ayah tidak akan menganggapmu lagi sebagai Anak Ayah" Ancamnya.


"Tidak Ayah, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku berjanji!!" Ucap AliQ yang bersimpuh dihadapan Ayahnya.


Ayah AliQ adalah sahabat Rido yang bernama Harry. Dulu ia pembisnis hebat di Inggris. Namun tak disangka bisnisnya mengalami kebangkrutan. Dan semenjak itu, ia memilih untuk pindah ke istanbul turkey dan mulai menjalankan bisnisnya yang sempat bangkrut. Harry yang sedari dulu adalah sahabat Rido sangat menyayangi Rido, bagi nya Rido adalah pahlawan yang sangat berjasa menyambungkan hidupnya.


Rido memberikan setengah dari 1 Aset anak perusahaan yang berkembang di istanbul kepada Harry, Dhan pun membantu mengelola anak perusahaan milik Rido itu dan semenjak itu Harry yang sangat pintar mampu mewujudkan mimpinya. Dan berkat Rido, kini Harry memiliki beberapa perusahaan ternama dan sudah berada diberbagai Negara.


#flasback Off.


('Aku sudah menyakitinya, tetapi aku memang tak memiliki perasaan Apapun. Jika saja Ayahku tak meminta aku pasti akan tega membatalkannya. - batin AliQ)


"Terimakasih AliQ, kau sudah mau menerimaku dan kau juga mau menghentikan niat burukmu untuk membatalkan pernikahan Adik ku" Seru Fizzy.


.


.


.


.


.


.


Sore harinya Faaz sudah sampai di rumah, Faaz memang pulang lebih awal karena sudah memiliki janji bersama dokter yang akan memeriksa keadaan Natasha.


"Assallamualaikum." Sapa Faaz saat memasuki rumah.


"Waalaikum salam." Balas Papa Rido dan Alea bersamaan.


"Kaka sudah pulang dari kantor? " Tanya Alea.


"Enggak, kakak masih didalam ruangan kantor. Yang berdiri disini hanyalah bayangan kaka saja" Candanya kepada Alea, Rido tertawa saat mendengar celotehan Anak pertamanya itu.


"Kakak, kenapa kaka menggodaku"


"Kamu sih, kaka sudah berada dihadapanmu itu artinya kaka sudah pulang." Jawabnya seraya tertawa pelan.


"Lihatlah Papa, kaka sedang mencoba menggodaku " Adunya sembari memeluk Papa kesayangannya.


"Kamu ini sudah memiliki tunangan masih saja bersikap manja." Godanya kembali.


"Papa lihatlah kaka mencoba menggodaku kembali" Adunya lagi dan lagi membuat Faaz terus menerus menggodanya.


"Sudah-sudah, lihat dulu istrimu. Kasihan dia sendiri dikamar. Tadi Papa dan Alea menemaninya namun Natasha tertidur dan kami tak ingin mengganggunya" Ujar Rido.


"Baiklah Papaku sayang" Pamit Faaz sembari mencium lembut kening Papanya.


Faaz berlalu meninggalkan Papa dan Adiknya dan segera menghampiri Anak dan istrinya. Saat membuka pintu kamar, Faaz melihat pemandangan haru yang sangat ia inginkan saat nanti Rayna pulih.


"Mama peri, janan sakit agi iya. Esya nangen Mama peri" Ucap Anak semata wayangnya.


"Mama ku cayang, esya sangat cayang mama" Aaleesya kecup kening Natasha dan menghapus keringat yang bercucuran didahi milik ibu perinya.


('Sayang, dulu aku berharap Raynalah yang mendapat pengakuan seperti itu dari Anak kandungnya tetapi Tuhan lebih memilihmu untuk esya sayangi. Dan jujur hari demi hari aku semakin tak menginginkan kesembuhan Rayna, aku takut Aaleesya kebingungan dengan masalah ini dan banyak lagi yang aku takutkan - batin Aaleesya)


"Papa " Panggil Aaleesya mengagetkan Natasha juga Faaz, Natasha terbangun dan ingin beranjak menyambut suaminya pulang.


"Sudahlah sayang, tidak usah beranjak dari tempat tidurmu" Sahut Faaz yang berjalan sembari menggendong putrinya, Faaz menghampiri istrinya dan Natasha segera menarik tangan Faaz lalu segera mencium punggung tangan milik suaminya.


"Kamu masih mual dan pusing?" Tanyanya sembari memegang dahi milik istrinya.


"Badanmu anget, tunggu sebentar iya dokter akan segera datang" Gumam Faaz, Natasha menganggukan kepalanya.


"Putri kecil, papa antar kamu untuk bermain bersama Kakek dan Aunty iya. Kasian Mama mu"


"Sudahlah suamiku, biarkan esya disini"


"Sayang, esya baru saja sembuh. Dan sekarang kamu sedang sakit, esya sangat rentan terkena virus. Tolong mengertilah" Pinta Faaz, Natasha pun menganggukan kepalanya dan segera mencium kening bidadari kecilnya. Faaz berpamitan untuk mengajak Aaleesya bermain bersama Kake dan Auntynya.


30 menit Kemudian, dokter yang akan memeriksa Natasha sudah datang dan Alea segera mengantar dokter tersebut kedalam kamar Natasha.


"Maafkan saya telat Faaz" Ucap Dokter.


"Tidak mengapa Dok, silahkan dokter" Seru Faaz, dokter menyapa Natasha, wajah ceria Natasha kini berubah menjadi pucat Pasi.


"Nyonya Natasha, apa yang anda rasakan?" Tanya Dokter.


"Saya merasa sering Pusing dok, lalu Saya juga merasa mual dan terkadang semua isi perut saya selalu saja ingin keluar" Ungkap Natasha.


"terakhir menstruasi Nyonya kapan? "


"sekitar Tanggal 15 bulan lalu dok "


"baiklah, kalau saya cek bagian perut sih mudah-mudah ya Nyonya sedang Hamil namun usia kandungan saya perkirakan masuk usia 4 sampai 6 minggu " Ucap Dokter.


"benarkah dok? " Tanya Faaz.


"mudah-mudahan Tuan Faaz, Untuk info yang lebih akurat. Nyonya pakai test alat kehamilan saja dulu dan jika ingin lebih tahu nyonya bisa melakukan Usg mungkin, Nanti terlihat apa kantung janin sudah terlihat apa bagaimana?" jelas Dokter seraya memberitahu Faaz dan Natasha.


"Baiklah dok terimakasih" Serunya.


Faaz mengantar kembali Dokter sampai ke depan pintu Mobil miliknya, tak lupa Faaz berkonsultasi mengenai kehamilan pertama yang Natasha rasakan. Natasha memang memiliki riwayat darah yang sangat rendah, dan Faaz sangat takut jika mengingat hal itu karena Rayna pun mengalami hal itu pada saat kehamilan.


(' Papa,Mama.. Natasha sedang mengandung.. Apa tasha bisa melalui kehamilan tanpa support kalian.. tasha kangen - Batin Natasha)


"Kak, congratulation... aaah Alea sangat senang" Seru Alea, Namun Natasha hanya terdiam dalam lamunan.

__ADS_1


('Aku takut, bagaimana ini - batin Natasha kembali)


__ADS_2