
"Belum Tidur?" Tanya Rido, karena melihatku masih menggendong Maliq.
"Dia gak mau lepas dari gendonganku" Jawabku singkat.
"Sini Nak, biar Papa yang gendong. Kasian mama mu pasti lelah" Ucap Rido. Aku segera mengalihkan Maliq yang sedang digendong olehku, Rido menatapku saat aku sedang memberikan Maliq kedalam gendongannya.
"Kamu kenapa?, marah?" Tanya Rido, Aku duduk dan merebahkan diri.
"Aku hanya mengantuk!" Jawabku.
"Yasudah tidur aja, istirahatkan badanmu" Ucap Rido, Aku beranjak dari kursi dan merebahkan badanku diatas kasur. namun pertanyaan-pertanyaan mengenai Adeeva terus ada didalam benak ku.
"Rido." Panggilku sembari beranjak dan Duduk diatas kasur.
"Siapa Adeeva Ms?" Tanya ku singkat, Rido tersenyum kepadaku.
"Kenapa memangnya?" Tanya Nya.
"Kenapa memangnya?" Wajahku terlihat muram saat mengulangi pertanyaan Rido. dahiku mengkerut. "Mengapa denganmu, Akhir-akhir ini kau terlihat selalu saja ingin berdebat denganku" Gerutuku kesal sembari menajamkan mataku, Rido menatapku dan tertawa menyeringai.
"Jahat!" Ucapku kembali.
"Dia sahabat Shaloom juga sahabatku, dia juga mengenal Yofie." Jawab Rido.
"Dia wanitakan?" Tanyaku kembali.
"Iya, Lalu?" Jawabnya singkat.
"Dia wanita dan kau asyik menerima teleponnya" Tuturku membuatnya semakin tertawa dengan kencang.
"Ada apa denganmu Rido?" Tanyaku kembali, bibirku mengerucut, dahiku mengkerut, rona merah terlihat terkuras diwajahku.
"Dia sahabatku, dia mengenal Risa dan sudah ku anggap seperti Adik ku" Ungkapnya.
"Lalu, apa dia dekat dengan kak Shaloom?" Tanyaku seakan mendesak dan ingin Rido menjelaskannya.
"Itu Dulu, Tapi gak tau deh sekarang" Jawabnya polos membuatku sangat kesal bahkan semakin kesal.
"Rido!!!!!!!!!" teriak ku, Namun Rido mendekap mulutnya seakan menyuruhku untuk tidak teriak.
"Aku suka kalau kamu cemburu kaya gini, dia Memang perempuan. Tapi dia seperti lelaki dari pandanganku, dia juga ingin sekali bertemu dengan mu sayang" Ungkapnya.
"Lalu mengapa sikap mu berubah?, kau terlihat bukan Rido yang aku kenal!" Ucapku kembali.
"Tidak, aku masih Rido yang dulu kok!" Tukasnya penuh penekanan, Aku kesal dengan jawaban singkat nan santai yang Rido berikan kepadaku.
"Lalu, mengapa kamu terus-terus ingin berdebat denganku!" Tanyaku dengan penuh penekanan, aku berharap Rido mau menjelaskannya.
"Kamu lagi cape mungkin, jadi mikirnya aku berubah. maaf jika memang aku menyakiti hatimu" Ucapnya.
"Jujur saja suamiku, Apa kesalahan yang telah aku perbuat" Pintaku kepadanya, tak sengaja air mataku menetes.
"Baiklah, ada yang membuatku tersinggung"
"Apa?, Katakanlah?" Tanyaku kembali.
"Aku merasa jika kamu menolak jika Tuhan memberikan Anak kembali, Dan itu akan berdosa untuk ku."
"Aku merasa kau tidak percaya adanya kasih sayang Tuhan!, dan aku merasa kecewa untuk itu" Ungkapnya.
__ADS_1
"Dan Satu lagi, kamu adalah istriku tetapi akhir-akhir ini kau terlihat seperti musuhku. Beritahu Aku jika memang aku bersalah, dan beritahu Aku jika memang itu tidak sesuai keinginanmu. Ada berbagai cara membantah keinginan suami itu Namun salah satunya tidak memakai bentakan. Maafkan aku May, Aku hanya ingin membimbingmu dan Aku pun sama masih membutuhkan bimbingan dari mu. Kita sama-sama jalan ke jalan ya allah Ridoi, Maaf jika membuat mu gusar" Ungkap nya kembali, Hatiku merasa bersalah saat mendengar apa yang sedang dijelaskan oleh suamiku. Aku pun berpikir jika memang aku terlihat keras akhir-akhir ini, mungkin Rasa takut yang sangat besar jika kehamilan itu datang kembali. Mengingat Anak-anak ku masih sangat kecil.
"Maaf jika kamu memang merasa Aku bersalah,"
"Tidak, akupun bersalah. Karena terlalu menuntut kepadamu. Maafkan Aku May" Tandas Rido, Aku menunduk dan menangis karena merasa bersalah dengan sikapku akhir-akhir ini.
"Aku yang seharusnya minta maaf sayang, maafkan Aku" Ucapku, Aku segera beranjak dan melangkah untuk memeluk tubuhnya.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah saling bertukar pendapat. Sudah saling jujur dan mengakui kesalahan masing-masing, Aku bangga padamu" Ungkapnya lagi sembari mencium keningku.
"Aku juga mau ucapin terimakasih, karena kamu udah mau negur aku, ngasih tau Aku. Makasih iya sayang" Ucapku kembali.
"Gini Nih, kita marahan gak bisa lama kan"
"Jadi?"
"Jadi Apa?"
"Tidurin Maliq iya, liat dia udah pules" ucapnya sembari berkedip.
"Udah nidurin mau Apa?" Tanyaku, karena Aku melihat tatapannya yang nakal itu.
"Mau minta diterkam kamu, boleh gak?" Tanyanya kembali membuatku semakin kegelian.
"Boleh gak iya" Jawabku.
"Boleh dong, Aku mau" Pintanya, sembari mengecup bibir ku dengan lembut. Rido segera menidurkan Maliq dan memberikannya selimut.
"Aku kekamar Mandi dulu" Pintaku, Rido mencegahnya. Rido mengecup kembali bibirku dengan Kilas, ia membuka kerudungku dan mencium tengkuk leherku.
Tok..Tok..
"Sebentar sayang"
"Nyonya May, Tuan Rido" Panggil Carry sembari mengetuk keras pintu kamarku.
"Itu Carry?"
"Biarkan saja, palingan mau minta Popok kering. Aku udah simpan satu Pack besar kok" tutur Rido.
"sepertinya buka itu sayang, sebentar" Aku melangkahkan kakiku dan terdengar suara Carry yang panik.
"Tuan Rido, Nyonya May" Panggilnya lagi.
"Ya Allah, mengapa tidak terjadi lagi" Pekik Rido, Aku segera membereskan pakaian yang sempat di lepaskan oleh Rido.
"Ceklek..
"Ada apa Carry?, mengapa kau Panik?" Tanya ku.
"Ayana, nyonya."
"Kenapa dengan Ayana?" Aku segera berlari menuju kamar Ayana, Aku melihat Mbak Ci sedang mengendong dan mendekap Ayana.
"Nona Ayana kejang nyonya" Seru Mbak Ci.
"Baiklah, sebentar. Tolong Ambilkan air hangat dan handuk" Ucapku.
"Baik Nyonya,"
__ADS_1
"Sejak kapan Ayana panas?"
"Bukannya Tadi sore baik-baik saja" Tanyaku kembali.
"Tadi jam 10 malam, Nona Ayana hanya panas biasa"
"Panas biasa Mbak ci?, kalau Panas gak bisa di sebut biasa Mbak"
"Maaf Nyonya, Maafkan kami"
"Yaudah gak apa-apa, lain kali kabari aku bagaimanapun keadaannya" Gumamku, aku membuka semua pakaian yang Ayana kenakan. Aku menyimpannya diatas kramik dan mendekapnya memakai handuk hangat.
"Bagaimana sayang,?" Tanya Rido.
"Tidak terjadi Apa-apa, biarkan Ayana tidur dengan kami. Jika dua jam kedepan Ayana kembali panas, bawa saja ke dokter" Ucapku
"Syukurlah suhu badan Ayana tidak sepanas tadi nyonya" Ucap Mbak Ci.
"Yaudah, mbak Ci dan Carry istirahat saja lagi. Aku akan membawa Ayana kekamarku" Aku meminta Rido menggendong Ayana, kami pun berjalan bersama menuju kamar pribadi milik Aku dan Rido.
Keesokan Pagi Harinya...
"Sayang," panggil Rido
"iya" jawabku sembari menghampirinya.
"kamu menghubungi Zain mengenai Ayana semalam?" Tanya Rido.
"Iya, Habisnya Zain juga harus tau."
"apa katanya?" tanyaku kembali.
"Zain akan datang untuk melihat Ayana, kasian dia sedang dalam kesibukan" jawab Rido.
"bilang saja Ayana sudah tidak Apa-apa?"
"Aku sudah bilang, Tapi dia menyadari jika sudah sebulan ini dia tidak melihat Ayana"
"Ya sudah biarkan saja, biar rasa khawatirnya tidak menggunung." jawabku sembari kembali Fokus memasak kembali, Fahriye membantuku memasak didapur. dia juga sembari bercerita mengenai kegembiraan nya Dhan saat mengetahui kehamilan istrinya itu.
"Aku senang jika kalian senang, Aku juga akan sangat bahagia menyambut kelahiran Anak mu Fahriye"
"Kak May, Terimakasih. aku merasa memiliki Kaka kembali"
"Memangnya Kakakmu kemana?, maksudku tinggal dimana?" tanyaku, Fahriye menatapku dengan mata yang sayu.
"Kakak ku, maksudku Kaka tiriku. sudah tiada Kak"
"maafkan Aku Fahriye, Aku tak bermaksud membuat mu bersedih" ucapku.
"Tidak Kak, Tidak apa-apa. kau sudah ku anggap seperti kakak ku. terimakasih kau mau menganggapku seperti saudara"
"Kita semua bersaudara, apalagi jika kita sesama umat Muslim." jawabku, Fahriye memeluk ku dan tersenyum dengan manis.
"Aku bahagia memiliki kaka seperti dirimu Kak May"
"Aku juga bahagia memiliki Adik sekaligus sahabat baru seperti mu" balas ku padanya.
.
__ADS_1
.
.