
Siang sudah berganti malam, Rani dan Richard memilih untuk pulang dan memberitahu keadaan Zain. Ayana yang meminta untuk tetap bersama sang Ayah pun ditemani oleh Faaz dan Mael. Faaz baru saja tertidur, karena sebelumnya Faaz memastikan keadaan Uncle nya itu dan Zain terlihat sedang tertidur dengan oksigen yang dipakaikan di hidungnya.
"Faaz..." dengan suara pelan serta lirih Zain memanggil keponakan tertuanya itu, "Iya uncle" Faaz menjawab sembari menghampirinya. Zain melihat Ayana yang tertidur lelap di sofa yang berada di dalam kamar inap Zain, Ayana tertidur beralaskan Paha Mael sebagai tumpuan kepalanya.
"Bawa Uncle Pulang," Ucap Zain,"Uncle ingin pulang!!!" Ucapnya kembali. nafasnya terlihat tersengal,"Uncle ingin memeluk Papa mu, Un..cle ingin pulang" Zain memohon agar Faaz secepatnya membawa dirinya pulang.
Faaz memegang tangan Zain, Ia mencoba membuat Zain lebih merasa tenang. Faaz membujuknya agar Faaz tidak meminta pulang, karena Dokter belum mengijinkan Zain untuk pulang kerumah. namun, mungkin ini ada suatu pertanda bahwa Zain akan pergi selama-lamanya.
Air mata Zain mengalir, ia meminta Faaz mendekatkan telinganya. Zain sedang merasakan kesakitan, namun Zain tak ingin tidur Ayana terganggu karena rintihan dirinya. Faaz mendekatkan telinganya itu, "Uncle harus pergi!!" Faaz menggelengkan kepalanya.
"Uncle, Faaz mohon jangan berkata seperti itu." Ucap Faaz.
Zain mengepalkan salah satu tangannya, mencengkram lengan Faaz dengan kuat. terlihat sekali rasa sakit itu sedang berusaha ia tahan, Faaz berniat untuk memanggil dokter, namun Zain menahannya. Zain tetap takut melihat Ayana bersedih karena kondisinya, Zain sekuat tenaga menahan nya, hingga keringat itu bercucuran. Faaz menghubungi Aliq dan memberitahu Aliq bahwa Zain ingin bertemu Rido, Faaz meminta Aliq mengajak Rido dan yang lainnya untuk menemui Zain.
Wajah pucatnya itu terlihat sudah sangat memutih, bahkan tangan Zain dingin.
"Bertahanlah Uncle, Mau tidak mau aku harus memanggil Dokter." Ucap Faaz sembari melepaskan cengkraman tangan Zain di lengannya itu.
Faaz berlari untuk mencari perawat yang sedang berjaga, perawat pun bertanya dan Faaz segera memberitahu. semua perawat berlarian dan salah satunya memanggil Dokter yang sedang berjaga. Zain sudah berada di dalam keadaan gawat, semua perawat sedang mencoba menanganinya. suara gaduh pun terdengar oleh Ayana, ia begitu terkejut saat melihat Zain yang dikerubuni oleh beberapa perawat dan dua orang Dokter jaga malam itu.
"Kakak, Daddy kenapa?" Ayana menangis sembari bertanya kepada Faaz, Faaz terpaksa membawa Ayana untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Kakak Daddy tidak akan meninggalkan Ayana kan" Ucap Ayana, "Ayana Takut" lirihnya, Faaz dan Mael memeluk Ayana dengan erat, mereka mencoba menenangkan Ayana. Ayana terus menerus menangis, terdengar sekali suara rintihan Zain yang sedang merasakan kesakitan.
Ponsel Faaz berdering, ternyata Aliq menghubunginya. Faaz pun menerima panggilan suara dari Aliq.
"Haloo" Sapa Faaz.
"Faaz aku sedang menuju kesana," Ucap Aliq.
"Hati-hati di jalannya Liq, Uncle sedang berada di dalam. Uncle sedang dalam keadaan tidak baik" Ucap nya, Aliq merasa terkejut. Aliq pergi bersama Rido, Maliq, Richard dan Yofie. sore tadi Yofie sudah sampai di rumah Rido.
"Daddy Ayana mohon..." Ucap Ayana merintih,
Mael memegang kedua Pipi Ayana, "Yakinlah, Daddy akan baik-baik saja Ayana" Ucap Mael mencoba meyakinkan Ayana.
"Ayana takut Daddy meninggalkan Ayana selamanya, Mael!!!" Ucap Ayana dengan air mata yang terus mengalir.
"Dengar Ayana, semua pasti akan pergi. Apa kau tega melihat Daddy mu terus menerus kesakitan seperti itu, ini sudah menjadi takdir Tuhan Ayana, Mael mohon Ayana bersikaplah lebih tenang" Tutur Mael sembari memeluk Ayana.
Dokter menemui Ayana diluar, Zain memanggil nama Rido dan Ayana berulang kali.
Ayana Masuk dengan perasaan bersedih, melihat kondisi sang Ayah yang sangat lemah. bahkan Dokter terlihat berbincang bersama Faaz dengan wajah yang terlihat lesu dan lemah.
dalam hati Ayana, "Bagaimana hari-hari ku tanpa adanya Daddy, Aku benar-benar tidak mau Daddy meninggalkan Aku" Ayana menyeret langkahnya pelan, Zain terlihat tersenyum dari kejauhan. mencoba menutupi rasa sakitnya, padahal sebenarnya Zain sedang pasrah dengan keadaan nya itu.
Ayana sempat merasakan patah hati saat ia tahu mengenai hubungan Qabil dengan Alea, namun kini ia merasakan patah hati yang amat besar saat melihat wajah Daddy nya yang sedang merasa kesakitan.
mungkin, jika dapat memilih Ayana akan menggantikan posisi Zain. biarkan dialah yang merasakan rasa sakit yang di derita oleh Zain selama bertahun-tahun.
"Daddy..." Panggil Ayana dengan rintihan nya, Ia menangis terisak dihadapan Daddy nya, Mael tetap merangkul Ayana.
"Kali ini biarkan Ayana yang banyak bicara, biarkan Ayana yang mengungkapkan isi hati Ayana untuk Daddy" Zain mengangguk pelan, Ia merasa bahagia saat melihat tatapan mata Ayana yang di penuhi cinta untuk dirinya.
"Daddy, mungkin bukan sosok yang banyak bicara. Daddy adalahh sosok yang mengutarakan perasaan lewat perbuatan." Isak tangis itu semakin terdengar, Ia mengungkapkan perasaan sayangnya terhadap Ayahnya.
"Dulu Ayana selalu meminta Daddy untuk tidak banyak berbicara, dan Ayana meminta Daddy lakukan saja dengan perbuatan. Ayana terlalu mendikte Daddy."
"Namun Pribadi Daddy yang sangat menyayangi Ayana, Daddy buktikan dalam bersikap dan selalu benar dalam mengambil keputusan adalah sikap mulia seorang Ayah, dan Daddy yang sangat hebat bagi Ayana, Ayana bangga dengan Daddy. Daddy berhasil membuktikan apapun yang Ayana minta kepada Daddy"
"Dan sejak itu Ayana baru sadar, Ayana terlalu manja terhadap Daddy, terlalu menjadi anak yang tidak bisa mandiri, Ayana terlalu bergantung kepada Daddy!!"
"Daddy selalu tidak pernah mengeluh, bahkan Daddy menyembunyikan rasa sakit ini. lalu mengapa Daddy tak membiarkan Ayana berjuang bersama Daddy!!"
Zain menjawab dengan pelan, walaupun tak terdengar jelas namun, Ayana masih dapat mendengar apa yang dimaksud oleh Zain, "Daddy tidak ingin masa muda mu dihabiskan untuk mengurus Daddy, Daddy tak ingin merepotkan Ayana" Ayana meminta agar Zain menghentikan kalimat yang sedang Zain ucapkan.
__ADS_1
"Daddy ingin melihat Ayana menikah kan? Daddy akan lebih semangat kan?" Tanya Ayana, "Ayana akan menikah malam ini juga, tanpa ada pesta, tanpa apapun. Ayana hanya ingin Tuhan membuat Daddy sembuh dan menemani Ayana hingga tua." Sambungnya kembali.
Mungkin, kehilangan sosok ayah sama sekali bukan hal mudah untuk Ayana, terlebih untuk anak perempuan sepertinya. Ketika Ayana butuh berjuang untuk menguatkan dirinya sendiri, hanya Zain lah yang selalu menguatkannya terlebih disaat May pergi meninggalkannya, hanya Zain dan Rido lah yang selalu berjuang bersama demi kebahagiaan Ayana. Perasaan sedih dan kehilangan tidak hanya berlangsung sehari atau dua hari saja, tapi akan terus berlanjut sebagaimana kehilangan orangtua sebelumnya. Semua terasa tragis, terasa bagai sebuah tragedi yang mengubah hidup Ayana secara keseluruhan.
Ayana memeluk tubuh Zain, "Daddy cinta pertama bagi Ayana, dan sekarang Daddy akan pergi meninggaklan Ayan. bagaimana bisa Ayana hidup tanpa adanya Daddy, bagaimana Ayana menyembunyikan duka ini. bahkan jika Tuhan memberi hadiah untuk Ayana, Ayana akan tetap meminta Daddy menemani Ayana, yana belum siap Dad" Ucap Ayana kembali.
"Bagi Ayana Pelukan hangat seorang ibu cukup menenangkan tapi hangat erat pelukan seorang ayah memberikan sentuhan kekuatan yang berbeda, Ayana tahu itu, walaupun Ayana sama sekali belum pernah merasakan pelukan Mama Cia"
"Lalu bagaimana Ayana hidup tanpa Daddy, Mungkin nasib Ayana seperti kehilangan pelindung terbesar dari kerasnya hidup. Kelembutan yang di dapat dari sosok ibu tidak setegar benturan kehidupan dari energi dan kekuatan seorang ayah. Ayana akan merindukan pelukan hangat dan usapan ujung kepala Ayana yang mengisyaratkan kepercayaan bahwa Ayana mampu menghadapi semuanya, seperti biasa Daddy lakukan kepada Ayana"
"Ayana mohon, kuat lah demi Ayana"
"Ayana mohon!!!!" Tangisan Ayana semakin terdengar jelas, Mael menarik Ayana dan memeluk nya. Mael juga menangis melihat apa yang sedang terjadi dihadapannya, Faaz berdiri dengan tatapan iba ke arah Ayana, air matanya pun terlihat mengalir dengan deras.
Dokter memberitahu keadaan Zain, Zain sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya. bahkan Zain menolak saat Dokter memberikan kembali obat penahan rasa sakitnya. Zain benar-benar ingin menikmati rasa sakit yang sedang ia rasakan itu, Zain merasa jika rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit Letycia saat melahirkan Ayana kedunia, dan rasa sakitnya pun tidak sebanding saat melihat putrinya menangis karena ulahnya yang menutupi penderitaan selama merasakan sakit seorang diri.
Namun, Zain tidak merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan, Zain tidak ingin waktu Ayana dan orang-orang tersayangnya habis untuk mengurus Zain.
Rido sudah sampai, Aliq membutuhkan waktu dua jam dalam perjalanan. mungkin ia menjalankan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Ayana memeluk Rido, "Papa, lihatlah Daddy sudah melemah" Ayana mengadu, "Ini tidak benar kan Papa?" Terlihat sekali raut wajah Ayana yang sangat merasakan frustasi.
"Ka.. ka" Panggil Zain, Rido menarik tangan Yofie agar mendekat, Zain tersenyum melihat kehadiran kedua kakaknya. Maliq memeluk Ayana, Ayana terus berceloteh seakan tidak menerima keadaan yang sedang terjadi.
"Aku sudah tidak kuat," Ucap Zain lirih dengan suara berbisik.
"Kak Rido, Kak Yof sangat tampan," Ucapnya kembali di iringi senyuman.
"Zain, maafkan Aku!!, aku selalu merepotkan dirimu" Ucap Yofi, Zain menggelengkan kepalanya, "Tidak, kita selalu merepotkan Kak Ido" Timpal Zain menimpali kalimat Yofie.
"Richard, Rani mana?" Tanya Zain.
"Mereka sedan berada di dalam perjalanan, kau harus kuat. siapa yang selalu menguatkan Kakak. kau kan?"Tanya Rido, "kau sendiri membohongi kakak!" Sambung Rido.
Zain menarik nafasnya dengan sangat berat,"Aku ingin melihat Ayana dan Mael menikah sekarang" Ucap Zain.
"Maafkan Kakak Zain!!!" Air matanya mengalir deras.
"Kakak adalah kakak terbaik untuk kami" Ucap Zain, "Iya kan Kak Yof?" Ucap Zain dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
beberapa menit kemudian, "A..asy...ha" Ucap Zain sembari mengatur nafasnya yang kian terasa sempit. Rido mengerti dengan keadaan itu, Rido segera membimbing Zain, Ayana semakin merasa terpukul dengan pemandangan itu.
Richard pun datang, Rani memeluk Ayana.
"Mamih... Daddy...." Ayana tak kuasa lagi berbicara banyak, rasanya sudah sangat hampa.
Zain berhasil mengucapkan kalimat dua syahadat dibantu oleh Rido, matanya terpejam namun bibirnya tersenyum.
Rido mengucapkan, "Inalilahi waina ilaihi rajiun" Zain sudah menghembuskan nafas terakhirnya tanpa melihat Ayana menikah dengan Mael, Ayana membubuhkan tubuhnya, lututnya terasa sangat lemah. Ia menangis dan berteriak memanggil Daddy nya.
"Daddy.... Daddy" Panggil Ayana, Faaz, Aliq dan Maliq saling berpelukan dan menangis melepas kepergian Zain.
"Papa," Ayana beranjak, mencoba berdiri dan Mael membantunya.
"Jangan bilang Daddy sudah tiada pah, Ayana tidak mau!!!' keluhnya, Rido memeluk Ayana. mengusap lembut punggung Ayana, Rido mencoba membuat Ayana lebih tenang.
Yofie pun terlihat sangat terluka dengan kepergiaan Zain, selama mereka hidup bersama. tak pernah sama sekali mereka bertengkar, bahkan Yofie sangat menyayangi adiknya itu.
"Daddy mu salah satu orang yang Shalih, kau harus mengikhlaskannya" Ucap Rido berbisik ditelinga Ayana, "Kau harus coba mengikhlaskannya sayang" Ucap Rido kembali di iringi tangisan kecil, Rido memeluk erat tubub Ayana.
Ya, Zain telah pergi meninggalkan mereka semua. lagi dan lago keluarga Rido di rundung duka, setelah tiga bulan yang lalu mereka telah kehilangan, kini mereka harus kembali merasakan duka kehilangan sosok Zain yang sangat baik di mata mereka.
Semasa hidup Zain, Zain benar-benar menjadi seorang muslim yang taat. walaupun budaya tempat tinggal yang sedikit tidak bersahabat, namun Zain selalu berusaha menjadi seorang muslim yang baik.
Ia pun sudah beberapa kali menunaikan ibadah di tanah suci, satu-satu nya keinginan dia setelah Ayana menikah adalah mengajak Rido dan Yofie berdoa bersama di tanah suci. namun sayang, Zain terlebih dulu pergi.
__ADS_1
"Daddy!!! No.... Ayana tidak mau Daddy pergi, bangunlah Dad, Ayana mohon" Ucap Ayana sembari menggoyangkan tubuh Zain, Dokter memeriksa keadaan Zain.
Setelah Dokter dan kedua perawat itu memeriksa keadaan Zain, merekapun menyatakan bahwa Zain sudah tiada. Mereka pun merasa terpukul dengan kepergian Zain, Rani merangkul serta mencoba menguatkan calon menantunya itu.
"Ayana sudah benar-benar sudah kehilangan Daddy!! " Ucap Ayana.
"Tenanglah sayang, kau tidak sendiri. kami sangat menyayangi mu!! " Ujar Rani.
"Papa, Bolehkah Mael berbicara?!. " Tanya Mael Kepada Rido, bibirnya bergetar saat akan memberikan sebuaj pertanyaan.
"Boleh sayang!, Apa yang akan Mael tanyakan? " Tanya Rido balik.
"Apa aku boleh menikahi Ayana sekarang? maksudku secara agama saja dulu, Papa bisa membimbingku kan? " Tanya Mael dengan raut wajah yang sangat bersedih, "Dulu, Daddy sempat berucap kepada Mael. Daddy ingin menyaksikan Ayana menikah, dan Mael mohon ikuti keinginan Daddy saat ini juga,"
Rido mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mael, Lalu Richard mencoba menjelaskan. "Maksud Mael, sekarang Mael butuh bimbingan melakukan Ijab Qabul setelah urusan pemakaman Almarhum Zain selesai, kita segera meresmikan pernikahan Mael dan Ayana! " Jelas Richard.
"Iya, Maksud Mael seperti itu Pap" Ujar Mael kembali.
"Aku setuju Kak, biar Kakak saja yang menjadi wali dari Ayana" Ucap Yofie.
Rido terlihat seakan berpikir, namun apa daya. itu merupakan keinginan terakhir dari Zain, Rido pun menyetujui keinginan Mael karena awalnya, Rido merasa jika Kematian adalah peristiwa duka, sedangkan pernikahan adalah peristiwa bahagia. Di tengah suasana duka tersebut, bagaimana mungkin kita akan merasa bahagia?. Namun, Rido hanya ingin menuruti apa yang diwasiatkan oleh Zain. Zain ingin Rido lah yang menjadi wali dan Zain meminta Ayana juga Mael menilah dihadapannya walaupun Zain sudah tiada.
Ayana pun menyetujui apa yang Mael ucapkan, Ayana duduk di samping jenazah Zain. Ia seakan tak lepas memandangi jenazah Daddy nya itu, Air matanya terus berlinang dan sesekali mengalir di pipinya saat memandangi Wajah tampan Zain.
"Daddy, Ayana akan segera menikah." Gumamnya dalam Hati, Rido Selesai mengambil wudhu. Dokter dan perawat pun ikut menyaksikan peristiwa yang membuat haru, bahkan mereka sesekali menyeka air mata yang jatuh membasahi pipi masing-masing.
Rido duduk berhadapan dengan Mael, Richard duduk di samping kanan Ayana. Yofie menjadi saksi dari Mael, dan Aliq menjadi saksi dari mempelai wanita. Rido pun membacakan lantunan Ayat suci dengan suara nya yang sangat merdu.
Lalu setelah Rido selesai melantunkan ayat suci, Mael pun memberikan sebuah mahar hapalan yang selama ini Mael lafalkan.
Setelah itu, Rido menjabat tangan Mael.
"InshaAllah Mael siap Papa!! " Ucap Mael dengan tegas tanpa Rido bertanya mengenai kesiapan nya.
"Bismillahirahnirahim, Ahmad Mael Darmawan, Papa nikahkan engkau dengan keponakan saya, yang bernama Ayana Zaine Hendrawan Binti Almarhum Zain Hendrawan dengan Mas kawin lantunan Ayat suci yang sudah dilantukan dibayar Tunai" Ucap Rido.
"Saya terima Nikah nya Ayana Zaine Hendrawan dengan Mas kawin tersebut di bayar Tunai!!! "
Yofie dan Aliq pun mengucap kata Sah untuk keduanya, kini Ayana dan Mael sudah resmi menikah secara agama.
"Alhamdulilah" Ucap Rido, Ayana mengecup punggung tangan Mael. Mael mengecup kening Ayana lalu memeluknya, setelah itu Mael dan Ayana bergantian memeluk jenazah Zain yang terlihat tersenyum sangat tampan.
Ayana kembali menangis dihadapan Zain, bahkan semua yang menyaksikan ikut larut di dalam kesedihan Ayana. Tak lupa Faaz sudah mengabari orang-orang dirumah nya, mereka sangat terpukul. Mereka melakukan panggilan Video saat menyaksikan ijab Qabul pernikahan Mael dan Ayana, Sherli selaku ibu kandung dari Zain pun menyaksikan pemandangan yang membuatnya sangat bersedih.
"Daddy, Ayana ingin berbincang terakhir kalinya bersama Daddy."
"Dulu Ayana selalu bahagia dan tertawa bersama saat Daddy memberikan hadiah kepada Ayana, tapi kini kita menangis bersama saat Ayana memberikan sebuah hadiah kepada Daddy"
"Mengapa seperti itu Dad? Mengapa Daddy secepat ini meninggalkan Ayana." terlintas kenangan-kenangan indah yang selalu mereka lalui bersama. belajar sepeda, bermain gitar bersama, mengerjakan pekerjaan rumah bersama hingga berliburan bersama. apapun yang mereka lalui selalu menjadi terasa menyenangkan, bahkan dulu sewaktu Ayana akan tidur, Zain selalu mengajaknya melihat rasi bintang dan merebahkan dirinya diatas rerumputan itu.
Mereka selalu melihat indahnya langit malam bersama, saat Ayana sudah tertidur. Zain dengan sigap menggendong Ayana dan memindahkan tubuhnya keatas ranjang milik Ayana, mengecup kening Ayana, menyelimuti nya dan mengucapkan Have a dream sayang, Daddy akan selalu bersama Ayana.
Kenangan itu begitu sangat membekas dalam ingatan Ayana, bahkan Ayana juga mengingat masa-masa sulit bersama Ayahnya. saat Zain terkena tipuan dan sempat jatuh bangun dalam memperjuangkan harta peninggalan Letycia.
Dan Ayana selalu memberikan semangat kepada Ayahnya itu, Ayana yang malang. ia menangis begiti sangat lama, tangisan nya sampai terhentak dan terisak dalam.
"Sayang" Panggil Mael sembari mengusap bahu istrinya, Mael bermaksud untuk membuat Ayana berhenti bersedih. Namun, Ayana meminta Mael untuk diam sebentar, ia akan berusaha mengikhlaskan kepergiaan Daddy nya itu.
"Ingatkah Daddy pernah berucap, Seorang pria sejati mencintai istrinya, dan menempatkan keluarganya sebagai hal terpenting dalam hidup. Tidak ada yang membawa Daddy lebih damai dan merasa puas dalam hidup Daddy daripada hanya sekedar menjadi suami dan ayah yang baik."
"You A Good Father for me Dad, Ayana bangga!! Selamanya Ayana tidak akan melupakan Daddy, cinta yang Daddy berikan membuat Ayana menjadi wanita yang sangat beruntung. Doakan Mael dan Ayana Dad, agar kami bisa seperti cinta Daddy kepada Mama Cia"
Ayana terlihat lebih tegar dari sebelumnya, Ia mengecup kening Zain lalu mengusap lembut wajah nya. Ayana juga menutup wajah Zain menggunakan selimut dan memeluknya untuk terakhir kalinya, Ayana benar-benar sudah merasa ikhlas dengan kepergiaan Zain.
Dalam hati Ayana, "Daddy kau selalu mengatakan bahwa tidak ada kata terlambat untuk melakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Dan Daddy juga mengucapkan, Kamu tidak pernah tahu apa yang bisa dicapai sampai kamu mencobanya terlebih dahulu!, Kau benar Dad, That's true. Aku harus mencoba ikhlas, agar Daddy bahagia disana!!. Ayana akan melakukannya!! Untuk Daddy, Untuk Mama Cia. Semoga kalian bertemu disana, dan semoga kalian bisa bertemu juga dengan Mama May. Sampaikan Rindu Ayana padanya, Ucapkan rasa terimakasih Ayana. Karena Mama May membuat Ayana lebih kuat!! " Ia segera menyeka air matanya dan menghampiri Rani lalu memeluk ibu mertuanya, Rani benar-benar sangat menyayangi Ayana, Apalagi Rani tidak memiliki anak perempuan.
__ADS_1
Faaz dan Aliq pergi untuk mengurus Administrasi kepulangan Zain, di dalam hati Faaz. "Uncle sahabat, teman serta ayah yang baik untuk Ayana, Faaz janji akan menjaga Ayana sebagaimana Uncle selalu menjaga kami!! " Faaz berjalan dengan Air mata yang mengalir membasahi pipi nya.