TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Keadaan Qabil


__ADS_3

Di dalam ruangan gelap, Rayna termenung sendiri. Rasanya ia menyadari bahwa perkataan Fizzy adalah kebenaran, rasa sesal itu pun keluar dari dalam hatinya. Namun, gejolak dari angan nya tak dapat ia tutupi bahwa ia masih merasa sakit hati akan pernikahan Faaz dan Natasha.


Terlebih lagi anak semata wayangnya sangat dekat dengan ibu sambungnya, Rayna mengingat betul jika semua ini adalah keinginannya.


Dulu saat Rayna mengetahui jika dia sedang hamil, dia sangat ingin membuat janin nya itu gugur. Di dalam hati nya, yang mungkin tak Faaz ketahui dia selalu ingin bersumpah akan kematian janin itu. Namun, Tuhan tak menghendaki keinginan nya itu.


Dan jika harus di ingat, sekarang Aleesya tidak dekat dengannya memang lah keinginan nya sedari dulu, dia menyesal akan sumpah serapah yang pernah ia beri kepada anak nya itu.


“Aleesya, mama bisa gila jika terus mengingat masa-masa dulu mama, betul apa kata Fizzy! Mama tak pantas menjadi ibu, benar apa kata nya ibu macam apa aku ini!” Gumam Rayna seorang diri, kaki nya ditekuk hingga menempel di dada. Ia menangis, merasa tak berguna menjadi seorang ibu.


"Aku memang sangat bersalah, jika saja aku mau memiliki anak itu. jika saja pengkhianatan itu tidak aku lakukan dan jika saja Aku lebih jujur kepada mu Faaz."


Helaan nafasnya terdengar sangat berat, "Haaaah"


Rayna membendung air matanya, "Maafkan Aku, aku sangat menyesal. namun aku tidak ingin kau bersama Natasha!, hatiku seakan tidak merelakan nya Faaz" Gumam Rayna terus menerus, air matanya kini keluar dengan deras.


Ia pun segera mengusap air matanya, “Apa aku siap kehilangan semua? Kehilangan harta, cinta dan juga kasih sayang dari Faaz!”


“ahhrrrrggg!” Teriak Rayna dengan keras, “Kau bodoh Rayna, kau melepaskan segudang emas demi kenikmatan sesaat mu!” Gumam nya kembali.


Ponsel nya bergetar, terlihat Aidil mencoba menghubungi dirinya. Rayna membuang ponsel tersebut, ia seakan tak ingin berbicara walau satu kata pun dengan Aidil.


“Aku sangat membenci dirimu Aidil!!” Gumam nya saat itu, ponsel itu kembali bergetar dengan hebat. Ia sudah mengira bahwa Aidil lah yang menghubungi nya, ia pun memilih untuk tidak membawa ponsel yang sedari tadi ia buang ke sembarang arah.


"Kau penyebab Utama kekacauan ini!!! " Ucap Rayna penuh dengan penekanan, "Andai saja aku melepas mu sedari dulu!, mungkin saat ini aku sudah bahagia dan hidup damai dengan Faaz! " Gerutu Rayna kembali.


Lagi dan lagi ponsel itu bergetar dengan hebat, “Mau apa sih dia!” Umpat nya penuh dengan kekesalan, nada yang setengah meninggi seakan rasa cinta yang pernah ada untuk Aidil kini sirna di makan rasa kesal.


Ia pun mengambil ponsel tersebut, Ia menggeser kunci layar ponselnya dan membaca panggilan yang tidak terjawab pada ponsel miliknya.


*Faaz Calling missed


“Faaz?” Tanya Nya dalam hati seolah tak percaya bahwa setelah Aidil mencoba menghubungi nya lewat panggilan masuk itu dan kini nama Faaz tertera pada ponsel tersebut.


“Kenapa Faaz menghubungi ku?” Tanya nya kembali seolah merasa tak percaya kembali, rasa penasaran pun muncul di dalam benaknya.


“Apa Faaz sudah tidak marah?” Tanya nya kembali.


“Aku harus menghubunginya kembali” gumamnya saat itu, ia segera menekan nama yang tertera di dalam ponselnya. Lalu ia menghubungi kembali Faaz, senyum nya terlihat manis saat tahu bahwa Faaz mencoba menghubunginya.


Tut...


Tut...


Tut...


Panggilang terhubung ~ Faaz suamiku.


“Halo” suara yang tidak asing itu terdengar jelas di telinga Rayna, “Halo” sapa nya kembali, Rayna terdiam dan tak ingin melanjutkan nya, Ia segera mematikan panggilan tersebut.


“Natasha,” ucap Rayna dalam hati seakan merasa kesal karena panggilan pada ponsel tersebut, di terima oleh Natasha.


“Mengapa harus dia yang mengangkat nya!” Gumam Rayna kembali, tak lama kemudian Faaz kembali mencoba menghubungi Ponsel Rayna. Rayna menerima panggilan tersebut, lagi dan lagi suara Natasha terdengar sangat nyaring di telinga Rayna dan Rayna lebih memilih mematikan panggilan tersebut.


“Kau pasti tahu kan jika nomor itu adalah nomor ku, lalu mengapa kau memainkan aku Natasha! Aku sudah merasa bersalah, namun kini aku akan merebut kembali cinta ku dari tangan mu!!” Gerutunya penuh dengan tatapan sarkas, seakan ia merasa di permainkan oleh Natasha. Ia merasa jika Natasha ingin memberikan hawa panas kepadanya, dengan mencoba menerima serta menghubungi ponsel Rayna.


"Aku yakin masih ada tempat untuk ku di hati Faaz!!" Ucapnya kembali.


Berbeda jauh dengan Natasha, ia merasa bingung dengan Rayna yang menerima panggilan tersebut namun tak ingin berbicara dengan nya, ia sangat ingin berbincang dengan Rayna dan berniat mengucapkan rasa terimakasih nya karena Rayna memberikan nasihat baik kepada Aaleesya untuk mendoakan serta memberikan kasih sayang kepada adiknya itu (Damar).


“Gimana udah ngobrol nya?” Tanya Faaz saat datang menghampiri Natasha, “Kok malah bengong?” Tanya Faaz kembali.


“Emmmph Udah Faaz tapi Kak Ray gak ngomong apa-apa!” Jawab Natasha, Faaz pun hanya terdiam saat mendengar isi dari jawaban Natasha.

__ADS_1


“Aku yakin, Rayna dengan sengaja tak ingin berbincang bersama Natasha. Aku gak yakin jika Rayna sudah berubah!” Gumam Faaz di dalam hati.


“Ya sudah, aku mau ngobrol dulu sama dokter yang menangani Qabil. Sebentar lagi Fizzy sama Aliq datang dan kamu gak apa-apa kan nunggu sendiri” ucap Faaz.


“Gak apa-apa kok Faaz, “ Jawabnya, Faaz membawa ponsel miliknya karena akan menghubungi Zain. saat Faaz memulai langkahnya untuk keluar, Natasha memanggil kembali Faaz, "Suamiku" Panggil Natasha.


Faaz menoleh dengan senyuman yang terlihat sangat berat, "semua akan baik-baik saja! " Ucap Natasha


Faaz kembali meninggalkan Natasha di kamar inap miliknya. saat Faaz melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar tersebut, ia kembali menoleh, “Papa Ido sama Papa Jim, sengaja aku larang kesini. Besok kan kamu udah pulang, nanti minta Panggilan video aja lewat ponsel Fizzy.” Ucap Faaz, Natasha menganggukan kepalanya.


Faaz keluar untuk menghubungi Zain, sebenarnya Faaz sudah mengetahui keadaan Qabil yang sebenarnya. Namun, Faaz sengaja tidak memberitahu Natasha mungkin karena, kesehatan Natasha yang kini sudah sangat baik dan Faaz tak ingin membebani Natasha dengan memberitahu bahwa Qabil sedang berusaha melewati masa kritisnya.


“Hmmm padahal aku ingin sekali berbincang dengan Kak Rayna, tapi mengapa dia malah mematikan panggilan ku.” Natasha terlihat sedang berpikir, “Ah nanti saja, setelah aku pulih. Aku akan mengucapkan rasa terimakasih ku kepadanya. Karena dia sudah memberikan kalimat positif untuk Aleesya, dan karena doanya juga aku cepat pulih” Gumama Natasha kembali.


Natasha kembali menginga raut wajah suaminya saat masuk dan pergi kembali dari ruangan miliknya, Faaz terlihat sedang menutupi kegundahannya. “Aku rasa ada hal yang sedang ia tutupi, apa karena masalah keadaan Qabil” gumam nya.


“Mengapa perasaan ku tidak enak!” Gumam nya kembali.


Saat Faaz menghubungi Zain, terlihat Fizzy dan Aliq sudah datang dan mereka memanggil Faaz sembari menghampiri Faaz yang terlihat sedang kebingungan.


Fizzy memeluk saudara kembarnya, tak lama kemudian Aliq juga memeluk Faaz. Mereka melihat raut wajah Faaz yang tak biasanya, “Apa ada hal buruk yang sedang terjadi?” Tanya Fizzy.


“Qabil” Faaz terlihat sangat lemas, “kemungkinan hidupnya hanya 10 persen!, dan aku sudah tidak tahu harus bagaimana!” Ucap nya seraya memberitahu Fizzy, Fizzy membekap mulutnya menggunakan satu tangannya, ia pun sama terlihat sangat lemas.


Fizzy menangis di dalam pelukan suaminya, “bagaimana dengan Alea!, dia baru saja merasa dirinya berguna! Dan kini maut kembali memisahkan nya!” Ujar Fizzy sembari menangis.


“Kemungkinan Qabil hidup menggunakan mesin, dan jika kita melepasnya, ia sudah ....” kalimat yang sedang Faaz sampaikan tersela, ia menangis dan merasa tak kuasa mengucapkan jika Qabil telah tiada.


“Faaz, mudah-mudahan keajaiban datang!” Sela Aliq,


“Aku merasa sudah tidak ada keajaiban lagi untuk nya Aliq” Sambung Faaz.


“Tidak Faaz, Tuhan pasti memberikan kehidupan kembali kepada Qabil. Dia orang yang sangat baik, dia sangat mencintai Alea” Tukas Fizzy, Fizzy menggelengkan kepalanya dengan pelan seakan tak mampu menerima kenyataan mengenai Qabil.


“Sekarang Dokter meminta ku memilih dua pilihan, Aku harus memilih untuk mencabut semua mesin yang menempel di badannya atau dia akan tetap hidup mengunakan mesin-mesin itu dan tak tahu sampai kapan!” Faaz terlihat sangat frustasi, begitupun dengan Fizzy.


“Aku merasa kasihan dengan Alea!” Gumam Fizzy, “Dia pasti sangat menderita!” Gumam nya kembali.


“Mengapa hal ini selalu terjadi padanya, Tuhan” ucap Faaz, Faaz memang tak kuasa menahan rasa sedih nya dihadapan Natasha. Ia memilih membohongi Natasha dan berucap akan menemui dokter karena ia tak kuat menahan tangisnya itu.


“Uncle,” panggil Fizzy, Zain menghampiri mereka. Lalu Fizzy memeluk Uncle nya itu dan menangis di dalam dekapan Zain.


“Apa yang dokter katakan Faaz?” Tanya Zain.


“Mereka sudah tidak mampu lagi merawat Qabil, mereka tidak mau melanjutkan operasinya. Qabil memiliki sakit pada otaknya, dan kita tidak tahu mengenai sakit yang Qabil derita.”


“kerusakan di otak belakang nya sangat parah dan itu sudah menjalar sampai tulang belakang” Ucap Faaz.


“lalu?” Tanya Zain kembali,


“Dokter sudah tidak mampu untuk melanjutkan pengobatan Qabil, bahkan Aku sempat menghubungi Uncle Richard dan kemungkinan hidupnya memang sangat tipis.” Ungkap Faaz kembali,


“Bagaimana detail keadaan Qabil sekarang?” tanya Zain kembali yang terlihat belum mengerti dengan kondisi kesehatan Qabil.


“Mati batang otak!” Jawab Faaz, Zain menggelengkan kepalanya dengan pelan seolah tak percaya dengan keadaan Qabil sekarang.


“Mati Batang Otak adalah kondisi dimana seseorang mengalami gangguan fungsi batang otak dan secara permanen kehilangan potensi kesadaran dan kemampuan bernafas.”


“Saat kondisi ini terjadi, Qabil harus dipasang alat bantu yang disebut ventilator untuk membantu supaya oksigen tetap mengalir ke sel tubuh lewat aliran darah.” Jelas nya kembali, “Dan kemarin pemasangan ventilator sudah di lakukan Uncle!”


“Namun, tadi pagi Qabil dinyatakan Menjadi pasien dalam keadaan gawat darurat mungkin Karena ia tak mampu mengalirkan oksigen tersebut!, “


“Dokter menjelaskan bahwa, Kondisi Qabil dinyatakan darurat karena fungsi batang otak nya mati secara permanen. Apalagi keadaan Qabil di sertai dengan berhentinya nafas dan detak jantung. Bahkan 90 persen kondisi Qabil sudah mengarah pada Kematian dan mati batang otak yang di derita Qabil juga sudah di identifikasi oleh dokter karena Qabil tidak menunjukkan respon lewat gerakan.”

__ADS_1


“Kematian bisa terjadi karena kurangnya pasokan oksigen dalam darah. Begitu kurang lebih penjelasan oleh dokter.”


“Saat itu Qabil sudah memiliki rusak jaringan pada otaknya dan saat Qabil mengalami cedera pada otak belakang nya kerusakan nya semakin parah bahkan ia mengalami pendarahan di otaknya yang sangat parah dan..” tangis Faaz terisak, dan sepertinya Faaz tak mampu melanjutkan penjelasannya lagi, Zain mencoba menenangkan Faaz dengan memeluk nya dan mengusap lembut punggung belakang keponakananya itu.


Fizzy menangis saat mendengar apa yang Faaz ceritakan, ia tak mampu mendengar keadaan adik angkatnya yang seharusnya sudah menjadi adik iparnya.


Tangis Fizzy pecah, “Mengapa jadi separah ini Tuhan, tolong selamatkan Qabil. Aku mohon!” Ujar Fizzy.


“Tenanglah sayang, dia orang baik dan Tuhan akan memberikan kebaikan untuk nya. Apapun yang menjadi takdirnya, itu lah yang diberikan oleh Tuhan” Tutur Aliq yang mencoba menenangkan hati istrinya.


“Qabil menutupi sakit nya yang parah dari kita, begitu maksud mu Faaz?” Tanya Zain kembali.


“Iya, mungkin dia tidak ingin membebani kita” ujar Faaz kembali.


“Dulu Papa mu mengalami kecelakaan yang sangat parah karena telah menyelamatkan Mama mu, dan kerusakan di batang otak belakang hingga tulang punggung nya cukup parah dan semoga saja Qabil juga memiliki keajaiban yang sama” Tutur Zain.


“Kabar baik pagi ini akan sirna, jika orang-orang dirumah mengetahui nya” ucap Zain.


“Kabar baik apa Uncle?” Tanya Fizzy.


“Alea sudah membaik, bahkan ia mau menumpahkan hingga mengungkapkan semua kekesalannya sedari kecil kepada Ayana dan Maliq. Kini mereka semua berdamai”


“Mengapa bisa Uncle?” Tanya Fizzy seolah tak mempercayai kabar baik ini.


“Noni memberikan hipnoterapi kepada Alea hingga Alea mampu menyelesaikan keluh kesah nya pagi tadi, beruntunglah kita memiliki psikiater seperti Noni” ungkap Zain kembali, Faaz dan Fizzy terlihat sangat lega mendengar kabar tersebut.


“Tetap saja, kita tidak tahu jika hal buruk terjadi kepada Qabil dan bagaimana Alea menghadapinya” Gumam Fizzy kembali.


“iya, semoga saja semua baik-baik saja” timpal Aliq, “lalu apa yang harus kita lakukan saat ini!” Tanya Aliq.


“Keputusan ini ada di tangan mu Faaz, namun tetap kita tidak bisa memutuskan tanpa berbicara kepada Papa mu. Bagaimana pun Qabil sudah seperti anak kandung Papa mu, dan mau tidak mau kita harus berbicara kepada nya” sahut Zain, Faaz mengangguk pelan. Ia mencoba memahami situasi yang sudah terjadi, tanpa harus merasa takut jika akan terjadi sesuatu kepada Papa nya saat tahu keadaan Qabil yang sudah tidak dapat lagi di selamatkan.


“Lagipula kasihan jika Qabil harus menunggu, kasihan dia... kita harus berusaha mengikhlaskan nya!” Ucap Zain kembali.


“Aku harus bagaimana Uncle, aku ingin sekali menyelamatkannya! Jika saja ada rumah sakit yang hebat, aku rela membayar berapapun untuk membuat nya kembali segar!”


“Faaz hey! Ini pasti sudah ketentuan Tuhan, kita harus menerimanya!”


“Kita berdoa saja, semoga keajaiban itu datang. Benarkan Uncle?” Tanya Aliq kepada Zain, Zain mengangguk.


“Uncle, Aku sedang menunggu Maliq dan Noni yang akan datang, nanti Noni dan Fizzy bisa menemani dulu Alea Dan kami akan mengurus apa yang harus dibutuhkan oleh Qabil”


“Bagaimana dengan Natasha apa sudah tahu keadaan Qabil?” Tanya Fizzy.


“Natasha sama sekali belum mengetahuinya, Aku tidak bisa mengatakan hal itu” jawab Faaz.


Noni serta Maliq sudah datang, Faaz segera menceritakan apa yang sedang terjadi kepada Qabil. Noni mengerti sekali apa yang harus ia lakukan, Tak lama kemudian Noni meminta Maliq untuk mengantarkannya kembali kerumah.


Namun belum sempat Noni melangkahkan kaki nya, perawat memanggil serta menghampiri Faaz. Terlihat sekali jika perawat itu ingin menyampaikan sesuatu, Maliq dan Noni menghentikan langkahnya, mereka juga memutuskan untuk tetap berada di Area rumah sakit tersebut.


“Tuan Faaz....” Panggil salah satu perawat kepada Faaz seraya menghampiri Faaz, perawat itu terlihat sangat cemas.


“Dokter memanggil anda untuk masuk kedalam ruangan Pasien 310” ucap perawat tersebut.


“Qabil?” Tanya Faaz kepada perawat tersebut,


“Iya Tuan, “ Faaz berlari dan segera masuk untuk melihat keadaan Qabil.


Mereka menunggu di depan Ruangan isolasi yang menjadi saksi bisu perjuangan Qabil, “Uncle, apa kita beritahu saja Papa!” Tanya Maliq.


“Biar Uncle saja yang memberitahunya” Ucap Zain, Zain pun mencoba menghubungi Ayana Karena ia sudah mencoba menghubungi Rido, namun Rido tak menerima panggilan pada ponselnya.


"Tuhan, tolong berikan kekuatan untuk Kakak serta semua keponakan ku. mereka pasti sangat merasa kehilangan Qabil, apalagi Alea.. Aku mohon berikan dia kekuatan serta keikhlasan hati untuk menerima keputusan apapun dari mu! " Gumam Zain di dalam hatinya, Zain merasa khawatir dengan kesehatan mental Alea. Zain juga merasa khawatir dengan kesehatan kakaknya, karena sedari kemarin Rido banyak sekali menerima permasalahan di dalam keluarga nya.

__ADS_1


Fizzy menangis memeluk Suami nya, Maliq terlihat sangat putus asa, Maliq juga terlihat sangat gemetar. Kaki nya tak mampu untuk diam, air mata nya mengalir, Noni mencoba untuk menenangkannya.


“Ya Tuhan, selamatkanlah dia!” Ucap Maliq, “Aku janji tidak akan membuat Alea sakit hati lagi, Aku mohon selamatkan dia Tuhan!!” Ucap Maliq kembali, air matanya terus menerus mengalir. Noni menggenggam tangan Maliq, ia mencoba menguatkan perasaan Maliq.


__ADS_2