TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Sosok Pahlawan untuk Damar


__ADS_3

Setelah Pengacara Kendra berpamitan untuk pulang, Aliq memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Faaz.


Aliq menatap wajah Faaz, dalam tatapan nya itu tersimpan satu pertanyaan besar untuk Faaz dari Aliq. Namun, Aliq merasa tidak enak untuk menanyakan hal itu.


Faaz menegakkan kepala nya yang sedari tadi tertunduk lemas, "Aliq, kau tahu kan alasan ku menceraikan kakak mu? " tanya Aliq.


Aliq tersenyum, "Aku lebih dari tahu Faaz, bahkan Aku merasakan hal yang membuatmu sakit. Dan Aku merasa perceraian mu dan kakak ku memang lah jalan yang terbaik" Sahut Aliq, Aliq menjawab apa yang Faaz tanyakan saat itu.


"Jika saja kau tahu, hati ku sangat berat untuk memutuskan ini. Perlu waktu 4 tahun lamanya aku mempertimbangkan semua ini, dan kau pasti tahu kan Aliq" Ucap Faaz, Ia memang merasa sangat bimbang.


"Dan bukan karena Natasha lah aku menceraikan Rayna!, sebelum aku mengenal Natasha, keinginan ini pernah aku ucapkan padamu tetapi saat itu.. " kalimat Faaz terhenti, Ia menundukkan kepalanya. Ia seolah tak mampu berbicara lagi,


Faaz pun menceritakan mengenai dirinya pernah mendatangi seorang yang menemaninya untuk menerima bimbingan konseling pernikahan, Faaz sudah sangat lama mengikuti bimbingan tersebut.


"Saat itu Tuan Hanson berucap, Aku tidak perlu melupakan soal perselingkuhan itu. Jika Anda dan pasangan tidak mampu move on dari peristiwa itu, maka sebaiknya akui secara jujur, diskusikan secara terbuka, minta bantuan orang lain, berpisah sementara, atau bisa saja memilih untuk berpisah selamanya." tutur Faaz.


"Papa mu juga memberiku sebuah Nasihat, Papa berucap, jika Pernikahan di awali dengan Kebohongan, Pernikahan akan hancur lebur dan Jika memang berpisah adalah jalan terbaik. maka lakukanlah, Lakukan dengan benar dan bijak agar suatu hari tidak ada kata menyesal karena telah berpisah" Ucap Faaz.


"Itu lah yang membuat ku yakin untuk memilih jalan ini." timpal Faaz, "karena awalnya, aku sangat takut jika Papa mu dan semua keluarga mu mengira jika aku suami yang tidak mampu menjaga Rayna."


"Dan awalnya pula aku takut akan pemikiran semua anggota keluarga mu mengenai pengkhianatan yang aku lakukan! " Ucap Faaz, "Maksudku pernikahan ku dengan Natasha! " Ucap Faaz kembali.


"Karena saat itu semua keluarga mu tahu jika Rayna masih dalam keadaan hidup," Ujar Faaz.


"Dengar kan lah Faaz!," Aliq menepuk bahu dan merangkul bahu milik Faaz itu, "Aku, Papa dan Mama tidak berpikir karena kau telah memiliki Natasha dan akhirnya kau akan melepaskan Kakak ku. Alasan mu sangatlah kuat Faaz, dan kami mengerti akan hal itu" Ucap Aliq.


"Aku tak ingin menyakiti siapapun Aliq, tapi setidaknya dengan mengambil keputusan ini, permasalahan di hidupku akan berkurang." Sela Faaz.


"Kami mengerti, dan sekarang kau tak usah membebani pikiran mu. Semua akan berjalan dengan langkah yang baik, melewati proses hukum yang baik dan saat itu tiba kau akan merasa sangat lega. Aku yakin Kakak ku pun akan menerima keputusan mu dengan sangat bijak"


"Aku harap begitu Aliq,"


"Faaz aku ingin bertanya sesuatu kepadamu!" Aliq memberanikan dirinya, "Tapi aku mohon, jangan marah kepadaku Faaz! " Ucap Aliq kembali.


"Katakanlah Aliq! " Ucap Nya kembali,


"Jika suatu saat Aidil mengetahui bahwa Aaleesya bukanlah anak mu, dan jika saja Aidil meminta untuk membawa Aaleesya apa yang akan kau lakukan?" Pertanyaan Aliq kepada Faaz di sambut dengan wajah Faaz yang terlihat melamun tegang, Ia seakan tak mampu membayangkan apa yang tengah menjadi pertanyaan Aliq.


"Faaz maaf jika aku membuatmu tersinggung!" Sambung Aliq kembali.


"Tidak Aliq, aku tidak merasa tersinggung." Ucap Faaz, "Namun, Aku merasa tidak mampu membayangkan hal itu terjadi." Ucap Faaz kembali.


"Aku pun begitu Faaz, aku berharap semua itu tidak akan terjadi." Sahut Aliq


"Tapi aku tetap tidak bisa menutupi keadaan ini Aliq, bagaimana pun darah yang kental tidak bisa di cuci oleh air dan aku harus bisa menerima itu semua" Ungkap Faaz sembari merunduk sedih, "Aku harus bisa menyikapi hal itu dengan baik, walaupun awalnya akan merasa sangat terpaksa. Maka dari itu, aku harus belajar menerimanya" Ungkap Faaz kembali.


"Baiklah, jika seperti ini aku sudah tau mengenai jawaban yang kau maksud. Aku hanya bisa mendoakan apapun menjadi yang terbaik untuk mu" Ucap Aliq.


"Terimakasih Aliq kau sudah menerimaku dengan bijak, "


Aliq merangkul Faaz, "Kau bukan hanya hanya sahabat dan kini saudara ipar ku, kau adalah panutan ku sedari dulu. Aku begitu banyak bersalah padamu Faaz, maafkan! " Tutur Aliq membuat Faaz merasa bahagia.


"Aku bangga denganmu Faaz, jika saja Aku seperti mu. Mungkin, Aku tidak akan sebijak dirimu! " Ungkap Aliq, Faaz pun memeluk Aliq dengan erat.


Aliq berpamitan untuk keluar dari ruangan pribadi milik Faaz, tak lama kemudian Natasha menghubungi Faaz melalui ponsel miliknya itu.


"Halo" sapa Faaz dibalik ponsel yang di pegang nya itu.


"Sayang, Aku mau ijin untuk pergi sekarang" Ucap Natasha meminta ijin kepada suaminya itu.


"Mmmph Iya, kalau gitu hati-hati sayang. Aku akan pergi sebentar, kabari aku mengenai keadaan Damar" Jawab Faaz, Natasha pun mengiyakan apa yang Faaz ucapkan. Dan Faaz segera menutup panggilan pada ponselnya itu.


Ia berpikir sejenak mengenai perpisahan nya kembali, sudah 2 minggu lama nya ia tak bertatap muka dan tak ingin berbicara dengan Rayna. Apalagi semenjak kejadian meninggalnya Qabil, ia merasa sangat menyesal karena telah membiarkan Rayna tinggal bersamanya.


"Aku tak mampu melupakan setiap permasalahan yang kau buat, aku tak mampu menghilangkan itu dari ingatan ku. Tapi ketahuilah Ray, walaupun kau memiliki banyak kesalahan kepada ku, khususnya keluarga ku. Kau akan tetap menjadi bagian wanita yang pernah aku cintai, walaupun rasa cinta ku padamu kini sudah berkurang sangat banyak! " Gumam Faaz, Faaz mencopot hiasan dinding bertuliskan nama Rayna dan namanya.


Abrar membawakan Kardus kosong yang sebelumnya Faaz minta kepadanya, Hiasan dinding itu ia simpan di dalam kardus itu, Faaz juga mencopot foto-foto pernikahan yang di pasang pada dinding ruangan pribadi nya.


Foto-foto itu sudah tersimpan di dalam dus kosong tersebut, "Abrar, bisakah kau menutupnya dengan lakban. Lalu pinta Toni untuk menyimpannya di gudang belakang, Foto pernikahan ku dengan Rayna yang berada di kamar nya serta di ruang tamu juga simpan saja di gudang" Pinta Faaz, Abrar menganggukkan kepala nya. Abrar segera memerintahkan Toni, pegawai Faaz yang lainnya untuk segera melakukan perintah yang Faaz berikan.


Faaz menatap jendela, dari jendela terlihat Aaleesya yang sedang bermain bersama Noni dan juga Maliq. Alea juga duduk di atas kursi dan memperhatikan permainan yang sedang Noni dan Maliq lakukan, sedari kecil Alea sangat senang bermain salju begitupun dengan Aaleesya yang selalu bermimpi untuk bermain salju.


Kini, Aaleesya bisa dengan bebas memainkan salju karena kondisi tubuh nya yang menjadi kuat pasca kesembuhannya. Faaz tertawa melihat tingkah Aleesya yang sedang membuat Maliq menjadi seorang boneka salju, dan menertawakan tingkah sang Paman.


Faaz tertawa melihat nya, "Esya, kesayangan ku. Kesayangan Papa dan Mama Natasha, maafkan Papa nak. Maafkan Papa membuat mu jauh dengan Ibu kandung mu, Papa janji suatu saat Papa akan menjelaskan siapa Rayna. Siapa dia yang selalu kau tanyakan! " Ucap Faaz lirih. ia tertawa namun, air matanya menetes.


"Tuan Muda Faaz, semua sudah selesai. Apa ada yang bisa saya bantu lagi? " Tanya Abrar.


"Terimakasih Abrar, Aku rasa tidak ada" ucap Faaz kembali, Abrar kembali menganggukkan kepalanya. Saat Abrar akan pergi meninggalkan Faaz dari ruangan itu, Faaz pun memanggilnya kembali.


"Abrar, " Panggil Faaz, Abrar menoleh dan tetap berdiri dengan kepala yang masih tertunduk.

__ADS_1


"Maaf dulu aku tak mempercayai mu! " Ucap Faaz, "dulu saat kau dan Papa menjadi saksi atas perselingkuhan Aidil dan Rayna, aku malah menuduh mu menghasut Papa ku" Ucap Faaz kembali, Ia melangkahkan kaki dan menghampiri Abrar. Setelah itu Faaz mengatupkan kedua tangannya di hadapan wajah Abrar, Abrar pun melihat wajah Faaz yang terlihat bersedih.


"Tuan aku mohon jangan lakukan ini" Ucap Abrar, "Aku mohon Tuan muda, " Ucap Abrar kembali sembari berusaha melepaskan tangan Faaz.


"Aku ingin sekali melihat Tuan muda bahagia"


Abrar meneteskan air matanya, ia terlihat sangat bersedih. Abrar sangat tahu bagaimana Faaz kecil, Abrar lah yang menjadi orang kepercayaan May dan Rido untuk mengurus segala kebutuhan keluarga Rido di rumah.


Rasa sayang Abrar kepada Faaz sangatlah besar, dulu saat Faaz berusia 10 tahun, Abrar lah yang selalu dekat dengan nya. Abrar memang lebih tua dari Faaz namun, rasa hormat Abrar kepada Faaz sebagai tuan nya itu terlihat sangat nyata. Abrar adalah orang yang sangat setia kepada Rido setelah Dhan, Abrar juga yang selalu menjaga dan mengantarkan kemana pun anak-anak Rido bepergian.


Rido sangat menyayangi Abrar. bagi Rido, Abrar sangatlah baik dan juga sopan dalam bersikap. Dulu Abrar sering sekali menyaksikan kisah perselingkuhan Aidil dan Rayna, Aidil pernah mengancam Abrar akan membunuhnya jika Abrar mengadukan perselingkuhan nya bersama Rayna.


Dan saat itu, Abrar hanya mampu membuat Faaz bahagia dengan memenuhi segala perintahnya. Walaupun Abrar sering sekali merasa tidak tenang karena menutupi kebusukan sahabat karib Tuan mudanya yang mungkin sudah dianggap sebagai adik angkatnya juga.


Faaz memeluk Abrar, karena sedari dulu jika Faaz sedang merasa kesepian. Abrar sering kali memeluknya, "Abrar, dulu aku pernah bertanya. Mengapa kau tak menikah? "


"Lalu kau menjawab, Aku tidak siap patah hati. Aku pun tidak siap untuk menyakiti! " Ucap Faaz, "Abrar, aku merasa kau benar sekali."


"Saat kau mengucapkan kalimat, jika kau tak ingin menyakiti dan belum juga siap patah hati. Sebenarnya kau memang sedang membuatku sadar akan pengkhianatan itu, "


"Terimakasih karena kau selalu berusaha menyadarkan ku!"


"Lalu aku pun bertanya kembali, mengapa kau tetap setia dengan keluarga ku? " Lanjut Faaz kembali.


"Dan kau pun menjawab, karena keluarga ku sudah menjadi keluarga mu. Aku sudah memiliki keluarga yang utuh serta anak-anak yang baik" Jelas Faaz sembari melihat Abrar, Abrar merasa sedih saat mendengar penuturan Tuan Muda nya itu.


"Maaf aku sudah lancang berbicara seperti itu kepada mu Tuan muda, " Ujar Abrar kembali.


"Tidak Abrar justru aku sangat senang, aku sangat senang sekali" Faaz memeluk Abrar, Abrar pun membalas pelukan nya.


"Yang terpenting sekarang Tuan sudah memiliki kebahagiaan, aku merasa jika Nona Natasha membuat Tuan bahagia" Kata Abrar sembari tetap memeluk Faaz, Faaz mengangguk pelan. Rido datang dan melihat Faaz sedang memeluk Abrar, Rido sangat senang melihat Abrar dan Faaz yang sedang berpelukan.


"Aku merasa bahagia Tuan, semoga kedepannya Tuan dan Nona serta keluarga ini menjadi hidup damai. Dan satu lagi Tuan, keputusan mu sudah sangat baik sekali." Ungkap Abrar, Rido melangkahkan kaki untuk mendekati keduanya, lalu Rido memeluk Abrar dan juga Faaz.


"Terimakasih Abrar, sudah setia kepada kami. Kami harap kau selalu bahagia" Ungkapan Rido terasa sangat berarti untuk Abrar, setelah mereka saling menumpahkan rasa kasih sayang nya itu. Faaz pun menceritakan bagaimana gugatan perceraiannya kepada Rayna.


Rido bertanya, "Apakah Rayna sudah mengetahuinya? " Sembari menatap wajah sang Anak, Rido memastikan jika perceraian ini sudah disetujui oleh Rayna.


"Aku sudah memberitahu sebelumnya, dan sebenarnya talak itu sudah jatuh lebih dari sebulan yang lalu! " jawab Faaz.


"Apakah Rayna menyetujuinya? " Tanya Faaz.


"Papa percayakan kepadamu Faaz, kau tahu langkah-langkah terbaik dalam perceraian mu. Dan Papa hanya minta, tolong jangan pernah menjadikan mantan istri mu musuh mu setelah perceraian ini berlangsung dan Papa mohon, berikan dia hak serta kewajibannya sebagai ibu" Nasihat Rido untuk Faaz terdengar sangat lah bijak, Faaz pun mencoba menyanggupi apa yang Rido minta kepadanya.


Rido kembali berucap, "Jika membuat mu merasa bahagia dengan berpisah, Papa hanya mampu mendoakan saja yang terbaik untuk kalian. Yang terpenting, kau tetap menerima keberadaan Aaleesya."


Faaz mengangguk pelan, "Terimakasih karena Papa sudah mengerti perasaan ku, dan terimakasih karena Papa sudah mau memberiku berjuta-juta nasihat dan tak lelah mengingatkan ku akan hal kebaikan" Faaz memeluk sang Ayah, Abrar selalu merasa bahagia ketika melihat kedekatan diantara Ayah dan anak yang harmonis itu.


**


Natasha sudah berada di dalam ruangan Damar, Ia tersenyum saat melihat malaikat kecil nya itu terlihat sangat sehat.


sebelumnya, Natasha yang ditemani Ayana dan Mael berbincang bersama Dokter yang menangani kondisi kesehatan Damar.


Dokter berucap jika Damar memanglah anak yang sangat kuat bahkan kemajuan kesehatan nya menaik pesat, tak hanya itu Damar juga sangatlah sehat dan dan dalam jangka waktu terdekat Dokter akan memberitahu Natasha kapan Damar dapat dibawa pulang.


"Anak ku, pelita hatiku. Mama sangat senang mendengar apa yang telah Dokter sampaikan, bagi mama, Damar sudah memberikan Mama kekuatan."


"Mama bahagia sekali Nak, mama sangat bahagia melihat keadaan Damar dan sepertinya Papa Faaz dan semuanya termasuk kakak mu akan sangat bahagia mendengar kabar ini."


Ayana dan Mael yang hanya bisa melihat melalui kaca itu, merasa sangat bahagia bisa melihat Damar di gendong oleh Natasha. Ayana merasa sangat bahagia melihat senyuman kakak iparnya itu.


"Lihatlah, diluar sana Ada Aunty Ayana dan Uncle Mael yang juga menyayangi mu" Ucap Natasha, "Dan kelak nanti kamu dewasa, mama akan ceritakan sosok pahlawan untuk Damar." Ucap Natasha kembali sembari menitikkan air matanya.


"Sosok Pahlawan Damar adalah Paman Qabil, ia pahlawan yang sangat tulus dan kelak mama akan minta Damar agar selalu mengingat nya. tak hanya itu, Damar akan selalu menyayangi Aunty Alea seperti Paman Qabil menyayanginya."


"Mama sangat menyayangi mu Nak, mama berharap kau besar dan tumbuh menjadi anak yang penyayang."


"Seperti kakek mu, Papa mu dan juga semua orang yang menyayangi mu" Ucap Natasha di tutup dengan kecupan di kening Damar dari Natasha, Ia menyimpan kembali Damar di tempat inkubator nya.


Natasha juga tak lupa mengucapkan rasa terimakasih nya kepada Perawat yang selalu setia menjaga Damar dengan baik, perawat itu memang di khususkan oleh Faaz untuk menjaga Damar.


Faaz tak tanggung meminta dua perawat untuk menjaga Damar, dan perawat itu selalu memberi kabar kesehatan Damar kepada Faaz setiap harinya.


jadi sebenarnya Faaz selalu tahu bagaimana keadaan Damar, dan Faaz selalu senang karena Damar menunjukkan keadaan yang selalu membaik.


Natasha keluar dari ruangan itu, Ia memeluk Ayana dan juga Mael. Natasha menangis bahagia melihat keadaan Damar, "Aku merasa bahagia Ayana, Mael. aku bahagia" Ungkap Natasha seraya memeluk mereka berdua.


"Kami juga bahagia melihatnya Kak Natasha" Sahut Ayana,


"Iya kami sangat bahagia Nat, kamu dan Faaz sangat beruntung memiliki anak seperti Damar. dan aku yakin Damar akan menjadi lelaki seperti ayahnya dan juga Kakeknya yang mampu merangkul semua saudaranya dan menyayangi semuanya. dia akan tumbuh menjadi lelaki yang bijak dan dewasa" Timpal Mael..

__ADS_1


"Aku akan selalu bersyukur untuk itu Mael! " Jawab Natasha sembari tersenyum.


"Damar memanglah anak yang hebat! " Ucap Ayana, "Kita pulang ya, kasihan Aaleesya. tadi dia kan ingin ikut, pasti di sedang menunggu kita" Ucap Ayana kembali, Natasha mengangguk dan segera berjalan bersama meninggalkan rumah sakit.


***


Di taman yang indah, salju tipis yang sudah mulai turun itu membuat keindahan taman terlihat lebih Indah. Hawa dingin itu terasa sangat menusuk, Aleesya sedang bermain bersama Maliq dan Noni.


Noni juga mengajak Alea untuk ikut bermain bersamanya, menikmati keindahan langit yang menjatuhkan salju tipis itu. Mereka semua memakai jaket semi tebal, dan memakai Kupluk di kepalanya agar membuat mereka merasa lebih hangat.


Alea menatap kosong saat duduk, walaupun gelak tawa dari Keponakan nya terdengar cukup keras tak membuat Alea ikut tertawa.


Alea bergumam Lirih sembari menatap rintikan salju itu "Semalam Aku bermimpi, Aku bermimpi kau datang dan mengecup kening ku Qabil! " air Matanya menetes, ia segera menyeka air matanya. salju ini mengingatkannya kepada Qabil, karena dulu jika sebelum musim salju tiba, Qabil selalu datang dan juga tinggal di Australia untuk berlibur menghabiskan waktu libur sekolahnya.


Qabil sangat senang dengan Salju itu, bahkan Qabil selalu mengajak Alea bermain salju dan jika Salju sudah tebal. Qabil selalu mengajak Alea untuk main lempar-lempar salju bersama, dan setelah mereka merasa lelah. mereka selalu merebahkan dirinya di atas tumpukan salju, walaupun terasa sangat dingin. genggaman tangan Qabil untuk Alea selalu menghangatkan nya.


"Mengapa kau hadir dalam mimpi ku hanya sebentar Qabil, rasanya Aku ingin terlelap lagi dan lagi. lalu bangun dan memastikan kehilanganmu hanyalah sebuah mimpi. karena, setiap Impianku saat dulu dan kini adalah hanya ingin bersamamu." Lirihnya kembali, "Kau selalu menantikan salju turun di area rumah ku, kau selalu ingin memainkan salju ini bukan? " Tanya Alea kembali.


"Dan Aku mohon, Sisakan sedikit ruang untukku. Aku ingin kau hadir di mimpi ku, walaupun sebentar, itupun jika kamu menginginkannya. "


"Maafkan aku yang selalu memintamu hadir, hanya untuk menghiasi indah mimpiku. Qabil, aku hanya sedang merindukan mu! "Ungkap Alea.


Ia tak dapat menyembunyikan air matanya yang terus menerus mengalir bebas, "Jika saja aku dapat meminta satu permintaan, aku ingin meminta Tuhan mengambil nyawaku segera Qabil. agar aku bisa bersama dengan mu atau agar aku tidak bisa merasakan rasa rindu kepada mu" Ia menatap ke arah langit, air matanya terlihat di seka oleh nya. langit seakan tak menunjukan senyuman tanda menyetujui keinginan Alea.


"Lea" Panggil Noni, Alea menatap Noni dengan tatapan yang sangat sayu.


"Ayo main" Ajak Noni, Alea menggelengkan kepalanya dengan lemas. Alea terlihat tersenyum namun matanya menunjukan kesedihan, Noni mengerti dengan keadaan Alea. ia segera menghampiri Alea, Noni tersenyum melihat Alea.


Alea membalas senyuman itu, "Kau terlihat bahagia Noni! " Ucap Alea, Noni duduk di samping Alea.


"Kau seperti peramal saja Alea! " Seru Noni, Noni menatap lekat Alea. "Kau tahu Alea, kebahagiaan ku akan sempurna jika kau mau lebih bersemangat dalam hidup mu. minimal kau harus selalu tersenyum seperti ini, (Noni menunjukan senyuman hingga kerutan di matanya terlihat jelas).


" Dan itu sangat membuat kebahagiaan yang sempurna untuk ku! " sambung Noni kembali, Alea menatap Noni. namun senyuman itu seakan tak ingin ia berikan, "Kau mengapa terlihat semakin bersedih Lea?" Tanya Noni.


"Aku merindukan nya Noni! " Ucap Alea, "Dia selalu ingin menikmati salju ini! " sambung nya kembali.


Alea menangis terisak, Noni memeluknya dan mengusap lembut kepala belakang hingga punggung Alea. Noni tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi, dan Noni mengerti akan keadaan Alea.


"Alea, " Panggil Noni, ia melepaskan pelukannya dan menggenggam erat tangan Alea.


sembari menatap Alea, ia berbicara.. "Jika aku merindukan sosok Mama ku, aku selalu melakukan hal yang membuat Mama ku dan Aku bahagia. bahkan aku melakukan nya seakan mama ku itu ada bersama ku, dan setelah itu aku kembali ke kehidupan nyata ku. dan selalu berpikir jika kehidupan kita sudah seharusnya di teruskan" Ujar Noni, "Kau harus mencoba melakukannya dan setelah itu kau harus menyadari, jika kebahagiaan orang yang sudah meninggalkan kita adalah melihat kita melanjutkan hidup kita dengan penuh kebahagiaan." Ujar Noni kembali.


"Tapi aku merasa aku tidak bisa Noni! " Ucap Alea, "Aku merasa jika aku tidak bisa merelakan kepergiaan nya" Ucap Alea kembali.


"Satu hal yang membuat aku kuat sampai saat ini, aku melihat ini sebagai hukuman karena aku telah membuat Papa kehilangan Mama ku" Alea kembali meneteskan air mata nya, Maliq yang sedari tadi melihat wajah Alea yang bersedih itu merasa sangat iba melihat nya.


"Tidak, meninggalnya ibu mu adalah sebuah takdir yang sudah Tuhan tuliskan untuk nya. begitupun dengan kepergiaan Qabil, Tuhan lebih menyayangi nya Alea dan kau harus bisa menerima itu." Ucap Noni.


"Dan saat kau mampu menerima itu semua, kebahagiaan mu datang dan Qabil juga pasti dapat merasakan energi kebahagiaan itu."


"Percayalah Alea, Qabil akan bahagia melihat mu merasa bahagia. Qabil akan merasa jika kau wanita nya yang sangat kuat dan Qabil merasa sangat beruntung karena dicintai oleh sosok wanita seperti mu" Ucapan Noni membuat Alea tersenyum, Noni pum menyingkapkan rambut Alea dan menyelipkan rambut milik Alea itu tepat di belakang daun telinga, Maliq melihat ketulusan Noni itu dan Maliq sudah merasakan jatuh cinta kepada nya.


"Rasanya jantung ini berdegup dengan sangat kencang, bahkan rasanya kau lah yang membuat jantung ku seperti ini." Ucap Maliq di dalam hatinya,


Tanpa terasa Maliq tersenyum melihat wajah Noni, Maliq merasakan sesuatu itu hadir di dalam hatinya. Maliq juga mengingat rasa dari pelukan nya bersama Noni, Maliq berharap merasakan rasa itu kembali.


"*Mama, dulu Maliq merasa menjadi lelaki yang tidak beruntung karena tidak berhasil mendapatkan cinta Natasha. dan Mama hadir di dalam mimpi Maliq, Mama pun berkata 'Semua akan terasa indah jika kau mencoba mengikhlaskan apapun yang telah terjadi' dan benar Mama, kini Maliq merasakan keindahan itu." Ucap Maliq kembali.


"Maliq harus mendapatkan cinta Noni, Maliq yakin Noni adalah jodoh yang Tuhan berikan untuk Maliq" Ucap Maliq kembali di dalam hati nya, ia menatap lekat wajah Noni sembari tersenyum penuh kelembutan*.


Aleesya terlihat melambaikan tangannya di depan wajah Maliq, "Uncle, " Aleesya mencoba menyadarkan Maliq yang sedari tadi menatap lembut Noni, "Uncle, Esya ingin main lagi" Pinta Aaleesya kembali.


"Sayang, Udara nya sudah sangat dingin." Ucap Maliq, Natasha yang sudah datang dari rumah sakit itu pun segera menghampiri Aaleesya yang sedang bersama dengan Maliq.


"Esya sayang, ayo masuk Nak. Lihat bibir Esya udah bergetar gitu." Ajak Natasha seraya memberikan tangan nya, Aaleesya yang penurut itu segera menganggukkan kepalanya.


"Mama sudah pulang?," Tanya Aleesya sembari meraih tangan ibu sambungnya,


Aaleesya menoleh kearah Maliq, "Uncle aku masuk dulu iya, " Ucap Esya tersenyum dengan sangat manis, Maliq pun menganggukkan kepalanya sembari beranjak dari duduknya. ia tersenyum melihat Natasha yang terlihat sangat cantik, senyuman Natasha terlihat sangat lah manis.


"Makasih Maliq sudah menjaga Aaleesya! " Ucap Natasha, Maliq pun menjawab. "Sudah seharusnya aku menjaga Aaleesya Nat" Jawabnya disertai senyuman.


"Bagaimana keadaan Damar? " Tanya Maliq kembali.


"Sangat baik, Aku bersyukur dia memang anak yang sangatlah kuat" Sahut Natasha, Natasha menatap ke arah Noni dan Alea yang juga sedang duduk dan memperhatikannya dari kejauhan.


Noni terlihat tersenyum namun dalam hatinya ia merasakan kecemburuan karena melihat Natasha dan Maliq yang sedang berbincang itu.


Natasha sedikit berteriak, "Noni, ajak masuk Alea. udara nya sudah sangatlah dingin" Sembari menggunakan tangannya ia melambai kearah Noni.


"mengapa dengan ku, mengapa aku merasa sangat cemburu melihat mereka berbincang seperti itu" Ucap Noni di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2