
Hari ini adalah malam pertunangan ku bersama Rido. Aku memang tak merasa ada hal yang aneh dengan malam ini bahkan Aku memilih untuk menghabiskan waktu ku di kampus.
Sepulangnya dari kampus, aku melihat ada keramaian di rumahku. Aku sama sekali tak menyangka jika mereka akan menghadiri Hari pertunangan ku.
( 'pasti ayah dan ibu sudah datang dari rumah Nene. ' - gumam ku dalam hati)
" Lihatlah siapa itu yang datang?, calon pengantin perempuan kok masih ngampus sih ini kan acara penting untuk mu " suara itu, mataku terbelalak kala aku tahu siapa yang keluar dan menyambutku dengan hangat.
( 'Astagfirullah, Om Danu - batinku kembali)
" Assalamualaikum " Sapaku sembari mencium punggung tangan Om Danu, aku masuk dan segera menyalami seluruh anggota keluarga yang berada di dalam rumah Ayahku Dan Mereka semua menjawab salamku.
" waalaikumsalam salam sayang. "
Aku melihat Tatapan sarkas yang diberikan Omku kepadaku, sebenarnya aku takut melihat nya namun aku selalu menyembunyikannya jika dihadapan Ayah dan semua.
Mereka semua datang, Tante intan Adik Kandung Ayahku dan om Joe suami dari Tante intan begitupun dengan Doni anak dari Tante intan yang seusia adik bungsu ku ikut serta menjadi saksi pertunangan ku malam ini.
Tante July adik perempuan Ibu ku juga ikut datang walaupun sebenarnya ia sangat sibuk, dan ia juga tinggal diluar Negri. Tante July belum menikah lebih tepatnya gagal menikah. karena, om Sammy membatalkan pernikahannya dan Tak hanya itu
aku juga melihat Tatapan Nene yang memandangiku. Aku tersenyum padanya dan Nene menyapaku.
" Sayangku kamu sudah besar dan akan segera menikah. " Ucap Nenek sembari memeluk ku, Aku tersipu malu mendengar kalimat itu.
" Liat Danu keponakanmu saja sudah mengirimkan lelaki sejati nya, Dan kamu kapan? pacar saja banyak gantinya mau bagaimana punya istri. " Celetuk Nenek ku sembari menunjukan wajah kesalnya, semua tertawa dan menatap wajah Omku.
" Nenek sehat kan Nek?. maafkan kaka ya belum bisa temui Nene disana " Tanyaku, Nenek memeluk ku dengar erat. Nenek juga mencium keningku dengan kilas.
" Tidak mengapa sayang, Nenek kan sudah bisa bertemu dengan Mu disini. Nenek sangat senang sekali melihat kecantikan cucu Nenek. " Puji nene membuatku malu.
semua menyambutku dengan hangat. Tak terkecuali dengan om ku itu. menatap dengan tatapan yang sangat tajam ke arahku, seakan melihat ku santapan yang akan mereka hidangkan.
Sontan aku mengalihkan pandanganku segera. Aku berpamitan kepada semua karena aku merasa sangat kelelahan. saat aku berjalan melewatinya yang sedang berdiri mematung dekat tangga rumahku, Aku melihat bulir keringat ada di dahi nya.
aku sangat takut sekali melihat tatapannya. Om Danu sering mengancam ku untuk tidak memberitahu apa yang waktu itu om Danu ingin lakukan, Meskipun om Danu sama sekali tidak melakukan Apapun tetapi keinginan yang ia utarakan sudah membuatku takut sekali.
" Kakak " panggilnya, akupun tersenyum kepadanya. Rani menghampiriku dan segera mengajak ku ke kamar, dia berbisik kepadaku sepertinya ada hal yang sangat ingin ia bicarakan
" Kakak, Ayo kita ke kamar " Ajaknya kepadaku, aku mengambil segelas air dan segera aku menegurnya, Rani menatapku dan aku tak menggubrisnya. aku berniat ingin bertemu ibu dulu dikamarnya namun Rani menghalangiku.
" Kak, ayo kita lihat pakaian yang Kaka akan kenakan " Ucapnya seraya mengedipkan matanya.
" Pakaian apa ? memang aku harus memakai apa ? " tanyaku dengan heran.
Tante July tertawa dengan sangat lepas melihat tingkat kepolosan ku yang sangat tinggi, Rani juga menertawakanku. mereka dengan kompak menyubit pipiku, satu pipi kanan dicubit Tante July dan satu pipi kiri dicubit oleh Rani.
" Sudahlah mengapa kalian malah menertawakan ku, Memangnya ada yang lucu " Seruuu sembari mengerucutkan bibir ku.
__ADS_1
" Sayang memangnya acara lamaran malam ini Kamu mau memakai celana jeans dan kaos? " Tanya Tante july.
" Apa kata keluarga suami mu Kakaku sayang.? " Tanya Rani menimpali pertanyaan Tante July.
" Ya Tuhan aku belum sempet belanja Tante, dan May pikir bisa pakai gaun yang ada saja " keluhku dengan tatapan polos ku.
" Tenanglah Sayangku, Ibumu sudah menyuruh Tante membawakan gaun yang cocok dan sopan untuk kamu kenakan. Makadari itu kamu Sama Rani pergi ke kamar sana." Ucap Tante July.
Aku dan Rani segera pergi meninggalkan semua keluarga di ruangan itu. Dekor sudah semua di pasangkan Didalam Rumah megah Ayah, semua Sudah di dekor memakai Warna serba putih menambah kesan elegant karena itu semua Ibu yang meminta. Aku melihat sudah banyak sekali karangan bunga dari mulai didepan Rumah, tangga Sampai ujung rumah. Tak lupa juga dengan dapur tempat pelayan menatakan semua hidangan makan malam untuk Kami.
" Aku pikir hanya lamaran biasa tetapi ini cukup Megah Bagiku " Gumamku, Rani tersenyum melihat ku.
Sebenarnya Ibu dan Tante Neni ingin sekali untuk mengadakan Acara di gedung tetapi aku meminta Rido untuk menolaknya karena aku ingin Acara kami sesederhana mungkin. Ibu mengijinkan Namun untuk acara pernikahan tetap harus digedung karena banyak sekali relasi Ayah, Rido juga Om gusti yang pastinya akan datang.
Sesampainya dikamarku, ternyata sudah ada orang yang akan memberikan sentuhan magic di Wajahku. Aku menoleh kekiri kulihat ada gaun berukuran 3/8 berwarna putih. menurutku gaun itu sangat sopan untuk ukuran ku yang tidak memakai hijab.
" kenalin ini mba tari kak.. temen nya Tante July " Ucap Rani.
" Salam kenal mbak Tari. " Ucapku sembari menjabat tangannya.
" iya sayang panggil aja Tante Tari ya, Aku kan sahabat Tante mu dan kalau manggilnya Mbak kaya keliatan muda banget " celoteh nya mungkin untuk menghangatkan suasana.
" iyaa Tante.. kalau begitu Tante gak keberatan kan kalau aku mandi dulu soalnya badanku penuh dengan keringat " Tanyaku kepadanya.
" Iya sayang mandi saja dulu itu memang lebih baik " Jawabnya.
aku mengambil handuk kimono ku dan bergegas ke kamar mandi di dalam kamarku, setelah selesai mandi aku langsung keluar dengan handuk kimono yang membalut tubuh ku kembali.
" Udah dek, kenapa kok kaya yang bingung gitu " Tanyaku, Aku melihat Rani yang kebingungan dan tatapan nya sepertinya kosong.
" Aku gak suka ada om Danu disini " Seru Rani, Wajah Rani terlihat kesal.
(' apa om Dhanu juga melakukan hal yang sama terhadap Rani ' - tanya ku dalam hati)
" Loh memangnya kenapa?, Gak boleh gitu ah nanti Ayah dengar bisa-bisa marah sama elu " Jawabku polos, seakan-akan tak pernah tahu tentang Om Danu yang sepertinya sama terhadap Rani. Aku sengaja mencoba menutupi kekesalanku terhadap om Danu di hadapan Rani.
" Aku gak suka aja nanti kalo aku siap aku ceritakan semuanya sama Kaka " Jawab Rani, Rani melengoskan badannya meninggalkanku. Aku hanya terdiam mendengar perkataan Rani, Aku berpikir jika Om Danu juga sempat mengajak Rani seperti mengajak ku kala itu Namun yang aku takutkan Rani malah tak bisa menolaknya.
" Are you ready sayang ? " Tanya Tante Tari, aku melamun sejenak mengingat semua yang Rani coba utarakan.
" Sayangku, May. Apa ada masalah? " Tanya Tante Tari kembali, sembari menepuk bahuku. melambaikan tangannya di depan mataku.
" Iya Tante, Maaf tadi melamun ,mungkin karena aku gugup " Jawabku terbata-bata.
Tante Hari sudah memulai memoleskan make up di wajahku, dia sangat menyukai bentuk wajahku yang cantik sehingga tidak cukup lama dia meriasku. setiap saat dia selalu memujiku, dia berbicara seakan membuat ku tersipu malu.
" ya Ampun anak Kaka wan sangat cantik, pantas saja jodohnya cepat datang. Tante berdoa semoga kamu disatukan dengan lelaki yang baik " Puji Tante sembari Tersenyum memandangiku.
__ADS_1
" Tante bisa aja sih bikin aku malu gini " Jawabku dengan Wajah yang mulai memerah, Rani pun datang dan menggodaku kembali.
" Ya Ampun sumpah demi apapun Kakak sangat cantik, pantas saja ka ido memilih Kaka dibandingkan Aku " Rodanya sembari tersenyum dan memandangku sangat lekat.
Tawa mereka begitu menghangatkan isi kamarku begitupun dengan Pujian-pujian untuk ku yang tak lepas dari bibir mereka. Tak betapa Lama Ibu datang menghampiri ku, Ibu melihatku dengan mata yang sedikit berair.
" Subhanallah, Sungguh kuasa mu ya Allah. Terimakasih anakku kau sungguh seperti bidadari.. " Puji Ibu seakan takjub melihatku. Dengan mata berkaca-kaca ibu memanggil Ayah.
" Ayah.. Ayah " panggil ibu dari dalam kamarku, Ayah sontak menghampiri ku dengan tatapan kaget ayah mendongakkan matanya.
" Kamu sangat cantik sayang!! " Seru Ayah sambil mencium keningku dan memelukku. Tak lupa ayah membalikan badan nya dan memeluk ibu dengan begitu erat.
" Terimakasih bu sudah memberikan bidadari ini kepada Ayah, Ayah sangat bangga kepadamu " Puji Ayah untuk Ibu.
ayah menangis tersedu-sedu sambil memeluk Ibu. ibu pun juga memeluk ayah begitupun Rani. Mereka saling berpelukan, aku hanya terdiam tak sangka air mataku terjatuh menatap pemandangan Haru itu sontak Tante tari mengambilkan tisu untuk ku.
" Sayang sudahlah ini hari bahagiamu jangan kau keluarkan air mata ini, nanti make up kamu jadi rusak " Ucap Tante tari.
" Ayah, Ibu sudahlaah aku kan Masih disini!, ini kan baru lamaran setelah menikah aku juga akan sering mengunjungi kalian. Aku mohon berhentilah menangis. " Ucapku sembari memegang tangan Ayah dan ibu, Ayah memeluk ku kembali.
" Kakak ini air mata yang sangat berharga dan ini air mata kebahagiaan Ayah karenamu " Ucap Ayah.
" Terima kasih Kaka sudah mau memberikan rasa bahagia ini untuk kami " Ucap Ayah kembali.
" Ayaaaahhhh " Panggil ku lirih sembari memeluk ayah dengan erat.
.
.
.
.
.
.
waktu sudah menunjukan pukul 19.00. Aku melihat layar di ponselku, Rido sudah mengabari ku melalu pesan singkat yang ia kirimkan ke dalam ponsel milik ku.
# Rido
Aku segera datang sayang, aku tidak sabar untuk melihatmu.
# Aku
Terimakasih, hati-hati dijalan nya calon suamik.
__ADS_1
Aku tersenyum penuh arti. mungkin arti dari senyumanku adalah senyuman bahagia.
" apa sih may apa kamu mulai menyukai dia, ya ampun " dalam benak ku terngiang.