
3 Bulan kemudian
Maliq dan Noni sudah mempersiapkan acara pernikahannya dengan sangat sempurna karena tiga hari lagi mereka akan segera melangsungkan pernikahan mereka.
Gaun cantik sudah sangat Pas terlihat di tubuh ramping milik wanita pujaan hati Maliq, Noni begitu sangat bahagia karena sudah menyelesaikan persiapan mereka.
Kisah ini berawal saat Maliq selalu mengeluhkan sakit di kepalanya, Namun Maliq tak pernah memikirkan rasa sakit itu. Karena sudah sejak SMP Maliq sering mengeluh sakitnya, Ia pun sudah tidak ingin lagi melakukan perjuangan apapun baginya hanya sia-sia saja.
Dan Saat Maliq dan Noni sedang melakukan Fitting pakaian pengantin mereka. Maliq merasakan pusing yang sangat hebat kembali dan sebenarnya rasa sakit kepala itu sering sekali ia rasakan namun, lagi dan lagi ia tak pernah menganggap hal itu sebagai keluhannya.
Dan tanpa diketahui, Maliq sudah
Didiagnosa mengidap penyakit kanker otak stadium akhir, hanya tersisa waktu kurang lebih satu bulan lagi untuknya, Maliq baru saja mengetahui hal ini. Bahkan saat ini hanya Noni yang tau, Maliq sengaja tak memberitahu semuanya.
Noni ingin sekali memberitahu nya, Noni berpikir bahwa penyakit itulah yang membuat Maliq telat dalam Studi kedokterannya.
Kabar ini memang sangatlah mengejutkan, saat itu semua sedang merasa khawatir dengan keadaan Alea. Malam harinya Maliq sedang mengeluhkan rada sakit itu, dan Maliq mencoba memeriksakan keadaannya. Dokter meminta Maliq untuk segera melakukan CT SCAN, dan hasilnya Tumor pada otaknya sudah menjadi sebuah kanker bahkan kanker itu sudah menjalar ke dalam tubuh Maliq.
Maliq hanya tersenyum saat mengetahui kabar itu, "Aku sudah ikhlas dan sudah memiliki firasat yang sangat buruk dengan kesehatan ku, terkadang aku lolos jika semua Kakak-kakak ku di mintai cek kesehatan. Tidak apa Noni, aku ikhlas! " ucapnya sembari mengusap lembut wajah Noni.
"Ikhlas, bagaimana mungkin? apa kau berbohong bahwa kau sama sekali tak mengetahui hal ini?" Tanya Noni sedikit membentak Maliq.
"Tidak, aku memang baru saja memeriksa hal ini sayang" tukas Maliq.
"Bohong, aku tak mempercayaimu. kau sengaja kan tidak memberitahu kami" Noni merasa sangat kecewa, ia memilih pergi meninggalkan Maliq yang sedang berbincang bersama Dokter.
Noni menangis, meneteskan air matanya. ia seolah tak percaya jika hal ini terjadi pada kekasihnya itu.
Saat keluar dari dalam ruangan Dokter, Noni segera mengambil ponsel, membuka aplikasi chat, mencari nama yang sudah sangat tidak asing lagi baginya, Nama Faaz lah yang di tuju itu, jarinya berhenti di keyboard untuk waktu yang lama, lalu menekan tombol pesan suara.
Mengambil napas dalam-dalam, Lalu menangis.
dia menggunakan suaranya yang paling lembut untuk bertanya "Kak Faaz bisakah bertemu dengan ku malam ini, tanpa ada Maliq dan yang lainnya! " Pesan suara itu berhasil dikirim, tetapi tidak ada balasan untuk waktu yang lama.
Walaupun begitu, Noni tetap memaksa menghubungi Faaz. Dan beberapa saat kemudian Faaz membalas pesan yang dikirim oleh Noni, namun saat Noni ingin membalas dan memberitahu Faaz, Maliq mencegahnya. Maliq menggelengkan kepalanya, tatapan nya seakan memohon agar Noni tidak memberitahukan Faaz.
Suara Maliq mengagetkan dirinya, "Jika kau ingin memberitahu Kakak ku, batalkan pernikahan mu dengan ku!, " Ancaman Maliq membuat Noni merasa sedih, Noni menangis kembali.
"Hidupmu satu bulan lagi! Dan kau merasa tenang?, ada apa dengan mu Maliq? "
Untuk terakhir kalinya Maliq ingin melakukan sesuatu untuk keluarga nya, sedikitnya Maliq ingin membuat Keluarganya hidup tenang. Maliq tak ingin menambah beban kehidupan keluarganya, apalagi selama ini keluarga telah merasa getirnya kehidupan yang tanpa kehidupan yang tenang.
"Satu persatu masalah datang, dan aku tak ingin kembali menambah beban Papa juga semua Kakak ku. Jika kau mencintaiku, tolong jaga rahasia ini" Ucap Maliq.
Mungkin, Maliq tidak ingin membuat keluarganya merasa khawatir. Permasalahan Alea yang bertubi-tubi sudah membuat kesehatan Rido menjadi taruhannya.
"Ting!" suara pesan masuk di dalam ponsel Noni.
Ponselnya sedikit bergetar, Noni seakan tidak sabar untuk membuka ponsel dan melihat balasan Faaz kembali, "Ada apa calon adik ipar ku?" Tanya Faaz, ketika melihat bahwa Faaz yang membalas pesannya, dia hanya menatap wajah Maliq seperti dengan tatapan penuh kesedihan.
"Ting, " Faaz kembali mengirimkan sebuah pesan.
"Apa hal buruk sedang terjadi diantara kalian, " ~ Kak Faaz.
Ternyata, Faaz malah mengira jika Noni dan Maliq sedang dalam keadaan bertengkar.
Drrt... Drtt
Faaz menelpon Noni, Maliq menggelengkan kepalanya pelan.
Noni meminta ijin untuk mengangkat panggilan dari Faaz dan Maliq mengijinkannya.
"Halo, " Sapa Noni dengan suara menegang.
"Kenapa? Ada apa sayang? " Tanya Faaz.
"Tidak Kak, tadi hanya salah paham saja." Sahut Noni.
"Pernikahan kalian kan akan digelar tiga hari lagi, tolonglah sayang. Turunkan dulu Ego mu dan Ego Maliq, Kakak sangat berharap pernikahan kalian berjalan lancar" Ucap Faaz.
"Iya Kak, aku yang salah kok. Maliq sudah memaafkan ku, " Ucap Noni yang sengaja berbohong, Faaz pun tertawa kecil.
"Kalian ini seperti bocah saja, " Faaz mengakhiri panggilan pada ponselnya.
Tiga jam kemudian, setelah pulang dari Rumah sakit, Noni meletakkan semangkuk sup di atas meja, dia mendengar suara kunci pintu berputar, dia membalikkan badan dengan terkejut, melihat Rido masuk kedalam kamar Maliq. Noni pun terkejut dan segera menutupi obat-obat itu menggunakan selimut.
"Maliq dimana sayang? " Tanya Rido,
"Maliq lagi di dalam kamar mandi, Papa" Jantung Noni berdegup dengan kencang, ia merasa canggung karena tadi saat ia masuk, ia menutup pintunya dengan sengaja.
"Maliq, apa yang dokter ucapkan?" Rido bertanya sembari tersenyum sambil berjalan ke arah Maliq, ia menatap wajah anaknya seakan Rido sudah mengetahui keadaan anaknya sedang tidak baik.
"Baik Papa, tidak ada hal yang buruk. Anak Papa kuat, Maliq hanya merasa lelah saja." Sahutnya.
"Benarkah Noni? " Tanya Rido kepada Noni.
Noni Mencoba menahan dirinya untuk tidak berbicara hal yang sesungguhnya, Noni menggaruk kan tangannya tepat di belakang kepalanya.
"Iya Papa, tidak yang memutih itu disembunyikan di belakang punggungnya, Noni menekan perasaan sedih dalam hatinya, ia merasa sedih karena sudah membohongi Calon Papa mertuanya.
"Apakah kamu benar-benar tidak berbohong, wajah mu sangat pucat?" Ucap Rido kembali.
"Benar Papa, untuk apa aku berbohong! " Ucap Maliq kembali,
"Ya sudah, minum obatnya ia. Tiga hari lagi kan kalian akan menikah, kau harus sehat bugar. Papa sudah tidak sabar melihat mu menikah" Ucap Rido di iringi senyuman manis.
"Terimakasih Papa, terimakasih! " Ucapnya kembali, Rido menatap wajah Noni. Lalu Rido berucap, "Nanti temui Papa di bawah iya, Papa akan memberikan sesuatu peninggalan Mama May untuk mu, " Ucap Rido, di satu sisi Noni begitu sangat bahagia karena akan mendapatkan hadiah. Dan disisi lain, Noni merasa kesal karena telah menutupi penyakit Maliq.
"Iya Papa, " Sahut Noni sembari tersenyum.
"Mengapa kau berbohong Maliq, bahkan kau bisa membuat Papa sakit hati saat mengetahui keadaan mu nanti, dan bagaimana kehidupan ku nanti saat tidak ada dirimu." Ucap Noni sedikit berbisik.
"Aku mohon Noni, aku mohon. Hanya itu yang aku minta di saat-saat terakhir ku, aku mohon jangan beritahu mereka." Balas Maliq sembari meneteskan air matanya, Maliq menarik tangan Noni.
Dengan bahasa dan tatapan yang sedikit merendah, Maliq seakan memohon kepada Noni. Meminta Noni agar menuruti keinginannya.
"Sayang ku mohon, " Pinta Maliq, Noni masih meluruskan pandangannya.
Maliq mendekap tubuh Noni dari belakang, "Apa kau ingin menambah beban Papa? " Tanya Maliq.
Setelah berbicara terus menerus, dia memutar tubuh Noni. Menatap wajah Noni, Noni terlihat menangis. menundukkan kepalanya dan air mata itu pun jatuh berderai.
"Aku benar-benar takut kehilanganmu Maliq, " Ucapnya Lirih.
__ADS_1
"Tidak, Aku akan selalu hidup disini" ucap Maliq sembari menunjukkan satu jarinya di dada, Maliq mencoba membuat Noni merasa tenang.
"Kau percaya kan pada Tuhan? " Tanya Maliq
.
"Iya, " Sembari menganggukkan kepalanya.
"Katakan kamu mencintaiku? " Ucap Noni sembari menatap wajah Maliq.
"Aku sangat mencintaimu!, " Ucap Maliq sedikit tegas, Noni kembali mengeluarkan ari matanya. Lalu Noni mendekap tubuh Maliq dan menangis di dalam dekapan Maliq, membayangkan saat dirinya kehilangan sosok calon suaminya itu, bahkan ia berpikir mungkin nasibnya akan sama dengan Alea.
Kamar yang hening merubah suhu yang dingin menjadi hangat, baginya permasalahan ini seperti tekanan yang membuat orang merasa akan tercekik.
Tiba-tiba terdengar sebuah dering telepon, mata Noni yang tadinya tertutup langsung terbuka. Faaz menghubungi Maliq dan memberitahu bahwa ada kabar mengenai Anak dari Alea, seorang pemuda bernama Ary itu menyerahkan diri kepada Faaz dan Aliq. Ia mengakui kesalahannya dan memberitahu bahwa anak bayi malang itu masih dalam keadaan hidup, dan Faaz sedang mengejar seseorang itu.
Maliq merasa lega saat mendengar kabar tersebut, Faaz meminta Maliq agar tidak memberitahu dahulu kabar tersebut kepada Anggota keluarga lainnya.
"Baiklah Kak, " Ucap Maliq,
"Ingat Maliq tolong beritahu Natasha jika aku tidak bisa pulang malam ini, aku harus mengejar Wanita bernama Remy terlebih dahulu." Ucap Faaz di dalam sambungan telepon itu.
"Siap Kak, kakak hati-hati di jalan iya. Jangan lupa kabari aku iya" Seru Maliq, tak lama kemudian Maliq menutup ponselnya. Maliq meminta Noni agar mengantarnya untuk menemui Natasha.
Saat Maliq akan melangkahkan kakinya, ia merasa pusing dan Suara "Bruakk" terdengar sangat keras.
Noni berteriak karena merasa terkejut dengan keadaan Maliq, badan Maliq terjatuh di atas lantai marmer yang halus, dahinya sobek, hidungnya mengeluarkan darah, matanya terlihat sedikit membuka, dikarenakan rangsangan eksternal yang mengenai tumor di otaknya, rasa sakit terus menerus menjalar di dalam otaknya.
"Ouch, No.. Ni"
"Papa, Papa, " teriak Noni.
"Kak Fizzy, Alea... Ku mohon kemari lah" Sembari menangis ia mencoba menarik kepala Maliq dan menyimpannya di atas pangkuan nya.
"Maliq ku mohon jangan membuatku khawatir! " Ucap Noni.
Maliq terlihat menahan rasa sakitnya, darah itu keluar terus menerus dari hidung Maliq.
Sekali lagi Noni jatuh ke dasar lembah, seribu panah menembus hatinya, rasa khawatir itu seakan tidak bisa melewati dirinya, rasa khawatir seakan berdiam terus di dalam relung hatinya. Jantungnya berdetak hebat, "Pa.. pa... " Teriaknya kembali, namun sayang jarak kamar Maliq dengan kamar lainnya sangatlah jauh. Karena Maliq memutuskan pindah dan menempati kamar Damar, dan Damar berpindah ke kamar nya yang tak jauh dengan kamar Faaz dan Natasha.
Noni berlari dengan sangat kencang, meninggalkan tubuh calon suaminya itu terbaring lemas di atas marmer yang dingin, Maliq masih dapat tersenyum saat melihat wajah Noni yang terlihat sedih saat ini, mungkin karena Maliq tahu hatinya tak akan lama lagi hatinya benar-benar akan mati bersama jasadnya.
"Papa.... " Noni berlari dengan kencang, menuruni anak tangga dengan keadaan kaki yang sedikit lemas karena mengetahui keadaan Maliq yang sangat mengenaskan.
Ruang tamu yang hening membuat suara Noni terdengar nyaring dan terdengar jelas.
"Kenapa dengan mu Noni? " Tanya Alea.
"Maliq, Maliq." Sembari menunjuk kearah Maliq, Noni tak henti berbicara nama Maliq bahkan saliva pada mulutnya seakan menghalanginya untuk menelan.
Air mata Noni akhirnya mengalir keluar kembali, Alea tak mengerti apa yang di maksudkan oleh Noni. Karena rumah ini terlihat sepi semua sedang berada di taman, ya memang jam-jam segini Rido selalu menghabiskan waktunya untuk bercengkrama bersama Hendra dan Sherly karena Ezri dan Neni sudah pulang dan memilih untuk tinggal di Indonesia sementara karena merasa rindu dengan makam Wan dan Gusti (kakek dari Faaz)
Alea pun berlari untuk menghampiri Maliq dan Noni kembali berlari untuk memberitahu Rido dan juga Abrar, "Ya Tuhan, selamatkan calon Imamku." Ucap Noni lirih sembari berlari.
Alea sudah melihat keadaan Maliq, Alea benar-benar merasa terkejut dengan keadaan nya itu. Alea menangis dan segera membawa kain untuk membersihkan darah yang terus menerus mengucur dari hidung adiknya.
"Kau kenapa Maliq, tiga hari lagi adalah hari bahagia mu. Sadarlah adik ku, aku mohon" Ucap Alea sembari kebingungan dan tak lama kemudian Abrar dan Rido datang untuk melihat keadaan Maliq, Abrar dengan cepat menggendong Maliq, beruntunglah Mael datang dan segera membantu Abrar mengangkat Maliq. Mereka segera membawa Maliq ke rumah sakit, lalu di dalam perjalanan Noni tak henti menangisi keadaan Calon suaminya itu.
"Tenanglah Noni, semua akan baik-baik saja" Ucap Mael.
"Maliq kenapa Noni? " Tanya Mael, Abrar pun melihat wajah Noni yang terlihat seakan tertekan.
"Nona, katakanlah. Apa yang terjadi dengan Tuan Maliq." Ucap Abrar.
"Aku sudah berjanji kepada nya Mael, Aku tidak mau mengecewakan nya! " Ucap Noni kembali sembari tertunduk, Noni kembali menatap wajah Maliq yang sedang tidak sadarkan diri.
Mael dan Abrar pun seakan tak ingin membahasnya, Mael pun memfokuskan dirinya untuk melihat jalanan di depan nya. Namun, Maliq tersadar. Ia mencoba menyelaraskan bias cahaya di depan netra nya itu, "kau mau membawaku kemana? " Tanya Maliq.
Mael begitu terkejut dengan suara Maliq, "Aku ti.. dak apa-apa, " Ucap Maliq yang mencoba mendudukkan tubuhnya, Noni menatap kesal kearah Maliq.
"Kau harus ke rumah sakit melakukan perawatan! " Ucap Noni tegas,
"Tidak, aku tidak apa-apa! " Ucap Maliq, Maliq meminta Mael menghentikan kemudinya. Namun Mael tetap saja melajukan kemudinya, ia seakan menyadari bahwa Maliq sedang dalam keadaan tidak baik.
"Hentikan dan putar arah! " Ucap Maliq
"Tidak!, " Ucap Mael sembari memekik kan suaranya.
"Hentikan Mael!, " Ucap Maliq dengan tegas, namhn Mael tetap saja melajukan kendaraan yang sedang mereka tumpangi.
"Kau hentikan atau aku lompat dari sini! " Ancam Maliq kepada Mael membuat Mael merasa takut, karena Mael tahu jika sepupunya itu selalu berbuat nekad. Mael pun masih melajukan mobilnya dengan pelan, "Aku akan memutar balik kendaraan ku, tapi aku minta kau ceritakan kepadaku mengenai kondisi mu! " Pinta Mael.
"Baiklah, " Mael pun memutar balikan arah mobil nya itu.
Dan setelah itu Mael menghentikan mobilnya dan sengaja membersihkan darah Maliq di dalam mobil. Luka pada dahinya itu pun terlihat di berikan plester yang berada di dalam kotak P3K milik Mael dan Maliq mulai menceritakan keadaanya, Abrar pun mendengar keadaan Maliq saat ini. Noni menundukkan kepalanya, menangis meratapi nasib Maliq.
Mael terlihat terpukul, ia pun merasa lemas saat mendengar pengakuan Maliq.
"Kanker otak stadium 4?, " Tanya Mael, Maliq menganggukkan kepalanya, "Dan kau baru saja mengetahui hal ini setelah hasil CT SCAN itu keluar? " Tanya Mael kembali, Maliq kembali menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Tidak mungkin!, " Decih nya.
"Tuan, apa salah nya jika Tuhan berkata jujur kepada Tuan Rido dan Tuan Faaz"
"Aku tidak mau Abrar!, aku tidak ingin menambah beban kepedihan mereka." Jawab Maliq.
"Tetapi jika kau tak memberitahu Papa, dia akan merasa kecewa apalagi setelah Daddy menyembunyikan penyakitnya. Kau lihat kan betapa Papa merasa kecewa akan hal itu? " Tanya Mael.
"Wajah mu pucat sayang, dan Papa seakan sudah memiliki firasat dengan keadaan mu! " Ucap Noni.
"Tidak Sayang, Papa hanya mengkhawatirkan ku. Kau lihat kan bagaimana Papa mengkhawatirkan ku? Bagaimana jika Papa tahu keadaan ku sebenarnya, aku takut jika nanti Papa malah merasakan duka! " Ucap Maliq kembali.
"Aku tak mau membuatnya sakit, "
"Maliq entahlah aku harus bicara apa? Aku merasa tak mengerti dengan pemikiran mu saat ini! " Ucap Mael yang sedikit merasa kecewa, "Bisakah dirimu tidak menutupi kesakitan mu!, aku harap kau mengerti Maliq! " Ucap Mael yang terus menerus memberikan pengertian kepada Maliq namun, Maliq tetap dalam pendiriannya.
Ponsel Abrar berdering, Abrar melihat jika Rido lah yang menghubungi dirinya. Abrar pun mengangkat panggilan pada ponselnya itu dan ternyata Rido bertanya mengenai keadaan Maliq, nada suara nya terdengar sangat mengkhawatirkan anak bungsunya itu, Namun Abrar terpaksa berbohong karena Maliq yang memintanya.
Abrar mengatakan jika Maliq dalam keadaan sehat, darah yang keluar dari hidungnya hanyalah karena benturan saja dan Rido mengatakan kalimat yang terdengar sangat lega sehingga Rido tak merasakan kegundahan akan kondisi anak bungsunya.
^^
Di tempat lain Faaz dan Aliq beserta jajaran kepolisian sedang mengintai sebuah rumah, rumah itu terlihat kosong tak berpenghuni. Faaz masih berusaha mencari tahu keberadaan anak Alea yang hilang itu, di dalam mobil Faaz terus menerus mencerca Ary dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Tapi kau melihat jika anak bayi itu masih bersamanya? " Ary membalas dengan anggukan, ia benar-benar merasa takut dengan tatapan sarkas yang di berikan oleh Aliq.
"Bagaimana kau bisa membantu Rayna? Jawab dengan kalimat bukan dengan Anggukkan" Pinta Aliq sembari menggoyahkan tubuh Ary, Ary tak berani menatap mata Aliq. Ary sepertinya tahu bahwa disini Aliq sangat marah kepadanya, jika tidak bersama Faaz mungkin Ary sudah habis di pukuli oleh Aliq.
"Saya butuh uang Tuan, karena saya baru saja dipecat dari tempat kerja saya! " Ucap nya dengan terbata-bata Ary pun menceritakan kronologis mengenai kalimat yang diberikan kepada Rayna bahwa dia berpura-pura memberitahu Rayna jika dia sudah melenyapkan bayi mungil itu.
Dengan suara yang pelan Ary pun menceritakannya, "Saat itu saya dan Remy benar-benar merasa tidak tega saat menghabisi nyawa bayi itu, lalu kami memutuskan agar memberitahu Nyonya Rayna bahwa anak itu sudah kami lenyap kan" Ujar Ary
"Lalu kau bawa kemana itu anak? " Tanya Aliq dengan nada yang sangat sarkas.
Dia pun menjawab, "Saya tidak tahu Tuan, sebelum saya meninggalkan Sus Remy dan bayi itu. Saya mendengar percakapan seseorang bersama Remy, namun saya tahu jika seseorang itu bukan lah Nyonya Rayna"
"Lalu siapa? " Tanya Aliq sedikit berteriak.
"Saya tidak tahu nama jelasnya, yang jelas saya melihat dia itu lelaki. Dan lelaki itu berwajah tampan dan memakai kaca mata hitam, saat itu saya berjalan untuk menghampiri Remy kembali namun, saya melihat Remy masuk kedalam mobil mewah." Jelasnya, Ary mengambil nafas dalam-dalam. Lalu kembali menjelaskan cerita mengenai Remy dan sosok lelaki itu, "Lalu saya segera meminta supir taxi itu membututi mereka dan mereka masuk kedalam rumah kosong ini" Ucapnya kembali
Aliq terlihat melamun, "Aliq apa mungkin itu Aidil? " Tanya nya.
"Mungkin saja Faaz, tapi untuk apa dia masuk ke rumah kosong ini? Apakah untuk mengubur.. " Aliq menggelengkan kepalanya, Aliq benar-benar tak mengerti dengan penjelasan Ary baginya Ary terlalu bertele-tele.
Faaz segera merogoh ponsel pada saku celananya, "Apakah ini orang yang kau maksud? " Tanya Faaz sembari menunjukkan foto Aidil kepada Ary.
"Bukan, Tuan. Dia Tuan Aidil dan saya mengenalnya" Gumam Ary, jelas saja Ary mengenalnya. Ary itu kan salah satu orang kepercayaan Rayna selama menjadi model, bahkan Ary tahu betul siapa Faaz sebenarnya.
"Lalu apa yang membuat kau menyerahkan diri mu? " Tanya Faaz
"Aku bermimpi seorang lelaki berjubah putih datang dan memintaku untuk bertaubat, lelaki yang sangat baik itu mengaku bahwa dia ayah dari anak itu" Faaz dan Aliq benar-benar terkejut hingga terperanjak mendengar kalimat itu, "Bagaimana ciri-ciri orang itu? " Tanya Aliq.
"Dia tampan, namun wajahnya sedikit tak terlihat. Yang aku tau lelaki itu, lelaki yang sangat baik." Ucapnya kembali.
"Baiklah, proses hukum akan tetap berjalan Ary. Terimakasih sudah mau menceritakan semuanya kepada kami" Ucap Aliq, mereka mengintai kembali aktifitas di rumah itu. Namun, tak ada pergerakan sedikit pun. Kepala polisi itu meminta Faaz dan Aliq bersabar dalam melakukan pengintaian ini.
Ary duduk di samping Faaz, menundukkan kepalanya dengan tangan di borgol. Ary sudah sangat pasrah saat menerima hukuman yang akan diberikan kepadanya oleh polisi, Ary hanya meminta tolong Faaz untuk memperhatikan ibunya yang sudah sangat tua. Apalagi Ibu nya hanya diam seorang diri di Negara Australia, Faaz pun menganggukkan kepalanya.
Hari pun sudah malam, rumah yang sedari tadi terlihat kosong itu mulai menyalakan lampu. Faaz dan polisi pun mulai mengintai kembali keadaan di sana, terlihat seorang wanita sedang berdiri di teras rumah dan benar ternyata wanita itu adalah Remy.
Polisi pun segera bergerak melakukan rencana penangkapan terhadap Remy, yang Faaz takutkan bayi itu memang masih ada padanya namun sepertinya tidak ada pertanda suara tangisan Bayi.
Tuk tak tuk tak..
Suara jam yang tersimpan di tangan itu menambah rasa khawatir Faaz terhadap bayi Alea, semua polisi yang bertugas sudah melakukan pergerakan. Faaz dan Aliq hanya melihat dari dalam mobil begitupun dengan Ary yang masih duduk menundukkan kepalanya di samping Faaz, suara dentuman pistol itu menambah ritme jantung Faaz dan Aliq berdegup dengan kencang.
Dan beberapa saat kemudian...
Remy berhasil ditangkap, Remy di tangkap oleh polisi tanpa ada siapapun di dalam. Polisi menyisir rumah tua tak berpenghuni itu, di dalam sana hanya ada satu buah kasur dan lemari tua, tidak ada tanda-tanda ada seorang bayi di sana.
Entah mengapa Remy tinggal di sana seorang diri, padahal sebenarnya Remy adalah anak yang memiliki seorang ibu yang cacat. bahkan saat Remy di pecat, Ia sangat mengkhawatirkan nasib ibunya.
"Tuan, tidak ada tanda-tanda seorang bayi di sana! " Ucap seseorang anggota kepolisian.
"Ya sudah, bawa Nona ini kedalam sana, " Ujar seorang kepala kepolisian.
Remy di bawa dan di masukan kedalam mobil dengan tangan terborgol begitupun dengan Ary, Remy begitu terkejut saat melihat wajah Ary.
"Kau? " Tanya Remy, matanya membola seakan tak percaya Ary sudah berada di sana terlebih dahulu.
"Dimana bayi itu? " Tanya Ary sembari menekankan pandangannya terhadap Remy, Ary begitu kesal karena ia tahu bahwa bayi itu tidak ada di dalam sana.
"Aku tak tahu, Tuan itu membawanya pergi! "
"Tidak mungkin, " Ucap Ary setengah berbisik, matanya mendelik kesal.
"Aku bersumpah, aku tidak membunuhnya! " Ucap Remy.
Ary memang tidak ingin Remy melenyapkan nyawa bayi itu, karena Ary selalu merasa iba jika melihat seorang anak bayi.
Mobil tahanan itu pun melaju dengan sangat lambat, dan di dalam perjalanan Ary terus menerus bertanya walaupun tanpa ada jawaban dari Remy. Seorang polisi yang menjaga menegur Ary dan Ary segera menghentikan pertanyaan nya, Remy meluruskan pandangannya, pikiran nya seakan jauh entah dimana.
Meja dihadapan Remy dan Ary mungkin terasa dingin bagi mereka, pertanyaan-pertanyaan di lontarkan oleh pihak penyidik. Faaz dan Aliq pun mendengarkan setiap pembicaraan mereka, Faaz meminta pihak penyidik mengijinkan nya berbicara dengan Remy dan Ary. Pihak penyidik pun mengijinkan hal itu, lalu tak berselang lama Faaz dan Aliq duduk dihadapan mereka.
"Siapa nama lelaki itu? " Tanya Aliq.
"Saya hanya mengenal nama itu dengan sebutan Tuan Jerry, " Sahut Remy, "Ia seorang lelaki keturunan Inggris, yang saya tahu dia memiliki istri yang sangat cantik dan mengenai hal lainnya aku tak tahu" Sambung Remy.
"Dia mengenal Rayna? " Tanya nya kembali, Remy menggelengkan kepalanya. Ia memberitahu bahwa anak itu sengaja di minta oleh orang yang bernama Jerry tersebut dan sebagai imbalannya, Remy diberikan uang serta tempat tinggal.
Remy sendiri memilih untuk diam di rumah tua itu untuk menenangkan kepalanya, ia selalu terbayang-bayang wajah bayi itu dan kini penyidikan mengenai anak Alea akan semakin panjang. Namun, Faaz tetap kekeuh meminta pihak kepolisian mencari tahu lelaki yang bernama Jerry tersebut.
Remy pun menggambarkan sosok lelaki tampan tersebut, dan polisi sudah menunjukkan gambar wajah berbentuk sketsa orang yang bernama Jerry dan Faaz sama sekali tidak mengenalnya.
Remy pun mengatakan hal yang lainnya, "Tuan, Tuan Jerry hanya ingin mengasuh dan menjadikan anak itu sebagai anaknya. Yang saya tahu Tuan Jerry akan membawa anak itu ke suatu Negara, karena istrinya tidak bisa mengandung! " Ucap Remy,
Faaz terdiam dan menganggap bahwa kasus ini tidak akan pernah terselesaikan, Remy menundukkan kepalanya dan sepertinya Remy meneteskan air mata menyesalnya.
Remy memohon kepada Faaz, "Tuan, Saya akan menerima apapun hukuman yang akan diberikan kepada saya. Tapi saya mohon jangan beritahu ibu saya, dan saya mohon tolong perhatikan ibu saya." Ia menangis terisak, "Ibu saya lumpuh, dia tidak bisa apa-apa Tuan. Saya mohon" Ucap Remy kembali, ia takut terjadi sesuatu kepada ibunya.
"Saya bukan orang jahat Remy, saya hanya ingin bertemu dan meminta pertanggung jawaban mu atas apa yang sudah kamu lakukan terhadap adik saya, walaupun mungkin kamu melakukan itu karena membutuhkan uang" Ucap Faaz, "Kau tenang saja, aku akan menjenguk dan menjaga ibu mu! " Ucap Faaz kembali. Dia segera meninggalkan Remy dan Ary, Aliq menatap wajah Remy dan Ary bergantian. Tatapan sarkas ia tujukan kepada mereka, "Kau akan dihukum dengan berat, " Ucap Aliq sembari menunjukkan jarinya di wajah Remy.
Aliq pun mengikuti langkah Faaz, Faaz berjalan dengan kaki yang sangat lemah. Aliq menepuk bahunya, "Tenanglah, kita pasti akan menemukan bayi Qabil. Kau tenang iya, " Ucap Aliq.
"Aku tak tega kepada Alea, bagaimana jika Alea tahu masalah ini"
"Alea tidak akan mengetahuinya Faaz, Tenanglah. Tessa sudah bersama Alea, ia akan tumbuh besar menjadi anak Alea dan kami sudah mengikhlaskannya" Ucap Aliq yang mencoba meyakinkan Faaz, Faaz mengangguk pelan.
"Alea, Kakak janji. Kakak akan mencari anak mu, kau tenang saja sayang. Kakak tidak akan membiarkan siapapun menyakiti hatimu!," Ucap Faaz dalam hati.
^^
Ditempat lain, Fizzy sedang bersama Alea. mereka sedang berbincang mengenai kesehatan Tessa, Alea bahagia karena Tessa sangat sehat dan Fizzy menanggapi hal tersebut dengan wajah yang sangat riang.
"Aku bahagia sekali Kaka,"
"Kaka juga ikut bahagia, " balas Fizzy dengan senyuman yang sangat riang.
"Kok kita bisa iya lahiran barengan kaya gini, " ucap Alea.
"Iya mungkin sudah takdirnya sayang, "
Alea melihat sebuah tanda yang sama di dalam tubuh Hardin dan Tessa, tanda itu terlihat jelas berada di lengan bawah mereka. Alea merasa aneh, "Kenapa tandanya sama? " tanya Alea.
"Tanda apa sih Lea? " Fizzy mencoba menepis.
"Ini, " Alea menunjukkan jarinya tepat di kedua tanda bayi kembar itu.
__ADS_1
"Oh, mungkin Tuhan memang mentakdirkan agar Hardin dan Tessa seperti saudara kembar. soalnya saudara kembar Hardin kan meninggalkan Hardi, gak apa-apa sayang biar nanti kita kasih outfit kembar aja." jelas Fizzy, Alea tertawa kecil
"Ya Tuhan, gemes banget sih kalian ini" Ucapnya sembari mencubit gemas pipi kedua bayi itu.