
Hari ini Aku merasa senang dan bahagia, Tuhan begitu sangat baik kepada ku dan juga keluarga kecilku. Rudolf teman bisnis Rido mengetahui sifat buruk dari Assisten pribadinya yaitu Adeeva. Adeeva yang mengaku sebagai Adikangkat Rudolf ditepis oleh Rudolf sendiri, Adeeva sengaja berbohong kepada Rido mengenai hubungan nya bersama Rudolf karena dia bermaksud untuk membuat Rido percaya jika kepercayaan Rudolf padanya sudah 100 persen.
Adeeva tahu jika Client besarnya Adalah RIDO ALFAAZ RUMNAWAN, seorang lelaki yang sangat Ia cintai. Adeeva sudah lama menaruh hatinya untuk Rido, Ia merasa jika Rido adalah lelaki yang baik untuk nya. Namun saat itu Ia melakukan kesalahan dan membuat Papa Gusti geram.
"Sayang, Apa aku boleh jujur mengenai Adeeva?" Tanya Rido, Aku menatap lurus kearahnya. "Sayang, jawab dong!" ucapnya kembali.
"Bukannya sudah semua kamu jelaskan, mengenai dia!!." jawabku.
"Masih ada, Aku ingin cerita mengenai nya."
"Baiklah, Aku akan mendengarkannya" Ucxapku.
"Dulu Aku sempat akan melepaskanmu, Aku sudah berpikir jika kita tidak akan berjodoh" Ucap Faaz.
"Aku gak percaya, kamu itu orang yang teguh.!, mana mungkin kamu jadi plin plan kaya gitu.", Aku menatapnya kembali, "kamu nunggu Aku aja dari kecil, masa iya kamu dengan sangat mudah mau lepasin Aku setelah banyaknya pengorbanan kamu buat Aku" tutur ku kembali.
"Aku kan belum beres cerita Mam" Ucap Rido, Aku tertawa kecil melihat wajahnya itu.
"Ini serius sayang" Ucapnya kembali.
"Kamu lucu manggil Aku Mam, "Jawabku sembari tetap tertawa kecil.
"Anak-anak kan udah gede, lagian gak boleh aku manggil nama kamu didepan Anak-anak." Ucap Rido.
"Iya Nanti mereka malah manggil Aku May lagi" timpalku sembari tertawa kecil kembali.
"Lanjut lagi iya ceritanya!!'
"Okeh, Papa" Aku mencoba serius mendengarkan cerita yang ia suguhkan untuk ku.
"begini ceritanya Mam" Rido memulai cerita mengenai Hubungan nya terdahulu dengan Adeeva.
"Aku dulu tinggal bersama Kake Joe di sini, sebelum Rumah Kakek joe Adik dari papanya Papa dijual"
"Adeeva adalah tetangga kecil kami, saat itu Aku dan Risa tinggal disini"
"Lalu?" Tanyaku.
"Aku sempat ingin melupakanmu saat Aku dan Risa kembali kerumah Kakek Joe lama, Aku tahu dari Risa bahwa hubungan mu dan Zain sudah sangatlah dekat."
"Apa Zain mengenal Risa dengan dekat?" Tanyaku
"Zain hanya teman masa Les bahasa bersama Zain, Zain sering sekali menceritakanmu" Ungkap Ridso.
"Tapi Aku gak kenal Risa, maksudku Aku hanya say Hay aja padahal dia satu angkatan sama Aku"
"Aku kan udah bilang, Aku yang nyuruh Risa untuk Gak deket sama kamu tapi harus memperhatikan kamu" Jawab Rido.
"yaudah skip masalah itu, Aku penasaran masdalah si Adeeva dan Papa marah sama dia" Ucapku.
"oke, Lanjut iya"
"Aku bilang sama Papa, Papa Aku mau tunangan Aja sama Adeeva. karena Adeeva adalah satu-satunya yang mampu melawan Shaloom saat itu"
"Papa jawab Apa sayang?"
"Kenapa?. bagaimana Papa menjelaskan kepada Om wan!" Rido memperagakan Papa Gusti yang sedang berbicara." Lalu, Aku terdiam. Aku berpikir bahwa Aku bisa aja lepasin kamu dan nikah sama Deva, tapi kayanya aku gak bisa lupain kamu" Ucap Rido.
"Gak jelas Ah!!!" ucapku, "Ini bener gak sih!" ucapku kembali.
"Iya beneran, Aku bilang lah sama si Deva di depan Risa, Aku bilang niat aku, Dia seneng dan ternyata Papa ngasih kabar kalau deva itu salah satu simpanan orang dan orang itu adalah musuh di dalam perbisnisan Papa dan Aku baru tahu kalau itu adalah Papa hendra"
"Jadi itu yang buat Papa geram?"
"Iya, dari situ Papa ngelarang Aku buat deket sama Deva" Tutur Rido.
"Ya ampun, aku kira dia gak sedalam itu." Aku menghela Nafas dalam, "Pantes aja dia, ungkapin perasaannya tentang kamu seberani itu sama Aku!" Ucapku kembali.
"Makanya sebelum kamu ngadu juga Aku udah tau kok, Aku cuma gak mau berpikiran jelek sama orang" Ucap Rido.
"Ya ampun, Tuhan masih sayang sama keluarga kita"
__ADS_1
"Iya, Aku hanya saja menghargai Rudolf kala itu" Ucap Rido
"Dhan udah sadar kalau itu Adeeva!"
"Udah, Tapi Dhan sama kaya aku. pikiku dan Dhan setiap orang pasti sudah berubah."
"Yaudah lah, kita lupain Aja masalah yang datang ini." Ucap Rido kembali.
"Seru banget sih kalian Ngobrolnya" Zain datang menghampiri kami.
"Kak, Aku mau cari udara dulu. Aku ajak Faaz dan Fizzy bolehkan?"
"Boleh, jangan pulang larut iya Zain."
"Iya Udaranya lagi dingin banget" timpal Rido, Zain pun mengangguk dan segera pergi menuntun kedua Anak kembarku.
"Sayang, Aku mau rebahan dulu iya."
"Dada kamu sakit iya?" Tanyaku mengkhawatirkan kesehatannya.
"enggak kok, Aku baik-baik saja" Rido beranjak dan merebahkan dirinya di kamar. Aku masih fokus menggendong MaliQ, dan berniat ingin menghampiri Alea dan Ayana ke kamarnya.
semakin hari semakin membuatku menjadi sosok ibu yang dewasa, Beberapa minggu Lalu aku memang sedang mengalami masa Transisi. Aku mengalami Fase dimana ada rasa bosan dengan kehidupanku seperti ini. Ada perasaan Takut yang menggelayut kala Aku tahu hamil kembali. bukan karena Takut untuk melahirkan melainkan Aku takut jika Anak-anak ku yang masih kecil tidak terbagi dengan Adil kasih sayang dari ku dan dari Rido.
”haaaaahhh setiap permasalahan kehidupan pasti saja selalu ada!” Gumamku, Aku selalu tersentuh jika sudah berbicara empa dengan Dia suamiku. Dia belahan jiwaku.
.
.
.
.
********
”Dhan, Selamat iya. Bayi mu tampan sekali” Ucapku, Hari ini adalah Hari kelahiran Anak pertama Dhan, Aku sangat senang Fahriye dan Dhan yang sangat berbahagia menyambut Anak lelaki yang sangat tampan.
”Terima kasih Kak Rido, Kak May sudah datang dan menemani kami disini”
”Aku bingung jika tidak ditemani olehmu” timpal Dhan kembali. Saat ia mengetahui bahwa Fahriye akan melahirkan. Dhan yang terlihat panik mencoba menghubungi kami, kami pun segera menemuinya untuk menemaninya dan memberikan nya SUPPORT kecil.
”Sudahlah Dhan, Bayimu sudah sehat” tandas Rido.
”Maaf jika aku merepotkan kalian kembali.” Ucap Dhan lirih sembari memeluk Rido.
”Kak May, Boleh kah aku meminta sesuatu” Fahriye memanggil ku dan menggenggam tanganku.
”Apa Fahriye?” Tanyaku.
”berikanlah Nama anak ku sesuai yang kau mau” serunya.
”Iya Kak, Kak May dan Kak Rido berikanlah nama untuk Anak ku” timpal Dhan dengan bersemangat.
”Mengapa Harus kami Dhan, Fahriyae?, mengapa tidak kalian Saja” ucap Ku.
”Iya, Kami tidak merasa pantas untuk memberikan Nama anak mu. Takutnya kalian tidak merasa sesuai” tutur Rido menimpali ucapanku, “maaf Dhan, Maksud ku” Dhan tersenyum dan menarik tangan Rido.
”Kak Rido, Berilah Nama apapun untuk Anak ku. Itu akan membuat kami sangat bahagia” ucap Dhan.
”Aku mohon Kak May” timpal Fahriye, ia mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali. aku tersenyum.
”Qabil” Ucapku.
“iya Qabil, terusannya gimana kalian Aja” timpal ku kembali, “ bagaimana sayang?” Tanya ku kepada Rido.
”Iya Qabil, sosok lelaki yang shalih” Ungkap Rido.
__ADS_1
”udah di adzan?” Tanya Rido, Dhan tersenyum tanda ia sudah mengadzani.
”Lebih Afdol kak Rido juga Adzani?” Pinta Dhan, “aku mohon”. Dhan mengatupkan kedua tangannya kembali.
”Baiklah” Rido mengambil Alih Qabil yang sedang didalam gendonganku, Ari do juga mengambil nafasnya dan berbisik ditelinga Qabil dengan suara Adzan yang sangat merdu, Bayi lucu itu terlihat sangat lah nyaman berada didalam dekapan Rido. Aku melihat Dhan meneteskan air matanya, Mereka terlihat tersentuh saat. Ende gar suara Lembut nan merdu dari bibir Rido.
”Tuhan, Terima kasih engkau memberiku dua orang Kaka yang shalih dan shalihah.” Gumam Dhan, sembari menyeka air matanya.
.
.
.
.
.
Tahun demi tahun berlalu, Usaha Rido dalam mengembangkan perusahaannya berjalan dengan lancar. Kini Rido mengajak kami kembali untuk tinggal dan Menetap di Sydney, Australia. Aku senang, Aku bangga dengan nya.
dia memang lelaki yang penuh dengan rasa tanggung jawab. Aku selalu berharap kepada Tuhan untuk selalu diberikan Nafas kehidupan bersamanya, Aku selalu meminta agar Rido selalu bahagia dan sehat.
”Dhan, Fahriye. Jaga Anak ku Qabil iya” ucapku, “jangan buat dia kesepian, kalau bisa kasih Ade lagi” godamku kepada mereka, mereka tertawa menggelitik.
”Aku pasti sangat merindukan Kaka dan Anak-anak” seru Fahriye.
”Unti” panggil Alea kepada fahriye.
”iya sayang, nanti kapan-kapan Alea ikut unti iya nginep disini” Fahriye menangis memeluk Alea, mungkin karena perpisahan diantara mereka yang akan segera berlangsung.
”Fahriye, sudah lah jangan menangis terus” seru ku, Fahriye memeluk ku dan berucap, “terima kasih atas semua yang sudah Kaka lakukan dan berikan” ucapnya sembari memeluk ku.
”Iya, Fahriye. Aku sangat Menyayangimu”.
”Kak Rido, Kalau sudah sampai beritahu kami”
”Iya Dhan, Pasti itu” jawab Rido, Mereka saling melepas pelukan satu sama lain. aku dan Anak-anak begitu juga dengan Rido segera masuk kedalam pesawat. Aku melihat Dhan merangkul sembari menggendong Qabil, matanya terlihat mengeluarkan Air mata.
”Mereka pasti merasa kehilangan Tuan dan Nyonya” ucap Carry, “Aku juga seperti itu Nyonya, Aku tidak ingin jauh dengan Tuan dan Nyonya”.
“Aku kembali tersentuh mendengar ucapan mu Carry, Terimakasih kamu selalu membantu aku dan Rido”
”Hingga kapanpun Aku janji Nyonya akan selalu bersama dengan mu dan Tuan” Aku merangkul Carry, Di dalam pesawat wajah Qabil dan Fahriye terlintas didalam benak ku. Wajar saja selama kurang lebih 3 tahun ini, Fahriye lah yang menjadi teman dekat ku, Apa lagi Qabil yang sangat menggemaskan menambah waktu yang tersita menjadi waktu yang terbaik untuk kami. Aku bahagia berada di tengah-tengah mereka. Aku menatap Foto-foto anak-anak ku bersama Qabil, Ayana dan Mael yang sempat aku ambil dan Aku publikasikan kala itu. Mereka adalah cahaya terang di hidupku, aku menyayangi mereka semua tanpa terkecuali. Aku berharap kelak dimana mereka dewasa, mereka akan hidup saling menyayangi satu sama lain. Mereka adalah pertama jiwaku, Aku bahagia memiliki anak-anak yang sangat menggemaskan.
”Tuhan, Nikmat mana lagi yang harus aku dustakan. aku adalah manusia yang kurang bersyukur maka maafkanlah Aku Tuhan” Gumamku,
”Qabil, Mama kangen nak” gumamku kembali, Rido mendengarnya dan memeluk ku.
”Nanti Fahriye, Qabil, Dhan pasti kesana menemui kita”
”Iya Sayang, Aku juga merindukan Mael dan Ayana “ ucapku. Ayana sedang dibawa oleh Mama Sherly, karena Mama Dan papa mengkhawatirkan kesehatan ku dalam mengurus banyak anak, Awalnya aku menolak Namun saat itu Mama memaksa kami dan mau tidak mau aku pun mengiyakannya.
”Kita akan segera bertemu mereka sayang.”
”benarkah, apa Mama, Papa, Ayah, Ibu dan yang lainnya akan menyambutku di sana” ucapku penuh kegirangan.
“sepertinya Tidak Sayang, Mereka sedang sibuk. Nanti kita lakukan panggilan Video saja iya” Ucap Rido, Aku mengangguk dan mengerucutkan bibirku.
”kabar baiknya, bulan depan kita liburan ke Indonesia kembali dan Akan lebih lama lagi” Ucap Rido.
”Ah sayang, Aku sangat senang” Ucapku.
”kesenangan mu, kebahagiaan mu adalah yang paling utama” jawab Rido, Aku membenamkan kepalaku di dada bidang miliknya, rasanya sangat nyaman melebihi bantal termahal di dunia.
”Papa, Aku mencintaimu” Rido mengecup keningku “ Aku juga sangat mencintaimu, Mama” balasnya sembari mengecup kilas kembali keningku. Rido bercerita mengenai kehamilan Shaloom, Yofie memberinya kabar bahwa Shaloom sedang mengandung. aku sangat senang karena akan menambah Anak yang akan menyayangi ku kembali.
.
.
.
__ADS_1