
Noni masih menemani Alea, Alea kini tertidur di atas ranjang besar miliknya. Noni beranjak dan segera menatap ke luar kaca, batin nya bergejolak seolah merasakan apa yang dirasakan oleh Alea.
Kaca yang terlihat berembun menjadi saksi kesedihan Noni, Noni tak hanya merasa sedih karena kesedihan Alea. Tanpa Alea dan semua tahu, Noni adalah pengagum setia Qabil.
Siapapun akan mengagumi sosok Qabil, dia lelaki yang sangat baik. dia memiliki Kharisma yang membuat semua wanita merasakan jatuh cinta saat melihat senyumannya, wajah latin yang di milikinya menambah kesempurnaan ketampanan, sedikit cerita mengenai Noni yang mengagumi Qabil.
Saat itu, Noni bekerja di suatu resto milik wanita yang juga mengenal Qabil. Qabil sangatlah baik, ia anak yang periang. jika Qabil menemui Rido ke Australia, Qabil tidak pernah absen menemui wanita tua itu.
Wanita tua itu adalah Wanita yang terlibat kecelakaan bersama Dhan dan juga Fahriye, semenjak wanita itu mengetahui bahwa korban kecelakaan nya tersisa hanya anak lelaki. dia memutuskan untuk merawat anak itu, namun saat itu Rido dan nenek Qabil menolaknya.
Dan semenjak wanita itu mengenal Qabil, dia selalu menemui nya untuk membantu kebutuhan Qabil. lalu, wanita tua itu harus pindah ke negara lain dan Negara itu adalah Negara Australia.
Qabil senang karena orang-orang yang menyayanginya tinggal di negara yang sama, bahkan saat itu Qabil sempat mengajak Alea untuk berkunjung ke tempat wanita tua itu.
Noni sempat melihat Qabil mengajak Alea, namun saat itu harapan Noni untuk mendekati Qabil telah sirna dan Noni memilih untuk mundur.
Saat itu Qabil hanya mengenal Noni sekilas, Noni dibuat berkesan oleh Qabil karena kebaikan nya. saat Qabil sempat membantunya, Noni merasa senang. Qabil membantu Noni yang terlihat di marahi oleh Customer dan Qabil membuat Customer itu merasa malu karena Qabil menyadarkan kesalahan nya.
Saat Noni akan di permalukan oleh customer itu, Qabil lah yang melindunginya. Noni merasa sangat berhutang kepada Qabil, namun Qabil yang terlihat cuek hanya berniat membantu Noni saat itu.
Tepatnya 2 tahun yang lalu hal itu terjadi, dan semenjak itu Noni selalu menunggu jika Qabil datang untuk menemui wanita yang sudah Qabil anggap orang tua asuh setelah May dan Rido.
Dalam lamunan Noni, Ia membayangkan senyuman Qabil. mungkin saat itu rasa suka, rasa penasaran Noni berubah menjadi rasa cinta.
Noni bergumam dalam hati, "Ternyata aku tidak salah sempat menyukai mu Tuan baik, kau memang sangatlah baik hingga membuat wanita cantik seperti Alea mencintai mu, bahkan bukan hanya aku dan Alea. yang aku dengar Ayana juga sempat mencintai mu, aku bangga karena pernah bekerja keras memikirkan mu! "
Ia menatap ke arah luar kembali, kain gorden kamar Alea dibuka olehnya, ia merasakan dinginnya musim salju itu. Ia kembali memikirkan wajah lelaki tampan yang dianggap baik olehnya, "Aku janji Tuan, aku akan menjaga Alea seperti kamu menjaga nya. aku akan menjadi sahabatnya, menjadi teman nya dan juga menjadi saudara yang baik untuknya. Kini aku tahu alasan nya mengapa kau terlihat cuek kepada wanita manapun, kau setia dan kau memang benar-benar mencintai Wanita mu. beruntung sekali Alea pernah memiliki hati mu" Ungkap Noni kembali di dalam hatinya.
Saat ia kembali melihat ke arah luar, ia melihat sosok wanita yang mungkin sedang mengintai kediaman Rido dari luar. wanita misterius itu seperti memiliki rencana buruk, Noni segera menghampirinya.
ia berlari dan menuruni anak tangga dengan cepat, lalu membuka pintu utama rumah dengan kilat dan setelah itu Noni segera membuka pintu pagar lalu menghampiri wanita itu.
"Maaf, " belum selesai Noni berbicara, dia melihat dengan jelas jika wanita itu adalah Rayna. dia mengingat betul wajah Rayna, dan Noni terlihat berpura-pura tidak mengetahui jika itu adalahn Rayna.
"Maaf apa ada yang bisa saya bantu? " Tanya Noni.
"Kamu pelayan baru disini? " Tanya Rayna ketus, "Atau pengasuh baru untuk Aaleesya, atau suster yang merawat Anak bayi itu? " Tanya Rayna kembali dengan tatapan mata yang terlihat sarkas.
Noni membaca sorot mata Rayna yang terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu, Noni terlihat berhati-hati di hadapan Rayna.
"Kenapa kau memandangku seperti itu? aku ibu dari Aaleesya, aku ingin kau membawa anak ku dan memberikannya pada ku! " Tatapan sarkas Rayna terlihat sangat menyeramkan, ia juga seenaknya memberikan kalimat yang memerintah kepada Noni.
"Maaf Nyonya saya tidak bisa, saya takut dimarahi oleh Tuan Faaz dan Nyonya Natasha" Ucap Noni, Ia memiliki niat untuk membuat Rayna sedikit merasakan sakit hati. mungkin karena cerita yang sempat Ayana ceritakan kepada nya, bahkan Ayana sudah memberikan peringatan hati-hati agar Noni tidak termakan rayuan Rayna.
"Nyonya Natasha? " Tanya Rayna.
"Iya Nyonya, maaf saya harus masuk! " Ujar Noni, Tangan Rayna terlihat menarik lengan Noni. ia juga terlihat merasa kesal karena Noni memanggil Natasha dengan sebutan Nyonya, "Denger, dia bukan Nyonya di rumah itu. dia seorang pelayang yang sama seperti dirimu, kau harus nya lebih menuruti aku. aku nyonya di rumah itu!! " Ucap Rayna dengan sarkas, mata nya melotot tak biasa seakan bola mata nya ingin keluar dari tempatnya.
"Maaf Nyonya siapa? " Tanya Noni, mata nya Noni mendelik kesal, "Ah Nyonya Rayna, Maaf tadi saya lupa!!' sambungnya kembali, nafasnya terdengar tersela.
"Nyonya Rayna, Maaf saya tidak bisa menuruti keinginan anda. karena, yang saya kenal adalah nyonya Natasha yang tinggal di sana. jadi mau tidak mau saya harus menuruti apa yang di perintahkan oleh nya! " Tutur Noni, "Maaf Nyonya Rayna sekali lagi, " Tutur Noni kembali.
"Kau!" Jari nya menunjuk bebas tepat di depan wajah Noni, Noni masih bersikap santai. Noni sangat tahu siapa yang sedang dihadapi olehnya.
"Maaf Nyonya apa ada kesalahan dari ku?" Tanya Noni kembali,
Rayna terlihat kesal karena mendapat olokan dari Noni, Rayna mengepalkan tangan nya. sebuah Mobil mewah sampai di depan kediaman Rido, di dalam mobil mewah itu adalah Faaz. Ia keluar dan merasa terkejut karena melihat kedatangan Rayna apalagi Rayna tidak memakai kursi roda nya, walaupun Faaz tahu sebenarnya Rayna sudah bisa berjalan dari sejak lama.
Faaz keluar dari dalam mobil mewah itu, Rayna terlihat terkejut karena melihat Faaz yang keluar dari mobil.
"Kau sudah bisa berjalan? " Tanya Faaz.
"I.. Iya Faaz" Jawab Rayna sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Pastinya aku sudah tahu, bahkan saat kau mencoba mendekati Anak ku Damar dan meminta perawat yang merawat anak ku bekerja sama dengan mu! " Ucap Faaz,
"Aku tahu Ray!!!" wajah merah dan otot leher nya terlihat sedikit menegang. Noni merasa aneh dengan apa yang diucapkan oleh Faaz, Namun Noni merasa senang melihat sikap Faaz yang terlihat sangat tegas.
Wajah Rayna terkejut saat mendengar kalimat yang Faaz ucapkan, "A a.. Aku"
"Kau tak perlu memberikan alasan," Sergah Faaz, "Rayna dengar, kau masih beruntung karena aku hanya menceraikan mu dan menutup kasus kematian Qabil. karena seharusnya kau dan Aidil sudah membusuk di dalam penjara, apalagi kau terbukti akan merencanakan sesuatu terhadap Bayi yang tak berdosa seperti anak ku! " Jelas Faaz membuat Rayna semakin merasa terhimpit.
"Aku, sebagai mantan suami mu masih memiliki hati yang baik untuk tidak menjebloskan mu ke penjara! karena siapa? karena kelak aku tak ingin Aaleesya merasa kecewa kepada mu, mau tidak mau Aaleesya harus menghadapi bahwa ibu kandung nya adalah seorang Napi! "
"Dan aku tak ingin hal ini terjadi, jika kau mengerti dengan apa yang aku jelaskan. aku akan sangat bersyukur! " Ucap Faaz.
Rayna terlihat ingin menepis perkataan Faaz, namun Faaz kembali menyela kalimat yang akan Rayna ucapkan karena Faaz tahu Rayna hanya ingin mengucapkan bahwa dirinya masih sangat mencintai Faaz. Faaz sangat tahu itu karena, setiap hari Faaz mendapatkan kalimat itu melalui pesan singkat nya.
"Aku tekankan kepada mu Ray, jangan pernah menemui Natasha ataupun Damar anak ku. dan jika kau ingin bertemu Aaleesya, Aku akan membawa nya untuk bertemu dengan mu dan kembali membawa nya pulang. aku memiliki hak sama di mata hukum atas Aaleesya! " Jelas Faaz kembali.
Faaz menoleh dan melirik kearah Noni, "Noni apa dia tidak mengancam mu atau mengajak mu untuk melakukan rencana besar? " Tanya Faaz.
"Tidak Kakak! " Jawab Noni singkat.
"Tunggu, Kau memanggilnya Kakak? seorang pelayang seperti nya memanggil mu kakak? " Tanya Rayna dengan tatapan sedikit sinis.
"Dia bukan pelayan, dia Noni. calon adik ipar ku! " Jawab Faaz, jawaban Faaz membuat Noni terkejut.
"Adik ipar? " Tanya Rayna kembali.
Faaz menarik tangan Noni dan mengajaknya masuk, "Noni badai salju akan datang, sebaiknya kita masuk untuk menjaga suhu tubuh kita agar tidak merasa kedinginan" Ucap Faaz sembari tersenyum.
"Baik Kakak, karena merasa dingin itu beda tipis dengan sepi" Ujar Noni seraya pergi meninggalkan Rayna, Rayna mengepalkan kedua tangan nya, dahi nya pun mengkerut tanda ia merasa kesal karena perkataan Noni.
Mereka masuk bersamaan, tak lama kemudian Abrar pun keluar dan memasukan mobil milik Faaz ke dalam halaman rumah. setelah dirasa mobil itu masuk dengan sempurna, seorang pelayan lainnya menutup pintu pagar tanpa menyuruh Rayna masuk kedalam
"Tuan Abrar, apa kau baik-baik saja? " Tanya Noni, Noni melihat wajah Abrar yang terlihat memandang rendah Rayna.
"Mmhhhh baik-baik saja Nona, " Jawab Abrar.
"Baguslah, aku masuk dulu iya Tuan" Pamit Noni, Abrar membalas dengan anggukan kepalanya nya seraya tersenyum manis. Abrar kembali memastikan bahwa Rayna telah pergi meninggalkan Rumah Rido, dan benar ternyata Rayna sudah tidak lagi berdiri di depan mobil miliknya.
***
Di dalam perjalanan nya, Rayna mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sangat cepat. dalam ingatan nya itu, terbayang masa-masa indah bersama Faaz.
Penyesalan akan pengkhianatan yang telah dilakukan nya terbesit dalam benak nya, jika saja waktu dapat di ulang kembali ia tidak akan melakukan hal itu, ia akan lebih jujur mengenai hubungan nya yang sudah terjalin lebih awal dengan Aidil.
Rayna menghela nafasnya, ia mengingat betul saat-saat nya melakukan persiapan pernikahan nya itu. Apalagi saat ini, ia sedang memutarkan lagu Favorit yang sering sekali mereka dengar berdua.
"Andai waktu bisa ku putar, aku akan lebih memperhatikan mu Faaz" Ucap Rayna.
Teringat jelas percakapan yang saat itu membuat Faaz merasa direndahkan oleh nya, "Jika aku tahu kau seperti ini, terlalu kekanak-kanakan. terlalu mendengar apa yang selalu Ayah mu dengar!, aku istri mu Faaz dan kau selalu saja memprioritaskan Papa dan adik-adik mu! " Faaz hanya terdiam saat mendengar apa yang menjadi kalimat protes dari Rayna.
Namun saat itu Faaz memaafkan kembali Rayna karena Rayna meminta maaf kepada nya, "Lain kali jangan di ulang iya, kau kan sangat menyayangi Papa dan adik-adik ku. jangan ucapkan kalimat tadi, itu sedikit membuatku terluka" dengan sabar, Faaz membuat Rayna mengerti namun terkadang Rayna mengulang nya, lalu lagi dan lagi Faaz memaafkan nya.
"Arrrrhhhhhh...." Rayna menekan pedak Rem menggunakan kakinya dengan secara mendadak.
Ia berteriak dan berulang kali membenturkan kepalanya ke atas setir mobil, ia mengumpat kesal dengan apa yang telah dilakukannya itu.
"Mungkinkah keluarga ku bisa utuh kembali, sedari kecil aku merasa sangat kesal dengan perceraian Papa dan Mama. apalagi Mama frustasi hingga melakukan bunuh diri karena Papa menceraikan nya, lalu mengapa hal ini malah terjadi padaku! " Ia mengeluarkan umpatan kesalnya dengan nada yang sangat tinggi.
"Mengapa dia harus menceraikan ku!, apa dia benar-benar ingin aku pergi darinya! mengapa aku sangat menyesal! " Ia benar-benar merasa frustasi dengan keadaan pernikahannya, "Faaz benar-benar ingin membalas dendam padaku, ia membuat ku sadar dari koma ku, memberiku kehidupan, lalu menghempas ku dari kehidupannya dan mungkin saat ini Faaz sedang menikmati kesedihan ku dengan tertawa bebas! " Gerutu nya kembali.
"Aku bisa mati jika seperti ini, aku merasa diriku kalah dari seorang pelayan seperti Natasha! " Keluhnya kembali, Ia mengambil ponselnya. Ia menekan nomor bertuliskan nama Aidil, lalu menyambungkan ponsel nya itu.
__ADS_1
"Tut.. Tut. " Suara Ponsel tersambung namun seketika ponsel tersebut di tolak oleh Aidil, bunyi nada penolakan itu terdengar olehnya dan dia merasa sangat kesal
"Halo, Saya Aidil. Maaf saat ini saya tidak bisa menerima Telepon dari anda, harap hubungi saya nanti." Ia semakin merasa kesal dengan sikap Aidil, ia memutuskan untuk pergi menemui Aidil di Apartemen milik Aidil. Ia pun segera menancapkan kembali pedal gas untuk segera menemui Aidil.
Apartemen Get House, Class Eksekutif.
Tepat di depan kamar milik Aidil ia berdiri, Ia sedikit menghela nafasnya dan segera mengetuk kamar tersebut.
25 Menit kemudian, pintu kamar itu masih tertutup dengan Rapi. Rayna semakin kesal dibuatnya, Ia kembali menekan Bel dan mengetuk pintu kamar itu lebih keras lagi.
"Kemana kamu Aidil!!! " Seru Rayna penuh dengan penekanan, ia mengetuk-ngetukan kakinya di lantai seolah rasa tidak tenang kini menghampirinya.
Ia terlihat mengirim sebuah pesan kepada Aidil, "Aidil mengapa ponsel mu kau matikan, aku berada di depan kamar Apartemen mu!!! " Terlihat pesan tersebut menunjukan cengtang dua biru, itu artinya pesan tersebut di terima baik oleh Aidil.
Rayna menggerutu, "Ponsel dimatikan, tapi Pesan online tetap hidup. dasar lelaki aneh, aku menyesal pernah mencintaimu!! "
Tak lama kemudian ponsel nya mengeluarkan bunyi, itu artinya tanda satu masuk kedalam ponselnya itu. Rayna mengusap layar ponsel miliknya itu, ia terlihat membaca satu pesan yang telah dikirimkan oleh Aidil.
"Maaf Ray, aku sedang tidak bisa menjawab panggilan ponsel mu. aku sedang berada di sebuah tempat, aku sedang berusaha membuat diriku lebih tenang, menurutku Faaz adalah lelaki baik. aku sudah sangat salah kepadanya, Aku tidak berpikir dulu dengan membuatnya terluka. mereka memberiku kehidupan yan layak namun Aku menyia-nyiakannya, Aku merasa sangat bersalah" ~ Aidil
Rayna membalas, "Kau tidak bisa pergi seorang diri seperti itu, aku ingin memberitahu mu satu hal mengenai anak kita!, benar jika Aaleesya adalah anak kita dan kau tidak bisa membiarkannya untuj tetap tinggal bersama Faaz dan pelayan itu. Aku minta kau segera bertindak dan bawa kembali Aaleesya ke dalam pelukan ku! "
Aidil tidak membalas pesan tersebut, centang 2 terlihat dan artinya Aidil membaca namun tanpa membalas.
Rayna kembali mengirimkan Chat nya, "Kau bukan Ayah yang baik, Aku membenci mu!! Aidil"
Tanpa berpikir panjang, Rayna pergi meninggalkan kamar Aidil, ia pergi dengan perasaan yang sangat kesal.
Aidil melihat melalui celah pintu, ia memastikan jika Rayna sudah pergi dari depan kamarnya.
"Maafkan Aku Ray, aku benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengan mu. bahkan mungkin aku lebih baik mendekam di penjara atas semua kesalahan ku pada Faaz, semoga Faaz memaafkan ku! aku hanya tidak bisa melupakan semua kejahatan yang telah aku lakukan padanya, kali ini aku benar-benar sangat merasa bersalah kepada Faaz" Ucap Aidil penuh dengan perasaan bersalah, "Aku tidak mau jika kau membujuk ku kembali melakukan hal yang membuatku kembali malu kepada Faaz" Ucap Faaz kembali.
****
Di dalam Kamar mandi, jantung Fizzy sedang merasa berdegup kencang. ia sedang melakukan tes kehamilan, ia sedikit menutup matanya saat melihat hasil dari tes tersebut.
"Sayang, Bagaimana? " Tanya Aliq seraya mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Bentar, Aku gak berani buka mata ku! " Ucap Fizzy, "Aku takut sayang" Ucap Fizzy kembali.
"Ya udah biarin aku masuk dong! " Balas Aliq dari luar.
"Enggak, enggak. kamu bantu doa aja di luar sana" Ujar Fizzy yang terkesan sangat lucu dan membuat Aliq sedikit tertawa.
"Nah loh!, Ayo dong aku penasaran nih." Teriak Aliq sembari mengeluarkan tawa kecil nya, "Papa juga penasaran sayang" Timpal Aliq kembali.
"Hah, " Teriak Fizzy yang merasa terkejut karena Rido juga sedang menantikan kabar tersebut, "Papa ada di luar sama kamu? " Tanya nya kembali memastikan jika Rido memang sedang menunggunya.
"Iya," Jawab Aliq cepat.
"Ya Ampun, Papa ngapain nambahin ritme jantung aku aja! " Keluhnya, ia masih menutup matanya dengan sebelah tangannya. ia membuka sedikit rekatan pada matanya itu, dan melihat jelas hasil yang di dapat oleh nya.
"Arhhhhhhhh!!! " Teriaknya dengan sangat kencang membuat Aliq serta Rido merasa khawatir.
Tok..
Tok..
Tok..
"Sayang, " Panggil Aliq yang segera memastikan bahwa istri nya sedang baik-baik saja, begitupun dengan Rido yang menimpali panggilan Aliq untuk Fizzy. "Kau baik-baik saja kan Nak?"
tanpa bersuara, Fizzy keluar dengan wajah yang penuh tanda tanya. Ia seakan menyimpan seribu keterkejutannya kala melihat hasil tes kehamilan itu, Aliq dan Rido hanya menatap wajah nya itu dengan tatapan penuh harap dan berharap hasil dari tes kehamilan tersebut baik-baik saja.
__ADS_1