
Maliq menatap bingung, wajah Alea terlihat sangat pucat. mata Maliq tertuju pada beberapa obat yang berceceran di samping ranjang Alea, seakan Alea telah meminum obat dengan cukup banyak.
"Ya Tuhan, " Ucap Maliq tak percaya, Ia memastikan kembali bahwa obat itu hanyalah tercecer karena terjatuh. Namun, ada sebotol obat berdosis tinggi yang terlihat habis dan setahu Maliq obat itu masih sangatlah banyak.
"Obat Anti depresan nya habis! " seru nya seraya mengingay obat tersebut.
Maliq kembalu menatap wajah Kakak nya dengan sangat lekat, ia memperhatikan wajah Alea lebih dekat lagi. bibir Alea yang terlihat membiru, tangan nya pun dingin bahkan bibir Alea mengeluarkan sedikit busa. Maliq berlari menyusul Noni karena merasa Khawatir, Ia tak lupa menggendong Alea .
Maliq sekuat tenaga menggendong tubuh kakaknya saat menuruni anak tangga satu persatu, Faaz dan Rido begitu sangat shock saat berpapasan dengan Maliq.
"kenapa dengan Alea Maliq?" Tanya Faaz, "bukankah Alea hanya pingsan?" Tanya Faaz kembali.
"Kak Lea overdosis!" Mereka membantu Maliq membuka pintu utama, Aidil pun berada di sana. Ia mencoba membantu Maliq, namun Maliq menolak bantuannya.
Dalam keadaan panik, Faaz meminta Noni untuk tetap dirumah untuk menjaga Papa nya. Faaz pun meminta papa nya untuk tetap tenang, Rido merasa panik dan mengeluhkan sakit pada Dada nya.
"Noni bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Rido kepada Noni.
"Maafkan Noni Papa, tadi Noni pergi sebentar ke taman karena Maliq mengajak Noni untuk berbicara"Ucap Noni, "Alea tadi tertidur makadari itu Noni meninggalkannya sendirian, Papa duduklah sebentar biar Noni membawakan segelas air untuk Papa minum" Ucap Noni kembali, Rido mengangguk pelan. Ia benar-benar memikirkan Alea, rasanya kini jantung miliknya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Rido merasa sangat sakit di area dada nya, nafasnya pun tersengal dan saat itu Noni datang untuk memberikan Rido segelas air. Namun, Fizzy segera menolaknya.
"Noni, Jangan berikan Papa minum saat Papa mengeluhkan sakit." Ucap Fizzy yang datang dari arah tangga rumah.
"Maaf Kak Fizzy, Aku benar-benar shock!' jawab Noni.
"Tolong bawakan, tabung oksigen dan panggil suami ku" Titah Fizzy pada Noni, Noni segera mengiyakan perintah Fizzy.
Beberapa saat kemudian, Noni dan Aliq datang. mereka segera memakaikan alat oksigen untuk membantu Rido bernafas. terlihat sekali Rido terlihat tidak terlalu sakit, hanya saja mungkin Rido sangat Shock dengan keadaan anak ketiga nya itu.
"Noni apa yang sedang terjadi?, kemana Faaz?" Tanya Fizzy.
"Kak Faaz membawa Alea ke rumah sakit!" Jawab Noni,
"Dengan siapa Faaz pergi?, mengapa dia membawa Alea kerumah sakit?' Tanya Fizzy kembali.
"Kak Faaz pergi bersama MAliq dan juga temannya yang bernama edil" Ucap Noni.
"Edil?" Tanya Aliq, "Edil siapa?" Tanya nya lagi.
"Aidil" Timpal Rido,
"Alea kolaps karena melihat Aidil?" Tanya Fizzy, sorot matanya terlihat sangat geram.
"Tidak," Rido menjawab dengan suara yang terdengan pelan, sembari menggelengkan kepalanya Rido menukas apa yang di tanyakan oleh Fizzy.
"Tidak Kak, bahkan Alea tidak tahu kedatangan lelaki itu" Ucap Noni sembari menundukkan kepalanya, Air matanya mengalir mengingat wajah Alea yang sangat frustasi.
"Noni menilai jika Alea memiliki masalah lainnya, dia tetap ingin ikut dengan Qabil. Noni benar-benar minta maaf"
"Noni mengapa kau meminta maaf, ini semua bukanlah kesalahan mu" Ucap Fizzy seraya mengusap lembut bahu Noni.
"Jika saja Noni tidak meninggalkan Alea, mungkin Alea tidak akan melakukannya kak. nahkan Noni baru saja tahu jika Alea meminum obat sangat banyak" Ungkap Noni, "Saat tadi, Alea meronta di dalam pelukan Noni. Ia meminta Noni untuk tak menghalangi dirinya untuk melakukan itu" Ungkap Noni kembali.
Fizzy mengerutkan dahinya, ia terlihat cemas. ia merasakan pusing pda kepalanya, Aliq sangat mengkhawatirkan Fizzy karena Fizzy sedang mengandung anaknya.
"Minumlah kak," Noni memberikan segelas air yang tidak sempat di minum oleh Rido,
Fizzy menangis mengingat banyak nya masalah yang menimpa keluarga nya, "Sayang, hubungi Uncle Zain dan Uncle Richard, biar mereka bisa menemani Papa dan setelah itu kau temui Faaz dan Maliq di sana. Aku benarf-benar mengkhawatirkan adik ku!" Ucap Fizzy.
"Baiklah, kau tidak apa-apa maku tinggal?" Tanya Aliq.
"Tidak apa-apa. Noni ada bersama ku. Abrar dan Sean juga berjaga di depan" ucap Fizzy, Aliq pun segera mengambil kunci mobil dan pergi untuk menyusul Faaz dan Maliq ke rumah sakit.
Dalam benak Fizzy, *"Mama, Fizzy merasa kasihan kepada papa. mengapa masalah ini terus menerus hadir di dalam keluarga kita, Fizzy harus bagaimana Mama!!! " Batin nya seolah berteriak, menjerit atas permasalahan yang bertubi-tubi menimpa keluarganya. ia mendekati Rido yang terkulai lemas diatas sofa ruang keluarga nya, Ia menarik tangan Papa nya, menggenggam nya dan mencium punggung tangan sang Papa.
Fizzy menatapnya lekat namun penuh kelembutan, Ia tersenyum kilas, dan Ia mencoba menutupi rasa cemas itu dengan senyuman saat melakukan kontak mata dengan sang ayah apalagi tatapan Rido terlihat sayu.
"Papa," Panggil Fizzy dengan nada yang sangat rendah, mata Rido menyimpan sejuta duka.
"Papa harus kuat Iya, sebentar lagi Om Richard datang. Papa harus kuat dan gak boleh banyak pikiran, Alea pasti baik-baik saja" Ucap Fizzy seraya menahan tangisnya, "Papa mau kan berjanji sesuatu hal untuk Fizzy? " Tanya Fizzy, mata Rido berkedip.
"Berjanjilah untuk tetap hidup sampai Fizzy dapat membahagiakan Papa, sampai Papa bisa melihat cucu-cucu Papa dewasa seperti Opah Gusti, Opah Wan dan Opah hendra yang tahu perkembangan kami"
"Papa kuat Iya, " Fizzy mencium kilas kening Papa nya, Noni pun meneteskan air mata kala melihat kedekatan Fizzy dan Papa nya. walaupun Hans mampu menerima Noni dan hidup berdamai dengan nya, Noni tetap saja merasa belum puas mendapatkan kasih sayang dari Sang ayah angkat.
"Noni ada kalimat yang mengungkapkan, Jika kita memiliki anak dan anak kita sakit, seorang orang tua akan merasakan rasanya patah hati tapi bagiku saat melihat orang tua sakit, patah hati terbesar ku sama seperti melihat anak sakit" Ungkap Fizzy, Noni duduk di samping Fizzy. ia merangkul Fizzy dan mencoba menenangkan nya.
"Kak Fizzy tenanglah semua akan baik-baik saja, Alea akan membaik begitupun dengan Papa Rido. percayalah pada Tuhan," Ucap Noni kembali.
__ADS_1
"Aku berharap begitu Noni, " Ucap Fizzy.
Natasha terlihat menghampiri mereka, Natasha terkejut saat melihat Rido yang sangat lemah.
"Apa yang terjadi Fizzy? " Tanya Natasha, "Papa tidak apa-apa kan?," Tanya Natasha kembali.
Ia segera duduk tepat di ujung kaki Rido, "Maafkan Natasha, tadi Natasha lagi urus Damar. Aaleesya juga badan nya anget, jadi Natasha mondar-mandir untuk melihat keduanya"
"Aaleesya sakit?, Faaz sudah tahu?" Tanya Fizzy.
"Faaz tau kok, tapi dia udah baik-baik saja. obat penurun panasnya udah di minum, kayanya karena cuaca dingin" Ucap Natasha.
"Ah, Syukurlah! kasian kamu jadi mondar-mandir kan. kamar di sebelah itu kan kamar Maliq, Maliq suruh aja pindah ke kamar Damar dan biarkan itu menjadi kamar Damar, pasangin pintu jadi kamu gak jauh buat liat Damar" Fizzy memberikan saran yang membuat Natasha lebih mudah, "Dan kamar bekas Qabil, biar jadi kamar Aaleesya biar kamu juga gak jauh liat Aaleesya" Ucap Fizzy kembali.
"Iya sih, tapi nanti aku ijin dulu sama Alea" Sahut Natasha, "Eh iya, Faaz kemana? "
"Kalau Natasha tahu keadaan Alea pasti dia bakalan Shock, kasian juga dia udah capek ngurus anak-anak nya. tapi kalau gak dikasih tau Nanti Natadha merasa kecewa sama aku" Ucap Fizzy di dalam hatinya, Natasha masih menunggu jawaban. Noni pun merasa segan saat akan memberitahu Natasha mengenai keadaan Alea.
"Hei, kenapa kalian malah pada diem? Papa hanya anfal karena kecapean kan? tidak terjadi sesuatu kan?" Tanya Natasha kembali.
"Alea mencoba bunuh diri, Ia meminum obat dengan jumlah yang cukup banyak" Jawab Fizzy lesu, "Faaz dan Maliq sedang menemaninya, Aliq juga menyusul mereka kesana" Timpal Fizzy.
"Mengapa kalian tidak mencegahnya?, Noni seharian ini kau bersama Alea kan? apa Alea memaksa mu atau melukai mu? " Cerocos Natasha tanpa henti, ia benar-benar terlihat sangat mengkhawatirkan Alea.
"Tadi Maliq memintaku berbicara bersamanya berbicara, lalu saat aku kembali aku masih melihat Alea tertidur dan saat Maliq datang kembali ke kamar, aku meninggalkan sendiri karena Maliq ingin berbisik kepada ku agar Alea tidak turun ke bawah, Maliq tidak mau Alea menemui tamu itu" Jelas Noni, "Lalu saat aku masuk kembali, ia sudah menangis terisak dan meminta agar aku membiarkan nya untuk melakukan bunuh diri, aku memeluknya dan ia meronta. Aku menghubungi Maliq untuk membantu ku, Maliq datang tak lama kemudian Alea terlihat tak sadarkan diri" Jelas Noni kembali.
"Ya Tuhan, " Natasha menggelengkan kepalanya, Ia menangis namun tertahan karena melihat Rido yang baru saja memejamkan matanya untuk tidur.
"Aku harap Alea baik-baik saja," Ucap Natasha sembari menyeka air matanya.
***
*Fairfield Hospital Sydney*
Faaz dan yang lainnya masih menunggu Dokter yang sedang menangani Alea, Faaz memondar mandirkan langkahnya. berbeda dengan Maliq, Ia menatap tajam wajah Aidil. Aidil yang terlihat sangat gugup dan takut melihat tatapan Maliq itu hanya tertunduk lemas, Aliq datang menghampiri Faaz.
Faaz yang tersadar akan kehadiran Aliq segera memeluk adik iparnya itu, "Alea, Liq" Ucap Faaz lirih di telinga Aliq.
"Tenanglah Alea akan baik-baik saja, Kau harus kuat" Ucap Aliq, Aliq pun memberikan segelas kopi kepada Faaz. awalnya Faaz menolak, namun saat tahu yang di bawakan oleh Aliq adalah kopi kesukaan nya, ia pun menerimanya dan duduk sembari menunggu kedatangan Dokter keluar dari ruangan Alea.
"Aku sudah memberitahu Uncle Zain dan Uncle Richard," Ucap Aliq.
"Mereka sedang sibuk menemani Ayana dan Mael" Ucap Faaz, "Apa nanti kita akan mengganggu mereka? " Tanya Faaz kembali.
"Biarlah, kau tak perlu menatapnya seperti itu. biarkan dia melihat bagaimana Adik ku menderita," Jawab Faaz.
Dokter keluar dari dalam ruangan Alea, "Tuan Faaz" Panggil Dokter, Faaz dan aliq pun segera menghampiri Dokter tersebut. begitupun dengan Maliq yang terlihat sigap menghampiri Dokter dan kakak-kakaknya.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok? " Tanya Faaz.
"Bisakah kita berbicara di dalam?, keadaan Nona muda Alea sangatlah lemah" Ucapnya, Faaz pun menganggukkan kepalanya. Aliq dan Maliq memaksa untuk ikut masuk karena ingin mengetahui keadaan Alea, Dokter mempersilahkan mereka masuk.
Terlihat Alea sedang tertidur dengan pulas, bahkan mata nya terlihat hitam legam, bibirnya membiru. selang oksigen dipakaikan tepat di hidung mancungnya, caira infusan terlihat terpasang di tangan kiri serta tangan kanan nya.
Faaz tak kuasa melihat keadaan Alea, "Dokter apa yang terjadi kepada adik saya? " Tanya Faaz.
"Nona Alea meminum obat dengan dosis yang tinggi bahkan dengan jumlah yang sangatlah banyak! " Ucap Dokter, "Saya sudah mengeluarkan semua racun yang terdapat di tubuh Nona, dan bersyukurlah Nona Alea baik-baik saja hanya kondisinya sangat lemah" Ucap Dokter kembali.
Nafas kakak beradik serta saudara iparnya itu terdengar bernafas lega, "Syukurlah, mudah-mudahan Alea cepat sembuh" Ucap Faaz.
"Iya, Aku yakin Kak Lea akan cepat pulih" Timpal Maliq, wajahnya sedikit menunjukan perasaan lega. "Apa aku boleh mendekatinya? " Tanya Maliq.
Dokter menjawab, "Silahkan, tapi jangan mengganggunya dan memaksanya untuk bangun"
"Baiklah Dok" Jawab Maliq singkat.
"Tuan Faaz, saya harus memberi tahu jika Nona Alea sedang mengandung! " Ucap Dokter terdengar sangat pelan, sembari menundukkan kepalanya dokter itu merasa tidak enak memberitahunkabar tersebut. Dokter tahu jika Alea tidak jadi menikah karena meninggalnya Qabil, kebetulan Dokter yang sedang menangani Alea adalah Dokter yang sempat menangani Qabil.
Faaz dan yang lainnya merasa terkejut, "Apa Dok? " Mereka bertanya secara bersamaan, Mereka benar-benar terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Dokter.
"Ada 1 buah janin bersarang di rahimnya, diperkirakan janin tersebut berusia 5 minggu." Terang Dokter kembali.
sembari menggelengkan kepalanya, Faaz mengucapkan kalimat yang menunjukan rasa tidak percaya nya, "Tidak mungkin Dok, tidak mungkin!! " begitupun dengan Aliq dan Maliq yang merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang dokter.
"Ini hasil tes Lab serta Usg dari Nona Alea" Ucap Dokter kembali sembari menunjukan sebuah hasil yang menandakan Alea tengah hamil, Faaz melihat dan membaca semua hasil tersebut.
"Faaz ingatkah sewaktu Alea meminta Natasha memasakan masakan Khas Turki dan Maliq yang membuatkan nya, menurutku itu tidak semata-mata karena merindukan makanan tersebut tapi sebuah ngidam namun, Alea tidak menyadarinya" Ujar Aliq.
"Tapi itu anak siapa?, Tidak mungkin jika Qabil melakukan hal itu dengan sengaja" Ucap Faaz.
__ADS_1
"Kak Faaz, aku rasa biarkanlah anak itu lahir. dan berikan pengertian bersama kepada Kak Lea" Sela Maliq.
"Aku juga tidak mungkin meminta Alea untuk menggugurkan janin itu Maliq, Aku hanya merasa heran saja" Sahut Faaz, "Apalagi, Alea akan mengandung tanpa adanya sosok suami" Sambungnya.
Faaz kembali menoleh, "Dokter bagaimana keadaan janin nya? " Tanya Faaz kembali.
"Janin nya sangatlah kuat, bahkan janin itu seakan memberikan kekuatan pada ibunya agar tetap bertahan hidup" Jawab sang Dokter, "Tuan saya harus mengunjungi pasien lainnya, saya hanya minta Tuan jangan dulu membebani pikiran nya. Nona Alea sangatlah depresi dengan keadaan yang menimpanya" Sambung Dokter..
"Baik Dok, terimakasih atas penjelasannya" Ucap Aliq, Dokter pun berpamitan dan segera keluar dari ruangan Alea.
Faaz termenung sendiri, ia benar-benar merasa lelah dengan permasalahan yang akhi-akhir ini menimpa keluarganya. Faaz benar-benar merasa lemas, kaki nya terkulai. ia mengambrukan tubuhnya diatas lantai seakan tidak ada lagi tenaga untuk menopang berat badan nya.
"Aku harus memberitahu Papa, tapi bagaimana caranya! aku takut Papa shock saat mengetahui kehamilan Alea, Aku takut Papa malah Anfal" Ucao Faaz dalam hati.
Aliq duduk di atas sofa, Maliq memegang tangan kakaknya dan menatap lekat wajah Alea. Maliq tak kuasa menahab air matanya,"beginikah nasibmu kak, kau benar-benar menderita. maafkan aku jika aku baru kali ini merasakan penderitaan Kaka" Maliq memikirkan nasib Alea di depan, Maliq tak mampu membayangkan bagaimana kehamilan Alea tanpa adanya support seorang suami.
Aliq dan Maliq pun berpikiran sama dengan Faaz, mereka takut jika memberitahu keadaan Alea akan membuat kesehatan Papa kesayangannya memburuk.
"Papa, " Alea mulai tersadar, dia mulai memanggil Papa nya itu.
"Qa Bil," Alea bergantian memanggil Qabil, keringat di dahi nya terlihat tebal dan mengucur deras bahkan leher Alea pun terlihat mengeluarkan keringat.
"Alea sayang, " Faaz mendekat dan mengusap keringat itu, dan tangan Alea masih dalam genggaman adik bungsunya.
"Kak Lea, " Panggil Maliq.
Alea membuka matanya, "Maliq, dimana aku ini?" Alea mencoba membangunkan tubuhnya, "Apa aku masih ada di dunia? " Tanya nya.
"Kakak istirahat dulu iya, " Bujuk Maliq.
Alea menggelengkan kepalanya, "Aku ingin bertemu Qabuil, Maliq! aku tidak mampu menjalani hidup seorang diri" Ucap Alea.
"Sayang kau tidak sendiri, Ada Kaka, Kak Fizzy, Maliq, Natasha, Papa, Aliq dan yang lainnya yang sangat mencintai kamu" Ucap Faaz, Faaz berbicara dengan bibir yang kelu. ia menahan serta membendung kesedihannya kala menatap raut wajah Alea yang terlihat kebingungan, Faaz memegang Pipi Alea dengan menggunakan kedua tangan nya.
"Tidak Kak Faaz, Alea akan sendirian selamanya. Kaka hidup bahagia dengan Kak Nat dan anak-anak Kaka, Kak Fizzy akan memiliki keluarga yang utuh begitupun dengan Maliq dan Alea.. " Kalimat itu terhenti, ia menangis menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
Alea menangis terisak, "Menangislah Kakak, percayalah kita akan selalu ada untuk Kakak dan Maliq janji akan selalu menjadi adik yang baik untuk Kakak" Bujuk Maliq kembali.
"Mengapa nasib Alea seperti ini Kak, Alea selalu membuat Papa terbebani. Alea selalu memberikan rasa malu kepada semuanya, kalian pasti malu kan memiliki anggota keluarga seperti Alea? " Tanya nya kembali.
"Tidak, Kata siapa kita malu. kita sangat menyayangi kamu Alea" Ucap Faaz kembali
"Kakak bisa berucap seperti itu karena tidak tahu apa yang sedang Alea rasakan"
Faaz menatap mata adiknya itu, terlihat sekali jika Faaz benar-benar sedang membendung kesedihannya.
"Alea ingin Mati kakak!!, Alea tidak mampu menanggung masalah Alea sendirian, Alea tidak ingin hidup seperti ini" keluh Alea kembali, ia memukul-mukul perutnya berulang. Maliq menghentikannya, Aliq terlihat menundukkan kepalanya. Aliq merasa sedih saat melihat Adik iparnya itu, "Alea capek Maliq, Alea ingin ikut dengan Mama dan Qabil"
Faaz memeluknya, "Tenanglah sayang, tenanglah Kakak Mohon. Qabil akan bahagia jika melihat kamu baik-baik saja, percayalah kami tidak akan pernah meninggalkan mu seorang diri."
Maliq ikut memeluk kakak-kakaknya, "Maliq janji akan selalu menjaga Kakak, Maliq mohon sama kakak jangan pernah mencelakai diri kakak sendiri" Ucap Maliq.
Faaz kembali memegang kedua pipi Alea dengan menggunakan kedua tangannya, "Dengarkan Kaka, Kaka sudah tahu dengan apa yang kamu rasakan. permasalahan apa yang sedang kamu sembunyikan dan Kaka akan mencoba menerima itu semua" Ucap Faaz, "Dengar Alea, bayi itu tidak bersalah, dia berhak untuk hidup dan Kita akan besarkan anak itu bersama-sama" Ucap Faaz kembali, Alea menangis memeluk Kakak tertuanya.
"Bagaimana dengan Papa? Papa pasti akan marah kepada Lea" Ucapnya kembali.
"Tidak, Papa tidak akan pernah marah, percayalah Alea" Sahut Faaz..
"Tapi Alea hamil tanpa adanya seorang suami, bahkan Alea hamil di luar nikah dan ini akan menjadi Aib untuk keluarga kita Kak" Keluh Alea, "Alea takut anak ini bertanya dimana Papa nya, bagaimana dia lahir dan bagaimana saat Mamanya tahu kalau mamanya sedang hamil olehnya"
"Pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya, kita bisa menutupi semuanya tapi tidak dengan menghilangkan nyawanya" Ucapan Faaz membuat Alea sedikit berpikir, "Kau tahu Tuhan itu baik, beliau sedang memberikan mu sebuah hadiah. kau kehilangan Qabil tapi kau tak kehilangan darahnya yang mengalir di dalam tubuh anak mu" Ucap Faaz kembali.
"Dengar Alea, kau boleh kehilangan Qabil hanya sekali tidak dengan anak itu. kau tak boleh kehilangannya, anak itu bukan aib. anak itu oantas hidup, Tuhan menitipkan kehidupannya melalui rahim mu"
"Banyak sekali wanita ingin mengandung, namun Tuhan belum atau bahkan tidak pernah dan kini Tuhan memberikan kesempatannya padamu, kau harus membuang pikiran mu untuk membuang janin itu" Ucap Faaz kembali.
"Maafkan Alea Kaka, Alea sudah mengecewakan Kaka" Ungkap nya, "Maafkan Kaka Maliq, Maafkan Kaka"
Maliq memeluk tubuh kakak nya, begitupun Faaz yang memeluk kedua adiknya itu. Faaz pun ikut meneteskan air matanya, Faaz tak kuasa menahan tangisannya itu. Ia seakan hanyut di dalam kesedihan, Ia tetap memikirkan cara untuk menyampaikan berita buruk kembali kepada sang Ayah.
"Ya Tuhan, berikan lah hati yang kuat untuk Papa ku. Aku tak tahu harus seperti apa lagi, aku tidak ingin Papa ku merasa sedih tetapi kabar ini harus segera aku berikan kepadanya" Gumam Faaz di dalam hatinya, "Alea, kali ini kau harus bahagia. Kakak janji, Akan selalu menjaga mu dan juga anak mu itu" Gumam Faaz kembali.
Faaz kembali merebahkan tubuh Alea agar Alea dapat beristirahat, Faaz terlihat duduk di samping Alea. Faaz membuka layar ponselnya, terdapat sebuah panggilan yang tidak terjawab dari Natasha.
"Maliq, suruhlah Abrar mengantar Noni kemari. biar Alea bisa ditemani oleh Noni iya, terus Kakak pulang dulu. kakak harus melihat kondisi Damar, Alea harus janji tidak akan melakukan hal konyol lagi" Ucap Faaz sembari menatap wajah adik nya itu, Alea mengangguk pelan. begitupun Maliq yang segera menghubungi Noni untuk memintanya menemani Alea.
"Kakak, " Panggil Alea, Faaz yang sedang menatap layar ponsel itu segera menyahuti panggilan adiknya dengan sigap.
"Iya sayang, "
__ADS_1
"Aku ingin di peluk oleh Kakak, " Pinta Alea, Faaz tersenyum senang dan segera memeluk adik perempuannya.
Batin Alea kembali bergumam lirih, "Qabil benar apa kata Kakak ku, aku boleh kehilangan mu tapi tidak dengan anak ini. Qabil aku janji akan membesarkan anak ini, sesuai janji ku akan memberikan anak yang lucu, dan kuat padamu" air matanya rembes kembali, air mata itu mulai membasahi kemeja yang di pakai oleh kakaknya.