TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Tak Sanggup hidup.


__ADS_3

Ayana masih penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Maliq, Maliq yang tertawa sembari berjalan di ikuti oleh nya.


"Maiq" Panggil Ayana dengan manja, "Katakanlah, siapa gadis yang sedang kau incar? mengapa kau tak menceritakan nya padaku! kau sudah mulai memainkan rahasia mu padaku!, " Gerutu Ayana.


Maliq masih melanjutkan langkahnya, Maliq juga tak henti mengeluarkan tawanya.


Ayana menggerutu kesal, "Maliq!! " Teriaknya, seketika itu Maliq pun berhenti.


"Bukan nya kau mau pergi bersama Mael? pergilah saja dulu. kau juga akhir-akhir ini sibuk dengan cintamu! " Protes Maliq.


"Kau cemburu dengan Mael?, dia kan calon suami ku. wajar sekali jika aku terus bersamanya! " Tandas Ayana, suara manja nya memecah belah gendang telinga Maliq. dan itu membuat Maliq mengerutkan dahinya, Ayana berbicara bagaikan kereta yang melaju dengan sangat cepat.


"Aku tidak cemburu, masa iya Aku cemburu dengan sepupuku sendiri. Mael sepupuku dan kau sepupuku, hanya saja aku merasa kau sudah lupa denganku! " Jelas Maliq, "Makanya aku tidak menceritakan kisah ku dengan gadis ku kepadamu! kau saja selalu bersikap cuek! " Jelas Maliq kembali.


Ayana bersikap manja, ia menggelantung kan tangan nya di lengan atas Maliq. Ia juga berbicara seakan membujuk Maliq, "Maliq, Kau mau lihat aku bahagia kan?, aku bukan melupakan mu. hanya saja aku dan Mael sedang sibuk mempersiapkan acara bahagia kita" Maliq menggelengkan kepalanya, ia tahu jika Ayana sedang membujuknya agar ia menceritakan mengenai gadis itu.


"Kau sedang merayu ku Ayana? " Tanya Maliq.


Ayana mengerucutkan bibir mungilnya itu, "Kau tahu saja Maiq!" Ucapnya kesal.


"Aku akan menceritakan nya tenang saja, " Ucap Maliq, Maliq melihat kedatangan Mael.


"Mael, cepatlah ajak dia pergi. dia membuat telinga ku sakit! " Keluh Maliq, Mael merasa bingung karena melihat Ayana yang terlihat mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa dengan nya Maliq? " Tanya Mael kepada Maliq, Maliq tertawa kecil karena melihat tingkah Ayana yang sangat menggemaskan.


"Dia akan melamar seorang gadis, tapi dia merahasiakannya dariku!, Maliq sekarang tertutup padaku Mael" Ia mengadu pada kekasihnya itu, Maliq malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha" Tawa Maliq terdengar seperti menggoda kekesalan Ayana, "Kau ini akan menikah Ayana, masih saja seperti anak kecil" Ucap nya kembali.


"Dia bukan merahasiakan nya sayang, tetapi belum berbicara jujur pada kita. nanti juga dia cerita! " Tukas Mael yang sedikit mengajak Ayana bercanda.


"Halah, kau sama saja seperti Maliq. aku tidak jadi pergi, kau pergi saja sendiri!! " Ucap Ayana seraya pergi meninggalkan Mael dan Maliq.


Mael pun mengikuti langkah Ayana, ia mencoba membujuk Ayana.


"Sayang, Kita tidak bisa seperti itu. Mami dan Papi pasti sudah menunggu kita, Ayolah sayang jangan seperti anak kecil begitu" Ucap Mael yang terus menerus mengikuti langkah Ayana, Maliq pun mengikuti langkah kecilnya seakan ia ingin tertawa melihat tingkah kekanak-kanak kan sepupunya itu.


Ayana mengetahui jika Maliq sedang membuntuti dirinya dan juga Mael, Ayana menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan mungilnya itu .


Matanya menatap tajam, "Kau tak perlu mengikuti kami, Aku tidak mau berbicara jika kamu tidak memberitahu siapa gadis yang tidak beruntung itu" Ucap Ayana sarkas, Maliq malah semakin membuatnya kesal.


"Aku akan tetap mengikuti mu Ayana, " Ucap Maliq sembari tersenyum nakal, Maliq seakan mengolok-ngolok adik kesayangan nya itu.


Sebenarnya Maliq sangat senang jika Ayana bertingkah manja padanya, meskipun kini Ayana akan menikah tetapi rasa sayang terhadap adik sepupunya itu tetaplah sama.


Jika Maliq sudah bepergian atau pergi tanpa Ayana, orang yang selalu dicari olehnya saat ia tiba adalah Ayana. Maliq sangat menyayangi Ayana, apalagi Maliq tahu jika Ayana hanyalah anak tunggal.


"Mael lihatlah dia selalu mengolok-ngolok diriku"


"Tidak, dia memang begitu orangnya Ayana! " Ucap Mael, Ayana semakin kesal.


"Ayolah Ayana, Mami dan Papi sedari tadi sudah menunggu di sana" Ajak Mael kembali.


Ayana menghampiri Maliq, ia memberikan jari telunjuknya. "Kau! ",Maliq tersenyum dan menyela kalimat Ayana.


Maliq berucap sembari mencubit Pipi Ayana dengan gemas, "Pergilah dahulu, nanti aku akan ceritakan siapa gadis itu. kau juga pasti sangat senang" Ucap Maliq, Ayana tak segampang itu percaya.


"Kau pasti bohong, siapa gadis itu Maliq. benarkah kau sudah bisa melupakan kak Nat? " Tanya Ayana, "Atau kau hanya ingin membuat Kak Faaz dan Kak Natasha lebih tenang? " Tanya Ayana kembali.


"Tidak, aku tidak berbohong. gadis itu sangatlah baik, dia membuat ku mampu melupakan rasa sakit hati ku" Ucap Maliq mencoba meyakinkan Ayana, Ayana tersenyum sangat manis.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. tapi kamu janji iya pasti cerita sama aku dan Mael! "


"Iya bawel!, " Jawab Maliq.


"Ya udah, kita pergi dulu iya" Mael berpamitan kepada Maliq, sembari menepuk pelan bahu Maliq, Mael pun terlihat mengedipkan matanya.


"Jangan lupa titip beli cincin, nanti uang nya aku ganti" Ucap Maliq sedikit berteriak, Ayana dan Mael pun pergi untuk mencari cincin yang akan mereka gunakan di hari pertunangan mereka.


Maliq menghela nafasnya, teringat masa-masa kecilnya bersama orang-orang yang mereka sayangi. khususnya dengan Ayana, adik nya yang menurut umur lebih tua darinya.


"Teringat sekali saat Uncle Zain berbicara malam itu, " Ucap Maliq, Ia mengingat perkataan-perkataan Zain kepada Ayana. saat itu Ayana terlihat sedang tidur bersama dengan Maliq dan juga Alea, karena saat mereka kecil. mereka selalu tidur dalam satu kamar bersamaan Zain datang dan mengecup semuanya.


Saat Zain mengecup anak perempuan satu-satunya itu, ia seakan menangisi nasib kelu sang anak yang ditinggal ibu nya sedari melahirkan.


Maliq sama sekali belum tertidur dengan pulas, ia mengetahui betapa sedihnya Zain yang saat itu membayangkan jika Tuhan membawanya terlebih dahulu dan meninggalkan Ayana seorang diri.

__ADS_1


Malam itu Zain berucap, "Kau harus belajar bagaimana bertahan hidup tanpa Daddy Nak, sebab kau anak tunggal. dan tidak hanya itu, kau pun tidak akan selamanya hidup bersama Daddy. Daddy memiliki riwayat sakit yang cukup parah, dan Daddy tidak ingin kau mengetahui nya. Daddy tak ingin kau menjadi gadis yang murung, Daddy sama sekali tak ingin kau berpikir jika kau adalah anak yang tidak beruntung karena kau memiliki Daddy yang sakit parah"


"Anak ku sayang, siap tidak siap. kamu akan menghadapi berbagai masalah, dan mungkin kau akan berjuang untuk dirimu sendiri. dan jika itu terjadi, Daddy harap kamu bisa melalui nya tanpa berkeluh kesah"


"Dan sebelum memiliki pasangan, kau akan menjadi pribadi gadis yang baik, memiliki tekad yang kuat agat tidak menyusahkan orang-orang disekitar mu, kau harus pandai memberikan hati orang lain kebahagiaan. hanya itu yang diharapkan oleh Daddy"


"Dan semakin bertambahnya umur Daddy, semakin menua pula penyakit yang Daddy derita dan semakin berat pula beban yang akan kamu hadapi, dan Daddy hanya minta jadilah perempuan yang kuat, perempuan yang mampu memberikan tiket surga untuk suami mu, untuk Daddy dan untuk semua orang yang menyayangi mu"


"Mungkin kelak kau akan menjadi gadis yang kuat, tanpa Rengekan, tanpa keluhan. itulah yang Daddy harapkan, Ayana jika suatu saat nanti kau bertanya mengapa Daddy memiliki harapan seperti itu? itu karena Daddy yakin, tidak selamanya kau dapat meminta, merengek dan mengeluh dan mungkin itu akan terasa berat untuk mu namun percayalah anak ku. kau akan terbiasa, kau akan menjadi wanita yang hebat seperti ibu mu dan ibu angkat mu yaitu Mama May"


Zain menghela nafasnya dengan berat, ia mengalirkan jutaan bahkan miliaran air mata hanya karena menangisi nasib sang anak.


"Anak ku, anak gadis ku. belahan hati Daddy. Daddy berharap kau selalu akur bersama semua saudara sepupu mu, kau sama seperti Mama mu. seorang anak tunggal yang ditinggalkan oleh ibunya, Daddy hanya berharap kelak kau akan tumbuh menjadi gadis yang kuat"


"Kau tumbuh dewasa bersama sifat dan sikap yang baik, Maafkan Daddy Nak. Maaf jika selama ini Daddy belum pantas menjadi ayah yang baik untuk mu! " Ungkapnya sembari mengecup kening Ayana, mengusap lembut dahi anak berusia 8 tahun itu.


Sembari menangis Zain terus menerus mencurahkan isi hatinya, ia tak tahu sampai kapan ia akan bertahan. dan Ia tak tahu sampai kapan ia akan menutupi penyakit yang sangat parah yang mungkin akan terus menerus menggerogoti isi tubuhnya.


Dan hingga saat ini Maliq masih berpura-pura tidak tahu akan penyakit yang di derita Uncle nya itu, Maliq sengaja menutupinya. bertahun-tahun Maliq menutupi rahasia itu, bahkan hingga saat ini Maliq selalu iba jika mengingat kalimat-kalimat yang Zain curahkan untuk Ayana.


"Saat aku mendengar pengakuan Uncle mengenai penyakit yang Uncle derita itu, sejak itu pula aku merasa dunia Ayana akan hancur jika mengetahui ini. Aku bertekad akan menjaga Ayana hingga aku tua, hingga kami menjadi sosok kakek serta Nenek untuk semua cucu-cucu kita"


"Rasa sayang ku pada adik ku tidak akan pernah berkurang Uncle, sama seperti rasa sayang Uncle kepada kami"


*Uncle tenang saja, Ada Maliq" Kalimat itu yang selalu Maliq ucapkan kala Zain menitipkan Ayana di dalam rumah Rido.


Saat Maliq mengetahui Zain memiliki riwayat sakit yang sangat parah, sejak itulah Maliq selalu bertekad menjaga Ayana dan kemarin malam Maliq sengaja menceritakan nya pada Mael ternyata Mael sudah menduga hal itu, karena beberapa waktu yang lalu Zain sempat meminta Mael menemaninya berbincang hingga larut malam.


Saat itu, Zain mengeluarkan darah yang sangat banyak dari hidungnya dan saat Mael bertanya ada apa dengan kondisinya, Zain menjawab dia sedang baik-baik saja mungkin hanya karena panas dalam.


Maliq masih berdiri didepan pintu utama rumahnya, ia masih melamun kan sosok Uncle kesayangannya itu.


Sebuah mobil terparkir di hadapan nya, Maliq merasa terkejut dengan kedatangan sosok pria tersebut. pria yang beberapa bulan yang lalu mengacaukan semua anggota keluarga nya, pria yang akhir-akhir ini menjadi penyebab kematian orang yang mereka sayangi.


"Aidil, " Panggil Maliq dengan nada yang terdengar geram, "Untuk apa dia kesini dan mengapa Kakak tidak menjebloskan nya ke dalam penjara!! " Ucap Maliq kembali.


Aidil keluar dari dalam mobil miliknya, Maliq merasa kesal saat melihat wajahnya.


Tanpa berpikir panjang, Maliq pun melayangkan sebuah pukulan hingga Aidil jatuh tersungkur keatas tanah.


"Bruggg" Suara tubuh Aidil terdengar sangat keras terjatuh, Aidil terlihat merasa sangat terkejut dengan sikap Maliq.


Maliq menatap nya tajam, "Kau seharusnya mendapatkan lebih dari ini" Ucap Maliq.


Maliq menarik kerah baju Aidil, Maliq kembali memberikan pukulan kepada Aidil.


"Maafkan Aku Maliq, kau boleh memukul ku berulang-ulang bahkan mungkin kau boleh membunuh ku agar kau merasa puas. tapi aku mohon kau memaafkan ku! " Ucap nya kembali, Maliq terus menerus memukulnya, hingga di dasar wajah Aidil terlihat menunjukkan luka lebam.


"Kau sudah merenggut kebahagiaan kakak ku!, kau beberapakali berulah! " Ucap Maliq seakan meluapkan seluruh emosi yang telah ia pendam sejak lama itu.


Rido datang dan menghalangi Maliq yang akan memberikan kembali sebuah pukulan.


"Hentikan Maliq" Ucap Rido, "Aidil kesini untuk meminta maaf kepada kita, dan setelah itu Aidil akan menyerahkan dirinya kepada pihak polisi" Ujar Rido, nafas Maliq masih menderu kesal. terlihat sekali Maliq seakan tak mampu menutupi kekesalannya, Maliq terus menerus menatap wajah Aidil tajam.


Rido membantu membangunkan tubuh Aidil, setelah itu Aidil memeluk Rido. memeluk seorang lelaki yang selalu menjaganya sedari kecil, menganggapnya sebagai anak lelakinya.


Aidil menangis, "Maafkan Aidil Papa, Maafkan Aidil" Ucap Nya diiringi tangisan kecil, "Maaf aku telah membuat masalah yang sangat besar" Ucapnya kembali.


"Sudahlah, kita berbicara di dalam saja" Ajak Rido sembari berjalan dan masuk kedalam rumah.


"Faaz sudah tahu akan kedatangan mu Aidil, dia sangat menerima dengan baik kedatangan mu itu"


Maliq merasa kesal dengan sikap yang diberikan Ayah dan kakaknya itu, "Mereka malah memaafkan orang yang jelas-jelas sudah mencabut nyawa Qabil! " Gerutu kecil Maliq, Maliq kembali menatap tajam wajah Aidil.


"Hei Aidil, dengarkan Aku. Aku sama sekali tidak ingin memaafkan mu, bahkan jika kau membayar kematian Qabil dengan 1000 nyawa mu aku tidak akan merasa puas. kau telah membuat orang tak bersalah mati!! " Ucap Maliq dengan sarkas, Maliq memilih pergi meninggalkan Aidil. karena disaat Maliq melihat wajahnya, Maliq akan selalu tersulut emosi.


Maliq datang mencari Noni untuk memberitahu jika tersangka kematian Qabil sedang berada dibawah, Maliq memberitahu karena bermaksud tak ingin Alea melihat wajah Aidil.


Maliq takut jika Alea melihat wajah Aidil, membangkitkan rasa sedihnya kembali. Noni mengerti akan apa yang disampaikan oleh Maliq, Noni pun segera masuk kedalam kamar Alea kembali.


Alea bangun dari tidurnya, Ia menatap sekeliling kamarnya. matanya meneteskan air mata, ia menangis lagi dan lagi. seakan tak hanya ditinggalkan oleh Qabil lah yang menjadi beban utamanya, Alea tidur menghadap samping. membalikan badan nya dan tatapan matanya kosong.


Suara tangisan samar-samar itu terdengar jelas dari luar kamar Alea, Tangisan pilu Alea.


Noni segera masuk kedalam kamar Alea, Noni seakan dapat membaca situasi hati Alea. Noni memeluk Alea dan mengucapkan kalimat yang membuat Alea tenang, "Apapun yang sedang kau pikirkan, tolong ceritakan! " Ucap Noni kembali.


"Tidak ada! " Jawab Alea singkat, air matanya kembali menetes hingga membuat sarung bantalnya basah.

__ADS_1


Alea beranjak dari atas ranjangnya, ia berdiam diri di hadapan kaca jendela kamarnya. matanya menatap ke arah luar jendela, "Alea punya kesalahan sama Papa dan Kak Faaz, Noni" Ucapnya.


"Apa kau bisa ceritakan kepada ku? " Tanya Noni,


"Aku sudah mengira jika kau memiliki beban lain nya!, Alea sungguh malang nasib mu" Gumam Noni di dalam hatinya.


"Tidak Noni, Aku tidak ingin menceritakan nya kepada siapapun. aku hanya minta bantuan kepada mu, biarkan aku menyusul Qabil" Ucapan sarkas penuh permohonan itu keluar dari dalam bibir Alea.


Noni mendekatkan dirinya tepat di dekat tubuh Alea, "Alea, " Lirih Noni memanggil nama Alea.


"Bisakah kau membagi duka mu bersama ku, Aku mohon" Ucap Noni.


"Tidak Noni, seperti nya sudah cukup aku menyusahkan kalian semua. sudah cukup aku membuat kegaduhan di rumah ini, aku tidak mampu menutupi lara dalam hatiku! "


"Aku tidak ingin memberikan kembali beban itu, aku bersalah dan aku tak pantas berada di dalam keluarga ini" Ucap Alea, wajah Alea terlihat sangat layu. air mata itu terus menerus membasahi pipinya.


Noni tak mengerti dengan apa yang diceritakan oleh Alea, Noni tak tahu apa yang ingin disampaikan oleh Alea.


Noni kembali memeluk Alea, mencoba meyakinkan dan menguatkan hati Alea. rasanya Alea memang sedang menutupi sesuatu, Alea sedang menyelaraskan dirinya dan beban yang begitu sangat berat baginya.


"Aku akan membuat malu terus menerus semua keluarga ku, aku seorang anak yang sangat sial Noni" keluh Alea membuat Noni pun merasa sangat bersedih.


"Alea, apakah Noni boleh jujur kepada mu? " Tanya Noni, Alea seperti tak ingin mendengar apa yang akan Noni sampaikan. Alea yang masih dalam keadaan menangis itu seakan menggelengkan kepalanya, berharap Noni berhenti memberikan kalimat-kalimat yang membuat tenang hatinya.


sepertinya hanya satu yang Alea inginkan. yaitu "kematian dirinya sendiri" menyusul Qabil yang sudah jauh di sana, Alea merasa sangat frustasi dan Noni mengerti akan situasi yang sedang dihadapi oleh Alea.


Alea merasa dirinya sudah tak mampu berguna. dan satu lagi permasalahan berat yang kini menimpa dirinya, Alea tengah hamil. ia tengah berbadan dua, Alea sudah menyadari nya saat pernikahannya akan segera di mulai.


Dan sangat disayangkan anak itu hasil dari ketidaksengajaan Alea dan Qabil, malam itu Rayna lah yang membuat Alea dan Qabil melakukan hal yang sangat konyol.


Rayna mencampurkan sebuah obat ke dalam jus strawberry yang di minta Alea kepada Qabil, Rayna sengaja melakukan nya. Entah apa alasan dibalik itu semua, dan hal itu terjadi begitu saja.


Tepatnya satu bulan sebelum pernikahan mereka akan di gelar, malam itu Qabil keluar kamar nya dan hendak membawakan segelas jus strawberry yang di minta Alea melalui pesan singkatnya.


Saat itu Qabil berpapasan dengan Rayna dan Rayna yang masih duduk di dalam kursi roda merasa sangat haus, hingga meminta Qabil mengantarkan dirinya untuk membawa segelas air.


Qabil menawarkan dirinya untuk membawakan segelas air itu untuk Rayna, namun Rayna memaksa Qabil untuk tetap membawanya ke bawah untuk menuju dapur.


Setelah itu Qabil mengiyakan keinginan Rayna dan setelah mereka sampai, Qabil segera menyiapkan bahan-bahan untuk membuat jus kesukaan calon istrinya itu.


Saat Qabil lengah, dengan sengaja Rayna mencampurkan minuman tersebut dengan obat yang membuat mereka lepas kendali.


Lalu, Qabil pun membawakan segelas jus itu untuk Alea minum. Alea meminum nya sembari berbincang Qabil pun menyeruput minuman di dalam gelas di bekas bibir kekasihnya itu.


Tak lama kemudian, Alea merasakan gejolak itu begitupun dengan Qabil. mereka pun tanpa sadar melakukan nya, dan setelah itu Rayna terlihat sudah memasang alat perekam di balik jendela kamar Alea.


Hingga aktifitas itu berlangsung, aktifitas itu tetap terekam dengan sempurna. kenikmatan demi kenikmatan dirasakan oleh pasangan yang sangat saling mencintai, mereka merasa lelah hingga tertidur bersama.


Qabil dan Alea seakan tak mampu menolak gejolak itu dan saat mereka sadar apa yang telah di lakukan oleh mereka adalah kesalahan, Qabil segera meminta maaf kepada Alea.


Rayna selalu menjadikan rekaman itu senjata ampuhnya, Rayna selalu mengancam Alea. itulah yang membuat Alea semakin membenci Rayna, bahkan Rayna tak segan akan memberikan rekaman itu kepada Faaz dan Rido.


Rayna hanya minta agar Alea membantunya untuk memisahkan Natasha dari dalam dekapan Faaz, namun Alea selalu menolaknya dan tidak menggubris ancaman dari Rayna.


Hingga suatu hari tiba, Alea dan Qabil merencanakan sesuatu untuk membawa rekaman itu dan menghapusnya. Rekaman itu berhasil mereka dapati, mereka segera menghapusnya dan bahkan membuang kamera yang dipakai oleh Rayna untuk merekam aktifitas **** mereka.


Saat pertengkaran itu terjadi, dimana sebelum Rayna membuat kecelakaan untuk menghilangkan nyawa Alea dan Qabil lah yang menjadi korbannya, yang sebenarnya terjadi adalah permasalahan mengenai rekaman itu.


Rayna tak menerima akan apa yang dilakukan oleh Alea dan Qabil, karena Rayna merasa kalah. ia pun mengadu kepada Aidil dan meminta Aidil untuk mencelakai Alea, namun ia tetap berbicara seolah itu adalah rencana busuk Aidil.


Alea mengingat betul permasalahan diantara mereka, ia masih menangis di dalam dekapan Noni. tanpa bercerita mengenai kehamilan nya itu, tanpa memberitahu apa yang menjadi beban nya kini.


"Lea ceritakan lah, siapa tau Noni bisa membantu Alea" Ucap Noni sembari mengusap lembut kepala hingga punggung Alea, Alea masih membisu dan tak ingin berbicara.


"Kau selalu mengigau, seakan kau sedang bersama dengan Qabil" Sambung Noni, "Katakanlah Alea, Noni mohon" Ucap Noni kembali.


Alea menatap wajah Noni, ia tak mampu menghentikan air matanya itu. Alea terus menerus menangis, ia menggelengkan kepalanya berulang-ulang.


"Aku tidak bisa Noni, biarkanlah aku Mati!!! " Ucapnya kembali, Noni tak membiarkan Alea lepas dari pelukan nya. Noni merasa sangat khawatir, ia berusaha menghubungi Maliq.


"Lepaskan Aku Noni, Aku tidak ingin hidup terus menerus hidup di dalam bayangan masa lalu ku yang kelam!! " Keluh Alea dengan sedikit berteriak, kamar Alea berada jauh dari kamar Natasha dan Fizzy. hingga mereka tak mengetahui apa yang sedang menimpa Alea, Noni masih berusaha tak melepaskan dekapan nya itu.


Lagi dan Lagi Alea meronta dari pelukan Noni, Alea berusaha tetap ingin mengakhiri hidupnya. Dan kini Alea semakin berontak, Alea semakin merasa tak terkendali. Maliq pun datang dan mencoba membantu Noni, "Kak Lea, Istighfar! " Ucap Maliq yang kini memeluk tubuh kakaknya, Noni merasa iba dengan apa yang sedang menimpa Alea.


"Aku sudah tidak bisa hidup disini Maliq, tolong aku. Aku tak ingin hidup disini" Ucap Alea, Noni masih merasa penasaran dengan apa yang sedang Alea pikirkan.


"Aku sudah tak sanggup untuk hidup Maliq, biarkan aku mati! " Ucap Alea kembali.

__ADS_1


"Maliq mohon Kak, berhentilah membuat Kakak seperti ini. Qabil pasti menginginkan kakak menjadi sosok wanita yang kuat!, Aku mohon Kak! " Ucap Maliq, Alea hilang kendali hingga tak sadarkan diri. Maliq segera meminta Noni untuk memanggil Faaz dan Rido, Maliq juga meminta Noni untuk segera menghubungi dokter.


"Ada apa dengan mu Kak?, Mama kasihan Kak lea, tolong mintalah pada Tuhan agar Beliau memberikan hati yang kuat untuk Kak Alea" Ucap Maliq sembari mengusap peluh keringat yang mengucur di dahi Alea, tak sengaja air matanya menetes. ia merasa sangat sedih melihat kondisi kakak nya itu.


__ADS_2