
PLaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak......
"Aaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrghhhh" Teriak Rayna kesakitan dan merasa kesal dengan apa yang telah didapatkan olehnya, Suara tamparan yang sangat keras untuk Rayna di berikan oleh Abrar, "Kau pantas mendapatkan nya, sekali lagi kau mengganggu dan menyakiti keluarga Tuan Rido aku tak akan segan-segan membalasnya!! " Ucap Abrar dengan wajah yang penuh amarah.
"Berani nya kau menamparku?," Tanya Rayna dengan tatapan yang sangat sarkas.
Abrar menjawab, "Bahkan seharusnya saya melalukan hal yang lebih kejam dari ini, setelah kau melakukan hal bodoh di dalam rumah Tuan Rido, apa pantas kau berkeluyuran bebas seperti ini?" Tanya Abrar.
"Siapa dirimu berani bersikap seperti itu kepada ku? " Tanya Rayna.
"Aku adalah seorang pelayan yang selalu kau Fitnah!! aku adalah orang pertama yang mengetahui serta menyaksikan semua kebohongan mu dan Aku adalah orang pertama yang selalu ingin membongkar seluruh rahasia mu!! kau lupa mata ku terdapat banyak dirumah itu"
"Siapapun orang asing yang masuk kedalam rumah Tuan ku, Aku tak akan segan mencari tahu bagaimana sikap serta tujuan nya!! " Ucap Abrar, "Kau lupa Nona, sedang berhadapan dengan siapa hari ini? " Sambungnya kembali, Abrar bersikap sangat tegas kepada Rayna. karena Abrar tahu siapa yang membuat Alea hamil seperti itu, bahkan dulu rencana Rayna adalah membuat Alea hamil bukan dari darah daging Qabil.
Rayna terpaku dan membisu saat mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Abrar, mungkin Rayna sekarang benar-benar merasa kalah. Alea dan Ayana begitu sangat terkejut saat mendengar kalimat yang di utarakan oleh Abrar, bagi mereka Abrar terlihat pendiam bahkan Abrar hanyalah seorang pelayan biasa.
"Kejahatan mu sudah sangat Banyak Nona Rayna, bahkan harus saya katakan bahwa keputusan Tuan Faaz menceraikan mu adalah keputusan yang sangat baik dan Saya sendiri merasa bahagia saat mengetahui kabar tersebut" Abrar berbicara dengan sorot mata yang tajam, Abrar benar-benar sangat membenci Rayna.
Saat Rayna mengetahui Abrar tahu akan perselingkuhan dirinya, dan juga mengetahui apa yang sedang direncanakan oleh Rayna untuk Rido dan keluarganya. Rayna selalu mengancam akan mencari tahu keberadaan putri Abrar, Rayna pun berucap akan mencelakai putrinya tersebut.
Abrar menunjukkan jari tangan nya tepat di hadapan wajah Rayna, "Saya ingatkan sekali lagi kepada Nona, jangan pernah mengganggu Keluarga Tuan Rido apalagi Nona Alea. Jika Nona masih mengganggu, saya akan pastikan kehidupan Nona akan semakin memburuk!! " Ancam Abrar, Abrar pun mengajak Ayana dan Alea agar pergi dari hadapan Rayna.
Di dalam mobil yang sedang Abrar lajukan, Ayana benar-benar menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ayana terkejut dengan sikap Abrar yang terlihat sangat kejam kepada Rayna, Ia menepuk tangan pelan sembari terus menatap Abrar.
"Kau benar-benar hebat Abrar!! " Ucap Ayana, "Mengapa kau melakukan itu? " Tanya Nya kembali.
"Bahkan saya pernah melakukan hal yang lebih dari itu! " Ucap Abrar yang mengaku atas apa yang dia lakukan, "Saya pernah memarahi nya di depan umum, saya juga pernah mendorong tubuhnya hingga terjatuh!! " Ucap Abrar kembali.
Ayana dan Alea merasa setengah tak percaya dengan pengakuan Abrar, Abrar tersenyum menyeringai. Tatapan nya penuh dengan kekesalan, "Saya pastikan siapapun mereka, yang berani menyakiti Tuan Rido. Saya tidak akan segan untuk menyakitinya kembali, bahkan saya pastikan dia tidak akan pernah hidup dengan tenang"
"Mengapa kau melakukan itu? " Tanya Ayana.
"Dia berniat untuk menghilangkan Nyawa Tuan Rido" Ucapnya, Abrar pun segera mencari rekaman suara Rayna yang terdengar sedang berbincang dengan seseorang.
"Kau pastikan Papa mertuaku sudah tidak ada, jangan pernah kau berbuat Gagal seperti hari itu" Suara Rayna terdengar sangat jelas,
"Maaf Nona Ayana, Nona Alea. Maaf jika saya baru saja berbicara hal ini, saya hanya tidak ingin kalian cemas!, dan percakapan ini serta video yang sempat saya rekam saat melabrak Rayna sengaja saya simpan hanya untuk sebuah bukti!! " Jelas Abrar kembali.
"Kau penyelamat kami Abrar, kau seorang Hero untuk kami" Sela Alea.
"Iya, terimakasih Abrar. Kita benar-benar harus mengucap syukur atas ini, Tuhan masih memberikan orang-orang baik disekitar Papa" Sahut Ayana.
"Saya senang melakukan itu, karena saya tahu Tuan Rido dan anak-anaknya adalah orang-orang baik"
"Terimakasih Abrar, sekali lagi kami ucapkan terimakasih" Ucap Ayana
Abrar merasa senang karena dapat melindungi anak-anak dari Tuan Rido yang sangat ia hormati dan Ia sayangi.
Sesampainya di rumah itu, Faaz sedang menunggu kedatangan mereka. Faaz terlihat mengkhawatirkan kedua adiknya, dan benar saja apa yang dikhawatirkan Faaz terjadi.
"Kalian tidak apa-apa kan? " Tanya Faaz sembari memeluk Alea dan Ayana, "Tadi Kakak mengecek CCTV rumah, dan melihat sosok Rayna yang mengikuti kalian saat kalian keluar dari gerbang rumah.
"Kak Rayna memang mengganggu kami disana, tapi kakak tenang saja ada Abrar. Dia membuat Kak Rayna terdiam terpaku, bahkan Abrar menampar Kak Rayna" Ucap Ayana.
"Maafkan saya Tuan Faaz, Saya hanya.. "
Ayana menyela kalimat Abrar, "Abrar melakukan itu karena Kak Ray akan menampar kami" Lanjut Ayana, Faaz tersenyum saat mendengar apa yang Ayana katakan.
"Terimakasih Abrar, kamu sudah melindungi adik-adik ku. Aku tak tahu kalau disana tidak ada kamu, mungkin Rayna sudah mencelakai Alea ataupun Ayana." Ucap Faaz kembali, Abrar melihat kedatangan Aliq dari dalam rumah.
Abrar tertunduk segan, "Aku tidak marah Abrar, kau sudah melakukan yang terbaik" Ucap Aliq, "Bahkan jika aku berada disana, akupun pasti melakukan hal yang sama" Sambungnya kembali.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan Aliq" Ucap Abrar.
"Kau tak perlu meminta maaf, aku sudah bilang, kau sudah melakukan hal yang baik" Ucap Aliq kembali, Abrar tahu betul bagaimana sikap Aliq. Aliq memang sosok yang sangat baik dan sangat meyayangi Faaz.
^^^
"Sayang, " Panggil Faaz.
"Iya," Sahut Natasha, Ia terlihat sangat sibuk karena mengurus Damar seorang diri. Gwen dan seorang assistennya sudah tidak bekerja sebagai suster yang membantu Natasha. Natasha memang ingin sekali mengurus Damar seorang diri, Ia benar-benar ingin mengurus kedua anaknya dengan tangan nya sendiri.
"Kau tahu Abrar tadi sore menampar Rayna?" Ucap Faaz memberitahu.
"Demi Apa? mengapa Abrar melakukannya?" Tanya Natasha terkejut.
"Iya, karena dia telah mengganggu dan ingin membuat Alea merasa tertekan" Jawab Faaz.
"Pantas saja, " Jawab singkat Natasha, raut geram ia berikan saat menjawa kalimat Faaz.
"Jika aku berada disana mungkin aku akan melakukan hal yang sama dengan nya!!!! " sambuing Natasha penuh penekanan, "Aku geram mendengarnya, Aku tidak akan segan-segan membuatnya jatuh tersungkur jika dia berani mengganggu Alea!" Gerutu Natasha tanpa henti disambut senyuman oleh Faaz.
"Kau manis sekali jika sedang merasa marah!!!" Goda Faaz.
"Sayang jangan mulai deh!!!' Mata Natasha mendelik, akhir-akhir ini Faaz selalu meminta jatah lebih, Faaz seakan tak memperdulikan Natasha sedang merasa lelah atau tidak. walaupun Natasha sedang menggendong Damar, atauy sedang menyusui Damar sembari menidurkannya dikasur Faaz selalu meminta jatah lebih nkepada Natasha.
bahkan saat ini hal itu pujn sedang tgerjadi, dan Faaz terlihat anteng menjadikan Natasha sasaran nafsu nya, mungkin karena Natasha sekarang lebih terlihat canti dengan rambut yang selalu tercepol memuat leher jenjangnya terlihat menarik di mata Faaz.
"Sayang, sebentar iya. Aku tidurin Damar dulu." Ucap Natasha, Faaz pun rela menunggu hingga Damar tertidur diatas ranjangnya.
"Lama sekali" Keluh Faaz
"Sabar...."
"Tok.... Tokkk" Suara pintu memecah keheningan kamar Faaz, sebenarnya Faaz sedang ingin memulai. namun lagi-lagi belum terlaksanakan, Natasha menatap jam dinding. jam menunjukkan pukul 9 malam.
Faaz membuka pintu kamarnya, "Kak Faaz, Noni sama Maliq kok belum dateng?' Tanya Alea.
"Aku tidak memiliki teman di kamar, hanya bengong saja. tadi sempet ditemani Aunty Shaloom. namun Aunty merasa ngantuk sekali katanya" Keluh Alea.
"Ya sudah, sini aja dulu Lea....." Ajak Natasha, Alea mengangguk sembari melangkahkan kakinya.
Faaz menatap Natasha dengan wajah memelas, Natasha tersenyum saat melihat raut wajah suaminya itu.
Dalam hati Faaz, "Ya Tuhan....." Alea malah tertidur pulas diatas kasur Natasha, Faaz hanya mengeluskan telapak tangannya diatas dada bidangnya itu.
Natasha mendekat dan berbisik, "Masih ada hari esok sayang, kasihan Alea. biarkan dia tidur disini bersama ku!'
"Aku bagaimana?" Tanya Faaz.
"Kau bisa tidur disofa sini kan?" Tanya Natasha setengah berbisik, Faaz menatap wajah polos Alea, ia merasa iba dengan raut wajah adiknya itu.
"Baiklah" Sahut Faaz tak bersemangat.
"Kakak, Maaf aku membuatmu tidur diatas sofa. rasanya jika aku sendiri di dalam kamar itu, mereka semua kembali berbisik di telingaklu agar aku menghilangkan anak ini dari dalam perutku, dan aku merasa takut... Maafkan aku kak" Ucap Alea di dalam hati, Iya Alea belum sembuh total. namun, Alea selalu berusaha untuk menjadi Alea yang baik dan Alea selalu berusaha tidak menjadi Alea yang terkesan gila.
Faaz mendekat dan mengecup kening adiknya, "Kakak bahagia karena kau menjadi Alea yang dewasa, Kaka janji akan selalu menjaga dan menyayangi mu. sampai kapan pun dan dimanapun" Ucap Faaz, Natasha senang jika Faaz memberikan Alea perhatian lebih.
^^^
Keesokan harinya, semua sedang berkumpul di ruang keluarga, Fizzy terlihat sedang merebahkan dirinya diatas sofa ruang keluarga bersama Rido yang sedang asyik mengajak Aaleesya bermain, dan terlihat Shaloom dan Rani sedang berbincang asyik membicarakan pesta untuk Ayana dan Mael yang akan segera digelar minggu-minggu ini.
Fizzy sendiri sedang menatap foto May, Fizzy benar-benar merindukan sosok ibunya itu. Fizzy mengusap perutnya yang kini sudah terlihat membesar, "Sayang, Nenek mu wanita cantik. Wanita super dan beliau adalah panutan Mama sebagai sosok ibu yang baik" Fizzy menyeka air matanya itu.
Fizzy mengusap lembut perut nya, bayi di dalam perutnya terasa senang mendengar curahan hati dari Fizzy. Tendangan hebat itu membuat Fizzy benar- benar merasa bahagia, lagi dan lagi Fizzy meneteskan air matanya.
Aliq datang menghampirinya, "Bayi nya nendang-nendang iya?" Tanya Aliq.
__ADS_1
Fizzy tersenyum dan menjawab, "Iya si kembar seneng karena diberitahu foto Nenek nya yang sangat cantik," Aliq mengecup perut Fizzy, Ia mengusap lembut perut Fizzy yang sangat besar terlihat olehnya.
Aliq mengatakan, "Papa sudah tidak sabar ingin menggendong kalian" sembari terlihat senang Aliq terus menerus mengecup perut Fizzy.
"Ini Dede yang perempuan pasti yang lincah," Ucap Fizzy memberitahu Aliq, "Centil banget kaya Papanya" Ucap Fizzy kembali diiringi tawa kecil.
"Gak apa-apa masih mending kalau mirip Papanya, kalau mirip nya tetangga sebelah kan gawat, Iya gak Pah?" Tanya Aliq, Rido tersenyum saat mendengar pertanyaan Aliq.
"Aliq sih berharap yang laki-laki mirip sama Papa, kalau perempuan mirip Aliq" Sambungnya lagi, Fizzy terkekeuh-kekeuh tertawa karena mendengar apa yang Aliq bicarakan.
"Kamu itu selalu bikin aku ketawa, gak tau lagi deh kenapa?" Tanya Fizzy, Ia benar-benar merasa bahagia menikmati masa-masa menjadi seorang istri dari Aliq, Rido pun merasa bahagia melihat rumah tangga dari anak keduanya itu. Rido mendengar percakapan diantara Aliq dan Fizzy, rasanya Rido mengingat betul masa-masa dimana May hamil anak kembar, Rido meneteskan air mata. kenangan itu begitu sangat indah baginya.
Di hadapan Rido, Rido seakan melihat antara dirinya dan May. mengusap perut May, merasakan tendangan cinta dari Faaz dan Fizzy. bahkan ia mengingat kalimat-kalimat diantara dirinya dan May, Kalimat-kalimat itu terngiang di kedua telinganya....Flashback moment terindah bagi Rido pun terlihat dihadapannya, seakan Aliq dan Fizzy sedang memerankan peran antara May dan Rido.
"Sayang , papah tak sabar ingin memeluk kalian" Ucap Rido sembari mendekatkan bibirnya kehadapan perut May, Ia seakanj berharap kedua anaknya mendengar celotehan nya itu. "Sayang kok diam, giliran dengan mami mu saja kau bergerak dengan sangat kencang" Rido tersenyumnya sangat menawan saat menatap kearah May, menoleh manatap lekat wajah May.
"Anak-anakku sayang, Papa mau dong kalian tendang" sembari mengecup-ngecup perut May, Ia merasa gemas saat melihat perut May. Dan ternyata tendangan itu diberikan oleh Fizzy dan Faaz yang berada di dalam kandungan, "duggg.. duggg" Tendangan itu tepat mengenai pipi halus Rido., Mereka pun tertawa terbahak-bahak karena merasakan tendangan itu, bayi itu sangat menggemaskan bagi Rido dan May.
"Ya aampun nak, kalian mengagetkan Papa iya. ayo sekali lagi anak-anak baik, nanti Papa akan belikan kamu mainan yang banyak, Ayolah sayang kau akan menuruti papa kan?" masih dengan posisi yang sama, Rido berbicara seraya memohon kepada mereka. Flashback pun berakhir, Rido menyadari moment itu hanya akan terulang oleh anak-anak nya. Namun Rido merasa bahagia karena rasa rindu nya kepada May terobati.
Hiks Hiks, tangisan Rido terdengar terisak. Fizzy dan Aliq menyadari bahwa tangisan Papanya terdengar oleh kedua telinganya, bahkan Aleesya yang merupakan cucu kesayangannya itu merasa sedih dan mencoba menenangkan hati kakeknya.
Siang dan Malam rasa rindu memang selalu menghampiri Rido, ia benar-benar tidak pernah bisa ataupun berniat melupakan istri yang sangat ia cintai, Rido bernasib malang, semenjak kepergian istrinya itu raut wajah tampannya hanya dapat tersenyum ketika dihadapan anak-anaknya selepas itu, Rido selalu berbicara dan mengutarakan rasa rindunya kepada May di hadapan lukisan besar itu, sembari mengusap dan menyeka air matanya Rido berulang-ulang meratapi kisah sedih tanpa sosok May.
Terkadang ia berpikir mengapa ada pertemuan jika ada perpisahan, mengapa dia tak bisa pergi bersama cintanya. dan mengapa hanya dirinya yang tersisa tanpa sosok May, Rido menangis teriisak tanpa henti.
Aleesya duduk diatas pangkuan Rido, "Kakek mengapa menangis?" Tanya Aaleesya.
Dengan air mata yang masih mengalir Rido pun menjawab, "Kakek merindukan sosok Nenek mu, dia wanita cerdas dan berhati mulia. kelak Aaleesya dewasa harus bisa sepertinya" tanpa rasa malu dan tanpa memperdulikan Fizzy dan Aliq yang sedang memperhatikannya itu, Rido menjawab pertanyaan Aaleesya.
"Apakah Nenek sedang berada disurga?" Tanya Rido.
"Iya, dia sedang menunggu kakek disana" Jawab Rido, "Bahkan Nenek mu sudah memiliki tempat yang sangat indah disana, Aaleesya jangan lupa mendoakan Nenek iya" Ucap Rido.
"Baiklah Esya akan selalu mendoakan Nenek" Jawabnya.
"Papa, kenapa papa menangis?' Tanya Fizzy sembari menghampiri Rido.
"Papa teringat masa-masa indah bersama Mama mu Fizzy, Papa pernah berbicara dengan Mama mu seperti kau dan Aliq"
Aliq pun mendekat, "Maafkan Aliq Pah, Aliq tidak tahu jika itu membuat Papa bersedih!' Aliq merasa sangat bersalah.
"Aliq sempat membaca kisah Papa dan Mama di dalam buku karya Mama, Aliq ingin seperti kalian" Sahut Aliq kembali, Ia menyeka air matanya.
"Untuk kami, Papa dan Mama adalah panutan dan pasangan yang sangat inspiratif" Timpal Fizzy, "Maaf jika Fizzy membuat Papa merasa sedih, kami gak bermaksud seperti itu"
"Anak ku, menantuku.. Papa tidak merasa kalian membuat Papa sedih, justru Papa sangat bahagia ketika melihat kalian seperti ini." Ucap Rido.
"Percayalah Papa tidak merasa begitu" Ucap Rido kembali.
"Bolehkah Fizzy memeluk Papa?" Tanya Fizzy dengan raut wajah manja.
"Aunty Fizzy kan sudah besar mengapa meminta dipeluk kakek?" Tanya Aaleesya yang merasa protes dengan sikap manja Aunty nya itu.
"Esya, Aku kan ingin dipeluk Kakek mengapa kau malah protes!!' Seru Fizzy membuat Aaleesya tertawa seakan sedang meledeknya.
Fizzy pun memeluk Rido dengan erat, "Aku pun merindukan sosok Mama, bahkan Mama dan Papa akan selalu dalam hati Fizzy, Fizzy berjanji akan selalu menjaga Papa. terimakasih Pah sudah mau menghadirkan Fizzy, mengurus kami dan menjadikan kami anak yang mengerti artinya kasih sayang.
Alea datang bersama Maliq dan juga Faaz. tak lupa Mael dan Ayana hadir disana, semua anak-anak nya ikut memeluk Rido. Rido menatap kearah Ayana yang berdiri melihat pemandangan itu, Rido mengajak Ayana untuk ikut memeluk dirinya.
Angin sejuk kembali merasuk kedalam jiwa Rido, Rido tahu jika May pun hadir. pelukan itu terasa di belakang punggung Rido, rasanya hangat dan wangi tubuh May pun tercium olehnya
May berbisik di telinga Rido, "Tidak ada yang lebih membahagiakan aku selain melihat mu merasakan kebahagaiaan karena mendapat kasih sayang dari mereka semua, Rido... suamiku... Aku memang tidak diciptakan untuk mendampingi mu selamanya yang aku tahu dan yakini adalah, Aku diciptakan untuk mendapat kasih sayang darimu, bahkan kau lah teman hidupku yang telah mengubah hidupku, kau raja ku serta surga ku, dimana ada Rido disana ada May, Aku menunggu mu disini" Entah hanya khayalan ataupun nyata, ungkapan kasih sayang serta cinta itu selalu terdengar olehnya, walaupun ia tahu kematian lah yang telah memisahkan dirinya dan May.
"Papa sangat bahagia memiliki kalian, Papa akan selalu bahagia ketika melihat kalian hidup bahagia" Ucap Rido, semua mengerti perasaan Faaz. bahkan beberapa orang dihadapannya selalu menyembunyikan duka dan air mata setelah ditinggalkan oleh sosok May.
__ADS_1