
"Rayna.. Rayna.." Panggil Aliq, Ia melihat kakak nya tertidur di atas lantai karena minuman yang memabukkan dirinya.
"Ya ampun kamu pasti minum banyak!! " Aliq terlihat sangat kesal dengan tingkah kakaknya itu, Ia segera menggendong kakaknya dan menidurkannya di atas ranjang milik kakaknya itu.
Aliq menatap layar CCTV yang ia pasang untuk melihat aktifitas ruang tamu di Apartemen nya itu, setelah aktifitas yang terekam itu diputar olehnya.
Aliq melihat kedatangan Aidil, ia geram saat melihatnya. karena sebelumnya, Aliq sempat mengancam Aidil agar tidak mendekati kakaknya kembali.
Aliq merogoh ponselnya, Ia juga mengaktifkan chips yang di simpan olehnya di bawah kursi, ia mendengarkan setiap pembicaraan Aidil dan Rayna. Entah darimana Aliq memiliki sebuah rencana itu.
"Aku harap sesuatu terdengar disini. sebuah info yang bisa aku dapatkan." Ucap Aliq.
Terdengar sekali jika Aidil sangat bersungguh-sungguh mengajak Rayna ke jalan yang benar, Aliq pun merasa bersalah kepada Aidil karena selama ini yang Aliq tahu adalah Aidil yang mempengaruhi sikap Kakaknya itu. Namun, sebenarnya Rayna lah yang benar-benar memiliki sikap seperti pendendam bahkan terdengar Aidil menyadarkan nya atas kebaikan ibu Aliq begitupun Rido dan May.
"Jadi selama ini, kakak menyimpan dendam kepada Papa Ido dan Mama May, dan alasan nya karena Papa dan Mama mendukung pernikaha Papa Harry dan Mama ku!! " Ucap Aliq.
"Dia salah, dia benar-benar sudah sangat salah menilai mereka. mengapa dengan mu Rayna! " Gumam Aliq kesal, Ia menggelengkan kepalanya pelan.
Terdengar suara Rayna yang mengigau dengan keras, matanya terpejam namun bibirnya tak berhenti berucap.
Aliq mendekat dan mencoba mencari tahu apa yang di ucapkan Rayna, Aliq segera mengambil ponselnya, ia pun merekam semua yang di ucapkan Rayna.
"Kalian semua bodoh!!, apalagi kamu Faaz!! kamu melepaskan ku demi dia! Hahahah" Suara nya terdengan sangat yaring di telinga Aliq..
"Kalian semua benar-benar membuangku, lihat saja. aku akan membuat masalah yang lebih besar! " Gumam Rayna.
"Setelah kematian Qabil dan kehamilan adik mu aku bahagia, karena adik mu yang sangat menyebalkan sudah menderita. Aku kehilanganmu bukan berarti aku akan membiarkan adik mu tidak kehilangan sosok yang dicintainya"
"Hahahah" ketawa Rayna begitu sangat lebar.
"Tunggu beberapa bulan lagi ya, kalian akan kembali merasakan kehilangan!!! " Gumam Rayna yang kembali melemas dan tertidur.
Mata Aliq berkaca-kaca saat melihat kakaknya yang terlihat malang, walaupun selalu membuat nya kesal namun, Aliq sangatlah menyayanginya.
"Ibaratkan Dalam hening kau bicara, bahkan dalam keadaan gelap kau mampu melihat. semua kesalahan mu sudah tidak bisa kami maafkan, tapi kamu tetap Kakak ku yang aku sayangi namun, Maaf kini kah benar-benar sudah tidak bisa aku maafkan. kau pasti memiliki rencana lain untuk keluarga ku, mereka keluarga ku sekarang dan aku tak ingin mereka terluka karena kesalahan yang tak mereka lakukan!! " Ungkap Aliq dalam hatinya, ia pergi meninggalkan Kakaknya itu dalam keadaan marah.
Keesokan harinya, Rayna terbangun dari tidur panjangnya. Ia segera mencari ponsel pribadinya, lalu ponsel tersebut terlihat tergeleta di atas sofa.
Ia melihat ada beberapa pesan dari pengacara yanh di utus Faaz untuk mendampingi dirinya, ia benar-benar merasa sangat kesal karena mengetahui sidang perceraian pertamanya akan di gelar pada minggu ini.
Tak hanya itu, sebuah surat yang masih berada di dalam Amplop itu sudah tersimpan di hadapan matanya. Ia membuka surat tersebut dan segera membaca dan ternyata isi dari surat itu adalah panggilan untuk sidang perceraiannya.
Ia menggeser layar kunci pada ponselnya, lalu mencoba menghubungi Faaz dengan menekan nomor di dalam ponselnya. Namun, Faaz tidak mau mengangkat Panggilan suara dari Rayna.
Ting Nung,, Ponsel Rayna berbunyi tanda satu pesan masuk kedalam ponsel miliknya itu.
Maafkan Aku, Aku tak berniat membuat mu menderita. tetapi harus kau tahu, aku sudah tidak bisa menerima apapun yang kau lakukan. Aku harap kau mengerti ~ AlFaaz.
Bagaimana mungkin Aku bisa hidup tanpa mu Faaz, hanya kau lah yang bisa mengubah hidupku ~ Balas Rayna.
Tidak, Justru aku tidak mampu mengubah mu menjadi Rayna yang baik nan Manis. dan aku tahu dengan Alasan kau ingin membalas dendam pada Papa ku serta Mama ku, tapi Rayna aku sudah memaafkan mu dan ku harap kau kembali menjadi gadis yang manis untuk Papa dan Ibu. hanya merekalah orang tua mu, semoga kau bahagia ~ AlFaaz
Rayna mengepalkan tangannya, "Faaz!!!!! " Geram Rayna seraya berteriak dengan kencang, dia benar-benar merasa sangat kesal dan juga merasa kalah.
Rayna benar-benar tidak ingin menerima kekalahan itu, Rayna mengumpat kembali. ia akan selalu membenci Faaz dan keluarganya.
"Ingat Faaz, Aku tidak menerima ini semua dan kau akan menanggung akibat dari ini semua!! " Gumam Rayna, matanya membola tajam. Ia benar-benar dalam keadaan Marah, Namun Rayna tak dapat menutupi air mata yang kini sudah turun membasahi pipinya, ia segera menyeka air mata nya itu.
**
3 Bulan Kemudian.....
hari-hari Alea berjalan dengan semestinya. Ia sudah dapat tenang dan menyadari bahwa kematian Qabil adalah takdir dari yang maha kuasa, kandungan Alea pun kini sudah berjalan 4 bulan. Ia sudah dapat merasakan getaran calon Baby nya.
"Noni lihatlah perut ku sudah sedikit membuncit!!," Gumam Alea sembari berkaca dan menunjukkan perutnya yang sedikit membuncit, "Aku senang sekali Noni, " Ucap Alea kembali.
"Iya sudah sedikit terlihat, kau juga sekarang gemukan pasti bayi mu sehat sekali"
__ADS_1
"Jelas lah, Kakak ku kan sangat menyayangi Baby nya" Timpal Maliq sembari tersenyum, Ia memeluk tubuh Kakak nya dari belakang dan mengusap perutnya dengan lembut.
Maliq beralih ke depan dan mengecup perut Alea, "Baby boom, dengarkan Uncle Maiq iya. nanti jika sudah besar, kau harus menjadi anak yang sangat menyayangi ibu mu!! " Alea sangat senang saat mendengar celotehan Maliq.
"Kau harus tau perjuangan ibu mu melahirkan mu, dan ingat nanti Uncle akan cerita betapa hebatnya wanita yang mengandung mu sama seperti wanita yang dahulu mengandungku juga ibu mu" Ucap Maliq, Alea meneteskan air matanya.
"Maliq, terimakasih kau sudah menghiburku." Ucap Alea, "Kau memang Uncle yang baik untuk semua keponakan mu" Ungkap Alea.
Natasha datang menghampiri mereka, Natasha menggendong Damar yang kini sudah sangat sehat. Damar memiliki wajah yang sangat tampan seperti Kakek dan Ayahnya, mata nya sedikit sipit seperti Natasha dan Lira. Aleesya juga sangat menyayangi adiknya, setiap hari Aleesya tak pernah Absen mencium dan mengelus pipi Damar. tak hanya itu Aaleesya juga selalu mengecup perut Alea dan juga Fizzy.
"Anak Mama Natasha lagi apa diperut? " Tanya Natasha sembari mengusap lembut perut adik iparnya, "Sehat terus ya nak, jangan nyusahin Ibu" Ucap Natasha.
"Dia benar-benar tidak merepotkan ku Kak, hingga hari ini porsi makan ku selalu nambah" Ujar Alea seraya tersenyum manis.
Noni tersenyum lalu menimpali ucapan Alea, "Tiap malem pasti Alea minta di ambilkan kukis dan segelas jus strawberry dan kalau belum aku ambilkan dia pasti cemberut kak"
"Ini kan anak kamu dan Maliq" Sela Alea di iringi tawanya yang sangat riang, Noni benar-benar menjaga Alea. Ia juga tidak membawa pekerjaan apapun selain menjaga Alea, ia dan Maliq sudah bertekad akan selalu menemani Alea hingga lahiran tiba apalagi, Noni sempat memergoki Rayna sedang memperhatikan kediaman Rido.
"Iya deh Iya, anak aku sama Noni. Iya kan Noni, " Ujar Maliq, Ia menatap lekat wajah Noni dan itu membuat Noni tersipu malu, Noni pun tak mampu menyembunyikan wajah senang nya. sinyal cinta selalu terlihat melalui sorot mata keduanya.
"Alea, " Natasha mengedipkan matanya, Alea mengerti jika Natasha sedang memberikan sebuah kode agar mereka meninggalkan Maliq dan Noni berdua.
"Maliq, Noni bolehkah aku meminta tolong? " Tanya Alea.
"Apa Alea?," Tanya Noni.
"Seperti nya enak sekali buah strawberry itu, " sembari menunjuk kearah taman, "Aku ingin sekali memakan buah strawberry,"
"mau aku ambilkan kak?" Tanya Maliq, Alea tersenyum bahagia.
"Boleh, tapi pengen yang baru di petik Maliq. Noni temani Maliq saja." Ucap Alea dengan sengaja, "aku dan Kak Natasha akan mengajak main Damar dan Aaleesya di kamar," Sambungnya kembali.
"Baiklah, Ayo Noni" Ajak Maliq, mereka pun segera pergi untuk memetik buah Strawberry yang di inginkan Alea.
Sesampainya di taman, Noni dan Maliq segera memetik buah strawberry itu. mereka tidak berbicara sedikit pun, hanya saling menatap dan terkadang membuang tatapan seakan mereka tak saling memperhatikan satu sama lain.
"Aduh, kenapa dengan jantungku? kenapa ini? " Gumam Noni di dalam hatinya.
"Noni, " Panggil Maliq dengan nada yang sangat pelan, Noni terlihat menoleh kearahnya. tatapan sayu itu sangat disukai oleh Maliq, bahkan Maliq senang melihat wajah Noni yang terlihat kebingungan dan baginya wajah Noni sangat menggemaskan.
"Kau mau tahu perbedaan Strawberry dengan kamu itu apa? " Goda Maliq,
"Apa? " Sahut Noni balik bertanya, Wajahnya berubah bak buah tomat.
"Kalau Strawberry merahnya semua, kalau kamu merahnya cuma di pipi." Tutur Maliq seraya menggoda Noni, wajah Noni semakin memerah. Ia benar-benar sedang berusaha menutupi rasa malunya.
"Noni, mau tahu lagi gak?" Noni menatap Maliq, ia berusaha tidak menunjukkan rasa malu nya.
"Mau tau gak? " Maliq bertanya kembali, ia seakan memaksa agar Noni menganggukkan kepalanya.
"Iya, Iya apa lagi? " Tanya Noni.
"Kali ini persamaan kamu sama strawberry? " Ucap Maliq.
"Apa itu? " Sahut Noni kembali.
"Kamu sama-sama membuat segar! "
Noni menatap Maliq geli, terdengar suara jangkrij entah darimana membuat Maliq terlihat aneh dimata Noni.
"Maaf" Ucap Maliq.
Maliq menundukkan kepalanya, Noni terlihat menahan tawanya itu. saat Maliq kembali melihat wajah Noni, Noni pun kembali berpura memberikan raut wajah kesal kepada Maliq.
"Noni, maaf kalau kau marah dengan ku! " Ucap Maliq kembali.
"Entahlah, aku merasa aneh kau bilang segar. memangnya aku ini apa? " Tanya Noni kembali dengan wajah yang terlihat memekik.
__ADS_1
"Bukan begitu Noni, maksudku. kau itu membuat mataku segar eh.. " Pekik Maliq,
Ia bergumam pelan, "Aduh bicara apa aku ini! ", Wajah merah pun terkuras karena merasa malu, "Aduh... bibir ku kadang senang bergombal," Keluh nya kembali, Noni masih menunduk malu-malu.
"Sudahlah, aku akan memberikan strawberry nya dulu. pasti Kakak mu menunggu" Ucapnya sembari melengoskan badan nya, ia melangkahkan kakinya dan Maliq seakan menghalangi langkahnya itu.
"Tunggu bentar, bisakah kita berbicara?" Tanya Maliq.
"Aku takut! " Jawab Noni.
"Takut kenapa? " Tanya Maliq balik.
"Takut pacar mu, maksud ku Gwen marah! " Balas Noni, Noni sengaja membuat Maliq kembali terpekik.
"Gwen?, Pacarku? " Tanya Maliq dengan wajah yang terlihat kebingungan.
"Mengaku sajalah Maliq, kau memang memiliki hubungan kan dengan Gwen? " Noni bertanya dengan wajah yang terlihat penasaran, Maliq menyukai cara Noni bertanya seperti itu.
"Maksud mu? " Tanya Maliq.
"Atau kalian sudah berakhir? " Tanya Noni kembali.
"Maksud mu apa? " Tanya Maliq yang tidak mengerti dengan apa yang dituduhkan oleh Noni.
"Sudah sebulan ini kau tidak berbicara dengan Gwen? malah kalian tidak bertegur sapa saat kalian berpapasan? kalian sudah berakhir kah?." Ucap Noni, Maliq menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari mendecih, Maliq juga mengernyitkan dahinya.
"Rupanya kau memperhatikan kita!, ada apa dengan mu Noni? kau menyukai ku kan? " Noni terpekik saat mendengar ucapan Maliq, Maliq tertawa saat melihat wajah Noni yang kembali menunjukkan perasaan malu.
"Kenapa dengan wajahmu? kamu terlihat seperti menahan malu." Ucap Maliq kembali.
Noni menukas nya, "Tidak, Sudahlah. aku harus menemui Alea, dia pasti menunggu buah strawberry ini" Ucapnya.
"Sebentar" Maliq menarik tangan Noni, Ia terpeleset dan Maliq menahan tubuhnya sembari menundukkan kepalanya Noni segera mencoba menegakkan tubuhnya kembali.
"Kau membuatku terpeleset! " Seru Noni dengan nada yang sangat manja.
Maliq memberanikan diri mengucapkan hal yang membuat Noni semakin merasa tersipu malu, "Aku selalu melihat mu di dalam mimpiku, Entah mengapa itu terjadi dan mimpi itu sudah sangat sering!"
"Mengapa seperti itu Maliq? " Tanya Noni sembari menatap sayu ke arah Maliq.
"Aku pun tidak mengerti dan mengenai hubungan ku dengan Gwen, Aku sama sekali tidak memiliki hubungan spesial. lagipula Gwen itu bekas pacar sepupu mu, Shawn dan Gwen pacaran sudah lama namun mereka putus. lalu Gwen selalu bercerita kepada ku mengenai Shawn yang sudah bertunangan dan kemarin kami tidak bertegur sapa memang sedang tidak saja, tidak ada permasalahan apapun" Ucap Maliq, Ia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu mengapa kau menjelaskannya padaku? " Tanya Noni polos.
"Mmphh.. Tidak, Aku tidak ingin kau berprasangka buruk padaku." Sahut Maliq kembali.
"Tidak, lagipula aku tidak masalah jika kau memang benar memiliki hubungan spesial dengan nya!! " Tutur Noni.
"Noni, sudah lama sekali aku ingin menceritakan ini" Ucap Maliq.
"Menceritakan mengenai mimpi mu? " Tanya Noni, Maliq mengangguk pelan. Noni kembali menunjukkan wajah yang terlihat sedang berpikir, "Kalau kata psikolog, jika kita selalu bermimpi. seperti itu, itu artinya kita sedang memikirkan orang itu. dan apa kau memang selalu memikirkan ku? " Tanya Noni polos kembali, raut wajahnya terlihat riang. ia benar-benar terlihat sangat senang mendengar pengakuan Maliq.
"Mmmmh" Maliq terlihat menggaruk-garuk kecil kepalanya, wajahnya seakan sedang menutupi sesuatu.
"Dan garuk-garuk kepala seperti itu menandakan jika kamu sedang gugup!," Ucap Noni kembali.
"Lupakanlah Noni, aku hanya bercanda! " Maliq terlihat melirkkan matanya ke sebelah kiri.
"Lalu kau melirikkan matamu ke sebelah kiri, dan hidung mu terlihat mendengus lalu pipi mu ini...(sembari menunjuk pipi Maliq)," Kalimat nya tersela kembali, Noni memperhatikan wajah Maliq.
"Mmmmmph" Noni semakin mendekatkan wajahnya, "Kau sedang berbohong dan menutupi sesuatu, Maliq kau lupa sedang berbicara dengan siapa? kau tak usah malu, ungkapkan saja. kau kalah kan? kau sudah mulai menyukaiku! " Ungkap Noni di iringi gelak tawa nya, Maliq benar-benar sedang berusaha menutupi rasa malunya. Noni yang tertawa itu segera memeluk Maliq dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik lelaki berparas tampan itu.
"Aku sudah menduga itu Maliq!!, " Ucap Noni sembari tetap memeluk Maliq, "Kau sudah menyukai ku kan Maliq? Ayolah jujur saja!! " Ucap Noni kembali.
"Kau!!.. " Maliq menghentikan ucapan nya, ia mencoba merasakan kehangatan pelukan Noni. Angin menggugurkan dedaunan itu, sisa-sisa salju masih terasa di sana. Maliq benar-benar sudah merasakan jatuh cinta kepada Noni, wanita yang dulu sempat ia tidak sukai.
"Aku merasa jatuh cinta kepada mu Non, kau benar Noni. Aku bahagia karena kau sudah mengira itu semua,"
__ADS_1