
"Jim, " Rido Masuk kedalam kamar Jimmy, Jimmy sedang duduk di atas kursi Roda menghadap jendela kamarnya. Ia menoleh kearah suara yang terdengar memanggilnya.
"Maafkan Aku do, " Ucap Jimmy, "Maaf jika Aku membuat kenyamanan tamu di rumah mu terganggu." Timpal Jimmy.
"Tidak mengapa Jim!, justru Aku mengerti akan kekesalan mu." Ucap Rido, "Kau sudah menjadi pelindung yang baik untuk anak mu" Ucap Rido kembali.
"Aku tak bisa melupakan penderitaan yang kamu terima darinya, Adeeva benar-benar membuatku terluka." Jelas Jimmy, "Aku merasa sakit jika melihat wajahnya, bahkan tak hanya itu. Ia mengkhianati pernikahan kita disaat Aky sedang merasakan sakit." Jelas Jimmy kembali, Wajah Jimmy sendu kala menjelaskan maksud dari sikapnya tadi kepada Adeeva. Ia juga menunjukan bekas luka yang pernah Adeeva berikan kepadanya, saat itu Adeeva dengan sangat berani memberikan Satu gelas air yang mendidih dan membuangnya tepat di kaki Jimmy.
Bukan hanya itu, Adeeva juga pernah memukul Jimmy yang saat itu sudah tidak mampu bergerak sama sekali. Dia memukul Jimmy menggunakan penggaris besar, Jimmy begitu sangat ingat penderitaan yang di berikan oleh Adeeva.
hingga saat itu, Adeeva pernah menjambak Natasha di hadapan Jimmy. lalu Adeeva, membuat Natasha kesakitan dengan menjatuhkan badannya ke atas lantai.
Jimmy begitu sangat kesal kepada nya dan saat itu Jimmy memaksa Natasha agar mau mencari nafkah dengan alasan untuk membiayai pengobatan Jimmy, begitu banyak sekali kejahatan Adeeva yang terlintas di dalam pikir Jimmy.
Jimmy merasa sakit jika mengingat perlakuan itu, Tak hanya itu Adeeva lah yang membuat Kaki Jimmy mengalami kelumpuhan total.
"Aku tak bisa melupakan nya, Tidak bisa.. Tidak bisa Do!! " Gumamnya sembari menggerutu kesal, Ia seakan tak mampu lagi bertemu dengan Adeeva rasa sakitnya sudah sangat menggunung.
"Tabah Lah Jim, percayalah. kami tidak akan membuat kalian terluka kembali, bahkan Aku dan Faaz sudah berpikir sangat jauh sebelum ini."
"Lindungi aku dan Natasa Rido, Aku mohon. Adeeva sangat lah berbahaya!, " Pinta Jimmy,
"kau sudah dalam perlindunganku!! Tenanglah, kau dan Natasha tidak akan tersakiti kembali. " Tutur Rido, "Aku sudah mencari tahu kebenaran nya, dan Aku tidak akan membuat Adeeva berkeliaran bebas di rumah ku!," Tutur Rido kembali.
"Terimakasih Rido, Terimakasih banyak." Ucap Jimmy, Ia memeluk kembali Rido. Ia menangis kembali di dalam pelukan Rido.
"Aku ke kamar sebentar Jim, kau istirahatkan badanmu" Ucap Rido, Rido pun segera pergi meninggalkan Jimmy.
***
Natasha sedang menemani Aaleesya di kamar nya, Rayna melihat kedekatan diantara Natasha dan Anaknya. Natasha dan Aleesya sedang berbaring bersama saling berhadapan, Mereka pun saling memeluk satu sama lain.
Rayna merasa iri, Rayna terlihat kesal Namun Rayna selalu mengingat akan janji nya kepada Faaz yang tidak akan mengganggu Natasha, walaupun tetap saja sebagian janji nya hanya di dalam mulut saja.
"Mama peri, dede bayi nya sedang apa?, " Tanya Aaleesya dengan polos.
"Dia sedang menari-nari dengan riang, karena dia merasa senang."
"Kenapa dede bayi nya senang?, Apa bayi itu bisa berlari?" Tanya Aaleesya kembali dengan polos.
"Dia belum bisa berlari, dia baru mampu menendang dan bergerak bebas di perut mama." Jawab Natasha, "Dia senang karena kakaknya menyayangi nya, Esya harus selalu sayang dengan adik iya. " Ujar Natasha kembali.
"Aku sangat menyayangi Mama peri dan Adik. " Ungkap Aaleesya sembari memeluk Natasha dengan erat, Ia terus mengelus-ngelus perut Natasha dengan lembut.
"Kalau sayang, Kakak harus tidur kata Adik." bujuk Natasha kepada Aaleesya, "Mama sangat senang jika Kaka dan Adik menjadi anak yang penurut" Ungkapnya kembali.
"Baiklah, tapi Mama dan adik harus terus memeluk kakak" Jawab Aleesya, Aaleesya pun memeluk Natasha, Natasha mencium kening Aaleesya dan Natasha menepuk pelan serta mengusap punggung Aleesya agar dapat tertidur siang.
Setelah dirasa Natasha bahwa Aaleesya sudah tertidur Natasha segera beranjak dari tempat tidur Aaleesya, Natasha mengusap perut nya berulang-ulang. saat Natasha melihat pintu kamar yang terbuka, Ia melihat jika Rayna sedang memperhatikannya.
"Kak Rayna, Maaf Aku tak tahu jika Kaka ada di luar! " Seru Natasha, Rayna hanya menatap lurus dengan tatapan setengah jutek. Ia pun hanya memasang senyuman seringai penanda dia tak menyukai kedekatan Natasha dan Aaleesya.
"Silahkan masuk Kak, " Ucap Natasha yang berdiri di samping ranjang Aaleesya.
"Bisakah kau tidak mendekati anak ku?, " Tanya Rayna sembari menatap lurus kearah Natasha, Natasha merunduk segan. detak jantung seolah memompa dengan kencang, Wajahnya terlihat pucat
"Mengapa Kak Rayna berubah jadi jutek lagi, " Gumam Natasha, Ia terlihat sangat segan hingga tak mampu menatap mata rayna.
__ADS_1
"Aku tak ingin dia menganggap orang lain sebagai ibunya, Aku lah ibunya. aku yang bertaruh nyawa untuk melahirkannya" Rayna berucap dengan nada yang sangat pelan, Namun sorot mata nya terlihat menyimpan dendam dan luka yang amat dalam.
"Maaf kak, bukan Maksudku seperti itu." Ucap Natasha, "Awalnya aku hanya menjalankan tugasku sebagai pengasuhnya" Ucap Natasha sembari menghela nafas nya dengan berat.
"Kau boleh merebut Faaz, tapi tidak dengan Aaleesya!! " Tutur Rayna penuh dengan penekanan, "Aku ingin kau menjauh dari Aaleesya!!, tanpa kau berbicara alasan ini kepada Faaz dan yang lainnya! " Tutur Rayna kembali, Air mata Natasha terlihat menetes kembali, Natasha tak mampu jika harus berjauhan dengan Aaleesya.
"Sudah 1,5 tahun aku bersama dengan Aaleesya dan itu bukan waktu yang lama Kak Ray." Ujar Natasha, "Aku tidak merasa susah jika memang harus menjauhi Faaz, Namun tidak untuk Aaleesya." Ujar Natasha kembali.
"Tidak, kau harus tetap menjauhi Anak ku. aku tak ingin kau mendekati dia." tolak Rayna, Rayna memang sedang memiliki rencana untuk menjauhkan Aaleesya dan Natasha setelah itu dia akan kembali merebut hati Faaz.
"Ba... Baik" Ucap Natasha terbata-bata, Ia menundukkan kepalanya.
"Ada apa ini?, " Tanya Faaz yang datang menghampiri kedua istrinya, Dia melihat Natasha yang terlihat menangis.
"Tidak Faaz, Aku sedang mengucapkan rasa terimakasih ku kepada nya dan Natasha merasa sedih karena sikap ku yang berubah" Tutur Rayna yang berbohong dihadapan Faaz.
"Apa itu betul Nat? " Tanya Faaz kepada Natasha.
"I.. i.. Iya Faaz" Natasha menjawab singkat serta terbata-bata, Ia tak menyangka bahwa perubahan Rayna hanyalah dihadapan Faaz semata.
"Baiklah, Jika begitu kau tak usah menangis. ingat Anak ku tidak boleh merasa stress." Ucap Faaz.
"Iya Faaz, " Jawab Natasha,
"Rayna, terimakasih kau sudah mau berubah. Natasha dan Aku sangat senang." Ucap Faaz pada Rayna, Natasha tetap menunduk segan. Ia takut kala menatap mata Rayna, Natasha sangat tak menyangka dengan apa yang dilakukan Rayna.
"Sayang, Aku kesini hanya ingin berpamitan. Aku dan Abrar harus mengikuti sidang Aidil." Faaz menatap Natasha sembari berbicara seperti, "Nanti sore Aku jemput, kita periksa anak kita." Ucap Faaz kembali.
"Iya Faaz, " Natasha masih saja menjawab Faaz dengan singkat, Tangan nya terasa dingin. Ia pun merasa gugup.
"Ya sudah Aku pamit iya," Faaz mencium kilas kening Natasha, Ia tak sengaja melakukannya dihadapan Rayna. Saat Faaz sudah mencium kening Natasha, Ia pun segera melangkahkan kakinya melewati Rayna. namun langkah nya terhenti saat berada dihadapan pintu, Ia menoleh dan segera kembali menghampiri Rayna. Ia pun mencium kilas kening Rayna, Rayna menatap lekat mata Faaz.
"Lihatlah, kau membuat Suami ku dan Anak ku menjauh dari ku. Natasha jika kau berpikir aku sudah menerima mu!, kau salah besar!!" Ujar Rayna, "Aku akan tunjukan bagaimana caraku untuk membuat suamiku kembali ke dalam pelukan ku" Ujar Rayna kembali,
"Aku akan membuat mu menjauh dari Suami ku!!" Ancam Rayna, Ia memundurkan kursi roda dan pergi meninggalkan Natasha.
Natasha tak kuasa menahan tangisnya, "Ya Tuhan, Aku begitu bahagia bisa melihat Kak Rayna menerima ku, memberiku senyuman tadi pagi. Namun, Mengapa dia begitu cepat nya berubah!" Gumam Natasha.
"Kak Rayna, Aku akan membuat mu menerimaku. Aku akan bertekad membuat mu jadi lebih baik, Aku yakin sekali jika sebenarnya kau adalah orang yang baik." Gumam Natasha kembali, Ia menyeka air mata nya. Ia pun meninggalkan Aaleesya yang sudah tertidur sedari tadi.
Setelah Rayna dan Natasha pergi, Faaz keluar dari tempat per sembunyiaan nya. Ia mendengar semua yang Rayna katakan kepada Natasha, Ia pun mendengar apa yang Natasha ucapkan.
"Kau keterlaluan Rayna, Aku akan tetap mengawasi mu" Ucap Faaz, "Dan sesekali kau juga harus bersikap jahat Natasha, kau benar-benar wanita yang baik dan sabar" Gumam Faaz.
.
.
.
***
"Waw,, Amazing" Qabil menatap Alea dengan tatapan yang sangat mengagumkan, Alea terlihat sangat cantik memakai Gaun pernikahan.
"Kak Azri, Kau membuat detail Gaun ini dengan sangat baik. dan Qabil sangat suka" Ucap Qabil
"Ah Iya, syukurlah. Alea itu sudah menjadi Adik bagiku. dia sangat cantik memakai Gaun apapun, Namun Aku membuat detail gaun ini memang untuk membuat Alea terlihat sangat cantik dan lebih lebih lebih cantik" Ujar Azri
__ADS_1
"Kak Azri, Aku sangat senang sekali" Ia memeluk Azri dengan sangat erat, "Kau memang Designer terbaik yang pernah Aku kenal! " Gumamnya kembali.
"Alea, jangan membuatku malu. pujian mu sangat berlebihan." Tukas Azri sembari tersenyum.
"Aku tidak berbohong Kak, dari dulu Kaka memang sangat berbakat! " Puji Alea kembali, "Dulu Mama ku bilang seperti itu Kak, dan ternyata Mama memang benar." Ucap Alea.
"Mama memang terbaik, Hmm Aku merindukan sosok mama Mu Alea." helaan nafas Azri sangat terdengar sekali, semua memang merindukan sosok May. sosok wanita yang sangat berpikir positif kepada siapapun, setelah Alea dan Qabil selesai melakukan Fitting baju pernikahan. mereka pun segera berpamitan.
Di dalam Mobil, Alea sedang merasa bahagia. tak hanya karena Ia dan Qabil sudah melihat sepasang Gaun yang akan mereka kenakan nanti, tetapi karena hari pernikahan akan segera mereka laksanakan.
Iya tepatnya 1 minggu lagi pernikahan itu akan mereka laksanakan, Qabil dan Alea sudah menantikan pernikahan ini bertahun-tahun lamanya.
"Aku merasa senang sekali, Aku juga tidak sabar. sepertinya pesta kita memang akan menjadi pesta yang sangat seru." Gumam Alea.
"Iya, pesta satu kali dalam seumur hidup." Ucap Qabil.
"Qabil, " Sambil memanggil namanya, Alea tersenyum sangat cantik.
"Iya Sayang, "
"Aku ingin jika kita sudah menikah nanti dan selama satu bulan, Aku dan kamu tinggal bersama Papa." Ucap Alea.
"Mengapa seperti itu?! " Tanya Qabil, "Aku sudah lama sekali meninggalkan pekerjaanku di sana." serunya.
"Aku ingin menghabiskan waktu ku bersama Papa, " Ucap Alea.
"Baiklah Nona manis, Aku akan menuruti semua keinginanmu."
"Terimakasih Qabil, Aku akan selalu senang jika begitu." ucapnya dengan Manja, Alea menyandarkan kepala nya di bahu kanan milik Qabil.
"Alea, "
"Iya, "
"Kita ke Makam Mama sebentar, " Ajak Qabil, Alea menoleh kan mata nya sembari tersenyum.
"benarkah?, Aku sangat ingin sekali ke sana" seru Alea, mata nya terlihat berbinar-binar sekali.
"Mama, Alea ingin meminta Ijin kepada Mama. Alea sangat ingin Mama sekali Mama dan Papa berdampingan dalam acara pernikahan Alea, namun Semua tetap salah Alea. Jika saja Alea tidak melakukan hal konyol dahulu hanya karena ingin mendapat perhatian Papa dan Mama, mungkin Mama tidak akan meninggalkan Alea. Mama Maafkan Alea, Maafkan Alea" Batin Alea bergumam air matanya menetes, Qabil melihat air mata itu. Ia pun menyeka air mata calon istrinya.
"Aku ingin Air mata ini, menjadi air mata kebahagiaan untuk kita bukan kesedihan! " Seru Qabil, "Aku ingin kau menjadi wanita yang paling bahagia seperti Mama May, dan juga Mama ku"
"Mereka sama-sama memiliki cinta sejati, Dan aku ingin kita seperti mereka!!" Ucap Qabil , "Aku bahagia memiliki mu!, " Ucap Qabil kembali sembari mengecup kening Alea.
"Qabil Aku mencintai mu, kau memang lelaki yang Tuhan berikan untuk ku. Aku sangat senang berada di samping mu" Alea kembali meneteskan air mata nya, Ia kembali menyenderkan kepala nya di atas bahu Qabil. Qabil pun tersenyum karena merasakan cinta yang besar dari sosok Alea.
.
.
.
.
***
Quotes :
__ADS_1
Cinta Memang butuh perhatian...
"Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuat berarti lebih dari siapa pun" dan, "Cinta itu bukanlah sebuah tatapan satu sama lain, tetapi memandang ke luar bersama ke arah yang sama". ~ QabilAlea