
2 Bulan Kemudian...
Kandungan Alea dan Fizzy kini sudah memasuki bulan ke 9, Faaz dan Rayna pun sudah resmi bercerai bahkan Rayna sudah mengirimkan sebuah pesan kepada Rido. Ia meminta maaf atas segala kesalahannya, Rido pun sudah memaafkan mantan menantu nya itu.
Rido menganggap bahwa semua akan kembali baik-baik saja, bahkan Rido memberikan Rayna petuah dan berharap Rayna sudah benar-benar berubah.
Yofie dan Shaloom memilih untuk pulang ke Itali bersama Edward anak satu-satunya, Hendra dan Sherly memilih untuk tetap tinggal bersama Rido di Australia begitupun dengan Neni dan Esri yang sama-sama Ikut tinggal bersama Rido.
Seluruh perusahaan yang Zain miliki di kelola oleh Mael dan Mael mendapat bantuan dari Faaz dan Aliq, karena Mael sama sekali tidak mengerti mengenai bisnis.
Semenjak Rayna berjanji tidak akan mengganggu Alea dan keluarga nya lagi, Faaz mengijinkan Alea untuk pergi namun tetap dalam pengawasan Abrar. Aidil pun kembali bekerja sama dengan Faaz dan Aliq karena Aidil terbukti sudah tidak terlibat dengan kejahatan Rayna.
Siang hari itu Alea sedang mengunjungi makam Qabil, dengan perut yang sudah membesar Alea tetap rajin mengunjungi makam kekasihnya itu.
Ia sudah tidak pernah menangis bahkan selalu memberikan senyuman untuk sang kekasih, kali ini Alea selalu menganggap bahwa sebuah kehilangan itu tidak ada namun, Tuhan menggantinya dengan sesuatu yang lebih indah. Alea selalu mensyukuri kehadiran sang buah hati di dalam kandungannya, bayi itu menjadi penyemangat untuk kehidupannya saat ini mungkin hingga ia menua bersama.
Alea yang malang...
Mungkin beberapa minggu yang akan datang akan, Ia menjalani proses lahiran tanpa Qabil disampingnya, Alea mengerti dan sudah memahami hal itu. Sedikit demi sedikit Alea sembuh dari masa keterpurukannya, bahkan Alea kini sudah mampu menghilangkan suara-suara serta bayangan yang selalu menghantuinya.
Ia mengusap pusara Qabil, "Aku ingin menangis, namun rasanya sudah sangat susah sekali sayang. Aku sudah berjanji untuk tidak berpura-pura bahagia kepadamu, yakinlah Qabil kali ini Aku sedang benar-benar bahagia" Ucapnya sembari tersenyum, "Aku harap kau merasakan kebahagiaan ku, Love you More Qabil" Lanjutnya, Ia mencium pusara kekasihnya itu.
Ia pun membersihkan rerumputan di atas makam Qabil, sembari tersenyum ia dengan teliti membersihkan setiap rumput itu, dari yang terkecil hingga terbesar. Ia ingin makam Qabil terlihat bersih dan sempurna, Alea selalu merindukannya setiap hari, merindukan menatap keindahan makam Qabil walaupun sebenarnya tidak ada hiasan atau apapun hanya bunga-bunga yang setiap hati selalu ia ganti. Terkadang Alea meminta Abrar atau pelayan lainnya untuk mengganti bunga yang sudah layu, sungguh beruntung Qabil karena dicintai oleh sosok wanita seperti Alea.
"Hay Alea" Sapa seseorang yang sangat Alea kenal, suara nya sangat merdu terdengar di telinga Alea.
Alea menoleh, "Kak Aidil.. " Ucapnya seraya tersenyum, Alea berusaha untuk bangun namun terlihat kesusahan dan Aidil membantunya.
"Maaf kak, aku sekarang agak gemuk dan sepertinya bayinya udah besar sekali" Ucap Alea, Aidil tersenyum menatap Alea.
"Iya, gak apa-apa. Wajar kok kalau wanita hamil kaya gini, kamu di temenin Abrar? " Tanya Aidil.
"Iya, kakak sendiri kesini mau ke makam siapa? " Tanyanya.
"Ke makam Qabil, " Jawab Aidil singkat di iringi senyuman manis.
"Kesini?, " Tanya Alea, "jadi kakak yang selalu dateng dan menyimpan bunga itu? " Tanya Alea kembali, Alea selalu merasa penasaran dengan sosok orang yang selalu mendatangi makam kekasihnya itu. Apalagi orang misterius itu selalu menyimpan bunga segar dan itu rutin setiap satu minggu sekali, namun Alea tidak pernah ingin berburuk sangka mengenai hal itu malah ia sangat bahagia karena ada orang yang memberikan sesuatu hal yang baik untuk kekasihnya.
"Iya maaf Lea, aku gak pernah cerita sama kamu" Ujar Aidil sembari tersenyum, senyuman nya sumringah.
"Gak apa-apa lagian Kak, " Sahut Alea, "Makasih iya udah perhatian sama Qabil, " Sambung nya.
"Sama-sama Alea, Kamu masih lama? " Tanya Aidil,
"Enggak, ini udah mau pulang. Lagian Kak Faaz larang aku pulang lama dari makam, apalagi perutku udah gede gini. Katanya takut brojol di jalan" Tutur Alea, kalimat polos itu membuat Aidil tertawa kecil. Alea pun ikut tertawa bersamanya, Aidil mengusap pipi kanan Alea. dan berbicara, "Aku bahagia liat kamu udah bergairah lagi, maafin Kakak iya Lea." Ucap Aidil seraya mengusap pelan ujung kepala Alea, mereka sempat kecil bersama bahkan Alea dan Aidil memiliki kedekatan yang hampir signifikan.
"Makasih Kak, udahlah lupain aja. Lagian sekarang aku cuma pengen mikirin masa depan anak ku, dia lebih membutuhkan aku untuk menjadi Ibu dan juga Ayah yang baik." Ujar Alea, "Aku lagi bahagia nikmatin proses ini, aku lagi seneng aja dan yang aku yakini hanya Tuhan akan kembali memberikan aku Kebahagiaan mungkin lewat anak ini" Lanjut Alea, Ia benar-benar sudah bersikap dewasa.
"Duh jadi curhat, Lea pulang sekarang iya Kak" Pamitnya sembari tersenyum.
"Sebentar Alea, " ucap Aidil.
"Kenapa Kak?" Tanya Alea.
"Bolehkah aku mengajak mu jalan-jalan? sebelum kau melahirkan, kita jalan-jalan ke Mall? " Tanya Aidil.
"Aku belum tau kak, nanti aku obrolin dulu sama Kak Faaz iya? " Tanya nya, Alea mengusap perutnya.
"Gerak-gerak iya? " Tanya Aidil.
"iya, dia udah aktif banget.. " sahutnya, "mungkin udah gak sabar ingin keluar, " Sambungnya kembali.
"Semoga sehat terus ya, jangan lupa kabarin kalau Faaz mengijinkan mu untuk pergi! " Ucapnya.
"Siap Kak, Oh iya... Aku pulang duluan iya!, " Ucap Alea berpamitan.
Aidil mengusap pipi Alea, "hati-hati dijalan iya, ingat kasih tau kakak kalau Lea lahiran" Entah mengapa tatapan Aidil untuk Alea terkesan sedang menunjukan perasaan cinta, Alea tersenyum dan mengangguk pelan. Ia berjalan meninggalkan Aidil yang tetap berdiri di samping pusara Qabil, hingga Alea masuk kedalam mobil, Aidil tetap memperhatikan Alea.
Aidil berucap dalam hati, "Jalan kelemahan seseorang adalah kepasrahan dalam hidup, tapi Alea, kamu membuktikan bahwa pasrah dalam dirimu adalah caranya untuk bangkit. hingga kapanpun, Aku merasa sangat bersalah kepadamu"
Aidil merasa iba dengan keadaan Alea, rasa bersalahnya selalu saja hadir di dalam hidupnya.
ia pun duduk, di hadapan pusara Qabil. ia meneteskan air matanya, "Qabil, Aku kesini masih dengan kalimat yang sama. aku meminta maaf atas kesalahanku, aku tak bermaksud untuk membuat mu kehilangan nyawa mu! "
__ADS_1
"Maafkan aku Qabil, maafkan Aku! " Ucap Aidil sembari menangis, "Aku berjanji akan menjaga anak mu dan juga Alea, Aku akan selalu memperhatikannya."
Aidil terus menerus menangis, menghapus air mata adalah kesudahan namun, air mata itu tetap saja turun kala menatap pusara beratasnamakan Qabil.
^^
"Nona, langsung pulang? " Tanya Abrar.
"Iya, nanti sore aku mau belanja keperluan Baby sama Kak Aliq dan Kak Fizzy" Ujar nya, "masih ada barang yang kurang untuk anak kami" Ucapnya kembali.
"Abrar? " Panggilnya, Abrar menoleh.
"Apa kau selalu melihat Aidil disini? " Tanya Alea.
"Iya Nona, namun Aidil meminta agar saya tak memberitahu Nona" Ucap Abrar, Alea memicingkan sebelah matanya.
"Tapi saya selalu memperhatikannya Nona, Nona tak perlu khawatir" Ucap Abrar kembali.
Abrar segera melajukan mobil untuk pulang, Alea kembali memikirkan tingkah serta tatapan Aidil. Ia merasa akhir-akhir ini Aidil selalu memperhatikan dirinya, bahkan melalui pesan singkat Aidil selalu meminta Alea untuk menjaga kesehatan.
Sesampainya di Rumah Alea di kejutkan dengan Fizzy yang mengeluhkan sakit pada perutnya, Aliq dan Faaz menggendong Fizzy dan memasukan Fizzy kedalam mobil.
Sepertinya Fizzy akan melahirkan padahal Usianya baru saja menginjak 8 bulan lebih, tapi sepertinya ada kesalahan dalam hitungan.
Alea bertanya kepada Rido, "Kak Fizzy udah kerasa banget Pah? " Alea seakan ketakutan melihat kakaknya meringis kesakitan.
"Iya, tadi ketuban nya udah pecah dede bayinya juga udah nyundul-nyundul kaya nya ingin segera lahir" Sahut Rido.
"Alea jadi takut, wajah Kak Fizzy merah tapi pucat banget." Keluh Alea.
"Duh kenapa Alea jadi mules gini iya," Ucap Alea.
Sebenernya Fizzy sudah mengeluh sakit dari semalam, hanya saja Fizzy tidak membicarakan hal itu kepada siapapun. Bahkan ritme pada sakit di bagian perutnya semakin keras, namun dia berpikir jika di akan sering merasakan Braxton-hicks saat mendekati hari lahiran. Fizzy mengobatinya dengan mengatur nafas perlahan, namun siang tadi rasa kencang itu sempat melemah namun saat Fizzy berjalan-jalan di Taman belakang, ia kembali mengeluh rasa sakit pada perutnya dan hal itu membuat Aliq serta Faaz merasa khawatir dan segera membawa nya ke Rumah sakit untuk melihat keadaan Fizzy apa bisa melahirkan Normal atau proses Cesar.
Natasha dan Noni mencoba menenangkan Alea, "Gak akan apa-apa kok, sakit itu pasti tapi liat Kak Natasha pulihnya cepat kan? " Tanya Noni.
"Iya sayang, kita berpikir positif aja iya" Timpal Natasha, Alea pun tersenyum.
"Tapi bener loh kak, ini perut Alea tiba-tiba sakit!! " Ucap Alea, cairan kuning pucat itu keluar dari balik rok yang ia pakai dan membasahi lantai yanh sebagai pijakan nya.
"Papa, Papa tenang iya" Ucap Maliq.
"Iya Pa, Papa tenang iya" Ucap Noni, Maliq meminta Abrar untuk menyiapkan sebuah mobil. Natasha tidak dapat menemani Alea ataupun Fizzy karena Damar tidak ada yang menjaga, dan Natasha juga tidak bisa meninggalkan Jimmy, Hendra dan yang lainnya.
Rido memaksa untuk ikut, suasana sangat panik saat Alea benar-benar terlihat meringis kesakitan.
"Mules sekali, ini kenapa iya? Alea kan lahiran harusnya dua minggu lagi" Ucapnya.
"Sayang sabar, tarik nafas dan keluarkan perlahan" Rido ingat sekali saat-saat menemani May melahirkan, Rido melihat sosok May ada pada anaknya yaitu Alea.
"Alea seperti pipis Pa, Maliq kenapa ini? " Tanya Alea kembali, ia seakan tak dapat menahan hasrat melahirkan.
Maliq mencoba menenangkan Alea, "Sabar iya keponakan Uncle yang cantik, kasihan Mama mu nak, " Maliq tak lupa meminta Noni untuk memberitahu Faaz dan Aliq jika Alea juga merasa akan melahirkan.
"Ayana, Mael apa beritahu juga? " Tanya Noni.
"Iya kasih tahu aja" Ucap Maliq sembari segera menancapkan Gas pedal mobil yang ia kendarai itu, Maliq menepuk jidat. Ia baru mengingat jika Ayana dan Mael sedang berada di Inggris, mereka pergi untuk melihat keadaan perusahaan yang Zain dan Letycia miliki.
"Maliq, pelan-pelan nak bawa mobilnya" Pinta Rido, Maliq mengangguk pelan namun sepertinya Maliq sedang merasa gugup ia tetap melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Papa, perut Alea semakin sakit" Rido mengusap lembut punggung Alea, keringat nya bercucuran dan Rido tak lupa untuk mengusap keringat Anaknya itu.
Sungguh sangat malang nasib Alea, namun bagi Alea ia masih merasa beruntung karena semua keluarga nya sangat mendukung dan mau menemani Alea dalam keadaan apapun.
"Huh... Huh... " Nafas Alea terdengar ditarik lalu dibuang pelan, "Ya Tuhan semakin sakit ini, " Alea menarik tangan Papanya, ia seakan mencengkram kuat tangan Rido. Alea kembali memegang perutnya, perutnya semakin kencang.
Mata Alea mendelik karena menahan sakit yang amat luar biasa, apalagi ini pertama kalinya Alea mengalami kehamilan.
"Papa, Alea gak kuat." Ucapnya berulang kali, "Aaaaa, sakitnya. Lea gak kuat Pah." Ucapnya terus menerus, keringat yang mengucur itu membasahi kening Alea. Alea menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan dan sesekali menggigit bibir atasnya seakan dirinya menahan sakit yang teramat dalam.
"Sabar sayang,"
"Rasa sakitnya menusuk dari perut hingga punggung Lea Pah, Lea gak kuat!" Keluh Alea semakin membuat Rido semakin merasa panik, "Papa.. Lea gak kuat" Ucapnya kembali.
__ADS_1
Maliq mengusap keringatnya dan mengecup kening milik Kakaknya, "Kakak sabar, ingat semua rasa sakit akan terobati di saat kakak melihat dia lahir" Ucapnya kembali.
Uh. . Uhh.. ia membuang nafasnya, "Maliq, aku takut, ini sakit sekali Maliq"
"YA Tuhan.... mengapa ini sakit sekali"
Sesampainya di Rumah sakit, Faaz yang sudah menunggu di depan UGD itu segera memanggil perawat dan Dokter di sana.
Tak lama kemudian beberapa perawat itu membawakan hospital bed yang dapat membawa Alea menuju ruang bersalin, di sana Rido mengingat betul masa-masa dimana May melahirkan dan kali ini Rido melihat jika Alea lebih merasakan sakit.
Dokter hanya mengijinkan satu orang keluarga pasien yang menemani Alea dan Maliq meminta agar Maliq lah yang memberi semangat untuk Alea, Maliq pun masuk apalagi Maliq seorang calon dokter kandungan dan Faaz percaya jika Maliq tidak akan sepanik dirinya.
"Bagaimana keadaan Fizzy? " Tanya Rido yang bertanya mengenai keadaan anak perempuan satunya.
"Fizzy harus melakukan operasi sesar Pah, tapi anaknya baik-baik saja" Jawab Faaz, "Air ketuban nya sudah habis, ternyata Fizzy dari semalam udah mengeluh sakit" Lanjut Faaz.
"Ya Tuhan, selamatkan kedua anak ku beserta janin nya. Aku mohon" Kalimat doa itu tak pernah berhenti dari bibir Rido, Rido terus menerus berdzikir bahkan Rido enggan meminum atau memakan apapun yang dibelikan oleh Noni. Noni pun tak lepas memegang tangan calon Papa mertuanya itu.
Di dalam ruangan berbeda Dokter sedang melakukan operasi, Aliq menunggu di depan pintu operasi hanya seorang diri karena Faaz dan Rido menunggu Alea di ruangan berbeda.
Dan di dalam ruangan itu, Alea baru mengalami bukaan 7 dan itu artinya Alea harus menunggu jam atau cepatnya satu jam ke depan. Maliq tak henti mengusap lembut punggung sang Kakak, tangan Alea pun tak henti memegang lengan Maliq. Sesekali Alea mencengkram kuat lengan Maliq karena merasakan gelombang cinta dari dalam perutnya, rasa sakit itu seakan mengaduk isi perutnya, mematahkan satu persatu tulang. Alea menghirup nafasnya, lalu membuangnya.
Dia mengingat masa-masa indah bersama Qabil, ia bahagia karena sebentar lagi Alea akan bertemu dengan sosok penerus Qabil.
Dokter pun memeriksa semua keadaan Alea. Dan Alea dalam keadaan yang sangat baik, sungguh Tuhan Maha baik. Beliau memberikan kekuatan ekstra untuk Alea dan bayi nya.
Alea merintih kesakitan, ia seakan berusaha menahan rasa sakit itu. Ia benar-benar seperti sosok ibunya, wanita yang kuat dan sabar. Maliq pun tidak menyangka jika Kakaknya yang selama ini ia kenal dengan sikap manja, lebih kuat dari dugaan nya.
Sesekali Alea meringis, "Allahuakbar, Mama.. " Hanya itu yang ia ucapkan atau Alea berucap, "Papa, Maafkan Lea.. Pa" Air matanya sudah merembes dan membuat bantal itu basah.
Dalam benak nya, "Begini Kah Mama dahulu, Mama berjuang untuk melahirkan kami. Mama benar-benar hebat, maafkan Lea yang tidak bisa membalas apapun yang sudah mama lakukan. "
"Kakak, mau minum? " Tanya Maliq.
Alea menggelengkan kepala nya, "Kakak pengen ketemu Papa, Maliq" Ucap Alea.
"Baiklah, Maliq akan memanggil Papa, tunggulah sebentar kak" Maliq pun pergi untuk memanggil Papa nya, Rido datang dan segera mengecup Alea.
"Papa, Maafin Lea iya Pa. Maaf kalau Lea.. "
Rido menghentikan Alea yang sedang berbicara, "Sssshhhh!! "
"Alea gak punya salah apa-apa, dan jika pun ada kami selalu memaafkan Alea." Ucapnya.
"Kalau Alea gak selamat, tolong jaga Baby A Pah. Alea ingin Papa merawat Baby A untuk Lea" Racau Alea, "Sampai kan Sayang Alea dan Qabil kepadanya Pap, " Lanjutnya kembali, Nafasnya tersengal berat.
"Sayang, " Rido meneteskan air matanya, "Ingatlah Tuhan akan menyelamatkan mu dan juga anak mu, kita akan menjadi keluarga yang sangat besar" Ucap Rido.
"Sakit Pah" Rintih Alea pelan, "Alea gak kuat Pah" Ucapnya menahan rasa sakit,
"Sebentar lagi sayang, tahanlah sebentar" Ucap Rido sembari mencium kilas kening anaknya itu.
"Arrgh!! " Teriak Alea, "Sakit Dok" Air mata kembali mengucur dari dalam mata Alea, Dokter pun segera mengecek bukaan Alea, dan ternyata Alea sudah siap melahirkan. Namun Maliq meminta Rido untuk menunggu kembali di luar, Maliq takut sesuatu hal terjadi pada Ayahnya apalagi akhir-akhir ini kesehatan jantung Rido sangatlah memburuk.
"Ahhhh... Sakit" Ucapnya, seorang Dokter yang menangani Alea itu berucap, "Tarik Nafas lalu buang dan tekan" Dengan berbahasa inggris ia memerintah Alea, Alea pun menurutinya.
"Euuuuuuuu, " Ia menekan dan mendorong sekuat tenaga berusaha agar bayinya segera lahir.
"Satu kali lagi Nona... " Ucap Dokter.
"Aaaaaarrrghhh, Tuhan selamatkan anak ku" Teriak Alea, di hentakan ketiga bayi mungil itu pun lahir. Tangisannya menggencarkan seisi ruangan, ia lahir dalam keadaan sehat. Namun sepertinya Alea dalam keadaan setengah sadar, Maliq pun merasa sangat panik.
"Kak Lea... kak" Maliq menggoyangkan pipi Alea, Alea merasa sangat lelah. "Maliq, " Panggil Alea, matanya setengah terbuka.
"Kakak, dengar itu tangisan anak mu" Alea mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Eya... Eya.... Ea.... "
Dari luar terdengar suara bayi itu, Faaz memeluk Rido begitupun dengan Noni yang merasa sangat bahagia saat mendengar nya. Rido dan Faaz melakukan sujud bersama, tak lama kemudian Aliq berlari dan memberitahu bahwa Fizzy dalam keadaan baik dan bayi nya juga dalam keadaan sehat.
"Anak ku Pah, Anak ku sudah lahir" Ucap Aliq dengan raut wajah yang sangat riang.
Mereka berpelukan bersama, Aliq pun mendengar kabar baik dari adik iparnya. Ia benar-benar merasa bahagia, Ia pun melakukan sujud seperti Rido dan Faaz lakukan.
__ADS_1
"Allahuakbar, Allahuakbar" Terdengar suara Adzan ditelinga Alea, namun Alea seakan tak dapan melihat orang-orang di sekitarnya.
"Maliq, mana anak ku? " Tanya Alea kepada Maliq dengan mata yang seakan ingin terpejam.