
Di dalam kamarnya yang terlihat lebih luas dari biasanya, Alea sedang menatap sebuah gambar dari hasil USG anaknya, di ketahui olehnya anaknya itu memiliki jenis kelamin perempuan.
sembari menatap sebuah kertas itu ia tersenyum dengan sangat manis, "Putriku, " Ia mengusap dasar dari gambar itu, tak terasa air mata nya menetes.
"Kau akan tumbuh menjadi wanita yang baik, memiliki cinta untuk siapapun dan menjadi wanita yang tahu akan rasa kasih sayang. mamah berharap kau seperti nenek mu, menjadi seperti kakek mu dan juga Papa mu"
"Tak hanya seorang pasangan yang dapat mengubah kehidupan, seorang anak pun dapat mengubah kehidupan ibunya. Kau akan menjadi teman hidup ku yang mengubah hidupku Nak! " Ucap Alea, rasa kantuk menghampirinya. ia pun bersandar di ujung kursi dan memejamkan matanya sembari memeluk hasil USG serta foto dirinya bersama Qabil.
Alea kau benar-benar hebat, kau wanita yang sangat hebat. kau pantas diberikan penghargaan sebagai wanita yang kuat, entahlah semua berpikir seperti itu.
Mata Alea terpejam, ia merasakan kantuk yang sangat berat. Alea kembali bermimpi bertemu dengan Qabil, mimpi itu sangatlah indah. Ia melihat taman yang penuh dengan bunga, Alea berjalan menyusuri taman tersebut. taman yang indah dan hawa mya terasa sejuk, Alea menghirup dalam-dalam. rasanya sangat lega di dalam paru-paru, Alea menatap sosok lelaki yang sedang memakai baju putih serta peci di kepalanya.
Ia mendekat, ia sangat tahu tubuh siapa itu. lalu Alea menatap wajahnya lebih dekat, sosok lelaki itu adalah Qabil.
Alea tidak ingin mengganggunya, Qabil begitu sangat Khusyu. ia terlihat membaca sebuah kita suci, dengan suara yang lantang ia melantukan setiap ayat nya.
Alea duduk dibalik punggung Qabil, menyandarkan kepala nya tepat di bahu Qabil. wajahnya mengeluarkan cahaya, wangi tubuhnya menusuk hidung mancung Alea, badannya pun terlihat lebih tegap, tinggi dan segar.
Beberapa saat kemudian Qabil telah selesai, ia menoleh dan melihat wajah Alea.
"Kamu sangat cantik! " Puji Qabil, Alea tersenyum.
"Anak kita perempuan" Ucap Alea sembari tersenyum, Qabil mengusap perut Alea. Alea sangat senang mendapatkan belaian di perutnya itu, "Papa sangat senang kau hadir kan nak! " Ujar Alea, Qabil mengangguk. wajah tampan itu sangat bercahaya, Alea tak henti menatap wajah Qabil.
"kau tersenyum sangat cantik sekali, " Ucap Qabil.
"Kau terus menerus memuji ku Qabil" Balas Alea.
"Apa kau memiliki alasan tersenyum manis seperti itu? Karena dulu aku tahu kau tersenyum karena sebuah alasan, dan kini kau memberikan senyuman itu untuk menyembunyikan alasan itu"
Alea menimpali, "Karena alasan ku tersenyum itu kamu, dan aku harus menyembunyikan semua duka ku di hadapan mu. aku harap ini semua tak berakhir, karena disaat aku membuka mata. kau sudah tidak ada" Air matanya pun menetes tak henti.
"Berhentilah mengingat duka kita, dari sekarang kau harus mengingat suka cita diantara kita. hiduplah karena kau mau berjuang, berjuang untuk anak kita yang sedang di dalam kandungan mu"
"Aku lebih bahagia saat melihat mu tersenyum walaupun tanpa ku!!, aku mencintaimu Alea!! " Ucap Qabil, ia mencium kening Alea.
"Alea" Ia berbisik di telinga Alea, "Ingat apa kataku dulu, Allah menitipkan sebuah luka pada hati yang kuat dan lihat kau begitu kuat saat kau merasakan luka" Ujar nya, Qabil mengecup bibir Alea.
"Tetaplah bernapas dan bahagia, berikan kebahagiaan itu pada anak kita. aku titipkan dia kepadamu, didiklah dia untuk menjadi anak yang baik dan memiliki hati yang mulia" Pesan Qabil itu sangat menusuk hingga relung hati, Alea mengangguk pelan mendengar apa yang Qabil ucapkan.
Angin pun berdesir dengan cepat, Alea merasa seseorang sedang membangunkan dirinya dari tidur singkatnya. benar! ternyata Faaz lah yang membangunkan Alea, Faaz membangunkan Alea dengan sangat lembut.
Kecupan di kening Alea membuat Alea secepat kilat membuka rekatan pada matanya, "Bangun, lihat apa yang kakak bawa untuk mu? " Alea mengucek pelan matanya.
"Kakak, " wajah Alea terlihat sangat senang.
Faaz membelikan ranjang klasik untuk bayi nya, dua hari sebelumnya Faaz sempat melihat Alea sedang melihat keperluan bayi di salah satu online shop ternama. Alea sangat menyukai ranjang klasik yang mungkin akan memakan tempat di dalam kamarnya, Faaz pun berinisiatif membongkar kamar Alea dan kamar Qabil yang ia satukan menjadi satu ruangan.
Lalu, Alea bertanya mengapa Faaz melakukannya. Faaz berdalih kamar tersebut akan di pakai oleh Aleesya juga Damar, Alea tidak protes dengan apa yang di lakukan sang Kakak.
Namun saat ini Alea sangat senang, karena kamar Qabil dan kamarnya akan menjadi satu ruangan yang menjadi saksi tangisan bayi itu.
Alea memeluk kakaknya, "Terimakasih Kakak" Ucapnya sembari memberikan pelukan yang sangat erat, Faaz menjawab nya dengan kecupan serta senyuman.
"Tadi Alea tertidur dan Alea bermimpi bertemu Qabil" Ujar Alea, Faaz menatap Alea seakan ia meminta Alea untuk melanjutkan cerita mengenai mimpinya.
"Apa itu artinya Qabil merindukan Alea? " Tanya Alea.
"Bisa saja sayang, itu artinya Alea harus terus mendoakan Qabil karena sekarang Alea hanya bisa bertemu melalui doa" Ucap Faaz, ia begitu sangat menyayangi adik kecilnya. semenjak mereka tahu mengenai kehamilan Alea, Faaz dan semua anggota keluarga benar-benar membuat nya nyaman bahkan mereka tak segan memperlakukan Alea seperti layaknya anak kecil.
"Alea sangat merindukan nya kakak! " Ucap nya begitu sendu, namun matanya seakan menolak untuk mengeluarkan buliran air mata.
Alea benar-benar sangat malang, ia belum menemukan kebahagiaan yang sempurna. namun, kini awal kebahagiaan akan menghampirinya, bayi itu adalah sumber kebahagiaan baginya.
Faaz memegang kedua pundak adiknya, "Dengar, kakak pun sama. merindukan sosok mereka, kakak sangat ingin memeluk mereka, mama, kakek, dan Qabil. tetapi Tuhan lebih sayang mereka, dan kita harus benar-benar menerimanya" Ucap Faaz, Alea mengangguk.
"Oh Iya, Nene Neni dan Nene Esri akan kemari. mereka akan tinggal disini, kakek Hendra juga akan tinggal disini." Ucap Faaz.
"benarkah? " Tanya Alea.
"Iya, kita akan melakukan pengajian. Kamu ingat Om Riswan, adik bungsu Mama? " Tanya Faaz.
"Ingat, dulu mama sering sekali melakukan video Call bersama Om Riswan. memangnya kenapa kak? " Alea bertanya dengan wajah yang terlihat penasaran.
"Tadi siang, anaknya yang bernama Abdul dan Zahira menghubungi kakak. Ia memberitahu bahwa om Riswan meninggal dunia pukul 3 dini hari, namun mereka tidak bisa membawa jenazahnya ke Indonesia."
"Ya Tuhan, bagaimana Nene Esri? Yang Alea tahu, Nene, Mama dan Aunty Rani sangat merindukannya" Ucap Alea.
"Om Riswan menutupi penyakitnya di sana, selama ia sakit, ia tidak memberitahu kami." Sahut Faaz, "Dan katanya, Om Riswan sudah mengalami kelumpuhan 6 tahun lamanya. dan itu artinya terakhir kita bertemu, dia masih terlihat sangat sehat saat meninggalnya mama" Ujar Faaz.
__ADS_1
"Pantas saja Om Riswan tidak pernah pulang ke Indonesia" Sela Alea.
"Nenek sudah jauh lebih menerima, itulah takdir. kita masih bisa mengurus Mama, Kakek wan, Kakek Gusti dan Qabil. tetapi sedih sekali kita tidak sempat melihat wajah terakhir om Riswan" Ucap Faaz.
"iya sih Kak, "
Noni datang membawakan makanan pesanan Alea, Noni benar-benar melayani Alea dengan baik. walaupun Alea selalu menolak namun, Noni selalu memaksa Alea agar ia meminta apapun keinginannya kepada Noni.
"Apa yang kau bawa adik? " Tanya Faaz, Noni sangat senang jika Faaz memanggilnya dengan sebutan Adik.
"Ini Kebab yang di buatkan oleh Maliq untuk Lea Kak, Kakak mau? " Tanya nya.
"Oh enggak, Kakak harus pergi dulu. Kakak harus menemui Client"
"Ini kan sudah mau malam kak? " Tanya Noni.
"Enggak lama kok, sama Aliq dan juga Mael perginya"
Faaz terpaksa berbohong kepada Alea, karena Faaz melihat kedatangan Ayana di sana. sebenarnya Faaz akan menemui Zain yang sedang terbaring sakit di rumah sakit, Faaz ingin sekali memberitahu Ayana. namun, Zain tak ingin Ayana merasa sedih saat tahu Zain memiliki riwayat sakit yang sangat keras.
"Waw ranjang si bayik bagus banget!! " Ucap Ayana, "Pasti mahal"
"Iya nih Kak Faaz baik banget!! padahal lahirnya masih lama" Sahut Alea.
"Gak apa-apa soalnya ranjang kaya gitu jualnya cuma beberapa dan kalau habis nanti malah beli yang bekas" Sahut Faaz menimpali ucapan Alea.
"Aku nikah dan Mael, kado nya jalan-jalan ke Eropa iya!! " Ucap Ayana yang tak mau kalah mendapat perhatian dari sang Kakak.
Faaz mengucek-ngucek rambut Ayana, "Dasar Manja, Iya deh nanti kakak beliin Tiket untuk Honeymoon selama sebulan disana" Ayana tersenyum lalu memeluk kakaknya.
"Ya sudah Kakak pergi dulu iya"
"Kemana? " Tanya Ayana.
"Kakak harus bertemu clien, dan Mael ikut bersama kakak. gak apa-apa kan? " Tanya Faaz
"Yaudah gak apa-apa, aku mau tidur sama Kak Lea dan Noni disini iya? " Tanya Ayana bernada manja, Faaz pergi meninggalkan adik-adiknya itu.
"Iya disini aja, "
"Soalnya di kamar Kak Natasha, ada Aaleesya dan Damar. mereka tidur bertiga" Ucap Ayana.
"Daddy sedang berada di Brisbane, aku Videa call juga gak nyahut tuh!! kayanya sibuk deh! " Jawab Ayana polos, Alea dan Noni mengangguk pelan.
"Gak tau kenapa Alea rindu banget sama Uncle Zain, dia juga janji mau nemenin Alea periksa besok! " Timpal Alea.
"Aku juga merindukannya, Daddy sudah seminggu tidak pulang!! " Keluh Ayana.
"Ya sudah mungkin Uncle Zain sedang sangat sibuk, nanti juga pulang!! " Ucap Noni yang berusahan menenangkan mereka berdua.
***
Di dalam perjalanan untuk menemui Zain, Faaz dan Aliq begitupun Mael sangat menyayangkan sikap Zain yang tak ingin terbuka kepada Rido dan Ayana, Zain takut mereka bersedih. ia berusaha sekuat mungkin dengan keadaan nya, hingga ia memberitahu Richard dan Richard segera menghampirinya lalu membawa nya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
"Faaz Uncle Zain sakit apa? " Tanya Aliq.
"Aku belum tahu, kabarnya baru tadi aku dapatkan. Uncle Richard baru memberitahu, itupun Uncle Zain tidak mengetahui kedatangan kita." Jawab Faaz.
"Iya, Papih bilang. Daddy tidak ingin kita tahu, walaupun sebenarnya Aku dan Maliq sudah lebih dulu mengetahui bahwa Daddy Zain sakit cukup parah! " Ucap Mael.
"Mael tahu? " Tanya Faaz dan Aliq bersamaan.
Mael mengangguk pelan, "Iya tahu!! " jawabnya singkat.
"Maliq sudah lebih tahu dari kecil, makanya Maliq selalu menjaga Ayana."
"Mengapa dia tak memberitahu ku? " Tanya Faaz.
"Maliq juga baru memberitahuku sekitar 3 bulan yang lalu, saat kita akan pergi ke pemakaman Qabil" Mael mulai bercerita.
"Lalu sebelumnya, Daddy lagi ngobrol gitu kan sama Aku. terus dari hidungnya, keluar darah yang cukup banyak."
"Lalu aku bertanya, Mengapa darah itu banyak sekali? dan Daddy menjawab. ini hal biasa mungkin Daddy kurang makan makanan yang menganding vitamin C dan D."
"Aku ini calon seorang dokter dan aku tahu darah yang keluar itu adalah penyakit serius, namun aku hanya diam tak mampu mendebat apa yang beliau katakan"
Faaz mendengarkan cerita Mael, Ia mendecih tak percaya jika Unclenya merahasiakan penyakitnya itu "Bagaimana mungkin Uncle menutupi sakitnya sekian lama"
"Seperti nya Uncle memiliki alasan!! " Sela Aliq.
__ADS_1
"Oh iya, Papih bilang kalau Daddy tidak mau Papa dan Ayana sampai bersedih apalagi selama ini Keluarga kita sudah kehilangan Mama. dan kehilangan Mama saja sudah membuat kacau seisi rumah"
"Uncle Yof juga sempat berbicara padaku, ia sempat memergoki Uncle Zain sedang mencari berkas rumah sakit. saat ditanyakan lagi, ia mencari berkas Aunti Cia." Ucap Faaz, "Padahal semua berkas mengenai kematian Aunty Cia kan Papa dan Mama yang pegang" Sambung Faaz.
"Intinya gak nyambung dan Uncle sedang menutupi sesuatu, gitu kan? " Tanya Aliq.
"Iya betul sekali." Jawab Mael.
Sampailah mereka di parkiran rumah sakit, setelah 4 jam perjalanan dari Sydney ke Brisbane dengan menggunakan jalur darat yang super cepat menjalankan laju mobilnya.
"Ruangan apa? " Tanya Mael.
"VVIP 1 C, aku tahu kok. itu dulu ruangan Rayna liq!! " Ucap Faaz.
Mereka berjalan tanpa henti, saat di dekat ruangan yang katanya ditempati oleh Zain. Faaz mendengar suara keributan dari dalam ruangan Zain, semua Dokter serta perawat berlarian menuju ruangan tersebut.
"Patients VVIP 1 c is being feel dying" Ucap perawat sembari berlarian, Faaz dan yang lainnya merasa sangat gawat dan ikut berlari menghampiri Zain.
Terlihat di sana Zain memang sedang dalam keadaan gawat, ia terlihat merintih kesakitan. tangannya berulang kali mengepal, ia menahan rasa sakit yang begitu sangat parah.
Mereka sedang berusaha membuat Zain tak merasakan sakit, Faaz cemas melihat keadaan ini. Mael pun menghubungi sang Ayah dan memberitahu keadaan Zain yang sedang terlihat olehnya.
Aliq mencoba menguatkan Faaz, beberapa saat kemudian semua perawat serta Dokter yang merawat Zain berhasil membuat Zain tertidur lemas.
Lalu, seorang perawat bertanya kepada Faaz, "Maaf, apa Anda kerabat atau saudara dari Tuan Zain? "
"I.. Iya Sus!! " Jawab Faaz.
"Tuan Zain sudah biasa seperti ini jika sedang merasakan sakit, walaupun ia sedang dirawat. ia selalu menolak jika diberikan obat untuk menghentikan sakitnya dan kami selalu memaksanya memasukan cairan penghenti rasa sakit"
"Kami keluarga dari Tuan Zain, saya sendiri keponakan paling tua. Uncle saya tidak pernah bercerita mengenai sakitnya, apa saya bisa berbicara dengan Dokter yang menanganinya? " Tanya Faaz.
"Mari saya antarkan" Ucap perawat senior yang sudah sangat lama merawat Zain.
Faaz, Aliq dan Mael kini sudah berada di dalam ruangan Dokter, Dokter Julia namanya. ia menyambut mereka dengan sangat ramah, Dokter akan menjelaskan mengenai keadaan Zain.
"Richard sudah menghubungi saya mengenai kedatangan kalian, Saya akan sedikit menjelaskan mengenai riwayat sakit yang di derita oleh Tuan Zain"
"Uncle Zain sakit apa Dok? " Tanya Faaz.
"Sirosis merupakan penyakit hati atau lever berupa peradangan, kerusakan atau kematian sel hati. Sirosi menyebabkan hati mengeras, mengecil, dan terjadinya penurunan fungsi hati Dalam tahap lanjut, tak tertutup kemungkinan sirosis ini sudah berkembang menjadi Kaker hati" Dokter sedang mencoba menjelaskan penyakit yang di derita oleh Zain, "Dan Kini Tuan Zain menderita Kanker hati stadium 4, kondisinya sudah sangat parah sekali Tuan. saya yang selalu merawat Tuan Zain, dulu Tuan Zain sempat akan melakukan Operasi di Negara Inggris namun ia datang dan menolaknya"
"Apa masih bisa disembuhkan Dok? " Tanya Faaz.
"Kanker hati sulit disembuhkan karena hati adalah organ yang tidak memiliki persarafan, sehingga membuatnya sulit mengenali gangguan dan kelainan yang terjadi. Itu mengapa pengidap kanker hati jarang merasakan gejala, kecuali ukuran kanker sudah membesar hingga meregangkan jaringan pembungkus hati" Jelas Dokter Julya
"Kanker hati merupakan salah satu penyakit yang harapan hidupnya rendah. Setelah didiagnosis Kanker hati, seseorang biasanya hanya dapat bertahan hidup dalam waktu sekitar lima bulan. Ini karena biasanya kanker hati baru terdeteksi dalam stadium lanjut"
"Namun sejauh ini Tuan Zain sudah sangat kuat, ia mampu menutupi sakitnya selama 20 tahun lamanya dan Saya salut karena dia terlihat lebih tegar dan menerima." Jelas Dokter kembali, Faaz meresapi setiap penjelasan Dokter Julya"
"Terkadang saya bingung dengan ucapannya, dia selalu menolak jika diberikan obat penahan rasa sakit. alasannya begitu sangat membuat saya terharu" Lanjut Dokter Julya.
"Apa alasannya Dok? " Tanya Faaz
"Dia berucap, Istri saya meninggal lebih dulu merasakan sakit. Istri saya meninggal saat melahirkan dan sakit saya tidak ada apa-apa nya dibandingkan rasa sakit nya melahirkan lalu meninggalkan kami" Sembari meneteskan air mata Dokter Julya mencoba memberitahu kalimat Zain yang sangat menyentuh hatinya, "Lalu ia juga berucap, Saya akan menikmati setiap sakit yang Tuhan berikan karena bagi saya sakit yang beliau berikan adalah ladang pahala bagi saya"
"Apa Uncle sudah menjalankan Kemo? " Tanya Aliq.
"Beliau selalu menolak, namun Beliau terlihat sangat kuat dan kejadian tadi jika saja salah satu perawat saya tidak menemukan nya sedang berjuang menahan rasa sakit, kami akan temukan dia sedang tak sadarkan dirinya seorang diri" Ucap Dokter kembali, "Sungguh sangat mulia pemikiran serta jiwa Tuan Zain"
"Aliq aku sama sekali tidak menyangka begitu sangat kuat Iman Daddy" Ucap Mael.
"Iya, Dokter apa tidak ada jalan lain untuk penyembuhannya? " Tanya Aliq.
"Maaf Tuan sekali lagi saya ucapkan, penyakit Kanker hati tidak atau belum ada obatnya. kita hanya pasrah saja dan berjuang agar kanker tersebut tidak cepat menyebar, namun kali ini Kanker nya sudah menyebar ke seluruh tubuh Tuan Zain" Ucap Dokter Julya.
"Terimakasih Dokter atas penjelasannya!! " Ucap Faaz.
"Saya harap Tuan-Tuan muda ini menguatkan Tuan Zain, dan jika saya harus memberi sebuah saran. Tolong beritahu putri tunggal Tuan Zain, dia berhak tahu kondisi ayahnya" Ucap Dokter Julya.
"Iya Faaz, sebelum terlambat!! " Ucap Aliq.
"Aku akan memberitahunya, tapi aku minta kau menemani ku! " Timpal Mael.
"Baiklah, kita beritahu Ayana nanti." Ucap Faaz.
"Dok sekali lagi terimakasih atas penjelasannya mengenai keadaan Uncle kami, kami pamit dan akan menemui Uncle di kamarnya" Ucap Faaz, mereka pun keluar dari ruangan tersebut. wajah Faaz terlihat sayu menahan kesedihan sesaat tahu keadaan Zain yang sudah sangat parah, ia benar-benar menyesali apa yang Zain sembunyukan sejak lama.
Faaz berjalan pelan dalam batinnya ia bergumam lirih, "Mengapa Uncle menutupi kegundahan, rasa sakit yang selama ini Uncle derita. Uncle selalu menjadi orang pertama yang membantu kami disaat kesusahan, Uncle adalah sosok orang baik bagi kami. Tuhan selamatkan Uncle Zain, berikan dia mukzizat"
__ADS_1