
Rayna membalikkan badannya, Ia menatap penuh wajah sang Papa mertua yang selama ini sangat ia sayangi. Kasih sayang Rido kepada siapapun tak pernah mengenal kata siapa, selama ini Rido selalu menyayangi siapapun orang di sekitarnya. Rayna masih tidak mempercayai setiap kalimat yang Rido ucapkan, bagi Rayna ini hanya sebuah pembelaan.
”Aku tak percaya kepada Papa, Mana mungkin Papa dengan Tega sudah mengkhianati ku. Kau hanya ingin menutupi keburukan Anak mu kan ?” Tanya Rayna.
”Papa, Aku mohon lindungi aku. Katakan pada Faaz bahwa poligami itu sangat berat.” Ucap Rayna, “Dan Papa tahu jika seorang istri merasa di khianati itu akan berdampak pada hubungan suami dan istri muda nya.” Ucap Rayna kembali.
”Rayna, Ini sudah terjadi. Kau juga tidak boleh mengharamkan itu.” Ucap Rido, “Papa pun tak tahu mengapa permasalahan ini menjadi sangat rumit.” Tukas Rido.
”Tetap saja aku tak Rela membagi suami ku dengan perempuan lain.” Ucap Rayna.
”Papa mohon bersikaplah dewasa Nak, saat itu Kau dalam keadaan koma dengan waktu yang sangat lama. Dan Papa merasa kasihan kepada Aaleesya anak mu.” Rayna terdiam mendengar penjelasan yang Rido berikan, “Dia membutuhkan kasih sayang seorang ibu, dan Natasha mampu memberikannya. Tak hanya itu Papa merasa Kasihan kepada Faaz karena Tidak ada yang mengurus Faaz.” Tutur Rido.
”Dengan membuatnya menikah?” Tanya Rayna ketus, “Apa dengan Menggantikan posisiku?, Jika Faaz mencintaiku dan setia seperti Papa, dia akan menolak permintaan Papa yang sangat konyol ini.” Ucap Rayna kembali. MaliQ datang dan mencoba membantu menjelaskan kepada Rayna.
”Saat itu Papa tidak tahu mengenai kau yang masih hidup dengan mesin-mesin itu.” Ucap MaliQ, “Kak Ray, Aku minta maaf jika saat itu mencoba menghasut Dirimu.” Ucap MaliQ kembali.
”Tidak, Kau tidak menghasut ku. Kau benar-benar kasihan kepada ku, kau memberitahukan kebenaran ini.” Jawab Rayna, “Pernikahan Faaz dan Natasha adalah kesalahan.” Dengan ngototnya Rayna berucap seperti itu dan itu semakin membuat Rido bersedih, “Papa tak perlu meras bersalah kepadaku, Aku tekankan kembali. Aku tak ingin menerima dia sebagai maduku, dan Aku tak ingin anak ku berbagi ayah dengan anak yang sedang ia kandung.” Ucap Rayna.
”Abrar, bantu aku ke atas” pinta Rayna, Abrar segera membantunya untuk pergi Beristirahat di dalam kamarnya.
”Bentar Abrar!” Pinta Rayna kembali, “Aku tak ingin melihat Wajah Natasha ada di hadapanku.” Ucap Rayna kembali. Rido menunduk bersedih saat mendengar kalimat yang Rayna ucapkan.
”Papa.... “ Rido menoleh saat mendengar Natasha memanggilnya, “Maafkan Aku.” Ucap Natasha.
”Syuuut mengapa kau harus meminta maaf kepada Papa Nat?” Natasha segera memeluk tubuh Papa mertuanya, Ia menangis di dalam dekapan Papa mertuanya.
”Sabar, Suatu saat Rayna akan mengerti mengapa ini semua terjadi.” Ucap Rido
”Ini semua kesalahan ku dan juga Faaz Papa.” Ujar AliQ, “Maafkan aku membuat permasalahan ini semakin keruh.” Ujar AliQ kembali.
”Tidak..... kau tak boleh menyalahkan dirimu atau menyalahkan Faaz. Ini semua sudah Allah tulis sebagai nasib kita semua.” Ucap Rido, Ia tersenyum menatap kearah wajah semua. Natasha merasa sedikit senang saat melihat senyuman Papa mertuanya, baginya senyuman itu menandakan jika dia harus bersikap bijak seperti papa mertuanya itu, Rido memang sosok yang sangat bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah.
******
Di kantor polisi, Faaz, Zain dan salah satu pengacara nya sedang menemui Aidil. Sebenarnya Faaz tidak ingin sama sekali menemui Aidil, Faaz sudah terlanjur kecewa dengan sikap yang sudah Aidil tunjukan kepadanya. Faaz pun merasa aneh mengenai apa yang sudah dilakukan Aidil, Zain mengajaknya untuk bertemu.
”Uncle, aku tak ingin melihat wajahnya.” Ucap Faaz, “Aku kesal dengan apa yang sudah dilakukannya.” Ucap Faaz kembali.
”Setidaknya, kita tahu apa yang membuat Aidil melakukan itu. Apalagi Aidil mengajak Ayana, dan Ayana akan menjadi saksi di dalam persidangan nanti. Uncle tidak mau melepas Ayana seorang diri.” Tutur Zain.
beberapa menit kemudian, seorang petugas membawa Aidil dengan borgol yang melekat di tangannya. Dan dari kejauhan Aidil terlihat menatap Faaz dengan penuh harapan, Namun tidak dengan Faaz. Rasa kesal masih menyelimuti raut wajahnya.
”Apa kabar Uncle, Faaz” ucap Aidil sembari tersenyum.
”baik..” jawab Zain, “Ke intinya saja Uncle.” Tukas Faaz, wajahnya tidak mengindikasikan senyuman walau hanya sedikit, Faaz benar-benar sangat marah kepada Aidil.
”Ceritakanlah Aidil, mengapa kau melakukan itu dan mengajak Ayana.” Pinta Zain kepada Aidil.
”Maaf Uncle, Aku ....” Aidil terlihat menangis, Rasa malu terhadap Faaz pun hinggap di dasar wajahnya. Ia berkali-kali meminta maaf kepada Faaz namun Faaz tidak ingin memberikan Maaf kepadanya. Iya, Faaz berbeda dengan Rido, Faaz memang pemaaf Namun Hal itu sangat lah lama terjadi, dan jika Faaz memaafkan seseorang yang membuatnya kecewa itu karena permintaan sang Papa kepadanya.
__ADS_1
Aidil menceritakan mengenai perasaan nya kepada Fizzy, dan Aidil merasa sakit hati atas penolakan yang Fizzy berikan kepadanya dan sebelumnya Aidil mendengar percakapan antara Fizzy dan AliQ atas perjanjian pernikahannya dan alasan itu lah yang membuat Aidil semakin kesal terhadap AliQ dan Fizzy hingga membuatnya merencanakan pembatalan pernikahan AliQ dan Fizzy. Aidil mengetahui bahwa Ayana memiliki kisah yang sama dengannya, dan Ingin menggunakan kepolosan Ayana untuk membantu nya membatalkan pernikahan AliQ dan Fizzy.
”Aku bersalah, maafkan Aku Faaz.” Ungkap Aidil, “Aku mohon maafkan Aku, kau boleh memecat ku tapi ku mohon jangan jauhi Aku karena permasalahan ini.” Ungkap Aidil kembali.
”Aku minta Maaf Uncle, Aku mohon maafkan Aku.” Pinta Aidil, Ia seakan ingin bersimpuh diatas kaki Faaz.
”Aidil, Aku sudah memaafkanmu. Namun ku mohon jangan pernah kau ulangi seperti ini lagi.”:Ujar Zain.
”Uncle sudah selesai, Apa bisa kita pergi.” Ajak Faaz kepada Zain, “Aku sudah muzaki, menatap wajah lolosnya.” Ucap Faaz membuat Aidil semakin merasa berdosa.
”Faaz ku mohon Maafkan Aku, Maaf atas segala kesalahan ku.” Ucapnya.
”Aidil, Masalah Keuangan yang kau Tutupi. Kau memakai uang perusahaan untuk membeli sebuah Apart di Jakarta. aku tak mempermasalahkannya, Aku anggap itu sebagai uang pesangon untuk mu. Namun kau sudah membuat masalah didalam ketentraman keluargaku dan itu bukan perkara mudah.”
”Kau tahu, keruhnya ketentraman akhir-akhir ini di dalam rumahku seperti apa?, dan kau malah menambah beban didalam nya. Kau membuat keluargaku semakin keruh Aidil. Dan Aku tak menerima itu.”
”Kau tak usah membayar sisa uang mobil kepadaku, kau tak perlu mengembalikan Uang perusahaan yang sudah kau pakai, kau tak perlu mengembalikan apapun yang sudah kau makan. Aku tak akan menambah beban mu di dalam penjara. Cukup kau menyesal dengan kelakuan mu kemarin dan mau menanggung apa yang sudah kau lakukan kepada keluarga ku itu sudah cukup bagiku.”
“Ayo Uncle, masih banyak pekerjaan yang harus Aku selesaikan.” Ajak Faaz kepada Zain tanpa menatap wajah Aidil, ia benar-benar sudah kecewa terhadapnya.
Faaz membalikkan badannya kembali, “Satu lagi Aidil,” Ia menghela nafas dengan sangat berat, “Kau tak perlu menganggu keluargaku, pergi jauh dari kehidupan kami. Hanya itu yang dapat kau lakukan agar aku memaafkanmu.” Seru Faaz, mereka meninggalkan Aidil dalam keadaan merasa bersalah.
”Faaz, maafkan Aku. Maafkan kesalahanku. Aku memang tak pantas menjadi saudara mu. Banyak sekali kelicikan yang Aku lakukan dalam perusahaan mu, Aku memang bersalah. Maafkan Aku Faaz.” Gumam Aidil, ia terlihat sangat frustasi sesekali Aidil mengucek-ngucek wajahnya dengan sangat sarkas.
Sesudah menemui Aidil, mereka berniat untuk segera pulang kerumah. Dan di dalam perjalanan, Zain melihat raut wajah Faaz yabg terlihat sendu itu. "Faaz Kau membuat Aidil terdiam, Apa Kau benar-benar marah dengan nya?." Tanya Zain.
"Tidak Uncle, Aku hanya merasa kecewa." Jawab Faaz, di dalam mobil itu Faaz hanya terdiam dan terdiam.
"Iya Uncle, Selama ini aku menutupi permasalahan diantara kami. Sebenarnya tidak hanya itu Uncle, bukan hanya permasalahan kemarin dan beberapa nilai uang yang sudah Aidil pakai." Ucap Faaz.
"Lalu Apa?, bisakah kau berbagi beban mu bersama Uncle?." Tanya Zain.
"Sesaat sebelum Rayna Koma, Aku sempat membaca sebuah telegram yang Aidil kirim olehnya untuk Rayna."
"Untuk apa?, apa ada permasalahan diantara kalian saat itu." Tanya Zain.
"Mungkin saat Rayna akan melahirkan, Rayna merasa memiliki beban hingga darahnya naik sangat drastis." Penjelasan Faaz membuat Zain berpikir mengenai adanya perselingkuhan diantara Aidil dan Rayna.
"Apa Rayna dan Aidil berselingkuh darimu?." Tanya Zain.
"Sepertinya seperti itu, Dan mengenai perasaan Aidil kepada Fizzy aku anggap hanya main-main saja Uncle." Ungkap Faaz.
"Dan kau masih dengan sabar memperkerjakan Aidil di kantor mu?, Faaz Uncle sangat heran kepadamu, Apa alesan kau tetap memperkerjakan Aidil di kantor mu?." Tanya Zain.
"Banyak Alesan nya Uncle, Masalah ini sangat rumit. Dan sebenarnya saat itu mataku sudah tertutup oleh cinta ku pada Rayna, Aku memaafkan mereka Uncle."
"Saat itu Papa juga sempat melihat mereka pergi satu mobil bersama, dan Aku hanya meminta Papa untuk tidak membahasnya."
"Saat aku tau kalimat itu Aku hancur, batinku bergejolak. Namun Aku menganggap hal itu tidak pernah ada." Ucap Faaz kembali.
__ADS_1
"Hal apa?, Kalimat apa?." Tanya Zain dengan penasaran.
"Saat itu Aku sudah dalam keadaan marah hingga Aku pun meminta Rayna untuk mengetes darah Aaleesya yang masih berada di dalam kandungan." Faaz terlihat frustasi, Ia menghentikan laju mobil tersebut.
"Didalam sebuah telegram itu, Ia berucap jika Aaleesya adalah anak biologisnya, saat itu Aidil sedang dalam keadaan susah dan Aku mempercayainya untuk memegang jabatan di dalam perusahaan ku. Saat Aku ingin memecatnya, Dia berucap jika hanya ingin memberikan ku sebuah kejutan. Dan dia bersumpah itu adalah kebohongan yang Rayna berikan untuk membuatku marah."
"Maksudnya Ia dan Rayna memang melakukan sebuah Prank untuk ku, dan Saat itu terjadi, aku memang sedang berulang tahun."
"Awalnya Aku mempercayainya karena Rayna bersumpah kepada ku begitupun dengan Aidil, Rayna melahirkan Aaleesya dan saat itu Ia koma. Kata Dokter Ambar Rayna mengalami Hypertensi kehamilan karena stress berat, dan Dokter Ambar bilang kepadaku Ia pun harus mengambil Sample darah Aaleesya karena ada gejala penyakit serius kepadanya."
"Lalu?, apa yang terjadi?." Tanya Zain,
"Dokter bilang, Aku harus mendonorkan darah ku untuk Aaleesya karena saat itu Aalesya juga kekurangan salah satu Zat di dalam darah hingga aliran darah nya memburuk dan Aku pun dengan senang hati memberikannya" Air matanya menetes, "Aku berucap, Dok ambil saja yang dokter mau. Biarkan anak ku hidup, Aku sangat menyayangi Aalesya." Ucapku sembari menatap wajah Zain ia menangis dengan sesenggukan.
"Tak selang berapa lama, dokter Ambar memberitahu ku. Darah ku dan Aaleesya tidak ada sama sekali kecocokan, aku bercerita pada Aliq dan Papa Harry."
"Dan mereka meminta untuk melakukan Tes DNA atas nama ku dan Aaleesya, saat itu Papa tidak tahu permasalahan ini. Hingga akhirnya aku menangis dihadapan Papa, Aku tidak ingin mengetahui jika Aaleesya memang bukan Anak ku Uncle," Ucap Faaz sembari memeluk Zain,.
"Dan saat itu benar, Aaleesya memang bukan anak ku. Aaleesya bukan darah dagingku." Ucap Faaz.
"Apakah Rayna tahu jika kau sudah mengetahuinya?." Tanya Zain.
"Tidak, Rayna belum tahu masalah ini. Bahkan Aku pun tak ingin memberitahu Aidil, dan Aku tak tahu apa dia memang anak Aidil atau bukan." Ungkap Faaz, "bahkan Ayana pun tau masalah ini Uncle," Ungkap Faaz kembali.
"Ayana mengetahuinya?." Tanya Zain, "Tapi Ia tidak pernah bercerita kepada Uncle." Ucap Zain kembali.
"Aku yang memintanya, Hanya Papa, Ayana, Mael dan Aliq yang mengetahui ini." Ucap Faaz.
"Bahkan Fizzy, Maliq, dan Alea tidak tahu masalah ini. Aku tak mau mereka menganggap Aaleesya bukan darah daging mereka, Aku sangat mencintai Nya melebihi diriku." Ucap Faaz.
"Pantas saja Papa mu sangat senang dengan kehadiran Anak yang berada di dalam kandungan Natasha, Uncle mengerti Faaz." Ucap Zain.
"Uncle tolong Jaga Rahasia ini, Faaz mohon." Ucap Faaz, "biarlah ini menjadi sebuah kenangan Pahit untuk ku Uncle, Aaleesya berhak atas kasih sayang kami." Ucap Faaz kembali.
"Sungguh mulia hati mu Faaz, kau seperti Kakek mu. Kakek gusti, dia benar-benar orang yang baik maka dari itu dia melahirkan Jiwa mulia kepada Papamu dan kepada mu" Ucap Zain.
"Iya, Papa juga bercerita mengenai itu."
"Uncle sangat sayang sekali kepadamu Faaz." Mereka saling melepas pelukan, "Yasudah jagoan, Kita pulang iya. Setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya."
"Yakinlah Tuhan selalu bersama hambanya yang selalu mengingat Tuhan." Ucap Zain.
.
.
.
.
__ADS_1
("Sekalipun kau bukan Darah daging ku, Aku akan menyayangi mu dan mencintai mu seperti Layaknya anak ku sendiri. Aaleesya kau akan tumbuh kembang dewasa di dalam kehidupanku, Aku... Faaz Ayah yang sangat menyayangi mu. - Batin Faaz.)