TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Siapa Noni sebenarnya!


__ADS_3

Di dalam Mobil tersebut, Maliq dan Noni saling berdiam diri. perjalanan pun berakhir dengan kemacetan yang panjang, karena di dalam perjalanan mereka terhadang oleh satu buah mobil yang mengalami kecelakaan.


"Ada apa ya? " ucap Noni bertanya-tanya, "Emang rumah kamu masih jauh?, " Tanya Noni lagi.


"Tuan Muda kejam!!!, Aku sedang bertanya kepadamu! " Mata Noni mendelik kesal, Ia juga mendengus saat melihat tatapan cuek yang Maliq berikan.


"Tidak punya telinga! " Gumam nya.


"Apa kau bilang?, " Tanya Maliq, Noni pun membalas pertanyaan yang sedang Maliq tanyakan dengan mendiamkan dirinya.


"Bawel sekali!!, membuatku pusing saja!, " Gumam Maliq.


"Aku bawel!!, Iya karena aku wanita, daripada dirimu menjadi lelaki yang sangat kejam. tidak mau menghargai wanita, kau bukan lelaki tapi wanita berparas pria!!, " Umpatnya sembari tertawa terbahak-bahak.


"Hah!!, Wanita?, wanita aneh dengan tawa yang keluar seperti itu dasar aneh!!" Sahut Maliq kembali membalas umpatan Noni, "Kau wanita harus lebih memperhatikan gaya bicara dan tertawa mu!!, Wanita super duper aneh!! " Umpat nya kembali.


"kenapa kau diam?, " Tanya Maliq karena melihat Noni terdiam tak bersuara, namun matanya membendung kesedihan.


"Tidak, Lanjutkan perjalanan mu!" Ucap Noni.


"Maaf jika perkataan ku membuat mu sakit hati." Ucap Maliq.


"Tidak!!, Aku tidak merasa sakit. dasar bawel!! " Ketus Noni membuat Maliq merasa aneh dengan perempuan yang sedang bersama nya itu, Maliq merasa jika dia tidak seperti wanita lain yang selalu mengejar-ngejar dirinya.


"Dia wanita Aneh, namun dia tak seperti wanita lain yang rela memberikan dan menawarkan dirinya untuk kepuasan ku." Gumam Maliq.


namun, walaupun wanita-wanita yang memberikan tawaran itu kepada Maliq dengan memaksa, Maliq pun selalu menolaknya.


bagi Maliq, Noni dan Natasha memiliki kesamaan, wanita yang terkesan menjaga image nya agar tidak dikatakan wanita yang berlebihan dalam melihat sosok lelaki.


"lelaki aneh tapi masih memiliki perasaan tidak enak kepadaku, tampan namun terkesan cuek. Aku tidak suka dengan lelaki cuek seperti nya!! " Gumam Noni di dalam hatinya.


Mereka terlihat saling memandang satu sama lain, "Mengapa kau menatap ku seperti itu?, " Tanya Maliq yang tersadar jika dirinya sedang saling berpandangan bersama Noni, namun gengsi Maliq sebagai lelaki terlihat sangat besar.


"Sedang memandang pria yang sedari tadi memandangku dengan lekat!! " Jawab Noni dengan santai, Maliq menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak percaya jika ada wanita yang seperti ini, "Mengapa kau menggelengkan kepala mu seperti itu?, " Tanya Noni.


"Tidak, aku sedang terpana dengan kecantikan mu!, " Ujar Maliq seraya bercanda membuat Noni salah tingkah, namun Noni tak mudah percaya dengan apa yang dikatakan Maliq.


"Aku sudah menduga jika kau akan menyukai ku suatu saat nanti!!, Aku cantik dan aku baik!! " Seru Noni membuat Maliq mengerutkan dahinya.


"Cantik Namun Aneh!!, kau Aneh!!, " Tukas Maliq, membuat Noni kembali tertawa, bagi Noni ia tahu jika saat Maliq memujinya, dan Noni terpana dengan pujian itu akan membuat Maliq membuatnya Malu, namun sayang, otak Noni lebih pintar dari Maliq.


"Lihat, Polisi lalu lintas sudah menyuruh mu untuk kembali berjalan!! kau malah banyak bicara." Ucap Noni membuat Maliq tersadar jika jalanan itu mulai meminta nya melanjutkan laju mobilnya, "Dasar lelaki bawel dan aneh!, " Umpatnya kembali, membuat Maliq kesal namun sedikit terhibur.


**


Faaz dan yang lainnya sudah sampai di dalam Rumah, Fizzy yang menyadarinya pun segera memeluk saudara kembar juga Papa nya itu. Fizzy menangis di dalam pelukan mereka, Faaz menatap wajah Fizzy.


"Mengapa kau menangis?, " Tanya Faaz, Aliq menyahuti pertanyaan yang Faaz berikan.


"Ia bersedih karena kondisi Alea, duduklah dulu Faaz kita bicarakan hal ini" Ucap Aliq, Faaz berjalan sembari memeluk Fizzy. Fizzy pun tak henti menangis di dalam pelukan Faaz.


"Ada apa Aliq?," Wajah Faaz cemas, berbeda dengan Rido. Ia terlihat santai dan tetap mengalunkan dzikir di dalam hatinya, "Apa hal buruk terjadi kepada Alea?, dimana dia?, " Tanya Faaz.


"Alea sedang tertidur pulas, Dokter Hans memberikan obat penenang untuk Alea." Ucap Aliq memberitahu Faaz.


Faaz melepaskan pelukan Fizzy, wajahnya terlihat kacau. Natasha sudah memberikan kemajuan, namun permasalahan baru menimpa lagi dirinya.


Faaz merasa frustasi saat mengetahui "Obat penenang" diberikan kepada Alea, dan itu artinya sesuatu yang buruk sedang terjadi kepada Adiknya.


Faaz mengucek-ngucek rambutnya dengan kasar, perasaan kalut dan gusar menghampiri nya kembali.


"Dimana Rayna?, " Tanya Faaz, "Untuk sementara, antar kan Rayna untuk tinggal di Apartemen milik ku" Ucap Faaz, Ia seakan sudah mengetahui apa yang di ucapkan oleh Dokter Hans.


"Rayna ada di kamarnya, tadi kami sudah memberitahu nya. namun, Ia tak ingin pergi dari rumah ini." Ucap Aliq, "Tidak mungkin jika Alea kembali kita asing kan!!, dan jika Natasha tahu, Ia tidak akan setuju!" Ucap Aliq kembali.


"Faaz Aku meminta maaf atas apa yang sudah kakak ku lakukan, Aku pasrah jika memang ia terbukti bersalah maka hukum lah sesuai aturan di dalamnya" Gumam Aliq.


"Aku sudah mengantongi identitas lelaki itu, dan lelaki itu bukan Aidil!, " Ucap Zain yang datang dari arah belakang, "Kita kesampingkan dulu permasalahan Alea, yang Aku minta Alea harus tetap kalian perhatikan dan jangan pernah Rayna muncul di hadapan nya' Ucap Zain kembali.


"Siapa Uncle lelaki itu?, Apa pihak kepolisian sudah menangkapnya? " Tanya Faaz.


"Sudah, Aku baru saja bertemu dengannya. dia merasa kekeuh dengan tuduhannya kepada Rayna, bahwa Rayna lah yang menyuruhnya." Ucap Zain.


"Jadi kakak ku bersalah?, " Tanya Aliq.


"Tentu!!, " Zain terdiam, "Namun, Rayna juga bisa melakukan pembelaan. Aidil lah yang bersalah, namun lelaki itu tetap bungkam dan tidak ingin menyebut nama Aidil!!, " Ucap Zain.


"Maksud Uncle?, " Tanya Faaz karena merasa kurang mengerti dengan penjelasan yang di berikan oleh Zain.


"Alat sadap itu, menyadap pembicaraan Rayna yang merasa kesal karena ia sudah merasa membatalkan rencana itu. namun, Aidil lah yang melakukan nya tanpa sepengetahuan Rayna. dan Rayna memarahi Aidil," Ucap Zain.


"Kebenaran tetap kebenaran Faaz, Uncle tak berniat untuk membela Rayna. namun, menurut Uncle Aidil hanya ingin melakukan pencucian tangan atas kesalahannya kepada Rayna dan ingin kau menyalahi Rayna walaupun memang sebetulnya kesalahan berawal dari Rayna!, " Jelas Zain kembali.


"Baik Uncle, aku mengerti !!" Gumam Faaz, "Lalu apa yang harus aku lakukan Uncle, aku tetap tidak bisa memaafkan Rayna!!, " Gumam nya kembali.


"Kau harus tetap memaafkannya, berikan dia pengertian kalau dia bersalah dan tetap harus menebus kesalahan nya!, " Ucap Rido yang terdengar sangat bijaksana.


"Aliq, kita harus bagaimana? Jika saja Rayna tak memiliki rencana untuk mencelakai siapapun, mungkin permasalahan ini tidak akan terjadi" Tanya Fizzy, Ia merasa gemas dengan ulah kakak iparnya itu. namun, Ia merasa tidak enak dengan kondisi suami nya.


"Kau tak perlu cemas! lakukan saja sesuai aturan, Aku dan Papa Harry sudah merelakan situasi ini. bagaimana pun Rayna bersalah dan tetap akan bersalah di mata kami, tidak ada pembenaran untuk kesalahan yang telah ia perbuat!! " Jawab Aliq, "Maka lakukanlah yang menurut kalian benar untuk dilakukan. " Ujar Aliq kembali.


Zain duduk di samping Rido, Ia menatap penuh wajah kakaknya, ia merasa iba dengan permasalahan yang semakin rumit dan sedang terjadi di dalam Rumah kakaknya.


"Lalu, bagaimana hasil pemeriksaan Alea?, " Tanya Zain, "Apa yang Dokter Hans katakan?" Tanya nya kembali.


"Hasilnya baru saja keluar kan Faaz?, " Tanya Fizzy, "Apa kau sudah melihatnya melalui email mu, Dokter Hans mengirimkannya" Ucap Fizzy.


"Belum, kau tahu kan bahwa aku tidak sempat membuka ponselku"


"Baiklah, Aku jelaskan saja. Alea ternyata sudah tahap depresi Akut, depresi kronis yang sering disebut "Schizophrenia” Terang Fizzy, wajahnya sendu saat akan menjelaskan penyakit yang di derita Alea.

__ADS_1


"selain Bipolar dan GAD dia mengalami itu.. " Ucapnya kembali di iringi tangisan,


"Sayang sabarlah, " Aliq mengusap lembut punggung istrinya, Aliq mencoba menenangkannya.


"Apa itu schizophrenia ?, " Tanya Faaz, "Apa ini serius?, " Tanya Faaz kembali, matanya terlihat kosong saat bertanya mengenai hal itu. Fizzy masih menangis di dalam dekapan Aliq.


"Awalnya Dokter Hans belum memberitahu kami, namun saat ia kembali memeriksa Alea. Dokter memberitahu gejala-gejala baru yang di derita Alea!," Jelas Aliq,


"Apa pengobatannya akan berlangsung lama kembali?, " Tanya Faaz.


"akan membutuhkan waktu yang sangat lama kembali, Aku bingung Faaz.. aku merasa tidak tega melihat kondisinya" Ucap Fizzy, Rido pun meneteskan air matanya saat mendengat apa yang Fizzy ucapkan.


"Papa maafkan Fizzy seharusnya Papa tak mendengar semua ini, namun Fizzy tidak bisa membohongi dan menutupi ini lagi. Fizzy tidak ingin Papa tidak mengetahui keadaan kami, Papa sangat berharga, Fizzy harap Papa kuat."


"Kami sangat membutuhkan Papa!, " Ucap Fizzy.


"apa itu sudah tahap Gila?, " Tanya Ayana,


"Ayana! " Ayana menunduk saat mendengar Daddy nya memanggil dirinya, karena bertanya mengenai situasi dan kondisi kesehatan Alea.


"Selamat sore" Ucap Noni yang datang bersama Maliq, mereka terkejut dengan kedatangan wanita Asing bersama Maliq. karena Faaz belum menceritakan siapa noni kepada Fizzy, Aliq dan yang lainnya.


"Dia Noni, dia yang memberikan donor darah untuk Qabil." Ucap Faaz.


"selamat datang Noni, kami harus banyak-banyak sekali mengucapkan terimakasih kepadamu." Ucap Fizzy sembari tersenyum, walau air mata nya belum mengering dengan sempurna.


"Terimakasih Nona, terimakasih sudah menyambut ku dengan sangat baik" Balas Noni dengan senyuman yang sangat manis,


"Maaf, Aku tadi mendengar jika kalian sedang berbicara mengenai schizophrenia?, " Tanya Noni.


"Iya, apa kau mengetahui nya?, " Tanya Faaz,


"Jelas Kak Faaz, Ibuku mengalami hal yang sama" Ucap Noni, "Maka dari itu aku mengambil sekolah sebagai Psikoterapy atau psikiater. dan ilmu kedokteran untuk ku nomer satu!! aku senang dengan ilmu kedokteran" Ucap Noni.


"Jadi kau juga seorang dokter?, " Tanya Maliq.


"Iya, maaf aku tak berbicara jujur dari awal." Ungkap Noni.


"Ayana juga calon dokter, Mael juga dan Maliq juga sama" Ucap Faaz memberitahu Noni.


"Waw, senangnya aku memiliki teman-teman satu perjuangan dengan ku, " Gumam Noni, "Ah iya, Aku akan sedikit menjelaskan mengenai penderita schizophrenia. " Ucap Noni.


"Baiklah Kak Noni, kami tidak tahu dan tolong jelaskan" ucap Ayana, dan sepertinya semua sangat menyukai Noni.


"Di dunia psikologi dan medis, kondisi yang biasa kita sebut “gila” memiliki istilah “Schizophrenia”, gangguan mental yang salah satu gejalanya adalah mengalami halusinasi, Mereka seperti mendengar suara yang tidak berbunyi dan melihat sesuatu yang tidak terlihat. Kalo kita ngomongin “gila”, mungkin yang biasa kebayang di kepala kita adalah “orang gila” di jalanan. Mereka biasanya gak peduli penampilan (bahkan telanjang), jalan-jalan tanpa juntrungan, ada yang ketawa sendiri, ada yang diem bengong tampang kosong, kurus banget, gak terawat, dan gak bisa diajak komunikasi." Jelas Noni, "Tidak semua seperti mereka kita sebut Gila, dan bagiku itu terlalu kasar" Jelas Noni kembali.


"Schizophrenia,Berasal dari Bahasa Yunani Skhizein, yang berarti pecah (split) dan Phren yang berarti pikiran (mind). Secara harafiah, schizophrenia artinya pikiran yang pecah. But wait, itu enggak sama dengan kepribadian ganda (multiple personality disorder) seperti yang diceritakan dalam novel 24 wajah Billy. Jadi jangan disamakan, itu kategori gangguan yang berbeda lagi."


"Tapi apa betul yang dimaksud gila adalah yang seperti itu? jangan buru-buru generalisasi dulu. Ternyata terdapat beberapa kasus menarik, di mana ada juga orang yang didiagnosa dengan schizophrenia tapi akhirnya bisa menjalani hidup dengan normal, bahkan bisa berprestasi." Ucapnya kembali,.


"Tapi jika memiliki halusinasi, delusi atau semacamnya sudah dapat di pastikan kegilaannya kan?" Tanya Fizzy.


"Lalu bagaimana kami harus hidup dengan penderita itu? "


"Sebaiknya kita tidak melakukan hal atau mengucapkan kata-kata yang hanya malah meragukan atau membebani kondisi mereka" Jawab Noni, "Hal itu dapat membantu sekali, contohnya kita gak perlu membahas permasalahan yang sedang ia alami! " Ucap Noni kembali.


"Apa penderita itu akan berbahaya bagi orang di sekitar, Noni? " tanya Rido,


"Jelas om, Delusi nya bisa saja menyuruh dia untuk membakar gedung atau membahayakan orang disekitarnya. namun, kita masih bisa menjaganya dengan memberikan rasa tenang untuk batinnya" Jelas Noni kembali,


"Namun, Orang tersebut bukan berarti tidak bisa berfungsi lagi seperti kita, mereka hanya kurang beruntung dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Mereka adalah korban dari pikiran mereka sendiri, terpenjara di dalam kerusakan komunikasi antara neuron (syarat) otak yang satu dan yang lain. Jati diri mereka diambil, dipuntir, dan kadang mereka sendiri gak sadar akan hal itu. Kalau kita sakit perut, kita bisa ke dokter minta obat sakit perut, besoknya bisa langsung sembuh. Berbeda pada orang dengan gangguan mental, apalagi schizophrenia. "


"Ah Iya ada satu lagi, kemungkinan mereka akan denial sampai kehilangan akal sehatnya. Orang dengan schizophrenia tidak bisa ditolong dengan dikurung, dirantai, atau dipasung. Mereka butuh terapi berupa obat-obatan dan dukungan psikologis secara continue" Ucapnya kembali.


"Penelitian terakhir juga mengindikasikan  keterlibatan sistem kekebalan tubuh kita dalam proses timbulnya penyakit ini. Singkatnya, ketika ada kuman/virus/bakteri menyerang tubuh kita, maka sistem imun akan ter aktivasi dan terjadilah komunikasi antara sistem imun tubuh dan sistem imun otak. Aktivasi sistem imun otak kadang menyerang sel neuron itu sendiri sehingga terjadilah di prefrontal cortex dan striatum." Terangnya kembali dengan sangat detail, dan penjelasan nya membuat kagum semua orang yang mendengarnya.


"Dan sebenarnya, masih banyak sekali yang harus Aku jelaskan." Ucap Noni, "Oh Iya, Siapa disini yang sedang mengalami hal itu?, " Tanya Noni.


"Wajar saja kau terlihat aneh, otak mu menyimpan banyak sistem pembelajaran dan ilmu untuk orang-orang di sekitar mu. kau mampu menjelaskan setiap detail yang kau tau" gumam Maliq di dalam hatinya.


"Anak ku, Alea namanya. Dia kakak dari Maliq" Jawab Rido seraya memasang wajah sendu nya.


"Aku akan membantu memberinya therapy, Siapa yang menjadi Dokter untuknya? siapa tahu aku mengenalnya?" Tanya Noni.


"Dokter Hans Andrew" Jawab Faaz.


"Dia ayah ku, " Ucap Noni, "Namun kami tidak hidup bersama, karena dulu Mommy dan Daddy memilih untuk berpisah dan Aku ikut bersama Mommy ku" Ucap Noni kembali.


"benarkah?, Setahu ku Dokter Hans memang memiliki satu anak perempuan" Ucap Rido..


"Iya Om, Aku dan Daddy ku memang kurang dekat." Ucap Noni, "Beruntunglah, mungkin doaku terdengar oleh Tuhan. Aku bisa membantu mengurus Alea bersama Ayahku agar aku bisa lebih dekat dengannya kembali" Ucap Noni kembali.


"Terimakasih Noni.. Terimakasih karena kau sudah menjelaskan kepada kami." Ucap Faaz.


"Apa aku bisa bertemu dengan Alea?, " Tanya Noni, "mungkin saat aku melihatnya, Aku bisa melihat sosok ibuku di sana" ucap Noni, wajahnya sendu saat berbicara seperti itu. matanya membendung kesedihan, bibirnya berkedut tak biasa seakan ia ingin menangis namun menahan nya.


"Aku takut Alea malah menyakiti mu Noni! " seru Fizzy,


"Tidak, tidak mungkin. Biarkanlah aku mencoba nya terlebih dahulu." Gumam Nya, Fizzy pun mengantarkan Noni untuk menemui Alea.


***


Maliq yang sedang berada di taman itu seketika terdiam memikirkan apa yang Noni jelaskan, ia tak menduga jika Noni adalah orang yang lebih banyak mengetahui ilmu kedokteran. Maliq pun menjadi merasa penasaran dengan siapa sosok Noni sebenarnya, dia pun mencoba menghubungi Shawn untuk mencari tahu siapa Noni sebenarnya.


Ia secepatnya merogoh ponsel yang ia simpan di celana, namun seketika ia mengurungkan niatnya.


"Nanti Shawn malah mengolok-ngolok ku!, karena dulu Shawn pernah ingin mencoba menemui ku dengan perempuan itu dan beralasan ingin menemaninya untuk meminta maaf kepadaku" Gumamnya kembali.


Namun perasaannya tetap bergejolak, merasa penasaran dengan sosok perempuan itu.


"biarlah apa kata dia, Aku akan mencoba menghubunginya" Ucap Maliq berbicara sendirian.

__ADS_1


Ia meraih ponselnya kembali, Ia menekan kembali nama Shawn dan mencoba menghubunginya.


TUT..


Tuut...


(Panggilan tersambung)


Shawn pun menerima panggilan dari Maliq.


"Halo.. " sapa Shawn.


"Halo Shawn, kau sedang berada dimana?, " Tanya Maliq, "Apa kau sedang bertugas?," Tanya Maliq kembali.


"Aku sedang bersama Angela, ada apa denganmu? Kau terdengar sangat gusar" Ucap Shawn.


"Tidak, bolehkah aku bertanya? " Tanya Maliq,


"Hmm" Balas Shawn seraya mengiyakan apa yang ingin Maliq sampaikan.


"Waktu itu siapa nama wanita yang menumpahkan saus di kemeja ku?, " Tanya Maliq, Shawn tertawa terbahak-bahak.


"Bukankah kau sudah bertemu dengan nya?, " Tanya Shawn, Maliq merasa terpekik mendengar apa yang Shawn ucapkan.


"Hah!, Apa yang dia katakan!! Apa wanita itu bercerita kepada nya!," Pekik Maliq di dalam hatinya.


"Kemarin Noni tak sengaja bertemu denganku, dia menceritakan mengenai pertemuannya dengan mu. Syukurlah jika Noni sudah meminta maaf kepada mu," Gumam Shawn, Maliq tak menyangka jika Noni mau menceritakan pertemuan dengannya kepada Shawn.


"Apa yang dia katakan? " Tanya Maliq.


"Dia merasa lega karena sudah bertemu dengan mu, dia merasa berhutang maaf karena memiliki kesalahan kepada mu" Tutur Shawn.


"Dia berbicara seperti itu?, "


"Iya, Selama ini aku selalu memaksa mu untuk mau menemui nya. Karena sebenarnya dia selalu memaksa ku untuk menemani dirinya meminta maaf kepadamu!, " Gumam nya.


"Hah!, " Ucapnya, Maliq merasa terkejut karena mendengar apa yang Shawn ucapkan.


"Hah, hah!! Kau kenapa?, " Tanya Shawn, "Kau seperti orang yang kebingungan saja!, " Gumam Shawn kembali.


"Tidak Shawn, tidak apa-apa."


"Ya sudah, kalau tidak ada yang ingin kau bahas. Matikan ponselnya, aku sedang bersenang-senang dengan kekasih ku" Ujar Shawn, namun Maliq segera menolak untuk mematikan ponselnya.


"Shawn, tunggu sebentar" Pintanya, Shawn tertawa kembali.


"Sudahlah tak usah malu, kau pasti ingin bertanya mengenai Noni kan?, " Tanya Shawn kembali.


"Iya, " Jawab nya sembari malu-malu.


"Apa yang ingin kau tanyakan, Hah?, " Tanya Shawn kembali.


"Apa dia salah satu mahasiswi kedokteran di kampus kita?, " Tanya Maliq.


"Dia sudah menjadi senior kita sekarang, dia sudah terlebih dahulu memiliki gelar karena di umur yang terbilang muda dia berhasil menempuh kelulusan dengan nilai tertinggi,"


"Cumlaude?" Tanya Maliq.


"dia Nonia alexia Andrew!, mungkin kau pernah mendengarnya? " Ucap Shawn kembali.


"Iya aku sempat mendengarnya dan ternyata dia Anak dari Dokter Hans! " Ucap Maliq,


"Eh tunggu-tunggu, Dokter Hans kan Uncle mu? Kakak dari Mama mu kan?, " Tanya Maliq, "Itu artinya, kau dan Noni adalah saudara sepupu?, " Ujar Maliq kembali.


"Iya, Hahaha" Suara tawa dari Shawn terdengar sangat lantang, "Kau tau juga ternyata!, " Gumamnya.


"Sudahlah, dia wanita baik. Dan aku setuju jika menjadi saudara dengan mu!! " ujar Shawn kembali membuat Maliq merasa semakin malu, namun kini rasa penasaran Maliq sudah lumayan terobati.


"Mengapa kau tak menceritakannya padaku?, Hah! " Ucap Maliq seraya bertanya kepada Shawn.


"Jadi penasaran nih sama Aku? " Tanya Noni, Noni sedari tadi berdiri di belakang Maliq yang terlihat gusar saat menghubungi Shawn.


Noni tahu jika Shawn dan Maliq sedang berbincang di dalam Ponselnya, dan Noni tahu mereka sedang membicarakan dirinya.


Maliq mematikan ponselnya yang sedang terhubung bersama Shawn, Maliq merasa jika saat ini keadaannya sedang terhimpit.


"Tidak, percaya diri sekali anda nona Noni!! " Ucap Maliq penuh penekanan,


Noni tersenyum nakal sembari mengedipkan sebelah matanya, "Yakin gak Bohong?" Tanya Noni sembari tertawa terbahak-bahak.


"Hmmm... Gimana keadaan Alea?," Tanya Maliq.


"At All, masih dalam tahap baik. Dia masih bisa di sembuhkan!!, lagipula dia sangat beruntung banyak di kelilingi orang-orang yang sangat mencintai dan menyayangi nya!! " Tutur Noni.


"Oh, " Jawab Maliq singkat sembari menggaruk-garuk ujung kepalanya.


Wajah Noni terlihat mendekat, Ia menatap mata Maliq dalam-dalam. Maliq terlihat sangat gugup, "Tuan Muda kejam, saat ini aku melihat jika kau sedang merasakan gugup!!, " Gumam Noni membuat Maliq kembali merasa terpekik, Maliq mengerutkan dahinya seolah tak ingin mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Noni.


"Sudah kau membuat ku semakin kesal, " Tandas Maliq,


"Yakin kesel?, penasaran apa kesel?, " Goda Noni sembari tertawa, membuat Maliq kembali merasa terpekik oleh ulah Noni.


"Dasar Aneh!!," Umpat Maliq.


"Aneh tapi bikin penasaran kan?, " Tanya nya di iringi tawa kecil di dalam bibirnya, Tatapan Nakal nya semakin membuat Maliq terpekik.


Rido melihat percakapan diantara kedua nya, dan seperti nya Rido menyukai sosok Noni. Sosok perempuan muda yang pintar, tangguh dan juga sedikit Humoris. Rido berpikir jika Noni dan Maliq memiliki selera yang sama, dan Rido melihat kecocokan diantara kedua nya.


"Anak gadis yang pintar, Aku melihat jika dia adalah wanita yang baik untuk Maliq." Gumam Rido.


Rasa penasaran itu terus-menerus memenuhi benaknya hingga memberikan getaran aneh di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2