TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
Merasa tidak mengerti


__ADS_3

Keesokan Harinya.


”Halo” sapa Rido, Dibalik ponsel yang ia pegang. Entahlah siapa yang sedang menghubungi Rido. Namun Aku melihat sepertinya Rido sedang mencoba menahan emosinya. Rido berbicara memakai bahasa Turki dan jelas saja Aku tidak mengerti apa yang sedang Rido bicarakan.


”sayang, Aku harus segera pergi. “ ujarnya.


”kemana?, bukankah hari ini kita akan pergi berdua” tanyaku kepada Rido.


”Aku harus bertemu clientku, Aku tidak mungkin mengabari Dhan.” Aku terdiam sejenak, Aku mencium bau tidak sedap didalam tatapannya. Rido tidak pernah terlihat Segusar ini. Rido berganti pakaian, Aku tetap duduk sembari menyusui MaliQ.


”Dhan hari ini berangkat untuk berbulan madu, dan aku tidak ingin mengacaukan rencana bulan madunya” Gumam Rido, Aku hanya mampu mendengar ocehannya yang terlihat sedang menahan kekecewaan.


”Sayang, kau tidak marah kan?, secepatnya aku akan kembali dan Kita pergi berdua untuk mengeksplor kota Istanbul!” Serunya kembali.


”Sayang, seperti nya kau sedang terlihat gusar?, apa lebih baik aku ikut menemui client mu itu” tanyaku, Rido terdiam Namun sepertinya Rido tak ingin aku ikut dengannya.


Tok.. Tok..


suara ketukan pintu terdengar begitu sangat jelas, Rido segera membukannya dan terlihat Papa sudah mematung berdiri di depan pintu kamarku, dengan pakaian yang terlihat Rapi. Papa segera mengajak Rido untuk pergi.


“Siapa client itu, Dan mengapa Papa juga terlihat sangat terburu-buru. Tuhan lindungilah suamiku dan Papa mertuaku’ batinku bergumam.


”Sayang, Aku dan Papa berangkat dulu iya” Rido mencium keningku dan mengecup kening MaliQ yang sedang didalam pangkuanku. aku pun mencium punggung tangan Rido dan tersenyum kepadanya.


*****


di tempat lain, Rani sedang berbincang bersama Ibu dan Mama. Rani sedang bercerita mengenai kehamilannya yang kedua. ibu sangat senang mendengar kabar kehamilan Rani yang sudah mulai ia ceritakan.


”Ibu, tapi mengapa dengan kondisiku saat ini berbeda.”


”sayang, setiap kehamilan itu selalu berbeda.” ucap Mama, Ibu tersenyum dan mengusap lembut wajah Rani.


”iya, Mama benar. Tapi kamu harus tetap berpikiran baik. Janin sangat membutuhkan pemikiran yang positif” Timpal ibu.


”Cie, lagi cerita tentang kehamilan nih” seruku seraya duduk disamping Mama.


”Iya kak, Aku lagi cerita mengenai masa ngidam ku saat ini. Sebenarnya sih kemarin Richard gak ngebolehin aku untuk datang kesini, tapi aku nya aja yang maksa untuk datang” Ucap Rani, Mama mengambil alih MaliQ yang sedang didalam gendonganku.


“seharusnya kalau memang kata dokter tidak memungkinkan, mengapa kamu harus memaksa sih!” Gerutuku kepadanya, Aku sangat mengkhawatirkan Rani, usia kehamilan Rani menginjak usia 3bulan, atau 12week. Dan setahuku, usia saat ini sangatlah rawan dengan kondisi Rani yang sekarang.


”Aku kan udah disini, jadi Kaka tenang aja” ujarnya, aku mencubit pipinya gemas karena mendengar jawabannya lolosnya itu.


”Tante, May, Rani. Aku pamit sebentar pengen cari udara segar” Pamit Shaloom, Aku merasa ada hal aneh yang sedang menyelimutinya. Semenjak ia mengetahui kabar mengenai Om Jose, ia lebih suka untuk menyendiri dan beberapa kali aku, Rido ataupun yang lainnya sering sekali mendengar isak tangis dari kamar yang ditempati Shaloom. Rido sempat bertanya kepada Yofie Namun, Yofie terlihat menyembunyikan sesuatu mengenai istrinya.


”Iya Kak, Apa mau aku temenin kak”


“Gak usah May, Aku butuh waktu untuk sendiri” jawabnya.


”Yaudah, tapi Kak Shaloom bawa ponsel kan” tanyaku mengkhawatirkan sesuatu terjadi padanya.

__ADS_1


”bawa kok, kamu tenang aja” Shaloom segera melangkahkan kakinya untuk pergi mencari udara di luar, Aku melihat tatapan mata kosong ada di raut wajah cantiknya.


”kak, kenapa lagi dengan Kak Shaloom?” Tanya Rani.


”enggak tahu!, Ran, kamu bisa Bantuin aku gak?” Aku mengalihkan pertanyaan Rani, Aku gak mau Rani tahu masalah Shaloom ini. Karena semakin aku menceritakannya semakin luas lagi aku membicarakan Aib Om Jose dan aku gak mau itu terjadi.


”bantu apa?”, Rani menatap lurus ke arahku, sepertinya aku sedang memikirkan hal lain hingga Rani bertanya kembali dengan tegas kepadaku. “Kaka, mau minta bantuan Apa?, malah melamun” gerutunya.


”lihatlah buk,Mam Kaka minta tolong tapi gak jawab pertanyaan aku!” Timpalnya kembali.


”Aku mau minta bantuan kamu buat desain gaun yang nanti akan aku pakai di grand openingnya perusahaan Rido yang baru” ucapku.


”boleh, nanti aku Bantuin iya. Emang nya kapan?” Tanya Rani.


”masih 1 bulan lagi sih Ran”


“yang jahit Mami jully kan?” Tanya Rani, Aku menggelengkan kepala sembari mengerucutkan bibir.


”Tante jully kan lagi sibuk, dia sekarang benar-benar sibuk” ucapku sembari merasakan kecewa.


”iya, orang galerinya aja aku yang suka Check. Mami kan sekarang udah ayo internasional. Yan syukur sih apalagi papah udah dapat jaminan dan bisa temenin mami kemana-kemana. Jadi lebih santai aja katanya”


”iya, ibu bersyukur sekali. Cita-cita mami mu tercapai dan jully sekarang sudah terlihat lebih segar”


”Iya, terakhir kali aku minta tolong saat akan menghadiri acara di Jerman. Dia yang menjadi desainer pakaian ku saat itu. Dia bercerita bahwa sama dan dia akan segera menikah.” Timpal mama.


”Papi sangat mencintai kami, dan Aku merasa sangat beruntung dengan itu. Hanya saja terkadang aku masih tetap meras sepi karena tidak bisa hidup berdampingan dengan Ibu dan juga Kak May.” Keluh Rani membuatku bersedih.


”aaaah, Rani kau membuatku bersedih” aku memeluk Rani, kami saling melepas pelukan satu sama lain. Dan ibu terlihat meneteskan air mata saat mendengar keluhan Rani.


*******


Rido POV.


saat aku sedang bersiap untuk mengajak istriku menikmati waktu untuk kita berdua, Papa menghubungi ku melalu pesan singkatnya.


~* Kaka, Papa mendapat kabar dari Papa mu. Jose ada di ankara. Zain dan Yofie sudah terlebih dahulu pergi kesana. (Papa Gusti)*


~baik lah Pap, Aku akan mencari alasan untuk membatalkan kepergianku, mengajak May berjalan-jalan di sore ini (Aku)


~biar Papa suruh sabiq menghubungimu. (papa Gusti)


“Kenapa sayang?” Tanya May.


”ada pekerjaan penting, sayang” tak lama kemudian sabiq berpura-pura menghubungiku dan berbicara seakan client pentingku. aku memang sengaja tidak memberitahukan siapa-siapa untuk sementara ini. Karena, Aku tahu jika aku memberitahu May ataupun yang lainnya. Mereka akan sangat mengkhawatirkan kami.


(‘Yang aku takuti, Om Jose benar-benar di culik oleh Mapia besar. Karena Papa Hendra bilang jika terakhir kali Ponsel Om Jose berhenti di turki’ - Gumamku dalam hati)


”Sayang, Aku dan Papa berangkat dulu iya” Pamitku padanya , Aku mencium keningnya dan juga mengecup kening MaliQ yang sedang didalam pangkuannya. May mencium punggung tangan ku dan Aku melihatnya tersenyum kepadaku. Entahlah, May memang sosok wanita yang tidak menjadi wanita penuntut dimata ku. Terkadang aku malu dengan kesabarannya itu.

__ADS_1


Aku dan Papa segera masuk kedalam mobil, didalam mobil yang sedang kami tumpangi Papa bercerita mengenai permintaan Shaloom kepada Papa.


”Shaloom mohon Om, biarkan Shaloom yang menukar diri Shaloom dengan Papa. Shaloom mengenal Tuan Huangyun, dia pasti akan membantu Daddy untuk keluar dari  masalah ini. Dan Aku tahu siapa yang menjadi musuh besar Daddy. Dia seorang Mapia besar yang dikenal kekejamannya, Dia yang pernah ingin menjadikan ku sebagai istrinya. namun saat itu daddy menolak Dengan alasan Aku sudah menikah dan memiliki anak. Dan sepertinya Daddy ketahuan berbohong” ucap Papa yang memperagakan gaya bicara Shaloom, Papa menceritakan kegundahan Shaloom yang menemui nya pada malam hari.


”Lalu, Apa papa dan Papa Hendra tau siapa yang dimaksudkan oleh Shaloom?” Tanyaku.


”dia belum menyebutkan Namanya, Papa melarangnya untuk menghubungi Orang itu” ucap Papa.


”Apa ada nama yang Papa tahu?”


“Jelas Papa dan Papa Hendra tahu, dia sempat melakukan kerja sama bersama kita” jawab Papa.


”siapa dia Pap?, Apa Tuan Hang?” Tanya ku, Papa menganggukan kepalanya.


”Tidak mungkin Pap, dia orang yang sangat lembut. Bahkan kerja sama antara kami terjalin karena May yang memenangkan tender itu” ucapku, Aku merasa heran dengan apa yang Papa beritahukan.


”Awalnya Papa juga tidak mengira Namun, setelah papa selidiki perusahaan Jose. Memiliki banyak sekati hutang kepada Tuan Hang. Dan yang Papa mu tahu Tuan Hang adalah anak angkat dari Tuanhuangyun. Dan tuan huangyun sudah Papa hubungi. Ia akan membantu mencari tahu keberadaan Jose. Dan di sinilah puncaknya.”


”Apa Om Jose masih hidup?” Tanyaku.


”Hanya Tuhan yang tahu, tuan Huangyun saja tidak mengetahuinya. Dia bilang jika dia memang sudah sangat lama tidak melihat tuan Hang menemuinya.” Seru Papa, Aku semakin keheranan dan tidak mengerti dengan masalah ini.


”Aku bingung, mengapa orang sebaik Om Jose bisa menjalin hubungan dengan seorang Mapia.” Gumamku.


”Seperti kita, sepertinya Jose tidak tahu jika Tuan Hang adalah seorang Mapia besar. Dan kita pun tidak tahu jika dia seperti itu, namun kita sudah terlanjur melakukan kerja sama” ucap Papa, Aku merasa terpekik kala tahu tuang Hang adalah seseorang yang sangat berbahaya.


”Kita memang tidak boleh memiliki perasaan buruk terhadap orang Namun, kita harus lebih berhati-hati” Ucap Papa, Aku mengangguk dan tetap merasa tidak percaya dengan masalah yang sedang terjadi.


Aku melihat Papa sedang menghubungi Zain, Papa terlihat sangat mengkhawatirkan mereka apalagi, Papa Hendra belum juga datang untuk menghampiri mereka.


”Haloo, “ sapa Papa.


”iya, Kamu masih aman kan?, apa ada pergerakan yang mencurigakan” tanya Papa


”baiklah, Om dan Kaka mu sedang dalam perjalanan Untuk bertemu dengan Tuang Huangyun dan papa kalian. Kabari om jika terjadi sesuatu dan berhati-hati lah” ucap Papa kembali sembari menutup teleponnya.


”bagaimana Pap?”


”satu rumah besar yang terlihat seperti bangunan tua, namun saat ini bangunan itu terlihat seperti kosong” seru Papa.


”Apa tidak ada yang menjaga?” Tanyaku.


”Tidak namun terlihat dari luar, pintu gerbang seperti di gembok” ucap Papa.


”Apa yang akan kita lakukan Papa?, Aku merasa om Jose tidak berada di sana” seruku,


“Papa juga berpikir seperti itu Kak, Namun sebaiknya kita melihat saja dulu keadaan itu. Kita bertemu saja dulu dengan Tuan Huangyun.” Ucap Papa.


“baiklah, Aku harap adik-adik ku berada dalam posisi Aman di sana” gumamku kembali.

__ADS_1


__ADS_2