TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Puisi Pengkhianatan dari Rayna.


__ADS_3

Malam itu Richard segera memeriksa keadaan Rayna, Richard menggelengkan kepalanya. Ia pun tak segan menatap wajah Faaz dengan tatapan iba nya.


"Bagaimana Uncle?" Tanya Faaz.


"Biarkan dia Istirahat, jangan buat hatinya terguncang." Ujar Richard.


"Baiklah, " Faaz terkulai lemas, Ayah Rayna yang juga seorang sahabat Rido datang menemuinya ke kamar.


"Ayah.." Faaz memeluk tubuh Harry, "Maafkan aku, Aku tak menyangka akan terjadi hal seperti ini." ucap Faaz, Harry terlihat memegang kedua pipi Faaz dengan kedua tangannya itu.


"Aku tahu, Ini semua bukan murni kesalahanmu. Aku sudah menikahkan mu dengan Rayna dan itu artinya apapun yang terjadi diantara kalian sudah bukan kewajiban ku untuk mengurusnya."


"Faaz dengarlah kini kau memiliki tanggung jawab besar, berikan Dia sebuah pengertian." ucap Harry, ia memeluk Faaz dan berpamitan untuk pulang karena Acara resepsi pernikahan Aliq dan Fizzy telah usai


"Bagaimana keadaan kakak ku?." Tanya Aliq.


"Ini semua salah ku Liq." Ungkap Faaz, Ia terlihat sangat frustasi.


"Sudahlah Faaz, kumohon jangan membuat dirimu seperti ini. Aku akan membantu mu menjelaskan semua kepada Rayna." Tandas Aliq seraya menenangkan hati Faaz, Natasha pun datang ia melihat kondisi Rayna yang menyedihkan. Air matanya menetes tak beraturan, seakan ia merasakan luka yang sama seperti Rayna.


"Faaz, malam ini kau harus menemani dia." Ucap Natasha, "Tuk esok dan hari-hari selanjutnya, kau tak usah membagi malam mu dengan ku. Cukup temani Kak Rayna Aku sudah sangat bahagia Faaz, jangan buat dia menderita hanya karena Aku." Natasha membuat Faaz menohok menatapnya, Faaz seakan tak ingin mengiyakan permintaan Natasha.


"Kau tak usah dan tak perlu berbicara seperti itu Natasha, Aku akan selalu menemani mu dan menemaninya. Aku tak bisa melepas mu ataupun dirinya, ku mohon beri Aku waktu." Natasha menangis di dalam dekapan Faaz, Aliq dan yang lainnya pun terlihat sangat bersedih melihat kedua wajah yang merasa berdosa.


"Kalian, istirahatlah. Kalian pengantin baru dan sudah seharusnya berada di kamar. Dan Papa, Ku mohon istirahatkan dirimu."


"Alea, Qabil antar kan Papa ke kamarnya." Pinta Faaz, Alea dan Qabil pun segera pergi mengantar Rido untuk ke kamarnya.


"Dan Kau, pergilah ke kamar sendiri. Malam ini aku harus menemani nya, Maafkan aku Natasha." Natasha menganggukkan kepalanya, Ia segera bergegas melangkahkan kaki untuk pergi ke kamarnya.


"Faaz bisakah kita bertiga berbicara sebentar." Ucap Zain, Zain dan Richard ingin sekali berbicara bersama dengan Faaz.


"Apa ada masalah lagi selain ini Uncle?." Tanya Faaz, "Aku sangat lelah Uncle," Keluhnya sembari memeluk Uncle kesayangannya itu.


"Tidak, Ini mengenai Aidil." Ucap Zain,


"Baiklah, kita berbicara di ruangan ku." Ajak Faaz.


.


.


.


.


*******


Keesokan Harinya.....


### ***CINTA HANYALAH CINTA...###


DIA datang dan pergi dengan SESUKA HATI...


BAHAGIA DALAM KEBERSAMAAN hingga


SEDIH DALAM PERPISAHAN


Cinta yang pergi, Hati Pun yang merana

__ADS_1


Seperti larut dalam kenangan sosok yang di tinggalkan.


Pemilik hati telah jauh pergi, menyisakan kenangan indah dan tinggalkan kekosongan di hati.


Kemana hati ini melangkah!!!


KETIKA CINTA SEJATI TELAH PERGI, dan


KEMANA HARUS KUCARI LAGI, Ketika gelap pun terus menghantui.


Lautan tak berujung, Langit pun tak tersentuh


Yang telah pergi, takkan pernah kembali.


Kenangan cinta sejati pun terus kekal nan Abadi.


Mencoba bertahan di tengah kepungan badai cobaan, Lelahku dalam melangkah menggenggam cinta yang sungguh menyakitkan.


Warna pelangi hanyalah semu yang Aku rasakan, dan Kini warna semu telah hilang tersalip Awan-awan biru yang menderu


Lupakanlah semua cinta, Kenangan dan janji-janji hati.


Kepastian sudah diberikan Namun, Pengkhianatan menjadi jawaban.


Cinta sejati ku kini telah ternodai, dan


Hampa terasa sunyi di dalam jiwa ku.


Kini Aku menanti harapan melepas Masa-masa kelam.


Melangkah maju menuju sebuah harapan, Ku harap cinta sejati sudah pergi jauh walau membekas pilu dan ditelan oleh sang waktu***.


Rayna seperti nya tak ingin mendengar apapun yang Faaz jelaskan, semenjak keadaan kemarin. Rayna lebih menutup diri dan tidak ingin bertemu siapapun.


"Faaazzzz." Rayna mengangis, mengucap serta memanggil nama suaminya dengan panggilnya Lirih.


Tok... tok (Suara pintu terdengar diketuk dari luar)


Natasha mencoba untuk berbicara dengan Rayna, Namun Rayna memilih untuk tidak membuka nya. Jangankan Natasha, Rido pun tak memiliki kesempatan untuk sekedar berbicara bersama Rayna.


Ceklek|||


Natasha mencoba memberanikan diri membuka pintu kamar milik Rayna. Setelah ia masuk, terlihat oleh nya sosok Rayna yang sedang duduk di atas kursi roda menghadap jendela kamarnya. Dia seperti sedang meratapi nasib kesialannya, Rayna menyimpan sejuta saat mengetahui kala Natasha sedang mengandung bayi hasil pernikahannya bersama Faaz.


"Kak Ray... " Panggil Natasha.


"Maaf jika Aku lancang, Aku ..." Kalimat Natasha terhenti saat ingin memulai pembicaraan bersama Rayna.


"Lancang?." Tanya Rayna ketus, "Baru sadar kalau kamu lancang?." Rayna tetap dengan posisinya, Ia hanya melihat Natasha yang sedang tertunduk di hadapannya melalui bayangan di dalam kaca.


"Dan kau dengan percaya dirinya memanggilku Kaka?." Tanya Rayna, "Sungguh memalukan!!!." Ketus Rayna membuat Natasha bersedih.


"Dengar Natasha, Air mata dan apa yang pernah kau lakukan kepadaku. Aku tak akan merasa berhutang budi padamu!!!." Ia membalikan badannya, Ia seakan ingin berbicara kasar kepada Natasha.


"Simpan Air matamu hingga Anakmu lahir, aku tak akan melepaskan suami ku ataupun berbagi dengan mu." Rayna menghela nafasnya, "Kau yang seharusnya mengalah, lupakan kasih sayang yang Faaz atau Papa Rido berikan untukmu. Apa kau tak merasa jika kau merenggut kebahagiaanku."


"Kak Ray..." Tangan Rayna seakan membuat Natasha berhenti untuk berbicara.


"Seorang wanita yang baik tidak akan membuat wanita lain nya menderita, Kau tak lebih dari seekor kucing yang lapar."

__ADS_1


"Kau haus kasih sayang dari suami orang!!!, Haaaaaahhh Natasha, Natasha."


"Maafkan Aku Kak Rayna, Aku sungguh-sungguh tidak tau..." Kalimat Natasha lagi dan lagi di celah oleh Rayna.


"Tidak tahu!!!, Sungguh alasan yang klasik Natasha."


"Mereka memiliki alasan Kak" Tukas Natasha, Rayna menatap tidak suka kepada Natasha, Natasha menundukkan kepalanya.


"Persetan dengan alasan apapun dari mu ataupun orang-orang yang ada dibelakang kalian, aku tak ingin mendengar apapun dari mulut kalian."


"Dan Kau..." tangan lentik Rayna menunjuk kearah Natasha, "Kau tak lebih dari seekor binatang Jal*** Natasha, Aku tak akan pernah memaafkan mu" Ucap Rayna.


"Aku Mohon Maafkan Aku kak." Ucap Natasha,


"Pergi dari sini, Aku tak sudi menatap wajah sial mu Natasha!!!!!" Tutur Rayna penuh dengan penekanan, Natasha mencoba bersimpuh dihadapan Rayna. Ia memohon agar Rayna memaafkannya, Ia juga ingin Rayna menerima Rido untuk berbicara dengannya.


"Kau boleh tidak memaafkan ku, Kau memang satu-satu nya wanita yang pass untuk Faaz, Aku mohon Kak Ray!!! Jangan kau buat Papa Rido yang sangat menyayangi mu merasa berdosa, Aku mohon." Natasha lagi dan lagi bersimpuh di kaki Rayna, Rayna menendangnya dengan sangat keras.


"Kak Ray, Kaki mu?." Tanya Natasha, "itu artinya kau sudah bisa berjalan." Ucap Natasha.


"Ti...tidak..." Jawab Rayna dengan terbata-bata, "Pergilah, Aku muak menatap wajah polos mu. Kepolosan mu hanya untuk merebut hati semua orang disini." Umpat Rayna kembali, Natasha merasa bingung dengan kaki Rayna yang tiba-tiba bisa bergerak. Walaupun hanya duduk di kursi roda, tapi Natasha yakin Rayna sedikit demi sedikit sudah bisa berjalan.


"Pergilah Natasha, Apa kau ingin membuat ku mati Konyol karena terus menerus menatap wajah yang membuat aku Muak!!!." Tutur Rayna kembali, Natasha beranjak dan mulai meninggalkan Rayna.


Di dalam langkahnya, "Aku yakin, Kak Rayna sudah bisa berjalan. kuat sekali dorongan itu, Terlihat kakinya sudah lentur." Gumam Natasha.


"Kak tasha," Panggil Ayana, Ia berjalan setengah berlari.


"Mau nemenin aku gak?" Tanya Ayana dengan Manjanya, "Aku butuh temen buat temenin curhat, banyak banget permasalahan hidupku akhir-akhir ini." ucap Ayana kembali, Ayana mengayunkan lengan Natasha dengan pelan seakan membujuk Natasha untuk mau menemaninya.


"Baiklah, Tapi sebelum nya Aku harus menemui dulu Aaleesya." jawab Natasha, Ayana menganggukkan kepalanya. ia pun berjalan beriringan bersama Natasha untuk menuju kamar Aaleesya.


Saat terjadi argumentasi antara Rayna dan Natasha, ada 2 pasang bola mata yang menyaksikan itu terjadi. dia Adalah Rido dan Ayana, mereka melihat dengan jelas apa yang di ucapkan oleh Rayna kepada Natasha.


Namun Rido sangat merasa bahagia melihat ketulusan hati seorang Natasha, Dia pun merasa iba saat melihat wajah Natasha yang merasa kebingungan. Rido meminta Ayana untuk mengajak nya berbincang, Rido juga meminta Ayana untuk menghibur Natasha yang sedang merasa gundah.


"Natasha, Aku sangat menyayangi mu. aku juga menyayangi Rayna seperti aku menyayangi mu. Aku merasa wajar melihat Kemarahan Rayna kepadamu, Namun Aku harus meluruskan permasalahan ini. Faaz, Kau, tidak bersalah." Gumam Rido.


"Aku pun tak tahu mengenai Kau yang masih hidup dan bertahan dengan mesin-mesin yang Faaz dan Aliq berikan, Aku hanya ingin kebahagiaan Anak mu yaitu Cucu kesayanganku."


"Maafkan Aku Rayna, Maafkan Papa."


"Maafkan juga Papa Faaz, Dan Natasha."


"Semoga Papa dapat meluruskan permasalahan ini sebelum Papa pergi meninggalkan kalian semua, Sebelum Papa bertemu dengan Mama kalian." Gumam Rido sembari menjatuhkan bulir air mata yang ia bendung sedari tadi.


.


.


.


.


.


Author Said : Maafkan Author iya ceritanya jadi Panjang gini, Habisnya Author nyaman banget sama Rido... wkwkw jangan lupa baca juga "Perempuan Surgawi." iya....dijamin endolita, Cocok deh buat nemenin kalian yang lagi #Dirumahaja... semoga kalian sehat terus, Dan permasalahan mengenai Wabah ini cepet selesai..


Stay Safety and Healty iya.

__ADS_1


~Chumeyoks


__ADS_2