TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Flashback mengenai Noni.


__ADS_3

Tok..


Tok..


Tok..


Maliq mengetuk pintu sebanyak 3 kali, Noni yang sedang menangis itu segera menghapus dan menyeka sisa air mata yang masih berada di pelupuk matanya.


Noni terlihat tersenyum walaupun duka masih menyelimuti relung hati nya, kesedihan pun tak bisa Noni tutupi karena wajah yang terlihat usai menangis itu terlihat sangat jelas dan Maliq juga tahu apa saja yang menjadi kalimat yang keluar dari bibir mungilnya.


"Aku bawain Teh! " Noni terkejut mendengar apa yang Maliq bawakan untuknya, "Tapi teh nya udah dingin, soalnya aku tadi lupa di bawah ngobrol dulu sama Abrar! " Ujar Maliq yang sengaja berbohong, ia memberikan alasannya hanya untuk menutupi bahwa ia tahu kesedihan yang sedang Noni rasakan.


"Oh gak apa-apa Tuan kejam, terimakasih" Ucap Noni seraya tersenyum sangat manis.


"Ya ampun, masih aja ngajak berantem" Gerutu Maliq kembali, dahi nya mengkerut sebal.


"Siapa yang sedang mengajak mu berantem Tuan?, Apa ada orang dibawah sana?, " Cetus nya dengan polos membuat Maliq merasa gemas kepadanya.


"Kau!, " Tunjuk Maliq.


"Aku?, " Tanya nya dengan heran.


"Iya Kau!, " Noni masih saja tidak mengerti apa yang sedang Maliq maksudkan, Noni menggelengkan kepala nya dengan pelan.


"Dasar kau, baik nya hanya sebentar!! " gerutu Noni di dalam hatinya, "Ada apa dengan kejiwaan mu Tuan Maliq kejam!!, " Ujarnya kembali di dalam hati seraya menatap wajah Maliq dengan tatapan lekatnya.


"Hei!, Aku membawakan mu segelas Teh. walaupun dingin mengapa kau tak mau mengambilnya dari tangan ku! " Bentak Maliq bernada setengah tinggi, "Dan berhentilah memanggil ku dengan sebutan Tuan kejam!!, panggil aku Maliq saja. Bisa kah? "


Noni tertawa melihat kalimat-kalimat yang Maliq ucapkan, sembari tertawa ia pun segera membawa segelas Teh yang sedari tadi Maliq sodorkan untuk nya. "Maaf Tuan, Ups.. "


Ia menyeruput teh manis hangat yang kini sudah berubah jadi dingin dan hambar, "Mali maksudku! " Sembari meneguk tawa kecil itu terdengar apik di dalam bibirnya..


"M A L I Q!" Maliq mengeja setiap huruf yang menyatukan namanya, "Bukan Mali! " Ujar nya kembali.


"Iya, Iya maaf Maliq" Ucapnya kembali.


"Manis namun sedikit hambar" celetuk nya dengan sengaja.


"Hambar?, " tanya Maliq sembari menggelengkan kepalanya, Maliq memelototi nya. tak hanya itu Maliq menatap wajah Noni dengan tatapan yang sangat tajam.


"kenapa dengan wajah mu Tuan, Astaga!," Ucap Noni seraya melihat wajah Maliq yang terlihat tertekuk.


"kau bilang Teh manis buatan ku hambar." ucap Maliq kembali membuat Noni semakin terkekeh-kekeh mengeluarkan tawanya.


"Karena aku meminumnya sembari menatap mu! jadi rasa manisnya tertarik oleh wajahmu Tuan! " Celetuk Noni kembali membuat Maliq salah tingkah.


"Maaf Tuan Mali, maaf karena aku membuat mu tersinggung" sambung Noni sembari tertawa kecil kembali, ia seakan telah membuat Nono bahagia.


"M A L I Q" Ejaan nama Maliq terdengar lebih keras sekarang, Maliq juga mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah Noni.


sembari memberikan tanda bulat ditangannya, "Oke oke Maaf!! " Seru Noni kembali.


"Setidaknya Aku udah buat dia tertawa! Noni Noni" Gumam Maliq di dalam hatinya.


"Mmmh*.." Noni masih anteng menyeruput teh dingin itu, "Sumpah manis nya kerasa banget, enak seperti bikinan Mama dulu!, " Gumam nya di dalam hati.


Noni menikmati teh tersebut, "Aku sengaja membuatnya tidak bosan dengan menggoda nya jika teh ini hambar, kau manis sekali Tuan jahat dan aku suka melihat wajah mu ketika kesal kepadaku! " Gumam Noni kembali di dalam hatinya.


"Duduklah!, kau mau berdiri terus?, " Tanya Noni sembari nyeleneh itu.


"Kau tidak mengantuk?, " Tanya Maliq.


"Tidak!, " Jawab Noni, "lebih ke belum ngantuk!, " sambungnya kembali sembari meletakan gelas tersebut.


"Mau ganti pakaian?," Tanya Maliq.


"Aku kan belum pulang, lagian Kalau pulang pasti menempuh jarak lama" Ujar nya.


"Ya sudah pakai pakaian Kak Fizzy aja!," Ucap Maliq, "Dia udah pindah tapi sebagian pakaian nya masih ada disini, maksudku pakaian yang mungkin tidak di pakai lagi" Ucap Maliq kembali.


"Ah enggak usah, besok pagi Noni bisa pulang dulu bawa pakaian. lagian Noni seneng bisa tinggal dan urus Alea disini" Ucapnya, "Kalau di tempat Noni, selepas Noni main Laptop pasti Noni berdiam sendiri setelah itu melamun kan wajah cantik Mama" Tuturnya membuat Maliq terkejut, Ia sempat menyangka jika Noni memang hidup sebatang kara.

__ADS_1


"Benar apa yang aku sangka, dia memang hidup hanya sendiri! " Batin Maliq kembali bergumam.


"Gak apa-apa dong untuk malam ini, kau pakai pakaian Kaka ku saja. dia baik dan tak akan marah, kalau pakaian Kak Alea aku tak berani memberikan nya" Ucap Maliq, "Lalu kamu tinggal dimana?," Tanya Maliq.


"Dulu Aku tinggal bersama orang tua Shawn, namun seiring berjalan nya waktu. aku selalu merasa gak enak sama Mama tirinya Shawn lalu aku memutuskan untuk bekerja dan mendapatkan gaji, Aku tinggal di sebuah Apartemen. ya walaupun gak besar, gak luas tapi tempat itu cukup buat ngabisin waktu sendiri" Gumam nya.


"Aku juga gak disini kok!, " ucap Maliq, "Cuma lagi dapet kabar gini, aku memutuskan untuk tinggal disini lagi sementara" Ucap Maliq kembali.


"Kenapa?, rumahnya kan luas banget. pasti banyak kamar yang kosong!, " Ucap Noni.


"Kamu juga kenapa gak tinggal sama Ayah mu? setahu ku, Dokter Hans tinggal seorang diri. dan dia cukup kaya!, " Ujar Maliq, Noni menundukkan kepala nya seakan ia ingin menutupi rasa gundah dan sedih nya.


"Noni maafkan Aku! " Ucap Maliq.


"Emmh, Gak apa Maliq. mungkin emang seharusnya sekarang aku melepaskan beban di kehidupan ku, karena selama ini Shawn pun selalu saja bertanya akan hal itu kepada ku dan Aku selalu tak ingin menjawabnya!, " Tutur nya membuat Maliq merasa ada hal yang sangat janggal, Ia merasa jika Noni memang memiliki masalah yang sangat besar di dalam kehidupan


nya.


"Jika tidak merasa keberatan, cerita lah. Aku mau jadi pendengar yang baik, lagi pula kau juga tahu kan bagaimana keadaan di dalam keluarga ku" Ucap Maliq.


"Baiklah, jika waktu mu masih banyak dan tidak mengantuk Aku akan bercerita." Gumam Noni, Maliq menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menatap Noni.


"Entahlah mengapa dia malah membuatku nyaman!," ucap Noni di dalam hatinya, batin nya merasa jika Maliq adalah teman lelaki yang baik untuk nya walaupun pada awalnya ia dan Maliq mengalami hal yang berbeda.


"Mama ku mengalami gangguan kejiwaan sedari kecil, percis dengan apa yang Alea alami." Maliq tak mau menyela kalimat yang sedang Noni ceritakan, Maliq pun berusaha mendengarkan setiap ceritanya.


"Lalu Kakek ku meminta Papa untuk menikahinya, saat itu Papa adalah lelaki yang sama sekali tidak mencintai Mama, mama ku sempat sembuh dan melahirkan aku dengan normal."


"Aku hidup diantara dua keyakinan, dan saat itu aku bingung untuk menentukan pilihan. lalu usia ku beranjak dewasa, usia ku saat itu 14 Tahun, pertama kalinya Aku melihat kegilaan Mama muncul di hadapan ku"


"Aku menangis dan tak mengerti mengapa Mama seperti itu, aku bertanya pada Papa. 'Papa mengapa dengan Mama?' Papa hanya terdiam, dan saat aku melihat sebuah berkas di meja kerja Papa ku, aku membaca satu buat lembar berisi gugatan perceraian yang Kakek ajukan untuk Mama dan Papa ku! "


Mata noni mulai membendung kesedihan, Maliq tahu apa yang Noni rasakan.


"Menangis lah Noni, buang semua derita yang kau rasakan saat ini!" Ucap Maliq.


Noni pun menangis, ia tak kuasa menutupi perasaan sedihnya.


"Aku bertanya, mengapa semua ini terjadi disaat Mama ku berubah gila dan Kakek malah mengajukan hal itu, awalnya aku merasa apakah Papa yang meminta kakek, atau kah memang benar memang tidak ada kata cinta untuk Mama dari Papa sehingga kakek ku lebih memilih untuk memisahkan keduanya."


"Lalu perceraian itu sudah berhasil, tanpa menawarkan tempat tinggal bersamanya, tanpa mengajak ku hingga tanpa berpamitan kepada ku. Papa pergi begitu saja, Aku tak tahu mengapa Papa seperti itu, hingga suatu saat Aku merasa ingin menanyakan hal itu kepada Papa.".


"Aku pergi menghampiri Papa, di saat hari ulang tahun ku. dan Papa menyambut ku dengan cukup baik, menurut ku sih. mungkin tidak dengan anak-anak lain."


"Aku menangis di hadapan Papa, usia 18 Tahun yang mungkin saat itu kamu sedang merasa bahagia, tidak dengan ku. Aku menceritakan bagaimana sukar nya aku, saat Kakek ku meninggalkan kami dengan hutang yang cukup banyak, sampai aku bercerita bahwa rumah megah Kakek ku disita dan kami tinggal di sebuah kontrakan kumuh, aku mengeluhkan semua yang aku rasakan kepada Papa ku!, "


"Dan sudah Aku duga, respon Papa benar-benar acuh akan masalah yang aku alami. Papa hanya terdiam menatap ku, Aku merasa Papa tidak menyayangi ku." Ujar Noni seraya menangis tersedu-sedu.


"saat itu Papa hanya bertanya, 'Kau mau lanjutkan kuliah di bidang apa? Papa yang akan biayai kamu!', dan tidak ada respon apa-apa lagi dari nya" Ucap Noni.


"Apa kau bertanya mengenai rasa Acuh papa mu?" Tanya Maliq, Noni menganggukkan kepalanya dengan pelan, "Lalu apa jawaban Dokter Hans?," Tanya Maliq.


"Dia memberikan satu buah surat, " ucap Noni, "Satu lembar yang sampai saat ini membuat Aku menyesal karena telah membaca nya! " Gumam Noni kembali.


Maliq mengusap lembut air mata yang jatuh membasahi pipi Noni, "Kalau Noni gak kuat, gak usah di lanjutin ceritanya! " Ucap Maliq, Noni menggelengkan kepalanya. sepertinya Noni ingin tetap melanjutkan kisahnya kepada Maliq.


"Di surat itu tertera jika Papa mengalami kemandulan, lalu Aku bertanya. Aku anak siapa? mengapa Aku bisa terlahir dan papa menceritakan, jika aku bukan lah anak mereka. aku sengaja Kakek ambil dari sebuah panti asuhan, saat itu mama dan papa belum menikah. mama ku sempat memiliki bayi namun, bayi itu diambil oleh ayah biologisnya dan kakek juga Papa ingin mengobati mama. tanpa disangka Papa malah merasa berdosa karena telah menikahi Mama tanpa cinta, dan akhirnya Papa meminta kakek untuk mengajukan gugatan perceraian atas nama Mama."


"Hari-hari aku lalui dengan perasaan sakit, merana dan menderita. namun di satu sisi, ada hal yang harus membuat ku kuat. aku harus bisa berbakti mengurus Mama ku yang semakin parah sakitnya, sampai saat aku pulang dari rumah Papa, kenyataan pahit menimpaku kembali" Ucap nya.


"Aku melihat Mama bunuh diri dengan menggantungkan dirinya di kamar mandi, Aku frustasi dan hampir depresi. Papa menitipkan ku pada Papa shawn, dan saat itu Mama tiri Shawn selalu saja menjadikan aku pembantu di rumahnya, aku ingin sekali mengadukan hal itu kepada Shawn namun, aku tak ingin malah membuat Shawn semakin membencinya."


"Saat Aku memutuskan untuk pergi dari rumah Shawn, aku tinggal sebagai tunawisma. baju hanya 3 pasang yang aku bawa, sampai aku hanya tinggal dan tidur beralaskan tikar yang aku bawa selama hidup dijalan."


"Kuliah mu?, "


"Aku menolaknya, aku bertekad membiayai diriku sendiri, dan saat itu aku bertemu dengan seorang wanita yang sangat baik, hingga saat ini Ia sangat menyayangi ku, ia memberikan pekerjaan kepadaku menjadi seorang pelayan di restoran miliknya, Aku bekerja siang dan Malam. walaupun saat itu bunda melarang ku, namun tekad ku untuk bisa kuliah adalah tujuan utama ku" .


"Dan akhirnya aku memulai kuliah ku di usia 20 tahun, Aku bertekad lulus secepatnya dan saat itu dosen penguji ku adalah Uncle Harley andrew, yaitu adik dari Papa Hans dan mungkin ia memberikan kabar kepada Papa, Papa mengucapkan selamat hanya melalui pesan singkat, saat itu Aku merasa bangga dengan diri ku sendiri."


"Kamu masih bekerja menjadi pelayan?, " Tanya Maliq.

__ADS_1


"Tidak, Bunda sudah menutup restoran nya. Ia sudah pindah ke negara lain, tapi walaupun begitu kami masih berkomunikasi dengan baik hingga hari ini" Ucap Noni


"Aku gak nyangka ternyata berat sekali permasalahan di kehidupan kamu, kamu bener-bener fokus raih cita-cita kamu. Aku sendiri malah mundur-mundur untuk Lulus karena ngerasa belum yakin aja!," Tutur Maliq.


"Kalau yakin, pasti Tuhan kasih jalan!," Ujar Noni, "Dulu Aku selalu menganggap Papa adalah Panutan ku, Aku juga baca setiap buku yang Papa tulis. dengan menabung uang jajan, aku mampu membeli buku yang Papa jual"


"Karena selain menjadi psikolog hebat, Papa juga penulis yang baik. dan walaupun Papa tidak memperhatikan ku, Aku tetap mencintai nya seperti seorang anak perempuan kepada ayah nya dan itu lah yang membuat ku menjadi seorang psikolog, aku ingin hebat seperti nya"


"Papa pernah menulis di salah satu bab nya.. 'Jangan tanyakan pada diri Anda apa yang dibutuhkan dunia. Bertanyalah apa yang membuat Anda hidup, kemudian kerjakan. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang yang antusias' dan Kalimat itu selalu menjadi motivasi untuk Aku menggapai semua keinginanku.


"Sadari kekuatan, talenta, dan minat terbaik dalam diri kamu dan jangan tergoda untuk mengurusi kelebihan dan kekuatan orang lain. Fokuskan energi dirimu untuk menjadi yang terbaik di bidang mu. Lalu, telusuri minat dan lakukan hal-hal yang kamu sukai dengan ikhlas dan terus belajar. Bila perlu tanyakan pendapat orang-orang terdekat mu karena mungkin mereka mengetahui kekuatan yang mungkin tidak kamu sadari.


"Papa pernah berucap langsung kepada Shawn di depan ku, Aku ingin Papa mengucapkan kalimat itu kepada ku. namun entahlah, "


"Aku bener-bener merasa hidup setelah membaca itu, tapi Papa gak tau kalau aku selalu beli buku yang Papa tuliskan" Ujarnya, Maliq merasa kagum dengan sosok Noni yang ternyata tidak mau memiliki rasa dendam. berbeda sekali dengannya yang selalu saja menyimpan rasa sakit hatinya kepada Faaz juga Papanya.


"Betapa beratnya kehidupan dia, Aku yang tak seberapa malah membuat rumah menjadi keruh. cerita masa lalu mu Bener-bener mengubah jalan hidup dan pikiran ku! " Gumam Maliq di dalam hatinya.


"Noni bolehkah aku bertanya?, " Tanya Maliq.


sembari mengangguk pelan, Noni berucap "Katakanlah dan tanyakanlah, jika aku mampu menjawab Aku akan menjawab" senyum nya membuat Maliq merasa senang, walaupun bekas air mata itu masih terlihat. namun Noni mampu memberikan senyuman indah kepadanya.


"Apa yang membuat kamu gak gampang menyerah? padahal kalau mungkin aku jadi kamu, aku bakalan gila! " Ucapnya.


"Saat kita masih diberi kesempatan bangun di pagi hari, itu berarti Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita untuk melakukan pekerjaan yang harus kita lakukan."


"Dan mencoba lah untuk selalu membuat positif diri sendiri, lalu Setelah kamu mengganti pikiran negatif dengan yang positif, kamu akan mulai mendapatkan hasil positif."


"Dan berpikirlah jika kamu lebih kuat dari yang kamu tahu. Lebih cakap dari yang pernah kamu impikan. Dan kamu dicintai lebih dari yang bisa kamu bayangkan karena pada sebenarnya hidup itu sederhana, dan kita lah yang membuatnya sulit."


"Ingat saja kita di sini hanya untuk persinggahan yang singkat. Jangan terburu dan jangan merasa khawatir. Yakinlah bahwa kita menghirup wangi nya bunga sepanjang perjalanan, jangan pernah menyerah ketika kita masih merasa mampu berusaha lagi. tanamkan kalimat seperti ini, Tidak ada kata berakhir sampai kita berhenti mencoba."


"Hidup itu bukan soal menemukan diri kita sendiri, hidup itu membuat diri kita sendiri. jadi lupakan mencari jari diri tapi membuat jati diri sendiri! " Tutur Noni tanpa jeda membuat Maliq merasa semakin kagum,


"Jadi Berpikirlah positif, dan jangan pedulikan seberapa keras kehidupanmu." Tutur Noni kembali, Maliq menepuk tangannya sembari menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak percaya sosok cewe yang selalu dianggapnya Aneh itu membuat nya kagum.


"Lalu bagaimana kamu meredam rasa sakit mu atas perlakuan yang Dokter Hans selalu tunjukan?," Tanya Maliq.


"Oh iya aku juga selalu berpikir seperti ini, Ketika seseorang membuat kita menjadi orang yang paling bahagia dan orang paling menyedihkan pada saat yang sama, itulah saat yang nyata. Itu adalah sesuatu yang berharga jadi buat ku bagaimana pun keadaan Daddy saat lalu hingga saat ini kepada ku, Aku akan selalu merasa jika Daddy berharga di dalam kehidupan ku"


"Karena Daddy yang membuatku berjalan hingga mencapai kesuksesan!, Daddy lah yang memberikan ku motivasi untuk tetap bertahan hidup, meloyalitaskan diri, membuat ku gigih, membuat ku selalu bekerja keras, dan yang paling penting membuat pengalaman kehidupan ku sangat berharga."


"Karena Daddy lah tujuan hidup ku terarah, dia membuat ku menjadi anak yang memiliki usaha untuk mencapai hasil dan tujuan!, "


 "karena bagi ku di cintai seseorang dengan tulus memberimu kekuatan. Sementara mencintai seseorang dengan tulus memberimu keberanian."


"Dan aku bangga bisa ada di dalam kehidupan Daddy dan juga Mama ku!, " Air mata yang sedari tadi surut, berlinang kembali.


"Kesuksesan adalah hasil dari kesempurnaan, kerja keras, belajar dari pengalaman, loyalitas, dan kegigihan. karena Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah tujuan. Usaha sering lebih penting daripada hasilnya." Ucap Rido yang datang menghampiri Noni, "Om senang sekali mendengar kalimat Positif yang Noni ucapkan untuk Maliq" Ucap Rido kembali.


"Terimakasih Om, Maaf jika Noni menggurui Maliq. Noni hanya.. "


"Kau memang pantas menjadi guru ku Noni, " Sela Maliq, Noni terlihat merasa malu dengan kalimat yang Maliq ucapkan.


"Maliq, kau harus banyak belajar dari Noni."


"Iya Papa, " Jawab Maliq sendu, Ia merasa iba dengan apa yang pernah di lalui Noni.


"Papa sangat menyayangi mu Nak!, " Ucap Rido sembari menatap Maliq, "Kau dan semua kakak-kakak mu adalah penyemangat untuk kami!, " Gumamnya kembali, Maliq tersenyum dan memeluk tubuh Rido.


"Dan untuk mu Noni, Anggap Om Papa mu juga, dan jika kau mau panggil saja Om ini Papa Rido seperti Ayana, Qabil, Mael dan lainnya yang selalu memanggil ku dengan sebutan Papa"


"Benarkah Om? Aku sangat senang! bolehkah aku memeluk mu? " Tanya Noni.


"Peluk lah, sin.. peluk Papa" Noni pun memeluk Rido bersamaan dengan Maliq, Noni merasa bahagia saat mendapat pelukan dari Rido.


"Mama, Aku bahagia. Mama gak usah mengkhawatirkan aku, Aku disini sangat bahagia dan semoga Aku bisa memeluk Daddy seperti ini lebih lama lagi!, " Gumam Noni di dalam hati.


"Bahagia itu sederhana, ketika kita hidup dengan cinta dan mereka merasa bahagia karena kita disitulah kebahagian yang sederhana tercipta dan ingat bahagia selalu membuat kita awet muda loh" Ucap Maliq.


**

__ADS_1


IG : Chumeyoks.


Fb : Meyta indri kurniawati***.


__ADS_2