TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. EXtra Part


__ADS_3

"TUHAN,, Berikanlah dia kesembuhan. Jika aku bisa menggantikannya, kau boleh menggantikan rasa sakitnya untuk ku. Rasanya aku tidak mampu melihatnya menderita," Rido tak tega melihat Maliq yang sedang dalam keadan sakit itu, Rido memang sosok Ayah yang selalu saja tak tega melihat anaknya sakit.


"Kau sudah menikah, tapi bagi ku kau tetap putra bungsu ku yang sangat manja, Aku mencintai mu melebihi diriku sendiri, Saat Mama mu mengandung mu, aku tak pernah berhenti mengusap perutnya. aku tak pernah berharap kau seperti apa kelak, aku hanya berharap kau mampu memberikan cinta untuk kami." air matanya menetes, mata Maliq yang sedang tertidur itu menutupi sebuah rasa sakit baginya.


"Papa berharap Tuhan selalu melindungi mu sayang, Papa sangat bahagia memiliki kamu dan juga Kakak-kakak mu. kalian sungguh menjadi anak yang membuat Papa berusaha untuk dekat dengan Tuhan, terimakasih sayang, terimakasih" Ungkap Rido. Rido menggenggam tangan Maliq, Maliq membuka matanya. ia melihat sosok ayah kesayangannya itu sedang menemani dirinya di dalam ruangan ICCU itu. Maliq tersenyuim dan meneteskan air matanya, Rido tersadar jika kedua mata Maliq sedang memperhatikan dirinya.


"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Rido.


"Iya Papa, aku sudah bangun." Jawab Maliq, ia menatap sekeliling ruangan itu. menggerakkan kedua bola matanya kekiri dan kekana, mencari sosok kekasihnya itu yang entah berada dimana.


"Papa sangat tampan, " Ucap Maliq seraya memuji wajah Papanya, walaupun Maliq tahu sisa air mata masih membekas di area netra nya.


Rido tersenyum, "Noni Papa suruh pulang terlebih dahulu," Jawab Rido.


Maliq tersenyum, "Maliq takut Noni meninggalkan Maliq saat Maliq seperti ini Papa," Ucapnya sendu, "Maliq tak ingin kehilangan Noni, jadi lebih baik Maliq saja yang pergi terlebih dahulu,"


Rido menggelengkan kepala nya, "Dia tak henti menatap wajah  mu saat akan pergi, ia sudah berjalan menuju pintu itu lalu kembali lagi dan memeluk kamu, Noni sangat mencintai kamu" Ucap nya.


"Maliq senyumlah, Papa ingin sekali melihat senyuman mu." Pinta Rido, Maliq menuruti keinginan ayahnya itu. ia pun tersenyum dan menatap penuh cinta kepada Rido.


"Tahukah? dulu saat Maliq sering mengeluh sakit kepala. Mama selalu mengusap lembut kepala Maliq dan meniup ubun-ubun Maliq seperti ini, " Rido mengulang apa yang di katakannya tadi, lalu mengulang nya beberapa kali. Maliq sangat senang mendapatkan perlakuan itu.


"Lalu apa lagi yang Mama lakukan saat Maliq sakit?" Tanya Maliq.


"Lalu, Mama membisikkan ayat-ayat suci di dekat telinga Maliq," Ucap Rido kembali dengan menahan tangis nya.


"Maiq ingat itu Papa," Balas Maliq di iringi senyuman, "papa kenapa tidak pulang, Maliq gak apa-apa kok sendirian," Ucap Maliq,


"Papa ingin menemani Maliq, Papa tidak mau berjauhan dengan Maliq," Rido mulai tidak bisa menahan air mata yang sedari tadi dibendung olehnya. air mata itu pun jatuh tak terarah, bahkan air matanya jatuh membasahi tangan Maliq.


"Papa, Maliq mohon jangan bersedih." Ucap Maliq kembali seraya memohon kepada Papa nya.


"Tidak, Papa tidak bersedih. justru Papa bangga. Papa tidak menyangka jika Maliq bisa sehebat ini, Maliq bisa menerima ujian ini dengan sangat lapang" Tutur Rido sembari menangis terisak.


Maliq menyahutnya dengan senyuman lalu berkata, "Pernahkah Papa mendengar sebuah keajaiban?" Tanya Maliq.


"Papa sangat percaya mengenai keajaiban dari Tuhan, dan Papa sangat berharap keajaiban itu datang padamu." Balas Rido.


"Seorang psikolog muda bernama Noni menceritakan, ada seseorang yang bernama Profesor Aldoft, Ia menderita kanker otak stadium akhir sama seperti ku, lalu ia terlihat tegar dan menerima ujian itu. ia tak ingin berpikir negatif mengenai kematian nya, dalam hati nya hanya nama Tuhan dan orang tuanya yang di sebut olehnya dan beberapa hari kemudian, dia kembali sehat dan bugar." Maliq menceritakan mengenai kisah Profesor aldoft, cerita atau kisahnya itu di ungkapkan oleh istrinya sendiri dan Noni kembali menceritakan nya kepada Maliq dengan harapan Maliq akan semangat kembali untuk hidup.


"Dia sembuh total?" Tanya Rido, perbincangan itu menjadi sesi tanya jawab yang sangat hangat untuk keduanya.


"Belum, dia masih mengeluh sakit namun sakitnya berkurang. ia kembali menyebut nama Tuhan dan percaya bahwa rasa sakit nya tidak seberapa dibandingkan dengan dosa yang pernah ia lakukan dan Qadarullah Tuhan memberikan kesembuhan untuknya dan menganggap sakitnya serta vonisnya itu hanyalah sebuah teguran agar dia mengingat Tuhan dan mengingat bahwa dirinya memiliki orang yang sangat berjasa akan kehidupannya."


"Dan Maliq sedang melakukan itu, untuk itu Maliq mohon Papa maafkan segala kesalahan Maliq terhadap Papa. Maliq percaya Tuhan akan memberikan keajaiban untuk Maliq melalui doa Papa, Maliq minta maaf Papa"  Ucapan Maliq membuat Rido merasa sangat terharu.


"Untuk itu Maliq memohon kembali pada Papa, Maliq mohon Papa memaafkan semua kesalahan Maliq" Ucap Nya kembali, air mata nya turun tak terkendali.


"Sayang, " Rido menggelengkan kepalanya pelan, "Papa tidak pernah menganggap kesalahan kalian menjadi sebuah dosa untuk kalian, kenakalan kalian bagi Papa sangat lah maklum. tidak sayang, kalian anak yang sangat baik untuk Papa, bahkan kebaikan kalian melebihi cukup." Rdo kembali memeluk anaknya dan mengecup kepala Maliq, suasana itu berlangsung sangat haru.


Ceklek, pintu terbuka..


Faaz dan Natasha datang dan menyaksikan pelukan diantara mereka.


"Kak Faaz, Kak Natasha," Panggil Maliq dengan pelan, mereka mendekat dan Faaz menarik tangan Maliq dengan pelan, menggenggamnya dan mengecup keningnya.


"Maliq, sehat iya. Damar, Esya, Hardin sama Tessa nungguin loh" Ucap  Natasha, Maliq tersenyum mendengar kalimat yang sudah Natasha katakan. baginya Natasha sedang memberikan semangat untuknya.


"Maafin Maliq ya Kak, " ucap Maliq.


"Justru Kakak yang harusnya minta maaf, " sahut Faaz.


"Tidak, minta maaf untuk apa kak?, " Tanya Maliq sembari tersenyum.


Mereka berbincang bersama, Maliq begitu bahagia melihat kehadiran Faaz dan Natasha. Noni pun datang, ia sudah berganti pakaian. Noni terlihat sangat cantik, rambut cepol nya memperlihatkan leher jenjangnya itu.


"Damar gak nangis kan? "Tanya Natasha kepada Noni.

__ADS_1


"Enggak kak, Damar sama Esya lagi main sama Aunty Rani dan Ayana." Sahut Noni, "Oh iya Ayana titip salam untuk mu, hari sudah gelap jadi Ayana akan kemari esok hari." Tambahnya.


"Iya, aku merindukan bayi bumil itu." Celetuk Maliq.


"Bayi Bumil? " Tanya Noni dengan menohok lalu Noni tertawa kecil karena mendengar panggilan Maliq untuk Ayana.


"Iya Bayi mungil, dia itu lagi mengandung namun tetap saja kelakuannya seperti bayi berusia 9 bulan," celetuk Maliq sembari Tertawa itu membangunkan suasana, setidaknya mereka tak terlalu merasa khawatir karena Maliq terlihat sangat kuat.


Tak lama kemudian,


Faaz, Natasha dan Rido berpamitan untuk pulang. Sebenarnya Faaz tidak tega meninggalkan mereka hanya berdua, namun Noni meyakinkan Faaz dan Noni merasa takut hal buruk malah menimpa Rido.


Keesokan harinya, Faaz sedang berada di dalam ruangan kerja nya. Ia kembali memikirkan seseorang yang bernama Jerry, ia benar-benar tak mengenal sosok itu.


Ia terus menerus mencari tahu mengenai sosok Jerry itu, ia pun memilih untuk menemui Rayna. Ia segera keluar dari dalam ruangan, "Saya akan keluar sebentar, ada urusan mendadak. Tolong batalkan semua pertemuan hari ini! " Ucap Faaz


Ia kembali berjalan dan meninggalkan kantor miliknya, di dalam perjalanan itu. Faaz seperti melihat sosok Aidil sedang bersama seorang perempuan, bahkan perempuan itu terlihat menggendong seorang bayi.


Faaz menyusul laju mobil yang dikemudikan oleh Aidil, ia menyelip mobil milik Aidil. Lalu, Faaz meminta Aidil untuk turun dari dalam mobil tersebut.


Aidil turun, "Ada apa Faaz? " Tanya Aidil.


"Maaf bisakah aku melihat bayi itu?" Tanya Faaz segera, wanita itu mengerutkan dahinya seakan merasa aneh dengan sikap lelaki yang sama sekali tak ia kenal.


"Maaf Faaz, ada apa? " Tanya Aidil


"Iya ada apa? " Wajahnya seakan terkejut.


"Tolong Aidil, aku ingin melihat anak itu! " Pinta Faaz seiring memaksa kepada Aidil.


Aidil meminta wanita itu menunjukkan wajah bayi mungil itu, "Ada apa Tuan, dia anak ku! " Ucap wanita berparas cantik itu, tubuhnya sangat langsing dan terlihat tidak sedang menyusui.


"Kapan bayi mu lahir?" Tanya Faaz, Aidil merasa kebingungan dengan pertanyaan Faaz.


"Ha? " Wanita itu hanya menganga dan kembali masuk kedalam mobil.


"Tidak ada Aidil, maaf membuat mu tersinggung! " Ucap Faaz sembari menepuk bahu Aidil.


"Apa kau ada masalah? " Tanya Aidil.


"Oh tidak, ya sudah lanjutkan saja perjalanan mu. Maaf sudah mengganggu! " Ucap Faaz sembari tersenyum.


"Tidak, oh Iya. Alea menolak ku untuk menikah dengan nya. " Ucap Aidil memberitahu Faaz.


"Kalau begitu, maafkan adik mu jika sudah mengecewakan mu" Sahut Faaz..


"Oh Tidak, tidak sama sekali. Oh iya, dia sahabatku. Dia dan suaminya sedang dalam proses cerai dan aku sedang mencoba membantunya" Aidil seakan mencoba menjelaskan, namun sesuatu hal membuat Faaz kembali bertanya-tanya. Bahkan Faaz merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Aidil.


Faaz segera menepisnya, "Hah, sudahlah. Ini hanya karena aku terlalu memikirkan sosok Jerry itu, apalagi Ary berucap jika lelaki itu bukan Aidil." Gumam Faaz dari dalam hatinya.


Aidil melambaikan tangannya, "Faaz, Are you okay?" Tanya Aidil.


"Oh, iya tidak apa-apa. Silahkan lanjutkan saja perjalanan mu Aidil, maaf jika Aku sempat mengganggu mu" Ucap Faaz.


"Ya sudah, aku duluan iya Faaz. Salam untuk semua keluarga mu," Ucap Aidil, ia pun masuk kedalam mobil dan mobil miliknya segera melaju dengan cepat.


Faaz masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanannya. Selama di dalam perjalanan, Faaz terus menerus memikirkan raut wajah wanita itu. Namun Faaz berpikir, tidak mungkin Aidil terlibat. Dan mungkin jawaban nya semua ada apa Rayna, Faaz pun kembali berpikir untuk menemui Rayna di dalam tahanan.


Sesampainya di sana, Faaz disambut hangat oleh kepala lapas di sana. Mereka semua menuturkan kebiasaan Rayna, Rayna sangat menunjukkan perilaku yang sangat baik. Rayna meminta kepada semua penjaga lapas agar tak memberikan siapapun masuk untuk menemuinya kecuali keluarga dari Faaz, dan hingga saat ini, Rayna belum pernah dijenguk oleh siapapun kecuali Faaz atau Natasha.


Faaz kembali masuk dan menunggu Rayna di ruangan pribadi ketua Lapas itu, saat Rayna masuk Faaz benar-benar terkejut dengan penampilan Rayna. Rayna terlihat memakai hijab, pakaian nya pun sangat tertutup.


Rayna tersenyum dan segera duduk dihadapan Faaz.


"Apa kabar Rayna? " Tanya Faaz.


"Aku baik, ada apa Faaz? " Tanya Rayna balik.

__ADS_1


"Apa kau mengenal nama Jerry? " Tanya Faaz kepada Rayna, dibalas dengan gelengan kepala.


"Jerry siapa? " Tanya nya.


"Jerry lelaki yang membawa anak Alea, beberapa hari lalu. Polisi menangkap Ary dan Remy, lalu mereka bilang bahwa mereka telah berbohong kepada mu!, dan mereka memberikan bayi itu kepada orang yang bernama Jerry." Ucap Faaz seraya menjelaskan.


"Tidak, aku tidak mengenalnya."


"Remy dan Ary bilang, bahwa lelaki itu bernama Jerry, dia tiba-tiba datang dan mengetahui bahwa Remy sedang dalam kebingungan karena harus menghilangkan nyawa anak itu"


"Siapa saja yang mengetahui niat mu pada waktu itu! " Tanya Rayna Faaz kembali.


"Tidak ada, hanya aku dan Ary!, " Jawab Rayna.


Faaz meluruskan pandangannya, dahinya mengkerut dan ia seakan sedang berpikir sangat keras. Rayna pun terlihat memikirkan siapa Jerry sebenarnya, apalagi Remy bilang jika dia sangat mengenal Aidil dan Rayna. Berbeda dengan Ary, ia berbicara bahwa Jerry sama sekali tak mengenal Rayna maupun Aidil.


"Apakah Aidil mengetahui Hal ini? " Tanya Faaz.


"Tidak, Aidil sama sekali tidak terlibat permasalahan ini. Bahkan, terakhir kali kami bertemu, ia menasihati ku dan bilang kalau dia akan meminta Alea menjadi istrinya. Ia meminta ijin kepada ku, dan setahu Aidil saat itu aku sudah merasa baik-baik saja terhadap Alea" Ujar Rayna.


"Sumpah Faaz aku tak mengenal sosok lelaki bernama Jerry itu, apa kau bisa menunjukkan sketsa wajahnya? " Tanya Rayna kembali.


Faaz merogoh ponsel yang berada di dalam sakunya, lalu ia segera mengusap layar kunci dan membuka galeri pada ponselnya. Ia segera menunjukkan gambar sketsa yang dibuat oleh seorang polisi pada saat itu, Rayna melihat sketsa wajah tersebut. Ia menatap nya dengan seksama, mencoba mengingat sosok wajah yang ada dalam sketsa tersebut.


"Aku sempat bertemu dengannya, namun aku sama sekali tak tahu siapa dirinya." Ucap Rayna yang sepertinya sedang berusaha mengingat sesuatu.


"Dimana kau bertemu dengan nya? " Tanya Faaz kembali.


"Di dalam rumah sakit, saat itu aku dan dia bertabrakan. Dia sangat sopan, dia menjabat tanganku. Tetapi, aku lupa nama yang di kenalkan kepada ku siapa! " Ungkap Rayna,


"Apa kau sedang tidak berbohong kepadaku? " Tanya Faaz.


"Aku berani bersumpah, aku tidak bohong Faaz" Balas Rayna bersikukuh pada pendirian dirinya sebelumnya.


Faaz mengangguk pelan, ia mencoba percaya pada Rayna karena memang penjelasan Rayna memang sama percis dengan penjelasan Ary. Remy pun berucap bahwa lelaki itu seakan hanya mengaku mengenal Rayna dan Aidil, namun siapa sosok lelaki tersebut.


Faaz benar-benar merasa sangat kesal, Faaz sudah benar-benar kehilangan cara untuk mendapatkan buah hati Alea dan Qabil kembali. Baginya kehidupan keluarganya begitu sangat rumit, Faaz memikirkan betapa sialnya permasalahan keluarganya yang sudah datang bertubi-tubi.


Terlintas wajah Alea di sana, ia meratapi setiap nasib yang didapati oleh adik ketiganya. Ia seakan tak mampu lagi bertemu dengan adiknya jika adiknya itu mengetahui bahwa anak semata wayangnya telah menjadi korban penculikan dari mantan kakak iparnya sendiri, Rayna benar-benar terlihat merasa sangat bersalah atas kejadian ini.


Rayna menyadarkan Faaz, "Maafkan aku Faaz, semua memang salah ku. Aku pantas mendapatkan hukuman yang sangat berat dan aku akan menerima itu semua, " Ucap Rayna sembari menundukkan kepalanya.


"Aku tahu, kau pasti akan membenciku dan aku akan menerima itu semua. Tapi aku mohon Faaz, jangan sampai Aaleesya tahu apa yang sudah aku lakukan ini"


"Aku sangat malu, aku benar-benar malu terhadap mu Faaz, " Ucap nya lagi di iringi tangisan kecil di bibirnya, Rayna menangis terisak. Faaz begitu sangat tidak tega saat melihat wanita itu menangis, memang sedari dulu Faaz selalu merasa tidak tega jika Rayna sudah menangis.


"Sudahlah Ray, kau tak perlu khawatir. Aku bangga jika dirimu sendiri sudah mengakui semua kesalahan mu itu" Ucap Faaz, "Terkadang kita membutuhkan kesalahan agar kita tahu letak kelemahan atau kekurangan kita itu sampai dimana. Selain itu, kita juga mungkin akan mendapat pelajaran dan pengalaman yang tak akan pernah di dapat oleh orang-orang yang selalu benar dan selalu berhasil dalam kehidupan nya." Ucap Faaz seraya menasihati Rayna.


Faaz menarik tangan Rayna Lalu menggenggam tangan Rayna, Ia pun menatap wajah Rayna dengan lekat. "Seseorang harus cukup besar untuk mengakui kesalahannya, cukup cinta untuk mengambil keuntungan darinya, dan cukup kuat untuk memperbaikinya dan aku percaya kamu akan jauh lebih baik aku. Dan aku yakin, suaty hari Aalesya akan bangga memiliki ibu sepertimu." Tutur Faaz.


"Terimakasih Faaz." Rayna merasakan hal yang tak biasa saat Faaz menarik tangannya, ia seakan tak merasakan gejolak rasa cinta. Mungkin rasanya seperti biasa saja, Rayna tak mengerti mengapa kali ini, Ia tak merasakan rasa cinta kepada Faaz.


"Kau tenang saja, sampai saat ini hanya Aku, Aliq, Fizzy dan Natasha lah yang mengetahui permasalahan ini. Bahkan Alea sama sekali tak mengetahui anaknya sudah tiada atau menjadi korban penculikan dan itu karena Aliq serta Fizzy mengorbankan bayi perempuan nya untuk berpura-pura menjadi anak dari Alea dan Qabil" Ucap Faaz memberitahu, Rayna sudah mengetahui hal itu, namun ia merasa bangga karena mengetahui Faaz dan Natasha merahasiakan kesalahannya dari beberapa orang di dalam rumah nya.


"Sedikitnya aku tidak merasa menyesal untuk berubah, karena aku tahu aku berubah karena kalian yang telah mengajarkan ku arti kebaikan." Ujar Rayna, Faaz tersenyum dan melepaskan genggaman tangan nya itu.


"Aku bangga Ray, dan kelak jika Esya dewasa aku akan memberitahu Aaleesya bahwa dia lahir dari seorang rahim perempuan yang sangat hebat , yang mau mengakui kesalahan dan mau berubah." Ucap Faaz sembari membalas tatapan Rayna.


"Terimakasih Faaz, kamu juga Ayah yang sangat hebat dan aku merasa beruntung karena, Aaleesya hidup dalam pengawasan mu dan juga pengawasan Natasha." Rayna tersenyum, "Natasha wanita yang hebat dan aku harus akui itu" ucapnya kembali.


"Ya sudah Ray, Aku pulang dulu. Aku harap kamu sehat selalu disini," Ucap Faaz seraya berpamitan.


Rayna tersenyum dan mengangguk pelan, "Terimakasih Tuhan, terimakasih karena engkau telah memberiku kesempatan. Maafkan aku Faaz, aku sadar kesalahan terbesarku bukan hanya membuatmu terluka, tapi memanfaatkan kebaikan mu. Aku berharap kali ini kau bahagia bersama Natasha dan anak-anak mu! " Ucap Rayna dalam hati, ia terus menerus memperhatikan langkah Faaz yang sedang berlalu meninggalkannya.


"Benar kata Papa Rido, kau lelaki yang sangat baik kau lelaki hebat, kau pantas mendapatkan kebahagiaan. Aku yakin Natasha mampu membuat mu bahagia dan harus aku akui Faaz, kau benar-benar beruntung mendapatkan Natasha." Ucapnya kembali.


Rayna mengingat betul masa-masa dahulu nya bersama Faaz, Rayna sangat menyesal karena dulu, Rayna memiliki niat buruk terhadap Faaz. andai saja waktu dapat di putar kembali Rayna ingin sekali membuat Faaz merasa bahagia saat di dekat nya. namun, saat itu ambisi Rayna sangat besar dan selalu menganggap nya sebelah mata dan hanya memanfaatkan kebaikan Faaz saja.

__ADS_1


__ADS_2