TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. Mengingat Masa kecil Ayana.


__ADS_3

Faaz melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya, dalam keheningan rumah sakit, mereka semua menunggu Zain sadar dari tidur panjangnya.


18 jam berlalu, Faaz tetap menahan rasa kantuknya bahkan rasa kantuk itu sampai hilang. Ia benar-benar sedang dalam kecemasan, Ia berharap keajaiban Tuhan ada pada Zain.


Ia tidak dapat tertidur seperti Mael dan Aliq, Sudah semalam efek dari obat penahan rasa sakit itu membuat Zain tertidur pulas, Faaz terus menerus mengkhawatirkan Zain. lagi dan lagi ia merasa cemas, sudah berbagai gaya ia lalui. Berdiri, bersandar, memegang kaki Zain, dan terakhir Ia pun duduk tepat dihadapan Zain menggunakan kursi.


Faaz memegang tangan Zain, mencium tangannya dan menatap wajah tampan Uncle kesayangan nya itu.


Baru saja tiga bulan berjalan keluargan nya baik-baik saja, setelah kepergiaan Qabil diterima oleh Alea. keadaan keluarga nya semakin membaik, namun kini kabar duka kembali menyelimuti keluarganya itu.


Setelah kabar mengenai meninggalnya Riswan, Kini kabar mengenai penyakit Zain kembali berhembus. ia benar-benar merasa lelah dengan kabar duka yang terus menerus hinggap di dalam keluarganya, Faaz pun memikirkan bagaimana nasib adik sepupunya yang terlebih dulu kehilangan sang ibu yang meninggal saat melahirkannya.


Apalagi dua bulan lagi, Ayana akan menikah dengan Mael dan Faaz takut Uncle nya tidak bisa menunggu hingga dua bulan ke depan.


Andai saja ia memiliki mesin waktu, Ia akan memberikan waktu yang sangat banyak untuk Zain. agar Zain dapat hidup lebih lama, Ia pun berpikir bagaimana keadaan Papanya saat mengetahui adik kesayangannya sedang terbaring lemah, melawan penyakit yang teus menerus menggerogoti tubuhnya.


"Bagaimana ini?!!" Ucap Faaz di dalam hati, "Uncle bisakah kau bertahan lebih lama lagi, Aku benar-benar mencemaskan keadaan mu!! " Ucap Faaz di dalam hati.


Aliq terbangun dari tidurnya lalu mendekat dan menepuk bahu Faaz, "Kau belum tertidur sama sekali, lagipula sore ini kita harus menjemput Omah dari Indonesia bukan? " Tanya Aliq, Faaz terdiam. bahkan rasa kantuk itu seakan sirna, ia tak merasakan apa-apa. hanya rasa cemas mengelilingi pikirnya, Faaz beranjak dari duduknya itu lalu bersandar pada tembok kamar itu.


"Aku sudah menghubungi Abrar dan memintanya untuk menjemput Omah, Aku tidak bisa meninggalkan dirinya sendiri. rasanya terlalu berat, Uncle Zain selalu menemani kami dalam. keadaan apapun" Ujar Faaz.


"Baiklah, tapi tidurlah. aku akan pulang mencoba memberitahu Ayana" Ucap Aliq.


"Pulanglah, tapi biarkan saja Uncle Richard yang memberitahunya. aku titip Papa, jangan sampai Papa merasa terkejut dan sampai Anfal!! " Tuturnya kepada Aliq, Aliq pun menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui apa yang Faaz ucapkan.


"Baiklah, jangan lupa tidur walau hanya sebentar. Di rumah kau lah kepalanya, dan jika kau sakit kami akan merasa lebih bersedih" Ucap Aliq, Aliq pun berpamitan. Ia pulang hanya seorang diri, Mael sengaja menemani Faaz.


"Uncle... Bangunlah, jika 3 jam ke depan Uncle tidak bangun. Dokter akan menyatakan bahwa Uncle Koma mendadak, dan kami tidak ingin hal itu terjadi" Gumam Faaz, "Demi Ayana, demi Papa dan juga demi kami. Aku mohon!!!" Sambungnya, Faaz mengerutkan dahinya. Air matanya tak sengaja mengalir deras, terlihat oleh nya mata kanan Zain berkedut seakan Zain ingin bangun dari tidurnya.


"Ayo Uncle, bukalah matanya" Mael mendengar apa yang Faaz ucapkan dan seketika itu, Mael terbangun lalu menghampiri Faaz.


"Daddy... " panggil Mael, semenjak Mael melamar Ayana. Ia memanggil Zain dengan sebutan Daddy, dan Zain merasa senang karena merasa lebih dekat dengan Mael.


Perlahan mata Zain terbuka, Zain terkejut dengan kehadiran Mael dan Faaz. "Siapa yang memberitahu kalian? Pasti Richard kan? " Tanya Zain dengan nada yang sangat lemah.


"Uncle... Jangan terlalu banyak bicara dulu, sudah 18 jam Uncle tertidur. Dan kami sangat takut kalau Uncle kenapa-kenapa, berjanjilah padaku Uncle akan sehat kembali" Tutur Faaz sembari meneteskan air matanya.


"Cengeng!!, Uncle tidak apa-apa Faaz. Tuhan sedang memberikan Uncle sebuah ujian, dan Uncle sedang mencoba menerimanya!! " Ungkap Zain diiringi senyuman membuat wajah pucatnya terlihat sangat bercahaya.


"Iya tapi Faaz tetep takut!!" Timpal Faaz.


"Tidak perlu takut!!, Uncle akan baik-baik saja" Jawab Zain begitu sangat santai terlihat.


Zain menoleh dan menatap Mael, "Tolong jaga Ayana, jangan pernah menyakiti Ayana. Buat dia menjadi wanita yang taat, dan jika nanti Kalian menikah dan memiliki anak, jangan pernah berpikir akan meninggalkan Ayana. Daddy mohon berjanjilah" Mael memiliki firasat buruk saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Zain.


"I.. Iya Dad. Mael Janji!! "


"Terimakasih Mael, Ayana belum tahu kan? " Tanya Zain, "Daddy tidak mau Ayana tahu, biar saja Daddy merasakan sakit ini sendirian. Daddy tidak mau persiapan pernikahankalian terganggu, Daddy ingin persiapan kalian lancar tanpa hambatan karena penyakit dan keadaan Daddy seperti ini!! " Ujar nya, Mael meneteskan air matanya. Mael merasa sangat sedih mendengar kalimat itu, tangan Zain di genggam sangat erat olehnya.


Zain mengusap air mata Mael, "Jangan sedih, jangan menangis. Ini sudah takdir, Daddy senang menerima ini. Daddy selalu berharap secepatnya bertemu dengan Momy Cia, tapi dulu Daddy selalu memikirkan nasib Ayana. Sekarang Daddy sudah dapat pergi dengan tenang, karena Ayana sudah memiliki kamu dan Ayana tetap memiliki saudara, Kakak-kakak seperti Faaz, Alea dan Maliq. Ayana tidak akan kesepian" Zain sudah menahan air matanya agar tidak mengalir bebas, namun sepertinya ia tak berhasil menutupi kesedihannya.

__ADS_1


"Uncle berhentilah berbicara seakan Uncle akan meninggalkan kami, kami belum siap. Kepergiaan Qabil saja masih membekas, dan berjanjilah Uncle akan semangat untuk tetap hidup bersama kami!! "


"Jangan buat kami menderita lagi Uncle, kami mohon!! "


Zain menggelengkan kepalanya, "Tidak, Uncle sudah tidak kuat Faaz. Uncle ingin segera pergi, jika nanti Uncle tidak sempat menjabat tangan Mael. Tolong gantikan oleh Papa mu!!"


"Uncle, stop!! Faaz mohon. Uncle sudah janji dengan Alea, Alea menunggu Uncle dirumah. Papa juga sedang menunggu Uncle, Papa sudah menyiapkan banyak makanan untuk menyambut keluarga Uncle Yof, Kakek Hendra juga sedang menuju ke Ausy! " Ucap Faaz, Zain tersenyum bahagia mendengar Ayahnya dan keluarganya akan berkumpul.


"Iya Daddy, Faaz benar. Daddy pasti kuat, bukankah Daddy ingin sekali melihat Ayana bersanding di pelaminan? " Tanya Mael.


Zain menganggukkan kepalanya dengan pelan, kembali lagi air matanya mengalir deras. Teringat masa kecil Ayana, susah payah Zain saat jauh dari Mama Sherly serta May yang biasa menjadi partner mengurus Ayana.


Flashback On.


Ayana kecil, Ayana yang sangat malang. Saat Zain memutuskan untuk pulang setelah beberapa bulan tinggal bersama Rido dan May, Ia pulang bersama Ayana dan hanya berdua tanpa seorang pengasuh pun.


Karena perusahaan yang ditinggalkan oleh Orang Tua Cia yang sangat membutuhkan dirinya sebagai pemilik resmi perusahaan tersebut, Zain selalu membawa bayi mungilnya untuk pergi ke kantor.


Zain adalah Ayah yang sangat hebat, dari mencuci popok, memandikan Ayana, membuat susu hingga mengajaknya bekerja di lakukan olehnya sendiri. Terkadang May dan Rido begitu sangat mengkhawatirkan kesehatan Ayana juga Zain, namun Zain selalu tersenyum dan berucap jika mereka baik-baik saja.


Jika Zain sedang sibuk dengan meeting dan beberapa tanggung jawab nya sebagai Direktur Utama perusahaan tersebut, Ayana selalu dititipkan kepada Staff atau Assisten pribadinya.


Ayana tidak pernah rewel, bahkan ia disebut sebagai Bayi yang sangat menggemaskan. Ia selalu membuat takjub para Staff yang mengasuhnya, Zain juga tidak pernah merasa kerepotan karena membawa Ayana ke kantor.


Hari-hari yang di lalui Olehnya begitu sangatlah cepat, tak jarang Zain bolak balik ke negera Australia dan Inggris hanya untuk membawa Ayana dan menitipkannya kepada May dan Rido. Makanya, Ayana selalu saja menjadi Anak Papa dan Mama may!


Saat Ayana berumur 10 Tahun, Ayana selalu bertanya, "Mengapa Mama Cia meninggalkan aku? " Dan Zain selalu menjawab, "Karena Tuhan menjadikan Mama sebagai bidadari, dan nanti Ayana dan Daddy bisa berkumpul disana jika Ayana menjadi anak serta perempuan yang baik" Ayana tak pernah menangis kala mengingat ibunya, dia selalu tersenyum karena menurut Zain senyumannya adalah doa yang tak bisa di gantikan oleh apapun.


Ayana yang malang, Ayana ku sayang.. Penggalan kalimat iti selalu tertanam di dalam benak Zain, Zain merasa sangat beruntung memiliki Ayana.


Ada sebuah percakapan diantara mereka yang tidak akan pernah di lupakan oleh Zain dan percakapan itu akan disimpan di dalam Hatinya.


Ayana bertanya, "Daddy, tahukah berapa bintang diatas sana yang bersinar? "


Lalu Zain menjawab, "Berapa Nak? "


Ayana menghitung semua bintang, "Ada 5, tapi bagiku hanya satu dan bintang itu ada disampingku!!, "


"Ayana lagi mau buat Daddy menangis? " Tanya Zain.


"No... No.. Dad.. Ayana malah ingin Daddy terus tersenyum, Ayana selalu berdoa agar Daddy selalu sehat sampai Ayana dewasa dan memiliki sebuah pekerjaan, nanti Ayana yang bekerja dan Daddy diam saja dirumah. Kalau Ayana capek kerja di luar sana, saat Ayana masuk dan melihat senyuman Daddy pasti rasa lelah itu akan hilang!! " Cerocos Ayana membuat mata Zain berkaca-kaca, Zain memeluk Ayana dan mengusap lembut pipinya.


"No... You Dont cry Dad.. Air mata Daddy sangat berharga, Daddy boleh menangis jika nanti Ayana sudab berhasil dengan cita-cita Ayana" Ia mengusap air mata yang saat itu mengalir membasahi pipi Zain.


"Oh iya, lihat Ayana buat apa? " Anak usia 10 tahun saat itu sudah bisa membuat Ayahnya menangis karena bangga dengan ucapannya, Ayana menunjukkan sebuah gambar. Di dalam gambar tersebut Zain dan Rido lah yang memakai mahkota, Zain pun bertanya kepadanya, "Mengapa hanya Papa dan Daddy? "


"Karena bagi Ayana, Papa dan Daddy adalah raja Ayana"


"Terimakasih sayang, Daddy dan Papa sangat bangga kepadamu"


"Dady tahukah jika suatu saat Ayana akan menikah?

__ADS_1


"Iya Jelas, kau akan menjadi seorang istri yang baik dan memiliki banyak anak. bukankah seru?" Sahut Zain.


Ayana menghela nafasnya ringan serta tersenyum dan tetap menatap langit.


"Ayana akan menjadi seorang ibu dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak Ayana kelak" Ujar Zain kembali, Ayana tersenyum kembali.


"Tapi itu akan terjadi jika Daddy ada disamping Ayana!!!" Jawab Ayana singkat,


Zain terkejut dengan jawaban Ayana, "Nah Loh kenapa seperti itu?, tidak ada ataupun ada Ayana akan tetap menjadi sosok ibu yang baik"


"Ya, Ayana berharap seperti itu. tetapi Ayana ingin jika Daddy membantu Ayana mewujudkannya, setidaknya Daddy akan memarahi Ayana jika Ayana menjadi ibu yang tidak baik." Ucap Ayana, "Karena setelah Mama May, Daddy lah yang selalu protect sama Ayana" Ujarnya kembali, Zain tertawa kecil mendengar kalimat yang Ayana ucapkan.


^Flashback Of..


"Uncle mengapa menangis? " Tanya Faaz.


"Teringat masa kecil Ayana, dia selalu tak bisa jika tidak menatap wajah Uncle dan mungkin dalam waktu dekat Ayana harus berusaha tidak melihat wajah Uncle"


"Dulu Uncle selalu mencoba menjadi Ayah adalah teladan, Uncle mencoba menjadi lelaki pertama yang dicintai oleh seorang anak perempuan." Ungkap Zain,"Karena mungkin dia ingin cintanya berbalas, agar kelak dia bisa dengan percaya diri mencari cinta sejati yang akan menjadi jodohnya kelak" Ungkap Zain kembali.


"Dan terkadang Uncle merasa belum sempurna menjadi Ayah, teman, Sahabat yang baik untuk Ayana"


Mael menyela kalimat Zain, "Daddy, bahkan Daddy melebihi 10 Ayah terbaik di dunia. Daddy sudah sangat baik dalam menjaga, memberi cinta, kasih sayang serta melindungi Ayana. Dan Mael harus benar-benar belajar untuk menjadi seperti Daddy, Mael berdoa agar Mael dapat mencintai Ayana seperti Daddy" ucap Mael.


"Karena Mael pernah membaca sebuah artikel di dalam Novel Mama May, begini kata Mama. Sikap, perilaku, dan kepribadian seorang ayah akan menjadi gambaran bagi seorang anak perempuan, untuk memilih figur calon suaminya kelak. Bila Anda adalah sosok ayah yang baik, dan suami yang baik, maka pastinya puteri kecil Anda kelak akan menikah dengan orang yang memiliki kepribadian mirip dengan ayahnya." Ucap Mael, "Dan dulu itu selalu menjadi Nasihat untuk kami sebagai laki-laki dari Mama May dan Papa Ido"


"Jika kelak memiliki Anak perempuan, kau akan merasakan patah hati yang sangat besar Dan saat itu adalah ketika kita melihat anak perempuan nya menangis, aku berjanji tidak akan pernah membuat Ayana menangis Uncle" Ucap Mael dengan wajah yang terlihat sangat serius.


"Terimakasih Mael, Daddy sangat beruntung memiliki menantu seperti mu!! "


"Tentunya Mael lebih beruntung karena memiliki ilmu dari Papa, Daddy dan Papih. Kalian benar-benar lelaki hebat!! " Ucap Mael.


"Benar apa Mael, Faaz juga beruntung memiliki kalian!! "


Mael dan Faaz memeluk Zain, mereka memeluknya dengan erat. suasana itu kembali terasa hangat dan terasa rasa sedih yang amat dalam, Faaz memiliki firasat buruk mengenai Unclenya itu begitupun dengan Mael.


3 Jam kemudian... Ayana datang dan berlari lalu memeluk tubuh Ayahnya, Ia menangis sesenggukkan. Ayana merasa sangat kesal karena baru mengetahui keadaan sang Ayah yang memiliki penyakit sangat parah, "Mengapa Daddy sakit gak bilang sama Ayana!! " Ucapnya penuh penekanan dengan Nada yang terdengar sangat manja.


"Maafkan Daddy sayang!! " Zain mengecup kening anak perempuannya, menatap wajah putrinya penuh kelembutan.


"Daddy jahat!! Daddy gak boleh tinggalin Ayana seorang diri!!, Daddy janji akan menemani Ayana sampai Ayana wisuda, menikah dan memiliki anak bahkan Daddy akan sangat senang saat melihat Ayana menjadi seorang ibu!! " Celoteh Ayana membuat Zain tersenyum lebar.


"Anak kesayangan Papa Ido memang cerewet iya, Daddy baik-baik saja sayang!! "


"Tidak!! Daddy bohong. Kalau Daddy baik-baik saja seharusnya Daddy tidak disini, Daddy kan mau Lihat Ayana jadi Dokter dulu. Berjanjilah akan menemani Ayana terus menerus" Zain menganggukkan kepalanya, Ia merasa terharu karena merasakan kasih sayang dari sang Anak yang begitu besae untuk nya.


Ayana memeluk Zain, "Ayana sangat menyayangi Daddy!! " Ucapnya dengan nada yang sangat pelan nan manja, "Berjanjilah akan menemani Ayana!! " Ucap Ayana kembali.


"Berjanjilah akan menemani Ayana menikah bersama Mael, Daddy sempat bertanya apakah Ayana mencintai Mael. Ayana selalu menolak menjawabnya dihadapa Daddy? sekarang Ayana akan menjawab, Ayana benar-benar sangat mencintai Mael. Mael membuat Ayana memjadi diri sendiri!!" Ungkapan Ayana berbalas senyuman bahagia sari Mael.


"Daddy sembuhlah, Ayana mohon" ia tak ingin melepaskan pelukannya, Zain pun terlihat mengusap pelan punggung Ayana.

__ADS_1


Richard dan Rani menangis melihat Ayana yang terlihat begitu terpukul dengan kabar sakitnya Zain, Mereka melihat Ayana memeluk Zain dengan tatapan penuh iba.


Faaz, Mael, Rani juga Richard terlihat menyeka air matanya masing-masing, pemandangan itu memang benar-benar membuat nya banjir air mata.


__ADS_2