TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU

TEMAN HIDUPKU YANG MENGUBAH HIDUPKU
S2. EXTRA PART.


__ADS_3

Dokter mengatakan jika Maliq tetap saja harus hidup memakai kursi Roda, ia mengalami gangguan pada syaraf otot-otot kakinya. tetapi, Maliq sudah dinyatakan sembuh dari kanker. meskipun begitu Maliq tetap di berikan keajaiban oleh Tuhan, dan Noni maupun keluarga sangat mengerti dengan keadaan Maliq dan tak berhenti bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Tuhan.


Maliq sudah berada di dalam rumah, Maliq sangat bahagia memiliki istri yang baik seperti Noni. Noni sangat menerima Maliq dan mencintai Maliq dengan apa adanya.


Dan pagi itu, Maliq sedang berada di Taman. Noni menyuapi Maliq dengan sangat telaten, sesekali Maliq menatap wajah Noni. Ia begitu sangat mencintai sosok Noni, mengagumi Noni adalah sebuah keharusan untuk nya. Noni bak bidadari yang menjadi penerang kehidupan Maliq.


"Mengapa kau menatap ku seperti itu sayang? " Tanya Noni sembari mengusap lembut pipi Maliq.


"Tidak ada, Aku hanya sedang mengagumi sosok mu Noni" Balas Maliq.


Senyumnya menunjukkan kebahagiaan, "Kalau begitu, apakah aku boleh membalas mengagumi mu, " Sahut Noni membalas gombalan Maliq, Maliq tersipu malu dan Maliq meminta Noni mendekatkan wajahnya dengan wajah miliknya.


"Muaaaach, " Suara ciuman itu terdengar keras, Maliq mencium kening Noni.


"Maafkan Aku, " Ucap Maliq, matanya mulai membendung air mata.


Noni berjongkok menyelaraskan tinggi suaminya itu, "Untuk apa?" Tanya Noni sembari membelai lembut wajah Maliq.


"Karena membuat mu tak berdaya, karena menjadi suami yang tidak bisa menggendong istrinya seperti suami yang lainnya dan karena sakit ku kau harus menghabiskan waktu untuk mengurus ku," Tutur Maliq membuat Noni merasa bersedih.


"Aku cacat, aku sudah tidak mampu menjadi Maliq yang dulu. kita harus merelakan waktu Honeymoon kita dan melewati malam-malam pertama di rumah sakit, Aku merasa sangat berdosa kepada mu" Ucap Maliq kembali sembari terisak dalam tangisan, "Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku."


"Tidak, tidak begitu. Kau suami ku yang sangat aku cintai, kau selalu menjadi lelaki yang baik untuk ku. kau mencintai ku dan membuat ku sangat nyaman ketika berada di dekatmu, Maliq ijinkan aku berbakti kepada mu. ijin aku mengubah sisi hidupku yang kelam, dan jangan pernah katakan hal seperti itu lagi!, " Noni meneteskan air mata, ia menempelkan pipinya di atas pangkuan Maliq dan Maliq mengusap ujung kepalanya.


"Kini hanya kamu lah yang menjadi Rido Tuhan untuk ku, aku mencari Rido Tuhan dan ku mohon berikanlah padaku. kau tak boleh mengatakan hal itu lagi, aku Ikhlas mengurus mu." susul nya di dalam tangisan.


 


"Terimakasih Sayang, aku akan selalu meridhoi mu. aku harap kau tak pernah bosan mengurus sisa-sisa hidup ku! " Ucap Maliq.


 


"Maliq, Jika Tuhan memberiku dua pilihan. Mengurus mu atau di tinggalkan oleh mu, aku akan tetap memilih mengurus mu sekuat tenaga ku. aku tidak bisa menjalani hidup jika harus di tinggalkan oleh mu!," Noni memeluk Maliq, menempelkan wajah nya di bahu Maliq. Rido melihat keharmonisan mereka berdua, Rido pun ikut meneteskan air mata kesedihan.


 


"Tolong Maliq jangan ingatkan lagi tentang itu, aku menerima mu karena kau pun menerima ku. aku mencintai mu karena kau pun mencintai ku, semua akan terasa mudah karena kau memudahkan ku, selama ini kau menjadi penerang di kehidupanku."


"Aku mohon, jangan pernah merasa bersalah dengan keadaan mu. Tuhan memberikan kita ujian, dan aku yakin kita akan mampu melewatinya." Ucap Noni, ia pun mengecup kilas bibir suaminya. Maliq merasa sangat beruntung dengan apa yang di ucapkan dan di lakukan oleh Noni untuk nya, bagi Noni tidak ada hari bahagia manapun selain bersama dengan Maliq.


 


"Terimakasih Noni, kau benar-benar sudah menjadi istri yang baik untuk ku. aku sangat beruntung memiliki mu"


"Sudah seharusnya sebagai seorang istri berbakti kepada suaminya bukan?" Tanya Noni.


"Tahukah kamu sayang, dulu aku selalu meminta kepada Tuhan agar beliau mengirimkan sosok perempuan seperti Mama ku dan Alhamdulilah Tuhan mengirimkan nya untuk ku. hampir 70 persen sikap mu seperti Mama, karena dulu Mama sempat mengurus Papa dan menerima Papa dengan sangat baik, karena dulu Papa sempat sakit parah."


"Iya kah?" Tanya Noni.


"Iya sayang, dulu Papa sakit parah sama dengan ku" Jawab Maliq.


"Memangnya Papa sakit apa?" Tanya Noni.


"Papa sakit jantung, dan katanya Tulang papa mengalami kerusakan. aku baca di Novel yang ditulis Mama. kata Papa cerita yang Mama buat memang real perjalanan mereka," Jelas Maliq.


"Apa aku boleh membacanya?" Tanya Noni.


"Boleh, nanti aku ambilkan." sahut Maliq.


"Hmm kalau saja, aku bisa ketemu Mama kamu terlebih dahulu pasti sangat menyenangkan. Mama pasti istimewa melebihi segalanya," Ujar Noni sembari menatap langit.


Rido datang menghampiri mereka, "Kamu sama istimewa nya dengan sosok Mama mertua mu, bahkan saat ini Papa beruntung dan sangat beruntung karena kamu dan Natasha sama-sama memiliki hati yang sangat mulia, begitupun dengan Aliq. sungguh Papa sangat bahagia memiliki kalian sebagai menantu Papa dan mungkin jika saja Qabil masih hidup, kebahagiaan Papa mungkin akan sangat lengkap" Ucap Rido berwajah sendu.


"Papa, jangan bersedih. bahkan aku yang merasa sangat beruntung memiliki Papa mertua yang sangat bijak" Puji Noni dibalas senyuman manis dari Rido.


"Terimakasih sayang, bolehkah Papa meminta sebuah pelukan dari kalian?" Maliq dan Noni segera mengangguk, mereka bertiga berpelukan bersama.


Dalam hati Rido bergumam, "Aku harap semua masalah sudah terselesaikan, aku harap semua akan membaik hari ini dan selamanya. Aku menerima semuanya Tuhan, Ujian darimu sangatlah Indah dan Aku bahagia karena kau pun memberikan penyelesaian yang sangat cepat."  


 


Rido memeluk keduanya dan mengecup ujung kepala mereka, "May, dia anak bungsu mu yang kini sudah menjadi Imam untuk seorang gadis yang memiliki hati yang sangat mulia dan benar apa kata mu, Maliq anak kita yang sangat kuat, si bungsu yang sangat manja yang kini sedang tidak berdaya untuk berjalan, tapi kau tenang saja, Dia memiliki cinta yang besar yang sama saat kau berikan padaku. Gadis itu Noni, gadis yang juga setia membuat Alea menjadi sosok wanita yang kuat, Noni menyayangi kami semua dan kami sangat menyayangi nya juga."


 

__ADS_1


Maliq pun bergumam dalam hati, "Mama, aku bahagia walaupun aku kehilangan Title ku sebagai dokter. Aku merasa sudah mengikhlaskannya, Aku memiliki keluarga yang memberiku semangat yang sangat besar, Aku juga memiliki seorang istri yang berjiwa besar dan aku sangat bahagia akan hal itu. Aku tak lupa selalu bersyukur kepada Tuhan sesuai dengan apa yang Mama dan Papa ajarkan sedari kecil, dan Mama benar walaupun kita dalam kesusahan ataupun dalam musibah yang besar Tuhan selalu memberikan pertolongan, Terimakasih Mama, karena mu lah Aku mengerti akan sikap berbesar hati dalam menerima apapun,"


 


^^^


Faaz sedang berada di dalam ruangan pengadilan bersama Aliq dan Harry ayah dari Aliq dan Rayna, karena hari ini adalah sidang terakhir yang akan menjadi penentu Rayna dalam menghabiskan masa hukuman di dalam tahanan. berbeda dengan Remy dan Ary yang sedang menunggu sidang tersebut.


Harry dan Aliq begitu takjub melihat Rayna yang datang menggunakan pakaian panjang dan hijab yang menutupi mahkota kepalanya, tak kuasa melihat raut wajah Rayna itu, Harry serta Aliq meneteskan air matanya. bagaimana pun Harry sempat mengurus Rayna, walaupun kenyataannya Harry bukan lah ayah biologis dari Rayna.


Hakim sudah menjelaskan apa saja yang menjadi tuntutan Aliq dan Faaz kepada Rayna, bahkan mereka tak menyangka bahwa Rayna begitu sangat menerima. tidak ada air mata, bahkan kesedihan di raut wajahnya. namun, mereka semua merasa iba saat Rayna berbicara dengan raut wajah yang terkesan kegowo dan menerima apapun keputusan hakim.


"Saudari Rayna Adzalia Gustaf, apakah anda mengakui semua yang di tuduhkan kepada Anda?" Tanya seorang hakim,


Rayna mengangguk, "Saya mengakui semuanya, bahkan ada beberapa yang mereka tidak tuliskan dan tidak mereka ungkapkan. akan tetapi, saya sebagai tersangka di dalam persidangan ini sangat berterima kasih karena kalian sudah mau berusaha menyadarkan saya," Ucap Rayna dengan suara yang sangat lantang.


Faaz menunduk, matanya berlinang. semua pun merasakan hal yang sama sat mendengar kalimat yang diberikan Rayna


Hakin telah memutuskan Rayna akan menghabiskan waktu di penjara selama 15 tahun yang sisa masa tahanannya mendapat potongan, Rayna enggan memberikan denda untuk memperingan masa tahanannya, Ia ingin menikmati masa-masa hukumannya sebagai penebus dosa. Faaz menatap punggung mantan istrinya yang kini sedang membelakangi dirinya.


Hakim sudah mengetuk palu, Rayna resmi menghabiskan sisa waktunya di dalam tahanan. saat Rayna berdiri dan membalikan badannya, Ia memberikan sebuah senyuman kepada mereka, Rayna berjalan dengan diapit dua petugas tahanan, melewati mereka namun, Harry memanggilnya dan segera menghampiri Rayna lalu, memeluknya dengan erat.


Air matanya mengucur deras, "Bagaimanapun keadaan mu, keadaan kita, permasalahan yang telah merenggut waktu kita bersama. Papa hanya minta, Rayna tetap menganggap Papa sebagai orang tua Rayna, menyayangi Papa dan menganggap Papa sebagai orang tua Rayna," Ucap Harry.


Rayna memeluk dan menangis di dalam pelukan Harry, "Rayna yang seharusnya minta maaf kepada Papa, bahkan Rayna sudah menjadi seorang anak yang durhaka. maafkan Rayna Pah, bagaimana pun Rayna yang seharusnya tetap meminta pengakuan kepada Papa, tolong jangan buang Rayna. Rayna akan selalu menjadi anak perempuan Papa, dan tolong sampaikan permintaan maaf Rayna kepada Mama, Rayna sudah ingin berubah." Ungkapnya sembari menangis, Harry menyeka ait mata Rayna yang membasahi pipi.


Aliq pun mendekat, "Maafkan aku Kak," Ucap Aliq,


"Aku yang seharusnya meminta maaf kepada mu Aliq, maafkan Aku" Ucap Rayna.


Rayna menundukkan kepala nya, "Maaf Aku selalu menyusahkan mu Aliq, Maaf Aku selalu memubuat mu malu. maafkan Aku, sampaikan permintaan maaf ku kepada Fizzy, Aku minta maaf" Ucapnya kembali, Rayna menoleh, melihat Faaz yang meneteskan air matanya sembari memperhatikan dirinya.


"Faaz," Panggil Rayna dengan tatapan yang sangat lirih.


"Ray, " Ia berjalan menghampiri Rayna, "Bolehkah aku memeluk mu?" Tanya nya.


Rayna mengangguk, "Boleh," Lalu Faaz memeluk Rayna, Rayna menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan Faaz.


"Rayna, walaupun kita sudah berpisah. aku tidak bisa memungkiri bahwa kau pernah tinggal cukup lama di dalam hatiku, bahkan kau adalah wanita pertama yang aku cintai sesudah Mama ku." Ucap Faaz, "Aku harap kita masih bisa menjadi sebuah keluarga, kau dan Aku memiliki ikatan kuat dalam perkembangan Esya begitupun dengan Aidil, Aku harap kita masih bisa menjadi seorang sahabat." Ucap Faaz dengan sangat besar hati, Rayna sangat malu mendengar kalimat itu.


Rayna menangis terisak, "bahkan Aku sangat malu meminta hal itu kepada mu, Aku begitu banyak berbuat dosa kepada mu."  Ujar Rayna, Ia menangis terisak.


"Tidak Rayna, tidak!! jangan berpikir lagi seperti itu," Ucap Faaz., "Sekuat-kuat seseorang pasti dia pernah menangis, dan orang-orang yang membuatnya menangis adalah orang yang paling disayanginya. bahkan saat itu kau tak sadar bahwa kau sedang menangisi kami, dan artinya kau sangat menyayangi kami Ray," Tambahnya.


"Terimakasih karena kau sudah menjadi ayah yang baik untuk Esya, Aku merasa nasib ku dan nasib Esya  memang sama. kita dibesarkan oleh Ayah yang baik walau bukan darah dagingnya, semoga Esya tidak sama dengan ku. semoga Esya menjadi pribadi yang baik." Ucap Rayna.


"Esya sudah menjadi bagian dari kewajiban ku, dia sudah seperti anak kandungku. entahlah bagaimana Aku tanpa adanya Esya, selamanya tempat Esya akan sama dengan Damar" Ucap Faaz.


"Sekali lagi aku ucapin terimakasih, " Ucap Rayna, Rayna pun berpamitan. karena kedua petugas itu sudah memperingati bahwa waktu Rayna sudah habis.


^^^


Hari demi hari pun berlalu, dan kini waktgu telah bergulir... Bulan ke bulan pun berlalu dengan cepat, permasalahan sudah selesai di dalam keluarga Rido, walaupun Rido tak tahu dimana cucu nya saat ini, Faaz pun sudah kehilangan jejak dari lelaki yang bernama Jerry itu. Walaupun begitu, Faaz sudah berusaha mengikhlaskannya.


Alea menggantikan posisi Fizzy. namun, Alea tetap berpegang teguh pada pendiriannya, Ia akan tetap menjadi single parent untuk anaknya. tak hanya itu, Alea pun berpikir akan mengelola perusahaan yang saat itu sudah menjadi milik Qabil.


Namun, Faaz belum mengijinkan Alea untuk menetap disana. Alea pun memaklumi rasa khawatir Faaz kepadanya.


Maliq dan Noni sendiri kembali mendapatkan ujian dari Tuhan, Maliq tidak bisa memberikan keturunan pada Noni. Namun, Noni berusaha untuk menerima hal itu. bagi Noni, Tessa dan keponakan lainnya sudah menjadi bagian dari hidupnya.


Lalu, Mael dan keluarganya tetap tinggal di sebuah apartemen bersama Richard dan juga Rani.


mereka semua begitu sangat menikmati kehidupanya, mereka sedang berkumpul bersama. Lalu, Aidil datang dan mengenalkan seseorang yang akan menjadi istrinya.


"Assallamualaikum, " Aidil masuk bersama seorang wanita di dampingi oleh abrar.


"Waalaikum salam," Balas semua dari dalam rumah,


"Hay Aidil, ayo masuk." Ajak Faaz, Aidil melihat wajah Esya yang setengah mirip dirinya.


Ia tersenyum, "Halo, Esya" Ucap Aidil.


"Halo Uncle," Sahut Esya sembari tersenyum.


"Salam sayang sama Ayah," Ucap Faaz, Aidil terkejut saat mendengar Faaz meminta Esya memanggilnya dengan panggilan Ayah.

__ADS_1


"Ayah Aidil?' Tanya anak berusia 6  tahun itu.


"Iya, ini yang Papa ceritakan kepada Esya. Esya memiliki ayah dan bunda. Esya sangat kaya kasih sayang," Faaz tahu bahwa usia Esya belum siap menerima cerita sesungguhnya namun, Faaz berusaha sedikit-sedikit memperkenalkan Aidil sebagai ayah kandungnya dan alhamdulilah Esya anak yang sangat cerdas dan penurut dan mau memahami Faaz saat sedikit menjelaskan kejelasan Aidl sebagai ayahnya. walaupun sedikit sangat sulit pada awal pembicaraan nya.


Esya mende3kat dan menarik tangannya lalu mencium punggung tangan Aidil.


Aidil merasa sangat bahagia, "Bolehkah Ayah memeluk Esya?' Tanya Aidil.


Aleesya menggangguk lalu memeluk Aidil.


"mengapa hatiku sangat bahagia sekali mendapat pelukan darinya, Putriku sayang" Ucap Aidil dari dalam hatinya.


"Oh iya, kenalkan Papa, Faaz dan semua. Ini  Ashley, dia calon istriku dan ini anak nya" Ucap Aidil, Ashley adalah wanita yang sempat bertemu dengan nya di jalan waktu itu.


mereka menyambut kedatangan Ashley dengan sangat hangat, apalagi Natasha, ia begitu sangat ramah. Ashley ikut berbincang bersama semuanya dan Ashley terlihat sangat nyaman saat berbincang bersama keluarga Rido yang juga keluarga angkat dari Aidil.


"Faaz bisakah kita berbicara?" Tanya Aidil, Faaz pun mengiyakan dan mengajaknya untuk berbincang di taman.


"Ada apa Aidil?" Tanya Faaz.


"Dimana Rayna saat ini?" Tanya Aidil, wajahnya sendu.


"Kau sudah mengetahui nya bukan?" Tanya Faaz balik, "Jujur saja Aidil, kau berusaha mengikutiku saat itu, dan kau berusaha masuk kedalam lapas. namun, Rayna enggan menemui mu?" Tanya faaz kembali.


"Apa lagi yang di lakukan olehnya?" Tanya Aidil sedikit bersedih, "Apa dia melakukan hal konyol kepada mu Faaz?"


"Bukan padaku, tapi pada Alea. namun Aku mohon kau tak perlu membicarakan ini di depannya." Ucap Faaz kembali.


"Iya aku sudah menduga, bahkan saat itu aku sempat mendapat pesan dari Rayna. dia meminta tolong padaku, namun, saat itu Aku sudah tidak mau menggubrisnya" Tutur Aidil.


"Aku harap Rayna sudah berubah," Tambahnya lagi.


"Dia sudah banyak berubah Aidil, aku saja tak menyangka bahwa dia bisa berubah seperti itu." Ucap Faaz, aidil tersenyum.


"aku bahagia mendengarnya Faaz," balas Aidil,


"Papa, Ayah." Panggil Esya dari kejauhan, Mereka melambaikan tangan bersama-sama.


"Faaz, aku harus akui jika kau sudah sangat baik mengurus Esya." Ucap Aidil.


"Nanti juga kau akan mengurus Esya bergantian dengan ku, semoga Ashley bisa menerima Esya dengan sangat baik." Ucap Faaz.


"Terimakasih Faaz, namun aku merasa tidak percaya diri. kau sangat hebat sedangkan aku..:


 


Faaz menyela, "Kau tak boleh seperti itu, bahkan kau akan menjadi Ayah yang sangat baik untuk anak-anak mu termasuk Esya." Ucap Faaz.


Aidil kembali tersenyum dan menatap mata Faaz lalu Aidil tak kuasa menahan rasa kagumnya terhadap pribadi Faaz. Ia pun memeluk Faaz, "Terimakasih Faaz, kau sudah mau memaafkan ku. kau adalah saudara, sahabat dan partner yang baik untuk ku dan untuk semua, kami sangat beruntung mengenal mu." mereka berpelukan dengan erat, Faaz merasakan kehangatan Aidil yang dahulu.


 


^^^ FLASHBACK ^^^


Faaz membawakan sebuah foto, ia menunjukkan foto itu kepada Esya. foto itu adalah Foto dirinya dan Aidil, lalu Faaz bertanya, "Sayang, tahukah dia siapa?"


"Siapa Pah? ini Uncle itu kan?" Jawab Esya,


"Iya, Uncle Aidil yang dulu selalu mengajak main Esya kalau Esya ikut ke kantor bersama Aunty Fizzy dan Papa," Sahut Faaz.


"Panggil dia Ayah iya," Aleesya merasa bingung karena Faaz meminta nya untuk memanggil Aidil dengan sebutan Ayah, dan Esya hanya mampu menganggukan kepalanya.


"Panggil Uncle ini dengan Ayah Aidil, dia dan Papa sama-sama Papa Esya." Ucap Faaz kembali.


"Baiklah, " jawaban Esya sembari setengah kebingungan, Esya memang anak yang sangat nurut bahkan Esya sendiri sangat dewasa, ia tak pernah menangisi sebuah mainan apalagi semenjak memiliki Damar sebagai adiknya. Esya terkesan anak penyayang bahkan ia selalu bersikap sopan.


"nanti saat Esya dewasa, Papa akan menceritakan siapa Ayah Aidil itu yang harus Esya tahu bahwa dia sama-sama menjadi seorang Ayah untuk Esya," Ucap Faaz.


FLASHBACK BERAKHIR...


.


.


.

__ADS_1


.


Temen-temen dua bab lagi selesai, kasih tau dong kesan-kesan kalian membaca cerita #RidoMay.. dan di akhir cerita aku umumin komentar menarik buat kalian, kalian bakalan dapet pulsa dari aku.. di Bab ini iya....


__ADS_2