
shalom masih menangis tersedu-sedu , dia begitu sangat mendengarkanku , dia menundukan kepala nya sembari menangis sungguh aku tak tega melihat nya menangis
"may cukuplah , ijin kan aku menjelaskan semuanya ... ijinkan aku menebus semua kesalahanku "pinta shalom kepadaku
"aku sudah mengerti akan apa penjelasan rido dengan melihat sikap nya padaku , dia lebih memilih pergi meninggalkanku dibandingkan menjelaskan nya padaku" jawabku pada shalom
" rido tidak ingin melihatmu kecewa dikemudian hari may , rido lelaki yang baik hanya saja rido sudah salah melangkah " jawabnya padaku , shalom tak menghentikan bibirnya untuk bicara padaku , aku terdiam mendengarkan semua ucapannya
"may dulu aku memang menginginkan rido menikahiku , beberapa bulan yang lalupun saat kamu sedang hamil tua akupun sempat memintanya kembali , rido tetap kekeuh tidak ingin menduakan cintamu " ... dengan nada yang tinggi dan sesekali menarik nafasnya dia mengeluarkan semua bebannya , aku masih terdiam mencerna semua ucapannya
"rido sangat mencintaimu may , rido tidak ingin kehilanganmu ... bukan hanya sekali rido menolak ku dan alasan rido menolak ku itupun karena mu , rido mencintaimu sedari dulu " percayalah may ..percayalah padaku ...kumohon ...pintanya padaku
"jika dia mencintaiku mengapa dia tidak percaya padaku , mengapa rido lebih terbuja dengan mu kak " bicaraku dengan nada yang tinggi dan menangis
"dia ingin sekali berbicara padamu may , tapi dia tidak ingin kamu kecewa ... , ku mohon ikutlah dengan ku dan kau akan tau apa yang rido sembunyikan" pintanya
"nona , sebaiknya kita pergi saja ... supaya nona tau apa yang sedang tuan sembunyikan " lira mengajak ku untuk ikut dengan shalom
aku berpikir sejenak
"tidak kak , aku tidak ingin menemui rido... " jawabku tegas
"aku mohon may , aku gak peduli jika rido akan membenciku , aku tak ingin hidupku selalu terbayang kebaikan mu , dan telah berulang kali menyakitimu ," ucapnya padaku
"kamu sudah ku anggap sepertu adik ku may" .
"baiklah , sekarang kaka sudah boleh pergi " usirku padanya seraya menunjukan arah pulang
"lira antarkan kak shalom keluar , aku lelah ingin istirahat " pintaku pada lira
aku beranjak dari tempat duduk ku , dan segera meninggalkan shalom yang sedang menangis , aku tercegat mendengar perkataan shalom padaku
__ADS_1
"RIDO SAKIT MAY , RIDO SAKIT PARAH"
ucapan shalom terdengar tegas dan sangat keras membuat ku membalikan badanku
"apa kaka berbohong ? " tanyaku tak percaya
"untuk apa aku berbohong may ? untuk apa ? jawabnya tegas seraya melihatkan kesedihannya
"antarkan aku kak ... dimana rido ?? " tanyaku gelagapan , aku meminta lira membawakan ponsel ku , dan juga tas ku , akupun meminta lira memberitahu bu nina aku akan pergi dan menitipkan kedua anak ku ,lira pun segera menancapkan gas mobilnya , dimobil aku sama sekali tak bersuara , kak shalom merangkul ku dengan sangat erat aku melihat lira pun menangis , aku tau aku sudah salah menilai rido , aku tak kuasa bertemu dengannya , aku membayangkan dirinya , aku bertanya dalam hatiku
"ujian apa ini tuhan , kuharap ujian ini menambah rasa cintaku padamu " gumamku dalam hati
*intermision
aku sudah sampai di rumah sakit tempat rido di rawat , rido sudah 5 hari melakukan rawat inap intensif , kak shalom menuntunku untuk mencari kamar yang rido tempati , sebelum nya kak shalom sudah bertanya ke bagian informasi , rido memang sedang di rawat di ruang icu bahkan sudah masuk ruang isolasi darurat.
aku berjalan menyusuri lorong , kak shalom dan lira sangat menguatkan ku .
pertanyaan dalam hati ku
"mengapa kalian tega ,tak memberitahuku... mengapa kalian membiarkanku membenci cintaku"
mereka terkejut melihatku datang...
"anak ku " panggil ayah yang sadar melihatku
"mengapa kalian tak memberitahuku , mengapa kalian begitu tega " ucapku seraya menangis dihadapan mereka
"ma....aafkan mama nak " memeluk ku dan menenangkan ku , ibu juga menghampiriku dan mencium keningku
papa hanya diam , begitupun dengan rani yang tertunduk lemas dipojokan karena takut melihat ku marah ,
__ADS_1
"aku ingin bertemu rido ma " ... " bu aku ingin bertemu rido ... pintaku pada mereka yang memegangiku
mama mendudukan ku di kursi ruang tunggu , aku duduk disebelah papa , papa menoleh padaku dan dengan sigap memeluk ku , papa menangis dan meminta maaf padaku..
*bagai tersambar petir , saat aku mengetahui bahwa cintaku sedang berjuang dengan keras
dia meminta semua orang merahasiakan nya karena tidak ingin membuatku memikirkannya
"sayang rido sedang dalam keadaan tidak baik , ibu mohon kamu tenang demi dia dan anak-anak mu" ucap ibu menenangkanku
aku terdiam saat mengingat rido memeluk ku , menciumku mencoba menenangkanku..
sampai saat ini aku belum tau tentang penyakit apa ridoku ini yang jelas hati ku sangat menggebu-gebu ingin melihat senyuman di wajahnya
dokterpun keluar dari ruangan tempat rido di rawat , dokter itu adalah dokter jimmy anak asuh papa dan ayah .
"may kau disini ? , syukurlah rido menunggumu " seru dok jimm
"apa aku bisa masuk kak " tanyaku pada kak jimm
"untuk sekarang may harus sabar dulu ya , may bisa melihat melalui kaca transparan disana " menunjukan kaca di samping kamar rido
"bbbaaai...klah kak , apa...kah sakit rido sangat serius ? tanyaku dengan gagap
" adik ku , ku harap kau menguatkan rido ya " seru dok jimm
"om gus , ayah boleh ikut denganku ,ada hal penting yang ingin aku bicarakan "
serunya meminta ayah dan papa mengikutinya
aku melihat tirai itu belum terbuka dengan jelas , aku menunggu dan menunggu , aky sempatkan menelpon bu nina untuk menanyai kabar anak-anak ku syurkurlah anak-anak ku sangat baik mereka mengerti keadaan ku , aku juga meminta ibu untuk pulang terlebih dahulu agar bu nina tidaj merasa kerepotan.. aku lupa dengan kak shalom yang sudah pergi tanpa dia pamit kepadaku juga keluarga yang menunggu
__ADS_1