
Malam berbintang itu menjadi saksi bisu dimana hati Mael dan Ayana bersatu, Rido tersenyum mengingat wajah istri yang sangat ia cintai.
"May lihatlah betapa bahagia nya diriku, Aku bahagia melihat mereka. Namun May, ada beberapa permasalahan yang belum bisa aku selesaikan. banyak sekali bahkan rumit sekali, Aku berharap semua selesai saat aky masih bernafas. " Gumamnya di dalam hati, "Aku harap Faaz menuju bahagianya, dan aku harap kita akan bersatu di sana" Gumamnya kembali.
"Aku ingin kau pun merasakan kebahagiaan ini sayang, aku mencintaimu sangat-sangat mencintaimu. dan terimakasih kau telah memberikan anak-anak sehebat dirimu!,"
"Aku bahagia May, "
Saat ini Rido sedang merasakan kebahagiaan nya, apalagi Ridi juga menyaksikan kebahagiaan Ayana dan Mael. Rido juga mengetahui bantuan yang diberikan anak-anak nya kepada adik dan orang tuanya yang sedang mengalami kesusahan, Rido merasa bangga karena memiliki anak-anak yang baik.
Angin pun berhembus lebih kencang dari biasanya, Rido merasakan sebuah sentuhan. nyata ataupun tidak Rido merasakan itu, sentuhan kelembutan yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"May, Kau kah itu? " Tanya Rido di dalam hati, "wangi mu begitu sangat melekat di hidung ku" Ungkapnya kembali seraya bergumam di dalam hati.
Natasha sangat perhatian sekali. Ia membawakan dua buah selimut untuk kedua Papanya, Ia menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut masing-masing. mereka melanjutkan kebersamaannya dengan me
"Papa, kenapa?. " Tanya Natasha, "Apa papa menangis?, " Tanya Natasha kembali. Natasha bertanya sembari memegang bahu Rido, "Papa, merindukan Mama?, " Rido mengangguk pelan.
Rido memegang kedua pipi Natasha dengan kedua tangannya, Rido tersenyum kepada menantunya itu.
"Papa bahagia karena perutmu sudah sangat membesar, Anak yang ada di dalam kandungan mu adalah penerus kami. dan jika anak itu lelaki Aku akan menamainya Khalid dan jika perempuan, Aku akan menamainya Mayisha seperti nama Nene nya" Tutur Rido,
"Papa, " Natasha berjongkok di hadapan kedua Papanya, Jimmy pun meneteskan air matanya.
"Kau boleh menambahkan nama Mama mu juga!" Seru Rido, "Kau harus berjuang, dan lawan kesalahan yang selalu menimpa di keluarga ini. kau harus kuat! " Ucap Rido, Natasha sangat mengerti apa yang Rido maksudkan.
"Ingatlah, Papa percaya kau orang baik. kau wanita yang baik, kau wanita kuat. " Gumam Rido sembari menatap lekat menantunya, "Jim, aku sangat berharap anak ini lahir dan menjadi penyelamat untuk semua." Gumamnya kembali, Jimmy tersenyum mendengar kalimat yang Rido ucapkan.
"Papa, tapi Natasha mohon. jangan pernah berubah kepada Aaleesya hanya karena anak ini lahir, Esya tetap anak Natasha" Ujar Natasha.
"Sungguh mulia hati mu Nak, Papa bangga kepada mu. Ibunya telah menyakiti mu, tapi kau tetap mencintainya sebagai ibu sambungnya." Gumam Jimmy, "Papa sangat mencintai mu Nak, " Gumam Jimmy kembali.
Jauh di sebrang sana, Rayna sedang melihat kedekatan diantara Rido dan Natasha. Rayna tak menyukai kedekatan itu, Ia pun menyusun rencana untuk membuat Faaz kesal dengan hasutannya namun sayang, Faaz sudah mengerti apa yang dilakukan oleh Rayna.
Rayna menarik tangan Faaz, "Lihatlah kedekatan diantara Papa mu dan Natasha, Papa tidak seperti kepadaku." Tutur Rayna, "Walaupun dulu aku dekat dengan Papa tapi tidak seintim itu, setidaknya ada batasan diantara Mertua dan menantu" Tutur Rayna kembali.
"Kau seharusnya menegaskan Natasha, " Faaz berpura-pura kesal dengan ulah Natasha juga Papanya, Ia seakan mengepalkan tangannya.
"Biarkan saja, Aku tak akan memperdulikannya." Ucap Faaz.
"Tidak bisa seperti itu!, kau harus tegas kepadanya Faaz!" hasut Rayna kembali, Faaz berpura-pura tersulut emosinya. Ia pun berjalan meninggalkan Rayna dan menghampiri Natasha.
Faaz menarik lengan Natasha, "Aku pura-pura marah kepada mu!, " Bisik Faaz ditelinga Natasha, Rido tak mengerti dan Faaz segera memberinya kode. setelah Faaz memberinya kode, Rido dan Jimmy pun mengerti dengan apa yang akan di lakukan oleh Faaz.
"Aku minta kau menjauh dari Papah ku! " Teriak Faaz membuat alunan gitar yang Maliq alunkan terhenti, Maliq pun mengerti dengan apa yang sedang di lakukan oleh Faaz.
"Apa maksud mu Faaz?, " Tanya Natasha sembari terbata-bata, Faaz menatap tajam wajah Natasha.
"Lihatlah siapa yang akan dipermalukan oleh Faaz, jelas-jelas Aku adalah Istri sahnya!" Gumam Rayna dalam hati saat mendengar Faaz membentak Natasha.
"Kau!, " Faaz menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Natasha, "Tak usah mencari muka kepada Papa ku!, " Bentak Faaz, Natasha menunduk seakan merasakan sakit hati yang teramat dalam.
Natasha pun menangis dalam pelukan Papanya, "Nak Faaz mengapa kau membuat anak ku menangis?," Tanya Jimmy, Ia seakan mengikuti drama yang telah di buat oleh semua.
Rencana ini awalnya akan di lakukan esok nanti, namun Faaz merasa jika ini harus di lakukan malam ini juga mengingat Rayna membuat hasutan untuk Faaz pada saat adanya kesempatan.
"Kau tak perlu meminta pembelaan dari Ayahmu, Aku pastikan kau tidak bisa berdekatan dengan Papa ku!, " protes Faaz membuat Rayna senang, Ia tersenyum. Maliq pun mulai menjalankan tugasnya, Ia menghampiri Faaz dan mencoba memukul Faaz namun saat itu Rido menukas tangan Maliq, dan Maliq kembali merasa Rido tidak adil.
"Kau tetap tidak Adil, Kau selalu membela anak tertua mu!," Ucap Maliq,
"Bukan seperti itu Maliq, Kau tidak perlu memakai kekerasan!, " Nasihat Rido di sela-sela pertengkaran Maliq dan Faaz.
"Maliq, Aku mohon. hentikan" Ucap Natasha.
"Tidak, Aku tidak akan menghentikan nya. Aku merasa sakit saat kakak ku memperlakukan mu seperti ini! " Ucap Maliq, semua terkejut saat melihat kekacauan ini.
Karena sebenarnya kekacauan ini memang sangatlah disengaja, kekacauan ini bermaksud untuk membuat Rayna merasa dirinya telah menang. Faaz memang sengaja membuat drama berkepanjangan, karena Faaz sangat membutuhkan bukti untuk di acara persidangan cerainya nanti.
Awalnya Faaz mendaftarkan perjanjian Pranikah bahwa dimana Faaz dan Rayna menikah tidak bisa bercerai jika tidak memiliki bukti perselingkuhan, namun disini Faaz malah menikahi Natasha walaupun pada awalnya Rayna memang bersalah tetapi tetaplah di mata hukum Faaz dalam pengawasan.
"Natasha, Ayo ikut dengan Papa" Ucap Rido, "Kau sedang hamil, masuklah kedalam! " Pinta Rido sembari menarik lengan Natasha, Natasha pun mengikuti perintah ayah mertuanya.
Rido menoleh, "Semua Bubar! " Titah Rido seraya membubarkan acara tersebut.
Mereka semua pun membubarkan diri, Faaz terdiam sendiri. Rayna mendekatinya, "Faaz tenanglah, Aku masih bersama mu! " Ucap Rayna.
"Terimakasih Ray! " Ucap Faaz.
"Sama-sama Faaz, sudah seharusnya aku menemani mu!, " gumam Rayna, "Aku yakin kau masih mau memilih ku dibandingkan dia." Ucap Rayna.
"Ray, hentikanlah. ayo aku antar ke kamar mu!, untuk malam ini seperti nya aku akan tidur di kamar tamu. terimakasih sudah memberi ku support terbaik mu! " Ujar Faaz.
"Faaz, tidurlah dikamar ku!," Pinta Rayna
"Kita sudah bukan suami istri, aku merasa dosa jika terjadi sesuatu diantara kita" Ucap Faaz.
"Tidak Faaz, kau bisa tidur di ranjang dan biarlah aku di sofa! " tukas Rayna, Faaz berusaha menolaknya, namun Rayna meminta terus menerus.
"Percayalah tidak akan terjadi apapun diantara kita Faaz" Ucap Rayna kembali, "Please Aku mohon, Aku tidak bisa membiarkan mu sendiri" Ucap Rayna kembali.
__ADS_1
"Ini menjadi Kesempatan bagiku!, " Ucap Faaz di dalam hatinya.
"Terimakasih Rayna!, " Ucap Faaz, Zain tersenyum mendengar percakapan diantara Rayna dan Faaz. Zain memang senyaja merekam itu, karena Faaz membutuhkan bukti yang mengungkapkan kalau mereka sudah bukan suami istri lagi dan Faaz meminta bantuan kepada Zain agar Zain mau membuatkan sebuah Chips yang dapat merekam percakapan mereka.
Malam itu, Rayna duduk diatas Sofa.
Faaz pun duduk disampingnya, "Ray bolehkah aku tanya sesuatu?, " Tanya Faaz kembali.
"Boleh!, Apa Faaz?" Jawab Rayna.
"Kita kan sudah bercerai di mata Agama, karena aku sudaj menjatuhkan talak! "
"Lalu?, Apa kah itu benar Faaz?, " Tanya Rayna kembali.
"Iya Ray, " Jawab Faas disertai anggukan pelan di kepalanya.
"Aku berharap tidak bercerai, Aku sudah mengakui akulah yang terlebih dahulu mengkhianati mu. Aku telah berselingkuh dengan Aidil dan bahkan, Aku juga memanfaatkan dirimu Faaz." Ungkapnya, Faaz merasa senang dengan kalimat yang Rayna ungkapkan. dan sebenarnya jika saja rencana ini sudah dibuat sejak awal, saat percakapan diantara mereka hingga perdebatan saat itu sudah terekam jelas mungkin saat ini Faaz tidak akan membuat drama seperti ini.
Faaz hanya menginginkan bukti hingga sampai akarnya, bukan maksud Faaz tidak ingin memberikan harta gono gini nya kepada Rayna melainkan Faaz tidak ingin jika nanti harta tersebut dipakainya bersama Aidil.
"Tapi beberapa hari yang lalu Alea berucap jika kau sedang menghubungi Aidil! " Tanya Faaz, "Walaupun Aku tahu jika mungkin Alea hanya memfitnah mu!, " Ucap Faaz.
"Namun aku berharap kau jujur padaku." Bujuk Faaz.
"Baiklah Aku akan jujur kepada mu Faaz, Iya memang Aku dan Aidil kemarin berhubungan melalui pesan suara. Aku hanya meminta bantuan Aidil untuk menyingkirkan Natasha, dan Aku tahu aku salah! " Ucap Rayna kembali, Faaz meremas tangan yang Ia kepal dan Ia menyembunyikan tangannya tepat di belakang punggungnya.
"Aku memanfaatkan Aidil hanya untuk bersama mu, awal nya kemarin aku ingin meminta bantuannya untuk menyingkirkan Natasha" Jujurnya itu membuat hati Faaz semakin kesal kepadanya, "Namun sekarang Aku tak membutuhkannya lagi, kau sudah terbuka matanya dan melihat bahwa Natasha memang lah tidak baik untuk mu! " Ungkapnya kembali.
"Teruslah berkata jujur, walaupun aku kesal namun disini aku merasa menang Rayna!, " Ucap Faaz di dalam batin nya.
"Rayna, walaupun hal seperti itu memang terjadi seharusnya kau tak boleh memanfaatkan Aidil demi tujuan mi berhasil" Ujar Faaz
"Iya Faaz, Aku tahu aku bersalah. " Ucapnya kembali, Rayna pun bercerita mengenai kondisi Aaleesya. Ia mau melepaskan anaknya itu hanya untuk menukarnya bersama Faaz kepada Natasha , Ia pun bercerita jika Natasha lebih memilih Aaleesya di bandingkan suaminya itu.
"Dia lebih memilih anak ku dibandingkan kamu suaminya, betapa bodohnya Natasha itu" Ucapnya, dan sepertinya Rayna merasa polos jika hal itu pun lah yang membuat Faaz membenci dirinya dan lebih mengapresiasikan Natasha. karena baginya cinta Natasha memang benarlah tulus untuk Aaleesya, berbeda jauh dengan Rayna walaupun sebenarnya Rayna adalah ibu yang melahirkan Aaleesya namun, bagi Faaz Rayna sama sekali tidak memiliki sosok sebagai ibu untuk Aaleesya dan Faaz sangat menyayangkan hal itu.
Rayna bertanya, "Jika benar Natasha lebih memilih pergi karena diusir oleh mu, hal apa yang akan kau lakukan?, " Tanya Rayna.
"Jelas sekali aku akan membiarkannya, tetapi jika sesuatu hal terjadi kepada anak ku yang berada di dalam kandungan nya. maka siapapun akan berhadapan dengan ku termasuk kau!, " Ucap Faaz seraya menajamkan kedua matanya, Rayna merasa terkejut saat melihat sikap Faaz yang seperti itu.
"Ya Tuhan, untung saja kemarin Aku tidak jadi mencelakai anak yang berada di dalam kandungan Natasha itu!, " Ucap nya di dalam hati, Rayna merasa terpekik mendengar ancaman Faaz.
"Aku bercanda Rayna, Kau tak usah terkejut seperti itu." Ucap Faaz, "Sudahlah, tidurlah. malam sudah sangat larut. kau tidur saja di atas ranjang" Titahnya pada Rayna, Rayna mengangguk pelan. Faaz pun segera menggendong tubuh Rayna da memindahkannya keatas tempat tidur besar itu.
"Aku merasa lapar sekali dan seperti nya Aku harus menemui Maliq. Aku ingin membicarakan hal tadi" Ucap Faaz kepada Rayna, "Ingatlah Rayna, beristirahat lah. setelah selesai makan dan menemui Maliq, Aku akan segera ke kamar" Ucap Faaz kembali kepada Rayna.
Rayna menganggukkan kepalanya, Faaz pun pergi meninggalkannya. Faaz menuju kamar Maliq, Ia bermaksud untuk menemuinya.
Tok ...
Tok ...
"Untuk apa kau kesini?, " Tanya Maliq, Maliq memberi kode agar Faaz bisa menatap ke kaca yang dapat melihat tubuh Rayna disana. untungnya Faaz bisa mengerti jika kode tersebut menunjukan keberadaan Rayna.
"Masuklah dulu, Kaka ingin berbicara dengan mu" Ucap Faaz sembari mengepalkan tangannya.
"Untuk apa?, " Tanya Maliq sarkas, "Kau sudah menyakiti kedua wanita itu!, dan aku tak menerimanya. apalagi kau berusaha menyakiti Natasha! " Ungkap Maliq, "Kau" Ucapnya kembali seraya menunjukan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Faaz.
Faaz mendorong Maliq ke dalam kamarnya, "Masuklah, sekali-kali kau memang harus aku beri pelajaran kembai" Pintu pun di tutup Oleh Faaz dari dalam.
"Faaz memang terlihat kesal, dan ini memang nyata" Gumam Rayna, "Eva, kau malah meninggalkan pekerjaan mu!, Mengapa kau harus pulang dulu sih! " ucap Rayna.
Sebenarnya Eva sudah berada di dalam kubu Faaz dan Eva menghubungi Rayna berbicara seolah ia harus menemui ibu nya yang sedang sakit keras untuk sementara, Padahal sebenarnya Faaz memang sengaja sedang mengatur siasat bersama Eva dan lainnya.
sedikit cerita, setelah Eva kemarin pergi untuk menemui Ibu tiri Natasha. Abrar mengikutinya dari belakang, Abrar sengaja membiarkan Eva untuk menemui Adeeva terlebih dahulu.
Dan setelah itu, Abrar mulai menjalankan misinya untuk membawa Eva dan mengitrogasinya.
Kini, Eva sudah berada di tangan Abrar. Faaz pun datang bersama Zain dan Maliq, Eva menceritakan mengenai kejahatan yang akan dilakukan Rayna dengan sangat detail.
Eva pun memberikan secarik kertas yang menuliskan tugas-tugas yang harus Eva kerjakan, Eva merasa takut akan hal tersebut. Namun, Faaz meminta Eva untuk kembali bekerja untuknya dengan berpura-pura tetap berada di dalam kubu Rayna.
Didalam kamar, Maliq dan Faaz tertawa pelan.
"Kau benar-benar pintar Maliq, " Ucap Faaz.
"Aku melakukan ini karena merasa berdosa telah mengacaukan semua ini, awal ini semua karena ucapan ku terhadap Kak Ray" Gumam Maliq ia menundukkan kepalanya, Maliq merasa sangat bersalah atas ketidaknyamanan yang telah ia lakukan.
"Andai saja saat itu Aku membuat Kak Rayna bisa menerima Natasha, mungkin permasalahan ini tidak akan terjadi Kak" Gumamnya.
"Sudahlah, " Tandas Faaz, "Jika harus ada yang patut sekali disalahkan, itu adalah Aku! " Tegas Faaz melalui ucapannya itu.
"Maafkan Aku kak!, " Ucap Maliq
"Aku yang harusnya meminta maaf kepada kalian semua, Jika saja saat itu Aku berkata jujur mengenai keberadaan Rayna mungkin permasalahan ini tidak akan serumit ini" Ungkap Faaz, Faaz duduk di atas sofa yang berada di dalam kamar Maliq. Faaz mulai menjelaskan awal dari permasalahan itu, Faaz mengakui dia rela menyelamatkan Rayna karena mata nya tertutup oleh rasa cinta nya terhadap istrinya itu.
Faaz pun mulai menceritakan mengenai perselingkuhan Rayna bersama Aidil, bahkan Faaz mengungkapkan hubungan Rayna dan Aidil terjadi sebelum pernikahan mereka di laksanakan. Faaz menyayangkan ketidak jujuran Rayna, dan Maliq merasa kesal saat mendengar apa yang Kakaknya itu ceritakan.
"Aku harus berkata jujur semua kepada mu Maliq!, " Ucap Faaz.
__ADS_1
"Apa itu Kak? " Tanya Maliq.
Faaz menghela nafasnya dengan berat, "Aaleesya bukan Anak kandung ku!, " Ungkap Faaz, Maliq terkejut hingga terperanjak mendengar apa yang Faaz ungkapkan..
"Tidak Kak!, " Maliq mengeraskan tengkuk lehernya seolah tak menerima akan kebenaran ini, "Mana mungkin! " Tukas Maliq kembali,.
"Aku tak percaya!, " Seru Maliq, "Tidak, "
"Aku berani menunjukan hasil tes DNA yang menunjukan hasil jika Aaleesya tidak memiliki darah ku" Tutur Faaz, Maliq masih menggelengkan kepalanya.
"Sejak kapan kau mengetahui hal itu kak?," Tanya Maliq kembali.
"Sejak Aleesya lahir!, " Jawab Faaz, ia merunduk sendu, tatapannya pun seolah tak bersemangat.
"Tapi dia tetap anak ku, " Ucap Faaz dengan tegas, "Dia mutiara hatiku!," Ucap nya kembali.
"mengapa aku baru mengetahuinya?, Lalu siapa ayahnya? " Tanya Maliq, belum sempat Faaz menjawabnya. Maliq sudah menebak siapa ayah Aaleesya, "Apakah Aidil?, "
"Tenanglah Maliq," Sembari menepuk bahu adiknya, ia mencoba menenangkan nya. Faaz takut jika Maliq berbicara kepada Aidil mengenai keadaan sesungguhnya, walaupun Faaz tahu jika Aidil memang selalu mencari tahu. bahkan, selama Aidil bekerja bersama Faaz. Aidil selalu menyempatkan diri hanya untuk bersenda gurau bersama Aaleesya.
"Mengapa kau memendam luka mu sendirian Kak?, " Maliq memeluk Faaz, "Adik macam apa aku ini! " Gumam nya di dalam pelukan Faaz.
"Hingga aku tak tahu jika kau mengalami masalah yang cukup pelik!, " Gumam nya kembali.
"Maliq, sudahlah Aku mohon!, " Ucap Faaz kembali.
"Apa Papa tahu?, " Tanya Maliq, "Apa hanya aku yang tidak tahu?, " Tanya Maliq kembali, terlihat di wajah tampan nya bahwa dia merasa sangat kecewa.
"Papa tahu, dan yang lainnya baru tahu akhir-akhir ini kecuali Fizzy. ia benar-benar belum mengetahui permasalahan ini, dan Aku mohon setelah kau mengetahui ini. janganlah bersikap seolah Aaleesya bukan lagi keponakan mu" Ucap Faaz.
"Tidak kak, Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku akan tetap mencintainya seperti aku mencintai diriku sendiri" Maliq memeluk Faaz, Maliq mengusap lembut punggung kakak nya itu.
Bagi Maliq, ini adalah hal tersulit yang harus Maliq terima mengingat dulu dia selalu berusaha mencari kesalahan kakaknya. dan sekarang Maliq mengerti betapa Faaz sangat mencintai Rayna, dan Maliq merasa sangat kagum dengan sosok kakaknya terbilang kuat dan tegar.
"Kau sungguh kuat dan setegar karang di lautan, kau sudah berupaya memberikan kami kehidupan. kau pun mengorbankan masa muda mu hanya untuk mengurus bisnis-bisnis Papa" Ungkap Maliq, "Maafkan Aku kak, Aku bangga sekali kepada mu!, " Ungkap Maliq kembali.
"Sudah sepantasnya sebagai kakak yang paling tua harus memiliki jiwa yang kuat dan batin yang tegar, tetapi apalah daya ku Maliq. jika saja tidaj ada kalian, Aku akan menjadi Faaz yang manja dan tidak tahu diri.. kalian lah penyemangat batin ku. dan Aku sangat senang hidup bersama kalian" balas Faaz ia memeluk adiknya.
"Oh iya, Apa besok kau pulang ke Apartemen mu?" Tanya Faaz.
"Sepertinya begitu kak!," Jawab Maliq.
tak berselang lama Faaz pun berpamitan kepada Maliq dan saat itu dia melihat jika Rayna sudah tidak lagi berdiri di tempatnya tadi berdiri.
"Kakak Aku benar-benar bangga kepada mu, Mama kau benar-benar hadir di dalam mimpiku dan menunjukan bagaimana Kakak berjuang untuk kami" Gumam Maliq di dalam hati sembari menutup kembali pintu kamarnya.
***
Rido sedang tertidur dikamarnya, Ia bermimpi sesuatu mengenai istrinya. di dalam mimpinya, Rido melihat aura kecantikan yang melekat di dasar wajahnya dan sosok May sangatlah dirindukan oleh Rido.
"Sayang," Panggil May, Ia mengusap peluh keringat yang bercucuran di dahi suaminya.
"Apakah kau ingin sesuatu? " Tanya May sembari menempelkan pipi kanannya di atas dada bidang milik Rido.
"Aku ingin kan dirimu, malam ini hingga Fajar menyongsong pagi!" Pinta Rido, May tersenyum. Ia memberikan senyuman yang membuatnya sangat terlihat cantik.
"Baiklah, jika seperti itu peluklah aku, dekaplah Aku" Pinta May berucap manja.
"Aku akan selalu memeluk mu sayang, " di dalam mimpinya itu, Rido bermimpi sedang melakukan hubungan suami istri bersama May dan Rido merasa jika itu seperti hal yang sangat nyata.
setiap gerakan hingga suara khas May itu sangat melekat di dalam mimpinya, hingga Rido pun seolah mencapai ******. May masih ada disampingnya, May tersenyum dengan sangat cantik. wajahnya pun bersinar seperti cahaya, dia mengcup kening suaminya, "Aku rindu kamu" Bisik May.
"Aku juga, " Jawab Rido, mereka pun berpelukan kembali dan saat Rido tersadar dari alam bawah sadarnya Ia terkejut jika itu hanyalah mimpi belaka.
"Sayang, kau menemui ku melalui mimpi?, " Tanya Rido sembari menatap fotonya, "Terimakasih sayangku. Aku bahagia sangat bahagia" Ungkap Rido kembali.
Angin pun berhembus kencang kembali, Angin sejuk seperti angin di sore hari. Faaz tersenyum, "Tunggu Aku sayang, Aku akan pergi setelah ini semua selesai" Gumam nya sembari tersenyum.
"Papa, " Panggil Alea, "Papa mengapa tersenyum seperti itu? " Tanya Alea.
"Mama mu datang di dalam mimpi Papa" Ucap Rido,
"Aku juga kesini untuk hal itu Pap, Mama datang kedalam mimpi ku." Gumam Alea, "Apa benar jika seseorang yang sudah meninggal dapat menemui. kita melalui mimpi? " Tanya Alea.
"Entahlah sayang, jika memang seperti itu. Papa ingin setiap hari mendapatkan mimpi bersama Mama mu! " Ucap Rido, Alea pun tersenyum.
"Alea kenapa dengan wajahmu?, mengapa terlihat sendu seperti itu? " Tanya Rido saat melihat raut wajah Alea yang terlihat gusar.
"Mengenai mimpi Alea Papa" Ungkapnya..
.
.
.
.
Temen-temen baca juga Yuk "Perempuan Surgawi" jangan lupa Like, Komen dan tekan Love nya.
__ADS_1
pantengin terus ceritanya Sahda, Like kalian sangatlah berarti..