
selesai mengantarkan Rido akupun segera masuk kedalam rumahku, setelah membuka pintu rumah aku terkejut karena Rani mencoba mengagetkanku.
" Daaaaaaaaaaarrr " Rani menepuk tangan tepat dihadapan mukaku, Aku menghela nafas beratku dan aku merasa kesal dengan tingkah nya itu.
" MaaF, ah cemen Masa kaget sih! " serunya, Aku tetap berjalan melewatinya ku putarkan kedua bola mataku dihadapannya.
" Kak, tunggu dulu " Rani mencegat langkah kakiku.
" Kak elu udah mulai jatuh cinta ya sama kak Rido " Ucap Rani sembari bertingkah manja kepadaku, dia menggelayut dengan merangkul tubuhku, Aku semakin kesal dengan tingkahnya itu.
" Apaan sih lu anak kecil diem aja deh gausah sok tau " gerutuku dengan kesal, Aku mencoba melepaskan Tangannya yang merangkulku sangat manja, aku gibaskan tangannya.
" yaaelaah!, gitu aja ko marah sih kak. aku kan cuma menggoda Kaka" Ungkapnya.
aku pergi meninggalkan Rani, Untuk pergi ke kamar. Ku tutup pintu kamarku dan aku mulai berimajinasi tentang pernikahan ku. aku mulai memandangi foto yang sempat Rido kirim untuk ku melalui ponsel genggamnya. Aku merasa mengantuk setelah lama, Aku memandangi foto kami berdua. Dan aku pun terlelap tertidur dikasur empuk yang paling nyaman untuk ku.
Entahlah mengapa aku mulai bermimpi akan pernikahanku dengan Rido, Pria yang membuat ku tersipu malu , pria yang sangat sopan memperlakukanku, Dan bagiku dia pria yang berbeda karena,Rido sangat menghargai ku sebagai wanita.
setelah beberapa lama, akupun terbangun dan tak sengaja mendengar suara celotehan seseorang yang sangat tidak asing ditelingaku.
" ish bangun, Kebo banget sih lu! " serunya sembari menggoyangkan badanku. aku mengucek kedua mataku, Aku mencoba membiaskan kembali mata ku karena cahaya lampu yang Rani nyalakan.
" Ciye!!. Lu mimpiin Kak Ido iya, Aduhh gw bilangin Apa gimana iya ?" Tanyanya dengan songong kepadaku, Aku menyipitkan kedua mataku, Aku sangat kesal dengan Rani.
" Apaan sih!!. Kaga " Tandasku sembari mendongkakan kedua bola mataku.
" Elu iya! Ngarang cerita aja bisa nya dasar bocah " Sahutku dengan kesal.
" Elu tuh, Dasar wanita gengsi !. Kalau udah suka nikah aja besokan " Jawab Rani.
" Udah sana pergi, Dasar bocah pengganggu! " usirku. sembari menarik lengan Rani keluar.
__ADS_1
Aku dengan cepat mengusir Rani dari kamarku, Aku tidak bisa mendengar Rani menggodaku seperti itu. rona merah terkuras dari wajahku. Akupun sedikit mendengus kesal dengan perasaanku saat ini.
" mengapa aku secepat ini menaruh hatiku padanya " - Gumamku, aku tak bisa menutupi rasa kagumku padanya walaupun kegengsian didalam diriku sangatlah besar. diluar kamarku aku mendengar suara teriakan Rani yang sedang mengadukanku kepada Ayah dan ibu.
" Ayah,Ibu lihatlah Kaka mengusirku. " Adunya kepada Ayah dan Ibu.
" Dan Katanya Kaka mau menikah besok aja dengan Kak Ido " Teriak Rani dengan sangat keras, Aku membuka pintu dan membalas teriakan Rani.
" BERISIK, dasar bocah PENGANGGU " Teriakku seraya menutup pintu dengan keras..
Mereka seperti sedang menertawakanku,terdengar suara pelan dibalik pintuku. Aku tahu mereka sedang menguping tingkahku didalam Kamarku. Tak lama kemudian, Ayah mengetuk pintu kamarku dan memanggilku. untuk segera keluar dari kamar.
" kakak " ( tok tok suara ketukan pintu terdengar dengan pelan diiringi suara Ayah)
" bisakah keluar sebentar, Ayah dan ibu ingin berbicara sebentar " Ucap Ayah kembali, aku membukakan pintu kamarku dan melirik kearah ibu dan Rani yang sedang meluruskan pandangannya tanpa melihatku tetapi aku sangat tahu jika garis tawa terlihat di matanya.
" Iya ayah ada apa? " Tanya ku.
" Maaf tadi Kaka lagi dikamar mandi " Ucapku kembali.
" Selesaikan saja dulu, dan jika sudah Ayah menunggu kaka di ruang Tv " PInta Ayah.
" Baik Ayah " Jawabku dengan lirih, Aku kembali masuk kedalam kamarku dan aku merasa Ada hal penting yang sedang ingin Ayah bicarakan.
DI RUANG TV
Aku menghamiri Ayah dan ibu yang sedang duduk tepat dihadapan televisi kami, Ayah menyuruhku untuk duduk disamping ibu dan menghadap kearah Ayah. namun aku masih terdiam karena melihat Rani yang sedang tidur dipangkuan ibu.
" bagaimana bisa aku duduk sedangkan Rani tertidur dipangkuan ibu. Dasar bocah Manja " - batinku saat melihat Rani tertidur di pangkuan ibu.
Aku melihat sorot mata Ayah yang begitu serius saat menatap mataku, ibu hanya terdiam menatapku, Rani pun tertidur dengan lelap.
" Ah keliatan nya dia tidak akan mengacaukan ku " - batinku kembali.
" Ayah mau berbicara serius dengan Kaka, Apakah kaka bisa mendengarkan Ayah?. " Tanya Ayah.
" Begini Kak, Tadi om Gusti telepon ayah. Dan satu Minggu lagi kami akan mengadakan acara lamaran Kalian " Ucap Ayah memberitahuku.
" Apa kamu sudah siap ? " tanya Ayah kembali kepadaku, Aku terdiam dan menundukan pandanganku. Aku tak tahu harus berbicara Apa. Antara senang dan sedih juga khawatir berkecambuk didalam benak ku.
__ADS_1
" Jika Kaka belum siap, bilang saja dari sekarang dan berikan waktu yang Kaka siap untuk Acara lamaran nya. Biar Ibu dan Ayah yang berbicara dengan OM gusti juga Tante neni." Sahut ibu.
" Ayah sangat menghargai keputusan Kaka. karena, Ayah yakin sekali jika kaka ingin melihat kami bahagia dan kemarin hingga sekarang Kaka sudah membuat Ayah dan ibu bahagia " Ucapnya dengan mata berkaca-kaca aku lihat ayah sangat berharap pernikahan ini terjadi. Ayah juga menyeka Air Mataku yang seakan ingin turun membasahi Pipi ku.
" Ayah,Ibu Kaka setuju Apapun yang ibu dan Ayah inginkan Dan, apapun itu mungkin kebaikan untuk Kaka, Kaka Yakin Ayah dan Ibu tidak mungkin mengecewakan Kaka " Jawabku sembari menggenggam Tangan Ayah dan juga Ibuku.
( ' kok aku bisa bilang gini sih, padahal ini bukan aku banget..aku susah banget diatur sama ayah apalagi ibu tapi kenapa aku ingin ini terjadi. - Batinku )
senyuman indah terpancar dari wajah mereka. Matanya berbinar seakan ada bintang yang jatuh dihadapan mereka. Mereka terlihat sangat bahagia dan aku melihat itu di mata ayah dan ibu terlihat seperti senyuman bahagia.
" Terima kasih Kaka sudah menyikapi nya dengan dewasa " Ucap Ayah, Ayah memeluk ku kembali.
" Kaka tidak merasa terpaksa kan " Tanya ibu sembari mengusap lembut kepalaku.
" Kaka sama sekali tidak terpaksa Bu, Kaka bahagia melihat ibu dan ayah bahagia " Jawabku.
Rani menggeliat dan seketika terbangun dari mata yang terpejam itu, rani menatapku dan segera duduk dihadapanku.
" Kaka tidak akan menolak Bu , Kaka sudah termakan omongannya sendiri " goda Rani kepadaku.
" Ayah,Ibu liatlah Rani selalu saja memulainya " Aduku kepada Ayah, Ayah dan ibu tertawa melihat tingkah Kami.
" Kaka ngaku aja deh! tadi sewaktu, Kaka tertidur kaka bermimpi tentang kak ido kan ' sambil mengedipkan matanya
" Raniiiiiiiiiiii " Teriak ku dengan geram, Rani berlari meminta ampun kepada ku, karena aku mencoba untuk membekap mulutnya itu.
" Maafkan aku kak, aku hanya menggoda Kaka saja " Ucap Rani sembari mengerutkan dahi dan menutup matanya, Ia mengatupkan kedua tangannya seraya memohon ampun kepadaku. Aku tak tega melihat wajahnya yang sangat ketakutan. Aku memeluk Rani dengan sangat erat.
" Maafkan Kaka ya Ran, Kaka sudah sangat kasar kepadamu " Ucapku sembali menatap wajahnya.
mulutnya setengah menutup, melihat perubahan sikap yang ada pada diriku saat itu. Aku memang orang yang paling anti untuk meminta maaf meskipun keadaan ku salah. Aku adalah orang yang terlalu masa bodoh, orang yang egois ,orang yang juga tidak pernah mau tau urusan orang lain.
Tetapi semenjak aku mengenal Rido dan berbicara sewaktu di restoran aku mulai bisa menangkap bahwa Rido orang yang bisa membawaku ke arah positif
" ah mudah-mudahan saja sih...aku gak salah " Batin-ku
seminggu sudah berlalu. kehidupanku masih normal-normal saja, sarapan pagi, berangkat kuliah, nongkrong Sama temen sepulang ngampus, dan balik kerumah. selama seminggu ini aku dan Rido semakin dekat. Rido juga tak pernah lupa mengirimkan bunga mawar dipagi hari, coklat di malam hari , dan tentu nya ucapan selamat tidur.
aku pun mulai terbiasa dengan apa yang Rido lakukan untuk ku walaupun sebelumnya aku merasa risih.
Hari itupun tibaaaaaaa.
__ADS_1